Semua dari hidupku baik-baik saja,
meski sudah dua tahun menikah dan belum dikaruniai keturunan. Suamiku tetap
baik dan sayang padaku. Kata keluargaku umur dua tahun pernikahan itu masih
terlalu muda. Banyak orang-orang diluar sana yang sudah lima tahun bahkan tujuh
tahun menikah baru dikaruniai keturunan. Aku tahu mereka mengatakan hal itu
hanya untuk menghiburku dan agar aku lebih bersabar. Ya, semua memang baik-baik
saja dan aku bahagia dengan hidupku. Sampai pada hari ini, tanggal 12 Juni. Di
pagi ini yang aku pikir adalah awal dari segalanya tidak ada yang terasa
berbeda sedikitpun. Aku masih bangun pagi dan kulihat suamiku tercinta masih
terlelap disampingku. Aku masih saja sering mengamati wajah tampannya saat ia
tidur dan masih saja rasa kagum itu muncul. Alisnya yang tebal, hidungnya yang
tidak terlalu mancung namun bagiku itu adalah perpaduan yang tepat dengan
wajahnya yang oval dan bibirnya yang indah. Suamiku mulai bergerak-gerak dan
perlahan ia membuka kedua matanya. Melihatku telah terbangun lebih dulu
dan belum berhenti menatapnya membuat
mas Dian tersenyum. Ah, senyum yang masih saja mampu meluluhkanku meski sudah
lima tahun aku mengenalnya.
“Sudah bangun,” katanya singkat
kemudian mengecup keningku.
“Iya. Ayo sholat subuh berjamaah,”
ajakku.
Awal yang sempurna bukan. Bahkan bagiku terlalu sempurna
untuk menjadi awal dari mencuatnya masalah-masalahku. Aku sudah selesai berwudlu
dan kembali ke kamar. Aku pikir mas Dian kembali tertidur karena semalam pulang
begitu larut. Namun dugaanku salah. Mas Dian tidak ada di kamar. Beberapa menit
berselang, mas Dian kembali ke kamar. Tangan kananya memegang ponsel yang
terlihat coba ia sembunyikan karena terkejut melihatku yang telah lebih dulu
berada di kamar.
“Ada
apa, mas ?” tanyaku ingin tahu.
“Adikku
minta dikirimi uang untuk modal usaha barunya,” jawab mas Dian.
Aku percaya dan tidak berpikir macam-macam walau sebenarnya
hal itu mencurigakan. Aku percaya mas Dian dan sampai sekarang aku masih tidak
memiliki alasan untuk mencurigainya.
Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ
Aku
baru saja selesai memeriksakan diriku kedokter kandungan. Mas Dian sudah sangat
mengharapkan seorang anak dari tahun pertama pernikahan kami dan sebagai
seorang istri yang belum bisa memenuhi keinginan suaminya tentu saja aku sangat
sedih. Aku melakakukan pemeriksaan untuk
mencaritahu apa ada yang salah denganku atau apa ada hal lain yang harus
kulakukan. Ini adalah usaha yang kulakukan agar keinginanku dan mas Dian cepat
terwujud. Alhamdulillah tidak ada hal yang salah denganku. Semua hal memang
butuh proses dan aku hanya perlu lebih bersabar.
Matahari
begitu terik hari ini, sama seperti hari-hari sebelumnya. Aku memeriksakan
diriku kerumah sakit ditemani oleh Rina teman akrabku semenjak SMA. Mas Dian
sedang sibuk dengan pekerjaannya jadi tidak sempat mengantarku. Aku telah
berada di parkiran sekarang, tapi entah dimana Rina. Kukira Rina masih berada
dibelakangku ternyata saat tiba di parkiran aku baru sadar dia menghilang.
Mataku menyapu setiap sudut parkiran barang kali aku bisa menemukannya. Mungkin
saja Rina sedang bersembunyi atau melakukan hal konyol lainnya untuk mengejutkanku seperti kebiasaannya yang
lalu-lalu. Seteliti apapun mataku menjelajahi seluruh parkiran, tetap tidak
kutemukan Rina dimanapun. Aku putuskan menunggunya barangkali ia sedang sibuk
dengan urusannya. Selagi menunggu, aku mencari minuman segar diseberang jalan.
Setelah satu mobil silver mewah melewatiku, aku pun menyeberang. Belum sampai
di seberang aku mendengar suara decit
ban mobil disusul suara teriakan beberapa orang. Aku berbalik dan melihat mobil
silver yang tadi melewatiku keluar
lintasan, terbalik dan menghantam satu warung kecil di pinggir jalan. Aku
terbelalak menangkap dan merekam kejadian itu dengan begitu jelas. Saking
terkejutnya seketika badanku mengaku. Aku berdiri ditengah jalan seperti orang
linglung. Seseorang menarikku. Rina.
“Mina,
kamu baik-baik saja ?” Tanya Rina.
Aku menjawab pertanyaan Rina hanya dengan anggukan kepala.
Rasa penasaranku menarikku untuk lebih lanjut mengetahui bagaimana keadaan
pengendara mobil itu. Aku berjalan seolah tanpa sadar kearah kerumunan orang
yang mulai semakin ramai memadati tempat kecelakaan.
“Mina,
kamu mau kemana ?” Rina menarikku.
“Aku
ingin tahu bagaimana keadaan korban kecelakaan mobil itu,” kataku.
“Untuk
apa ? ada hal lain yang jauh lebih penting. Ayo ikut,” Rina menegaskan suaranya
dan lagi-lagi ia menarikku. Kami menyebrang. Jalan mulai macet karena dipadati
warga dan orang-orang lewat yang
berhenti untuk melihat kecelakaan itu.
Rina
membawaku menuju kantin rumah sakit. Aku tidak tahu kenapa dan apa yang sedang
ada dipikirannya. Aku juga sudah bertanya ada apa, namun Rina hanya diam dan
mempercepat langkahnya. Entah apa yang ingin Rina tunjukkan padaku, aku mulai
merasa khawatir melihat ekspresinya yang tidak biasa. Kami berhenti dimeja
dimana ada pasangan sejoli sedang makan siang. Pasangan ! Tidak. Itu mas Dian, suamiku. Sedang apa ia disini dan… bersama seorang wanita yang tidak aku kenal
sama sekali. Bukannya mas Dian bilang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
“Mas,”
panggilku. Suaraku seakan tercekik, tertahan ditenggorokan. Wajah mas Dian
terkejut bukan main melihatku dan Rina ada didepannya. Mas Dian tersentak. Ia
melepaskan tangannya dari genggaman wanita yang sedang bersamanya.
“Ini
sama sekali tidak seperti yang terlihat,” kata Mas Dian berusaha membela diri.
“Kalau
begitu jelaskan,” kataku. Aku berusaha mempercayai mas Dian kalau semua yang
aku lihat ini memang tidak seperti
pikiran-pikiran buruk yang mulai bermunculan dan mengganggu dalam
benakku. Aku mempercayai suamiku, sangat mempercayainya sampai pada detik ini.
Tidak ada hal buruk yang pernah terjadi selama ini, semuanya baik-baik saja.
Jadi tidak ada celah untuk hal-hal seperti ini bisa terjadi. Bahkan meski mas
Dian menginginkan kehadiran seorang anak namun belum terwujud, kami masih
sangat bahagia. “Jelaskan,” kataku sekali lagi.
Bukannya menjelaskan mas Dian hanya diam sambil menatap
gadis itu ragu. Apa yang sebenarnya terjadi, benarkah semua ini. Benarkah mas
Dian menghancurkan semua kepercayaanku padanya. Melihat mas Dian hanya terdiam
sungguh membuat hatiku teriris perih.
“Sudahlah.
Tidak ada lagi hal yang perlu dijelaskan. Semua sudah terlihat jelas didepan
mata kita. Suamimu menyeleweng,” tandas Rina. Aku tidak percaya Rina mengatakan
hal sejahat itu. Rina akan mengandengku meninggalkan kantin namun aku menepis
tangannya. Aku berlari meninggalkan mereka semua yang telah membuatku marah.
Terdengar dari kejauhan mas Dian dan Rina memanggilku. Namun airmata yang sudah
terlanjur membanjir membuatku tidak mempedulikan apapun. Yang aku inginkan
hanya menjauh dari mereka, sejauh-jauhnya kemudian menangis. Aku naik taksi
pulang ke rumah.
Sampai
di rumah aku langsung masuk kamar dan menangis saejadi-jadinya. Ponselku berdering
namun tidak aku pedulikan. Aku ingin mereka tahu banhwa saat ini aku marah.
Mereka, ya tentu saja semuanya. Bahkan Rina yang kutahu sangat baik padaku.
Tapi justru kata-katanya tadi begitu jahat membuatku tidak bisa mempercayai
semua. Tidak bisakah Rina mengatakan hal yang baik tentang mas Dian atau tidak
bisakah dia ikut membujuk mas Dian agar mau mengatakan alasannya padaku. Paling
tidak Rina melakukan hal itu untuk menjaga perasaanku. Wanita itu, tentu saja
dia yang paling membuatku marah. Aku yakin kalau sebenarnya dia yang lebih dulu
menggoda mas Dian. Mas Dian yang hanya diam saja justru yang paling
menyakitiku, tidakkah ia tahu aku sangat mengharapkan penjelasan darinya. Aku
memejamkan mata namun masih terisak dalam tangisku. Andaikan semua ini hanya
mimpi buruk dan aku hanya perlu terbangun untuk mengakhiri semua ini. Tidak.
Karena sebesar apapun aku berharap ini hanya mimpi, semua tetaplah kenyataan
pahit yang harus aku kecap. Begitu pahit rasanya sampai serasa ingin aku
muntahkan semuanya. Perlahan dan aku mulai terlelap.
Baru
sesaat rasanya aku pejamkan mataku, tahu-tahu saat terbangun suara azan magrib
sudah mengalun merdu. Aku beranjak dan hendak keluar kamar, namun tiba-tiba
saja lampu mati. Beberapa saat aku merasa sekelilingku aneh, tubuhku terasa
kaku. Entah apa yang merasuki pikiranku hingga hal-hal yang sebelumnya tidak
pernah aku pikirkan bernaung dalam otakku. Perasaan takut mulai aku rasakan.
Perasaan ketakutan yang bodoh karena aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku
takutkan. Aku menarik nafas dan berusaha menghilangkan pikiran-pikiran buruk
dalam otakku. Kembali bisa kukuasai tubuhku. Baru saja aku menyalakan lilin,
listrik sudah kembali menyala. Aku mulai melakukan aktifitas seperti biasanya.
Meski
perasaanku buruk, aku berusaha membuat diriku terlihat baik-baik saja. Paling
tidak saat mas Din pulang nanti, ia tidak melihatku dalam keadaan seberantakan
ini.
Makan
malam sudah aku siapkan seindah mungkin. Semua yang ada di meja adalah makanan
kesukaan mas Dian. Ditengah meja aku letakkan lilin bertingkat yang tidak
terlalu besar. Aku juga meletakkan vas bunga yang dipenuhi bunga mawar segar.
Aku bisa merasakan aroma bunga mawar yang menguasai seluruh ruangan. Biarlah semua ini dianggap sogokan, yang jelas
aku mau rumah tanggaku tetap bisa dipertahankan. Aku tidak ingin menyerahkan
suamiku begitu saja pada wanita penggoda itu.
Aku
menunggu. Semua makanan sudah hampir dingin sekarang dan mas Dian belum juga
memperlihatkan tanda-tanda kepulangannya. Aku masih bisa sabar menunggu. 5
menit berlalu, 10 menit, 15 menit, 20 menit. Waktu terasa begitu cepat
mengejarku dan suara jam dinding seakan memenuhi pendengaranku. Dadaku mulai
terasa sesak. Aku mencoba menghubungi ponsel mas Dian. Terhubung. Meski
terhubung tetap tidak ada yang bisa aku dapatkan. Mas Dian tidak mengangkat
panggilan dariku. Kucoba lagi, lagi, dan lagi hingga tiga kali, hasilnya tetap
nihil. Kukepalkan tanganku erat-erat
kemudian kuhantamkan kemeja -brak. Ingin sekali aku meledak, berteriak-teriak,
dan menghambur semua yang ada didepanku.
Namun tidak bisa aku lakukan. Aku merasa diriku sangat menyedihkan. Padahal
sudah sesesak inipun aku masih juga belum bisa meledak. Airmataku mengalir
dengan sangat deras. Rasanya sakit sekali, sangat menyesakkan sampai-sampai
untuk bernafas saja rasanya berat. Aku terisak dalam keheningan rumahku yang
biasanya hangat dengan kasihsayang.
Lilin
tiba-tiba saja mati padahal suasana terlalu tenang menurutku. Aku merasa
semakin kesal, berpikir kalau semua hal sedang menertawaiku saat ini. Kulipat
tanganku diatas meja dan kubenamkan wajahku. Dalam ruangan remang-remang yang
hanya ada aku sendiri menguasai sekelilingku, serasa seseorang sedang mendekat
kearahku.
Aku menahan nafas dan fokus mendengarkan. Tidak ada suara
apapun. Aku angkat wajahku
dan kuamati sekeliling. Benar, tidak ada siapapun. Aku kembali merasakan takut
seperti sebelumnya. Aku masuk kamar dan mengunci pintu. Aku baringkan tubuhku.
Aku tidur menyamping menatap kearah dimana mas Dian biasanya berbaring. Dimana aku
bisa merasakan hangat hembusan nafasnya, mencium aroma tubuhnya, dan dimana aku
selalu memperhatikan wajah tampannya. Aku pejamkan kedua mataku, membayangkan
sosoknya berada dihadapanku. Beberapa menit mencoba membangkitkan imajinasiku
tentangnya, aku merasa sosok itu tengah benar-benar berada didepanku. Aku tidak
ingin membuka mataku dan membiarkan sosok itu tetap tercipta dalam pikiranku.
Sungguh aneh rasanya karena aku merasa kehadiran sosok itu sangat nyata.
Benar-benar ada menemaniku diatas ranjang, dengan wajahnya yang berhadapan
dengan wajahku. Aku memang tidak bisa merasakan hangat nafasnya ataupun mencium
aroma tubuhnya, tapi aku merasa nyaman.
Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ
Pukul
02.15 aku terbangun. Kosong. Terkejut tidak ada siapa pun. Aku mencari kesetiap
sudut kamar. Kulihat pintu kamar masih terkunci menandakan tidak ada siapapun
yang masuk semalam. Masih belum percaya aku bergegas keluar kamar. Tidak
kutemukan siapapun dimanapun aku mencari. Makanan yang aku siapkan diatas meja
juga masih tetap sama, tidak ada yang berubah sama sekali. Aku sangat hafal,
bahkan dimana setiap sendok aku letakkan. Mas Dian tidak pulang sama sekali
semalam. Aku berjalan lemas menuju dapur. Kuteguk segelas air untuk membuat
diriku lebih baik. Ternyata sosok semalam yang kuanggap nyata ternyata hanya
imajinasiku saja. Tapi kenapa terasa begitu nyata. Perasaan yang juga mampu
membuatku merasa nyaman. Aku merasa konyol dan bodoh. Aku berstighfar dan
segera keluar mengambil air wudlu.
Keesokan
harinya aku putuskan kembali ke rumah sakit tempat kemarin aku melihat kejadian
tak diinginkan itu. Aku ingin bertemu dengan wanita yang merusak rumah tanggaku
itu. Aku adalah seorang istri dan aku tidak akan membiarkan rumah tanggaku
hancur begitu saja. Aku akan mempertahankan suami yang aku cintai. Oleh karena
itu dibanding hanya diam di rumah dan menunggu, aku lebih ingin mendapati
kepastian itu.
Aku
mencari membabibuta. Aku tidak tahu siapa nama atau apa jabatan wanita itu
dirumah sakit ini. Yang kemarin terlihat olehku hanya wanita itu memakai
pakaian putih dan Nampak seperti seorang perawat. Tapi aku yakin aku pasti bisa
menemukannya bagaimanapun caranya. Aku jelajahi setiap likuk rumah sakit. Setiap aku melihat seseorang wanita
berpakaian perawat, berpostur tubuh mirip wanita itu dengan rambut digerai aku
akan lansung menarik tangannya atau menyentuh bahunya untuk melihat wajahnya
lebih jelas. Tidak peduli apa yang sedang dilakukan perawat itu ataukah sedang
terburu-buru. Aku juga tidak lagi mempedulikan apapun anggapan orang walau
terlihat jelas aku sangat menggangu dan mereka tidak suka dengan caraku. Yang
aku pedulikan saat ini adalah masalahku sendiri. Aku tengah dibuat gila oleh
ketakutanku. Ketakutan akan hancurnya rumah tanggaku yang baru berumur 2tahun.
Aku mulai lelah. Tidak ada petunjuk dimanapun aku mencari keberadaannya.
Keningku berkeringat dan nafasku berat. Aku berdiam sebentar, mengatur nafas
dan menenangkan diriku. Aku masih berusaha mengatur perasaanku ketika aku
melihat seorang perawat keluar dari ruang rawat. Perawat itu adalah wanita yang tengah aku
cari-cari. Wanita itu menatapku kemudian tersenyum. Dia melangkah mendekat dan
berkata,
“Kau mencariku
?”
Aku hanya diam menahan amarah. Melihatnya tersenyum,
mendengar dia berbicara, semua itu membuatku benar-benar marah. Kukira akan
mudah, tapi ternyata menghadapi wanita seperti ini akan menguras banyak
emosiku. Ingin sekali rasanya tanganku ini kulayangkan kepipinya agar wajah
yang ia buat tanpa dosa itu bisa sedikit merasakan rasa sakit yang aku rasakan,
menarik rambut panjangnya, juga mempermalukannya didepan semua teman-teman
kerjanya. Tanganku mulai terasa gatal.
“Jauh dari yang aku perkirakan, teranyata kau bisa juga
tenang disituasi seperti ini.”
“Tenag,”
batinku berteriak tidak terima.
“Kupikir
kau akan datang sambil mengamuk kemudian mencakar-cakar wajahku,” tambahnya
lagi enteng.
“Kau
tahu, hal itulah yang paling kuinginkan saat ini,” batinku berkata lagi. Aku
mendelik kearahnya. Wanita itu juga balas melihatku tajam kemudian mengalihkan
wajahnya sambil tersenyum.
“Membosankan
sekali wanita sepertimu. Tidak adakah hal lain yang bisa kau lakukan selain
mendelikiku seperti itu. Pantas saja…” –Plak – tanganku melayang kepipinya
memotong kalimatnya. Lega rasanya karena bisa memberikan satu pukulan
kewajahnya. Sebenarnya itu masih kurang, tapi akan kutambah lagi saat dia
membalas. Saat itulah aku akan menghajarnya habis-habisan. Mencakar-cakar
wajahnya dan menarik lidah tajamnya keluar.
“Hanya satu,” katanya. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan
wanita itu. Kupikir dia akan membalas perbuatanku. “Jika kau masih mau akan
kuberikan sebelah pipiku lagi. Kenapa ? apa hanya sebatas itu saja rasa marahmu.”
“Sudah
selesai membanggakan dirimu sendiri ?” aku mulai membalas kata-katanya. Aku
menyalakan kendaraan perangku dan siap bertarung lagi dengannya. “Aku jadi
sangat yakin mas Dian bersamamu hanya kekhilafan. Karena dari tadi aku
mengamatimu kau hanya unggul disifat percaya dirimu saja.” Aku amati wajahnya
yang masih merah karena tamparanku. Dari ekspresinya kurasa aku telah berhasill
membuatnya kesal. Aku mulai merasa percayadiri dan bisa menguasai medan. “Aku
tidak ingin terlalu banyak bercerita padamu. Aku hanya ingin mengingatkanmu
untuk berhenti mengganggu suamiku atau aku akan benar-benar mencakar wajahmu
seperti yang kau inginkan,” tambahku tegas. Aku berusaha memperlihatkan
seberapa kuatnya aku dan akan semengerikan apa jika aku marah. Aku berbalik dan
meninggalkannya. Namun baru berjalan beberapa langkah wanita itu berkata lagi
dengan nada tinggi.
“Kau
masih belum sadar juga ! mas Dian memilihku sudah jelas karena aku lebih baik
darimu. Kalau kamu tetap tidak juga sadar, kamu akan semakin terluka. Lihat
saja, mas Dian akan mendatangimu dalam waktu dekat dan akan dia katakan
semuanya dengan jelas didepanmu,” pekiknya.
Aku tidak mempedulikannya dan tetap melangkah
meninggalkannya. Itu hanya kalimat terakhir yang bisa diucapkan seseorang yang
telah kalah. Membawa nama orang lain untuk memperkuat posisinya. Ponselku
bordering ketika aku telah berada diluar rumahsakit. Nama Rina tertera dilayar
ponselku.
Aku hanya duduk termenung disebuah café sederhana dipinggir
jalan. Rina ingin sekali bertemu denganku untuk memastikan apakah keadaanku
baik-baik saja. Aku tahu Rina pasti sangat khawatir. Terlebih lagi terakhir
kali saat dirumah sakit aku meninggalkannya dengan sifatku yang keterlaluan.
Aku juga tidak menganggat telepon darinya untuk memberitahu bagaimana
keadaanku. Aku akan memintamaaf padanya saat bertemu nanti. Aku masih duduk
termenung menatap gelas kaca tinggi yang berisi air putih. Air dalam gelas itu
begitu tenang. Masih aku amati lambat laun air yang tadinya tenang itu
bergelombang. Semakin lama gelombangnya semakin jelas terlihat. Aku amati
sekelilingku, barangkali ada hal aneh yang membuat air dalam gelas ini
bergelombang. Tidak ada hal yang aneh disekelilingku. Semua orang tengah sibuk
bercengkrama dengan keluarga dan teman. Minuman dalam gelas-gelas mereka
tenang. Aku amati kembali gelas didepanku dan tempat duduk kosong didepanku.
Sebuah perasaan aneh seperti sedang menggerogotiku. ‘Perasaan gila apa ini?’
“Mina,”
terdengar suara Rina memanggil namaku. Setengah berlari Rina menghampiriku. “Mina
kamu baik-baik saja ?” Rina bertanya begitu menghawatirkanku. Aku hanya
mengangguk tanpa bisa mengatakan apapun. Aku terharu dengan perhatian Rina.
Rina memelukku. Sepertinya Rina tahu betul kalau disaat seperti ini hal inilah
yang aku butuhkan. Airmataku tidak lagi mampu terbendung dalam dekapannya.
Airmataku mengalir deras membasahi kedua pipiku.
“Jadi
kamu baru saja menemui wanita itu ?” Tanya Rina memotong ceritaku. Dari nada
bicaranya Rina nampak terkejut. Aku menjawab pertanyaannya hanya dengan anggukan.
Pesanan kami datang. Saat minumanku diletakkan didepanku, aku melirik kearah
air putih yang tadi bergelombang kini tenang. Aku berpikir, apa gerangan yang
telah terjadi, kenapa bisa seperti ini.
“Mina, Mina,” panggilan Rina menyadarkanku bahwa ia masih
menunggu bagaimana kelanjutan ceritaku.
“Aku
menamparnya sekali. Aku pikir setelah itu dia akan membalas dan aku bisa
berkelahi dengannya dan meluapkan semua amarahku. Tapi dia tidak membalas.
Mungkin dia sudah tidak kaku lagi menghadapi situasi seperti itu. Jika dia kaku
dan takut, tidak mungkin dari awal dia berani menggoda suami orang,” Jelasku.
Hari
berikutnya aku masih menunggu kepulangan mas Dian. Penantianku yang penuh
harap. Tidur larut saat malam hari dan bangun lebih cepat dengan harapan saat
aku membuka mata aku bisa melihat mas Dian terlelap disampingku. Sayangnya
penantianku yang penuh harap itu hanya berujung menyakitkan. Mas Dian tidak
kunjung pulang juga. Nomor ponselnya bahkan kini tidak aktif lagi. Mencarinya
kesemua tempat yang aku tahu sudah kulakukan, dan kini hanya sakit yang
tersisa. Apa seperti ini sifat suami yang aku bangga-banggakan selama ini
menghilang begitu saja tanpa penjelasan saat menghadapi sebuah masalah. Apa
yang sebenarnya mas Dian pikirkan, kenapa tidak langsung muncul dan menjelaskan
semuanya. Membuatku semakin berharap dan tidak rela untuk melapaskannya. Aku
menjadi semakin tersiksa memikirkannya. Kakakku yang tinggal di kota seberang
mulai curiga, karena setiap kali menelpon nada suaraku selalu terdengar sedih.
Aku belum berani menceritakan masalahku pada mereka. Aku takut mereka khawatir.
Jadi sambil mencari jalan keluar sendiri aku terus berharap semoga saja
semuanya bisa membaik sebelum keluargaku tahu yang sebenarnya.
Hari
selanjurtnya mas Dian pulang. Awalnya aku merasa sangat senang, namun lagi-lagi
rasanya aku terlalu berharap banyak. Mas Dian tidak pulang untuk memperbaiki
hubungan pernikahan kami melainkan untuk mengemasi semua barang-barangnya. Aku
masih tidak percaya mas Dian benar-benar mengambil keputusan ini. Keputusan
gila yang tidak dapat aku terima. Jahat sekali yang mas Dian lakukan padaku setelah semuanya
berjalan dengan begitu manis. Aku menyusul mas Dian ke kamar. Aku harus
menghalanginya. Paling tidak mas Dian masih berhutang penjelasan padaku.
“Apa,
apa yang membuat mas Dian tidak puas ?” aku bertanya menuntut penjelasan. Mas
Dian mengabaikanku. Ia menepis tanganku dengan kasar. “Jangan pikir aku akan
membiarkan mas Dian pergi tanpa penjelasan apapun,” kataku sembari merampas
koper dari tangannya. Aku menatap mas Dian dengan mata berkaca-kaca penuh
harap. Mas Dian mengalihkan pandangannya, ia tidak lagi mau menatapku. Sakit.
Bagai dihantam godam dari segala arah. Airmataku mulai mengalir perlahan.
“Sebegitunyakah ? sampai-sampai menatapku pun sudah tak
lagi sudih ?” aku mulai terisak. Kakiku seolah tak mampu lagi berpijak dibumi
karena memikul kenyataan yang sulit aku terima.
“Apa
masih butuh penjelasn lagi ?” tanyanya datar.
“Iya,”
jawabku singkat. Tidak ada kalimat lain yang bisa aku katakan.
“Sungguh,
sebenarnya ade adalah istri yang sempurna. Bahkan terlalu sempurna untuk orang
sepertiku…”
“Itu
bukan penjelasan!” pekikku memutus. Aku tidak ingin mendengar penjelasan yang
seperti itu. Aku menghapus airmataku yang mengalir semakin deras dengan
punggung tanganku. Aku bisa merasakan mas Dian juga sedih. Sedih karena melihatku seperti
ini, dan sedih karena harus membuat posisi seperti ini. Tapi kenapa justru mas
Dian lakukan jika membuatnya juga bersedih. Cukup selesaikan dengan satu ucapan
maaf maka aku akan menerimanya kembali tanpa syarat. “Katakan hal-hal yang
buruk tentangku, hal-hal yang mas Dian tidak sukai. Hal-hal yang harus kurubah
agar mas Dian bisa tetap bersamaku.” Nada bicaraku yang awalnya memekik keras
berubah rendah lemas. Belum siap rasanya jika harus kehilangan mas Dian. Entah
akan seperti apa terpuruknya aku nanti. Kakiku benar-benar lemas hingga tak
kuat lagi berdiri tegak. Aku menangis terisak dilantai seperti seorang anak
yang akan ditinggal pergi jauh oleh ibunya. Mas Dian membantuku berdiri dan
memapahku sampai dikasur. Aku tidak ingin menatapnya. Tidak tahu ini perasaan
marah atau apa. Sentuhannya masih terasa hangat dan lembut seperti sebelumnya.
Entah apa yang ada dipikirannya aku tidak lagi mampu menebaknya.
“Terkadang,”
mas Dian mulai berkata lembut namun tetap tidak menatapku. “Hal yang begitu
sempurna juga bisa menjadi celah yang menyebabkan terjadinya hal-hal yang tidak
kita inginkan. Masa-masa kita selama ini memang indah. Tapi mungkin karena terlalu
indah itulah aku jadi merasa bosan. Mungkin ini terdengar tidak adil tapi
inilah yang terjadi. Akar dari semua masalah ini adalah aku, aku yang bersalah.
Setelah inipun aku tidak akan minta maaf. Jadi bencilah aku sesukamu untuk
mendapatkan keadilanmu.”
Aku kembali terisak. Mas Dian pergi dan aku hanya bisa
melihat punggunya yang terus bergerak menjauh. Tidakkah ada harapan lagi untuk
memperbaiki rumahtanggaku. Benarkah hanya sebatas ini saja. Jika hal yang indah
saja bisa memberi akhir yang tidak baik, lantas bagaimana aku harus bersikap.
Sekarang
aku sendiri, benar-benar sendiri dirumahku yang awalnya kukira akan menetap
selamanya d iistana kebahagiaan ini. Ternyata semua semu. –Brak – aku
tersentak. Sebuah buku yang aku letakkan diatas lemari terjatuh. Ternyata buku
tahunanku saat SMA. Buku itu terbuka dan tepat ditengah halaman. Bab kelas XII
IPA. Foto gadis manis dengan mengenakan kerudung abu-abu menghiasi halaman
sebelah kanan. Tertera nama, tempat tanggal lahir, alamat, nomor telepon dan
seterusnya. Aku mengenal gadis yang bernama Nur Rohma itu, namun tidak begitu
akrab dengannya. Kemudian dilembar sebelah kiri, Satria Yoga. Senyum kecil yang
terlihat manis menghias fotonya membuat jaantungku berdebar saat melihatnya.
Tidak tahu kenapa karena rasanya sangat aneh. Aku memang pernah menyukainya, hanya
saja perasaan itu sudah lama menghilang. Apalagi setelah aku bersuami. Aku
tidak pernah lagi memikirkan Satria. Perasaan sukaku pada Satria adalah
perasaan terpendam jadi hanya aku dan teman baikku Rina saja yang tahu. Aku
pikir perasaan-perasaan seperti itu wajar karena SMA memang masa-masanya labil dengan perasaan sendiri.
Ah, perasaan aneh ini mulai muncul lagi. Perasaan yang akhir-akhir ini sering
sekali muncul saat aku tengah seorang diri. Perasaan dimana aku bisa merasakan
kehadiran seseorang. Ini gila, tapi aku benar-benar merasakannya. Berusaha
mengelak dan tidak percaya selalu kulakukan, dan kehadiran itu malah datang
semakin dekat. Sebenarnya aku merasa takut. Anehnya sebagian dari diriku merasa
nyaman dan tidak mampu menolak kehadirannya. Aku menutup mataku, berusaha
merasakan kehadiran itu lebih dekat. Mungkin dengan melakukan hal ini aku bisa
mendapat jawabannya. Benarkah ada atau aku hanya berhalusinasi saja. Aku
menarik nafas dan memfokuskan pikiranku.
“Ah,
ini gila,” aku memaki diriku sendiri. “Apa yang sedang aku lakukan ?”
Aku mendengar suara motor memasuki
pekarangan rumahku. Aku bergegas keluar tidak ingin pikiran-pikiran gila itu
membuatku melakukan hal yang gila juga. Rina datang, menghampiri dan memelukku.
Sepertinya hanya dia yang mengerti sebetapa sakit dan hancur hatiku. Aku tidak
ingin bertanya kenapa Rina datang atau darimana dia bisa tahu aku sangat
membutuhkan teman saat ini. Aku takut, takut memikirkan jika apa yang aku pikirkan
benar aku akan semakin hancur karena tidak mampu melepaskan mas Dian. Rina juga
tidak mengatakan apapun. Ia memberiku waktu untuk menangis, meluapkan semua
kesedihan dan kekesalanku.
Dua minggu sudah berlalu.
Kesedihanku kehilangan mas Dian masih saja membebaniku. Rindu yang aku rasakan
mulai memuncak dan semakin menggebu-gebu. Semua hal yang terjadi masih seperti
mimpi, begitu tiba-tiba. Sampai-sampai akal sehatku masih belum percaya hal ini
benar-benar terjadi. Semuanya tidak masuk akal. Penjelasan-penjelasan yang aku
inginkan pun tak kunjung aku dapatkan. Aku ingin segera mengakhiri ini,
mengangkat beban yang terasa begitu berat aku pikul ini. Menghilangkan
semuanya, semua kesedihanku. Aku menghela nafas dan lagi-lagi airmataku
meleleh. Masih saja aku tidak mampu membendungnya. Beberapa hari yang lalu
keluargaku datang kerumah. Kakak laki-lakiku sangat marah mendengar perlakuan
mas Dian padaku. Kakakku ingin agar secepatnya aku menggugat cerai, tapi aku
belum sanggup. Aku ingin menenangkan diri dahulu hingga benar-benar siap. Kakak
perempuanku dengan kata-kata bijaknya berusaha menguatkanku. Ayah dan Ibuku
tentu saja sangat sedih. Sebagai seorang anak, membuat mereka bersedih juga
membuatku terluka. Sudah sebesar ini aku masih saja merepotkan dan tidak
henti-hentinya membuat mereka sedih. Aku merasa bersalah pada keluarga,
kepergian mas Dian yang tanpa penjelasan, juga komentar-komentar tetanggaku
membuatku hampir depresi. Belum lagi ditambah semua beban pikiranku ini aku
masih juga harus menghadapi perasaan-perasaan tidak jelas tentang kehadiran
sesuatu yang aku tidak tahu itu apa. Aku merasa mungkin saja aku telah gila.
Aku sering melakukan percobaan dengan meletakkan gelas kaca berisi air putih.
Benar saja, saat aku mulai gelisah perasaan aneh itu muncul, air dalam gelas
pun mulai bergelombang, semakin lama semakin terlihat jelas. Anehnya gelombang
dalam gelas seketika itu juga kembali tenang saat orang lain datang. Awalnya
aku ketakutan. Saat mulai jengkel aku akan berteriak siapa dan apa yang
diinginkannya dariku, namun tetap saja tidak pernah ada penjelasan yang bisa
aku dapatkan. Perlahan aku mulai menerima perasaan aneh itu. Aku bahkan mulai
terbiasa dan menginginkan kehadirannya saat tidak aku rasakan. Aku mulai
terperangkap dalam pemikiran gila yang sebenarnya aku bergidik sendiri saat
memikirkan tentang diriku saat ini. Tapi aku bisa apa ? aku tidak bisa
menghindar dan tidak tahu bagaimana cara menghilangkan kegilaan ini. Aku harus
bercerita pada siapa ? tidak akan ada yang percaya. Apakah aku harus membiarkan
mereka memberiku tatapan aneh setelah aku selesai bercerita. Itu bagiku lebih
menakutkan dibanding perasaan aneh ini.
Aku pejamkan mataku, meratapi
kesedihanku. Sebenarnya aku tidak ingin begini, tapi rasa sakitnya tidak mau
hilang juga. Airmata sudah banyak terkuras, tiap malampun aku selalu berdoa,
memohon agar rasa sakit ini segera diangkat dan agar secepatnya aku bisa
merelakan mas Dian. Tapi rasa sakitnya belum juga berkurang. Setiap malam masih
selalu berharap mas Dian pulang meski dengan mengendap-endap, ditiap jalan yang
kulewati berharap bisa kudapati sosok mas Dian walau hanya sekejap. Setiap hari
aku selalu mengharapkan kedatangannya. Ibu selalu berpesan agar semua hal yang
terjadi dapat aku ikhlaskan dengan begitu aku akan lebih tenang. Tapi bagaimana
aku bisa mengikhlaskannya begitu saja kalau mas Dian meninggalkanku tanpa
penjelasan dan begitu tiba-tiba, bahkan disaat semuanya terasa begitu indah.
Aku masih memejamkan mataku saat aku merasakan ada sesuatu yang ingin menyentuhku.
Terasa begitu nyata, dekat dan semakin –… Refleks aku menghindar. Membuka mata
dan mengamati sekelilingku. Lagi-lagi tidak ada siapapun. Hening. Aku kembali
merasakan kehadiran sesuatu yang tidak dapat terdeteksi penglihatanku. Mataku
menyapu setiap sudut ruangan waspada, barangkali aku bisa menemukan sesuatu itu
kali ini. Tidak ada. Rina datang. Suara motornya yang sudah aku hafal memasuki
pekarangan rumahku.
“Kamu masih belum siap-siap ?” Rina
bertanya melihat penampilanku yang masih berantakan.
“Aku tidak berniat pergi
kemana-mana,” kataku malas.
Kemarin Rina memberiku undangan reunian SMA. Dari awal aku
sudah mengatakan tidak ingin pergi. Rina saja yang terus memaksa dan bilang
akan menjemputku meski sudah kukatakan tidak
ingin pergi.
“Pergi
berkumpul dan menghibur diri akan membuatmu merasa lebih baik. Ayo, sekarang
ganti bajumu,” kata Rina masih berusaha meyakinkanku. Rina mendorongku masuk ke
kamar. Meski malas, aku mengganti pakaianku juga. Semoga Rina benar. Setelah
berkumpul dengan teman-teman lama aku bisa merasa lebih baik. Aku memperhatikan
wajahku dicermin, mataku begitu sembab. Aku perlu waktu untuk memolesnya. Aku
memilih mengenakan atasan dan kerudung hijau agar terlihat lebih segar. Setelah
menghabiskan waktu beberapa menit, kami siap berangkat.
“Rina.
Wah, kelihatan lebih cantik ya.”
“Iya
dong. Kan perawatannya lengkap,” candanya sambil tertawa kecil.
Ditengah
keramaian dan meriahnya acara, aku justru merasa kesepian. Aku memilih
menyendiri sementara Rina menyapa teman-teman yang baru datang. Beberapa teman
yang dulu dekat denganku dikelas mendatangiku. Kami bernostalgia dan
membicarakan banyak hal. Meski aku menyahut dan tersenyum, namun aku sama
sekali tidak menikmati pembicaraan kami. Pikiranku kemana-mana. Aku menghilang dan
bermain dengan imajinasiku sendiri. Kecerianku yang dulu lenyap entah kemana.
Aku tidak nyaman berada dikeramaian meski aku mengenal mereka semua, dan aku
juga tidak suka jika mereka mulai banyak bertanya. Mereka saling membahas kesibukan sampai akhirnya
ada yang menanyakan tentang suamiku. Aku hanya terkejut mendengar pertanyaan
itu. Aku belum siap kalau semua orang harus tahu bagaimana keadaan rumah
tanggaku saat ini. Airmataku hampir saja tumpah kalau saja Rina tidak datang
dan membantuku memberi penjelasan pada teman-teman. Rina mengerti keadaanku. Ia
menjawab pertanyaan mengenai suamiku dengan candaan. Aku sangat terbantu dan
berterimakasih karenanya.
“Mina,
Rina,” seorang teman memanggil kami saat acara telah selesai dan kami hendak
pulang.
“Aku dan anak-anak lain mau ke rumah sakit. Kalian mau ikut
?”
Rina tidak langsung menjawab. Rina menoleh kearahku untuk
meminta pendapatku. Aku menggeleng pelan.
“Siapa
yang sakit ?” tanya Rina ingin tahu.
“Satriayoga.
Kalau tidak salah sih dulu dia di kelas XII IPA 2.”
“XII
IPA 3,” kata teman yang bersamanya membenarkan.
Mendengar nama Satriayoga aku dan Rina sangat terkejut.
Rina menatapku lagi untuk memastikan benarkah aku tidak ingin ikut ke rumah
sakit. Aku hanya terdiam, masih terkejut dengan berita yang baru saja aku
dengar. Karena aku tidak merespon, Rina mengambil kesimpulan untuk berangkat.
Sampai
dirumah sakit, kami rombongan kedua yang kira-kira berjumlah 10 orang –aku
tidak terlalu memperhatikan – langsung menuju lantai 2, ruang bogenvil. Seorang
ibu-ibu tinggi, kurus dan memakai kacamata bersama seorang gadis muda yang
kira-kira seusia kami menemani Satria. Keduanya menyambut kedatangan kami
dengan ramah. Ibu Satria menceritakan kecelakaan yang menimpa anaknya 2 minggu
yang lalu dengan perasaan teriris. Kecelakaan mobil itulah yang mengakibatkan
Satria koma hingga sekarang. Mendengar semua cerita dari Ibu Satria, membuat
aku tersadar satu hal, kecelakan hari itu didepan rumah sakit tempat aku
periksa. Dadaku sesak sekali. Aku permisi keluar. Aku perlu udara segar agar
membuatku merasa baik kembali. Aku kembali mengurutkan kejadian-kejadian yang
aku alami selama ini. Dimulai pada hari itu, tanggal 12 juni.
“Mina,
kamu baik-baik saja,” Tanya Rina begitu khawatir. “Wajahmu pucat sekali. Apa
kamu mau pulang ?”
Aku menggeleng dan tidak menatap Rina. Rina semakin
khawatir.
“Ada
sesuatu yang ingin aku katakana,” kataku datar. Rina diam, menunggu kalimatku
selanjutnya. Aku menatap mata Rina sebentar sebelum melanjutkan kalimatku. “Rina
ingat kecelakan depan rumah sakit 2minggu lalu ? sebelum Rina menarikku masuk
dan bertemu dengan mas Dian. Itu Satria.”
“Iya,
aku tahu. Tadi ibu Satria sudah menceritakan semuanya,” jawab Rina.
“Tapi
ada banyak hal yang terjadi setelah itu. Aku,… aku seperti bisa merasakan keberadaan
sesuatu. Sesutu itu datang, namun aku tidak pernah tahu apa maunya...”
“Mina
kamu apa yang kamu bicarakan ?” Rina memotong kalimatku. Ia tidak mengerti
sedikitpun dengan semua yang aku katakana padanya. Aku mulai marah. Berpikir bahwa
sebenarnya Rina mengerti hanya saja
berpura-pura karena tidak percaya dengan apa yang aku katakana.
“Satria,
dia selalu datang. Awalnya aku tidak tahu kalau itu dia. Dia memberiku
tanda-tanda dan aku tetap tidak mengerti sampai hari ini ibu Satria bercerita
tentang kecelakaan yang menimpa anaknya.” Aku berhenti bercerita karena melihat
reaksi Rina. Rina menggeleng. Tatapan matanya dipenuhi rasa kasihan terhadapku.
“Itu
benar-benar terjadi,” aku memekik. Kali ini aku benar-benar marah. Mina,
satu-satunya orang yang bisa kuandalkan tidak mempercayaiku. “Awalnya aku juga
tidak percaya, aku tersiksa, merasa takut tidak tahu pada siapa harus
bercerita. Aku tahu ini konyol, tapi aku alami. Aku hampir gila.” Aku mulai
menangis. Teman-teman yang tadinya berada diruang rawat Satria keluar karena
mendengar pekikanku. Mereka semua melihat kearahku dengan rasa penasaran.
Airmataku semakin deras mengalir memikirkan bagaimana sakitnya jika mereka
semua berpikiran bahwa aku gila.
“Maaf,
kami harus pulang duluan,” kata Rina pamit. Rina menarikku. Aku menghapus
airmataku dan melangkah pulang bersamanya. Aku masih merasa mereka semua masih
memandangi kami sampai dikejauhan.
Selama
dalam perjalanan pulang, aku dan Rina hanya terlibat diam. Aku tidak ingin
memulai duluan karena aku masih marah. Lagipula Rina tidak percaya padaku, jadi
apapun yang aku katakan dia tetap tidak akan percaya. Motor Rina memasuki
pekarangan rumahku. Rina mematikan mesin dan aku turun. Aku tidak mempedulikan
Rina dan berjalan terus meninggalkannya.
“Mina,”
Rina memanggilku.
“Aku
sangat menderita memendam ini sendiri. Merasakan apa yang tidak terlihat itu
memang gila. Aku coba untuk tidak memikirkannya namun tidak bisa. Aku
benar-benar merasa sendirian karena aku tahu tidak ada orang yang akan percaya
jika aku menceritakan apa yang aku alami. Menerima kenyataan mereka akan
menganggapku gila itu sangat menakutkan bagiku. Sama sepertimu saat ini.
Akhirnya aku merasa kesepian dan kehadirannya mulai bisa kuterima. Aku kembali
merasa memiliki teman,” aku berkata kembali meneteskan airmataku. Aku tidak
melihat bagaimana reaksi Rina mendengar kata-kataku. Aku hanya menebak pasti
sangat mengerikan untuknya yang berada diposisi normal mendengar ceritaku.
Aku tidak tahu kapan Rina mendekat, tahu-tahu dia sudah
memelukku. Pikirku Rina akan pergi dan memutuskan hubungan denganku setelah
ini.
“Aku
disini dan aku sahabatmu,” kata Rina membuatku merinding. “Maafkan aku, aku
tidak berpikir seperti itu. Aku tahu semua ini berat untukmu. Tapi menciptakan
duniamu sendiri itu tidak benar.”
“Apa
?”
Rina melepaskan pelukannya. Ternyata Rina masih tidak
percaya pada apa yang telah aku katakan. Anggapanku dari awal memang benar.
Meski aku menangis darah sekalipun untuk meyakinkan kebenaran ceritaku, tetap
tidak akan ada yang percaya.
“Mungkin
aku yang salah atau kamu yang benar, tapi coba pikirkan ini dengan kepala
dingin,” Rina berkata dengan nada yang begitu bersahabat. Membuatku yang
meskipun masih marah karena Rina tidak mempercayaiku tidak dapat menolak.
“Pikiranmu yang tidak tenang adalah sumber semuanya. Pikiran dan hatimu yang bimbang semua itu
memungkinkan untukmu menciptakan ruang untuk membangkitkan sosok yang tidak
satupun orang bisa kenali, bahkan kamu sendiri. Kemudian kamu berpikir kamu bisa
merasakannya, setiap hari. Kamu menipu dirimu sendiri, kamu memanipulasi otakmu
dengan memaksakan hal yang tidak ada seolah-olah ada. Sehingga semua mulai
terasa nyata. Karena telah tertanam dalam otakmu bahwa semua itu nyata jadi
hal-hal sekecil apapun kamu hubung-hubungkan untuk mendapatkan pembenaran
sampai semuanya saling terikat.”
Aku terdiam merenungkan. Rina mengangguk sambil tersenyum
padaku. “Ingat, syaitan punya 1001 cara untuk menjerumuskan anak-cucu Adam,”
tambahnya mengingatkanku. Aku mereda. Amarahku, kesedihanku, dan semuanya. Kini
aku bahkan tak mampu berkata-kata lagi.
Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ
Setelah hari itu aku putuskan pulang ke rumah orangtuaku.
Dengan begitu aku akan selalu memiliki teman dan tidak sendirian lagi
menghabiskan waktu di rumah. Pikiran-pikiran gila itu juga akan aku buang
jauh-jauh. Kehidupanku memang telah berubah drastis, tapi akan kucoba
mengikhlaskan mas Dian dengan orang lain walau aku harus terus belajar.
“Mba
ayo keluar,” panggil adikku sepupuku yang paling kecil dari luar kamar.
Terkadang aku masih sering merasa sosok itu datang lagi,
berada tidak jauh dariku. Dan saat aku mulai merasakan perasaan aneh itu, aku
akan langsung menyibukkan diri melakukan apapun, atau keluar kamar mencari
teman ngobrol.
Aku
merapikan penampilanku dan keluar kamar menyapa semua yang ada diruang tamu.
Aku adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Kakakku yang pertama perempuan dan
telah memiliki 2 orang anak, kakakku yang kedua laki-laki, kemudian aku dan dua
adik laki-lakiku. Karena aku baru pulang ke rumah, jadi semua keluarga
berkumpul bersama. Inilah cara yang selalu digunakan orangtuaku agar semua
keluarga dapat akrab. Kami berkumpul diwaktu libur dan makan-makan. Aku merasa
lebih baik dengan adanya banyak orang yang aku sayangi berkumpul disekitarku.
“Assalamualaikum,”
seseorang memberisalam didepan pintu. Aku pikir semua anggota keluarga sudah
berkumpul semua. Apa karena sudah lama tidak pulang dan berkumpul dengan semua
keluarga aku jadi lupa siapa-siapa saja keluargaku yang sudah datang dan siapa
yang belum. Tiba-tiba aku merasa keadaan berubah hening. Aku mengikuti yang
lainnya menatap kearah pintu masuk untuk melihat siapa gerangan yang datang.
“Mas
Dian,” nafasku tertahan beberapa saat. Aku benar-benar terkejut dan sama sekali
tidak menyangka. Mas Dian berjalan masuk. Ia mendekat dan semakin dekat. Kakak
laki-lakiku yang ada dibelakang langsung menyambut kedatangan Mas Dian dengan
bogeman panasnya.
“Dasar,
tak tahu malu. Masih berani juga kau menampakkan dirimu disini,” sergah Kakak.
“Aku
minta maaf,” mas Dian tertunduk.
Kakak laki-lakiku terlihat semakin marah. Ia hendak
menjotos mas Dian lagi, namun dihalangi oleh adik dan kakak iparku. Ayah
meminta agar kakak bisa tenang dan mengendalikan emosinya. Semua bisa
dibicarakan baik-baik. Mas Dian
menatapku, aku buang muka dan masuk kedapur. Aku memang merindukannya, bahkan
sangat merindukannya, tapi mas Dian sudah meninggalkanku begitu lama. Justru
disaat aku mulai belajar melupakannya dia datang. Aku ingin marah dan memakinya
habis-habisan karena memberiku hari yang berat selama sebulan ini. Aku meneguk
segelas air, setelah selesai aku melihat mas Dian berdiri didepanku. Kupikir
mas Dian tidak akan berani masuk karena kakakku pasti akan melarangnya, namun
ternyata dugaanku salah. Melihat mas Dian dengan jelas didepanku membuat
perasaanku bercampur aduk. Mas Dian mengucapkan maaf dengan nada yang begitu
lembut. Merasa bersalah, malu, dan kutahu tulus. Aku tetap berusaha menguatkan
diriku, tidak ingin luluh begitu saja. Aku ingin memperlihatkan pada mas Dian
kalau aku sudah bertambah kuat sekarang. Tidak bisa, karena tahu-tahu aku telah
hanyut dalam dekapannya. Dekapan ini yang begitu aku rindukan, yang meninggalkanku
dan telah kembali. Sedikitpun aku tidak mampu menolaknya.
“Jangan
lakukan lagi,” kataku diiringi derai airmata kebahagian.
Kami
memperbaiki lagi pernikahan kami. Selama dua hari tinggal dirumah orangtuaku
tentu saja Mas Dian tidak didiamkan begitu saja setelah apa yang dilakukannya.
Mas Dian disidang oleh Ayah, Ibu, dan kedua kakakku. Kakak keduaku juga
menegaskan akan menguliti mas Dian hidup-hidup jika berani menyakiti aku lagi.
Dengan begitu mas dian akan berpikir seribu kali jika ingin menyeleweng lagi.
Setelah dari rumah keluargaku, kami mengunjungi rumah keluarga mas Dian dan
memintamaaf. Seharusnya dari awal aku sadar aku tidak sendirian. Aku memiliki
keluarga yang semuanya sangat menyayangiku. Ayah, Ibu, kakak, dan Adik. Aku bahagia
dan sangat bersyukur memiliki mereka semua. Merekalah malaikat tanpa sayap yang
sebenarnya, yang menyayangiku tanpa syarat.
Dihari
berikutnya aku dan mas Dian menjenguk Satria yang juga belum sadar dari
komanya. Dalam ruangan tempat Satria dirawat ada seorang wanita yang waktu itu juga menemani
Satria dihari pertama aku menjenguknya. Aku baru tahu kalau ternyata wanita itu
adalah tunangan Satria. Mereka akan segera menikah dan sayangnya musibah ini
terjadi sehingga mereka harus mengundur acara pernikahan mereka. Kami masih
membicarakan perkembangan kesehatan Satria ketika dokter datang untuk mengecek
perkembangan kondisi Satria. Selesai mengecek, dokter meminta Andin ke
ruangannya untuk membehas keadaan Satria lebih detail. Aku dan mas Dian
menggantikan Andin menjaga Satria untuk sementara.
“Aku
akan keluar sebentar menerima telpon dari Bos,” katas Mas Dian kemudian keluar.
Aku hanya diam. Aku merasa canggung meski hanya ada Satria
yang tidak sadarkan diri.
“Satria,”
kataku mulai mencoba berbicara dengannya. “Aku Mina, dulu murid kelas XII IPA
1. Kita berasal dari sekolah yang sama, aku yakin kamu pasti tahu. Aku… ingin
berterimakasih padamu. Aku tidak tahu kamu atau bukan yang selama ini ada
menemaniku, tapi jika benar-benar kamu dan aku tidak mengatakan apapun, aku
akan terkesan keterlaluan,” aku diam sebentar, memikirkan kalimat selanjutnya.
“Terimakasih telah ada dan menemaniku dihari-hari terberatku, telah menjadi
teman yang dapat aku rasakan. Sekarang kebahagianku telah kembali dan akupun
ingin kamu begitu. Sadar dan raihlah kebahagianmu kembali. Kamu tentu tahu
betapa terpuruknya aku saat mas Dian meninggalkanku? Jadi aku sedikit bisa
mengerti bagaimana perasaan Andin. Sadarlah, kami semua menunggumu. Ibumu,
Andin, juga teman-teman yang lain. Ini pertama kalinya aku berbicara banyak
denganmu dan rasanya aneh namun menyenangkan.” Aku mengakhirinya dengan
tersenyum lega. Aku sangat berharap Satria cepat sadar. Sebelum pulang aku
menyemangati Andin agar tidak menyerah, terus berdoa dan percaya kalau Satria
pasti akan segera sadar.
Ada
banyak hal didunia ini yang tidak ada penjelasannya. Semua menjadi misteri
dalam kehidupan manusia. Penjelasan yang tidak pernah terungkap selamanya atau
sebenarnya terungkap dibelakang kita. Semua itu terjadi justru untuk kebaikan
kita. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi jika kita bisa tahu
penjelasannya, baik ataukan buruk. Jadi
pilihannya adalah jangan terlalu menuntut. Begitupun denganku, aku tidak pernah
bertanya atau memaksa mas Dian memberi penjelasan kenapa ia pergi kemudian
kembali lagi padaku. Bagiku mas Dian sudah kembali saja sudah menjadi hal yang
sangat membahagiakan. Jadi aku tidak ingin terlalu serakah dengan menuntut lebih
banyak lagi. Bagiku mas Dianlah takdirku, karena sejauh apapun ia pergi dan
selama apapun itu aku yakin ia akan kembali. Mungkin ini cinta sejati atau hanya
aku yang merasakannya, tapi kami telah melalui cobaan dengan kebahagian,
berpisah dan akhirnya bersama lagi. Cobaan tentang rasa sakit, rasa takut itu
sudah biasa meskipun menyedihkan. Tapi cobaan tentang kebahagiaanlah yang
bagiku lebih menakutkan. Karena ada juga orang-orang yang bosan dengan
kebahagiannya sehingga menjerumuskan dirinya sendiri.
Dua hari kemudian Satria sadar. Semua senang dan mengucap
syukur. Tubuh Satria yang meski telah sadar namun masih lemah jadi tetap harus
dirawat intensif agar kesehatannya bisa kempali pulih.
“Sebelum
koma, mas Pernah menyebut nama Mina ingat ?” Andin berkata sambil mengupas
apel. “Pertama kali dia datang menjenguk terlihat aneh dan tidak bahagia. Tapi
ketika datang lagi ia terlihat berbeda. Bersemangat dan ceria sampai-sampai
orang-orang disekitarnya juga bisa ikut bersemangat karenanya.”
“Oia,”
kata Satria menanggapi. Ia tersenyum senang mendengar kalimat Andin. "Itu pasti karena dia telah mendapatkan kebehagiaannya kembali."
Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ
Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ⁻Φ
“Kenapa menyuruhku berhenti, sementara
kau sendiri terus menghindariku ?” seorang gadis yang baru datang berkata
dengan nada yang terdengar kesal kepada seseorang yang telah menunggunya. Gadis
dengan rambut panjang digerai itu masih mengenakan pakaian kerjanya. Ia adalah
seorang perawat disalah satu rumah sakit swasta. Mereka berada disebuah cafe
sederhana dipinggir jalan.
“Aku
tidak menghindarimu. Aku hanya berpikir ini memang harus dihentikan,” sahut
yang diajak bicara datar. Gadis berambut panjang yang sudah sangat mengenal
bagaimana watak orang yang diajaknya bicara mulai terlihat semakin kesal. Namun
apa yang bisa ia lakukan, karena perasaan sayangnya justru lebih besar
dibanding rasa kesalnya saat ini.
“Kau
selalu saja begitu. Melakukan semua hal sesukamu. Kau bilang lakukan, maka
harus dilakukan, kau bilang hentikan maka harus segera dihentikan. Kau menganggap
apa aku sebenarnya ?” si gadis berambut panjang komplain tidak terima. Tidak langsung
menjawab, yang diajak bicara malah menghela nafas panjang. Tatapannya datar
tertuju pada gelas jusnya. Si gadis berambut panjang menatap orang didepannya
lekat, kemudian memalingkan wajahnya. Ia benar-benar tak sanggup melihat orang
yang paling disayanginya seperti itu.
“Jangan memperlihatkan wajah seperti
itu, seolah hanya kau saja yang paling menderita.”
“Iya,
bukan hanya aku yang menderita, karena dia juga menderita, bahkan jauh lebih
menderita saat mengetahui suaminya meninggalkannya karena wanita selingkuhan. Awalnya
aku pikir dengan memperlihatkan bagaimana pria yang sangat dicintainya
menghianatinya, dia bisa berpaling dan menatapku sekali saja. Tapi justru
melihatnya terluka dan terpuruk, membuatku juga terluka. Aku mencintainya,
sungguh. Karena itulah aku tidak ingin melihatnya menderita.”
“Bagaiman
denganku ? aku juga mencintaimu,” gadis berambut panjang kembali mengingatkan
bagaimana dalam perasaannya. Sudah ratusan kali ia ucapakan itu, namun tak
pernah sekalipun ia mendapatkan tanggapan seperti yang diinginkannya.
“Rina aku mencintaimu. Hanya aku yang
mencintaimu, bukan Mina atau siapapun,” tambahnya sambil menggenggam
pasangannya. “Berpalinglah padaku maka aku akan selalu bersamamu.” Rina
membiarkan gadis yang sangat mencintainya menggenggam tangannya.
“Aku
sudah memesan tiket. Lusa aku akan ke Singapura.”
“Rina,”
kata-katanya tertahan. Ingin marah namun ia tahu itu tidak akan mengubah
apapun. “Tidak bisakah kau buka pintu hatimu sekali saja. Izinkan aku masuk dan
aku jamin kau tidak akan pernah menyesal.”
Rina menarik tangannya. Ia mengambil
tasnya dan bersiap-siap untuk pergi.
“Aku
ingin kembali normal. Mungkin dengan begitu penderitaan ini bisa terangkat,”
kata Rina kemudian melangkah pergi.
“Pria
tidak akan bisa membuatmu bahagia. Setelah puas mencoba-coba kembalilah padaku,”
pekik si gadis berambut panjang. Semua mata kini tertuju padanya. Ia benar-benar
tidak peduli dimana ia sedang berada. Dinegara berkembang yang menjunjung
tinggi pancasila tentu saja bukan pilihan yang baik jika harus mengungkapkan
jati diri sebagai penyuka sesama jenis.