Minggu, 21 Juli 2013

SECRET (bag III)



Keesokan harinya Audy datang ke sekolah lebih cepat dari hari-hari biasanya. Perasaannya masih buruk karena hal yang kemarin terjadi. Audy merasa hari ini tidak akan menjadi lebih baik. Dugaannya itu sangat tepat. Karena baru saja kakinya memasuki gerbang sekolah, tatapan-tatapan dari teman-teman yang mengenalnya sebagai pengacau kemarin langsung menyambutnya dengan sangat tidak menyenangkan. Meski Audy sudah berusaha datang cepat untuk menghindari hal-hal seperti ini, ia tetap kalah cepat dari beberapa orang. Audy sempat beranggapan jangan-jangan mereka yang datangnya sangat pagi ini sebenarnya tidur di sekolah. Audy berjalan melewati mereka menuju kelasnya. Walau sekilas, jelas Audy mendengar orang-orang itu membicarakan dirinya macam-macam. Ada yang mengatai 'apa gunanya hebat jika memalukan' atau cibiran lain 'percuma bisa menembak bagus jika bermain sendiri'. Audy memang telah mempersiapkan mental untuk menghadapi hal semacam ini. Tapi tetap saja, menjadi bahan pembicaraan yang tidak menyenangkan adalah tidak menyenangkan juga.
Audy masuk ke kelas. Dalam kelas ada 2 orang yang duduk di pojokan. Mengetahui Audy yang datang, mereka serempak menatap sinis Audy hanya tertunduk. Berita memang sangat cepat di sekolah mereka. Sekarang mungkin saja satu sekolah telah tahu aksi memalukannya kemarin. Dan itu artinya dirinya sedang menjadi bahan pembicaraan di setiap sudut sekolah. Audy duduk manis di tempatnya. Menikmati waktu yg membosankan sambil memperhatikan pintu, menghitung sudah berapa orang yang datang. Tidak lama kemudian sosok yang sangat dekat Audy kenal memasuki kelas. Vitre.
"Audy bagaimana keadaanmu. Sudah lebih baik ?" Vitre bertanya.
Audy hanya menjawab dengan anggukan malas. Vitre tahu itu artinya belum benar-benar baik. "Ini, buku catatan yang ku pinjam. Thanks yo," tambah Vitre meletakkan buku catatan di meja depan mata Audy. Tidak lama kemudian ketua kelas datang menyampaikan pesan Kepsek untuk bertemu dengan Vitre di kantor. Vitre melambai pergi.
Kini Audy sendiri lagi. Ia menghela napas dan ke luar kelas. Buku catatannya ia biarkan di atas meja tanpa ia sentuh sedikit pun. Karena itulah Audy tidak sadar ada yang terselip secara tidak sengaja dicatatannya. Audy pergi, Egi dan Widia baru tiba di kelas. Mengkhawatirkan keadaan Audy, Egi memperhatikan bangku Audy. Tasnya di laci namun orangnya entah berada dimana. Egi terus memperhatikan bangku Audy sampai ia menyadari ada sesuatu yang terselip di buku catatan di atas meja Audy. Egi celingukan. Penasaran dan semakin ingin tahu apa gerangan yang terselip itu.
Audy terus melangkah. Tanpa sadar Audy mengantarnya sampai ke lapangan basket. Audy kini berdiri di depan ring dengan jarak tembak. Audy mulai beraksi. Ia bergaya seolah sedang memegang bola kemudian Audy menembak. Dalam pikiran Audy bola yang di lemparnya itu mengenai papan ring dan memantul kembali kearahnya. Dengan sigap Audy menangkap kembali bola yang terpantul kearahnya. Usaha Audy untuk mendapatkan bola terasa begitu nyata. Audy kembali memainkan imajinasinya, ia memantul-mantulkan bola. Tiba-tiba saja cibiran teman-teman lain tentang dirinya mengiang begitu nyaring di telinga Audy. Audy menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mengerti dengan kekesalan teman-temannya. Jika boleh jujur sebenarnya Audy juga ada rasa kesal terhadap dirinya sendiri. Tapi mau bagaimana lagi. Audy kembali fokus. Kembali ia hidupkan imajinasinya. Ada bola, dan beberapa teman yang berdiri di lapangan. Audy mulai mengoper. Lemparannya cukup keras tapi seseorang bisa menangkapnya. Orang itu berputar menghindari musuh, meskipun gerakannya tidak secepat biasanya karena kakinya sedang sakit tapi orang itu berhasil mendapatkan satu poin. Itu Satria, dan apa yang Audy lihat bukanlah imajinasinya melainkan nyata.
"Dalam satu tim yang paling penting adalah kerjasama," kata Satria memberi nasihat.
"Aku tahu dan itu yang belum aku punya," Audy menjawab. Audy mengalihkan tatapannya. Anak-nak basket mulai berdatangan. Itu artinya jam masuk kelas tidak akan lama lagi. Audy pamit, ia berjalan gontai meninggalkan lapangan melewati kerumunan siswa laki-laki yang baru datang. Sebelum ke kelas, Audy mampir ke toilet. Audy hanya mencuci tangan. Ditatap dirinya yang murung di cermin besar yang ada di depannya.
"Semangat, semangat, semangat," kata Audy pada dirinya sendiri. "Selama masih ada hari esok semua akan menjadi lebih baik," tambah Audy meyakinkan dirinya sendiri agar bisa lebih kuat. Setelah memberi semangat pada dirinya sendiri, Audy jadi memiliki kekuatan untuk berjalan tegak kembali ke kelas. Yang pasti akan lebih berat adalah mengadapi cibiran T2 dkk. Keempat orang itu memang sangat mahir mencibir, apalagi dalam untuk kondisi Audy saat ini. Tapi tidak apa. Menghadapi T2 dkk bukanlah yang pertama. Audy akan menganggap orang-orang itu sebagai tembok penghalang terbesar dalam hidup Audy yang harus bisa ia robohkan.

Hari yang panjang ini akhirnya bisa dilalui Audy dengan baik. Malam ini ia berada di lapangan basket taman bermain anak di pinggir jalan. Lapangan dikelilingi 4 lampu taman sebagai penerang. Biasanya lapangan itu di gunakan orang-orang yang telah bekerja untuk bermain basket. Tapi Audy beruntung karena malam ini kosong. Audy sedang menunggu Vitre dan Dona. Mereka janjian bertemu di tempat itu. Mereka mengajak bermain basket bersama, barangkali mereka bisa mengajari Audy. Tapi kelihatannya kedua temannya kompak terlambat. Sambil menunggu Audy bermain sendiri. Kesulitan permainannya adalah dalam kerjasama. Audy duduk di atas bola sambil merenung. Ditatapnya langit. Cerah dengan gemerlapnya bintang-bintang yang menghias. Audy masih terpesona dengan keindahan langit saat Satria datang.
"Mana teman-temanmu ?" Satria bertanya.
"Teman-teman ?" Audy balik bertanya heran. Bagaimana gerangan Satria tahu kalau teman-temannya akan datang.
"Hari ini Vitre dan Dona memintaku Mengajarimu basket," Satria menjelaskan. Sebenarnya kata Virte dan Dona yang meminta itu bohong. Yang sebenarnya adalah Satria sendiri yang menawarkan diri sebagai pelatih. Audy yang sama sekali tidak tahu menahu tentang rencana ini hanya terdiam bingung. Tidak lama kemudian Vitre dan Dona datang. Meski kedua temannya hanya senyum-senyum tidak menjelaskan, Audy berterimakasih atas perhatian 2 temannya itu.
Mereka pemanasan dan Satria mulai menjelaskan peraturan serta teknik-teknik bermain basket. Audy sangat serius memperhatikan setiap kalimat yang keluar dari mulut Sartia. Tidak waktu lama banyak bisa ia pahami. Sebenarnya di sekolah juga diajarkan teknik bermain basket sebagai pelajaran olahraga. Tapi, Audy yang sering bolos saat jam olahraga banyak terlewat pelajaran-pelajaran penting, termasuk basket.
Saat yang istirahat karena lelah, Audy masih dengan semangat '45nya memainkan bola basket dan memperaktekkan pelajaran yang baru diterimanya dari Satria.
"Terimakasih karena kalian sudah mau datang," kata Satria seusai meneguk air mineralnya. Nada suaranya rendah hanya sebatas bisa didengar oleh Vitre dan Dona.
"Sudah seharusnya, kamikan temannya," Vitre berkomentar
            "Sebagai temannya seharusnya kami yang merencanakan ini bukannya Satria. Ternyata selain keren-keren kalian juga tipeyang perhatian," Dona menambahkan. "Aku jadi semakin bangga mengenal kalian." Dona mulai dengan sifatnya yang berlebihanVitre tersenyum, kemudian tiba-tiba saja teringat sesuatu. Seharusnya ia menjaga jarak dengan orang-orang ini, bukannyabukanya jadi ikut-ikutan merasa kagum. Ia tidak boleh terseret seperti yang lainnya hanya karena penampilan cantik mereka. Vitre menarik nafas, berusaha menguatkan dirinya agar tetap fokus meneruskan rencana balas dendamnya. Ia harus memberi pelajaran pada orang-orang yang telah menghancurkan kehangatan keluarganya.

            Keesokan harinya di sekolah Satria telah merencanakan sesuatu. Pulang sekolah nanti ia meminta keempat temannya untuk menunggunya. Meskipun biasanya mereka memang pulang bersama tapi hari ini ada sesuatu yang tidak biasa. Satria memang suka sekali meninggalkan kesan misterius. Begitulah caranya meninggalkan kesan dan membuat teman-temannya penasaran.
"Sedang membaca buku apa ?" Dafan bertanya pada Audy. Mereka berada di perpustakaan sekolah.
"Hanya ingin lebih tahu tentang basket. Ternyata kalau dipelajari dengan serius menyenangkan juga," jawab Audy belum mengalihkan tatapannya dari buku pelajaran pendidikan kesehatan bab bola basket. Dafan hanya mengangguk, tidak ingin melanjutkan pembicaraan karena takut mengarah ke pertandingan yang mengecewakan kemarin. Dafan tidak ingin mengingatkan Audy lagi hal buruk itu dan membuat Audy kembali merasa bersalah. Keadaan perpustakaan hening. Hp Audy bergetar, ada pesan dari Satria masuk.
"Aku duluan," kata Audy setelah membaca isi pesan dari Satria.
Satria menemui Audy di luar perpustakaan. Dafan bisa melihat keduanya dari jendela. Audy dan Satria sedang membahas sesuatu yang ringan. Diam-diam Dafan penasaran dan ingin tahu. Saat ia akan menguping, ternyata Audy dan Satria telah selesai dan kembali ke kelas masing-masing.
Bel tanda usainya pelajaran terasa sangat lama. Waktu berjalan begitu lambat, dan guru bidang study yang mengajar terlihat sangat menikmati wajah-wajah menderita semua siswanya karena menunggu bel pulang yang tak kunjung terdengar. Suara tik-tik jam dinding memenuhi kelas.
"Satria kemana ya ? kita diminta menunggu disini dia malah belum datang," protes Egi menggerutu. Egi dan yang lainnya menunggu Satria di lapangan basket. Semakin lama menunggu kedatangan Satria membuat mereka semakin penasaran tentang apa yang sedang direncanakan teman mereka yang satu itu.
"Jangan-jangan ini berhubungan dengan misi rahasia," Duga Windy. Tiba-tiba -bletak- Widia menjitak kepala Windy. Windy mengaduh memegangi kepalanya.
"Harus berapa kali aku ingatkan, jangan sebut-sebut itu jika berada di sekolah," Widia kembali mengingatkan apa yang sudah terlalu sering ditekankannya. Meski kata Misi Rahasia tidak spesifik, namun mereka harus tetap waspada karena bukan hal yang tidak mungkin jika suatu saat ada yang tanpa sengaja mendengar kemudian curiga sampai menyelidiki kedatangan mereka.
Terlihat dari kejauhan langkah tegap penuh kebanggan Satria. Satria tidak datang sendiri, ia bersama Audy.
"Maaf menungu lama," kata Satria pada teman-temannya.
"Jadi ?" Dafan bertanya. "Apa rencanamu ?"
Satria mengatakan apa yang ada dipikirannya. Tentang rencananya mengadakan pertandingan ulang dengan Riki untuk mengembalikan kehormatyan mereka. Setelah ini mereka akan segera meluncur ke sekolah Riki, sebelum target mereka buyar.
"Tapi akukan baru berlatih sekali," Audy meragukan kemampuannya sendiri. Ia tidak ingin kembali mengulang kesalahan yang sama dan mengecewakan teman-temannya.
"Jangan khawatir, aku akan membantu," Windi berkata. Ia sedang berusaha mengambil simpati Audy.
"Aku juga," Egi menyerobot tidak ingin kalah. Audy sangat tersanjung dengan dukungan teman-temannya. Hal itulah yang sangat ia butuhkan untuk membangkitkan kepercayaan dirinya. Widia dan Dafan juga mengangguk memberikan dukungan.
"Baik. Hari ini aku akan berjuang habis-habisan," kata Audy bersemangat. Kepercayaan dirinya suda terisi penuh. Sekarang ia sudah sangat siap menghadapi semuanya.
"Kalau begitu jika kali ini kamu gagal, kami akan benar-benar marah," Widia menimpali. Audy siap. Bagi Audy kata-kata Widia barusan adalah tantangan untuknya agar dapat menang.
Semua telah siap dan mereka tinggal berangkat. Tapi tiba-tiba saja Vitre datang tergopoh-gopoh. Vitre datang membawa berita besar yang gawat. Berita gawat tingkat tinggi karena mereka harus segera menemukan jalan keluarnya baru bisa meninggalkan sekolah. Audy dan Vitre sama-ama mengendap-endap meninggalkan sekolah. Mereka menyelipkan diri diantara gerombolan anak-anak lain yang akan meninggalkan sekolah. Sayangnya masalah yang mereka hadapi memiliki hidung yang sangat sensitif. Karena itulah sebentar saja keberadaan keduanya bisa segera terlacak olehnya. Mereka ketahuan. Audy yang lebih dulu ketahuan, ia terjatuh saking tegangnya.
"Audy ! aku sangat merindukanmu,"  Orang yang berusaha keras Audy dan Vitre hindari berseru. Terlalu girangnya bertemu dengan Audy orang itu sampai tidak dapat mengendalikan dirinya. Orang itu berusaha menggapai Audy untuk memeluknya. Audy berlari menghindar kearah Vitre yang masih bersembunyi.
"Vitre, " orang itu berseru saat melihat wajah Vitre diantara beberapa orang. Vitre mempersiapkan tinjunya waspada, dan benar saja -buk- Vitre menjotos pria dengan otak mesum itu. Pria yang bernama Aan itu mengaduh dan menjaga jarak. Tindakan Vitre tepat. Menghadapi orang seperti Aan memang harus dengan menggunakan kekerasan.
"Kalian masih sama seperti dulu. Audy masih saja manis dan Vitre galaknya tidak berubah," komentar Aan.
"Ini bukan di Barat, jaga kelakuanmu," tandas Vitre. "Pantas saja kak Katon menyebutmu pria mesum."
Mendengar nama Katon hari cerah Aan berubah buram. Petir seperti menyambar tepat diubun-ubunya. Benar saja, baru disebut Katon telah tiba di sekolah Audy. Katon sangat anti dengan orang yang bernama Aan macam ini, jadi tidak akan dia biarkan adiknya berlama-lama bertemu Aan.
"Sudah aku duga. Kau otak mesum pasti akan datang kesini," cibir Katon.
"Heh, aku tidak ada urusan denganmu. cepat menyingkir atau kau akan menyesal," Aan mengancam. Ia memasang kuda-kuda siap mengambil tindakan.
"Apa ?" Katon berang tidak terima. "Otak mesum kau berani mengancamku," Katon juga memasang kuda-kuda bersiap mengambil tindakan jika Aan berani memulai. Akhirnya yang sibuk sendiri kedua orang itu. Audy dan Vitre memanfaatkan hal itu untuk melarikan diri, kembali ketujuan awal.
Tidak perlu menunggu lama di gerbang sekolah, karena mereka bisa segera menemukan Riki. Sepertinya hadir dengan gaya yang begitu mencolok sudah menjadi karakter Riki. Audy mewakili teman-temannya maju dan mengajukan tantangan. Tidak langsung diterima karena awalnya Riki menolak dengan berbagai macam alasan. Tapi demi harga diri sebagai yang ditantang Riki pun tidak bisa menolak. Kedua belah pihak sepakat. Mereka tidak bertanding di lapangan sekolah melainkan lapangan umum di taman. Setelah berganti pakaian mereka bertemu lagi di lapangan yang sudah disepakati.
"Apapun yang akan kalian lakukan tidak bisa merubah keadaan,"kata Riki dengan mulut besarnya.
Tidak ada yang membalas kalimat Riki. Mereka hanya harus menunjukkannya. Satria turun sebagai wasit. Peluit di tiup dan Wasit melambungkan bola ke udara. Dona yang datang belakangan karena harus mengajak T2 dkk telah siap menjadi saksi permainan hebat sepanjang masa ini. Di permainan kali ini pihak Audy tidak akan memberi kesempatan Riki dan teamnya sedikitpun. Usaha Satria berhasil. Audy si payah mulai bisa memposisikan keadaannya dengan baik. Perubahan Audy yang begitu drastis itu jujur membuat Riki dan teamnya terpukau. Tidak terkecuali Widia, Windy, Dafan dan Egi. Permainan Audy memang belum sempurna. Tapi permainan teman-teman lain yang lebih baik darinya bisa menutupi kekurangan itu. Sampai beberapa menit permainan berjalan team Riki belum juga mendapatkan poin. Permainan terus berlanjut dan skor team Riki semakin tertinggal jauh. Menghadapi kondisi seperti ini, pikiran jahat untuk mengulang permainan yang curang kembali terbesit dibenak Riki. Dikalahkan telak oleh team yang memanfaatkan 2 tenaga perempuan didalamnya dalah sangat  dan basket adalah salah satunya.
Kali ini sasaran Riki adalah Audy. Meski Audy oerempuan tapi fokus permainan terlihat ada pada Audy. Jika Audy cidera fokus permainan pasti akan kacau bagi kelompok Audy. Sayangnya Riki salah jika berfikir cara yang sama akan mempan untuk menghadapi Audy. Audy sudah memperkirakan kemungkinan ini. Saat Riki dan Audy saling berebut bola di udara, Riki telah mempersiapkan serangannya. Hampir tidak dapat terlihat bagaimana Audy bisa menghindar meski keduanya melompat sama-sama tinggi. Kegagalan menyerang Audy berbalik pada diri Riki sendiri. Audy berhasil merebut bola dan Riki terjatuh lututnya membentur lapangan. suara pekikan Riki membuat permainan berhenti. Teman-teman Riki segera melakukan pertolongan terhadap Riki. Namun Riki yang sudah terlanjur kesal  bukannya menyambut niat baik dari teman-temannya melainkan marah-marah.
"Kemenangan adalah hal penting dalam permainan, tapi bukan sesuatu yang harus dituntut untuk didapatkan dengan segala cara. Bagaimana mungkin kamu bisa berpikir menang dengan cara kotor," Audy berkata bijak. Ia telah mendapat banyak pelajaran berharga dari permainan yang belum lama didalaminya ini.
"Kamu yang hanya seorang pemain pengganti bagaimana mungkin bisa mengerti harga diri seorang kapten yang sesungguhnya," Riki menimpali sinis.
"Mingkin iya aku tidak tahu tentang itu. Tapi bukankah sportifitas, kekompakan dalam taem, serta kemenangan adalah hal-hal yang lebih penting dari harga diri diri sebagai seorang kapten seperti katamu," ucap Audy.
"Huh," Tyas menghembuskan nafasnya malas. "Permainan yang membosankan. Tidsak ada perrlawanan sama sekali," katanya kemudian mengajak temannya angkat kaki. Mendengar kata-kata Tyas, Riki terlihat lebih sedih.
"Apa-apaan mereka itu," dengus Audy.
Dua teman Riki memapahnya berdiri. Mereka telah bersiap-siap untuk pulang.
"Sekarang... ayo kita foto-foto merayakan kemenangan," seru Dona heboh saat kendaraan Riki dan teman-temannya sudah tidak terlihat lagi.

tobecontineu

Tidak ada komentar: