Malam hari di rumah keluarga Nara sama halnya dengan di rumah
keluarga-keluarga lain. Ada makan malam dan berkumpul dengan keluarga. Tapi
malam ini Ayah Audy harus lembur karena baru saja terjadi kasus besar. Kasusnya
sudah terselesaikan, hanya tinggal memeriksa laporan-laporan yang baru masuk.
Tn. Nara adalah kepala kepolisian yang terkenal berjiwa kepahlawanan sangat
tinggi. Semua kasus yang diselesaikannya berhasil dengan baik. Jarang sekali
hasil kerjanya yang mengecewakan. Dirumah Katon berusaha keras untuk membujuk
adiknya agar mau ikut membantunya mengajari murid-muridnya TC menjelang
kejuaraan yang akan berlangsung 2 bulan lagi. Tapi Audy menolak. Meskipun ia
tidak ada jadwal, tapi Audy ogah. Padahal Katon melakukan hal itu untuk menarik
Audy memilih Taekwondo sebagai cabang beladirinya. Tidak mudah membujuk Audy
yang dari awal memang belum berniat memilih cabang beladirinya sendiri. Menurut
Audy sudah menguasai beladiri saja sudah cukup. Tidak perlu lagi mencari
diluar. Masih berdebat dengan kakaknya, Hp Audy berdering. Panggilan dari
Vitre. Vitre ingin bertemu dengan Audy untuk menceritakan sebuah masalah yang
penting. Audy setuju.
"Nah, sekarang aku punya acara, jadi sekarang kakak antarin ke
taman," kata Audy senang.
"Ma, liat nih Audy. Dapat gen dari mana ya susah memilih cabang
olahraganya sendiri," Katon meledek adiknya.
"Kakak cerewet nih, ayo," Audy menarik Kakaknya agar cepat-cepat
pergi. Ny. Nara hanya senyum-senyum melihat tingkah kedua anaknya.
Sesampainya di taman, Vitre telah menunggunya. Vitre melihatkan foto 5
orang pria dengan karakter yang khas, yang diambilnya dari koran. Kelima pria
itu adalah SECRET. Foto itu berada ditempat remang-remang, jadi tidak terlihat
jelas bagaimana rupa perorangnya. Kelimanya berdiri diposisi masing-masing.
Posisi yang juga berkarakter. Vitre minta tolong pada Audy agar mencari tahu
siapa Secret sebenarnya melalui Ayahnya. Audy tidak janji tapi ia akan berusaha
membantu Vitre. Sebelum pulang, Vitre meminta Audy menemaninya jalan-jalan
sebentar. Vitre ingin menghibur diri.
"Dengan senang hati Putri," canda Audy sambil membungkuk memberi
hormat.
Ketika mereka akan meninggalkan taman, Vitre melihat sesosok bayangan
berlari. Audy dan Vitre berinisiatif mengikuti orang itu. Mereka ikuti
diam-diam hingga sampailah dibawah pohon besar. Tempat itu remang-remang karena
hanya disinari cahaya bulan. Saat Vitre mengintip ternyata ada 5 orang ditempat
itu. Semua berpakaian layaknya ninja. Vitre menduga kuat mereka adalah Secret.
Tiba-tiba saja kelimanya berpencar. Mungkin telah mengetahui keberadaan
pengincar.
"Audy kejar salah satunya," Vitre memberi komando.
"Oke," Audy menyetujui dan segera berangkat agar tidak tertinggal
jauh dari targetnya. Para Secret itu berlari sangat cepat, melompat, dan
menghindari rintangan depan mereka dengan sangat lincah, layaknya ninja
sungguhan. Target yang dikejar Vitre membuatnya kewalahan. Nafasnya hampir
habis karena kelelahan. Meski berusaha bertahan sekuat apapun ia tetap
kehilangan targetnya. Lain halnya dengan Audy. Ia hampir saja mengimbangi
targetnya. Seandainya Audy tetap fokus dan tidak ceroboh, ia pasti berhasil
menangkap targetnya. Audy celingukan kesana-kemari. Ia kehilangan jejak.
Walaupun begitu, Audy yakin orang berpakaian ninja itu masih ada disekitarnya.
Tiba-tiba terdengar suara dan seseorang keluar dari rerumputan.
"Egi, sedang apa ?" tanya Audy.
"Audy. Aku mencari koinku yang terjatuh. Mengagetkan ya ? Maaf
deh," jawab Egi mengatakan alasannya. Egi masih terlihat mencari-cari
sesuatu di tanah.
"Apa kamu tadi melihat orang aneh berpakaian ninja ?" Audy
bertanya lagi.
"Orang aneh berpakaian ninja ?" Egi terlihat kebingungan mencari
deskripsi 'Orang aneh berpakaian ninja' yang Audy maksud.
"Mustahil, seharusnya dia tadi lewat sini," gumam Audy heran.
Tidak lama kemudian
Vitre menyusul. Audy minta maaf karena gagal menangkap si target. Meski kesal
karena tak berhasil menangkap seorangpun dari target yang paling dicarinya,
Vitre tidak mempersoalkan kegagalan Audy. Toh ia sendiri juga tak berdaya. Vire
merasa menyeral karena meninggalkan latihan dengan cepat sebelum ia benar-benar
kuat dan siap. Dulu saat Vitre dan Audy masih berlatih bersama, Vitre selalu
bisa unggul satu tingkat dari Audy. Namun sekarang, setelah sekian lama tidak
latihan ia tertinggal sangat jauh dari kemampuan Audy.
"Kita pulang duluan. Sampai ketemu di sekolah," Audy pamit.
"Sedang apa Egi disini ?" Vitre bertanya dalam perjalanan pulang.
"Katanya mencari koin."
"Koin ?"
Mereka terus berjalan
pulang menjauh, meninggalkan tempat itu. Vitre memang sangat menyesali hari
ini, tapi selama masih ada hari esok ia pasti dapat menemuka para Secret lagi.
Disaat itulah ia tidak akan melepaskan orang-orang yang telah membuat Ayahnya
menderita.
ΩΩΩΩΩ
Pagi hari sebelum berangkat sekolah, seperti rutinitas Audy yang
sudah-sudah, ia joging untuk mempertahankan fisiknya. Tapi kali ini ada yang
berbeda setelah sekian lama. Vitre datang dan menemani Audy. Mereka joging
bersama, menyambut mentari pagi. Dengan adanya Vitre, Audy jadi lebih
bersemangat. Dengan begitu ia tidak akan garing tanpa teman ngobrol. Vitre dari
kecil memang sudah dekat dengan keluarga Nara. Ayah dan Ibu Audy juga sangat
menyayangi Vitre layaknya anak sendiri. Mereka selalu senang menyambut
kedatangan Vitre. Apalagi setelah semua yang menimpa keluarga Vitre dan Vitre
tetap dapat melaluinya dengan tabah. Keluarga Nara semakin salut. Vitre dapat
terus tegar dan tanpa mengeluh membantu Ibunya membangun rumah makan. Ibu Vitre
juga berhutang budi pada keluarga Nara. Karena yang memberi modal awal dan yang
membantu-bantu memasak adalah Ibu Audy. Setelah bertambah besar dan sukses
seperti saat ini barulah menyewa tukang masak sendiri. Dengan itulah keluarga
Vitre dapat bertahan. Dan kini rumah keluarga Vitre telah membuka cabang
berkelas diberbagai tempat.
ΩΩΩΩΩ
Bel istirahat baru saja berbunyi. Audy sedang mencari Vitre dan Dona yang
telah menghilang lebih dulu entah kemana. Audy akan mendatangi ruang mading
ketika ia bertemu dengan Bu Rona. Bu Rona adalah salah seorang guru yang
membuat Audy kewalahan menghadapinya karena Bu Rona berada dipihak T2 dkk. Bu Rona
menyapa Audy, dan Audy merasakan firasat bahwa sebentar lagi kebebasannya akan
terancan. Benar saja. Ternyata T2 dkk telah melaporkannya pada Bu Rona mengenai
kejadian kemarin. Audy dituntut UU mempermalukan teman didepan umum.
"Tapi Bu, apa ada bukti kalau itu perbuatan saya," dalih Audy.
"Sudah jelas-jelas ketahuan masih berani menyangkal juga ?" Bu
Rona mendelik tajam. Ia adalah tokoh antagonis selanjutnya. Paling tidak suka
didikte.
"Iya sih memang. Tapi..."
"Sudah. Sekarang ikut Ibu," perintah Bu Rona.
T2 dkk yang ada di
belakang Bu Rona cekikikan seperti kucing ompong dalam penglihatan Audy. Audy
mengikuti Bu Rona sampai ruang kebersihan. Disana Bu Rona mengambilkan ember
dan peralatan pel lainnya. Tapi tidak sapu pel, melainkan potongan-potongan kain.
Kata Bu Rona sebagai pelatihan membungkuk agar tidak terlalu sombong,
mengangkat kepala terlalu tinggi hingga berani mempermalukan temannya. Bu Rona
menugaskan Audy membersihkan ruang rapat yang baru selesai digunakan. Audy
tidak lagi protes. Semakin cepat diselesaikan, semakin baik. Audy menuju ruang
rapat dan memulai tugasnya.
Meski hanya ruang rapat, namun ukurannya sangat luas. Karena selain
digunakan rapat dewan guru dan komite sekolah, kadang-kadang juga digunakan
tempat rapat orangtua murid. Audy mengerahkan seluruh kekuatannya untuk
meminggirkan meja dan kursi disatu tempat dipojokan. Setelah selesai
memindahkan meja dan kursi, Audy mulai menyapu kemudian membasahi seluruh
ruangan dengan air sabun. Audy memang tidak pernah mengepel rumahnya, jadi
sedikit boros menggunakan air dan sabun. Yakin setiap sudut ruangan telah
dibasahi air sabun, Audy mulai mengepel dengan gayanya sendiri agar lebih
menyenangkan. Audy menjadikan potongan-potongan kain sebagai alas kakinya. Ia
mulai meluncur kesana-kemari layaknya bermain sky diatas salju. Audy terus
meluncur membersihkan setiap sudut ruangan. Bolak-balik bahkan berputar-putar
bak penari balet. Audy terlihat seperti anak kecil. Tingkahnya menghadapi
masalah mungkin terkesan kekanak-kanakan, namun memberikan hiburan tersendiri.
Baginya dan orang-orang yang melihatnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan ?" Egi bertanya.
Audy yang terkejut konsentrasinya menjadi buyar. Ia melihat kearah pintu
dan mendapati wajah Widia dan yang lainnya disana. Audy jadi salah tingkah. Ia
masih meluncur dan tak bisa menghentikan kakinya sendiri. Akhirnya Audy
menabrak tembok dan terjatuh.
"Aduh keningku," Audy mengusap-usap keningnya yang nyeri. Audy
masih belum berani menatap kearah pintu. Ia malu sekali dengan apa yang baru saja
terjadi. Mengepel dengan cara baru, ditambah lagi harus membentur tembok dan
terjatuh. Malunya berkali-kali lipat. Tiba-tiba saja seseorang mengulurkan
tangannya untuk memberi bantuan. Orang itu adalah Windy. Ia penuh hormat
keanggunan layaknya sang Pangeran mengajak Putri berdansa disebuah pesta. Meski
masih malu, Audy menyambut uluran tangan itu. Setelah berhasil berdiri, Audy
mengamati dirinya sendiri.
"Yah, seragamku basah," kata Audy.
"Jika mau, seragamku yang belum pernah ku gunakan ada di locker,"
Widia menawari. Audy menatap kearah Widia. Melihat semua telah berada didalam,
Audy nampak cemas.
"Jangan khawatir, kami tidak akan meninggalkan jejak," Egi
menjawab kecemasan Audy. Audy mengamati lantai yg telah ia pel dan memang tidak
ada jejak sama sekali. Audy merasa heran. Bagaimana bisa mereka menjangkau
pojokan tempat meja dan kursi bertumpuk sementara jaraknya cukup jauh. Audy
beralih pada Windy, barangkali saja kakinya tidak menyentuh lantai. Tapi tidak.
Sepatu Windy dilapisi kain sama seperti dirinya. Namun dengan yang lainnya...
"Bagaimana mungkin..."
"Kami memutuskan untuk membantumu," kata Egi yang berada
dipojokan. Ia dan tiga yang lainnya sedang bertengger diatas tumpukan-tumpukan
meja dan kursi melepas sepatu mereka.
Telinga Audy yang sangat peka jika bersangkutan dengan T2 dkk mulai
bereaksi. Semakin lama suara itu semakin mendekat. Audy nampak panik. T2 dkk
tidak boleh melihat ada orang lain selain dirinya. Jika tidak, mereka pasti
akan melapor pada Bu Rona lagi untuk mencari-cari kesalahannya.
"Kalian tetap dipojok dan jangan bersuara, kamu juga," Audy
berkata pada Windy yang masih berdiri didepannya. "Tolong ya, kalau tidak
habislah aku."
Windy meluncur dan berkumpul bersama teman-temannya. Audy sendiri
bersiap-siap untuk menyambut kedatangan T2 dkk yang akan mengacau.
"Wah, pasti melelahkan membersihkan ruangan sebesar ini sendiri,"
Tyas mulai menyindir. Namun tatapannya berubah terheran-heran saat mendapati
ruang rapat telah bersih dalam waktu yang sangat cepat.
"Hebat, hasil yang memuaskan," puji Tyas. "Tapi jika Bu Rona
melihat masih ada sisi yang kotor, Bu Rona pasti akan marah."
Tyas berencana menginjak
lantai yang masih basah agar kotor. Audy yang bisa membaca niat Tyas,
melemparkan kain yang ada digenggamannya. Kain itu mendarat dengan cepat
sebelum kaki Tyas menginjak lantai. Masih belum mau menyerah, Tyas menggerakkan
kaki kirinya. Namun gagal lagi. Tasya yang tidak terima ikut-ikutan melakukan
hal sama yang dilakukan Tyas. Tapi dengan melempar kain-kain itu secepat
mungkin, Audy berhasil mengatasinya. Kain ditangan bahkan kedua kakinya telah
dilempar sebagai pengganjal kaki T2 dkk agar tidak menyentuh lantai. Tasya
menyeringai senang. Tasya tahu kali ini Audy kehabisa kain pelnya. Tasya
mengangkat kakinya perlahan sambil memperolok Audy. Audy tidak kehabisan akal.
Ia melihat ada sikat yanj tak jauh dauh dari jangkauannya. Dengan cepat ia
ambil dan melemparnya sebelum kaki Tasya menyentuh lantai. Lagi-lagi lemparan
Audy tepat sasaran. Sikat itu ada dibawah kaki Tasya. Karena menginjak sikat,
Tasya terpeleset dan jatuh. Ia menimpa teman-teman yang ada di belakangnya.
Mereka bangun dan meninggalkan ruang rapat sambil tiada henti mengumpati kesialan mereka.
"Belum tahu Audy Nara mereka, keturunan Ninja Shikamaru Nara ke-99.
Mau mengerjai aku, jangan harap," Audy berbicara sendiri.
Setelah lantai kering, mereka mulai mengatur posisi meja dan kursi seperti
semula.
Audy kembali ke kelas setelah semua beres. Ia mengganti seragamnya yang
basah. Seragam Widia terlihat kebesaran saat Audy kenakan. Di kelas ternyata
Vitre dan Dona sangat mencemaskannya karena Audy menghilang tanpa kabar.
Sebelum pelajaran usai, Pak Hasan guru mata pelajaran Biologi membagi kelompok
untuk praktek minggu depan. Satu kelompok terdiri dari dua orang. Mereka akan
meneliti hewan. Jadi dalam tiap kelompok sudah membawa hewan yang akan
digunakan untuk prakter dari rumah. Audy satu kelompok dengan Egi, Vitre dengan
Dona, dan Widia dengan Tasya. Tasya sangat kegirangan saat mendengar pak Hasan
menyebutkan namanya dan Widia. Tasya merasa menjadi orang yang sangat beruntung
bisa satu kelompok dengan salah satu orang top di sekolah. Posisi Audy dan
Tasya memang membuat teman-teman yang lain menjadi iri. Tapi keputusan Pak
Hasan sudah tidak dapat diganggu gugat. Audy menawarkan diri untuk mengambil
tugas sebagai yang membawa hewan untuk peraktek sebagai ucapan terimakasihnya
karena dibantu membereskan ruang rapat. Dengan senang hati tentunya Egi setuju.
ΩΩΩΩΩ
Semakin hari fans kelima siswa baru itu semakin bertambah banyak. Bukan hanya
dari SMA Harapan Bangsa, juga dari sekolah. Akibatnya cafe Today yang mereka
pegang semakin ramai. Pesona kelimanya memang tidak ada habisnya meski
dipandang berapa lamapun. Setelah berhasil merebut hati banyak orang termasuk
guru-guru, kelimanya masuk dalam keanggotaan OSIS. Jadi bertambahlah daya tarik
mereka sebagai idola. Mengetahui hal itu, semakin bertambah besar kecurigaan
Vitre pada mereka. Mereka terkesan ambisius dengan masuk dalam keanggotaan
OSIS. Ambisius namun satu sisi seperti malaikat yang menyejukkan. Vitre jadi tertarik mengawasi
kelimanya. Semakin hari, Audy juga semakin akrab dengan kelimanya. Hal itu
membuat T2 dkk gusar. Menurut T2 dkk yang paling tepat berada diposisi itu
adalah mereka. Mereka semakin tidak menyukai Audy dan Vitre. T2 dkk menyebar
gosib pada teman-teman satu sekolahnya dengan tuduhan serakah ingin
menakhlukkan kelima-limanya sekaligus. Audy jadi bingung dengan posisinya
sendiri. Tidak masalah sebenar anggapan itu, toh ia tidak merasa. Audy cepat
akrab dengan kelimanya adalah karena mereka baik, tidak sombong, dan juga
menawarkan persahabatan dengannya. Sejak awal T2 dkk mengibarkan bendera perang, mereka tidak pernah megusili
Dona. Itu mereka lakukan karena T2 dkk masih berharap Dona menjadi bagian dari
mereka. Berulang kali mereka selalu menghasut Dona namun selalu gagal. Dari
sinilah dapat ditebak karakter seperti apa yang T2 dkk perankan.
tobecontineu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar