Selasa, 22 Maret 2016

'Mungkin' Cinta

Nuraina, usia 24 tahun, tinggi badan 155 cm. Aku tinggal bersama Ayah, Ibu, dan adik laki-lakiku. Aku tidak pandai memasak dan tidak juga cantik. Aku pemalas karena lebih suka bersantai di kamarku yang nyaman. Aku tidak banyak memiliki teman akrab karena aku lebih suka mengurung diriku di rumah. Bekerja disalah satu perusahaan kontraktor listrik menjadi rutinitas keseharianku selain berebut remoute telefisi dengan adikku. Berebut remoute memang terdengar kekanak-kanakan untuk usiaku. Tapi itu sebenarnya bentuk pelarian dari kejenuhan rutinitasku. Karena tidak ada lagi yang bisa kutindas selain adikku. Jika dia tidak terima, aku bisa mengancamnya dengan tidak membayarkan cicilan motornya, atau membayar uang semesternya, atau melaporkan pada pacarnya. Hah... ternyata aku memang kekanak-kanakan.
Pacar adikku adalah teman dekatku saat SMA. Aku dan adikku hanya selesih dua tahun. Aku sangat benci saat Erie –pacar adikku, ke rumah dengan alasan untuk bertemu dengaku. Padahal, seperti yang kukatakan itu hanya alasan. Yang sebenarnya sudah pasti dia ingin lebih sering melihat Akbar, adikku. Menggelikan! Bukannya aku cemburu, bukannya juga tidak ada orang yang kusukai..
“Aku pasti akan datang, aku janji.”
Suara cowok dari masalaluku tiba-tiba mengiang begitu jelas di telingaku. Sangat jelas seolah baru ia katakan beberapa hari yang lalu. Nyatanya, janji itu dibuat 6 tahun lalu. Seharusnya suara itu sudah memudar karena tertimbun banyak kenangan lain selama beberapa tahun ini, atau terlupakan. Enam tahun itukan bukan seperti 6 bulan, 6 hari, 6 jam, 6 menit, 60 detik. Tapi kenapa rasanya masih terdengar sangat jelas.
Aku melirik undangan reunian yang berwarna hijau daun dengan ukiran garis ditepinya, di atas meja, di samping ranjangku. Kuletakkan diatas majalah game, kutindih buku antologi fiksimini, dan kututupi koran yang memang sengaja kuambil dari ruang depan. Tujuanku repot-repot menyembunyikan udangan reunian itu tentu saja agar mataku tidak tertuju terus kesana, dan bisa tanpa sengaja melupakannya. Tapi tidak. Aku bahkan masih ingat ukiran garis ditepinya yang terputus-putus karena tinta printernya tidak bagus. Diujung atas, sebelah kiri.
Seharusnya, jika aku memang sengaja ingin melupakan undangan reunian itu, dari awal aku robek saja, atau kubenamkan di kloset, atau kubakar dan kubuang ke tong sampah belakang. Harusnya seperti itu. Bukan satu jam sebelum acara dimulai baru kusembunyikan. Berharap lupa.
“Aku pasti akan datang, aku janji.”
“Iya, iya aku tahu!” sentakku seolah orang yang sedang berbicara itu ada didepanku, tengah mendesakku agar segera mengambil keputusan, pergi atau tidak, menikmati saat-saat pergolakan jiwaku.
Mungkin ini akhirnya. Hari dimana aku menagih janjinya, berhenti menunggunya. Sebenarnya aku tidak menunggunya, aku hanya sering teringat cowok menyebalkan itu dan menjadi lebih sering teringat setelah menerima undangan reunian sial itu.
Lantas setelah bertemu bagaimana ? Aku bahkan sudah merapikan potongan rambutku kemarin di salon. Sekalian creambath, hair spa, dan smoothing. Seperti orang bodoh saja. Bagaimana kalau hanya aku sendiri yang menunggu hari ini, hanya aku yang bersemangat ? Bagaimana kalau dia lupa, tidak datang, atau sudah menikah ? Oh astaga..
     “Apa aku ini gila, atau idiot!” aku memaki diriku sendiri. Kenapa aku bisa memikirkan pertemuan yang menyentuh sementara 6 tahun itu bukan waktu yang sebentar. Banyak hal yang pasti sudah terjadi dan semua orang bisa berubah. Sepertinya aku terlalu banyak menonton drama melankonis akhir-akhir ini sehingga berpikir di dunia nyatapun ada dua orang yang sama-sama mau menunggu waktu yang panjang.
Tidak sanggup memikirkan kemungkinan lain yang lebih menakutkan, mengerikan, memalukan, atau semacamnya, aku melemparkan diriku ke atas ranjang.
“Aku enggak mau pergi...” aku mengeluarkan suara yang diisak-isakkan. Aku mengambil selimut dan menyembunyikan diriku.
Aku, yang sebelumnya berdiri didepan cermin dengan dres selutut, dipadankan dengan leaging gelap, dan makeup yang sudah terpoles akhirnya menghabiskan waktu dengan hanya meringkuk saja dalam selimut.
***
Hari tidak cukup cerah karena langit terlihat keabu-abuan. Matahari masih mengintip malu-malu dan angin berhembus terlalu sering. Semua orang sedang lalu-lalang nampak sibuk. Kendaraan roda empat menumpuk di trotoar jalan karena tidak lagi muat tertampung di lapangan parkir.
“Aina!” seseorang berseru memanggil namaku.
Meski sebelumnya aku bilang tidak ingin pergi, tapi tahu-tahu saja kakiku sudah menginjak koridor sekolah. Sebenarnya aku adalah tipe manusia yang memiliki harapan tinggi, yang bahasa kasarnya sering disebut ‘muka tembok.’ Maka yang akan terjadi terjadilah. Sementara yang belum tentu terjadi, bagaimanapun juga harus dihadapi. Aku masih memiliki peluang. Kurasa aku benar-benar akan tumbuh dewasa setelah ini.
“Balqis,” aku balik menyapa. Kami cipika-cipiki dan basa-basi sebentar. Menanyakan kabar, kerja dimana, dan kapan nikah. Pertanyaan standar yang sudah sangat sering kudengar.
Balqis, aku kenal sekali anak ini meski tidak terlalu dekat. Saat sekolah dia anak yang sangat aktif di kelas, disukai semua guru, pintar bicara. Dia anak yang mencolok karena sangat memerhatikan penampilannya. Poninya harus selalu terjepit, pakaiannya harus selalu rapi, dan menyapa hampir semua penghuni sekolah. Walau seperti itu, peringkatnya tidak lebih bagus dariku. Meski terlihat bodoh dalam segala hal, sebenarnya aku masih memiliki otak yang juga bisa diandalkan.
Pembicaraan basa-basi kami terputus saat Erie datang. Ketika ia masuk kedalam pembicaraan, dengan sendirinya aku tersingkir. Erie selalu nampak ceria dan lugas, mampu mengimbangi seseorang dengan tipikal Balqis. Cukup tahu diri, aku meninggalkan keduanya agar bisa berbicara lebih leluasa.
Setelah lulus sekolah aku memang sangat jarang keluar rumah untuk main ke tempat teman, atau nongkrong dan membicarakan cowok atau apapun yang sedang populer. Setelah pulang kerja ya pulang ke rumah. Malam harinya mendekam di kamar. Menonton filem, download lagu, membaca novel, atau komik. Hari libur juga sama. Aku bahkan tidak ingat pernah liburan selama 6 tahun ini.
Aku bukan seorang introfert, hikikomori, atau apapun namanya itu. Aku juga sangat benci jika disamakan dengan orang-orang setipe itu. Menurutku aku tidak seanti sosial itu, meski aku lebih sering berbicara dengan diriku sendiri dibanding orang lain.
Aku hampir saja melewati kelas yang dulunya adalah kelasku, terlalu sibuk dengan pikiran-pikiran yang sesungguhnya tidak penting. Aku berjalan perlahan, menghampiri kelas 3 IPS 1. Aku mencoba membuka pintunya dan ternyata bisa terbuka.
Enam tahun lalu. Sekarang seluruh otakku dibanjiri begitu banyak kenangan masalalu. Juga tentang dia. Ryota Hamzah. Meski namanya mirip salah satu idol grup Jepang Katayose Ryota, tapi itu bukan dia. Ryo juga tidak memiliki darah keturunan Jepang dari keluarga yang manapun. Ryo murni produk lokal.
Ryo adalah murid pindahan diakhir smester kelas dua. Saat itu logat jawanya masih sangat kental. Anaknya juga sopan dan ramah. Tingginya 173 cm, tapi karena badannya yang kurus, ia terkesan lebih tinggi lagi. Rambutnya hitam legam, lurus, jatuh. Bagiku sangat jarang ada cowok dengan rambut sebagus itu. Warna kulitnya kecoklatan khas cowok. Menurutku, Ryo terlihat paling keren saat ia selesai latihan basket dan berkeringat dimana-mana. Saat ia menundukkan kepalanya dan keringat dari rambutnya yang hitam jatuh menetes.
Mengingat hal itu membuat pipiku panas merona.
Semkin dalam aku memasuki kelas, semakin aliran kenangan itu ditumpahkan dengan deras ke kepalaku. Suasananya, aroma anak cowokyang begitu kental –kelasku saat itu didominasi oleh 75% anak cowok, juga keributannya.
     Perasaanku yang mulai dikuasai begitu banyak kenangan, mulai memengaruhiku, membuat pikiranku menciptakan imajinasinya sendiri. Dimulai dengan warna cat dinding yang memudar dari warna awalnya biru –saat ini setiap kelas dikreasikan sesuai dengan kreatifitas penghuninya, hingga berwarna putih secara keseluruhan. Putih yang tidak baru, tidak pula terlihat kusam. Kursi-kursi lipat satu paket dengan mejanya juga ikut berubah, menyesuaikan. Menjadi meja dan kursi kayu bercat coklat. Papan tulis pun halnya, ikut tersentuh perubahan. Papan yang awalnya merupakan papan putih, bersih berubah perlahan. Dari sisi sebelah kanan. Seperti sisa bakaran yang melumat sebuah kertas dengan titik-titik apinya. Berubah, hingga kesemuanya menjadi hitam. Bukan papan tulis kosong, karena coretan dalam bentuk grafiti dengan kapur warna-warni memenuhi papan yang awalnya hitam itu. Tulisan yang membentuk kalimat ‘3 IPS 1.’
     Begitu semuanya sempurna berubah, baik itu hiasan dindingnya sampai foto presiden dan wakilnya, aku tersadar. Hanya bangunannya saja yang tidak berubah. Semua hal berubah seolah aku berada ditempat yang berbeda dari sebelumnya. Apa.. 6 tahun itu waktu yang terlampau lama, yang bisa mengubah banyak hal secaraan bersamaan.
     “Hajar, kembalikan buku PRku!!” Teriakan seseorang menyentak perhatianku.
“Ryo, tangkap!” Ryo yang tidak siap dengan oporan mendadak dari Hajar melewatkan tangkapannya. Aku yang duduk di belakang Ryo akhirnya harus menerima bahwa kepalaku akhirnya yang menjadi sasaran.
“Maaf, maaf,” Ryo berucap saat mendengarku mengaduh.
     Aku tahu itu bukan salah Ryo, tapi aku tetap mendesis padanya. Seharusnya Ryo juga tahu kalau itu bukan salahnya. Karena sudah minta maaf, akukan jadi tidak tahu harus bilang apa. ‘Iya enggak apa-apa kok.’ Haruskah aku bilang seperti itu dengan wajah dimanis-maniskan dan senyum dilebar-lebarkan. Akukan bukan yang setipe itu.
“Hajar, awas kamu ya!” akhirnya aku beralih mengancam pelaku sebenarnya yang kutahu bersalah, Hajar.
Jam sedang kosong dan kelas dengan didominasi anak cowok benar-benar membuat keributan pecah dimana-mana. Ada yang membuat band dengan memukul-mukul meja dan bernyanyi, ada yang bercerita dengan heboh, ada juga yang jahil dan suka menggangu seperti Hajar. Keributan semakin memekakan saat Hajar yang dikejar Balqis jatuh karena terpeleset. Anak-anak satu kelas tertawa, menikmati kesialannya sebagai tontonan komedi yang menggelitik.
      Suara decak sepatu tertangkap disela-sela pendengaranku. Diantara keributan yang kelas ini ciptakan. Pintu kelas terbuka. Inilah saat dimana guru-guru tidak lagi mentolerir keributan.
     “Kak, acara akan segera dimulai. Silahkan ke aula.”
     Aku telah dibawa kembali ke masa yang sebenarnya. Aku perhatikan sepatu seorang panitia penyelenggara acara, masih belum sepenuhnya yakin bahwa aku telah kembali berpijak dimasa yang benar. Heels putih setinggi 5 cm. “Kak !”
     “Ah iya,” aku telah benar-benar tersadar kali ini “terimakasih,” tambahku dan membiarkan anak yang terlihat lebih muda itu pergi lebih dulu.
      Aku keluar menyusul anak perempuan itu tidak lama setelahnya. Sebelum kembali menutup pintu kelas, aku kembali teringat wajah Ryo yang tertawa. Ia yang masih berada di depan meja tempatku duduk. Tawanya lebar dan pecah. Tanpa beban, ringan.
     Cowok itu, sekarang ia tumbuh menjadi pria seperti apa ?
     “Aku pasti datang, aku janji.” Kalimat itu kembali mengiang di telingaku. Rasanya jadi sangat menyedihkan. Saat berpikir bahwa hanya aku sendiri yang menunggunya, yang ingin bertemu dengannya. Bahwa mungkin saja ia sudah melupakan janji itu. Bahwa mungkin saja tertimbun jauh didasar kenangannya.
     “Aku adalah manusia terbodoh sejagat raya, seantariksa. Bodoh sebodoh-bodohnya. Bodoh yang paling bodoh !!” aku memarahi diriku habis-habisan. Mendesis dengan kesal. Kenapa aku begitu mudahnya terbuai, kenapa selama ini aku terjebak dengan kalimat itu begitu dalam, kenapa ada manusia sepertiku. Tidak, aku tidak sedang bertanya. Aku hanya sedang menyesalkan diriku yang begitu rapuh. Aku seperti akan gila sekarang.
      Sebuah senyum yang mengembang terlihat sangat manis. Senyumnya masih seringan tawanya dulu. Ia mengenakan kemeja putih yang dilapisi sweater tanpa kancing. Kemeja putihnya itu terlihat jelas dari kerahnya yang menyebul di sekitar lehernya, dan panjang bagian bawahnya yang kalah bersaing. Sweater abu-abu yang ia kenakan semakin ke bawah, semakin gelap warnanya. Lengan sweaternya digulung sampai di bawah siku, memamerkan lengan tangannya yang panjang. Tubuhnya nampak berisi namun tidak gemuk. Rambutnya masih hitam legam, pendek, meski kini tidak dibiarkan jatuh. Orang itu pasti menggunakan banyak minyak rambut untuk bisa membuat sebagian rambutnya berdiri.
     “Ryo...ta,” bibirku mengucapkan namanya di bawah kendali otakku.
     Menatap senyumnya, parasnya, caranya berbicara, membuatku seolah tidak lagi berpijak di bumi. Nyatakah ini. Dia begitu berubah. Tidak ada lagi kesan imut dan manis. Penampilannya dewasa, tanpa kesan tua. Gagah dengan gaya rambut baru dan caranya bersikap. Aku semakin terkesima, terpesona dengan semua hal yang aku lihat padanya. Jantungku berdegup cepat, dan darahku seolah mendesir. Ada bagian dari diriku yang mencair. Perasaan lega yang sulit untuk kudeskripsikan bagian dari perasaan apa itu. Ada begitu banyak yang bercampur aduk dengan begitu padatnya. Aku dibuat kacau dengan begitu banyak rasa yang mendadak hadir.
     Ryo berada di parkiran bersama beberapa teman yang seingatku berada di kelas yang berbeda. Tiga orang perempuan dan seorang laki-laki. Semua berbincang akrab. Wajah Ryo terlihat begitu jelas dari koridor tempatku berdiri. Mereka pasti sedang bernostalgia dengan sesekali dibubuhi pertanyaan sedang sibuk apa, atau tinggal dimana.
      Aku ingin segera menghambur untuk menyapa. Kakiku sudah siap melangkah, berada lebih dekat dengan orang yang kusukai, bercerita banyak, bertanya ini-itu. Aku hanya perlu melangkah saja dan membiarkan Ryo melihatku. Tapi tiba-tiba saja nyaliku menciut. Waktu 6 tahun itu.. kini menjadi sangat menakutkan bagiku.
     “Aina.” Erie yang entah datang dari mana tiba-tiba menepuk bahuku. Sontak aku terkejut. “Ayo ke aula sebentar lagi acara dimulai.”
     “Ii.. iya, aku kesana, sebentar lagi.” Aku yang masih belum bisa memulihkan diri dari kedatangan Erie yang mengejutkan membuatku terlihat seperti maling yang tertangkap basah. Mendadak gagap dan salah tingkah.
     “Kamu kenapa ?” Erie bertanya sembari tersenyum geli.
‘Apa dia tahu ?’ tatapanku berubah menyelidik. Kupicingkan sebelah mataku.
     “Aina,” seseorang memanggilku lagi. Dipanggil beberapa kali oleh orang yang berbeda, aku merasa seperti akrab dengan banyak teman. Bukan akrab, lebih tepatnya masih dikenali.
     Ah! Suara itu. Suaranya sangat akrab di telingaku. Aku mengenal suara itu. Sangat mengenalnya. Aku bahkan merindukannya. Jantungku kembali berdegup kencang.
     “Aku duluan ya,” Erie berlalu masih dengan cengirannya yang mencurigakan.
‘Sial, dia benar-benar tahu.’
     Masa bodoh dengan Erie! Kali ini Ryo. Dia memanggil namaku. Aku berbalik dan berusaha tersenyum senatural mungkin. Tapi bagaimana bisa, jantungku berdetak kencang sekali. Ryo mendekat kearahku. Semakin dekat. Tidak! Dia pasti akan mendengar suara jantungku. Oh astaga! jantungku benar-benar akan melompat keluar. Bagaimana ini, bagaimana kalau aku mendadak pingsan.
     “Apa kabar ?”Ryo telah berada didepanku. Ia menanyakan kabarku dan... tersenyum. Manisnya..
      Bagaimana bisa aku menguatkan diri didepan orang yang kusukai, didepan orang yang kurindukan. Kakaiku tiba-tiba saja melemas dan hampir terjatuh jika aku tidak segera menyeimbangkan diri dengan berpegangan pada dinding.
      “Kamu kenapa ?” Ryo yang terkejut dengan reaksiku bertanya khawatir. Dia terlihat khawatir dari sudut pandangku.
      “Maaf, maaf,” aku berusaha mengendalikan diri “akhir-akhir ini aku kurang darah, jadi sering pusing.” Aku mengalihkan wajahku dan menggigit bibir. Kembali memaki kebodohanku.
      Satu persatu para alumni memasuki aula. Masih ada beberapa yang berkeliaran. Mereka mengelilingi sekolah. Melihat seberapa jauh perubahannya, dan bagian mana yang tidak tersentuh perubahan itu sendiri. Aku dan Ryo duduk di kursi panjang depan kelas 1-A. Aku sudah lebih tenang dan berjanji pada diriku sendiri untuk segera menyingkirkan kebodohanku.
     “Aku sudah lama ingin bertemu Aina,” Ryo berucap pelan yang hanya cukup didengar olehku. Suaranya lembut. Sangat menyenangkan mendengar Ryo mengatakan hal seperti itu. Pandanganku tiba-tiba saja berhenti pada jari Ryo. Cincin melingkar di jari manisnya. “Aku sudah lama ingin meminta maaf karena tidak bisa memenuhi janji kita.” Ryo melanjutkan kalimatnya seolah bisa menebak rasa tanyaku mengenai cincin di jari manisnya.
      Ada seseorang yang pernah mendengar suara guntur di siang hari ? kali ini aku mendengarnya. Ryo ternyata mengatakan kalimat pertamanya untuk bisa menghempaskanku. Sakit.
      Aku sebelumnya tidak tahu seperti apa sakit hati itu, tapi mungkin perasaan terluka seperti ini. Ketika harapanmu yang sudah terlanjur menggunung dianggap sampah yang tidak dinginkan. Dibiarkan membusuk. Aku tidak lagi berani menunduk. Tidak ingin bulir-bulir tumpah dari kelopaknya.
     “Aku sungguh menyukaimu, tapi...”
     “Jangan mengasihaniku dengan kalimat seperti itu,” aku memotong, berusaha terlihat kuat. Tapi aku sudah sangat hancur, perasaanku kembali kacau namun kali ini dengan rasa sakitnya. Inilah luka tanpa darah, lukaku.
     Diam. Aku tidak menambahkan kata-kataku dan Ryo tidak menanggapi kalimatku. Keheningan itu yang menenggelamkan kami, yang akhirnya menyelesaikan penantianku.
   
      “Kakak baguuun!!” Sebuah bantal kurasakan menimpuk wajahku dengan kasar.
“Erie masuk saja. Kakakku kalau tidur memang susah bangun, seperti orang mati suri.” telingaku mereaksi suara ketus dari adikku.
     “Aina bangun, cepat. Nanti kita telat datang ke reunian sekolah.” Kali ini suara berisik Erie. Dia menggoyang-goyangkan tubuhku. Benar-benar memerlakukanku seperti orang mati. ‘Dasar Akbar asal!’ Dengan malas aku membuka mataku, menimpuk Erie dengan bantal, dan bangun.
      “Iya, iya.”
Erie terlihat akan membalasku, namun diurungkan rencana balas dendamnya itu dengan sendirinya.          “Kamu tidur sambil nangis ? mimpi buruk ?” tanyanya ingin tahu.
     “Mimpi ?” aku mengulang. Aku turun dari ranjang dan berdiri didepan cermin.
      Ini diriku sebelum meringkuk dalam selimut. Dres rajut lengan panjang yang menenggelamkan sampai setengah telapak tanganku, dengan bawahan leaging, dan wajah terpoles. “Ternyata hanya mimpi,” aku bergumam pada diriku sendiri. Aku menghapus air disudut mataku dan menyunggingkan senyum. Lega, meski rasa sakitnya masih tertinggal. Tapi hanya mimpi itu jauh lebih baik.
     Tidak perlu kuulangikan kalau aku adalah manusia dengan tipe harapan tinggi ? Lagi pula aku mendapat pelajaran berharga dari mimpi yang menyakitkan itu. Perhatikan jari manis tangan kirinya lebih dulu. Jika terlihat ada cincin, lebih baik menghindar jika diajak bicara berdua, dibanding dicampakan dengan dua kali rasa sakit. Berpura-pura bersikap bersahabat dan lupa dengan janji, dengan berbagai perasaan yang masih tumbuh. Berpura-pura kuat mungkin akan lebih menyakitkan, tapi aku adalah Nuraina.
     “Ayo, kita berangkat,” kataku pada Erie. Jika ini bukan cinta aku tidak akan sakit, tidak akan tetap memikirkannya selama 6 tahun ini, tidak akan merindunya. Jika ini benar-benar cinta, akan kutemukan jawabannya setelah bertemu orang itu.