Aku adalah manusia yang menyebut diriku hantu. Aku tidak tahu
ini hari ini apa, dan apa yang terjadi padaku kemarin, lusa, atau setahun lalu.
Akulah dahan kering yang hanya tinggal menunggu leburnya. Saat matahari mulai memperlihatkan kilaunya
dari ufuk cakrawala kemudian termakan kegelapan dari barat, aku hanya
bergentayangan tanpa tahu apa yang seharusnya aku rasakan.
Aku
mencoba datang ke sekolah, berharap menemukan kembali perasaan hidupku yang
hilang. Yang terjadi justru aku merasa berada di gurun manusia yang jauh dari
pemukiman. Tidak satupun dari sekelilingku mampu kusentuh. Aku tetaplah seorang
hantu. Aku mengerti, sangat mengerti. Tidak satupun dari mereka ingin
dilupakan. Mereka ingin selalu diingat karena merasa dirinya berharga. Meski
aku memiliki alasan kuat tidak dapat mengingat mereka, mereka tetap tidak
peduli. Padahal mereka pun sering melupakanku tanpa alasan. Seperti itulah
manusia yang mengatakan dirinya teman-temanku.
Manusia yang memang sudah seharusnya tidak perlu aku ingat. Setelah ini aku
tidak akan pernah lagi ke sekolah. Aku tidak akan lagi meninggalkan kamarku dan
membiarkan siapapun memaksaku pergi. Kamar itulah duniaku, tempat yang mampu
menampung ketidak normalanku.
Keluarga
memang sangat bisa diandalkan. Namun terkadang harapan mereka terlalu tinggi.
Memiliki anak yang bisa dibanggakan didepan teman-teman memang keinginan banyak
orangtua. Bagaimana aku yang hanya hidup dalam kamar ini bisa dibanggakan ?
kehidupanku bahkan selalu ku gantungkan pada orangtua. Tidak banyak yang mereka
inginkan dariku. “Hiduplah dengan baik,” hanya itu katanya. Sungguh, kalimat yang begitu mulia. Tapi
bagaimana hidup dengan baik itu aku tidak tahu caranya. Terkadang, saat malam
hari ketika mereka kira aku tengah terlelap, Ibu akan masuk kekamar. Mengintipku.
Aku tidak tahu bagaimana perasaannya saat itu, tapi aku tahu bagaimana Ibu
menatapku. Rasanya menyakitkan. Mengetahui bagaimana Ibu menatapku diam-diam.
Keesokan harinya aku memang akan lupa bagaimana Ibu mengintipku, namun rasanya
masih menetap disisni... ditempat semua rasa sakit berkumpul. Apa seperti itu
hidup dengan baik, menyembunyikan perasaan, berpura-pura tidak terjadi apa-apa,
atau... melakukan semua hal yang aku sukai dengan sebebasnya.
“Bagaimana
rasanya benar-benar sendiri dan bukan hanya sebuah perasaan ?” aku pernah
melayangkan pertanyaan itu pada seorang teman yang kutemui hanya beberapa hari.
Dia pria yang baik. Pertama kali aku melihatnya dipojok ruangan sedang melakukan
ritual suci kepada Tuhannya –sholat. Gerakan-gerakannyanya syahdu nan
bersahaja. Bentuk abdinya sebagai hamba pada maha Raja.
“Mungkin
seperti apa yang kamu rasakan ketika kamu menyebut dirimu hantu. Hanya bedanya
saat kamu pulang, akan ada yang merasakan kehadiran dan menyambutmu,” jawabnya
namun menatap jalan yang lalu lalang dengan kendaraan. Jiwanya mungkin sedang
mengelana. Pria cengeng itu ternyata mengerti banyak hal. Ia juga bermasalah,
namun tidak pernah lari.
Dia juga
mengatakan padaku jika aku senantiasa mendekatkan diri pada maha Rajaku, aku
juga akan bisa sekuat dirinya. Aku tidak perlu berlari dan berpura-pura. Aku akan
terhindar dari perasaan-perasaan gila seperti ingin bunuh diri yang entah sudah
beribu kali terpikir olehku. Perasaanku akan senantiasa di stabilkan oleh-Nya.
“Jangan
lagi menyebut dirimu hantu. Bukankah beberapa hari ini kita telah saling
melengkapi, menutupi ruang-ruang kosong yang ada di hati kita. Jika kamu tidak
ingat, tidak apa-apa. Tapi rasakanlah,” seseorang yang lain juga pernah
mengatakan hal itu padaku. Seseorang yang karenanya aku bisa menemukan jiwa
baru. Jiwa yang membuatku terbebas dari hal yang kusebut hantu pada diriku.
Kami bertiga adalah teman dalam perjalanan yang teramat singkat. Saling melengkapi,
memberi kenangan, menjadi adik yang sangat dirindukan, dan orangtua yang tidak
mungkin kembali lagi. Tidak tahu apakah kami telah menjalankan lakon-lakon kami
dengan baik, tapi aku merasa sangat senang berada diantara mereka berdua. Perasaan
bahagian yang selama ini aku rindukan. Perasaan hangat yang memenuhi seluruh
ruang kosong dalam hatiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar