Kamis, 26 Mei 2011

SECRET (Bagian II: Kerjasama tim)


Hari yang cerah untuk menyambutnya engan pelajaran biologi, mengenali sel hewan dan bernagai struktur penyusunnya.
"Bagaimana hewan peraktek yang kamu bawa ?" Egi bertanya.
Sebentar lagi bel masuk kelas berbunyi dan pelajaran Biologi akan berlangsung. Audy mengeluarkan toples kecil dari ranselnya. Toples itu berisi binatang yang akan digunakan untuk peraktek biologi.
"Ini dia, tararaaaaaaang," kata Audy seolah memperlihatkan sebuah kejutan besar.
Bagi Egi, itu memang sebuah kejutan besar. Melihat hewan yang dibawa Audy adalah katak, spontan Egi melompat naik ke atas kursi. Ia meringkuk ketakutan seperti seorang anak yang dimarahi ibunya. Audy yang terkejut dengan teriakan Egi melepas toples dari tangannya. Toples jatuh, tutupnya terbuka. Katak itu melopat keluar. Sebentar saja kelas menjadi gaduh dengan teriakan siswi-siswinya. Mereka naik kursi menghindari serangan yang menjijikkan dari katak. Audy sudah berusaha menangkap kataknya, namun katak itu sulit ditakhlukkan dan terus melompat menghindari Audy. Kelas semakin heboh. Katak Audy memilih sasaran yang tepat yaitu Tyas. Tyas yang berada diatas kursi melompat-lompat, berusaha mengusir katak. Sementara siswi perempuan pada ketakutan, siswa pria hanya menonton sambil tertawa-tawa melihat hiburan langka ini. Tyas yang kehabisan kesabaran mengambil kamus tiga bahasanya. Ia berencana melempar katak dengan kamusnya. Audy berpikir cepat. Audy mencopot sepatunya dan dengan sekuat tenaga ditambah kecepatan penuh, ia lempar sepatunya kearah kamus. Berkat tenaga dan kecepatan lemparan Audy, kataknya aman. Lemparannya mengalahkan lemparan Tyas. Audy segera menangkap katak miliknya dengan menggunakan toples. Katak tertangkap dan kelas kembali tenang. Audy meminta maaf pada teman-teman sekelas karena kegaduhan yang dibuatnya.
Di lab, pelajaran Biologi tengah berlangsung Egi masih meringkuk di atas kursi. Ia menjaga jarak dengan si katak. Egi lupa memperingatkan Audy bahwa katak adalah hewan kelemahannya agar kejadiannya tidak seperti ini.
"Apa yang kamu lakukan ?" tanya Egi.
"Membius. Melukainya dalam keadaan sadar pasti sangat menyakitkan," jawab Audy. Ia mulai membius dan dengan cepat obat bius bereaksi. Ketika akan mulai membelah, Audy kesulitan mengerjakannya seorang diri. Egi sebenarnya tahu. Hanya saja ia tetap tidak berbuat apa-apa. Audy menatap Egi memelas meminta bantuan.
"Aku geli. Melihatnya lama-lama saja membuat magku kambuh," Egi beralasan.
Audy mencari ide. Ia mengambil sapu tangan dalam sakunya, setelah itu menutup mata Egi dengan sapu tangan miliknya. Egi menurut. Selesai diikat, Audy meminta tangan Egi menyentuh katak yang telah dibius. Perlahan. Egi berhasil menyentuhnya namun menarik lagi tangannya. Ia kibas-kibaskan seolah telah menyentuh benda paling menjijikan di dunia.
"Jangan takut. Anggap saja boneka atau apa saja yang membuatmu tidak takut."
"Bukan takut, tapi geli," Egi membenarkan.
Dianggap oleh Audy takut adalah harga dirinya yang tertantang. Egi memang tidak memiliki alasan untuk takut pada katak, toh katak tidak menggigit ataupun berbisa. Apalagi yang telah dibius.
"Ya terserahlah," Audy menimpali manyun.
Egi mulai menyentuh katak yang telah dibius lagi. Ragu-ragu sambil mengikuti saran Audy untuk membayangkan sesuatu yang tidak membuatnya takut. Kata-kata Audy berhasil. Egi tidak lagi menarik tangannya. Percobaan merekapun berjalan lancar.
Usai praktek, pak Hasan menyampaikan hal yang penting. Pembelajaran dari apa yang telah dilihatnya. Hal itu mengenai, bahwa tidak ada sesuatu yang menjijikan untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Karena sekecil apapun hasil yang didapat pasti akan bermanfaat bagi umat manusia. Sebab Allah SWT. tidak menciptakan sesuatu yang sia-sia.
"Bapak bangga dengan Audy Nara. Selain berhasil membantu teman satu kelompoknya, Audy juga berhasil menyelesaikan praktikum dengan baik," puji pak Hasan.
Yang lain memberi tepuk tangan untuk Audy. Audy sendiri yang tidak mengetahui pak Hasan memperhatikan apa yang dilakukannya tersipu malu. Dona bersorak paling keras, bangga akan temannya. Meski tidak bersorak sekeras Dona, Vitre juga setuju akan penilaian pak Hasan pada Audy. Vitre sangat mengenal Audy, dan ia yakin Audy melakukan banyak hal yang perlu ia lakukan dengan tulus.
Pak Hasan adalah guru yang berbeda. Beliau memperhatikan banyak aspek yang terabaikan oleh guru lain. Beliau memuji, namun tidak mencela yang lain sebagai perbandingan. Cara berpikir pak Hasan inilah yang membuatnya nampak unik dan selalu menjadi guru yang paling disegani dari tahun ketahun. Ketulusannya mengajar, juga cara mengajarnya yang baik dapat diterima siswa-siswanya. Pujiannya selalu membangkitkan semangat yang lain agar bisa lebih sensitif. Kata-kata yang keluar dari lisan beliau adalah bijak dan mengandung bahan pembelajaran. Sehingga banyak orang bisa termotivasi mendengarnya.
Egi berterimakasih pada Audy karena membantunya agar berani menyentuh hewan paling menjijikkan dalam kamusnya. Yah, meski Egi belum benar-benar berani dengan hewan Amfibi bernama katak.
"Aku harap kita bisa berteman baik, dan..." Egi memberi hormat. "Mohon bantuan untuk mengajariku lebih banyak lagi keberanian." Audy menanggapi dengan senyuman.
±ΩΩΩ±
Suatu hari saat jam pelajaran olahraga, Audy nangkring di atas pohon sendirian di belakan sekolah. Audy sudah sering mengunjungi tempat itu meski seorang diri. Di pohon tempatnya bertengger ada sarang burung dengan 3 burung pipit yang masih kecil. Pertamakali Audy ke tempat itu anak burung masih berupa telur. Si induk pun seolah tidak lagi takut dengan kedatangan Audy. Audy memperlakukan hewan-hewan itu seperti sahabatnya. Jika Audy memiliki beban pikiran, Audy akan meluapkannya dengan bercerita panjang lebar seolah yang diajak bicara mengerti kata-katanya. Tapi Audy tidak peduli. Ia hanya perlu tempat untuk mengeluarkan isi pikirannya yang menjadi beban. Tidak harus dimengerti. Audy sedang memberi minum anak burung dengan sedotan. Sisa air dari sedotan menetes kebawah dan mengenai seseorang.
"Sedang apa diatas ?"
Mendengar suara, Audy melihat kebawah. Ia tidak tahu sejak kapan orang itu berada di bawah. Yang ia tahu ia berada di atas dan seorang pria tepat di bawahnya.
"Tukang intip !!!" pekik Audy spontan sambil menyiram pria yang ada di bawahnya. Yang disiram adalah Dafan dan siraman Audy telah membasahi rambutnya.
"Tukang intip apa ? Neng, yang kamu kenakan seragam olahraga. Mau diintip dari mana," Dafan merasa aneh sendiri dituduhkan hal yang tidak ia lakukan. Audy menggigit bibir, lupa sedang mengenakan seragam apa sekarang.
"Maaf, itu tindakan reflek," kata Audy nyengir.
"Mau bagaimana lagi," Dafan mengankat bahu. "Sedang apa disana ?"
"Naik kalau mau tahu."
Penasaran dengan apa yang dilakukan Audy, Dafan naik. Ketika berada diatas, ia baru mendapat jawaban dari pertanyaannya.
"Mereka keluarga yang baik. Banyak menyimpan pembelajaran bagi manusia," Audy berkata seperti pada dirinya sendiri.
"Kamu terlalu berlebihan. Sama seperti hewan lain mereka hanya hidup berdasarkan insting," Dafan menanggapi.
"Tapikan hal-hal yang murni seperti itu yang dibutuhkan peradaban," Audy menggeluarkan pendapatnya.
"Aku bukan bilang mereka tidak memiliki bahan pembelajaran," Dafan kembali menanggapi. Audy hanya manyun tidak berargumen apa-apa.
Teringat kejadian memalukan tadi, Audy minta maaf dan memberikan sapu tangannya untuk mengeringkan rambutnya. Dafan berterimakasih. Tapi belum sempat mengembalikan sapu tangan Audy, Audy keburu pergi karena menerima sms dari Vitre yang mencarinya. Ada hal yang ingin didiskusikan mengenai mading sekolah. Setelah Audy pergi, Dafan menatap anak-anak burung dan sibuk dengan pikirannya sendiri.
Sebenarnya Audy memiliki bakat dibidang olahraga seperti, lari, lompat tinggi, lempar lembing atau sejenisnya yang membutuhkan fisik kuat atau apapun yang dimilikinya. Hanya saja Audy paling malas mengikuti jam olahraga, sehingga nilai-nilainya selalu pas-pasan bahkan tidak jarang mengulang.
Sesampainya di kelas, Audy, Vitre, dan Dona membahas waktu penyelesaian bahan mading sekolah. Ketiganya sepakat menyelesaikann sore ini. Dona mengambil ponselnya dan menyebar sms pada anggota yang lain untuk minta pendapat. Sementara Audy dan Vitre ke ruang OSIS untuk meminta diumumkan bahwa hasil karya yang ingin dimasukkan terakhir pengumpulannya hari ini.
Melewati ruang BP, Audy dan Vitre berhenti. Mereke meliha idola-idola SMA Harapan Bangsa berkumpul. Widia baru saja keluar.
"Ada masalah apa ?" Satria bertanya.
"Karena sudah tergabung dalam keanggotaan osis, penampilanku harus dirubah agar teman-teman lainnya tidak terkontaminasi," jawab Widia.
Kelimanya berkumpul dan berdiri di tempat masing-masing. Melihat pose itu, Vitre teringat foto Secret yang ia ambil dari koran. Mirip sekali. Vitre tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Vitre ayo," Audy membuyarkan isi pikiran Vitre.
Tiba kembali di kelas setelah tugas selesai, Vitre teringat sesuatu. Tentang rencana Dona memasukkan profil Widia dan yang lainnya dalam bahan mading kali ini. Itu artinya, Dona pasti menyimpan koleksi foto-foto mereka.
"Kenapa, mau bergabung dalam fansclub juga," canda Dona ketika Vitre meminta agar diperlihatkan koleksi foto yang dimiliki Dona. Vitre hanya tersenyum. Dona memperlihatkan koleksi-koleksi yang dimilikinya. Ditengah foto-foto lain, Vitre menemukan foto yang diinginkannya. Vitre meminta pada Dona agar mau memberikan satu foto itu untuknya. Meski awalnya menolak, namun hati Dona luluh juga dan memberikan foto yang Vitre inginkan.
±ΩΩΩ±
Di rumah, Vitre langsung menyamakan foto dari Dona dengan foto yang diambilnya dari koran. Cukup lama ia amati keduanya. Tempat berdiri, pose, serta tingginya sama. Jika foto dari Dona digelapkan, pasti susah untuk membedakannya. Tapi satu hal yang mengganggu pikiran Vitre. Gosib yang beredar di masyarakat adalah bahwa Secret 5 pria misterius. Vitre amati kedua foto itu lekat. Akhirnya ia temukan juga titik terangnya. Kuncinnya ada pada cara berpakaian Widia. Cara berpakaian Widia yang menunjukkan dirinya adalah pria ke-5. Itu artinya identitas Secret memang sangat rahasia. Masih berpikir, Ibu Vitre mengetuk pintu kamarnya. Vitre buru-buru menyelipkan kedua foto itu dalam buku tulis. Itu buku milik Audy yang Vitre pinjam dua hari lalu untuk menyalin
beberapa catatan.
Sore yang dijanjikan, semua anggota mading telah berkumpul. Mereka mulai menyusun bahan sesuai konsep yang dibuat oleh Audy dan Vitre. Mereka bekerjasama dengan baik agar tidak terjadi kekeliruan dalam pemasangan. Karena anggota mading berjumlah 6 orang dan semua menjalankan tugasnya dengan baik, mading bisa cepat diselesaikan tanpa kendala yang berarti. Mereka termasuk tim yang kompak dibanding anggota mading ditahun-tahun sebelumnya. Semenjak mereka menjadi anggota mading, mereka pernah memenangkan 3 perlombaan mading antar sekolah. Yaitu kategori mading terbaik, terunik, dan terkreatif. Sekolah bangga sekali dengan prestasi yang berhasil diperoleh. Jika ditahun ini mereka tetap bisa mempertahankan prestasi, bisa-bisa sampai tahun ketiga mereka tetap diberi tanggung jawab sebagai pengurus mading. Menjadi pengurus mading memang tidak terlalu banyak diminati siswa-siswi. Selain karena harus menyiapkan 3 bahan berbeda tiap minggunya, mereka juga dikejar-kejar deadline. Tapi sisi menarik yang disukai para pengurus mading adalah mereka jadi memiliki hak istimewa untuk meliput setiap kejadian. Mereka memiliki tanda pengenal dan bisa bekerja layaknya seorang wartawan. Lebih dari itu mereka bisa mengetahui lebih dulu informasi-informasi penting yang akan mereka sajikan. Juga bisa ikut berpartisipasi saat ekskul lain mengadakan kegiatan. Dengan adanya tanda pengenal pengurus mading, banyak hal bisa dilakukan saat siswa-siswi lain tidak bisa melakukannya.
Setelah semua pekerjaan selesai dengan baik, mereka pulang. Dona menghilang duluan dengan tiba-tiba. Audy dan Vitre sangat memaklumi sifat Dona yang terkadang suka berlebihan namun sangat misterius. Terkadang mendadak Dona harus pergi menyelesaikan masalahnya, terkadang juga ia menerima telpon sembunyi-sembunyi. Audy dan Vitre sudah bertanya. Barangkali Dona memiliki masalah dan mereka bisa membantu. Tapi Dona selalu mengatakan masalah utama dalam hidupnya adalah menjadikan Widia dan yang lainnya selebritis kemudian Dona menjadi managernya. Dengan begitu akan selalu ada alasan untuk Dona bersama idola-idola kesayangannya. Mendengar kata-kata Dona, Audy dan Vitre menjadi sangat yakin tidak akan ada masalah sebesar apapun yang tidak bisa dilalui Dona tanpa semangatnya. Semua akan baik-baik saja di depan Dona meski kiamat sekalipun.
Hari ini Audy berencana menginap di rumah Vitre. Sebelum keduanya pulang, mereka membeli snack untuk camilan di minimarket depan sekolah. Audy yang memang kebutuhan energinya banyak dan suka makan lebih banyak dari Vitre atau yang lainnya.
"Masih belum suka makan eskrim ?" Vitre bertanya sambil mulai memakan eskrimnya. Mereka ke luar dari Mini market dan akan kembali ke parkiran sekolah. Sejak SMP Audy memang tidak terlalu menyukai eskrim. Alasannya karena terlalu manis. Tipe makanan kesukaan Audy adalah pedas. Jadi untuk yang terlalu manis, Audy memilih angkat tangan.
"Selama belum ada eskrim pedas, ku rasa iya." Mereka masih membahas eskrim saat Audy melihat Widia diganggu diseberang jalan. Beberapa orang yang
mengganggu Widia sepertinya ia kenal.
"Sudah, jangan ikut campur. Dia pasti bisa jaga diri," kata Vitre bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Audy.
"Cuma lihat-lihat keadaan. Ayo," Audy menarik Vitre menyebrang jalan. Ia berjanji pada Vitre tidak akan turun tangan jika keadaan tidak benar-benar membahayakan. Semenjak Vitre memikirkan kemungkinan Secret adalah Widia dan teman-temannya, ia ingin menjaga jarak dan hanya menyelidiki dari jauh. Saat semuanya sudah jelas, barulah ia akan beraksi.
Audy yang membela Widia menyebabkan terjadinya perang mulut. Tidak lama kemudian Windy dan yang lainnya datang. Tidak terima kakaknya diganggu, Windy marah-marah. Terjadilah pertengkaran kecil karenanya. Windy sempat menjotos orang itu, namun cepat dilerai oleh Satria.
"Kita belum selesai. Akan aku buktikan bahwa kalian hanyalah pecundang," ancam Riki sebagai pemimpin dari teman-temannya yang lain. Mereka pergi.
"Heah, kelakuan," Dafan menghela nafas. Audy dan Vitre pamit pulang. Keduanya kembali ke parkiran untuk mengambil mobil. Sebelum Audy pergi, Dafan teringat sesuatu.
Ia meraba saku celananya. Dafan memang masih membawa sapu tangan Audy. Ia mengejar Audy yang sudah berada di sebrang jalan. Egi melirik apa yang Dafan lakukan. Tiba-tiba saja Widia menepuk-nepuk bahu Egi. Egi hanya bingung. Entah apa maksud perlakuan Widia.
Menginap di rumah Vitre berarti terbebas dari belenggu Katon. Ibu Vitre menyambut dengan senang kedatangan Audy. Dengan datangnya Audy, ia yakin Vitre akan lebih merasa terhibur di rumah. Pukul 20.00 Dona datang bergabung, tapi tidak berencana menginap seperti Audy. Ia hanya menghabiskan waktu dengan teman-temannya. Mereka mengerjakan tugas bersama, nonton, dan bercanda. Ibu Vitre sangat senang melihat anaknya bisa tertawa lepas. Sifat Vitre saat di rumah memang berbeda. Suka mengurung diri dan sering melamun. Semua ini bermula setelah apa yang menimpa keluarganya. Vitre sangat dekat dan menyayangi Ayahnya. Jadi sangat wajar ia terpukul dengan apa yang terjadi. Vitre adalah kaca yang cepat retak, kepribadian yang sebenarnya rapuh.
±ΩΩΩ±
Setelah memiliki masalah dengan Riki, dua hari kemudian setelah pulang sekolah Riki dan teman-temannya mendatangi SMA Harapan Bangsa. Mengetahui kapten basket SMA Harapan Bangsa adalah Satria, ingin sekali Riki yang juga kapten basket kebanggaan sekolahnya mengadu kebolehan. Sekaligus menuntaskan permasalahan mereka yang lalu. Tidak ada alasan untuk menolak. Widia dan yang lainnya tidak akan mengecewakan kunjungan tamu yang sebenarnya tidak diinginkan.
Begitu mengetahui akan ada pertandingan basket, siswa-siswi lain yang masih di sekolah berbondong-bondong menuju lapangan basket. Mereka ingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri kemenangan idola-idola kesayangan mereka. Begitupun dengan Audy, Vitre, dan Dona. Kelihatannya ini adalah pertandingan yang seru, yang tidak setiap saat bisa mereka nikmati.
Permainan pun dimulai. Senior kelas XII ditunjuk sebagai wasit. Teknik permainan Riki memang baik sebagai kapten kebanggaan sekolahnya. Diawal pertandingan terlihat
imbang. Namun itu hanyalah pemanasan. Widia dan yang lainnya belum memperlihatkan kekuatan mereka yang sesungguhnya. Setelah pemanasan dirasa cukup, barulah mereka menunjukkan apa yang disebut pertandingan. Suporter dari kubu SMA Harapan Bangsa bersorak keras sekali memberi semangat. Riki bagai kebakaran jenggot melihat permainan lawan yang meningkat berkali-kali lipat. Disituasi itu, Riki merencanakan permainan curang. Sasarannya adalah Satria. Ketika akan mengoper bola, Satria diserang. Terkesan tidak sengaja dan hanya ingin merebut bola. Tapi yang ada dalam lapangan mengetahui dengan jelas itu disengaja. Satria terjatuh dan kakinya terkilir.
"Satria, bagaimana keadaanmu ?" Widia bertanya khawatir.
"Kakiku terkilir," jawab Satria sambil memegangi kakinya.
"Permainan apa ini, tidak sportif," Windy mulai naik pitan.
"Santai bos," kata Riki."Namanya juga permainan. Cidera itu hal yang wajar," tambah Riki tanpa rasa bersalah sedikitpun. Windy yang geram dan akan memberi pelajaran pada mulut besar Riki ditahan oleh Widia. Widia yakin, jika menghadapi orang seperti Riki dengan kekerasan, masalah tidak akan selesai.
"Sekarang apa yang akan kalian lakukan dengan 4 pemain yang didalamnya 1 perempuan ?" Riki masih tidak mau diam.
Tanpa berdiskusi dengan teman-temannya, Egi memanggil Audy sebagai pemain pengganti. Semua terkejut dengan keputusan Egi. Begitupun dengan Audy. Audy bahkan tidak mengerti peraturan dan bagaimana permainan basket. Yang pernah dipelajarinya hanya tahap dasar, tidak lebih spesifik dari itu.
"Sana masuk," Dona mendorong Audy masuk lapangan.
"Kenapa aku ? Aku tidak mengerti apa-apa tentang basket," Audy merasa tidak siap. Ia celingukan kesana-kemari mencari orang untuk menggantikan posisinya.
"Tempo hari kamu mengajaknya adumulut. Akibatnya masalah memanjang. Jadi kamu harus bertanggung jawab menyelesaikannya," kata Widia.
"Apa ?" Audy merasa di skak. Padahal ia berniat membantu Widia. Widia pun berterimakasih dan tersenyum manis. Tapi kenapa sekarang dirinya jadi dipojokkan.
"Kan sudah kubilang jangan ikut campur. Sekarang rasakan sendiri getahnya," Vitre membatin. Meski tidak yakin teknik bermain Audy bagus, tapi ia ikut mendukung.
"Kalian mau membuat kami terlihat jahat melakukan pertandingan yang tidak imbang," kata Riki mencela.
"Kenapa takut ?" tanya Dafan.
"Siapa takut. Kita lihat saja apa yang bisa dilakukan oleh tim setengah waria seperti kalian," Riki mencibir.
Saat Riki berjalan melewati Dafan ingin bergabung kembali dengan timnya, Dafan meletakkan kakinya menghalangi jalan Riki. Riki terhuyung, namun tidak sampai jatuh. Dafan hanya berlalu sambil bersiul riang seolah tidak melakukan apapun. Dafan kearah Satria, dengan dibantu Windy ia memapah Satria keluar lapangan.
Wasit meniup peluit tanda pertandingan kembali berlanjut. Meski ragu, Audy masuk lapangan. Windy mendekatinya dan membisikan mantra. 'Jangan pikirkan apapun. Masukkan saja bola sebanyak mungkin.' Jarak Windy membisikkan mantra itu sangatlah dekat hingga membuat wajah Audy memerah. Untungnya Audy bisa cepat mengendalikan diri. Tempat itu begitu ramai. Jika sedikit saja ada yang tidak beres, akan cepat menarik perhatian. Audy masih melamun saat bola dioper padanya. Bola yang dioper mengenai kepala Audy dan ia menjadi bahan tertawaan bagi yang menikmati kesialannya. Audy memegangi kepalanya dan menggendus kesal. Kenapa ia selalu terlihat bodoh saat bersama kelimanya. Audy menguatkan dan meyakinkan dirinya sendiri untuk fokus serta memperlihatkan kemampuan terbaiknya.
Permainan kembali berlanjut dan Audy kini memegang bola hasil operan dari Egi. Dari jarak jauh, Audy memutuskan langsung menembak. Semua penonton tidak yakin dengan apa yang Audy lakukan. Tapi Audy membuktikan kemampuannya. Bola masuk ring dengan mulus. Sejenak keterheran-heranan terasa begitu jelas (hanya orang-orang yang sudah mengetahui kemampuan Audy yang masih terlihat wajar), kemudian suara sorak dan tepuk tangan membahana memenuhi lapangan basket. Audy menjadi bintang lapangan sekarang. Semua suara sorak dan tepuk tangan itu untuknya. Audy mulai terbuai. Akibatnya aksi hebatnya menjadi pertama dan terakhirnya. Audy lemah dalam kerjasama tim. Hanya fokus pada petunjuk Windy 'jangan pikirkan apapun. Masukkan saja bola sebanyak mungkin.' Permainan jadi hancur. Audy benar-benar tidak memikirkan apapun, hanya memasukkan bola ke ring. Ia bahkan merebut bola dari temannya sendiri. Penonton geregetan dengan permainan Audy yang asal, begitupun Wasit yang bingung harus bagaimana. Poin semakin tertinggal jauh. Tembakan terakhir Riki yang masuk menandakan permainan berakhir dengan kemenangan ditangannya.
Audy baru menyadari kesalahannya setelah peluit panjang dibunyikan. Ia menatap wajah teman-teman satu tim yang terlihat kecewa padanya. Ia telah mengacaukan permainan. T2 dkk melemparinya dengan botol plastik. Audy merasa bersalah telah mengecewakan banyak orang. Air mata kesedihannya tidak lagi terbendung.
"Maafkan aku," kata Audy kemudian berlari meninggalkan lapangan. Vitre dan Dona mengejar Audy seketika itu juga.
"Ini hanya permainan, kalah-menang itu hal yang wajar. Kita tidak menyalahkannya,"Egi mengangkat bahu. Ia katakan itu pada timnya. Namun berbeda yang ada dalam pikiran penonton. Audy adalah akar masalah dari kekalah tim idola mereka. Dafan berlari keluar lapangan untuk menyusul Audy.
"Kalian temukan Audy ?" tanya Dafan saat melihat Vitre dan Dona. Keduanya menggeleng lemas. Mereka kembali berpencar dan mencari Audy lagi. Siapa tahu ada tempat yang terlewatkan. Ketika melewati lab. Biologi, Dafan mengingat suatu tempat.
Audy tidak sedang menangis meski ia masih sedih. Audy menatap anak-anak burung yang sedang bercicit ria didepannya. Audy elus kepala salah satu anak burung.
Tiba-tiba saja seseorang melempar Audy dari bawah. Orang itu adalah Dafan. Dafan tersenyum dari bawah sambil menutup matanya.
"Aku tidak sedang mengintip. Apa aku boleh naik sekarang ?" Dafan bertanya.
Audy hanya tersenyum sambil mengangguk.
Sampai diatas, Dafan menengadahkan tangannya, meminta sesuatu pada Audy.
"Apa ?" tanya Audy tidak mengerti.
"Hp mu. Vitre dan Dona harus diberi kabar, mereka khawatir."
Audy menyerahkan Hpnya agar Dafan mengabari Vitre dan Dona bahwa Audy baik-baik saja. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Terimakasih dan ... "
"Sudahlah. Tidak usah meminta maaf lagi," Dafan memotong kata-kata Audy. "Kami tidak menyalahkanmu. Seharusnya dari awal kami tidak memaksamu untuk terlibat."
"Tapi sebagai pembuat masalah, aku cukup tahu diri untuk merasa bersalah."
"Ayo, ku antar pulang," Dafan menawarkan.
Dafan mengantar Audy sampai rumahnya. Sebelum pulang, Ibu Audy mengajak Dafan mampir untuk makan bersama. Awalnya Dafan menolak, tapi Katon memaksa. Akhirnya Dafan bergabung dan tidak menyesal karena masakan Ibu Audy benar-benar enak. Selesai makan, Katon mengajak Dafan berbincang sebentar (siasat untuk mengajak Dafan menjadi peminat taekwondo). Menyenangkan berada ditengah-tengah keluarga Nara. Mereka sangat bersahabat dan menyenangkan.
Dafan pulang saat hari mulai gelap. Ia langsung ke cafe untuk bekerja. Saat Dafan sampai, cafe siap dibuka untuk gelombang II.
"Bagaimana keadaannya ?" Widia yang pertama kali menyadari kedatangan Dafan bertanya.
"Cukup baik, meski tetap merasa bersalah," jawab Dafan. "Bagaimana keadaan Satria ?" Dafan balik bertanya. Tidak lama kemudian Satria keluar dengan seragam cafe Today lengkap.
"Aku baik," katanya meski masih berjalan terpincang-pincang.
"Saat di lapangan dia menangis. Aku mengejarnya untuk memastikan keadaannya," Dafan menjelaskan tanpa ada yang bertanya. Tapi menurut Dafan, tatapan teman-temannya berarti sebuah pertanyaan. "Sekarang aku mau mandi." Dafan masuk sambil bersiul-siul senang.
"Dia tidak seperti biasanya," Egi berkomentar. Yang lain hanya angkat bahu kemudian melanjutkan pekerjaan masing-masing.
Oleh : Nona Minazuki