Selasa, 03 September 2013

Manusia Hantu

Aku adalah manusia yang menyebut diriku hantu. Aku tidak tahu ini hari ini apa, dan apa yang terjadi padaku kemarin, lusa, atau setahun lalu. Akulah dahan kering yang hanya tinggal menunggu leburnya.  Saat matahari mulai memperlihatkan kilaunya dari ufuk cakrawala kemudian termakan kegelapan dari barat, aku hanya bergentayangan tanpa tahu apa yang seharusnya aku rasakan.
              
 Aku mencoba datang ke sekolah, berharap menemukan kembali perasaan hidupku yang hilang. Yang terjadi justru aku merasa berada di gurun manusia yang jauh dari pemukiman. Tidak satupun dari sekelilingku mampu kusentuh. Aku tetaplah seorang hantu. Aku mengerti, sangat mengerti. Tidak satupun dari mereka ingin dilupakan. Mereka ingin selalu diingat karena merasa dirinya berharga. Meski aku memiliki alasan kuat tidak dapat mengingat mereka, mereka tetap tidak peduli. Padahal mereka pun sering melupakanku tanpa alasan. Seperti itulah manusia yang mengatakan dirinya teman-temanku. Manusia yang memang sudah seharusnya tidak perlu aku ingat. Setelah ini aku tidak akan pernah lagi ke sekolah. Aku tidak akan lagi meninggalkan kamarku dan membiarkan siapapun memaksaku pergi. Kamar itulah duniaku, tempat yang mampu menampung ketidak normalanku.
             
 Keluarga memang sangat bisa diandalkan. Namun terkadang harapan mereka terlalu tinggi. Memiliki anak yang bisa dibanggakan didepan teman-teman memang keinginan banyak orangtua. Bagaimana aku yang hanya hidup dalam kamar ini bisa dibanggakan ? kehidupanku bahkan selalu ku gantungkan pada orangtua. Tidak banyak yang mereka inginkan dariku. “Hiduplah dengan baik,” hanya itu katanya.  Sungguh, kalimat yang begitu mulia. Tapi bagaimana hidup dengan baik itu aku tidak tahu caranya. Terkadang, saat malam hari ketika mereka kira aku tengah terlelap, Ibu akan masuk kekamar. Mengintipku. Aku tidak tahu bagaimana perasaannya saat itu, tapi aku tahu bagaimana Ibu menatapku. Rasanya menyakitkan. Mengetahui bagaimana Ibu menatapku diam-diam. Keesokan harinya aku memang akan lupa bagaimana Ibu mengintipku, namun rasanya masih menetap disisni... ditempat semua rasa sakit berkumpul. Apa seperti itu hidup dengan baik, menyembunyikan perasaan, berpura-pura tidak terjadi apa-apa, atau... melakukan semua hal yang aku sukai dengan sebebasnya.
              
 “Bagaimana rasanya benar-benar sendiri dan bukan hanya sebuah perasaan ?” aku pernah melayangkan pertanyaan itu pada seorang teman yang kutemui hanya beberapa hari. Dia pria yang baik. Pertama kali aku melihatnya dipojok ruangan sedang melakukan ritual suci kepada Tuhannya –sholat. Gerakan-gerakannyanya syahdu nan bersahaja. Bentuk abdinya sebagai hamba pada maha Raja.

               “Mungkin seperti apa yang kamu rasakan ketika kamu menyebut dirimu hantu. Hanya bedanya saat kamu pulang, akan ada yang merasakan kehadiran dan menyambutmu,” jawabnya namun menatap jalan yang lalu lalang dengan kendaraan. Jiwanya mungkin sedang mengelana. Pria cengeng itu ternyata mengerti banyak hal. Ia juga bermasalah, namun tidak pernah lari.

               Dia juga mengatakan padaku jika aku senantiasa mendekatkan diri pada maha Rajaku, aku juga akan bisa sekuat dirinya. Aku tidak perlu berlari dan berpura-pura. Aku akan terhindar dari perasaan-perasaan gila seperti ingin bunuh diri yang entah sudah beribu kali terpikir olehku. Perasaanku akan senantiasa di stabilkan oleh-Nya.
 
               “Jangan lagi menyebut dirimu hantu. Bukankah beberapa hari ini kita telah saling melengkapi, menutupi ruang-ruang kosong yang ada di hati kita. Jika kamu tidak ingat, tidak apa-apa. Tapi rasakanlah,” seseorang yang lain juga pernah mengatakan hal itu padaku. Seseorang yang karenanya aku bisa menemukan jiwa baru. Jiwa yang membuatku terbebas dari hal yang kusebut hantu pada diriku. Kami bertiga adalah teman dalam perjalanan yang teramat singkat. Saling melengkapi, memberi kenangan, menjadi adik yang sangat dirindukan, dan orangtua yang tidak mungkin kembali lagi. Tidak tahu apakah kami telah menjalankan lakon-lakon kami dengan baik, tapi aku merasa sangat senang berada diantara mereka berdua. Perasaan bahagian yang selama ini aku rindukan. Perasaan hangat yang memenuhi seluruh ruang kosong dalam hatiku.

Tidak ada komentar: