Sekolah adalah sistem yang sangat kompleks. Karena di sekolah pertama
kalinya seorang anak bersosialisasi dengan orang lain yang beranekaragam sikap
dan tingkahlaku, juga mendidik anak-anak menjadi menjadi bibit-bibit unggul
penerus bangsa. Saat ini kualitas sekolah dapat dijadikan tolok ukur negara
maju. Selain proses belajar-mengajar dan bersosialisasi, sekolah juga
mengajarkan bagaimana mengenal masa depan serta menghadapi dunia.
Sekolah biasanya diketuai oleh kepala yayasan atau dibawahi oleh negara,
dewan komite sekolah, kepala sekolah, pengurus, staf, serta siswa-siswi. Jika
salah satu dari yang berwenang tidak konsekuen dalam menjalankan tugasnya, akan
terjadi ketidak stabilan dalam sekolah. Proses belajar-mengajar dan
fungsi-fungsi sekolah tidak akan berjalan maksimal. Itulah yang terjadi di SMA
Harapan Bangsa. SMA Harapan Bangsa adalah salah satu sekolah elit yang telah
banyak menoreh prestasi dibidang ekstra maupun akademik. Semua nampak sempurna,
dari fasilitas hingga lulusan-lusan yang dihasilkan. Namun semakin tahun
prestasi yang dihasilkan semakin menurun. Hal itu terjadi karena ada kejahatan
terselubung dalam sekolah. Kejahatan itulah yang menodai niat tulus guru-guru
mengajar. Sehingga banyak mata pelajaran yang diberikan susah diterima dan
cepat lupa. Akhirnya terjadilah konspirasi besar-besaran di SMA Harapan Bangsa.
Mempertanyakan apa sebenarnya masalah sekolah yang tidak mereka tahu. Tentang
dana perawatan fasilitas dan hal-hal lainnya. Satu minggu lebih tidak ada
proses belajar-mengajar. Semua risuh. Guru-guru menjadi curiga, mempertanyakan
siapa yang memprovokasi para siswa hingga seperti ini. Semua bertambah kacau
ketika sampailah berita kerisuhan SMA Harapan Bangsa pada media masa. Sekolah
mulai bergerak cepat mencari jalan keluar, mengklarifikasi semua berita negatif
yang beredar. Pihak sekolah mengatakan bahwa semua yang terjadi adalah
salahpaham dan ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang mencoba
mengadudomba mereka serta menjatuhkan nama sekolah.
Semua mulai disusun ulang. Siswa-siswa yang diduga kuat memprovokasi
teman-temannya diberi sangsi tegas. SMA Harapan Bangsa dapat bangkit kembali
dalam waktu yang tidak lama. Memperoleh kembali kepercayaan masyarakat, juga
mendapatkan kembali prestasi-prestasi yang hilang. Semua hampir kembali seperti
sediakala.
Semua itu terjadi setahun yang lalu. Kini semua telah membaik. Kejadian itu
hampir lenyap dari ingatan semua orang. Itulah salah satu sejarah pahit SMA
Harapan Bangsa. Semua memang membaik, namun bukan berarti masalah telah
selesai. Musuh masih tertidur, hanya menunggu waktu saja untuk kembali bangun.
ΩΩΩΩΩ
Audy Nara adalah anak bungsu dari keluarga Nara. Ayahnya seorang kepala
polisi, dengan Ibu rumah tangga yang suka masak, dan kakak laki-laki Katon.
Namun ada yang berbeda dari keluarga ini. Semua keturunannya harus menguasai
ilmu beladiri. Inilah keunikan keluarga Nara didekade ini. Tuan dan Ny. Nara
adalah seorang karateka sebelum berkeluarga. Katon sendiri lari kecabang
beladiri Taekwondo sejak SMP. Kini Katon menjabat sebagai sabeum dan melatih
anak-anak SD. Sementara itu, meski Audy telah duduk dibangku SMA, ia belum
tertarik memilih cabang beladirinya sendiri. Sebenarnya masuk cabang beladiri
manapun tidak masalah, sebab dari kecil mereka telah dikenalkan beladiri oleh
Ayah dan Ibu. Jurus-jurus yang memang asli dari keluarga Nara.
Biasanya setiap selesai shalat subuh Audy akan latihan sebentar, atau
paling tidak joging agar fisiknya tetap kuat. Semakin hari harus ada
peningkatan. Ayah, Ibu, dan Katon yang menjadi pelatih pribadinya. Puncak
latihan terberatnya adalah minggu pagi. Meski telah terbiasa sejak kecil, tapi
Audy tetap merasa kewalahan menghadapi jadwal latihan hari minggu. Ingin sekali
rasanya Audy tidak menemukan hari minggu dalam sejarah hidupnya. Walaupun saat
kecil Audy semangat sekali latihan, namun sekarang berbeda. Ia merasa tidak
seperti remaja lain seusianya yang bebas, bisa bermalas-malasan, tidak terlalu
suka berkeringat dan bisa bangun siang. Meski selalu mengeluh dengan jadwal
latihannya, ia tak pernah berfikir akan kabur meninggalkan keluarga yang sangat
disayanginya.Dihari minggu setelah selesai latihan, sore harinya Audy dan
teman-temannya akan menghabiskan waktu dengan jalan-jalan. Vitre dan Dona.
Vitre adalah teman Audy sejak SD. Dona sendiri menjadi teman baik sejak kelas X
di SMA Harapan Bangsa. Dona tipe yang cepat akrab dan menyenangkan hingga
ketiganya bisa menjadi teman baik.
Tepat pukul 16.00 Vitre dan Dona menjemput Audy. Dona menemukan tempat yang
bagus untuk mereka kunjungi hari ini. Tempat itu adalah sebuah cafe yang
bernana cafe Today. Dona bahkan telah mengumpulkan informasi mengenai cafe
Today. Selain menyediakan kue dan roti yang enak, cafe itu juga memiliki
sesuatu yang menarik. Sebenarnya Audy malas harus keluar hari ini. Ia terlalu
lelah sehingga merasa ngantuk dan hanya ingin tidur. Tapi karena dua temannya
sudah datang, ia tidak enak untuk menolak.
Yang dimaksuk sesuatu yang menarik di cafe Today adalah pegawainya.
Pegawainya keren-keren. Semua pengunjung yang datang juga berpendapat sama. Pegawai-pegawai
yang keren itu sayang tidak membuat Audy melek seperti pengunjung-pengunjung
yang lain. Audy terlalu sibuk dengan rasa ngantuknya. Vitre dan Dona
membicarakan banyak hal, namun Audy hanya mengangguk dan menggeleng jika
dimintai pendapat. Audy duduk menopang dagu yang seperti berton-ton beratnya.
Dona pulang lebih dulu karena mendapat informasi ada bahan bagus untuk mading
minggu depan. Vitre menyusul setelah Ibunya menelpon. Tapi Vitre tidak yakin
meninggalkan Audy sendiri.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir." Kalimat Audy terdengar
meyakinkan sehingga Vitre yakin tidak masalah meninggalkan Audy sendiri.
Beberapa menit setelah
Vitre pergi Audy ambruk dan tertidur. Audy merasa nyaman sekali berada dialam
mimpi. Kelelahannya tak lagi menjadi beban, ia dapat bersantai dan
bermalas-malasan sesukanya. Audy benar-benar terlelap. Tanpa ia sadari waktu
tetap terus berputar.
Cafe Today tutup jam 18.00, kemudian akan buka lagi pukul 20.00-23.30.
Pengunjung telah sepi dan kelima pegawai yang bekerja ditempat itu tengah
bersiap-siap menutup cafe. Mereka hanya perlu sedikit bersih. Kelima pegawai
itu adalah orang-orang istimewa yang memiliki kemampuan istimewa. Mirip seperti
hero pembela kebenaram. Kelimanya adalah; Widia dan Windy, mereka adalah saudara
kembar. Juga Satria, Dafan, dan Egi. Kelimanya sudah berteman sejak kecil.
Sebenarnya mereka dari keluarga yang berada dan terpandang. Hanya saja mereka
bukan yang orang-orang manja dengan kemewahan orangtua. Mereka mencari jatidiri
dan menemukannya dalam Secret. Secret adalah organisasi yang tidak terikat pada
siapapun. Mereka tidak menunjukkan identitas asli mereka didepan umum. Tugas
Secret adalah membongkar rencana jahat, termasuk hal-hal mencurigakan lain.
Usia kelimanya sebaya, 17 tahun. Selain menerima tugas dari klien, mereka juga
ikut membantu polisi meringkus penjahat.
“Ada kiriman fax dari klien kita," Widia mendatangi teman-temannya
yang sedang berkumpul. "Besok kita sudah bisa menjadi siswa SMA Harapan Bangsa, semua sudah diatur." Dari kelimanya hanya Widia yang perempuan. Widia suka berpakaian seperti laki-laki, tapi bukan berarti dia tomboy. Rambutnya tetap panjang, wajahnya tetap cantik meski tidak dipoles dan berpenampilan apa adanya. Mungkin karena Widia dari kecil berkumpul dengan empat teman laki-lakinya, jadi penampilannya seperti itu. Namun hal itu sudah melejat pada diri Widia dan menjadi karakternya tersendiri.
yang sedang berkumpul. "Besok kita sudah bisa menjadi siswa SMA Harapan Bangsa, semua sudah diatur." Dari kelimanya hanya Widia yang perempuan. Widia suka berpakaian seperti laki-laki, tapi bukan berarti dia tomboy. Rambutnya tetap panjang, wajahnya tetap cantik meski tidak dipoles dan berpenampilan apa adanya. Mungkin karena Widia dari kecil berkumpul dengan empat teman laki-lakinya, jadi penampilannya seperti itu. Namun hal itu sudah melejat pada diri Widia dan menjadi karakternya tersendiri.
"Kalau dihitung-hitung sudah berapa kali ya kita pindah sekolah
?" Windy mengeluh. Windy adalah tipe yang romantis. Sangat bertolak
belakang dengan Widia, kakaknya. Meski memiliki gen berbakat sebagai playboy
dari Ayahnya, Windy tetap tidak berani macam-macam. Jika sedikit saja ia
bertingkah, Kakaknya tidak akan tinggal diam.
"Ada yang tertidur disini," Egi memanggil teman-temannya.
Kelebihan Egi dari yang
yang lain adalah
bertubuh lebih pendek. Tingginya hanya 159 cm, sementara Widia dan yang lainnya
rata-rata 170 cm. Karena lebih pendek itulah Egi terlihat lebih imut.
Kelimanya berkumpul
untuk melihat siapa yang Egi maksud. Ternyata Audy. Dia masih belum bangun juga
padahal cafe akan segera tutu.
"Gadis ini manis juga," komentar Windy.
"Bagaimana cara kita membangunkannya ?" Dafan ikut berkomentar.
Dafan tipe manis-manis cool. Hanya jika dibandingkan dengan Satria, Satria jauh
lebih cool dan pendiam.
Audy perlahan mulai bangun dari tidurnya yang pulas. Saat membuka mata,
Audy mendapati wajah-wajah yang tidak dikenalnya. Audy mengamati sekelilingnya
dan teringat dimana ia berada. Masih dengan malas seperti belum sadar
sepenuhnya, Audy melihat jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul 18.10. Audy
tersentak seketika itu dan bangkit dari duduknya.
"Maaf aku ketiduran. Sekali lagi maaf. Permisi aku harus pulang
sekarang. Maaf." Audy berlari pulang. Widia dan yang lainnya
menggeleng-gelengkan kepala. Mereka menutup cafe dan kembali sibuk dengan
aktifitas yang sempat tertunda.
"Gadis aneh," gumam Satria.
"Bisa-bisanya tidur ditempat ini sepulas itu," Dafan menambahi.
"Kalau cafe ini begitu nyaman digunakan tidur, besok-besok kita ganti
saja menjadi 'tempat peristirahatan sementara'," kata Windy asal.
ΩΩΩΩΩ
Setelah upacara rutin setiap senin pagi, kepala sekolah memperkenalkan 5
siswa baru di SMA Harapan Bangsa. Semua siswa-siswi di lapangan menyambutnya
heboh. Begitupun kelas 2-IPA-1, kelas Audy. Audy mengingat-ingat sesuatu.
Seperti pernah melihat kelima siswa baru itu sebelumnya. Tapi Audy lupa dimana.
"Bakal ada superstar baru nih di sekolah kita," Dona berbisik
pada Audy dan Vitre.
"Keseharian sekolah
kita yang suram akan mulai berwarna dengan kedatangan mereka."
Audy dan Vitre yang
sudah mengenal baik sifat teman mereka yang satu ini tidak menanggapi apa-apa.
Tapi Dona benar. Mulai hari ini sekolah akan heboh karena kedatangan 5 penghuni
baru SMA Harapan Bangsa.
Kelima siswa baru itu dipisah. Windy dan Egi masuk kelas 2-IPA-1, sementara
yang lainnya berpencar. Mereka benar-benar disambut hangat sebagai pendatang.
Hanya satu hari kini mereka telah menjadi bahan pembicaraan disetiap sudut sekolah.
Audy sendiri masih belum mengingat dimana pernah bertemu dengan kelima penghuni
baru itu dalam satu waktu menanyakannya pada Vitre dan Dona, barangkali mereka
tahu. Sepontan Dona menjitak kepala Audy berharap ingatan Audy tentang minggu
sore tempo hari kembali. Karena Audy tetap tidak kunjung mengingatnya, Vitre
yang mengingatkan Audy bahwa kelimanya adalah pegawai cafe Today tempat Audy
sempat tertidur.
"Wajar aku lupa. Saat itu akukan setengah sadar," Audy beralasan.
Ketiganya sedang berjalan menuju kantin sekolah untuk mengisi perut yang
sudah minta jatah.
Saat Audy akan duduk di kursi yang merapat didinding, Audy menduduki
seseorang. Orang itu berteriak. Audy yang terkejut juga ikut berteriak.
"Maaf, maafkan aku. Aku tidak tahu kalau ada orang. Sekali lagi
maafkan aku," kata Audy merasa bersalah. Kursi kantin yang merapat ke
dinding memang sengaja dibuat lebih panjang agar muat ditempati lebih banyak
orang.
"Iya aku maafkan," kata seseorang yang tanpa sengaja Audy duduki.
Dia adalah Dafan.
"Dafan," tegur Dona.
"Yang ku tunggu datang. Aku duluan ya." Dafan pindah dan
berkumpul bersama 4 temannya yang lain.
Lima superstar baru
berkumpul di kantin dan membuat suasana kantin berubah cerah. Meski sedang
makan, mereka tetap menjadi bahan pembicaraan yang selalu hangat.
"Wah, sepertinya mereka telah menguasai sekolah dengan pesona
masing-masing," Audy berdecak kagum. Sambil mengunyah makanannya, ia
mengamati kantin yang memang terlihat berbeda. Mata-mata siswi ataupun siswa
yang lain tidak henti-hentinya menatap kearah 5 orang itu. Sedang kelimanya
seperti sedang serius membahas sesuatu.
"Tentu saja," Dona membenarkan. "Mereka semua ramah tapi
tidak murahan. Berbeda sekali dengan yang ada di sekolah lain. Sombong dan
angkuh. Yang paling aku suka dari semuanya Dafan. Karakternya mirip Jay chou di
filem kung fu drunk, manis-manis cool. Aku juga suka Satria. Kalau jalan tegap,
langkahnya seperti penuh kebanggaan, pendiam tapi hangat. Windy juga, dia tipe
hampir semua gadis masa kini. Romantis. Kalau Egi, dia imut-imut. Yang lebih
aku suka Widia. Penampilannya keren. Biarpun mengenakan seragam pria, tapi
tetap kelihatan anggun nan mempesona," Dona memuji kelima-limanya dengan
perasaan penuh suka cita.
"Bilang aja suka semuanya," Audy dan Vitre berkomentar sama.
"Aku akan menyarankan pada yang lainnya untuk membuat fans club
mereka," usul Dona dengan semangat '45nya. Ia senyum-senyum sendiri
memikirkan dirinya akan menjadi asisten fans club dari kelima superstar baru di
sekolah mereka.
"Apa itu tidak terlalu berlebihan ?" Audy berkomentar.
"Jika tidak melakukan hal yang berlebihan bukan Dona namanya,"
Vitre menimpali.
Dona pergi tanpa memakan jajanannya. Baginya memikirkan masalah fans club
saja sudah membuatnya kenyang. Dona adalah anak satu-satunya, jadi wajar bila
manja dan sedikit sesukannya. Berbeda dengan Vitre. Semenjak Ayahnya di
penjara, ia bisa tetap bersekolah di SMA Harapan Bangsa berkat beasiswa. Vitre
selalu murung. Apalagi setelah Ayahnya bunuh diri dalam penjara. Vitre lebih
sering menyendiri, tidak terlalu suka bergaul dengan teman-teman yang lainnya.
Terlebih kebanyakan siswi-siswi di SMA Harapan Bangsa sombong-sombong karena
memiliki hidup yang serba melimpah. Hanya tinggal bilang, apa yang diinginkan
akan segera dipenuhi. Sangat bertolak belakang dengan Vitre yang keluarganya
baru bangkit kembali berkat usaha keras mereka.
"Kamu masih suka makan banyak seperti ini, tidak takut gemuk ?"
Vitre mengomentari cara makan Audy yang selalu lebih banyak dari kebanyakan
teman-temannya.
"Bagaimana bisa gemuk, energi yang dikeluarkan saja dua kali lebih
banyak dari yang dimasukkan. Jadi tidak perlu takut," Audy terus mengunyah
makanannya. Kegemukan memang hal yang paling dihindari saat seorang gadis mulai
tumbuh menjadi remaja, begitupun Audy. Tapi selama dia bisa mengimbanginya,
Audy tidak perlu takut terinfeksi penyakit yang bernama gemuk.
"Aku rasa ada yang aneh dengan anak-anak baru itu," kata Vitre
sedikit berbisik.
"Aneh karena Dona tidak mengajakmu bergabung dengan fans club sebagai
orang pertama," canda Audy.
Vitre merebut makanan
yang akan dimakan oleh Audy. Saat Audy akan memakan yang lainnya, Vitre
merebutnya lagi. Mereka jadi rebutan seperti anak kecil. Vitre melakukan itu
sebagai tanda protes karena tidak terima Audy mencandainya begitu.
Dalam setiap cerita pasti memiliki peran antagonis tersendiri. Itulah
jabatan T2 dkk -Tyas, Tasya, dan kawan-kawan. Dari teman-teman yang sombong,
merekalah yang tersombong. Selain sombong, mereka juga selalu merasa benar
sendiri. Tyas, Tasya dan kedua temannya yang lain sangat suka mengganggu Vitre.
Bagi mereka yang selalu merasa tersempurna, Vitre adalah aib bagi nama baik
sekolah. Disebut aib karena scandal yang dilakukan oleh Ayah Vitre benar-benar
memalukan. T2 dkk mendatangi Audy dan Vitre yang masih bercanda tentang
makanan. Tyas menarik kursi dan bergabung dengan Audy dan Vitre disatu meja.
Namun niat mereka tidak pernah baik jika menghadapi orang yang tidak mereka
sukai.
"Sudah sebesar ini kelakuan masih seperti anak Tk," cibir Tyas.
Audy dan Vitre hanya
diam saja, tidak ingin mencari masalah dengan mereka. Karena masalah yang
paling dihindari siswa-siswa lain adalah bermasalah dengan T2 dkk.
"Aku sudah kenyang nih, ke kelas yuk," ajak Audy menghindar.
Vitre setuju dengan pendapat Audy. Dia yang pertama bangun dari duduknya untuk
pergi meninggalkan kantin. Tapi Tyas yang duduk disebelah Vitre menahannya.
"Belum pernah diajarin sopan santun ya, main pergi begitu,"
tandas Tyas.
"Terang saja Ayahnya sibuk korupsi, sementara Ibunya mana sibuk
sendiri mencari suami baru," Tasya menimpali.
Keempatnya terbahak
mengejek Vitre. Vitre marah sekali. Ia menggenggam tangannya hingga bergetar.
Baginya harga diri orangtuanya adalah harga dirinya yang paling tinggi. T2 dkk
berlalu sambil tiada hentinya terbahak. Saat Vitre akan membalas, Audy
melarang. Audy memiliki cara sendiri yang lebih menyenangkan. Audy mengambil
stik balado yang dibawa oleh Dona dan baru dimakan beberapa. Audy melempar stik
balado itu dengan teknik kearah T2 dkk sehingga menyangkut dirambut mereka.
Keempat-empatnya belum menyadari penampilan mereka dan masih tertawa-tawa
seolah tidak terjadi apapun.
"Ayo cepat pergi, nanti nenek sihir ngamuk," kata Audy menarik
Vitre meninggalkan kantin. Vitre merasa senang Audy menggantikannya mengerjai
T2 dkk dengan lebih baik dibanding adu emosi.
"Gadis itu sekolah disini juga," Windy berkata saat melihat Audy
dan Vitre meninggalkan kantin setelah mengerjai T2 dkk.
"Dia satu kelas denganku dan Widia," Egi menjawab.
Sesampainya di kelas, Audy dan Vitre masih tertawa senang membayangkan
betapa T2 dkk akan sangat malu ketika menyadari penampilan mereka, kemudian
berteriak-teriak karena marah. Hal itu sudah menjadi hiburan tersendiri bagi
keduanya.
tobecontinue
Tidak ada komentar:
Posting Komentar