Minggu, 08 September 2013

Rangkaian kata

Di facebook aku sering membuat status kata-kata yang tiba-tiba saja terpikir olehku, berasal dari perasaan dan apa yang aku dengar juga aku lihat di sekelilingku. Nah, kali ini aku ambil dan aku post ke blog :

Geram. Aku menggengam erat tanganku hingga bergetar. Aku muak sungguh muak hingga pembelaandiri bahkan tangisnmu terasa begitu menjijikn. Ingin sekali aku membunuhmu, mendorngmu ke rel saat kereta sedang melaju. Menikmati saat-saat tubuhmu hancur, terpental. Percikan darah kotormu kemana-mana atau mempermaiknmu dalam kawanan buaya. Menikmati setiap cabikan dan teriakan penuh putus asa dari mulut mu. Kemudian aku akan teratwa keras.
Akulah pembeci sejatimu, meski disaat kau datang & meminta maaf padaku suatu hari nanti

Setiap orang bebas membenci & berkata kasar tapi aku tidak..
Mereka bilang karena kita saudara.. tapi bagiku darah yang sama yang mengalir dalam tubuh juga bisa pudar.. Seiring menumpuknya amarah dan bertambah tebalnya noda kebencian..
Jadi ,, stlh darah persaudraan dalam tubuhku benar-benar  pudar & menghilang,, aku akan bebas membencimu tanpa terpagari lagi dinding persaudraan sebagai pembatas

Bukan terikat, tapi aku sengaja mengikatkan diri sampai-sampai tak bisa terlepas dan terasa sangat menyesakkan

Ajari aku melupakan hati agar kita bisa saling menghancurkan dengan adil

Aku tau dendam bisa merubahku menjadi penjahat, keinginan mengalahkan dan melihatmu hancur sampai kedasar dengan cara menghalalkan segala cara tapi... bila itu bisa membuatku menang, aku tidak peduli

Kadang kesalahan dapat membuat kita merasa malu, tp akan lebih memalukan yang tidak mau mengakui kesalahan

Jangan menyerah, karena semua semangat & kerja keras pasti terakumulasikan menjadi sesuatu yang lebih dari membanggakan

Bertanya terkadang bukan karena tidak tahu atau ingin mengetes seseorang melainkan karena ingin menemukan jawaban lain

Seseorang bisa menjadi gila jika mencintai sesuatu secara berlebihan

kita tidak akan pernah tau sebelum kita mencoba. Tapikan tidak semua hal harus dicoba-coba... ini sudah tau jelek masih dicoba-coba

Akan ada harga yang harus dibayar dari setiap perbuatan yang dilakukan,,
bagaimana kalau aku ciptakan sendiri hargaku dan memaksamu membayarnya dengan cara menancapkan belati yang ada ditanganku berulang kali kepunggungmu ? mungkin akan berakhir minus dan membuatku diriku terjebak dalam hutang hingga menyiksa diriku sendiri...

Aku pernah merasa kasihan padamu, tapi rasa kasihan itu telah terkikis sekarang.. entah bagaimana cara membuatmu berhenti, karena jika tetap membiarkanmu seperti itu suatu saat kami juga akan membayar dengan harga yang mahal atas perbuatanmu

Pagi tak selamanya menjadi awal. Suatu saat mungkin akan berubah... dan  menjadi akhir

Tertawa lebih mudah dibanding tersenyum

Hari yang menyenangkan adalah saat ada begitu banyak orang yang mendoakan hal yang baik pada diri kita

Masalalu itu indah... namun hanya bisa dibingkai dalam satu kata bernama kenangan

Ingin rasanya bisa meledak tanpa memikirkan orang lain.. Sepertimu yang tak pernah bisa melihat siapapun hingga bebas sesukanya, angkuh dengan kalimat-kalimat kasarmu, padahal tidak pernah ada yang bisa kau dapatkan

Ceritakan tentang kebencianmu,
 Tentang seberapa besarnya keinginanmu membunuhku
Tentang setiap perasaan sakit yang telah aku torehkan
Tentang sikapku yang selalu tidak peduli

Aku memang telah memotong cakarku... tapi jangan lupa aku masih memiliki taring

Kita masih berada di medan perang dan sejengkal lagi berada di tengah medan..
cuaca hampir tidak mendinginkan gemuruhnya keadaan,, sehingga satu persatu para petarung mulai berguguran

Jangan terlalu memaksakan diri berlari untuk mengejar sesuatu, sebab saat lelah akan sulit melihat keberhasilan

Memuji diri saat memperoleh keberhasilan sekecil apapun adalah caraku menyayangi diri sendiri

Ada hal-hal dimana selera bisa diabaikan, tapi kali ini belum kutemukan alasan untuk mengabaikan seleraku... maaf

Yang lebih menakutkan ya rasa takut itu sendiri

Mampukah kau hadirkan bayangmu saat aku menutup mata ??

Tidak, aku tidak gila.. Tapi kegilaan itu yang menyerangku bahkan dalam mimpiku sekalipun.. Dia selalu bisa menguasai hati & pikiran yang berada diluar garis perlindungan

Cukup lakukan yang terbaik, Masa bodoh dengan kegagalan dan kepayahan hari esok, Masa bodoh dengan omelan-omelan kasar tentangmu

Mawar yang kau berikan padaku, justru membuatku tertusuk durinya

"Bagaimana rasanya benar-benar sendiri dan bukan hanya sebuah perasaan ?"
"Mungkin seperti yang kamu rasakan ketika kamu menyebut dirimu hantu. Hanya bedanya saat kamu pulang akan ada yang merasakan kehadiran dan menyambutmu."

Tidur adalah cara termudah untuk berMIMPI

Aku suka kamarku yang tidak terlalu terang, yang menyimpan kegelapan disetiap sudutnya karena dengan begitu aku bisa jelas melihat bayanganku

Memberi hati itu tidak semudah memberi uang atau barang kesukaan... Risiko terbesar yang akan kamu terima adalah hidup dengan setengah hati atau bahkan jika terengut seutuhnya kamu tidak akan lagi memiliki hati

Kita punya jalan masing-masing, jadi tidak perlu memaksakan diri berjalan di rute yang sama untuk sampai pada tujuan

Ada hal-hal yang tidak bisa selesai dengan kata maaf, melainkan dengan penebusan

Sifatku adalah caraku melindungi diri

Celotehanmu membuat telingaku pilu

Terimakasih ^^

Selasa, 03 September 2013

Manusia Hantu

Aku adalah manusia yang menyebut diriku hantu. Aku tidak tahu ini hari ini apa, dan apa yang terjadi padaku kemarin, lusa, atau setahun lalu. Akulah dahan kering yang hanya tinggal menunggu leburnya.  Saat matahari mulai memperlihatkan kilaunya dari ufuk cakrawala kemudian termakan kegelapan dari barat, aku hanya bergentayangan tanpa tahu apa yang seharusnya aku rasakan.
              
 Aku mencoba datang ke sekolah, berharap menemukan kembali perasaan hidupku yang hilang. Yang terjadi justru aku merasa berada di gurun manusia yang jauh dari pemukiman. Tidak satupun dari sekelilingku mampu kusentuh. Aku tetaplah seorang hantu. Aku mengerti, sangat mengerti. Tidak satupun dari mereka ingin dilupakan. Mereka ingin selalu diingat karena merasa dirinya berharga. Meski aku memiliki alasan kuat tidak dapat mengingat mereka, mereka tetap tidak peduli. Padahal mereka pun sering melupakanku tanpa alasan. Seperti itulah manusia yang mengatakan dirinya teman-temanku. Manusia yang memang sudah seharusnya tidak perlu aku ingat. Setelah ini aku tidak akan pernah lagi ke sekolah. Aku tidak akan lagi meninggalkan kamarku dan membiarkan siapapun memaksaku pergi. Kamar itulah duniaku, tempat yang mampu menampung ketidak normalanku.
             
 Keluarga memang sangat bisa diandalkan. Namun terkadang harapan mereka terlalu tinggi. Memiliki anak yang bisa dibanggakan didepan teman-teman memang keinginan banyak orangtua. Bagaimana aku yang hanya hidup dalam kamar ini bisa dibanggakan ? kehidupanku bahkan selalu ku gantungkan pada orangtua. Tidak banyak yang mereka inginkan dariku. “Hiduplah dengan baik,” hanya itu katanya.  Sungguh, kalimat yang begitu mulia. Tapi bagaimana hidup dengan baik itu aku tidak tahu caranya. Terkadang, saat malam hari ketika mereka kira aku tengah terlelap, Ibu akan masuk kekamar. Mengintipku. Aku tidak tahu bagaimana perasaannya saat itu, tapi aku tahu bagaimana Ibu menatapku. Rasanya menyakitkan. Mengetahui bagaimana Ibu menatapku diam-diam. Keesokan harinya aku memang akan lupa bagaimana Ibu mengintipku, namun rasanya masih menetap disisni... ditempat semua rasa sakit berkumpul. Apa seperti itu hidup dengan baik, menyembunyikan perasaan, berpura-pura tidak terjadi apa-apa, atau... melakukan semua hal yang aku sukai dengan sebebasnya.
              
 “Bagaimana rasanya benar-benar sendiri dan bukan hanya sebuah perasaan ?” aku pernah melayangkan pertanyaan itu pada seorang teman yang kutemui hanya beberapa hari. Dia pria yang baik. Pertama kali aku melihatnya dipojok ruangan sedang melakukan ritual suci kepada Tuhannya –sholat. Gerakan-gerakannyanya syahdu nan bersahaja. Bentuk abdinya sebagai hamba pada maha Raja.

               “Mungkin seperti apa yang kamu rasakan ketika kamu menyebut dirimu hantu. Hanya bedanya saat kamu pulang, akan ada yang merasakan kehadiran dan menyambutmu,” jawabnya namun menatap jalan yang lalu lalang dengan kendaraan. Jiwanya mungkin sedang mengelana. Pria cengeng itu ternyata mengerti banyak hal. Ia juga bermasalah, namun tidak pernah lari.

               Dia juga mengatakan padaku jika aku senantiasa mendekatkan diri pada maha Rajaku, aku juga akan bisa sekuat dirinya. Aku tidak perlu berlari dan berpura-pura. Aku akan terhindar dari perasaan-perasaan gila seperti ingin bunuh diri yang entah sudah beribu kali terpikir olehku. Perasaanku akan senantiasa di stabilkan oleh-Nya.
 
               “Jangan lagi menyebut dirimu hantu. Bukankah beberapa hari ini kita telah saling melengkapi, menutupi ruang-ruang kosong yang ada di hati kita. Jika kamu tidak ingat, tidak apa-apa. Tapi rasakanlah,” seseorang yang lain juga pernah mengatakan hal itu padaku. Seseorang yang karenanya aku bisa menemukan jiwa baru. Jiwa yang membuatku terbebas dari hal yang kusebut hantu pada diriku. Kami bertiga adalah teman dalam perjalanan yang teramat singkat. Saling melengkapi, memberi kenangan, menjadi adik yang sangat dirindukan, dan orangtua yang tidak mungkin kembali lagi. Tidak tahu apakah kami telah menjalankan lakon-lakon kami dengan baik, tapi aku merasa sangat senang berada diantara mereka berdua. Perasaan bahagian yang selama ini aku rindukan. Perasaan hangat yang memenuhi seluruh ruang kosong dalam hatiku.