Minggu, 21 Juli 2013

SECRET (bagian I)



Sekolah adalah sistem yang sangat kompleks. Karena di sekolah pertama kalinya seorang anak bersosialisasi dengan orang lain yang beranekaragam sikap dan tingkahlaku, juga mendidik anak-anak menjadi menjadi bibit-bibit unggul penerus bangsa. Saat ini kualitas sekolah dapat dijadikan tolok ukur negara maju. Selain proses belajar-mengajar dan bersosialisasi, sekolah juga mengajarkan bagaimana mengenal masa depan serta menghadapi dunia.
Sekolah biasanya diketuai oleh kepala yayasan atau dibawahi oleh negara, dewan komite sekolah, kepala sekolah, pengurus, staf, serta siswa-siswi. Jika salah satu dari yang berwenang tidak konsekuen dalam menjalankan tugasnya, akan terjadi ketidak stabilan dalam sekolah. Proses belajar-mengajar dan fungsi-fungsi sekolah tidak akan berjalan maksimal. Itulah yang terjadi di SMA Harapan Bangsa. SMA Harapan Bangsa adalah salah satu sekolah elit yang telah banyak menoreh prestasi dibidang ekstra maupun akademik. Semua nampak sempurna, dari fasilitas hingga lulusan-lusan yang dihasilkan. Namun semakin tahun prestasi yang dihasilkan semakin menurun. Hal itu terjadi karena ada kejahatan terselubung dalam sekolah. Kejahatan itulah yang menodai niat tulus guru-guru mengajar. Sehingga banyak mata pelajaran yang diberikan susah diterima dan cepat lupa. Akhirnya terjadilah konspirasi besar-besaran di SMA Harapan Bangsa. Mempertanyakan apa sebenarnya masalah sekolah yang tidak mereka tahu. Tentang dana perawatan fasilitas dan hal-hal lainnya. Satu minggu lebih tidak ada proses belajar-mengajar. Semua risuh. Guru-guru menjadi curiga, mempertanyakan siapa yang memprovokasi para siswa hingga seperti ini. Semua bertambah kacau ketika sampailah berita kerisuhan SMA Harapan Bangsa pada media masa. Sekolah mulai bergerak cepat mencari jalan keluar, mengklarifikasi semua berita negatif yang beredar. Pihak sekolah mengatakan bahwa semua yang terjadi adalah salahpaham dan ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang mencoba mengadudomba mereka serta menjatuhkan nama sekolah.
Semua mulai disusun ulang. Siswa-siswa yang diduga kuat memprovokasi teman-temannya diberi sangsi tegas. SMA Harapan Bangsa dapat bangkit kembali dalam waktu yang tidak lama. Memperoleh kembali kepercayaan masyarakat, juga mendapatkan kembali prestasi-prestasi yang hilang. Semua hampir kembali seperti sediakala.
Semua itu terjadi setahun yang lalu. Kini semua telah membaik. Kejadian itu hampir lenyap dari ingatan semua orang. Itulah salah satu sejarah pahit SMA Harapan Bangsa. Semua memang membaik, namun bukan berarti masalah telah selesai. Musuh masih tertidur, hanya menunggu waktu saja untuk kembali bangun.
ΩΩΩΩΩ
Audy Nara adalah anak bungsu dari keluarga Nara. Ayahnya seorang kepala polisi, dengan Ibu rumah tangga yang suka masak, dan kakak laki-laki Katon. Namun ada yang berbeda dari keluarga ini. Semua keturunannya harus menguasai ilmu beladiri. Inilah keunikan keluarga Nara didekade ini. Tuan dan Ny. Nara adalah seorang karateka sebelum berkeluarga. Katon sendiri lari kecabang beladiri Taekwondo sejak SMP. Kini Katon menjabat sebagai sabeum dan melatih anak-anak SD. Sementara itu, meski Audy telah duduk dibangku SMA, ia belum tertarik memilih cabang beladirinya sendiri. Sebenarnya masuk cabang beladiri manapun tidak masalah, sebab dari kecil mereka telah dikenalkan beladiri oleh Ayah dan Ibu. Jurus-jurus yang memang asli dari keluarga Nara.
Biasanya setiap selesai shalat subuh Audy akan latihan sebentar, atau paling tidak joging agar fisiknya tetap kuat. Semakin hari harus ada peningkatan. Ayah, Ibu, dan Katon yang menjadi pelatih pribadinya. Puncak latihan terberatnya adalah minggu pagi. Meski telah terbiasa sejak kecil, tapi Audy tetap merasa kewalahan menghadapi jadwal latihan hari minggu. Ingin sekali rasanya Audy tidak menemukan hari minggu dalam sejarah hidupnya. Walaupun saat kecil Audy semangat sekali latihan, namun sekarang berbeda. Ia merasa tidak seperti remaja lain seusianya yang bebas, bisa bermalas-malasan, tidak terlalu suka berkeringat dan bisa bangun siang. Meski selalu mengeluh dengan jadwal latihannya, ia tak pernah berfikir akan kabur meninggalkan keluarga yang sangat disayanginya.Dihari minggu setelah selesai latihan, sore harinya Audy dan teman-temannya akan menghabiskan waktu dengan jalan-jalan. Vitre dan Dona. Vitre adalah teman Audy sejak SD. Dona sendiri menjadi teman baik sejak kelas X di SMA Harapan Bangsa. Dona tipe yang cepat akrab dan menyenangkan hingga ketiganya bisa menjadi teman baik.
Tepat pukul 16.00 Vitre dan Dona menjemput Audy. Dona menemukan tempat yang bagus untuk mereka kunjungi hari ini. Tempat itu adalah sebuah cafe yang bernana cafe Today. Dona bahkan telah mengumpulkan informasi mengenai cafe Today. Selain menyediakan kue dan roti yang enak, cafe itu juga memiliki sesuatu yang menarik. Sebenarnya Audy malas harus keluar hari ini. Ia terlalu lelah sehingga merasa ngantuk dan hanya ingin tidur. Tapi karena dua temannya sudah datang, ia tidak enak untuk menolak.
Yang dimaksuk sesuatu yang menarik di cafe Today adalah pegawainya. Pegawainya keren-keren. Semua pengunjung yang datang juga berpendapat sama. Pegawai-pegawai yang keren itu sayang tidak membuat Audy melek seperti pengunjung-pengunjung yang lain. Audy terlalu sibuk dengan rasa ngantuknya. Vitre dan Dona membicarakan banyak hal, namun Audy hanya mengangguk dan menggeleng jika dimintai pendapat. Audy duduk menopang dagu yang seperti berton-ton beratnya. Dona pulang lebih dulu karena mendapat informasi ada bahan bagus untuk mading minggu depan. Vitre menyusul setelah Ibunya menelpon. Tapi Vitre tidak yakin meninggalkan Audy sendiri.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir." Kalimat Audy terdengar meyakinkan sehingga Vitre yakin tidak masalah meninggalkan Audy sendiri.
Beberapa menit setelah Vitre pergi Audy ambruk dan tertidur. Audy merasa nyaman sekali berada dialam mimpi. Kelelahannya tak lagi menjadi beban, ia dapat bersantai dan bermalas-malasan sesukanya. Audy benar-benar terlelap. Tanpa ia sadari waktu tetap terus berputar.
Cafe Today tutup jam 18.00, kemudian akan buka lagi pukul 20.00-23.30. Pengunjung telah sepi dan kelima pegawai yang bekerja ditempat itu tengah bersiap-siap menutup cafe. Mereka hanya perlu sedikit bersih. Kelima pegawai itu adalah orang-orang istimewa yang memiliki kemampuan istimewa. Mirip seperti hero pembela kebenaram. Kelimanya adalah; Widia dan Windy, mereka adalah saudara kembar. Juga Satria, Dafan, dan Egi. Kelimanya sudah berteman sejak kecil. Sebenarnya mereka dari keluarga yang berada dan terpandang. Hanya saja mereka bukan yang orang-orang manja dengan kemewahan orangtua. Mereka mencari jatidiri dan menemukannya dalam Secret. Secret adalah organisasi yang tidak terikat pada siapapun. Mereka tidak menunjukkan identitas asli mereka didepan umum. Tugas Secret adalah membongkar rencana jahat, termasuk hal-hal mencurigakan lain. Usia kelimanya sebaya, 17 tahun. Selain menerima tugas dari klien, mereka juga ikut membantu polisi meringkus penjahat.
“Ada kiriman fax dari klien kita," Widia mendatangi teman-temannya
yang sedang berkumpul. "Besok kita sudah bisa menjadi siswa SMA Harapan Bangsa, semua sudah diatur." Dari kelimanya hanya Widia yang perempuan. Widia suka berpakaian seperti laki-laki, tapi bukan berarti dia tomboy. Rambutnya tetap panjang, wajahnya tetap cantik meski tidak dipoles dan berpenampilan apa adanya. Mungkin karena Widia dari kecil berkumpul dengan empat teman laki-lakinya, jadi penampilannya seperti itu. Namun hal itu sudah melejat pada diri Widia dan menjadi karakternya tersendiri.
"Kalau dihitung-hitung sudah berapa kali ya kita pindah sekolah ?" Windy mengeluh. Windy adalah tipe yang romantis. Sangat bertolak belakang dengan Widia, kakaknya. Meski memiliki gen berbakat sebagai playboy dari Ayahnya, Windy tetap tidak berani macam-macam. Jika sedikit saja ia bertingkah, Kakaknya tidak akan tinggal diam.
"Ada yang tertidur disini," Egi memanggil teman-temannya. Kelebihan Egi dari yang
yang lain adalah bertubuh lebih pendek. Tingginya hanya 159 cm, sementara Widia dan yang lainnya rata-rata 170 cm. Karena lebih pendek itulah Egi terlihat lebih imut.
Kelimanya berkumpul untuk melihat siapa yang Egi maksud. Ternyata Audy. Dia masih belum bangun juga padahal cafe akan segera tutu.
"Gadis ini manis juga," komentar Windy.
"Bagaimana cara kita membangunkannya ?" Dafan ikut berkomentar. Dafan tipe manis-manis cool. Hanya jika dibandingkan dengan Satria, Satria jauh lebih cool dan pendiam.
Audy perlahan mulai bangun dari tidurnya yang pulas. Saat membuka mata, Audy mendapati wajah-wajah yang tidak dikenalnya. Audy mengamati sekelilingnya dan teringat dimana ia berada. Masih dengan malas seperti belum sadar sepenuhnya, Audy melihat jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul 18.10. Audy tersentak seketika itu dan bangkit dari duduknya.
"Maaf aku ketiduran. Sekali lagi maaf. Permisi aku harus pulang sekarang. Maaf." Audy berlari pulang. Widia dan yang lainnya menggeleng-gelengkan kepala. Mereka menutup cafe dan kembali sibuk dengan aktifitas yang sempat tertunda.
"Gadis aneh," gumam Satria.
"Bisa-bisanya tidur ditempat ini sepulas itu," Dafan menambahi.
"Kalau cafe ini begitu nyaman digunakan tidur, besok-besok kita ganti saja menjadi 'tempat peristirahatan sementara'," kata Windy asal.
ΩΩΩΩΩ
Setelah upacara rutin setiap senin pagi, kepala sekolah memperkenalkan 5 siswa baru di SMA Harapan Bangsa. Semua siswa-siswi di lapangan menyambutnya heboh. Begitupun kelas 2-IPA-1, kelas Audy. Audy mengingat-ingat sesuatu. Seperti pernah melihat kelima siswa baru itu sebelumnya. Tapi Audy lupa dimana.
"Bakal ada superstar baru nih di sekolah kita," Dona berbisik pada Audy dan Vitre.
"Keseharian sekolah kita yang suram akan mulai berwarna dengan kedatangan mereka."
Audy dan Vitre yang sudah mengenal baik sifat teman mereka yang satu ini tidak menanggapi apa-apa. Tapi Dona benar. Mulai hari ini sekolah akan heboh karena kedatangan 5 penghuni baru SMA Harapan Bangsa.
Kelima siswa baru itu dipisah. Windy dan Egi masuk kelas 2-IPA-1, sementara yang lainnya berpencar. Mereka benar-benar disambut hangat sebagai pendatang. Hanya satu hari kini mereka telah menjadi bahan pembicaraan disetiap sudut sekolah. Audy sendiri masih belum mengingat dimana pernah bertemu dengan kelima penghuni baru itu dalam satu waktu menanyakannya pada Vitre dan Dona, barangkali mereka tahu. Sepontan Dona menjitak kepala Audy berharap ingatan Audy tentang minggu sore tempo hari kembali. Karena Audy tetap tidak kunjung mengingatnya, Vitre yang mengingatkan Audy bahwa kelimanya adalah pegawai cafe Today tempat Audy sempat tertidur.
"Wajar aku lupa. Saat itu akukan setengah sadar," Audy beralasan.
Ketiganya sedang berjalan menuju kantin sekolah untuk mengisi perut yang sudah minta jatah.
Saat Audy akan duduk di kursi yang merapat didinding, Audy menduduki seseorang. Orang itu berteriak. Audy yang terkejut juga ikut berteriak.
"Maaf, maafkan aku. Aku tidak tahu kalau ada orang. Sekali lagi maafkan aku," kata Audy merasa bersalah. Kursi kantin yang merapat ke dinding memang sengaja dibuat lebih panjang agar muat ditempati lebih banyak orang.
"Iya aku maafkan," kata seseorang yang tanpa sengaja Audy duduki. Dia adalah Dafan.
"Dafan," tegur Dona.
"Yang ku tunggu datang. Aku duluan ya." Dafan pindah dan berkumpul bersama 4 temannya yang lain.
Lima superstar baru berkumpul di kantin dan membuat suasana kantin berubah cerah. Meski sedang makan, mereka tetap menjadi bahan pembicaraan yang selalu hangat.
"Wah, sepertinya mereka telah menguasai sekolah dengan pesona masing-masing," Audy berdecak kagum. Sambil mengunyah makanannya, ia mengamati kantin yang memang terlihat berbeda. Mata-mata siswi ataupun siswa yang lain tidak henti-hentinya menatap kearah 5 orang itu. Sedang kelimanya seperti sedang serius membahas sesuatu.
"Tentu saja," Dona membenarkan. "Mereka semua ramah tapi tidak murahan. Berbeda sekali dengan yang ada di sekolah lain. Sombong dan angkuh. Yang paling aku suka dari semuanya Dafan. Karakternya mirip Jay chou di filem kung fu drunk, manis-manis cool. Aku juga suka Satria. Kalau jalan tegap, langkahnya seperti penuh kebanggaan, pendiam tapi hangat. Windy juga, dia tipe hampir semua gadis masa kini. Romantis. Kalau Egi, dia imut-imut. Yang lebih aku suka Widia. Penampilannya keren. Biarpun mengenakan seragam pria, tapi tetap kelihatan anggun nan mempesona," Dona memuji kelima-limanya dengan perasaan penuh suka cita.
"Bilang aja suka semuanya," Audy dan Vitre berkomentar sama.
"Aku akan menyarankan pada yang lainnya untuk membuat fans club mereka," usul Dona dengan semangat '45nya. Ia senyum-senyum sendiri memikirkan dirinya akan menjadi asisten fans club dari kelima superstar baru di sekolah mereka.
"Apa itu tidak terlalu berlebihan ?" Audy berkomentar.
"Jika tidak melakukan hal yang berlebihan bukan Dona namanya," Vitre menimpali.
Dona pergi tanpa memakan jajanannya. Baginya memikirkan masalah fans club saja sudah membuatnya kenyang. Dona adalah anak satu-satunya, jadi wajar bila manja dan sedikit sesukannya. Berbeda dengan Vitre. Semenjak Ayahnya di penjara, ia bisa tetap bersekolah di SMA Harapan Bangsa berkat beasiswa. Vitre selalu murung. Apalagi setelah Ayahnya bunuh diri dalam penjara. Vitre lebih sering menyendiri, tidak terlalu suka bergaul dengan teman-teman yang lainnya. Terlebih kebanyakan siswi-siswi di SMA Harapan Bangsa sombong-sombong karena memiliki hidup yang serba melimpah. Hanya tinggal bilang, apa yang diinginkan akan segera dipenuhi. Sangat bertolak belakang dengan Vitre yang keluarganya baru bangkit kembali berkat usaha keras mereka.
"Kamu masih suka makan banyak seperti ini, tidak takut gemuk ?" Vitre mengomentari cara makan Audy yang selalu lebih banyak dari kebanyakan teman-temannya.
"Bagaimana bisa gemuk, energi yang dikeluarkan saja dua kali lebih banyak dari yang dimasukkan. Jadi tidak perlu takut," Audy terus mengunyah makanannya. Kegemukan memang hal yang paling dihindari saat seorang gadis mulai tumbuh menjadi remaja, begitupun Audy. Tapi selama dia bisa mengimbanginya, Audy tidak perlu takut terinfeksi penyakit yang bernama gemuk.
"Aku rasa ada yang aneh dengan anak-anak baru itu," kata Vitre sedikit berbisik.
"Aneh karena Dona tidak mengajakmu bergabung dengan fans club sebagai orang pertama," canda Audy.
Vitre merebut makanan yang akan dimakan oleh Audy. Saat Audy akan memakan yang lainnya, Vitre merebutnya lagi. Mereka jadi rebutan seperti anak kecil. Vitre melakukan itu sebagai tanda protes karena tidak terima Audy mencandainya begitu.
Dalam setiap cerita pasti memiliki peran antagonis tersendiri. Itulah jabatan T2 dkk -Tyas, Tasya, dan kawan-kawan. Dari teman-teman yang sombong, merekalah yang tersombong. Selain sombong, mereka juga selalu merasa benar sendiri. Tyas, Tasya dan kedua temannya yang lain sangat suka mengganggu Vitre. Bagi mereka yang selalu merasa tersempurna, Vitre adalah aib bagi nama baik sekolah. Disebut aib karena scandal yang dilakukan oleh Ayah Vitre benar-benar memalukan. T2 dkk mendatangi Audy dan Vitre yang masih bercanda tentang makanan. Tyas menarik kursi dan bergabung dengan Audy dan Vitre disatu meja. Namun niat mereka tidak pernah baik jika menghadapi orang yang tidak mereka sukai.
"Sudah sebesar ini kelakuan masih seperti anak Tk," cibir Tyas.
Audy dan Vitre hanya diam saja, tidak ingin mencari masalah dengan mereka. Karena masalah yang paling dihindari siswa-siswa lain adalah bermasalah dengan T2 dkk.
"Aku sudah kenyang nih, ke kelas yuk," ajak Audy menghindar. Vitre setuju dengan pendapat Audy. Dia yang pertama bangun dari duduknya untuk pergi meninggalkan kantin. Tapi Tyas yang duduk disebelah Vitre menahannya.
"Belum pernah diajarin sopan santun ya, main pergi begitu," tandas Tyas.
"Terang saja Ayahnya sibuk korupsi, sementara Ibunya mana sibuk sendiri mencari suami baru," Tasya menimpali.
Keempatnya terbahak mengejek Vitre. Vitre marah sekali. Ia menggenggam tangannya hingga bergetar. Baginya harga diri orangtuanya adalah harga dirinya yang paling tinggi. T2 dkk berlalu sambil tiada hentinya terbahak. Saat Vitre akan membalas, Audy melarang. Audy memiliki cara sendiri yang lebih menyenangkan. Audy mengambil stik balado yang dibawa oleh Dona dan baru dimakan beberapa. Audy melempar stik balado itu dengan teknik kearah T2 dkk sehingga menyangkut dirambut mereka. Keempat-empatnya belum menyadari penampilan mereka dan masih tertawa-tawa seolah tidak terjadi apapun.
"Ayo cepat pergi, nanti nenek sihir ngamuk," kata Audy menarik Vitre meninggalkan kantin. Vitre merasa senang Audy menggantikannya mengerjai T2 dkk dengan lebih baik dibanding adu emosi.
"Gadis itu sekolah disini juga," Windy berkata saat melihat Audy dan Vitre meninggalkan kantin setelah mengerjai T2 dkk.
"Dia satu kelas denganku dan Widia," Egi menjawab.
Sesampainya di kelas, Audy dan Vitre masih tertawa senang membayangkan betapa T2 dkk akan sangat malu ketika menyadari penampilan mereka, kemudian berteriak-teriak karena marah. Hal itu sudah menjadi hiburan tersendiri bagi keduanya.

tobecontinue

Tidak ada komentar: