Minggu, 21 Juli 2013

SECRET (bagian I.b)



Malam hari di rumah keluarga Nara sama halnya dengan di rumah keluarga-keluarga lain. Ada makan malam dan berkumpul dengan keluarga. Tapi malam ini Ayah Audy harus lembur karena baru saja terjadi kasus besar. Kasusnya sudah terselesaikan, hanya tinggal memeriksa laporan-laporan yang baru masuk. Tn. Nara adalah kepala kepolisian yang terkenal berjiwa kepahlawanan sangat tinggi. Semua kasus yang diselesaikannya berhasil dengan baik. Jarang sekali hasil kerjanya yang mengecewakan. Dirumah Katon berusaha keras untuk membujuk adiknya agar mau ikut membantunya mengajari murid-muridnya TC menjelang kejuaraan yang akan berlangsung 2 bulan lagi. Tapi Audy menolak. Meskipun ia tidak ada jadwal, tapi Audy ogah. Padahal Katon melakukan hal itu untuk menarik Audy memilih Taekwondo sebagai cabang beladirinya. Tidak mudah membujuk Audy yang dari awal memang belum berniat memilih cabang beladirinya sendiri. Menurut Audy sudah menguasai beladiri saja sudah cukup. Tidak perlu lagi mencari diluar. Masih berdebat dengan kakaknya, Hp Audy berdering. Panggilan dari Vitre. Vitre ingin bertemu dengan Audy untuk menceritakan sebuah masalah yang penting. Audy setuju.
"Nah, sekarang aku punya acara, jadi sekarang kakak antarin ke taman," kata Audy senang.
"Ma, liat nih Audy. Dapat gen dari mana ya susah memilih cabang olahraganya sendiri," Katon meledek adiknya.
"Kakak cerewet nih, ayo," Audy menarik Kakaknya agar cepat-cepat pergi. Ny. Nara hanya senyum-senyum melihat tingkah kedua anaknya.
Sesampainya di taman, Vitre telah menunggunya. Vitre melihatkan foto 5 orang pria dengan karakter yang khas, yang diambilnya dari koran. Kelima pria itu adalah SECRET. Foto itu berada ditempat remang-remang, jadi tidak terlihat jelas bagaimana rupa perorangnya. Kelimanya berdiri diposisi masing-masing. Posisi yang juga berkarakter. Vitre minta tolong pada Audy agar mencari tahu siapa Secret sebenarnya melalui Ayahnya. Audy tidak janji tapi ia akan berusaha membantu Vitre. Sebelum pulang, Vitre meminta Audy menemaninya jalan-jalan sebentar. Vitre ingin menghibur diri.
"Dengan senang hati Putri," canda Audy sambil membungkuk memberi hormat.
Ketika mereka akan meninggalkan taman, Vitre melihat sesosok bayangan berlari. Audy dan Vitre berinisiatif mengikuti orang itu. Mereka ikuti diam-diam hingga sampailah dibawah pohon besar. Tempat itu remang-remang karena hanya disinari cahaya bulan. Saat Vitre mengintip ternyata ada 5 orang ditempat itu. Semua berpakaian layaknya ninja. Vitre menduga kuat mereka adalah Secret. Tiba-tiba saja kelimanya berpencar. Mungkin telah mengetahui keberadaan pengincar.
"Audy kejar salah satunya," Vitre memberi komando.
"Oke," Audy menyetujui dan segera berangkat agar tidak tertinggal jauh dari targetnya. Para Secret itu berlari sangat cepat, melompat, dan menghindari rintangan depan mereka dengan sangat lincah, layaknya ninja sungguhan. Target yang dikejar Vitre membuatnya kewalahan. Nafasnya hampir habis karena kelelahan. Meski berusaha bertahan sekuat apapun ia tetap kehilangan targetnya. Lain halnya dengan Audy. Ia hampir saja mengimbangi targetnya. Seandainya Audy tetap fokus dan tidak ceroboh, ia pasti berhasil menangkap targetnya. Audy celingukan kesana-kemari. Ia kehilangan jejak. Walaupun begitu, Audy yakin orang berpakaian ninja itu masih ada disekitarnya. Tiba-tiba terdengar suara dan seseorang keluar dari rerumputan.
"Egi, sedang apa ?" tanya Audy.
"Audy. Aku mencari koinku yang terjatuh. Mengagetkan ya ? Maaf deh," jawab Egi mengatakan alasannya. Egi masih terlihat mencari-cari sesuatu di tanah.
"Apa kamu tadi melihat orang aneh berpakaian ninja ?" Audy bertanya lagi.
"Orang aneh berpakaian ninja ?" Egi terlihat kebingungan mencari deskripsi 'Orang aneh berpakaian ninja' yang Audy maksud.
"Mustahil, seharusnya dia tadi lewat sini," gumam Audy heran.
Tidak lama kemudian Vitre menyusul. Audy minta maaf karena gagal menangkap si target. Meski kesal karena tak berhasil menangkap seorangpun dari target yang paling dicarinya, Vitre tidak mempersoalkan kegagalan Audy. Toh ia sendiri juga tak berdaya. Vire merasa menyeral karena meninggalkan latihan dengan cepat sebelum ia benar-benar kuat dan siap. Dulu saat Vitre dan Audy masih berlatih bersama, Vitre selalu bisa unggul satu tingkat dari Audy. Namun sekarang, setelah sekian lama tidak latihan ia tertinggal sangat jauh dari kemampuan Audy.
"Kita pulang duluan. Sampai ketemu di sekolah," Audy pamit.
"Sedang apa Egi disini ?" Vitre bertanya dalam perjalanan pulang.
"Katanya mencari koin."
"Koin ?"
Mereka terus berjalan pulang menjauh, meninggalkan tempat itu. Vitre memang sangat menyesali hari ini, tapi selama masih ada hari esok ia pasti dapat menemuka para Secret lagi. Disaat itulah ia tidak akan melepaskan orang-orang yang telah membuat Ayahnya menderita.
ΩΩΩΩΩ
Pagi hari sebelum berangkat sekolah, seperti rutinitas Audy yang sudah-sudah, ia joging untuk mempertahankan fisiknya. Tapi kali ini ada yang berbeda setelah sekian lama. Vitre datang dan menemani Audy. Mereka joging bersama, menyambut mentari pagi. Dengan adanya Vitre, Audy jadi lebih bersemangat. Dengan begitu ia tidak akan garing tanpa teman ngobrol. Vitre dari kecil memang sudah dekat dengan keluarga Nara. Ayah dan Ibu Audy juga sangat menyayangi Vitre layaknya anak sendiri. Mereka selalu senang menyambut kedatangan Vitre. Apalagi setelah semua yang menimpa keluarga Vitre dan Vitre tetap dapat melaluinya dengan tabah. Keluarga Nara semakin salut. Vitre dapat terus tegar dan tanpa mengeluh membantu Ibunya membangun rumah makan. Ibu Vitre juga berhutang budi pada keluarga Nara. Karena yang memberi modal awal dan yang membantu-bantu memasak adalah Ibu Audy. Setelah bertambah besar dan sukses seperti saat ini barulah menyewa tukang masak sendiri. Dengan itulah keluarga Vitre dapat bertahan. Dan kini rumah keluarga Vitre telah membuka cabang berkelas diberbagai tempat.
ΩΩΩΩΩ
Bel istirahat baru saja berbunyi. Audy sedang mencari Vitre dan Dona yang telah menghilang lebih dulu entah kemana. Audy akan mendatangi ruang mading ketika ia bertemu dengan Bu Rona. Bu Rona adalah salah seorang guru yang membuat Audy kewalahan menghadapinya karena Bu Rona berada dipihak T2 dkk. Bu Rona menyapa Audy, dan Audy merasakan firasat bahwa sebentar lagi kebebasannya akan terancan. Benar saja. Ternyata T2 dkk telah melaporkannya pada Bu Rona mengenai kejadian kemarin. Audy dituntut UU mempermalukan teman didepan umum.
"Tapi Bu, apa ada bukti kalau itu perbuatan saya," dalih Audy.
"Sudah jelas-jelas ketahuan masih berani menyangkal juga ?" Bu Rona mendelik tajam. Ia adalah tokoh antagonis selanjutnya. Paling tidak suka didikte.
"Iya sih memang. Tapi..."
"Sudah. Sekarang ikut Ibu," perintah Bu Rona.
T2 dkk yang ada di belakang Bu Rona cekikikan seperti kucing ompong dalam penglihatan Audy. Audy mengikuti Bu Rona sampai ruang kebersihan. Disana Bu Rona mengambilkan ember dan peralatan pel lainnya. Tapi tidak sapu pel, melainkan potongan-potongan kain. Kata Bu Rona sebagai pelatihan membungkuk agar tidak terlalu sombong, mengangkat kepala terlalu tinggi hingga berani mempermalukan temannya. Bu Rona menugaskan Audy membersihkan ruang rapat yang baru selesai digunakan. Audy tidak lagi protes. Semakin cepat diselesaikan, semakin baik. Audy menuju ruang rapat dan memulai tugasnya.
Meski hanya ruang rapat, namun ukurannya sangat luas. Karena selain digunakan rapat dewan guru dan komite sekolah, kadang-kadang juga digunakan tempat rapat orangtua murid. Audy mengerahkan seluruh kekuatannya untuk meminggirkan meja dan kursi disatu tempat dipojokan. Setelah selesai memindahkan meja dan kursi, Audy mulai menyapu kemudian membasahi seluruh ruangan dengan air sabun. Audy memang tidak pernah mengepel rumahnya, jadi sedikit boros menggunakan air dan sabun. Yakin setiap sudut ruangan telah dibasahi air sabun, Audy mulai mengepel dengan gayanya sendiri agar lebih menyenangkan. Audy menjadikan potongan-potongan kain sebagai alas kakinya. Ia mulai meluncur kesana-kemari layaknya bermain sky diatas salju. Audy terus meluncur membersihkan setiap sudut ruangan. Bolak-balik bahkan berputar-putar bak penari balet. Audy terlihat seperti anak kecil. Tingkahnya menghadapi masalah mungkin terkesan kekanak-kanakan, namun memberikan hiburan tersendiri. Baginya dan orang-orang yang melihatnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan ?" Egi bertanya.
Audy yang terkejut konsentrasinya menjadi buyar. Ia melihat kearah pintu dan mendapati wajah Widia dan yang lainnya disana. Audy jadi salah tingkah. Ia masih meluncur dan tak bisa menghentikan kakinya sendiri. Akhirnya Audy menabrak tembok dan terjatuh.
"Aduh keningku," Audy mengusap-usap keningnya yang nyeri. Audy masih belum berani menatap kearah pintu. Ia malu sekali dengan apa yang baru saja terjadi. Mengepel dengan cara baru, ditambah lagi harus membentur tembok dan terjatuh. Malunya berkali-kali lipat. Tiba-tiba saja seseorang mengulurkan tangannya untuk memberi bantuan. Orang itu adalah Windy. Ia penuh hormat keanggunan layaknya sang Pangeran mengajak Putri berdansa disebuah pesta. Meski masih malu, Audy menyambut uluran tangan itu. Setelah berhasil berdiri, Audy mengamati dirinya sendiri.
"Yah, seragamku basah," kata Audy.
"Jika mau, seragamku yang belum pernah ku gunakan ada di locker," Widia menawari. Audy menatap kearah Widia. Melihat semua telah berada didalam, Audy nampak cemas.
"Jangan khawatir, kami tidak akan meninggalkan jejak," Egi menjawab kecemasan Audy. Audy mengamati lantai yg telah ia pel dan memang tidak ada jejak sama sekali. Audy merasa heran. Bagaimana bisa mereka menjangkau pojokan tempat meja dan kursi bertumpuk sementara jaraknya cukup jauh. Audy beralih pada Windy, barangkali saja kakinya tidak menyentuh lantai. Tapi tidak. Sepatu Windy dilapisi kain sama seperti dirinya. Namun dengan yang lainnya...
"Bagaimana mungkin..."
"Kami memutuskan untuk membantumu," kata Egi yang berada dipojokan. Ia dan tiga yang lainnya sedang bertengger diatas tumpukan-tumpukan meja dan kursi melepas sepatu mereka.
Telinga Audy yang sangat peka jika bersangkutan dengan T2 dkk mulai bereaksi. Semakin lama suara itu semakin mendekat. Audy nampak panik. T2 dkk tidak boleh melihat ada orang lain selain dirinya. Jika tidak, mereka pasti akan melapor pada Bu Rona lagi untuk mencari-cari kesalahannya.
"Kalian tetap dipojok dan jangan bersuara, kamu juga," Audy berkata pada Windy yang masih berdiri didepannya. "Tolong ya, kalau tidak habislah aku."
Windy meluncur dan berkumpul bersama teman-temannya. Audy sendiri bersiap-siap untuk menyambut kedatangan T2 dkk yang akan mengacau.
"Wah, pasti melelahkan membersihkan ruangan sebesar ini sendiri," Tyas mulai menyindir. Namun tatapannya berubah terheran-heran saat mendapati ruang rapat telah bersih dalam waktu yang sangat cepat.
"Hebat, hasil yang memuaskan," puji Tyas. "Tapi jika Bu Rona melihat masih ada sisi yang kotor, Bu Rona pasti akan marah."
Tyas berencana menginjak lantai yang masih basah agar kotor. Audy yang bisa membaca niat Tyas, melemparkan kain yang ada digenggamannya. Kain itu mendarat dengan cepat sebelum kaki Tyas menginjak lantai. Masih belum mau menyerah, Tyas menggerakkan kaki kirinya. Namun gagal lagi. Tasya yang tidak terima ikut-ikutan melakukan hal sama yang dilakukan Tyas. Tapi dengan melempar kain-kain itu secepat mungkin, Audy berhasil mengatasinya. Kain ditangan bahkan kedua kakinya telah dilempar sebagai pengganjal kaki T2 dkk agar tidak menyentuh lantai. Tasya menyeringai senang. Tasya tahu kali ini Audy kehabisa kain pelnya. Tasya mengangkat kakinya perlahan sambil memperolok Audy. Audy tidak kehabisan akal. Ia melihat ada sikat yanj tak jauh dauh dari jangkauannya. Dengan cepat ia ambil dan melemparnya sebelum kaki Tasya menyentuh lantai. Lagi-lagi lemparan Audy tepat sasaran. Sikat itu ada dibawah kaki Tasya. Karena menginjak sikat, Tasya terpeleset dan jatuh. Ia menimpa teman-teman yang ada di belakangnya. Mereka bangun dan meninggalkan ruang rapat sambil tiada henti mengumpati kesialan mereka.
"Belum tahu Audy Nara mereka, keturunan Ninja Shikamaru Nara ke-99. Mau mengerjai aku, jangan harap," Audy berbicara sendiri.
Setelah lantai kering, mereka mulai mengatur posisi meja dan kursi seperti semula.
Audy kembali ke kelas setelah semua beres. Ia mengganti seragamnya yang basah. Seragam Widia terlihat kebesaran saat Audy kenakan. Di kelas ternyata Vitre dan Dona sangat mencemaskannya karena Audy menghilang tanpa kabar. Sebelum pelajaran usai, Pak Hasan guru mata pelajaran Biologi membagi kelompok untuk praktek minggu depan. Satu kelompok terdiri dari dua orang. Mereka akan meneliti hewan. Jadi dalam tiap kelompok sudah membawa hewan yang akan digunakan untuk prakter dari rumah. Audy satu kelompok dengan Egi, Vitre dengan Dona, dan Widia dengan Tasya. Tasya sangat kegirangan saat mendengar pak Hasan menyebutkan namanya dan Widia. Tasya merasa menjadi orang yang sangat beruntung bisa satu kelompok dengan salah satu orang top di sekolah. Posisi Audy dan Tasya memang membuat teman-teman yang lain menjadi iri. Tapi keputusan Pak Hasan sudah tidak dapat diganggu gugat. Audy menawarkan diri untuk mengambil tugas sebagai yang membawa hewan untuk peraktek sebagai ucapan terimakasihnya karena dibantu membereskan ruang rapat. Dengan senang hati tentunya Egi setuju.
ΩΩΩΩΩ
Semakin hari fans kelima siswa baru itu semakin bertambah banyak. Bukan hanya dari SMA Harapan Bangsa, juga dari sekolah. Akibatnya cafe Today yang mereka pegang semakin ramai. Pesona kelimanya memang tidak ada habisnya meski dipandang berapa lamapun. Setelah berhasil merebut hati banyak orang termasuk guru-guru, kelimanya masuk dalam keanggotaan OSIS. Jadi bertambahlah daya tarik mereka sebagai idola. Mengetahui hal itu, semakin bertambah besar kecurigaan Vitre pada mereka. Mereka terkesan ambisius dengan masuk dalam keanggotaan OSIS. Ambisius namun satu sisi seperti malaikat yang menyejukkan. Vitre jadi tertarik mengawasi kelimanya. Semakin hari, Audy juga semakin akrab dengan kelimanya. Hal itu membuat T2 dkk gusar. Menurut T2 dkk yang paling tepat berada diposisi itu adalah mereka. Mereka semakin tidak menyukai Audy dan Vitre. T2 dkk menyebar gosib pada teman-teman satu sekolahnya dengan tuduhan serakah ingin menakhlukkan kelima-limanya sekaligus. Audy jadi bingung dengan posisinya sendiri. Tidak masalah sebenar anggapan itu, toh ia tidak merasa. Audy cepat akrab dengan kelimanya adalah karena mereka baik, tidak sombong, dan juga menawarkan persahabatan dengannya. Sejak awal T2 dkk mengibarkan bendera perang, mereka tidak pernah megusili Dona. Itu mereka lakukan karena T2 dkk masih berharap Dona menjadi bagian dari mereka. Berulang kali mereka selalu menghasut Dona namun selalu gagal. Dari sinilah dapat ditebak karakter seperti apa yang T2 dkk perankan.

tobecontineu

Tidak ada komentar: