Minggu, 21 Juli 2013

SECRET (bag IV)



Keluar dari kantor masalah belum berhenti menimpa Widia dan 4 temannya yang lain. Di mading ada yang menarik semua orang di sekolah, tidak terkecuali para guru dan kepsek. Dona segera menggiring kelima-limanya untuk melihat hal menarik yang ada di mading. Di mading, foto secret di tempat gelap yang diambil dari sebuah surat kabar dipajang. Foto secret diperbandingkan dengan Foto Widia dan yang lainnya. Yang menarik adalah dari susunan, gaya, dan tinggi masing-masing sama. Dibawah kedua foto yang diperbandingkan tertulis beberapa kalimat. Kalimat yang menepis pendapat banyak orang bahwa secret adalah sekumpulan pemuda cerdas. Yang sebenarnya salah satu dari secret adalah perempuan dan yang menjabat dalam posisi itu tentu saja Widia. Karena penampilannya yang suka mengenakan seragam laki-laki yang menimbulkan rumor bahwa secret beranggotakan 5 orang laki-laki. Bisik-isik tidak sedap mulai bermunculan satu persatu.
"Bukannya memiliki organisasi seperti itu dilarang keras di sekolah kita,"Audy berkomentar. Audy sama sekali tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dimading.
"Iya," Vitre yang baru datang menimpali. " Bisa dianggap scandal dan akan dikeluarkan dari sekolah jika terbukti benar."
"Kata-katamu itu terlalu menunjukkan bahwa kamu percaya bahwa mereka adalah secret," Dona beranggapan. Dona merasa ada hal yang disembunyikan Vitre.
"Oh iya, aku hanya mengingatkan," jawab Vitre.
Tidak lama kemudian Widia dan yang lainnya masuk kantor lagi. Mereka diminta mengkonfirmasi tentang isu-isu bahwa bahwa mereka adalah secret. Kelimanya mengelak. Untuk saat ini Kepsek menerima keterangan mereka sampai pengusutan selesai. Untuk berjaga-jaga, Widia diminta mengubah penampilannya agar isu-isu tentang secret tidak semakin luas beredar. Kelimanya diizinkan kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran selanjutnya. Dalam perjalanan menuju kelas, Egi teringat tentang sesuatu dibalik buku catatan Audy yang tisak sengaja dilihatnya.
'Mulai menjaga jarak dan tetap waspada'.
Widia menyebar sms kepada teman-temannya.
Dafan yang berada dikelasnya menghela nafas. Guru bidang study menjelaskan di depan kelas tapi pandangannya justru keluar jendela. Memikirkan kemungkinan Audy adalah orang yang menikam mereka dari belakang sangatlah mengecewakan. Keempat temanya yang lainya pun berpikiran sama. Mereka sudah sangat nyaman dekat dengan Audy. Memikirkan Audy yang manis berubah menjadi begitu licik tidak ada yang bisa menerimanya.
"Sayang sekali, padahal aku sudah mulai menyukainya,"Windy berkata entah pada siapa. Ia duduk di kursi kemudian menaikkan kakinya di meja, tepat didepan wajah Widia. Widia yang tidak terima menurunkan dengan paksa kaki Windy.
Mereka sekarang berada di cafe. Cafe belum dibuka karena mereka harus rapat mendadak terlebih dahulu.
"Apa, jadi kamu juga ?" Egi menimpali.
"Apa maksudmu kamu juga ?" sengit Windy.
"Sudah-sudah," Widia segera mwnghentikan. Padahal ini bukan waktu yang tepat untuk mempermasalhkan hal itu. Ada hal yang harus mereka utamakan agar identitas secret tetap aman.
"Seandainya bukan dia yang tertidur di pojok cafe saat itu, apa jadinya tetap akan seberat ini ?" Dafan yang bertopang dagu bertanya. Pikiran kembali ke sore saat mereka mendapati Audy tertidur di cafe.
"Kata orang sih pertemuan pertama yang mengesankan akan terus berhubungan kepertemuan selanjutnya," Windy ikut-ikutan bertopang dagu.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan ?" Satria kembali kepermasalah awal yang harus mereka pecahkan.
"Tetap selidiki, berpikir kalau Audy pelakunya sangat tidak bisa diterima," Widia memberikan kan jawaban dan rapat ditutup.
Berita tentang secret tidak berhenti sampai difoto. Gosip-gosip lain mulai beredar. Entah siapa yang lebih dulu mendengarnya, tapi langsung saja gosip itu merajai sekolah. Gosip-gosip tidak benar mengenai alasan secret masuk ke sekolah mereka. Dalam gosip-gosip itu menyiratkan niat jahat secret terhadap sekolah mereka. Audy merasakan perubahan sikap kelima orang itu padanya. Mereka menjaga jarak. Audy sama sekali tidak mengerti apa salahnya sehingga mendapat perlakuan itu. Ketidak akraban yang terjadi antara Audy dan kelima idola sekolah terlihat kacamata T2 dkk. Mereka menganggap masa jaya Audy telah habis dan akan memanfaatkan situasi bagus ini untuk menarik kelima idola sekolah kearah mereka.
"Mungkin mereka bersikap baik dan ramah diawal hanya sebagai topeng. Nah sekarang saat popularitas mereka turun sifat asli mereka terlihat," kata Vitre berusaha menghibur Audy.
Audy tidak menanggapi apapun. Ia hanya berpikir mungkin saja apa yang dikatakan Vitre itu benar. Jika begitu  Audy tidak perlu bersedih karena kehilangan beberapa teman.
"Kalian sedang membicarakanku ya," seseorang menyahut dari belakang.
"Aan," seru Audy dan Vitre bersamaan. Mereka tidak percaya melihat Aan kembali mengenakan seragam putih abu-bu.
"Kenapa kalian begitu terpesonanya melihat penampilanku," kata Aan dengan penuh percaya dirinya. "Sekarang katakan padaku apa yang kalian ceritakan tadi," tambahnya. Tangan Aan merangkul Audy dan Vitre.
"Lepaskan tanganmu," kata Vitre sambil menonjok Aan.
Aan, Audy dan Vitre sudah berteman sejak mereka kecil. Aan lebih tua 2 tahun. Sebenarnya Aan sedang melanjutkan studynya di Paris, entah apa yang membawanya pulang saat ini. Katon sebenarnya bukan dari kecil tidak menyukai Aan, tapi baru di saat Audy tertimpa kecelakaan karena ulah nakal Aan.
"Iya, iya waktu itu Aan disengat lebah karena usil. Wajahnya bengkak sebelah. Sekitar seminggu dia sembunyi di kamar karena malu," Audy cekikikan mengingat bagaimana wajah Aan saat itu.
Ketiganya bercerita banyak. Mereka bernostalgia tentang masa kecil yang menyenangkan. Berada diantara Vitre dan Aan membuat Audy merasa lebih baik. Mereka tidak henti-hentinya tertawa. Aan tipe yang humoris dan menyenangkan. Seharian bersamanya tidak akan bosan.
Mereka masih seru-seruan bercerita saat Bu Rona datang dan berkaca pinggang. Melihat Bu Rona Audy dan Vitre segera menjaga jarak dengan Aan. Audy dan Vitre hanya cengar-cengir mendengarkan Aan yang masih asyik bercerita.
"Ehem," Bu Rona berdehem. Aan terkejut melihat seorang seorang guru berdiri di belakangnya entah sejak kapan. Aan tersenyum dan mulai bertingkah sok akrab.
"Siswa baru ya, dari kelas mana ?" Bu Rona bertanya.
"Saya... satu kelas dengan mereka," Aan mengedipkan mata kearah Audy dan Vitre mencari pendukung.
"Apa itu benar ?"
Tidak sesuai dengan harapan, Audy dan Vitre serempak menggeleng bersamaan.
"Ka... kalian penghianat," sunggut Aan. Bu Rona menarik telinga Aan menjauh dari kantin untuk dihakimi.
Sebenarnya orang yang melaporkan hal ini pada Bu Rona adalah T2 dkk. Ujung-ujungnya Audy dan Vitre kena imbasnya juga. Mereka dianggap menyelundupkan orang luar ke sekolah oleh karena itulah mereka di hukum membersihkan green house sekolah. Kali ini usaha T2 dkk berhasil.
"Wah kalian benar-enar cocok menekuni profesi ini," Tyas memulai.
"Profesi rendahan untuk para bawahan," Tyas menimpali sementra dua temannya yang lain tertawa dengan suara yang dikeras-keraskan.
Audy dan Vitre tidak menanggapi. Mereka tetap fokus membersihkan tanaman-tanaman pengganggu. Keduanya menutup telinga dengan berpura-pura tidak menyadari kehadiran para penggangu. Bagi T2 dkk, menjadi yang tidak dianggap tidak lantas membuat mereka segera pergi. Keempatnya justru labih parah lagi. Mereka mengacau dan menggangu pekerjaan Audy dan Vitre. Hal seperti ini tidak bisa dibiarkan. Audy dan Vitre memungut sesuatu dari pot tanaman.
"Mau apa kalian ?" Tyas bertanya waspada melihat Audy dan Vitre berdiri di depan mereka layaknya orang yang akan mengangkat senjata untuk berperang. Audy dan Vitre menyeringai bersamaan kemudian melemparkan cacing-cacing yang mereka ambil kearah T2 dkk. Sepontan tempat itu berubah begitu berisik oleh teriakan-teriakan T2 dkk. Mereka melompat-lompat geli dan jijik.
"Mau lagi ?" Vitre berbaik hati menawarkan.
Keempatnya pergi namun tidak berhenti mengumpat. Audy dan Vitre tertawa senang. Mereka tos, puas melihat wajah-wajah musuh yang sukses mereka kerjai.

Suatu sore Audy dan Dona jalan-jalan. Mereka bertemu dengan Riki yang berjalan dengan menggunakan tongkat. Setelah pertandingan yang terakhir, sikap Riki berubah lebih baik. Mereka bertiga berbicara membahas kaki Riki yang digips. Luka itu ternyata terjadi saat dipertandingan terakhir waktu itu, saat Ia berencana mencelakai Audy tapi justru ia sendiri yang terluka.
"Maafkan aku," Audy merasa bersalah.
"Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Memang sakit tapi akukan laki-laki sakit sedikit sudah biasa," Riki berusaha terlihat baik-baik saja.
"Hahaha... Laki-laki memang harus kuat, lihat saja dia kuatkan," Dona memukul-mukul punggung Riki hingga tongkatnya jatuh.
"Lalu, bagaimana dengan basketmu ?" Audy bertanya.
"Memang apa yang bisa dilakukan pemain yang untuk berdiri tegak saja tidak bisa," jawab Riki namun ia tetap memasang senyum.
Audy mengerti pasti Riki sangat sedih. Bagaimana tidak, bagi orang yang sangat menyukai bidangnya pasti akan kehilangan jika kebanggaannya selama ini dilepas tanpa sisa darinya. Bagi Riki basket bukan hanya kegemaran tapi sudah menjadi kesehariannya.
"lukanya pasti parah," Audy menduga-duga. Hening. Tiba-tiba Audy teringat saat tulang tangan Kakaknya luka, Katon berobat disuatu tempat dan tidak sampai seminggu tangan kanan Katon sudah baikan. Audy segera menghubungi kakaknya dan memintanya datang. Barangkali orang yang mengobati Katon juga bisa membantu menyembuhkan kaki Riki.
Tiga puluh menit menunggu Katon datang. Audy mencitakan pada kakaknya tentang Riki, kemudian Katon bertanya pa Riki tentang seberapa parah lukanya. Riki mengatakan semua yang dikatakan dokter pada orangtuanya sedetail mungkin dengan harapan tinggi Katon bisa memberikan jalan keluar.
"Bagaimana Kak ?" Audy bertanya memburu. Katon terdiam beberapa saat.
"Insyaallah masih bisa. Orang itu adalah Kakek Aan. Beliau ahli pengobatan tulang alternatif," kata Katon akhirnya. Semua bernafas lega mendengarnya. "Tapi..."
"Tapi kenapa ?" Riki bertanya.
"Kamu harus persiapkan mentalmu," jawab Katon. "Jika kamu belum pernah merasakan penderitaan antara hidup dan mati maka saat itu lah kamu akan merasakannya."
"Apa ?"
"Rasa sakitnya luar biasa menyiksa," Katon merubah karakter wajahnya menjadi angker. Riki menjadi bergidik sendiri. Kata-kata Katon terdengar sangat nyata. Tapi Riki adalah laki-laki dan kalimatnya tentang sakit sedikit tidak apa-apa tidak bisa ia tarik lagi.

Audy sedang berada di toilet. Ia sedang mencuci tangan dan merapikan rambut pendeknya yang berantakan. Audy memainkan permen yang ada di mulutnya. Tiba-tiba mendengar seseorang memanggil namanya padahal ia tahu ia seorang diri di toilet membuat permen yang ada dimulutnya tertelan. Audy terbatuk-batuk berusaha memuntahkan kembali permen itu. Widia, orang yang tadi memanggil namanya mendekat karena khawatir. Widia menyalakan keran, ia tampung air keran dengan kedua tangannya kemudian diminumkan pada Audy. Beberapa kali Widia mengulang hal yang sama sampai ia yakin Audy sudah baik-aik saja.
Sementara itu Vitre dan Dona yang sedang menunggu Audy di kantin mulai bosan. Dari arah kejauhan terdengar adik kelas ribut-ribut mengatakan ada kakak kelas yang berkelahi di toilet. Mendengar hal itu Vitre dan Dona saling pandang kemudian buru-buru menuju toilet untuk mengetahui siapa yang sedang berkelahi karena jangan sampai itu adalah Audy.
"Aku menggangapmu temanku. Tapi tidak akan aku biarkan kamu menjelek-jelekkan Vitre didepanku. Dia tidak mungkin seperti itu," kata Audy tegas. Audy dan Widia benar-benar berkelahi. Bukan sekedar jambak-ambakan atau tampar-amparan. Tapi benar-benar berkelahi. Perkelahian Wanita didekade ini. Pintu toilet jebol, rusak parah. Vitre mendekat berusaha menengkan Audy. Namun reaksi yang ditunjukkan Audy pada Vitre bukannya baik melainkan kebalikannya. Tidak pernah sebelumnya Audy bersikap seperti itu.
"Ada apa denganmu, benarkah kamu yang melakukan semua itu ?" tukas Audy menepis tangan Vitre. Vitre hanya diam tidak menjawab. "Kenapa jadi selicik ini, sengaja menjadikanku kambing hitam untuk menjatuhkan mereka." Audy kecewa. Sangat kecewa ditambah lagi Vitre yang hanya diam saja tidak membela diri atau mengatakan hal yang lainnya. Guru-guru berdatangan. Semua tersangka digiring kekantor untuk membuat pengakuan. Akhir-akhir ini Audy jadi semakin sering keluar masuk kantor dan itu adalah masalah besar. Audy dilarang pulang sebelum orangtuanya datang. Hari ini selain di sekolah Audy akan mendapat masalah dengan Ayahnya. Selama ini orangtua tidak pernah sampai dipanggil ke sekolah selain untuk menerima hal yang baik-baik. Kali ini Ayahnya pasti akan marah besar.
Benar saja. Sampai di rumah Ayah benar-benar marah besar. Audy dihukum tidak boleh menggunakan kekuatannya untuk apapun selama sebulan. Ditambah lagi latihan akan lebih diperberat.
Disaat Audy menjalani hukuman tidak boleh menggunakan kekuatannya itulah musuh bergerak. Suatu malam saat Audy berjalan-jalan sendiri mencari udara segar ada 3 orang aneh memakai pakaian ninja menyerangnya. Audy panik. Timbul pikiran kalau ia melawan ayahnya pasti akan memaklumi karena ini keadaan denting. Tapi Audy berpikir lagi, sikap Ayahnya terlalu tegas sekali tidak tetap tidak. Jika Audy membangkang Ayah pasti akan memperberat hukumannya. Akhirnya Audy memutuskan untuk bertahan.
"Tunggu," kata Audy ketika Ninja-ninja itu akan kembali menyerangnya. Ketiga ninja itu benar-enar berhenti. Audy meraba kantong celananya. Audy mengeluarkan ponsel dan berusaha menghubungi kakaknya.
"Assalamualaikum, kakak tolong.... ada yang mau menculikuuu !!!" Audy memekik berusaha menjelaskan situasinya. Ketiga ninja yang berhasil dibohongi itu merasa bodoh. Mereka menjadi berang. Mereka kembali menyerang Audy dan kali ini tanpa syarat. Audy berusaha sangat keras untuk bertahan, sayangnya itu bukan pilihan yang baik. Dafan dan Egi ada disana. Keduanya kebetulan lewat. Heran melihat Audy tidak balik melawan membuat Egi akan turun tangan, namun Dafan menghentikan. Bukan karena ia tidak ingin menolong Audy melainkan mereka juga harus melindungi identitas mereka. Lagi pula Audy masih baik-baik saja. Audy bukanlah gadis yang lemas, kalau terdesak ia pasti akan membalas juga.
"Lepaskan dia !" pekik seseorang berlari mendekat. "Berani sekali kalian menyentuh Audyku."
Orang itu Aan. Ia membawa kayu sebagai alat beladirinya. Tongkat adalah senjata andalan yang dibutuhkan Aan. Aan berjuang dengan gagahnya. Sayangnya hal itu hanya diawal. Selain kalah jumlah Aan juga kalah fisik. Aan cepat kelelahan akhirnya ia hanya bisa menyumbangkan diri sebagai yang dianiyaya.
"Katanya akan ku bereskan. Apanya yang akan ku bereskan ?"
"Satria, sejak kapan kamu disana ?" tanya Egi karena tiba-tiba saja Satria sudah bertengger diatas pohon tanpa tahu kapan datangnya. Satria tidak menjawab pertanyaan Egi karena ada yang lebih menari yakni kedatangan Katon.
"Penolong yang sesungguhnya sudah datang. Kalian jangan berisik." Kali ini suara Windy yang terdengar. Windy tidak sendiri karena ternya Widia juga ikut bersamanya.
"Kalian juga disini ?" kata Dafan dan Egi bersamaan. Mereka heran melihat kelakuan teman-temannya. Apa datang tiba-tiba sudah menjadi trend saat ini.
tobecontinue

Tidak ada komentar: