Keesokan harinya Audy
datang ke sekolah lebih cepat dari hari-hari biasanya. Perasaannya masih buruk
karena hal yang kemarin terjadi. Audy merasa hari ini tidak akan menjadi lebih
baik. Dugaannya itu sangat tepat. Karena baru saja kakinya memasuki gerbang
sekolah, tatapan-tatapan dari teman-teman yang mengenalnya sebagai pengacau
kemarin langsung menyambutnya dengan sangat tidak menyenangkan. Meski Audy
sudah berusaha datang cepat untuk menghindari hal-hal seperti ini, ia tetap
kalah cepat dari beberapa orang. Audy sempat beranggapan jangan-jangan mereka
yang datangnya sangat pagi ini sebenarnya tidur di sekolah. Audy berjalan
melewati mereka menuju kelasnya. Walau sekilas, jelas Audy mendengar
orang-orang itu membicarakan dirinya macam-macam. Ada yang mengatai 'apa
gunanya hebat jika memalukan' atau cibiran lain 'percuma bisa menembak bagus
jika bermain sendiri'. Audy memang telah mempersiapkan mental untuk menghadapi
hal semacam ini. Tapi tetap saja, menjadi bahan pembicaraan yang tidak
menyenangkan adalah tidak menyenangkan juga.
Audy masuk ke kelas.
Dalam kelas ada 2 orang yang duduk di pojokan. Mengetahui Audy yang datang,
mereka serempak menatap sinis Audy hanya tertunduk. Berita memang sangat cepat
di sekolah mereka. Sekarang mungkin saja satu sekolah telah tahu aksi
memalukannya kemarin. Dan itu artinya dirinya sedang menjadi bahan pembicaraan
di setiap sudut sekolah. Audy duduk manis di tempatnya. Menikmati waktu yg
membosankan sambil memperhatikan pintu, menghitung sudah berapa orang yang
datang. Tidak lama kemudian sosok yang sangat dekat Audy kenal memasuki kelas.
Vitre.
"Audy bagaimana
keadaanmu. Sudah lebih baik ?" Vitre bertanya.
Audy hanya menjawab dengan anggukan malas. Vitre
tahu itu artinya belum benar-benar baik. "Ini, buku catatan yang ku
pinjam. Thanks yo," tambah Vitre meletakkan buku catatan di meja depan
mata Audy. Tidak lama kemudian ketua kelas datang menyampaikan pesan Kepsek
untuk bertemu dengan Vitre di kantor. Vitre melambai pergi.
Kini Audy sendiri lagi.
Ia menghela napas dan ke luar kelas. Buku catatannya ia biarkan di atas meja
tanpa ia sentuh sedikit pun. Karena itulah Audy tidak sadar ada yang terselip
secara tidak sengaja dicatatannya. Audy pergi, Egi dan Widia baru tiba di
kelas. Mengkhawatirkan keadaan Audy, Egi memperhatikan bangku Audy. Tasnya di
laci namun orangnya entah berada dimana. Egi terus memperhatikan bangku Audy
sampai ia menyadari ada sesuatu yang terselip di buku catatan di atas meja
Audy. Egi celingukan. Penasaran dan semakin ingin tahu apa gerangan yang
terselip itu.
Audy terus melangkah.
Tanpa sadar Audy mengantarnya sampai ke lapangan basket. Audy kini berdiri di
depan ring dengan jarak tembak. Audy mulai beraksi. Ia bergaya seolah sedang
memegang bola kemudian Audy menembak. Dalam pikiran Audy bola yang di lemparnya
itu mengenai papan ring dan memantul kembali kearahnya. Dengan sigap Audy
menangkap kembali bola yang terpantul kearahnya. Usaha Audy untuk mendapatkan
bola terasa begitu nyata. Audy kembali memainkan imajinasinya, ia
memantul-mantulkan bola. Tiba-tiba saja cibiran teman-teman lain tentang
dirinya mengiang begitu nyaring di telinga Audy. Audy menggeleng-gelengkan
kepalanya. Ia mengerti dengan kekesalan teman-temannya. Jika boleh jujur
sebenarnya Audy juga ada rasa kesal terhadap dirinya sendiri. Tapi mau
bagaimana lagi. Audy kembali fokus. Kembali ia hidupkan imajinasinya. Ada bola,
dan beberapa teman yang berdiri di lapangan. Audy mulai mengoper. Lemparannya cukup
keras tapi seseorang bisa menangkapnya. Orang itu berputar menghindari musuh,
meskipun gerakannya tidak secepat biasanya karena kakinya sedang sakit tapi
orang itu berhasil mendapatkan satu poin. Itu Satria, dan apa yang Audy lihat
bukanlah imajinasinya melainkan nyata.
"Dalam satu tim
yang paling penting adalah kerjasama," kata Satria memberi nasihat.
"Aku tahu dan itu
yang belum aku punya," Audy menjawab. Audy mengalihkan tatapannya.
Anak-nak basket mulai berdatangan. Itu artinya jam masuk kelas tidak akan lama
lagi. Audy pamit, ia berjalan gontai meninggalkan lapangan melewati kerumunan
siswa laki-laki yang baru datang. Sebelum ke kelas, Audy mampir ke toilet. Audy
hanya mencuci tangan. Ditatap dirinya yang murung di cermin besar yang ada di
depannya.
"Semangat,
semangat, semangat," kata Audy pada dirinya sendiri. "Selama masih
ada hari esok semua akan menjadi lebih baik," tambah Audy meyakinkan
dirinya sendiri agar bisa lebih kuat. Setelah memberi semangat pada dirinya
sendiri, Audy jadi memiliki kekuatan untuk berjalan tegak kembali ke kelas.
Yang pasti akan lebih berat adalah mengadapi cibiran T2 dkk. Keempat orang itu
memang sangat mahir mencibir, apalagi dalam untuk kondisi Audy saat ini. Tapi
tidak apa. Menghadapi T2 dkk bukanlah yang pertama. Audy akan menganggap
orang-orang itu sebagai tembok penghalang terbesar dalam hidup Audy yang harus
bisa ia robohkan.
Hari yang panjang ini
akhirnya bisa dilalui Audy dengan baik. Malam ini ia berada di lapangan basket
taman bermain anak di pinggir jalan. Lapangan dikelilingi 4 lampu taman sebagai
penerang. Biasanya lapangan itu di gunakan orang-orang yang telah bekerja untuk
bermain basket. Tapi Audy beruntung karena malam ini kosong. Audy sedang
menunggu Vitre dan Dona. Mereka janjian bertemu di tempat itu. Mereka mengajak
bermain basket bersama, barangkali mereka bisa mengajari Audy. Tapi
kelihatannya kedua temannya kompak terlambat. Sambil menunggu Audy bermain
sendiri. Kesulitan permainannya adalah dalam kerjasama. Audy duduk di atas bola
sambil merenung. Ditatapnya langit. Cerah dengan gemerlapnya bintang-bintang
yang menghias. Audy masih terpesona dengan keindahan langit saat Satria datang.
"Mana teman-temanmu
?" Satria bertanya.
"Teman-teman
?" Audy balik bertanya heran. Bagaimana gerangan Satria tahu kalau
teman-temannya akan datang.
"Hari ini Vitre dan
Dona memintaku Mengajarimu basket," Satria menjelaskan. Sebenarnya kata
Virte dan Dona yang meminta itu bohong. Yang sebenarnya adalah Satria sendiri
yang menawarkan diri sebagai pelatih. Audy yang sama sekali tidak tahu menahu
tentang rencana ini hanya terdiam bingung. Tidak lama kemudian Vitre dan Dona
datang. Meski kedua temannya hanya senyum-senyum tidak menjelaskan, Audy
berterimakasih atas perhatian 2 temannya itu.
Mereka pemanasan dan
Satria mulai menjelaskan peraturan serta teknik-teknik bermain basket. Audy
sangat serius memperhatikan setiap kalimat yang keluar dari mulut Sartia. Tidak
waktu lama banyak bisa ia pahami. Sebenarnya di sekolah juga diajarkan teknik
bermain basket sebagai pelajaran olahraga. Tapi, Audy yang sering bolos saat
jam olahraga banyak terlewat pelajaran-pelajaran penting, termasuk basket.
Saat yang istirahat
karena lelah, Audy masih dengan semangat '45nya memainkan bola basket dan
memperaktekkan pelajaran yang baru diterimanya dari Satria.
"Terimakasih karena
kalian sudah mau datang," kata Satria seusai meneguk air mineralnya. Nada
suaranya rendah hanya sebatas bisa didengar oleh Vitre dan Dona.
"Sudah seharusnya,
kamikan temannya," Vitre berkomentar
"Sebagai temannya seharusnya kami yang merencanakan ini bukannya Satria.
Ternyata selain keren-keren kalian juga tipeyang perhatian," Dona
menambahkan. "Aku jadi semakin bangga mengenal kalian." Dona mulai
dengan sifatnya yang berlebihanVitre tersenyum, kemudian tiba-tiba saja
teringat sesuatu. Seharusnya ia menjaga jarak dengan orang-orang ini,
bukannyabukanya jadi ikut-ikutan merasa kagum. Ia tidak boleh terseret seperti
yang lainnya hanya karena penampilan cantik mereka. Vitre menarik nafas,
berusaha menguatkan dirinya agar tetap fokus meneruskan rencana balas
dendamnya. Ia harus memberi pelajaran pada orang-orang yang telah menghancurkan
kehangatan keluarganya.
Keesokan harinya di sekolah Satria telah merencanakan sesuatu. Pulang sekolah
nanti ia meminta keempat temannya untuk menunggunya. Meskipun biasanya mereka
memang pulang bersama tapi hari ini ada sesuatu yang tidak biasa. Satria memang
suka sekali meninggalkan kesan misterius. Begitulah caranya meninggalkan kesan
dan membuat teman-temannya penasaran.
"Sedang membaca
buku apa ?" Dafan bertanya pada Audy. Mereka berada di perpustakaan
sekolah.
"Hanya ingin lebih
tahu tentang basket. Ternyata kalau dipelajari dengan serius menyenangkan
juga," jawab Audy belum mengalihkan tatapannya dari buku pelajaran pendidikan
kesehatan bab bola basket. Dafan hanya mengangguk,
tidak ingin melanjutkan pembicaraan karena takut mengarah ke pertandingan yang
mengecewakan kemarin. Dafan tidak ingin mengingatkan Audy lagi hal buruk itu
dan membuat Audy kembali merasa bersalah. Keadaan perpustakaan hening. Hp Audy
bergetar, ada pesan dari Satria masuk.
"Aku duluan,"
kata Audy setelah membaca isi pesan dari Satria.
Satria menemui Audy di luar perpustakaan. Dafan
bisa melihat keduanya dari jendela. Audy dan Satria sedang membahas sesuatu
yang ringan. Diam-diam Dafan penasaran dan ingin tahu. Saat ia akan menguping,
ternyata Audy dan Satria telah selesai dan kembali ke kelas masing-masing.
Bel tanda usainya
pelajaran terasa sangat lama. Waktu berjalan begitu lambat, dan guru bidang
study yang mengajar terlihat sangat menikmati wajah-wajah menderita semua
siswanya karena menunggu bel pulang yang tak kunjung terdengar. Suara tik-tik
jam dinding memenuhi kelas.
"Satria kemana ya ?
kita diminta menunggu disini dia malah belum datang," protes Egi
menggerutu. Egi dan yang lainnya menunggu Satria di lapangan basket. Semakin
lama menunggu kedatangan Satria membuat mereka semakin penasaran tentang apa
yang sedang direncanakan teman mereka yang satu itu.
"Jangan-jangan ini berhubungan dengan misi
rahasia," Duga Windy. Tiba-tiba -bletak- Widia menjitak kepala Windy.
Windy mengaduh memegangi kepalanya.
"Harus berapa kali
aku ingatkan, jangan sebut-sebut itu jika berada di sekolah," Widia
kembali mengingatkan apa yang sudah terlalu sering ditekankannya. Meski kata
Misi Rahasia tidak spesifik, namun mereka harus tetap waspada karena bukan hal
yang tidak mungkin jika suatu saat ada yang tanpa sengaja mendengar kemudian
curiga sampai menyelidiki kedatangan mereka.
Terlihat dari kejauhan
langkah tegap penuh kebanggan Satria. Satria tidak datang sendiri, ia bersama
Audy.
"Maaf menungu
lama," kata Satria pada teman-temannya.
"Jadi ?" Dafan
bertanya. "Apa rencanamu ?"
Satria mengatakan apa
yang ada dipikirannya. Tentang rencananya mengadakan pertandingan ulang dengan
Riki untuk mengembalikan kehormatyan mereka. Setelah ini mereka akan segera
meluncur ke sekolah Riki, sebelum target mereka buyar.
"Tapi akukan baru
berlatih sekali," Audy meragukan kemampuannya sendiri. Ia tidak ingin
kembali mengulang kesalahan yang sama dan mengecewakan teman-temannya.
"Jangan khawatir,
aku akan membantu," Windi berkata. Ia sedang berusaha mengambil simpati
Audy.
"Aku juga," Egi
menyerobot tidak ingin kalah. Audy sangat tersanjung
dengan dukungan teman-temannya. Hal itulah yang sangat ia butuhkan untuk
membangkitkan kepercayaan dirinya. Widia dan Dafan juga mengangguk memberikan
dukungan.
"Baik. Hari ini aku
akan berjuang habis-habisan," kata Audy bersemangat. Kepercayaan dirinya
suda terisi penuh. Sekarang ia sudah sangat siap menghadapi semuanya.
"Kalau begitu jika
kali ini kamu gagal, kami akan benar-benar marah," Widia menimpali. Audy
siap. Bagi Audy kata-kata Widia barusan adalah tantangan untuknya agar dapat
menang.
Semua telah siap dan
mereka tinggal berangkat. Tapi tiba-tiba saja Vitre datang tergopoh-gopoh.
Vitre datang membawa berita besar yang gawat. Berita gawat tingkat tinggi
karena mereka harus segera menemukan jalan keluarnya baru bisa meninggalkan
sekolah. Audy dan Vitre sama-ama mengendap-endap meninggalkan sekolah. Mereka
menyelipkan diri diantara gerombolan anak-anak lain yang akan meninggalkan
sekolah. Sayangnya masalah yang mereka hadapi memiliki hidung yang sangat
sensitif. Karena itulah sebentar saja keberadaan keduanya bisa segera terlacak
olehnya. Mereka ketahuan. Audy yang lebih dulu ketahuan, ia terjatuh saking
tegangnya.
"Audy ! aku sangat
merindukanmu," Orang yang berusaha keras Audy dan Vitre hindari
berseru. Terlalu girangnya bertemu dengan Audy orang itu sampai tidak dapat
mengendalikan dirinya. Orang itu berusaha menggapai Audy untuk memeluknya. Audy
berlari menghindar kearah Vitre yang masih bersembunyi.
"Vitre, "
orang itu berseru saat melihat wajah Vitre diantara beberapa orang. Vitre
mempersiapkan tinjunya waspada, dan benar saja -buk- Vitre menjotos pria dengan
otak mesum itu. Pria yang bernama Aan itu mengaduh dan menjaga jarak. Tindakan
Vitre tepat. Menghadapi orang seperti Aan memang harus dengan menggunakan
kekerasan.
"Kalian masih sama
seperti dulu. Audy masih saja manis dan Vitre galaknya tidak berubah,"
komentar Aan.
"Ini bukan di
Barat, jaga kelakuanmu," tandas Vitre. "Pantas saja kak Katon
menyebutmu pria mesum."
Mendengar nama Katon hari cerah Aan berubah
buram. Petir seperti menyambar tepat diubun-ubunya. Benar saja, baru disebut
Katon telah tiba di sekolah Audy. Katon sangat anti dengan orang yang bernama
Aan macam ini, jadi tidak akan dia biarkan adiknya berlama-lama bertemu Aan.
"Sudah aku duga.
Kau otak mesum pasti akan datang kesini," cibir Katon.
"Heh, aku tidak ada
urusan denganmu. cepat menyingkir atau kau akan menyesal," Aan mengancam.
Ia memasang kuda-kuda siap mengambil tindakan.
"Apa ?" Katon
berang tidak terima. "Otak mesum kau berani mengancamku," Katon juga
memasang kuda-kuda bersiap mengambil tindakan jika Aan berani memulai. Akhirnya
yang sibuk sendiri kedua orang itu. Audy dan Vitre memanfaatkan hal itu untuk
melarikan diri, kembali ketujuan awal.
Tidak perlu menunggu
lama di gerbang sekolah, karena mereka bisa segera menemukan Riki. Sepertinya
hadir dengan gaya yang begitu mencolok sudah menjadi karakter Riki. Audy
mewakili teman-temannya maju dan mengajukan tantangan. Tidak langsung diterima
karena awalnya Riki menolak dengan berbagai macam alasan. Tapi demi harga diri
sebagai yang ditantang Riki pun tidak bisa menolak. Kedua belah pihak sepakat.
Mereka tidak bertanding di lapangan sekolah melainkan lapangan umum di taman.
Setelah berganti pakaian mereka bertemu lagi di lapangan yang sudah disepakati.
"Apapun yang akan
kalian lakukan tidak bisa merubah keadaan,"kata Riki dengan mulut
besarnya.
Tidak ada yang membalas
kalimat Riki. Mereka hanya harus menunjukkannya. Satria turun sebagai wasit.
Peluit di tiup dan Wasit melambungkan bola ke udara. Dona yang datang
belakangan karena harus mengajak T2 dkk telah siap menjadi saksi permainan
hebat sepanjang masa ini. Di permainan kali ini pihak Audy tidak akan memberi
kesempatan Riki dan teamnya sedikitpun. Usaha Satria berhasil. Audy si payah
mulai bisa memposisikan keadaannya dengan baik. Perubahan Audy yang begitu
drastis itu jujur membuat Riki dan teamnya terpukau. Tidak terkecuali Widia,
Windy, Dafan dan Egi. Permainan Audy memang belum sempurna. Tapi permainan
teman-teman lain yang lebih baik darinya bisa menutupi kekurangan itu. Sampai
beberapa menit permainan berjalan team Riki belum juga mendapatkan poin.
Permainan terus berlanjut dan skor team Riki semakin tertinggal jauh.
Menghadapi kondisi seperti ini, pikiran jahat untuk mengulang permainan yang
curang kembali terbesit dibenak Riki. Dikalahkan telak oleh team yang
memanfaatkan 2 tenaga perempuan didalamnya dalah sangat dan basket adalah
salah satunya.
Kali ini sasaran Riki
adalah Audy. Meski Audy oerempuan tapi fokus permainan terlihat ada pada Audy.
Jika Audy cidera fokus permainan pasti akan kacau bagi kelompok Audy. Sayangnya
Riki salah jika berfikir cara yang sama akan mempan untuk menghadapi Audy. Audy
sudah memperkirakan kemungkinan ini. Saat Riki dan Audy saling berebut bola di
udara, Riki telah mempersiapkan serangannya. Hampir tidak dapat terlihat
bagaimana Audy bisa menghindar meski keduanya melompat sama-sama tinggi.
Kegagalan menyerang Audy berbalik pada diri Riki sendiri. Audy berhasil merebut
bola dan Riki terjatuh lututnya membentur lapangan. suara pekikan Riki membuat
permainan berhenti. Teman-teman Riki segera melakukan pertolongan terhadap
Riki. Namun Riki yang sudah terlanjur kesal bukannya menyambut niat baik
dari teman-temannya melainkan marah-marah.
"Kemenangan adalah
hal penting dalam permainan, tapi bukan sesuatu yang harus dituntut untuk
didapatkan dengan segala cara. Bagaimana mungkin kamu bisa berpikir menang
dengan cara kotor," Audy berkata bijak. Ia telah mendapat banyak pelajaran
berharga dari permainan yang belum lama didalaminya ini.
"Kamu yang hanya
seorang pemain pengganti bagaimana mungkin bisa mengerti harga diri seorang
kapten yang sesungguhnya," Riki menimpali sinis.
"Mingkin iya aku
tidak tahu tentang itu. Tapi bukankah sportifitas, kekompakan dalam taem, serta
kemenangan adalah hal-hal yang lebih penting dari harga diri diri sebagai
seorang kapten seperti katamu," ucap Audy.
"Huh," Tyas
menghembuskan nafasnya malas. "Permainan yang membosankan. Tidsak ada
perrlawanan sama sekali," katanya kemudian mengajak temannya angkat kaki.
Mendengar kata-kata Tyas, Riki terlihat lebih sedih.
"Apa-apaan mereka
itu," dengus Audy.
Dua teman Riki
memapahnya berdiri. Mereka telah bersiap-siap untuk pulang.
"Sekarang... ayo
kita foto-foto merayakan kemenangan," seru Dona heboh saat kendaraan Riki
dan teman-temannya sudah tidak terlihat lagi.
tobecontineu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar