Kamis, 21 Maret 2013

12 JUNI


Semua dari hidupku baik-baik saja, meski sudah dua tahun menikah dan belum dikaruniai keturunan. Suamiku tetap baik dan sayang padaku. Kata keluargaku umur dua tahun pernikahan itu masih terlalu muda. Banyak orang-orang diluar sana yang sudah lima tahun bahkan tujuh tahun menikah baru dikaruniai keturunan. Aku tahu mereka mengatakan hal itu hanya untuk menghiburku dan agar aku lebih bersabar. Ya, semua memang baik-baik saja dan aku bahagia dengan hidupku. Sampai pada hari ini, tanggal 12 Juni. Di pagi ini yang aku pikir adalah awal dari segalanya tidak ada yang terasa berbeda sedikitpun. Aku masih bangun pagi dan kulihat suamiku tercinta masih terlelap disampingku. Aku masih saja sering mengamati wajah tampannya saat ia tidur dan masih saja rasa kagum itu muncul. Alisnya yang tebal, hidungnya yang tidak terlalu mancung namun bagiku itu adalah perpaduan yang tepat dengan wajahnya yang oval dan bibirnya yang indah. Suamiku mulai bergerak-gerak dan perlahan ia membuka kedua matanya. Melihatku telah terbangun lebih dulu dan  belum berhenti menatapnya membuat mas Dian tersenyum. Ah, senyum yang masih saja mampu meluluhkanku meski sudah lima tahun aku mengenalnya.
“Sudah bangun,” katanya singkat kemudian mengecup keningku.
“Iya. Ayo sholat subuh berjamaah,” ajakku.
Awal yang sempurna bukan. Bahkan bagiku terlalu sempurna untuk menjadi awal dari mencuatnya masalah-masalahku. Aku sudah selesai berwudlu dan kembali ke kamar. Aku pikir mas Dian kembali tertidur karena semalam pulang begitu larut. Namun dugaanku salah. Mas Dian tidak ada di kamar. Beberapa menit berselang, mas Dian kembali ke kamar. Tangan kananya memegang ponsel yang terlihat coba ia sembunyikan karena terkejut melihatku yang telah lebih dulu berada di kamar.
                “Ada apa, mas ?” tanyaku ingin tahu.
                “Adikku minta dikirimi uang untuk modal usaha barunya,” jawab mas Dian.
Aku percaya dan tidak berpikir macam-macam walau sebenarnya hal itu mencurigakan. Aku percaya mas Dian dan sampai sekarang aku masih tidak memiliki alasan untuk mencurigainya.
Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ
                Aku baru saja selesai memeriksakan diriku kedokter kandungan. Mas Dian sudah sangat mengharapkan seorang anak dari tahun pertama pernikahan kami dan sebagai seorang istri yang belum bisa memenuhi keinginan suaminya tentu saja aku sangat sedih.  Aku melakakukan pemeriksaan untuk mencaritahu apa ada yang salah denganku atau apa ada hal lain yang harus kulakukan. Ini adalah usaha yang kulakukan agar keinginanku dan mas Dian cepat terwujud. Alhamdulillah tidak ada hal yang salah denganku. Semua hal memang butuh proses dan aku hanya perlu lebih bersabar.
                Matahari begitu terik hari ini, sama seperti hari-hari sebelumnya. Aku memeriksakan diriku kerumah sakit ditemani oleh Rina teman akrabku semenjak SMA. Mas Dian sedang sibuk dengan pekerjaannya jadi tidak sempat mengantarku. Aku telah berada di parkiran sekarang, tapi entah dimana Rina. Kukira Rina masih berada dibelakangku ternyata saat tiba di parkiran aku baru sadar dia menghilang. Mataku menyapu setiap sudut parkiran barang kali aku bisa menemukannya. Mungkin saja Rina sedang bersembunyi atau melakukan hal konyol lainnya untuk  mengejutkanku seperti kebiasaannya yang lalu-lalu. Seteliti apapun mataku menjelajahi seluruh parkiran, tetap tidak kutemukan Rina dimanapun. Aku putuskan menunggunya barangkali ia sedang sibuk dengan urusannya. Selagi menunggu, aku mencari minuman segar diseberang jalan. Setelah satu mobil silver mewah melewatiku, aku pun menyeberang. Belum sampai di seberang aku mendengar  suara decit ban mobil disusul suara teriakan beberapa orang. Aku berbalik dan melihat mobil silver yang tadi melewatiku  keluar lintasan, terbalik dan menghantam satu warung kecil di pinggir jalan. Aku terbelalak menangkap dan merekam kejadian itu dengan begitu jelas. Saking terkejutnya seketika badanku mengaku. Aku berdiri ditengah jalan seperti orang linglung. Seseorang menarikku. Rina.
                “Mina, kamu baik-baik saja ?” Tanya Rina.
Aku menjawab pertanyaan Rina hanya dengan anggukan kepala. Rasa penasaranku menarikku untuk lebih lanjut mengetahui bagaimana keadaan pengendara mobil itu. Aku berjalan seolah tanpa sadar kearah kerumunan orang yang mulai semakin ramai memadati tempat kecelakaan.
                “Mina, kamu mau kemana ?” Rina menarikku.
                “Aku ingin tahu bagaimana keadaan korban kecelakaan mobil itu,” kataku.
                “Untuk apa ? ada hal lain yang jauh lebih penting. Ayo ikut,” Rina menegaskan suaranya dan lagi-lagi ia menarikku. Kami menyebrang. Jalan mulai macet karena dipadati warga dan orang-orang  lewat yang berhenti untuk melihat kecelakaan itu.
                Rina membawaku menuju kantin rumah sakit. Aku tidak tahu kenapa dan apa yang sedang ada dipikirannya. Aku juga sudah bertanya ada apa, namun Rina hanya diam dan mempercepat langkahnya. Entah apa yang ingin Rina tunjukkan padaku, aku mulai merasa khawatir melihat ekspresinya yang tidak biasa. Kami berhenti dimeja dimana ada pasangan sejoli sedang makan siang. Pasangan ! Tidak. Itu mas Dian, suamiku. Sedang apa ia disini dan… bersama seorang wanita yang tidak aku kenal sama sekali. Bukannya mas Dian bilang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
                “Mas,” panggilku. Suaraku seakan tercekik, tertahan ditenggorokan. Wajah mas Dian terkejut bukan main melihatku dan Rina ada didepannya. Mas Dian tersentak. Ia melepaskan tangannya dari genggaman wanita yang sedang bersamanya.
                “Ini sama sekali tidak seperti yang terlihat,” kata Mas Dian berusaha membela diri.
                “Kalau begitu jelaskan,” kataku. Aku berusaha mempercayai mas Dian kalau semua yang aku lihat ini memang tidak seperti  pikiran-pikiran buruk yang mulai bermunculan dan mengganggu dalam benakku. Aku mempercayai suamiku, sangat mempercayainya sampai pada detik ini. Tidak ada hal buruk yang pernah terjadi selama ini, semuanya baik-baik saja. Jadi tidak ada celah untuk hal-hal seperti ini bisa terjadi. Bahkan meski mas Dian menginginkan kehadiran seorang anak namun belum terwujud, kami masih sangat bahagia. “Jelaskan,” kataku sekali lagi.
Bukannya menjelaskan mas Dian hanya diam sambil menatap gadis itu ragu. Apa yang sebenarnya terjadi, benarkah semua ini. Benarkah mas Dian menghancurkan semua kepercayaanku padanya. Melihat mas Dian hanya terdiam sungguh membuat hatiku teriris perih.
                “Sudahlah. Tidak ada lagi hal yang perlu dijelaskan. Semua sudah terlihat jelas didepan mata kita. Suamimu menyeleweng,” tandas Rina. Aku tidak percaya Rina mengatakan hal sejahat itu. Rina akan mengandengku meninggalkan kantin namun aku menepis tangannya. Aku berlari meninggalkan mereka semua yang telah membuatku marah. Terdengar dari kejauhan mas Dian dan Rina memanggilku. Namun airmata yang sudah terlanjur membanjir membuatku tidak mempedulikan apapun. Yang aku inginkan hanya menjauh dari mereka, sejauh-jauhnya kemudian menangis. Aku naik taksi pulang ke rumah.
                Sampai di rumah aku langsung masuk kamar dan menangis saejadi-jadinya. Ponselku berdering namun tidak aku pedulikan. Aku ingin mereka tahu banhwa saat ini aku marah. Mereka, ya tentu saja semuanya. Bahkan Rina yang kutahu sangat baik padaku. Tapi justru kata-katanya tadi begitu jahat membuatku tidak bisa mempercayai semua. Tidak bisakah Rina mengatakan hal yang baik tentang mas Dian atau tidak bisakah dia ikut membujuk mas Dian agar mau mengatakan alasannya padaku. Paling tidak Rina melakukan hal itu untuk menjaga perasaanku. Wanita itu, tentu saja dia yang paling membuatku marah. Aku yakin kalau sebenarnya dia yang lebih dulu menggoda mas Dian. Mas Dian yang hanya diam saja justru yang paling menyakitiku, tidakkah ia tahu aku sangat mengharapkan penjelasan darinya. Aku memejamkan mata namun masih terisak dalam tangisku. Andaikan semua ini hanya mimpi buruk dan aku hanya perlu terbangun untuk mengakhiri semua ini. Tidak. Karena sebesar apapun aku berharap ini hanya mimpi, semua tetaplah kenyataan pahit yang harus aku kecap. Begitu pahit rasanya sampai serasa ingin aku muntahkan semuanya. Perlahan dan aku mulai terlelap.
                Baru sesaat rasanya aku pejamkan mataku, tahu-tahu saat terbangun suara azan magrib sudah mengalun merdu. Aku beranjak dan hendak keluar kamar, namun tiba-tiba saja lampu mati. Beberapa saat aku merasa sekelilingku aneh, tubuhku terasa kaku. Entah apa yang merasuki pikiranku hingga hal-hal yang sebelumnya tidak pernah aku pikirkan bernaung dalam otakku. Perasaan takut mulai aku rasakan. Perasaan ketakutan yang bodoh karena aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku takutkan. Aku menarik nafas dan berusaha menghilangkan pikiran-pikiran buruk dalam otakku. Kembali bisa kukuasai tubuhku. Baru saja aku menyalakan lilin, listrik sudah kembali menyala. Aku mulai melakukan aktifitas seperti biasanya.
                Meski perasaanku buruk, aku berusaha membuat diriku terlihat baik-baik saja. Paling tidak saat mas Din pulang nanti, ia tidak melihatku dalam keadaan seberantakan ini.
                Makan malam sudah aku siapkan seindah mungkin. Semua yang ada di meja adalah makanan kesukaan mas Dian. Ditengah meja aku letakkan lilin bertingkat yang tidak terlalu besar. Aku juga meletakkan vas bunga yang dipenuhi bunga mawar segar. Aku bisa merasakan aroma bunga mawar yang menguasai seluruh ruangan.  Biarlah semua ini dianggap sogokan, yang jelas aku mau rumah tanggaku tetap bisa dipertahankan. Aku tidak ingin menyerahkan suamiku begitu saja pada wanita penggoda itu.
                Aku menunggu. Semua makanan sudah hampir dingin sekarang dan mas Dian belum juga memperlihatkan tanda-tanda kepulangannya. Aku masih bisa sabar menunggu. 5 menit berlalu, 10 menit, 15 menit, 20 menit. Waktu terasa begitu cepat mengejarku dan suara jam dinding seakan memenuhi pendengaranku. Dadaku mulai terasa sesak. Aku mencoba menghubungi ponsel mas Dian. Terhubung. Meski terhubung tetap tidak ada yang bisa aku dapatkan. Mas Dian tidak mengangkat panggilan dariku. Kucoba lagi, lagi, dan lagi hingga tiga kali, hasilnya tetap nihil.  Kukepalkan tanganku erat-erat kemudian kuhantamkan kemeja -brak. Ingin sekali aku meledak, berteriak-teriak, dan  menghambur semua yang ada didepanku. Namun tidak bisa aku lakukan. Aku merasa diriku sangat menyedihkan. Padahal sudah sesesak inipun aku masih juga belum bisa meledak. Airmataku mengalir dengan sangat deras. Rasanya sakit sekali, sangat menyesakkan sampai-sampai untuk bernafas saja rasanya berat. Aku terisak dalam keheningan rumahku yang biasanya hangat dengan kasihsayang.
                Lilin tiba-tiba saja mati padahal suasana terlalu tenang menurutku. Aku merasa semakin kesal, berpikir kalau semua hal sedang menertawaiku saat ini. Kulipat tanganku diatas meja dan kubenamkan wajahku. Dalam ruangan remang-remang yang hanya ada aku sendiri menguasai sekelilingku, serasa seseorang sedang mendekat kearahku.
Aku menahan nafas dan fokus mendengarkan. Tidak ada suara apapun.                Aku angkat wajahku dan kuamati sekeliling. Benar, tidak ada siapapun. Aku kembali merasakan takut seperti sebelumnya. Aku masuk kamar dan mengunci pintu. Aku baringkan tubuhku. Aku tidur menyamping menatap kearah dimana mas Dian biasanya berbaring. Dimana aku bisa merasakan hangat hembusan nafasnya, mencium aroma tubuhnya, dan dimana aku selalu memperhatikan wajah tampannya. Aku pejamkan kedua mataku, membayangkan sosoknya berada dihadapanku. Beberapa menit mencoba membangkitkan imajinasiku tentangnya, aku merasa sosok itu tengah benar-benar berada didepanku. Aku tidak ingin membuka mataku dan membiarkan sosok itu tetap tercipta dalam pikiranku. Sungguh aneh rasanya karena aku merasa kehadiran sosok itu sangat nyata. Benar-benar ada menemaniku diatas ranjang, dengan wajahnya yang berhadapan dengan wajahku. Aku memang tidak bisa merasakan hangat nafasnya ataupun mencium aroma tubuhnya, tapi aku merasa nyaman.
Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ
                Pukul 02.15 aku terbangun. Kosong. Terkejut tidak ada siapa pun. Aku mencari kesetiap sudut kamar. Kulihat pintu kamar masih terkunci menandakan tidak ada siapapun yang masuk semalam. Masih belum percaya aku bergegas keluar kamar. Tidak kutemukan siapapun dimanapun aku mencari. Makanan yang aku siapkan diatas meja juga masih tetap sama, tidak ada yang berubah sama sekali. Aku sangat hafal, bahkan dimana setiap sendok aku letakkan. Mas Dian tidak pulang sama sekali semalam. Aku berjalan lemas menuju dapur. Kuteguk segelas air untuk membuat diriku lebih baik. Ternyata sosok semalam yang kuanggap nyata ternyata hanya imajinasiku saja. Tapi kenapa terasa begitu nyata. Perasaan yang juga mampu membuatku merasa nyaman. Aku merasa konyol dan bodoh. Aku berstighfar dan segera keluar mengambil air wudlu.
                Keesokan harinya aku putuskan kembali ke rumah sakit tempat kemarin aku melihat kejadian tak diinginkan itu. Aku ingin bertemu dengan wanita yang merusak rumah tanggaku itu. Aku adalah seorang istri dan aku tidak akan membiarkan rumah tanggaku hancur begitu saja. Aku akan mempertahankan suami yang aku cintai. Oleh karena itu dibanding hanya diam di rumah dan menunggu, aku lebih ingin mendapati kepastian itu.
                Aku mencari membabibuta. Aku tidak tahu siapa nama atau apa jabatan wanita itu dirumah sakit ini. Yang kemarin terlihat olehku hanya wanita itu memakai pakaian putih dan Nampak seperti seorang perawat. Tapi aku yakin aku pasti bisa menemukannya bagaimanapun caranya. Aku jelajahi setiap likuk rumah sakit.  Setiap aku melihat seseorang wanita berpakaian perawat, berpostur tubuh mirip wanita itu dengan rambut digerai aku akan lansung menarik tangannya atau menyentuh bahunya untuk melihat wajahnya lebih jelas. Tidak peduli apa yang sedang dilakukan perawat itu ataukah sedang terburu-buru. Aku juga tidak lagi mempedulikan apapun anggapan orang walau terlihat jelas aku sangat menggangu dan mereka tidak suka dengan caraku. Yang aku pedulikan saat ini adalah masalahku sendiri. Aku tengah dibuat gila oleh ketakutanku. Ketakutan akan hancurnya rumah tanggaku yang baru berumur 2tahun. Aku mulai lelah. Tidak ada petunjuk dimanapun aku mencari keberadaannya. Keningku berkeringat dan nafasku berat. Aku berdiam sebentar, mengatur nafas dan menenangkan diriku. Aku masih berusaha mengatur perasaanku ketika aku melihat seorang perawat keluar dari ruang rawat.  Perawat itu adalah wanita yang tengah aku cari-cari. Wanita itu menatapku kemudian tersenyum. Dia melangkah mendekat dan berkata,
                “Kau mencariku ?”
Aku hanya diam menahan amarah. Melihatnya tersenyum, mendengar dia berbicara, semua itu membuatku benar-benar marah. Kukira akan mudah, tapi ternyata menghadapi wanita seperti ini akan menguras banyak emosiku. Ingin sekali rasanya tanganku ini kulayangkan kepipinya agar wajah yang ia buat tanpa dosa itu bisa sedikit merasakan rasa sakit yang aku rasakan, menarik rambut panjangnya, juga mempermalukannya didepan semua teman-teman kerjanya. Tanganku mulai terasa gatal.
“Jauh dari yang aku perkirakan, teranyata kau bisa juga tenang disituasi seperti ini.”
                “Tenag,” batinku berteriak tidak terima.
                “Kupikir kau akan datang sambil mengamuk kemudian mencakar-cakar wajahku,” tambahnya lagi enteng.
                “Kau tahu, hal itulah yang paling kuinginkan saat ini,” batinku berkata lagi. Aku mendelik kearahnya. Wanita itu juga balas melihatku tajam kemudian mengalihkan wajahnya sambil tersenyum.
                “Membosankan sekali wanita sepertimu. Tidak adakah hal lain yang bisa kau lakukan selain mendelikiku seperti itu. Pantas saja…” –Plak – tanganku melayang kepipinya memotong kalimatnya. Lega rasanya karena bisa memberikan satu pukulan kewajahnya. Sebenarnya itu masih kurang, tapi akan kutambah lagi saat dia membalas. Saat itulah aku akan menghajarnya habis-habisan. Mencakar-cakar wajahnya dan menarik lidah tajamnya keluar.
“Hanya satu,” katanya. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan wanita itu. Kupikir dia akan membalas perbuatanku. “Jika kau masih mau akan kuberikan sebelah pipiku lagi. Kenapa ? apa hanya sebatas itu saja rasa marahmu.”
                “Sudah selesai membanggakan dirimu sendiri ?” aku mulai membalas kata-katanya. Aku menyalakan kendaraan perangku dan siap bertarung lagi dengannya. “Aku jadi sangat yakin mas Dian bersamamu hanya kekhilafan. Karena dari tadi aku mengamatimu kau hanya unggul disifat percaya dirimu saja.” Aku amati wajahnya yang masih merah karena tamparanku. Dari ekspresinya kurasa aku telah berhasill membuatnya kesal. Aku mulai merasa percayadiri dan bisa menguasai medan. “Aku tidak ingin terlalu banyak bercerita padamu. Aku hanya ingin mengingatkanmu untuk berhenti mengganggu suamiku atau aku akan benar-benar mencakar wajahmu seperti yang kau inginkan,” tambahku tegas. Aku berusaha memperlihatkan seberapa kuatnya aku dan akan semengerikan apa jika aku marah. Aku berbalik dan meninggalkannya. Namun baru berjalan beberapa langkah wanita itu berkata lagi dengan nada tinggi.
                “Kau masih belum sadar juga ! mas Dian memilihku sudah jelas karena aku lebih baik darimu. Kalau kamu tetap tidak juga sadar, kamu akan semakin terluka. Lihat saja, mas Dian akan mendatangimu dalam waktu dekat dan akan dia katakan semuanya dengan jelas didepanmu,” pekiknya.
Aku tidak mempedulikannya dan tetap melangkah meninggalkannya. Itu hanya kalimat terakhir yang bisa diucapkan seseorang yang telah kalah. Membawa nama orang lain untuk memperkuat posisinya. Ponselku bordering ketika aku telah berada diluar rumahsakit. Nama Rina tertera dilayar ponselku.

Aku hanya duduk termenung disebuah café sederhana dipinggir jalan. Rina ingin sekali bertemu denganku untuk memastikan apakah keadaanku baik-baik saja. Aku tahu Rina pasti sangat khawatir. Terlebih lagi terakhir kali saat dirumah sakit aku meninggalkannya dengan sifatku yang keterlaluan. Aku juga tidak menganggat telepon darinya untuk memberitahu bagaimana keadaanku. Aku akan memintamaaf padanya saat bertemu nanti. Aku masih duduk termenung menatap gelas kaca tinggi yang berisi air putih. Air dalam gelas itu begitu tenang. Masih aku amati lambat laun air yang tadinya tenang itu bergelombang. Semakin lama gelombangnya semakin jelas terlihat. Aku amati sekelilingku, barangkali ada hal aneh yang membuat air dalam gelas ini bergelombang. Tidak ada hal yang aneh disekelilingku. Semua orang tengah sibuk bercengkrama dengan keluarga dan teman. Minuman dalam gelas-gelas mereka tenang. Aku amati kembali gelas didepanku dan tempat duduk kosong didepanku. Sebuah perasaan aneh seperti sedang menggerogotiku. ‘Perasaan gila apa ini?’
                “Mina,” terdengar suara Rina memanggil namaku. Setengah berlari Rina menghampiriku. “Mina kamu baik-baik saja ?” Rina bertanya begitu menghawatirkanku. Aku hanya mengangguk tanpa bisa mengatakan apapun. Aku terharu dengan perhatian Rina. Rina memelukku. Sepertinya Rina tahu betul kalau disaat seperti ini hal inilah yang aku butuhkan. Airmataku tidak lagi mampu terbendung dalam dekapannya. Airmataku mengalir deras membasahi kedua pipiku.
                “Jadi kamu baru saja menemui wanita itu ?” Tanya Rina memotong ceritaku. Dari nada bicaranya Rina nampak terkejut. Aku menjawab pertanyaannya hanya dengan anggukan. Pesanan kami datang. Saat minumanku diletakkan didepanku, aku melirik kearah air putih yang tadi bergelombang kini tenang. Aku berpikir, apa gerangan yang telah terjadi, kenapa bisa seperti ini.
“Mina, Mina,” panggilan Rina menyadarkanku bahwa ia masih menunggu bagaimana kelanjutan ceritaku.
                “Aku menamparnya sekali. Aku pikir setelah itu dia akan membalas dan aku bisa berkelahi dengannya dan meluapkan semua amarahku. Tapi dia tidak membalas. Mungkin dia sudah tidak kaku lagi menghadapi situasi seperti itu. Jika dia kaku dan takut, tidak mungkin dari awal dia berani menggoda suami orang,” Jelasku.
                Hari berikutnya aku masih menunggu kepulangan mas Dian. Penantianku yang penuh harap. Tidur larut saat malam hari dan bangun lebih cepat dengan harapan saat aku membuka mata aku bisa melihat mas Dian terlelap disampingku. Sayangnya penantianku yang penuh harap itu hanya berujung menyakitkan. Mas Dian tidak kunjung pulang juga. Nomor ponselnya bahkan kini tidak aktif lagi. Mencarinya kesemua tempat yang aku tahu sudah kulakukan, dan kini hanya sakit yang tersisa. Apa seperti ini sifat suami yang aku bangga-banggakan selama ini menghilang begitu saja tanpa penjelasan saat menghadapi sebuah masalah. Apa yang sebenarnya mas Dian pikirkan, kenapa tidak langsung muncul dan menjelaskan semuanya. Membuatku semakin berharap dan tidak rela untuk melapaskannya. Aku menjadi semakin tersiksa memikirkannya. Kakakku yang tinggal di kota seberang mulai curiga, karena setiap kali menelpon nada suaraku selalu terdengar sedih. Aku belum berani menceritakan masalahku pada mereka. Aku takut mereka khawatir. Jadi sambil mencari jalan keluar sendiri aku terus berharap semoga saja semuanya bisa membaik sebelum keluargaku tahu yang sebenarnya.
                Hari selanjurtnya mas Dian pulang. Awalnya aku merasa sangat senang, namun lagi-lagi rasanya aku terlalu berharap banyak. Mas Dian tidak pulang untuk memperbaiki hubungan pernikahan kami melainkan untuk mengemasi semua barang-barangnya. Aku masih tidak percaya mas Dian benar-benar mengambil keputusan ini. Keputusan gila yang tidak dapat aku terima. Jahat sekali  yang mas Dian lakukan padaku setelah semuanya berjalan dengan begitu manis. Aku menyusul mas Dian ke kamar. Aku harus menghalanginya. Paling tidak mas Dian masih berhutang penjelasan padaku.
                “Apa, apa yang membuat mas Dian tidak puas ?” aku bertanya menuntut penjelasan. Mas Dian mengabaikanku. Ia menepis tanganku dengan kasar. “Jangan pikir aku akan membiarkan mas Dian pergi tanpa penjelasan apapun,” kataku sembari merampas koper dari tangannya. Aku menatap mas Dian dengan mata berkaca-kaca penuh harap. Mas Dian mengalihkan pandangannya, ia tidak lagi mau menatapku. Sakit. Bagai dihantam godam dari segala arah. Airmataku mulai mengalir perlahan.
“Sebegitunyakah ? sampai-sampai menatapku pun sudah tak lagi sudih ?” aku mulai terisak. Kakiku seolah tak mampu lagi berpijak dibumi karena memikul kenyataan yang sulit aku terima.
                “Apa masih butuh penjelasn lagi ?” tanyanya datar.
                “Iya,” jawabku singkat. Tidak ada kalimat lain  yang bisa aku katakan.
                “Sungguh, sebenarnya ade adalah istri yang sempurna. Bahkan terlalu sempurna untuk orang sepertiku…”
                “Itu bukan penjelasan!” pekikku memutus. Aku tidak ingin mendengar penjelasan yang seperti itu. Aku menghapus airmataku yang mengalir semakin deras dengan punggung tanganku. Aku bisa merasakan mas Dian  juga sedih. Sedih karena melihatku seperti ini, dan sedih karena harus membuat posisi seperti ini. Tapi kenapa justru mas Dian lakukan jika membuatnya juga bersedih. Cukup selesaikan dengan satu ucapan maaf maka aku akan menerimanya kembali tanpa syarat. “Katakan hal-hal yang buruk tentangku, hal-hal yang mas Dian tidak sukai. Hal-hal yang harus kurubah agar mas Dian bisa tetap bersamaku.” Nada bicaraku yang awalnya memekik keras berubah rendah lemas. Belum siap rasanya jika harus kehilangan mas Dian. Entah akan seperti apa terpuruknya aku nanti. Kakiku benar-benar lemas hingga tak kuat lagi berdiri tegak. Aku menangis terisak dilantai seperti seorang anak yang akan ditinggal pergi jauh oleh ibunya. Mas Dian membantuku berdiri dan memapahku sampai dikasur. Aku tidak ingin menatapnya. Tidak tahu ini perasaan marah atau apa. Sentuhannya masih terasa hangat dan lembut seperti sebelumnya. Entah apa yang ada dipikirannya aku tidak lagi mampu menebaknya.
                “Terkadang,” mas Dian mulai berkata lembut namun tetap tidak menatapku. “Hal yang begitu sempurna juga bisa menjadi celah yang menyebabkan terjadinya hal-hal yang tidak kita inginkan. Masa-masa kita selama ini memang indah. Tapi mungkin karena terlalu indah itulah aku jadi merasa bosan. Mungkin ini terdengar tidak adil tapi inilah yang terjadi. Akar dari semua masalah ini adalah aku, aku yang bersalah. Setelah inipun aku tidak akan minta maaf. Jadi bencilah aku sesukamu untuk mendapatkan keadilanmu.”
Aku kembali terisak. Mas Dian pergi dan aku hanya bisa melihat punggunya yang terus bergerak menjauh. Tidakkah ada harapan lagi untuk memperbaiki rumahtanggaku. Benarkah hanya sebatas ini saja. Jika hal yang indah saja bisa memberi akhir yang tidak baik, lantas bagaimana aku harus bersikap.
                Sekarang aku sendiri, benar-benar sendiri dirumahku yang awalnya kukira akan menetap selamanya d iistana kebahagiaan ini. Ternyata semua semu. –Brak – aku tersentak. Sebuah buku yang aku letakkan diatas lemari terjatuh. Ternyata buku tahunanku saat SMA. Buku itu terbuka dan tepat ditengah halaman. Bab kelas XII IPA. Foto gadis manis dengan mengenakan kerudung abu-abu menghiasi halaman sebelah kanan. Tertera nama, tempat tanggal lahir, alamat, nomor telepon dan seterusnya. Aku mengenal gadis yang bernama Nur Rohma itu, namun tidak begitu akrab dengannya. Kemudian dilembar sebelah kiri, Satria Yoga. Senyum kecil yang terlihat manis menghias fotonya membuat jaantungku berdebar saat melihatnya. Tidak tahu kenapa karena rasanya sangat aneh. Aku memang pernah menyukainya, hanya saja perasaan itu sudah lama menghilang. Apalagi setelah aku bersuami. Aku tidak pernah lagi memikirkan Satria. Perasaan sukaku pada Satria adalah perasaan terpendam jadi hanya aku dan teman baikku Rina saja yang tahu. Aku pikir perasaan-perasaan seperti itu wajar karena SMA memang  masa-masanya labil dengan perasaan sendiri. Ah, perasaan aneh ini mulai muncul lagi. Perasaan yang akhir-akhir ini sering sekali muncul saat aku tengah seorang diri. Perasaan dimana aku bisa merasakan kehadiran seseorang. Ini gila, tapi aku benar-benar merasakannya. Berusaha mengelak dan tidak percaya selalu kulakukan, dan kehadiran itu malah datang semakin dekat. Sebenarnya aku merasa takut. Anehnya sebagian dari diriku merasa nyaman dan tidak mampu menolak kehadirannya. Aku menutup mataku, berusaha merasakan kehadiran itu lebih dekat. Mungkin dengan melakukan hal ini aku bisa mendapat jawabannya. Benarkah ada atau aku hanya berhalusinasi saja. Aku menarik nafas dan memfokuskan pikiranku.
                “Ah, ini gila,” aku memaki diriku sendiri. “Apa yang sedang aku lakukan ?”
Aku mendengar suara motor memasuki pekarangan rumahku. Aku bergegas keluar tidak ingin pikiran-pikiran gila itu membuatku melakukan hal yang gila juga. Rina datang, menghampiri dan memelukku. Sepertinya hanya dia yang mengerti sebetapa sakit dan hancur hatiku. Aku tidak ingin bertanya kenapa Rina datang atau darimana dia bisa tahu aku sangat membutuhkan teman saat ini. Aku takut, takut memikirkan jika apa yang aku pikirkan benar aku akan semakin hancur karena tidak mampu melepaskan mas Dian. Rina juga tidak mengatakan apapun. Ia memberiku waktu untuk menangis, meluapkan semua kesedihan dan kekesalanku.

Dua minggu sudah berlalu. Kesedihanku kehilangan mas Dian masih saja membebaniku. Rindu yang aku rasakan mulai memuncak dan semakin menggebu-gebu. Semua hal yang terjadi masih seperti mimpi, begitu tiba-tiba. Sampai-sampai akal sehatku masih belum percaya hal ini benar-benar terjadi. Semuanya tidak masuk akal. Penjelasan-penjelasan yang aku inginkan pun tak kunjung aku dapatkan. Aku ingin segera mengakhiri ini, mengangkat beban yang terasa begitu berat aku pikul ini. Menghilangkan semuanya, semua kesedihanku. Aku menghela nafas dan lagi-lagi airmataku meleleh. Masih saja aku tidak mampu membendungnya. Beberapa hari yang lalu keluargaku datang kerumah. Kakak laki-lakiku sangat marah mendengar perlakuan mas Dian padaku. Kakakku ingin agar secepatnya aku menggugat cerai, tapi aku belum sanggup. Aku ingin menenangkan diri dahulu hingga benar-benar siap. Kakak perempuanku dengan kata-kata bijaknya berusaha menguatkanku. Ayah dan Ibuku tentu saja sangat sedih. Sebagai seorang anak, membuat mereka bersedih juga membuatku terluka. Sudah sebesar ini aku masih saja merepotkan dan tidak henti-hentinya membuat mereka sedih. Aku merasa bersalah pada keluarga, kepergian mas Dian yang tanpa penjelasan, juga komentar-komentar tetanggaku membuatku hampir depresi. Belum lagi ditambah semua beban pikiranku ini aku masih juga harus menghadapi perasaan-perasaan tidak jelas tentang kehadiran sesuatu yang aku tidak tahu itu apa. Aku merasa mungkin saja aku telah gila. Aku sering melakukan percobaan dengan meletakkan gelas kaca berisi air putih. Benar saja, saat aku mulai gelisah perasaan aneh itu muncul, air dalam gelas pun mulai bergelombang, semakin lama semakin terlihat jelas. Anehnya gelombang dalam gelas seketika itu juga kembali tenang saat orang lain datang. Awalnya aku ketakutan. Saat mulai jengkel aku akan berteriak siapa dan apa yang diinginkannya dariku, namun tetap saja tidak pernah ada penjelasan yang bisa aku dapatkan. Perlahan aku mulai menerima perasaan aneh itu. Aku bahkan mulai terbiasa dan menginginkan kehadirannya saat tidak aku rasakan. Aku mulai terperangkap dalam pemikiran gila yang sebenarnya aku bergidik sendiri saat memikirkan tentang diriku saat ini. Tapi aku bisa apa ? aku tidak bisa menghindar dan tidak tahu bagaimana cara menghilangkan kegilaan ini. Aku harus bercerita pada siapa ? tidak akan ada yang percaya. Apakah aku harus membiarkan mereka memberiku tatapan aneh setelah aku selesai bercerita. Itu bagiku lebih menakutkan dibanding perasaan aneh ini.
Aku pejamkan mataku, meratapi kesedihanku. Sebenarnya aku tidak ingin begini, tapi rasa sakitnya tidak mau hilang juga. Airmata sudah banyak terkuras, tiap malampun aku selalu berdoa, memohon agar rasa sakit ini segera diangkat dan agar secepatnya aku bisa merelakan mas Dian. Tapi rasa sakitnya belum juga berkurang. Setiap malam masih selalu berharap mas Dian pulang meski dengan mengendap-endap, ditiap jalan yang kulewati berharap bisa kudapati sosok mas Dian walau hanya sekejap. Setiap hari aku selalu mengharapkan kedatangannya. Ibu selalu berpesan agar semua hal yang terjadi dapat aku ikhlaskan dengan begitu aku akan lebih tenang. Tapi bagaimana aku bisa mengikhlaskannya begitu saja kalau mas Dian meninggalkanku tanpa penjelasan dan begitu tiba-tiba, bahkan disaat semuanya terasa begitu indah. Aku masih memejamkan mataku saat aku merasakan ada sesuatu yang ingin menyentuhku. Terasa begitu nyata, dekat dan semakin –… Refleks aku menghindar. Membuka mata dan mengamati sekelilingku. Lagi-lagi tidak ada siapapun. Hening. Aku kembali merasakan kehadiran sesuatu yang tidak dapat terdeteksi penglihatanku. Mataku menyapu setiap sudut ruangan waspada, barangkali aku bisa menemukan sesuatu itu kali ini. Tidak ada. Rina datang. Suara motornya yang sudah aku hafal memasuki pekarangan rumahku.
“Kamu masih belum siap-siap ?” Rina bertanya melihat penampilanku yang masih berantakan.
“Aku tidak berniat pergi kemana-mana,” kataku malas.
Kemarin Rina memberiku undangan reunian SMA. Dari awal aku sudah mengatakan tidak ingin pergi. Rina saja yang terus memaksa dan bilang akan menjemputku meski sudah kukatakan tidak  ingin pergi.
                “Pergi berkumpul dan menghibur diri akan membuatmu merasa lebih baik. Ayo, sekarang ganti bajumu,” kata Rina masih berusaha meyakinkanku. Rina mendorongku masuk ke kamar. Meski malas, aku mengganti pakaianku juga. Semoga Rina benar. Setelah berkumpul dengan teman-teman lama aku bisa merasa lebih baik. Aku memperhatikan wajahku dicermin, mataku begitu sembab. Aku perlu waktu untuk memolesnya. Aku memilih mengenakan atasan dan kerudung hijau agar terlihat lebih segar. Setelah menghabiskan waktu beberapa menit, kami siap berangkat.

                “Rina. Wah, kelihatan lebih cantik ya.”
                “Iya dong. Kan perawatannya lengkap,” candanya sambil tertawa kecil.
                Ditengah keramaian dan meriahnya acara, aku justru merasa kesepian. Aku memilih menyendiri sementara Rina menyapa teman-teman yang baru datang. Beberapa teman yang dulu dekat denganku dikelas mendatangiku. Kami bernostalgia dan membicarakan banyak hal. Meski aku menyahut dan tersenyum, namun aku sama sekali tidak menikmati pembicaraan kami. Pikiranku kemana-mana. Aku menghilang dan bermain dengan imajinasiku sendiri. Kecerianku yang dulu lenyap entah kemana. Aku tidak nyaman berada dikeramaian meski aku mengenal mereka semua, dan aku juga tidak suka jika mereka mulai banyak bertanya.  Mereka saling membahas kesibukan sampai akhirnya ada yang menanyakan tentang suamiku. Aku hanya terkejut mendengar pertanyaan itu. Aku belum siap kalau semua orang harus tahu bagaimana keadaan rumah tanggaku saat ini. Airmataku hampir saja tumpah kalau saja Rina tidak datang dan membantuku memberi penjelasan pada teman-teman. Rina mengerti keadaanku. Ia menjawab pertanyaan mengenai suamiku dengan candaan. Aku sangat terbantu dan berterimakasih karenanya.
                “Mina, Rina,” seorang teman memanggil kami saat acara telah selesai dan kami hendak pulang.
“Aku dan anak-anak lain mau ke rumah sakit. Kalian mau ikut ?”
Rina tidak langsung menjawab. Rina menoleh kearahku untuk meminta pendapatku. Aku menggeleng pelan.
                “Siapa yang sakit ?” tanya Rina ingin tahu.
                “Satriayoga. Kalau tidak salah sih dulu dia di kelas XII IPA 2.”
                “XII IPA 3,” kata teman yang bersamanya membenarkan.
Mendengar nama Satriayoga aku dan Rina sangat terkejut. Rina menatapku lagi untuk memastikan benarkah aku tidak ingin ikut ke rumah sakit. Aku hanya terdiam, masih terkejut dengan berita yang baru saja aku dengar. Karena aku tidak merespon, Rina mengambil kesimpulan untuk berangkat.
                Sampai dirumah sakit, kami rombongan kedua yang kira-kira berjumlah 10 orang –aku tidak terlalu memperhatikan – langsung menuju lantai 2, ruang bogenvil. Seorang ibu-ibu tinggi, kurus dan memakai kacamata bersama seorang gadis muda yang kira-kira seusia kami menemani Satria. Keduanya menyambut kedatangan kami dengan ramah. Ibu Satria menceritakan kecelakaan yang menimpa anaknya 2 minggu yang lalu dengan perasaan teriris. Kecelakaan mobil itulah yang mengakibatkan Satria koma hingga sekarang. Mendengar semua cerita dari Ibu Satria, membuat aku tersadar satu hal, kecelakan hari itu didepan rumah sakit tempat aku periksa. Dadaku sesak sekali. Aku permisi keluar. Aku perlu udara segar agar membuatku merasa baik kembali. Aku kembali mengurutkan kejadian-kejadian yang aku alami selama ini. Dimulai pada hari itu, tanggal 12 juni.
                “Mina, kamu baik-baik saja,” Tanya Rina begitu khawatir. “Wajahmu pucat sekali. Apa kamu mau pulang ?”
Aku menggeleng dan tidak menatap Rina. Rina semakin khawatir.
                “Ada sesuatu yang ingin aku katakana,” kataku datar. Rina diam, menunggu kalimatku selanjutnya. Aku menatap mata Rina sebentar sebelum melanjutkan kalimatku. “Rina ingat kecelakan depan rumah sakit 2minggu lalu ? sebelum Rina menarikku masuk dan bertemu dengan mas Dian. Itu Satria.”
                “Iya, aku tahu. Tadi ibu Satria sudah menceritakan semuanya,” jawab Rina.
                “Tapi ada banyak hal yang terjadi setelah itu. Aku,… aku seperti bisa merasakan keberadaan sesuatu. Sesutu itu datang, namun aku tidak pernah tahu apa maunya...”
                “Mina kamu apa yang kamu bicarakan ?” Rina memotong kalimatku. Ia tidak mengerti sedikitpun dengan semua yang aku katakana padanya. Aku mulai marah. Berpikir bahwa sebenarnya Rina  mengerti hanya saja berpura-pura karena tidak percaya dengan apa yang aku katakana.
                “Satria, dia selalu datang. Awalnya aku tidak tahu kalau itu dia. Dia memberiku tanda-tanda dan aku tetap tidak mengerti sampai hari ini ibu Satria bercerita tentang kecelakaan yang menimpa anaknya.” Aku berhenti bercerita karena melihat reaksi Rina. Rina menggeleng. Tatapan matanya dipenuhi rasa kasihan terhadapku.
                “Itu benar-benar terjadi,” aku memekik. Kali ini aku benar-benar marah. Mina, satu-satunya orang yang bisa kuandalkan tidak mempercayaiku. “Awalnya aku juga tidak percaya, aku tersiksa, merasa takut tidak tahu pada siapa harus bercerita. Aku tahu ini konyol, tapi aku alami. Aku hampir gila.” Aku mulai menangis. Teman-teman yang tadinya berada diruang rawat Satria keluar karena mendengar pekikanku. Mereka semua melihat kearahku dengan rasa penasaran. Airmataku semakin deras mengalir memikirkan bagaimana sakitnya jika mereka semua berpikiran bahwa aku gila.
                “Maaf, kami harus pulang duluan,” kata Rina pamit. Rina menarikku. Aku menghapus airmataku dan melangkah pulang bersamanya. Aku masih merasa mereka semua masih memandangi kami sampai dikejauhan.
                Selama dalam perjalanan pulang, aku dan Rina hanya terlibat diam. Aku tidak ingin memulai duluan karena aku masih marah. Lagipula Rina tidak percaya padaku, jadi apapun yang aku katakan dia tetap tidak akan percaya. Motor Rina memasuki pekarangan rumahku. Rina mematikan mesin dan aku turun. Aku tidak mempedulikan Rina dan berjalan terus meninggalkannya.
                “Mina,” Rina memanggilku.
                “Aku sangat menderita memendam ini sendiri. Merasakan apa yang tidak terlihat itu memang gila. Aku coba untuk tidak memikirkannya namun tidak bisa. Aku benar-benar merasa sendirian karena aku tahu tidak ada orang yang akan percaya jika aku menceritakan apa yang aku alami. Menerima kenyataan mereka akan menganggapku gila itu sangat menakutkan bagiku. Sama sepertimu saat ini. Akhirnya aku merasa kesepian dan kehadirannya mulai bisa kuterima. Aku kembali merasa memiliki teman,” aku berkata kembali meneteskan airmataku. Aku tidak melihat bagaimana reaksi Rina mendengar kata-kataku. Aku hanya menebak pasti sangat mengerikan untuknya yang berada diposisi normal mendengar ceritaku.
Aku tidak tahu kapan Rina mendekat, tahu-tahu dia sudah memelukku. Pikirku Rina akan pergi dan memutuskan hubungan denganku setelah ini.
                “Aku disini dan aku sahabatmu,” kata Rina membuatku merinding. “Maafkan aku, aku tidak berpikir seperti itu. Aku tahu semua ini berat untukmu. Tapi menciptakan duniamu sendiri itu tidak benar.”
                “Apa ?”
Rina melepaskan pelukannya. Ternyata Rina masih tidak percaya pada apa yang telah aku katakan. Anggapanku dari awal memang benar. Meski aku menangis darah sekalipun untuk meyakinkan kebenaran ceritaku, tetap tidak akan ada yang percaya.
                “Mungkin aku yang salah atau kamu yang benar, tapi coba pikirkan ini dengan kepala dingin,” Rina berkata dengan nada yang begitu bersahabat. Membuatku yang meskipun masih marah karena Rina tidak mempercayaiku tidak dapat menolak. “Pikiranmu yang tidak tenang adalah sumber semuanya.  Pikiran dan hatimu yang bimbang semua itu memungkinkan untukmu menciptakan ruang untuk membangkitkan sosok yang tidak satupun orang bisa kenali, bahkan kamu sendiri. Kemudian kamu berpikir kamu bisa merasakannya, setiap hari. Kamu menipu dirimu sendiri, kamu memanipulasi otakmu dengan memaksakan hal yang tidak ada seolah-olah ada. Sehingga semua mulai terasa nyata. Karena telah tertanam dalam otakmu bahwa semua itu nyata jadi hal-hal sekecil apapun kamu hubung-hubungkan untuk mendapatkan pembenaran sampai semuanya saling terikat.”
Aku terdiam merenungkan. Rina mengangguk sambil tersenyum padaku. “Ingat, syaitan punya 1001 cara untuk menjerumuskan anak-cucu Adam,” tambahnya mengingatkanku. Aku mereda. Amarahku, kesedihanku, dan semuanya. Kini aku bahkan tak mampu berkata-kata lagi.
Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ
Setelah hari itu aku putuskan pulang ke rumah orangtuaku. Dengan begitu aku akan selalu memiliki teman dan tidak sendirian lagi menghabiskan waktu di rumah. Pikiran-pikiran gila itu juga akan aku buang jauh-jauh. Kehidupanku memang telah berubah drastis, tapi akan kucoba mengikhlaskan mas Dian dengan orang lain walau aku harus terus belajar.
                “Mba ayo keluar,” panggil adikku sepupuku yang paling kecil dari luar kamar.
Terkadang aku masih sering merasa sosok itu datang lagi, berada tidak jauh dariku. Dan saat aku mulai merasakan perasaan aneh itu, aku akan langsung menyibukkan diri melakukan apapun, atau keluar kamar mencari teman ngobrol.
                Aku merapikan penampilanku dan keluar kamar menyapa semua yang ada diruang tamu. Aku adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Kakakku yang pertama perempuan dan telah memiliki 2 orang anak, kakakku yang kedua laki-laki, kemudian aku dan dua adik laki-lakiku. Karena aku baru pulang ke rumah, jadi semua keluarga berkumpul bersama. Inilah cara yang selalu digunakan orangtuaku agar semua keluarga dapat akrab. Kami berkumpul diwaktu libur dan makan-makan. Aku merasa lebih baik dengan adanya banyak orang yang aku sayangi berkumpul disekitarku.
                “Assalamualaikum,” seseorang memberisalam didepan pintu. Aku pikir semua anggota keluarga sudah berkumpul semua. Apa karena sudah lama tidak pulang dan berkumpul dengan semua keluarga aku jadi lupa siapa-siapa saja keluargaku yang sudah datang dan siapa yang belum. Tiba-tiba aku merasa keadaan berubah hening. Aku mengikuti yang lainnya menatap kearah pintu masuk untuk melihat siapa gerangan yang datang.
                “Mas Dian,” nafasku tertahan beberapa saat. Aku benar-benar terkejut dan sama sekali tidak menyangka. Mas Dian berjalan masuk. Ia mendekat dan semakin dekat. Kakak laki-lakiku yang ada dibelakang langsung menyambut kedatangan Mas Dian dengan bogeman panasnya.
                “Dasar, tak tahu malu. Masih berani juga kau menampakkan dirimu disini,” sergah Kakak.
                “Aku minta maaf,” mas Dian tertunduk.
Kakak laki-lakiku terlihat semakin marah. Ia hendak menjotos mas Dian lagi, namun dihalangi oleh adik dan kakak iparku. Ayah meminta agar kakak bisa tenang dan mengendalikan emosinya. Semua bisa dibicarakan  baik-baik. Mas Dian menatapku, aku buang muka dan masuk kedapur. Aku memang merindukannya, bahkan sangat merindukannya, tapi mas Dian sudah meninggalkanku begitu lama. Justru disaat aku mulai belajar melupakannya dia datang. Aku ingin marah dan memakinya habis-habisan karena memberiku hari yang berat selama sebulan ini. Aku meneguk segelas air, setelah selesai aku melihat mas Dian berdiri didepanku. Kupikir mas Dian tidak akan berani masuk karena kakakku pasti akan melarangnya, namun ternyata dugaanku salah. Melihat mas Dian dengan jelas didepanku membuat perasaanku bercampur aduk. Mas Dian mengucapkan maaf dengan nada yang begitu lembut. Merasa bersalah, malu, dan kutahu tulus. Aku tetap berusaha menguatkan diriku, tidak ingin luluh begitu saja. Aku ingin memperlihatkan pada mas Dian kalau aku sudah bertambah kuat sekarang. Tidak bisa, karena tahu-tahu aku telah hanyut dalam dekapannya. Dekapan ini yang begitu aku rindukan, yang meninggalkanku dan telah kembali. Sedikitpun aku tidak mampu menolaknya.
                “Jangan lakukan lagi,” kataku diiringi derai airmata kebahagian.
                Kami memperbaiki lagi pernikahan kami. Selama dua hari tinggal dirumah orangtuaku tentu saja Mas Dian tidak didiamkan begitu saja setelah apa yang dilakukannya. Mas Dian disidang oleh Ayah, Ibu, dan kedua kakakku. Kakak keduaku juga menegaskan akan menguliti mas Dian hidup-hidup jika berani menyakiti aku lagi. Dengan begitu mas dian akan berpikir seribu kali jika ingin menyeleweng lagi. Setelah dari rumah keluargaku, kami mengunjungi rumah keluarga mas Dian dan memintamaaf. Seharusnya dari awal aku sadar aku tidak sendirian. Aku memiliki keluarga yang semuanya sangat menyayangiku. Ayah, Ibu, kakak, dan Adik. Aku bahagia dan sangat bersyukur memiliki mereka semua. Merekalah malaikat tanpa sayap yang sebenarnya, yang menyayangiku tanpa syarat.
                Dihari berikutnya aku dan mas Dian menjenguk Satria yang juga belum sadar dari komanya. Dalam ruangan tempat Satria dirawat ada  seorang wanita yang waktu itu juga menemani Satria dihari pertama aku menjenguknya. Aku baru tahu kalau ternyata wanita itu adalah tunangan Satria. Mereka akan segera menikah dan sayangnya musibah ini terjadi sehingga mereka harus mengundur acara pernikahan mereka. Kami masih membicarakan perkembangan kesehatan Satria ketika dokter datang untuk mengecek perkembangan kondisi Satria. Selesai mengecek, dokter meminta Andin ke ruangannya untuk membehas keadaan Satria lebih detail. Aku dan mas Dian menggantikan Andin menjaga Satria untuk sementara.
                “Aku akan keluar sebentar menerima telpon dari Bos,” katas Mas Dian kemudian keluar.
Aku hanya diam. Aku merasa canggung meski hanya ada Satria yang tidak sadarkan diri.
                “Satria,” kataku mulai mencoba berbicara dengannya. “Aku Mina, dulu murid kelas XII IPA 1. Kita berasal dari sekolah yang sama, aku yakin kamu pasti tahu. Aku… ingin berterimakasih padamu. Aku tidak tahu kamu atau bukan yang selama ini ada menemaniku, tapi jika benar-benar kamu dan aku tidak mengatakan apapun, aku akan terkesan keterlaluan,” aku diam sebentar, memikirkan kalimat selanjutnya. “Terimakasih telah ada dan menemaniku dihari-hari terberatku, telah menjadi teman yang dapat aku rasakan. Sekarang kebahagianku telah kembali dan akupun ingin kamu begitu. Sadar dan raihlah kebahagianmu kembali. Kamu tentu tahu betapa terpuruknya aku saat mas Dian meninggalkanku? Jadi aku sedikit bisa mengerti bagaimana perasaan Andin. Sadarlah, kami semua menunggumu. Ibumu, Andin, juga teman-teman yang lain. Ini pertama kalinya aku berbicara banyak denganmu dan rasanya aneh namun menyenangkan.” Aku mengakhirinya dengan tersenyum lega. Aku sangat berharap Satria cepat sadar. Sebelum pulang aku menyemangati Andin agar tidak menyerah, terus berdoa dan percaya kalau Satria pasti akan segera sadar.
                Ada banyak hal didunia ini yang tidak ada penjelasannya. Semua menjadi misteri dalam kehidupan manusia. Penjelasan yang tidak pernah terungkap selamanya atau sebenarnya terungkap dibelakang kita. Semua itu terjadi justru untuk kebaikan kita. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi jika kita bisa tahu penjelasannya, baik ataukan buruk.  Jadi pilihannya adalah jangan terlalu menuntut. Begitupun denganku, aku tidak pernah bertanya atau memaksa mas Dian memberi penjelasan kenapa ia pergi kemudian kembali lagi padaku. Bagiku mas Dian sudah kembali saja sudah menjadi hal yang sangat membahagiakan. Jadi aku tidak ingin terlalu serakah dengan menuntut lebih banyak lagi. Bagiku mas Dianlah takdirku, karena sejauh apapun ia pergi dan selama apapun itu aku yakin ia akan kembali. Mungkin ini cinta sejati atau hanya aku yang merasakannya, tapi kami telah melalui cobaan dengan kebahagian, berpisah dan akhirnya bersama lagi. Cobaan tentang rasa sakit, rasa takut itu sudah biasa meskipun menyedihkan. Tapi cobaan tentang kebahagiaanlah yang bagiku lebih menakutkan. Karena ada juga orang-orang yang bosan dengan kebahagiannya sehingga menjerumuskan dirinya sendiri.


Dua hari kemudian Satria sadar. Semua senang dan mengucap syukur. Tubuh Satria yang meski telah sadar namun masih lemah jadi tetap harus dirawat intensif agar kesehatannya bisa kempali pulih.
                “Sebelum koma, mas Pernah menyebut nama Mina ingat ?” Andin berkata sambil mengupas apel. “Pertama kali dia datang menjenguk terlihat aneh dan tidak bahagia. Tapi ketika datang lagi ia terlihat berbeda. Bersemangat dan ceria sampai-sampai orang-orang disekitarnya juga bisa ikut bersemangat karenanya.”
                “Oia,” kata Satria menanggapi. Ia tersenyum senang mendengar kalimat Andin. "Itu pasti karena dia telah mendapatkan kebehagiaannya kembali."

Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ


“Kenapa menyuruhku berhenti, sementara kau sendiri terus menghindariku ?” seorang gadis yang baru datang berkata dengan nada yang terdengar kesal kepada seseorang yang telah menunggunya. Gadis dengan rambut panjang digerai itu masih mengenakan pakaian kerjanya. Ia adalah seorang perawat disalah satu rumah sakit swasta. Mereka berada disebuah cafe sederhana dipinggir jalan.
            “Aku tidak menghindarimu. Aku hanya berpikir ini memang harus dihentikan,” sahut yang diajak bicara datar. Gadis berambut panjang yang sudah sangat mengenal bagaimana watak orang yang diajaknya bicara mulai terlihat semakin kesal. Namun apa yang bisa ia lakukan, karena perasaan sayangnya justru lebih besar dibanding rasa kesalnya saat ini.
            “Kau selalu saja begitu. Melakukan semua hal sesukamu. Kau bilang lakukan, maka harus dilakukan, kau bilang hentikan maka harus segera dihentikan. Kau menganggap apa aku sebenarnya ?” si gadis berambut panjang komplain tidak terima. Tidak langsung menjawab, yang diajak bicara malah menghela nafas panjang. Tatapannya datar tertuju pada gelas jusnya. Si gadis berambut panjang menatap orang didepannya lekat, kemudian memalingkan wajahnya. Ia benar-benar tak sanggup melihat orang yang paling disayanginya seperti itu.
“Jangan memperlihatkan wajah seperti itu, seolah hanya kau saja yang paling menderita.”
            “Iya, bukan hanya aku yang menderita, karena dia juga menderita, bahkan jauh lebih menderita saat mengetahui suaminya meninggalkannya karena wanita selingkuhan. Awalnya aku pikir dengan memperlihatkan bagaimana pria yang sangat dicintainya menghianatinya, dia bisa berpaling dan menatapku sekali saja. Tapi justru melihatnya terluka dan terpuruk, membuatku juga terluka. Aku mencintainya, sungguh. Karena itulah aku tidak ingin melihatnya menderita.”
            “Bagaiman denganku ? aku juga mencintaimu,” gadis berambut panjang kembali mengingatkan bagaimana dalam perasaannya. Sudah ratusan kali ia ucapakan itu, namun tak pernah sekalipun ia mendapatkan tanggapan seperti yang diinginkannya.
“Rina aku mencintaimu. Hanya aku yang mencintaimu, bukan Mina atau siapapun,” tambahnya sambil menggenggam pasangannya. “Berpalinglah padaku maka aku akan selalu bersamamu.” Rina membiarkan gadis yang sangat mencintainya menggenggam tangannya.
            “Aku sudah memesan tiket. Lusa aku akan ke Singapura.”
            “Rina,” kata-katanya tertahan. Ingin marah namun ia tahu itu tidak akan mengubah apapun. “Tidak bisakah kau buka pintu hatimu sekali saja. Izinkan aku masuk dan aku jamin kau tidak akan pernah menyesal.”
Rina menarik tangannya. Ia mengambil tasnya dan bersiap-siap untuk pergi.
            “Aku ingin kembali normal. Mungkin dengan begitu penderitaan ini bisa terangkat,” kata Rina kemudian melangkah pergi.
            “Pria tidak akan bisa membuatmu bahagia. Setelah puas mencoba-coba kembalilah padaku,” pekik si gadis berambut panjang. Semua mata kini tertuju padanya. Ia benar-benar tidak peduli dimana ia sedang berada. Dinegara berkembang yang menjunjung tinggi pancasila tentu saja bukan pilihan yang baik jika harus mengungkapkan jati diri sebagai penyuka sesama jenis.

THE END