Sabtu, 07 Mei 2016

12 Juni (Refisi) *Bagian II-End*

Dua minggu sudah berlalu. Kesedihanku kehilangan mas Dian masih saja membebaniku. Rindu yang aku rasakan mulai memuncak dan semakin menggebu-gebu.

Semua hal yang terjadi masih seperti mimpi, begitu tiba-tiba. Sampai-sampai akal sehatku masih belum percaya hal ini benar-benar terjadi. Semuanya tidak masuk akal. Penjelasan-penjelasan yang aku inginkan pun tak kunjung aku dapatkan. Aku ingin segera mengakhiri ini, mengangkat beban yang terasa begitu berat aku pikul. Menghilangkan semuanya, semua kesedihanku.

Aku menghela nafas dan lagi-lagi airmataku meleleh. Masih saja aku tidak mampu membendungnya.

Beberapa hari yang lalu keluargaku datang ke rumah. Kakak laki-lakiku sangat marah mendengar perlakuan mas Dian padaku. Kakakku ingin agar secepatnya aku menggugat cerai, tapi aku belum sanggup. Aku ingin menenangkan diri lebih dulu hingga benar-benar siap.

Kakak perempuanku dengan kata-kata bijaknya berusaha menguatkanku.

Ayah dan Ibu tentu saja sangat sedih. Sebagai seorang anak, membuat mereka bersedih juga membuatku terluka. Sudah sebesar ini aku masih saja merepotkan dan tidak henti-hentinya membuat mereka sedih.

Aku merasa bersalah pada keluarga, kepergian mas Dian yang tanpa penjelasan, juga komentar-komentar tetangga membuatku depresi. Belum lagi ditambah semua beban pikiranku ini, aku masih juga harus menghadapi perasaan-perasaan tidak jelas tentang kehadiran sesuatu yang aku tidak tahu itu apa.

Aku merasa mungkin saja aku telah gila. Aku sering melakukan percobaan dengan meletakkan gelas kaca berisi air putih. Benar saja. Saat aku mulai gelisah, ketika perasaan aneh itu muncul, air dalam gelas pun beriak. Semakin lama semakin terlihat jelas. Anehnya gelombang dalam gelas seketika itu juga kembali tenang saat orang lain datang.

Awalnya aku ketakutan. Saat mulai jengkel aku akan berteriak siapa dan apa yang diinginkannya dariku, namun tetap saja tidak pernah ada penjelasan yang bisa aku dapatkan.

Perlahan, aku mulai menerima perasaan aneh itu. Aku bahkan mulai terbiasa dan menginginkan kehadirannya saat tidak aku rasakan. Aku mulai terperangkap dalam pemikiran gila yang sebenarnya aku sendiri bergidik saat memikirkan tentang diriku saat ini.

Tapi aku bisa apa ? aku tidak bisa menghindar dan tidak tahu bagaimana cara menghilangkan kegilaan ini. Aku harus bercerita pada siapa ? tidak akan ada yang percaya. Apakah aku harus membiarkan mereka memberiku tatapan aneh setelah aku selesai bercerita. Itu bagiku jauh lebih menakutkan dibanding perasaan aneh ini.

Aku pejamkan mataku, meratapi kesedihanku.

Sebenarnya aku tidak ingin begini, tapi rasa sakitnya tidak mau hilang juga. Airmata sudah banyak terkuras, tiap malampun aku selalu berdoa, memohon agar rasa sakit ini segera diangkat dan agar secepatnya aku bisa merelakan mas Dian. Tapi rasa sakitnya belum juga berkurang. Setiap malam masih selalu berharap mas Dian pulang meski dengan mengendap-endap, di tiap jalan yang kulewati berharap bisa kudapati sosok mas Dian walau hanya sekejap.

Setiap hari aku selalu mengharapkan kedatangannya.

Ibu selalu berpesan agar semua hal yang terjadi dapat aku ikhlaskan, dengan begitu aku akan lebih tenang. Tapi bagaimana aku bisa mengikhlaskannya begitu saja kalau mas Dian meninggalkanku tanpa penjelasan dan begitu tiba-tiba. Bahkan disaat semuanya terasa begitu indah.

Aku masih memejamkan mataku. Hening.

Deg. Tiba-tiba saja aku merasakan ada sesuatu yang mendekat. Dekat, dekat. Terlalu dekat. Sesuatu itu ingin menyentuhku. Terasa begitu nyata dan–

Refleks aku menghindar. Membuka mata dan mengamati sekelilingku. Lagi-lagi tidak ada siapapun. Hening. Aku kembali merasakan kehadiran sesuatu yang tidak dapat terdeteksi penglihatanku. Mataku menyapu setiap sudut ruangan, waspada, barangkali aku bisa menemukan sesuatu itu kali ini.

Tidak ada.

Rina datang. Suara motornya yang sudah sangat aku hapal memasuki pekarangan rumahku.

“Kamu masih belum siap-siap ?” Rina bertanya melihat penampilanku yang masih berantakan.

“Aku tidak mau pergi kemana-mana,” kataku malas.

Kemarin Rina memberiku undangan reunian SMA. Dari awal aku sudah mengatakan tidak ingin pergi. Rina saja yang terus memaksa dan bilang akan menjemputku meski sudah kukatakan tidak  akan pergi.

“Pergi berkumpul dan menghibur diri akan membuatmu merasa lebih baik. Ayo, sekarang ganti bajumu. Cepat,” kata Rina masih berusaha meyakinkanku. Rina mendorongku masuk ke kamar.

Meski malas, aku mengganti pakaianku juga. Semoga Rina benar. Setelah berkumpul dengan teman-teman lama, aku bisa merasa lebih baik.

Aku memerhatikan wajahku dicermin, mataku begitu sembab. Aku perlu waktu untuk memolesnya.

Setelah menghabiskan waktu beberapa menit, kami siap berangkat.
×××××

“Wah, Rina kelihatan lebih cantik ya.”

“Iya dong, 'kan perawatannya lengkap,” candanya sambil tertawa kecil.

Ditengah keramaian dan meriahnya acara, aku justru merasa sepi.

Aku memilih menyendiri sementara Rina menyapa teman-teman yang baru datang. Beberapa teman yang dulu dekat denganku di kelas mengajak mengobrol. Kami bernostalgia dan membicarakan banyak hal. Meski aku menyahut dan tersenyum, namun aku sama sekali tidak menikmati pembicaraan kami. Pikiranku kemana-mana. Aku menghilang dan bermain dengan imajinasiku sendiri. Kecerianku yang dulu lenyap entah kemana. Aku tidak nyaman berada dikeramaian meski aku mengenal mereka semua. Aku juga tidak suka jika mereka mulai banyak bertanya.

Mereka saling membahas kesibukan masing-masing sampai akhirnya ada yang menanyakan mengenai rumah tanggaku. Mengenai kapan aku akan memiliki momongan.

Aku terdiam. Tidak tahu harus menjawab bagaimana. Aku belum siap kalau semua orang tahu bagaimana keadaan rumah tanggaku saat ini. Tidak, jangan sekarang.

Airmataku hampir saja tumpah kalau saja Rina tidak datang dan membantuku memberi penjelasan. Ia menjawab pertanyaan mengenai suamiku dan mencampurkannya dengan candaan kecil. Aku sangat terbantu dan berterimakasih karenanya.

“Mina, Rina,” seorang memanggil kami saat acara telah selesai dan bersiap pulang. “Aku dan anak-anak lain mau ke rumah sakit. Kalian mau ikut ?”
Rina tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arahku untuk meminta pendapat. Aku menggeleng pelan.

“Siapa yang sakit ?” tanya Rina ingin tahu.

“Satria Yoga. Kalau tidak salah sih dulu dia di kelas XII IPA 2.”

“XII IPA 3,” kata teman yang bersamanya membenarkan.

Mendengar nama Satria Yoga, aku dan Rina sangat terkejut. Rina menatapku lagi untuk memastikan benarkah aku tidak ingin ikut ke rumah sakit. Aku hanya terdiam, masih terkejut dengan berita yang baru saja aku dengar. Karena aku tidak juga merespon, Rina mengambil kesimpulan untuk berangkat.
×××××

Sampai di rumah sakit, kami rombongan kedua yang kira-kira berjumlah 10 orang –aku tidak terlalu memerhatikan– langsung menuju lantai 2, ruang bogenvil.

Seorang ibu tinggi, kurus, dengan tatapan begitu letih, bersama seorang gadis muda yang kira-kira seusia kami menemani Satria. Keduanya menyambut kedatangan kami dengan ramah. Ibu Satria menceritakan kecelakaan yang menimpa anaknya 2 minggu yang lalu dengan perasaan teriris.

Kecelakaan mobil itulah yang mengakibatkan Satria koma hingga saat ini. Mendengar semua cerita dari Ibu Satria, membuatku tersadar satu hal. Kecelakan hari itu di depan rumah sakit tempatku memeriksakan diri...

Dadaku tiba-tiba sesak.

Aku permisi keluar. Aku perlu udara segar untuk membuatku merasa lebih baik.

Aku kembali mengurutkan kejadian-kejadian yang aku alami selama ini. Dimulai pada hari itu, 12 Juni.

“Mina, kamu baik-baik saja,” tanya Rina terlihat khawatir. “Wajahmu pucat sekali. Apa kamu mau pulang ?”
Aku menggeleng.

“Ada sesuatu yang ingin aku katakana,” kataku datar. Rina diam, menunggu kalimatku selanjutnya. Aku menatap mata Rina sebentar sebelum melanjutkan kalimatku. “Rina ingat kecelakan depan rumah sakit 2 minggu lalu ? sebelum Rina menarikku masuk dan bertemu dengan mas Dian ? Itu... Satria.”

“Iya, aku tahu. Tadi ibu Satria sudah menceritakan semuanya,” jawab Rina.

“Tapi ada banyak hal yang terjadi setelah itu. Aku… aku seperti bisa merasakan keberadaan sesuatu. Sesuatu itu datang, namun aku tidak pernah tahu apa maunya...”

“Mina, kamu bicara apa ?” Rina memotong kalimatku. Ia terlihat kebingungan, berusaha mencerna.

Aku mulai marah. Berpikir bahwa sebenarnya Rina mengerti hanya saja berpura-pura karena tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Sedih.

“Satria, dia selalu datang. Awalnya aku tidak tahu kalau itu dia. Dia memberiku tanda-tanda dan aku tetap tidak mengerti sampai hari ini ibu Satria bercerita tentang kecelakaan yang menimpa anaknya.” Aku berhenti bercerita karena melihat reaksi Rina.

Rina menggeleng. Tatapan matanya dipenuhi rasa kasihan terhadapku.

“Itu benar-benar terjadi!!” aku memekik. Kali ini aku benar-benar marah. Mina, satu-satunya orang yang bisa kuandalkan tidak mempercayaiku. “Awalnya aku juga tidak percaya, aku tersiksa, merasa takut tidak tahu pada siapa harus bercerita. Aku tahu ini konyol, tapi aku alami. Aku hampir gila.” Aku mulai menangis. Frustasi.

Teman-teman yang tadinya berada di ruang rawat keluar. Mereka mendengar pekikanku. Mereka semua melihat kearahku dengan rasa penasaran. Airmataku semakin deras mengalir. Memikirkan bagaimana sakitnya jika mereka semua berpikir bahwa aku gila.

“Maaf, kami harus pulang duluan,” kata Rina pamit. Rina menarikku. Aku menghapus airmataku dan melangkah pulang bersamanya. Aku masih merasa mereka semua mata memandangi kami sampai dikejauhan.

Selama dalam perjalanan pulang, aku dan Rina hanya terlibat diam. Aku tidak ingin memulai duluan karena aku masih marah. Lagipula Rina tidak percaya padaku, jadi apapun yang aku katakan dia tetap tidak akan percaya.

Motor Rina memasuki pekarangan rumahku. Rina mematikan mesin dan aku turun. Aku tidak mempedulikan Rina dan berjalan terus meninggalkannya.

“Mina,” Rina memanggilku.

“Aku sangat menderita memendam ini sendiri. Merasakan apa yang tidak terlihat itu memang gila. Aku coba untuk tidak memikirkannya namun tidak bisa. Aku benar-benar merasa sendirian karena aku tahu tidak ada orang yang akan percaya jika aku menceritakan apa yang aku alami. Menerima kenyataan mereka akan menganggapku gila itu sangat menakutkan bagiku. Sama sepertimu saat ini. Akhirnya aku merasa kesepian dan kehadirannya mulai bisa kuterima. Aku kembali merasa memiliki teman.” Aku kembali menjelaskan perasaanku meski tidak ada yang meminta.

Aku tertunduk, tidak berani mengangkat wajah. Tidak tahu bagaimana reaksinya setelah mendengar kata-kataku. Mungkin ia mulai bergidik, atau menganggapku gila, atau hal lain yang lebih menakutkan.

Hening.

Aku merasakan uluran tangan dan tahu-tahu Rina sudah memelukku. Pikirku Rina akan pergi dan memutuskan hubungan denganku setelah ini.

“Aku disini dan aku sahabatmu,” kata Rina membuatku tersentuh. “Maafkan aku, aku tidak berpikir seperti itu. Aku menyayangimu, sebagai teman dan.. sebagai saudara. Aku tahu semua ini berat untukmu. Tapi menciptakan duniamu sendiri itu tidak benar.”

“Apa ?”

Rina melepaskan pelukannya. Ternyata ia masih tidak percaya.

“Mungkin aku yang salah atau kamu yang benar, tapi coba pikirkan ini dengan kepala dingin.” Rina berkata dengan nada yang begitu bersahabat. Membuatku yang meskipun masih marah karena Rina tidak mempercayaiku tidak dapat menolak. “Pikiranmu yang tidak tenang adalah sumber semuanya.  Pikiran dan hatimu yang bimbang semua itu memungkinkan untukmu menciptakan ruang untuk membangkitkan sosok yang tidak satupun orang bisa kenali, bahkan kamu sendiri. Kemudian kamu berpikir kamu bisa merasakannya, setiap hari. Kamu menipu dirimu sendiri, kamu memanipulasi otakmu dengan memaksakan hal yang tidak ada seolah-olah ada. Sehingga semua mulai terasa nyata. Karena telah tertanam dalam otakmu bahwa semua itu nyata, jadi hal-hal sekecil apapun kamu hubung-hubungkan untuk mendapatkan pembenaran sampai semuanya saling terkait."

Aku terdiam merenungkan.

Rina mengangguk sambil tersenyum padaku. “Ingat, syaitan punya 1001 cara untuk menjerumuskan anak-cucu Adam,” tambahnya mengingatkanku.

Aku mereda. Amarahku, kesedihanku, dan semuanya. Kini aku bahkan tak mampu berkata-kata lagi.
×××××

Setelah hari itu aku putuskan pulang ke rumah orangtuaku. Dengan begitu aku akan selalu memiliki teman dan tidak lagi sendirian. Pikiran-pikiran gila itu juga akan aku buang jauh-jauh. Kehidupanku memang telah berubah drastis, tapi akan kucoba mengikhlaskan mas Dian dengan orang lain walau aku harus terus belajar bagaimana cara ikhlas itu sebenarnya.

“Mba ayo keluar,” panggil adikku sepupuku yang paling kecil dari luar kamar.

Terkadang aku masih sering merasa sosok itu datang lagi, berada tidak jauh dariku. Dan saat aku mulai merasakan perasaan aneh itu, aku akan langsung menyibukkan diri melakukan apapun, atau keluar kamar mencari teman mengobrol.

Aku merapikan penampilanku dan keluar kamar menyapa semua yang ada diruang tamu.

Aku adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Kakakku yang pertama perempuan dan telah memiliki 2 orang anak, kakakku yang kedua laki-laki, kemudian aku dan dua adik laki-lakiku. Karena aku baru pulang ke rumah, jadi semua keluarga berkumpul bersama.

Seperti inilah cara yang selalu digunakan orangtuaku agar semua keluarga dapat akrab. Kami berkumpul diwaktu libur dan makan-makan.

Aku merasa lebih baik dengan adanya banyak orang yang aku sayangi berkumpul di sekitarku. Aku mencintai mereka.

“Assalamualaikum,” seseorang memberisalam di depan pintu.

Aku pikir semua anggota keluarga sudah berkumpul. Apa karena terlalu lamanya tidak pulang dan berkumpul dengan semua anggota keluarga, aku jadi lupa siapa-siapa saja keluargaku yang sudah datang dan siapa yang belum.

Tiba-tiba aku merasa keadaan berubah hening. Aku mengikuti yang lainnya menatap kearah pintu masuk untuk melihat siapa gerangan yang datang.

“Mas Dian,” nafasku tertahan beberapa saat. Aku benar-benar terkejut dan sama sekali tidak menyangka.

Mas Dian berjalan masuk. Ia mendekat dan semakin dekat. Kakak laki-lakiku yang ada dibelakang langsung menyambut kedatangan Mas Dian dengan bogeman panasnya.

“Dasar, tak tahu malu! Masih berani juga kau menampakkan dirimu disini!” sergah Kakak.

“Aku minta maaf,” mas Dian tertunduk.

Kakak laki-lakiku terlihat semakin marah. Ia hendak menjotos mas Dian lagi, namun dihalangi oleh adik dan kakak ipar. Ayah meminta agar kakak bisa tenang dan mengendalikan emosinya. Semua bisa dibicarakan  baik-baik.

Mas Dian menatapku, aku buang muka dan masuk ke dapur.

Aku memang merindukannya, bahkan sangat merindukannya, tapi mas Dian sudah meninggalkanku begitu lama. Justru disaat aku mulai belajar melupakannya dia datang. Aku ingin marah dan memakinya habis-habisan karena memberiku hari yang berat selama sebulan ini.

Aku meneguk segelas air, setelah selesai aku melihat mas Dian berdiri di depanku. Kupikir mas Dian tidak akan berani masuk karena kakakku pasti akan melarangnya, namun ternyata dugaanku salah.

Melihat mas Dian dengan jelas di depanku membuat perasaanku bercampur aduk.

Mas Dian mengucapkan maaf dengan nada yang begitu lembut. Merasa bersalah, malu, dan kutahu tulus.

Aku tetap berusaha menguatkan diriku, tidak ingin luluh begitu saja. Aku ingin memerlihatkan pada mas Dian kalau aku sudah bertambah kuat sekarang.

Tidak bisa. Karena tahu-tahu aku telah hanyut dalam dekapannya. Dekapan ini yang begitu aku rindukan, yang meninggalkanku dan telah kembali. Sedikitpun aku tidak mampu menolaknya.

“Jangan lakukan lagi,” kataku diiringi derai airmata kebahagian.

Kami memperbaiki lagi pernikahan kami. Selama dua hari tinggal dirumah orangtuaku tentu saja Mas Dian tidak didiamkan begitu saja setelah apa yang dilakukannya. Mas Dian disidang oleh Ayah, Ibu, dan kedua kakakku.

Kakak keduaku juga menegaskan akan menguliti mas Dian hidup-hidup jika berani menyakitiku lagi. Dengan begitu mas Dian akan berpikir seribu kali jika ingin menyeleweng lagi.

Setelah dari rumah keluargaku, kami mengunjungi rumah keluarga mas Dian dan meminta maaf.

Seharusnya dari awal aku sadar aku tidak sendirian. Aku memiliki keluarga yang semuanya sangat menyayangiku. Ayah, Ibu, kakak, dan Adik. Aku bahagia dan sangat bersyukur memiliki mereka semua. Merekalah malaikat tanpa sayap yang sebenarnya, yang mencintaiku tanpa syarat.
×××××

Dihari berikutnya aku dan mas Dian menjenguk Satria yang juga belum sadar dari komanya.

Dalam ruangan tempat Satria dirawat ada  seorang wanita yang waktu itu juga menemani Satria di hari pertama aku menjenguknya. Terakhir kali aku baru tahu kalau ternyata wanita itu adalah tunangan Satria. Mereka akan segera menikah dan sayangnya musibah ini terjadi sehingga mereka harus mengundur acara pernikahan mereka.

Kami masih membicarakan perkembangan kesehatan Satria ketika dokter datang untuk mengecek perkembangan kondisi Satria. Selesai mengecek, dokter meminta Andin ke ruangannya untuk membahas keadaan Satria lebih detail. Aku dan mas Dian menggantikan Andin menjaga Satria untuk sementara.

“Aku akan keluar sebentar menerima telepon,” katas Mas Dian kemudian keluar.

Aku hanya diam. Merasa canggung meski hanya ada Satria yang tidak sadarkan diri dalam ruangan tempat Satria dirawat.

“Sadarlah, semua orang menunggumu,” kataku akhirnya.“Ibumu, Andin, juga teman-teman yang lain. Ini pertama kalinya aku berbicara denganmu dan rasanya... aneh. Entahlah.” Aku mengakhirinya. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi.

Ada perasaan lega yang mengalir begitu deras. Tumpah dengan ruahnya. Ini melegakan. Aku sangat berharap Satria cepat sadar.

Sebelum pulang aku menyemangati Andin agar tidak menyerah, terus berdoa dan percaya kalau Satria pasti akan segera sadar.

Ada banyak hal didunia ini yang tidak ada penjelasannya. Semua menjadi misteri dalam kehidupan manusia. Penjelasan yang tidak pernah terungkap selamanya atau sebenarnya terungkap dibelakang kita. Semua itu terjadi ‘mungkin’ justru untuk kebaikan kita.

Begitupun denganku, aku tidak pernah bertanya atau memaksa mas Dian memberi penjelasan kenapa ia pergi kemudian kembali lagi padaku. Bagiku mas Dian sudah kembali saja sudah menjadi hal yang sangat membahagiakan. Jadi aku tidak ingin terlalu serakah dengan menuntut lebih banyak lagi.

Bagiku mas Dianlah takdirku, karena sejauh apapun ia pergi dan selama apapun itu, aku yakin ia akan kembali. Mungkin ini cinta sejati atau hanya aku yang merasakannya, tapi kami telah melalui cobaan dengan kebahagian, berpisah dan akhirnya bersama lagi. Cobaan tentang rasa sakit, rasa takut cukup sering terjadi meskipun menyedihkan. Tapi cobaan tentang kebahagiaanlah yang bagiku lebih menakutkan. Karena ada juga orang-orang yang bosan dengan kebahagiannya sehingga menjerumuskan dirinya sendiri.
×××××

“Kemarin wanita itu datang,” Andin mulai bercerita. Ia memeras handuk kecil setelah ia celupkan kedalam air hangat, kemudian ia gunakan untuk membersihkan tubuh orang yang dicintainya. Yang masih hanya terbaring. “Iya. Wanita yang katamu masih kamu cintai. Cinta yang katamu bukan seperti aku mencintaimu atau kamu mencintaiku.”

Andin kembali teringat hari dimana Satria meninggalkannya karena mereka berdebat hebat, dan kecelakaan itu terjadi.

Andin dan Satria adalah pasangan yang berbahagia dan semakin berbahagia karena mendekati hari-hari yang sudah sangat dinantikan keduanya. Hari dimana mereka benar-benar menjadi pasangan yang dihalalkan langit dan bumi.

Belum lagi urusan pernikahan rampung dikemas, Satria yang ditawari teman SMAnya untuk ikut menjadi panitia reuni akbar yang rencananya akan diadakan dalam waktu dekat, langsung menerimanya tanpa berpikir panjang.

“Bukannya kita sendiri sudah sibuk dengan rencana pernikahan kita, tapi kenapa ?” Andin mulai memerdebatkan alasan Satria menerima tawaran menjadi panita Reuni akbar sekolahnya. “Apa karena wanita itu ? karena akan bertemu dengannya ?!”

“Andin, jangan mulai. Kamu tahu itu tidak benar.”

“Jadi kenapa ?!” sengit Andin menuntut penjelasan.

“Tentu saja karena teman baikku yang memintanya. Sudah 8 tahun sejak aku bertemu mereka semua, siapa yang tidak senang...”

“Bohong!” Andin memutus. “Mana ada cinta yang tidak berharap saling memiliki, mana ada cinta tanpa gejolak yang menggebu-gebu. Cinta platonik itu... bohongkan ?”

Satria menghela nafasnya panjang. Ia mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya. Rasanya begitu membuat putus asa melihat kekasihnya begitu cemburu buta. Apapun yang dikatakannya hanya dianggap omong kosong. Kepercayaan yang keduanya rajut selama ini seperti dapat dengan mudahnya menguap.

Mungkin ini memang salahnya. Seharusnya sejak awal ia tidak perlu menceritakan tentang wanita lain yang dicintainya. Selamanya cinta itu egois, dan mana ada wanita yang akan baik-baik saja jika mengetahui kekasihnya memiliki tambatan hati lain. Meski cintanya itu tidak seperti cinta yang saling mencintai.

“Maaf,” Andin berkata dengan suara bergetar. Tertunduk. Tulus. Penyesalan dan kesedihan silih berganti mengisi kekosongan jiwanya. Seandainya saat itu ia tidak memancing pertengkaran, kekasihnya pasti masih akan baik-baik saja. “Aku akan memercayainya sekarang. Apapun itu, semuanya.”

“Anak baik.”

Sebuah suara yang terdengar berat tertangkap pendengaran Andin. Satria. Akhirnya ia sadar. Akhirnya ia tidak harus menunggu lebih lama lagi. Akhirnya...

Andin menggengam erat tangan kekasihnya. Tidak akan ia lepas lagi kali ini. Bahkan untuk membiarkan genggaman itu merengang.

Selasa, 03 Mei 2016

12 Juni (Refisi) *Bagian I*

Semua dari hidupku baik-baik saja, meski sudah dua tahun menikah dan belum dikaruniai keturunan. Suamiku tetap baik dan sayang padaku. Kata keluargaku umur dua tahun pernikahan itu masih terlalu muda. Banyak orang-orang diluar sana yang sudah lima tahun bahkan tujuh tahun menikah baru dikaruniai keturunan. Aku tahu mereka mengatakan hal itu hanya untuk menghiburku, dan agar aku bisa lebih bersabar.

Ya, semua memang baik-baik saja dan aku bahagia dengan hidupku. Sampai pada hari ini, 12 Juni.

Pagi ini yang aku pikir adalah awal dari segalanya meski tidak ada yang terasa berbeda sedikitpun. Aku masih bangun pagi dan kulihat suamiku tercinta masih terlelap disampingku dengan wajahnya yang teduh.

Aku masih saja sering mengamati wajah tampannya saat ia tidur dan masih saja rasa kagum itu muncul. Alisnya yang tebal, hidungnya yang lurus dengan batang hidung tinggi. Bagiku semua itu adalah perpaduan yang tepat dengan wajahnya yang oval dan bibirnya yang indah.

Suamiku mulai bergerak-gerak, mengerjap-kerjapkan matanya, dan perlahan, ia mengumpulkan kesadarannya. Bangun.

Melihatku telah terbangun lebih dulu dan belum berhenti menatapnya membuat mas Dian tersenyum. Ah, senyum yang masih saja mampu meluluhkanku meski sudah lima tahun aku mengenalnya.

“Sudah bangun,” katanya singkat kemudian mengecup keningku.

“Iya. Ayo sholat subuh berjamaah,” ajakku.

Awal yang sempurna bukan. Bahkan bagiku terlalu sempurna untuk menjadi awal dari mencuatnya masalah-masalahku.

Aku sudah selesai berwudlu dan kembali ke kamar. Aku pikir mas Dian kembali tertidur karena semalam pulang begitu larut. Namun dugaanku salah. Mas Dian tidak ada di kamar.

Beberapa menit berselang, mas Dian kembali ke kamar. Tangan kananya memegang ponsel yang terlihat coba ia sembunyikan karena terkejut melihatku yang berada di kamar lebih dulu.

“Ada apa, mas ?” tanyaku ingin tahu.

“Adikku minta dikirimi uang untuk modal usaha barunya,” jawab mas Dian.

Aku percaya dan tidak berpikir macam-macam walau sebenarnya hal itu mencurigakan. Aku percaya mas Dian dan sampai detik ini aku masih tidak memiliki alasan untuk mencurigainya.
×××××

Aku baru saja selesai memeriksakan diriku kedokter kandungan. Mas Dian sudah sangat mengharapkan seorang anak dari tahun pertama pernikahan kami dan sebagai seorang istri yang belum bisa memenuhi keinginan suaminya tentu saja aku sangat sedih.

Aku melakakukan pemeriksaan untuk mencaritahu apa ada yang salah denganku atau apa ada hal lain yang harus kulakukan. Ini adalah usaha yang kulakukan agar keinginanku dan mas Dian cepat terwujud.

Alhamdulillah tidak ada hal yang salah denganku. Semua memang butuh proses dan aku hanya perlu lebih bersabar. Menunggu sedikit lebih lama lagi dibanding beberapa orang lain diluar sana.

Matahari begitu terik, sama seperti hari-hari sebelumnya. Aku memeriksakan diriku ke rumah sakit ditemani oleh Rina, teman akrabku semenjak SMA. Mas Dian sedang sibuk dengan pekerjaannya jadi tidak sempat mengantarku.

Aku telah berada di parkiran sekarang, bagian paling kiri dari bangunan rumah sakit. Tapi begitu aku berbalik, aku baru sadar sedang berdiri seorang diri. Entah dimana Rina. Kupikir dia masih berada dibelakangku, karena saat aku mengusulkan untuk makan siang diluar, dia masih menyahut.

Mataku menyapu setiap sudut parkiran barang kali aku bisa menemukannya. Mungkin saja Rina sedang bersembunyi atau melakukan hal konyol lainnya untuk mengejutkanku seperti kebiasaannya yang lalu-lalu.

Seteliti apapun mataku menjelajahi seluruh parkiran, tetap tidak kutemukan Rina dimanapun. Aku putuskan menunggunya barangkali ia sedang sibuk dengan urusannya.

Selagi menunggu, aku mencari minuman segar diseberang jalan. Setelah satu mobil silver mewah melewatiku, aku pun menyeberang.

Belum sampai di seberang, aku mendengar  suara decit ban mobil disusul suara teriakan beberapa orang.

Aku berbalik, melihat mobil silver yang tadi melewatiku  keluar lintasan, terbalik dan menghantam satu warung kecil di pinggir jalan. Aku terbelalak menangkap dan merekam kejadian itu dengan begitu jelas. Terlalu terkejutnya seketika badanku mengaku. Syok.

Aku berdiri ditengah jalan seperti orang linglung. Seseorang menarikku. Rina.

“Mina, kamu baik-baik saja ?” tanya Rina terlihat khawatir.

Aku menjawab pertanyaan Rina hanya dengan anggukan kepala. Rasa penasaranku menarikku untuk lebih lanjut mengetahui bagaimana keadaan pengendara mobil itu.

Aku berjalan seperti tanpa sadar. Seperti bukan dari kendali otakku. Seperti ada sebuah perasaan lain yang menarikku, begitu kuat. Perlahan, perlahan kakiku bergerak kearah kerumunan orang yang mulai semakin ramai memadati tempat kecelakaan.

“Mina, kamu mau kemana sih ?” Rina menarikku.

“Aku... aku ingin tahu bagaimana keadaan korban kecelakaan mobil itu,” kataku.

“Untuk apa ? ada hal lain yang jauh lebih penting. Ayo ikut,” Rina menegaskan suaranya dan lagi-lagi ia menarikku.

Kami menyebrang.

Jalan mulai macet dan semakin macet karena dipadati warga dan kendaraan-kendaraan  lewat yang berhenti untuk melihat kecelakaan itu.

Rina membawaku menuju kantin rumah sakit. Aku tidak tahu kenapa dan apa yang sedang ada dipikirannya. Aku juga sudah bertanya ada apa, namun Rina hanya diam dan memercepat langkahnya. Entah apa yang ingin Rina tunjukkan padaku, aku mulai merasa khawatir melihat ekspresinya yang tidak biasa. Wajahnya benar-benar serius sseperti ada hal mengerikan yang baru saja terjadi.

Kami berhenti dimeja dimana ada pasangan sejoli sedang makan siang. Apa sebenarnya yang dipikirkan Rina.

Pasangan ! Tidak. Itu mas Dian, suamiku. Sedang apa ia disini dan… bersama seorang wanita yang tidak aku kenal, sama sekali. Bukannya mas Dian bilang sedang sibuk dengan pekerjaannya.

“Mas,” panggilku. Suaraku seakan tercekik, tertahan ditenggorokan.

Wajah mas Dian terkejut begitu melihatku dan Rina ada didepannya. Mas Dian tersentak. Ia melepaskan tangannya dari genggaman wanita yang sedang bersamanya.

“Ini sama sekali tidak seperti yang terlihat,” kata Mas Dian cepat, memberi penjelasan.

“Kalau begitu jelaskan,” kataku.

Aku memercayai mas Dian. Semua yang aku lihat ini memang tidak seperti  pikiran-pikiran buruk yang mulai bermunculan dan mengganggu dalam benakku. Aku mempercayai suamiku, sangat mempercayainya sampai pada detik ini.

Tidak ada hal buruk yang pernah terjadi selama ini, semuanya baik-baik saja. Jadi tidak ada celah untuk hal-hal seperti ini bisa terjadi. Bahkan meski mas Dian menginginkan kehadiran seorang anak namun belum terwujud, kami masih sangat bahagia.

Aku memandang mas Dian lekat, penuh harap. “Jelaskan,” kataku lagi.

Bukannya menjelaskan mas Dian hanya diam, menatap wanita itu ragu.

Apa yang sebenarnya terjadi, benarkah semua ini. Benarkah mas Dian menghancurkan semua kepercayaanku padanya. Melihat mas Dian hanya terdiam sungguh membuat hatiku teriris perih. Tidakkah ia hanya perlu menjelaskan. Meskipun jika itu sebuah kebohongan. Aku akan mendengarnya. Aku pasti mendengarkan dan memercayainya.

“Sudahlah. Tidak ada lagi hal yang perlu dijelaskan. Semua sudah terlihat jelas di depan mata kita. Suamimu menyeleweng!” tandas Rina kasar.

Aku tidak percaya Rina mengatakan hal sejahat itu. Tepat di depanku. Tega sekali dia..

Rina akan mengandengku meninggalkan kantin rumah sakit namun aku menepis tangannya.
Sakit.

Aku berlari meninggalkan mereka semua yang telah membuatku marah. Terdengar dari kejauhan suara mas Dian dan Rina memanggilku bersamaan. Namun airmata yang sudah terlanjur membanjir membuatku tidak mempedulikan apapun. Yang aku inginkan hanya menjauh dari mereka, sejauh-jauhnya kemudian menangis.

Aku naik taksi dan pulang ke rumah.

Di rumah aku langsung masuk kamar dan menangis sajadi-jadinya. Ponselku berdering namun tidak aku pedulikan. Aku ingin mereka tahu banhwa saat ini aku marah.

Mereka, ya tentu saja semuanya. Bahkan Rina yang kutahu sangat baik padaku. Tapi justru kata-katanya tadi begitu jahat membuatku merasa di hempaskan. Tidak bisakah Rina mengatakan hal yang baik tentang mas Dian atau tidak bisakah dia ikut membujuk mas Dian agar mau mengatakan alasannya padaku. Paling tidak Rina melakukan hal itu untuk menjaga perasaanku.

Wanita itu. Tentu saja dia yang paling membuatku marah. Aku yakin kalau sebenarnya dia yang lebih dulu menggoda mas Dian.

Mas Dian yang hanya diam saja justru yang paling menyakitiku, tidakkah ia tahu aku sangat mengharapkan penjelasan darinya. Meski itu hanya satu kata setidaknya dia bicara.

Aku memejamkan mata namun masih terisak dalam tangisku. Andaikan semua ini hanya mimpi buruk dan aku hanya perlu terbangun untuk mengakhiri semuanya. Tidak. Karena sebesar apapun aku berharap ini hanya mimpi, semua tetaplah kenyataan pahit yang harus aku kecap. Begitu pahit rasanya sampai serasa ingin aku muntahkan semuanya.

Perlahan, perlahan dan aku mulai terlelap. Air mataku mengalir lagi sebelum aku terlena oleh bunga yang ditebarkan dalam tidurku.
×××××

Baru sesaat rasanya aku pejamkan mataku, tahu-tahu saat terbangun suara azan magrib sudah mengalun merdu. Aku beranjak dan hendak keluar kamar, namun tiba-tiba saja lampu mati.

Beberapa saat aku merasa sekelilingku aneh. Udara terasa panas meski diluar sedang berangin. Entah apa yang merasuki pikiranku hingga hal-hal yang sebelumnya tidak pernah aku pikirkan bernaung dalam otakku.

Perasaan takut mulai aku rasakan. Perasaan ketakutan yang bodoh karena aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku takutkan. Aku menarik nafas dan berusaha menghilangkan pikiran-pikiran buruk dalam otakku. Baru saja aku menyalakan lilin, listrik sudah kembali menyala. Aku mulai melakukan aktifitas seperti biasanya.

Meski perasaanku buruk, aku berusaha membuat diriku terlihat baik-baik saja. Paling tidak saat mas Dian pulang nanti, ia tidak melihatku dalam keadaan seberantakan ini.

Makan malam sudah aku siapkan seindah mungkin. Semua yang ada di meja adalah makanan kesukaan mas Dian. Ditengah meja aku letakkan lilin bertingkat yang tidak terlalu besar. Aku juga meletakkan vas bunga yang dipenuhi bunga mawar segar. Aku bisa merasakan aroma bunga mawar yang menguasai seluruh ruangan. Aromanya segar dan hidup. Biarlah semua ini dianggap sogokan, yang jelas aku mau rumah tanggaku tetap bisa dipertahankan. Aku tidak ingin menyerahkan suamiku begitu saja pada wanita penggoda itu.

Aku menunggu. Semua makanan sudah hampir dingin sekarang dan mas Dian belum juga memerlihatkan tanda-tanda kepulangannya. Aku masih bisa sabar, menunggu.

5 menit berlalu, 10 menit, 15 menit, 20 menit.

Waktu terasa begitu cepat mengejarku dan suara jam dinding seakan memenuhi pendengaranku. Dadaku mulai terasa sesak. Aku mencoba menghubungi ponsel mas Dian. Terhubung. Meski terhubung tetap tidak ada yang bisa aku dapatkan. Mas Dian tidak mengangkat panggilan dariku. Kucoba lagi, lagi, dan lagi hingga tiga kali, hasilnya tetap nihil.  Kukepalkan tanganku erat-erat kemudian kuhantamkan ke meja –brak.

Ingin sekali aku meledak, berteriak-teriak, dan menghambur semua yang ada di depanku. Namun tidak bisa aku lakukan. Aku merasa diriku sangat menyedihkan. Padahal sudah sesesak inipun aku masih juga belum bisa meledak. Airmataku mengalir dengan sangat deras. Lagi. Rasanya sakit sekali. Sangat menyesakkan sampai-sampai untuk bernafas saja berat. Aku terisak dalam keheningan rumahku yang biasanya hangat dengan kasihsayang.

Lilin tiba-tiba saja mati padahal suasana ruangan terlalu tenang menurutku. Aku merasa semakin kesal, berpikir kalau semua hal sedang menertawaiku saat ini. Kulipat tanganku di atas meja dan kubenamkan wajahku. Dalam ruangan remang-remang yang hanya ada aku sendiri menguasai sekelilingku, serasa seseorang sedang mendekat kearahku.

Aku menahan nafas dan fokus mendengarkan. Tidak ada suara apapun. Aku angkat wajahku dan kuamati sekeliling. Benar, tidak ada siapapun.

Aku kembali merasakan takut seperti sebelumnya.

Aku masuk kamar dan mengunci pintu. Aku baringkan tubuhku. Aku tidur menyamping menatap kearah dimana mas Dian biasanya berbaring. Dimana aku bisa merasakan hangat hembusan nafasnya, mencium aroma tubuhnya, dan dimana aku selalu memerhatikan wajah tampannya.

Aku pejamkan kedua mataku, membayangkan sosoknya berada dihadapanku. Beberapa menit mencoba membangkitkan imajinasiku tentangnya, aku merasa sosok itu tengah benar-benar berada di depanku. Aku tidak ingin membuka mataku dan membiarkan sosok itu tetap tercipta dalam pikiranku. Sungguh aneh rasanya karena aku merasa kehadiran sosok itu sangat nyata. Benar-benar ada menemaniku di atas ranjang, dengan wajahnya yang berhadapan dengan wajahku. Begitu dekat. Aku memang tidak bisa merasakan hangat nafasnya ataupun mencium aroma tubuhnya, tapi aku merasa nyaman.
×××××

Pukul 02.15 aku terbangun. Kosong. Terkejut tidak ada siapa pun. Aku mencari ke setiap sudut kamar. Kulihat pintu kamar masih terkunci menandakan tidak ada siapapun yang masuk semalam.

Masih belum percaya aku bergegas keluar kamar. Tidak kutemukan siapapun, dimanapun aku mencari. Makanan yang aku siapkan di atas meja juga masih tetap sama, tidak ada yang berubah sama sekali. Aku sangat hapal, bahkan dimana setiap sendok aku letakkan.

Mas Dian tidak pulang sama sekali semalam. Aku berjalan lemas menuju dapur. Kuteguk segelas air untuk membuat diriku lebih baik. Ternyata sosok semalam yang kuanggap nyata hanya imajinasiku saja. Tapi kenapa terasa begitu dekat. Perasaan yang juga mampu membuatku merasa nyaman. Merasa konyol dan bodoh, aku berstighfar dan segera keluar mengambil air wudlu.
×××××

Keesokan harinya aku putuskan kembali ke rumah sakit tempat kemarin aku melihat kejadian tak diinginkan itu. Aku ingin bertemu dengan wanita yang merusak rumah tanggaku. Aku adalah seorang istri dan aku tidak akan membiarkan rumah tanggaku hancur begitu saja. Aku akan mempertahankan suami yang aku cintai. Jadi, dibanding hanya diam di rumah dan menunggu, aku lebih ingin mendapati kepastian itu.

Aku mencari membabibuta. Aku tidak tahu siapa nama atau apa jabatan wanita itu di rumah sakit ini. Yang kemarin terlihat olehku hanya wanita itu memakai pakaian putih dan nampak seperti seorang perawat. Aku yakin aku pasti bisa menemukannya bagaimanapun caranya.

Aku jelajahi setiap sisi rumah sakit, setiap sudutnya. Setiap aku melihat seseorang wanita berpakaian perawat, berpostur tubuh mirip wanita itu dengan rambut digerai aku akan lansung menarik tangannya atau menyentuh bahunya untuk melihat wajahnya lebih jelas. Tidak peduli apa yang sedang dilakukan perawat itu ataukah sedang terburu-buru. Aku juga tidak lagi memedulikan apapun anggapan orang walau terlihat jelas aku sangat menggangu dan mereka tidak suka dengan caraku. Yang aku pedulikan saat ini adalah masalahku sendiri. Aku yang tengah dibuat gila oleh ketakutanku. Ketakutan akan hancurnya rumah tanggaku yang baru berumur 2 tahun.

Aku mulai lelah, frustasi. Tidak ada petunjuk dimanapun aku mencari keberadaannya. Keningku berkeringat dan nafasku berat. Aku berdiam sebentar, mengatur nafas dan menenangkan diriku.

Aku masih berusaha mengatur perasaanku ketika aku melihat seorang perawat keluar dari sebuah ruangan.  Perawat itu adalah wanita yang tengah aku cari-cari. Akhirnya.

Wanita itu menatapku kemudian tersenyum. Dia melangkah mendekat "kau mencariku ?”

Aku diam, menahan amarah. Melihatnya tersenyum, mendengar dia berbicara, semua itu membuatku benar-benar marah. Kukira akan mudah, tapi ternyata menghadapi wanita seperti ini akan menguras banyak emosiku. Ingin sekali rasanya tanganku ini kulayangkan ke pipinya agar wajah yang ia buat tanpa dosa itu bisa sedikit merasakan rasa sakit yang aku rasakan. Menarik rambut panjangnya, juga mempermalukannya di depan semua teman-teman kerjanya. Tanganku mulai terasa gatal.

“Jauh dari yang aku perkirakan, teranyata kamu bisa juga tenang disituasi seperti ini,” wanita tidak tahu malu itu menambahkan.

“Tenang!" batinku berteriak tidak terima.

“Kupikir kau akan datang sambil mengamuk kemudian mencakar-cakar wajahku,” tambahnya lagi, enteng.

“Kau tahu, hal itulah yang paling kuinginkan saat ini,” batinku berkata lagi. Aku mendelik kearahnya. Wanita itu juga balas melihatku tajam kemudian mengalihkan wajahnya sambil tersenyum.

“Membosankan sekali wanita sepertimu. Tidak adakah hal lain yang bisa kau lakukan selain mendelikiku seperti itu. Pantas saja…”

–Plak – tanganku melayang kepipinya, memotong kalimatnya. Lega rasanya karena bisa memberikan satu pukulan kewajahnya. Sebenarnya itu masih kurang, tapi akan kutambah lagi saat dia membalas. Saat itulah aku akan menghajarnya habis-habisan. Mencakar-cakar wajahnya dan menarik lidah tajamnya keluar.

“Hanya satu,” katanya. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan wanita itu. Kupikir dia akan membalas perbuatanku. “Jika kau masih mau akan kuberikan sebelah pipiku lagi. Kenapa ? apa hanya sebatas itu saja rasa marahmu.”

“Sudah selesai membanggakan dirimu sendiri ?” aku mulai membalas kata-katanya. Aku menyalakan kendaraan perangku dan siap bertarung dengannya. “Aku jadi sangat yakin mas Dian bersamamu hanya kekhilafan. Karena dari aku mengamatimu kau hanya unggul disifat percaya dirimu saja.”

Aku amati wajahnya yang masih merah karena tamparanku. Dari ekspresinya kurasa aku telah berhasil membuatnya kesal. Aku mulai merasa percayadiri dan bisa menguasai medan.

“Aku tidak ingin terlalu banyak bercerita padamu. Aku hanya ingin mengingatkanmu untuk berhenti mengganggu suamiku atau aku akan benar-benar mencakar wajahmu seperti yang kau inginkan,” tambahku tegas. Aku berusaha memperlihatkan seberapa kuatnya aku dan akan semengerikan apa jika aku marah. Aku berbalik dan meninggalkannya. Namun baru berjalan beberapa langkah wanita itu berkata lagi dengan nada tinggi.

“Kamu masih belum sadar juga ! mas Dian memilihku sudah jelas karena aku lebih baik darimu. Kalau kamu tetap tidak juga sadar, kamu akan semakin terluka. Lihat saja, mas Dian akan mendatangimu dalam waktu dekat dan akan dia katakan semuanya dengan jelas didepanmu!!” pekiknya.

Aku tidak mempedulikannya dan tetap melangkah meninggalkannya. Itu hanya kalimat terakhir yang bisa diucapkan seseorang yang telah kalah. Membawa nama orang lain untuk memperkuat posisinya.

Ponselku berdering ketika aku telah berada di luar rumahsakit. Nama Rina tertera dilayar ponselku.
×××××

Aku hanya duduk termenung di sebuah café sederhana pinggir jalan. Rina ingin sekali bertemu denganku untuk memastikan apakah keadaanku baik-baik saja. Aku tahu Rina pasti sangat khawatir. Terlebih lagi terakhir kali saat di rumah sakit aku meninggalkannya dengan sifatku yang keterlaluan. Aku juga tidak mengangkat telepon darinya untuk memberitahu bagaimana keadaanku. Aku akan memintamaaf padanya saat bertemu nanti.

Aku masih duduk termenung menatap gelas kaca tinggi yang berisi air putih. Air dalam gelas itu begitu tenang. Masih aku amati. Lambat laun air yang tadinya tenang itu bergelombang. Semakin lama gelombangnya semakin jelas terlihat.

Aku amati sekelilingku, barangkali ada hal aneh yang membuat air dalam gelas ini bergelombang. Tidak ada hal yang aneh. Semua orang tengah sibuk bercengkrama dengan keluarga dan teman mereka. Saling bercerita.

Aku amati kembali gelas di depanku dan tempat duduk kosong didepanku. Sebuah perasaan aneh seperti sedang menggerogotiku. ‘Perasaan gila apa ini?’

“Mina,” terdengar suara Rina memanggil namaku. Setengah berlari ia menghampiriku. “Mina kamu baik-baik saja ?” Rina bertanya, begitu menghawatirkanku.

Aku hanya mengangguk tanpa bisa mengatakan apapun. Aku terharu dengan perhatian Rina. Rina memelukku. Sepertinya Rina tahu betul kalau disaat seperti ini, hal inilah yang sangat aku butuhkan.
Airmataku tidak lagi mampu terbendung dalam dekapannya. Airmataku mengalir deras membasahi kedua pipiku. Membasahi punggungnya.

“Jadi kamu baru saja menemui wanita itu ?” tanya Rina memotong ceritaku. Dari nada bicaranya Rina nampak terkejut. Aku menjawab pertanyaannya hanya dengan anggukan.

Pesanan kami datang. Saat minumanku diletakkan didepanku, aku melirik kearah air putih yang tadi bergelombang kini tenang. Hanya perasaanku. Pasti hanya perasaanku.

“Mina, Mina,” panggilan Rina menyadarkanku bahwa ia masih menunggu bagaimana kelanjutan ceritaku.

"Aku menamparnya sekali. Aku pikir setelah itu dia akan membalas dan aku bisa berkelahi dengannya dan meluapkan semua amarahku. Tapi dia tidak membalas. Mungkin dia sudah tidak kaku lagi menghadapi situasi seperti itu. Jika dia kaku dan takut, tidak mungkin dari awal dia berani menggoda suami orang,” Jelasku.
×××××

Hari berikutnya aku masih menunggu kepulangan mas Dian. PPenantianku penuh harap. Tidur larut saat malam hari dan bangun lebih cepat dengan harapan saat aku membuka mata aku bisa melihat mas Dian terlelap disampingku.

Sayangnya penantianku yang penuh harap itu hanya berujung menyakitkan. Mas Dian tidak kunjung pulang. Nomor ponselnya bahkan tidak aktif lagi.

Mencarinya kesemua tempat yang aku tahu sudah kulakukan, dan kini hanya sakit yang tersisa. Apa seperti ini sifat suami yang aku bangga-banggakan selama ini. Menghilang begitu saja tanpa penjelasan saat menghadapi sebuah masalah. Apa yang sebenarnya mas Dian pikirkan, kenapa tidak langsung muncul dan menjelaskan semuanya. Membuatku semakin berharap dan tidak rela untuk melapaskannya.

Kakakku yang tinggal di kota seberang mulai curiga, karena setiap kali menelpon nada suaraku selalu terdengar sedih. Aku belum berani menceritakan masalahku pada siapapun kecuali Rina. Aku takut keluargaku khawatir. Jadi, sembari mencari jalan keluar aku terus berharap semoga saja semuanya bisa membaik sebelum keluargaku tahu yang sedang terjadi.

Hari selanjurtnya mas Dian pulang. Awalnya aku merasa sangat senang, namun lagi-lagi rasanya aku terlalu berharap banyak.

Mas Dian tidak pulang untuk memperbaiki hubungan pernikahan kami melainkan untuk mengemasi semua barang-barangnya. Aku masih tidak percaya mas Dian benar-benar mengambil keputusan ini. Keputusan gila yang tidak dapat aku terima. Jahat sekali yang mas Dian lakukan padaku setelah semuanya berjalan dengan begitu manis.

Aku menyusul mas Dian ke kamar. Aku harus menghalanginya. Paling tidak mas Dian masih berhutang penjelasan padaku.

“Apa, apa yang membuat mas Dian tidak puas ?” aku bertanya, menuntut penjelasan. Mas Dian mengabaikanku. Ia menepis tanganku dengan kasar. “Jangan pikir aku akan membiarkan mas Dian pergi tanpa penjelasan apapun,” kataku sembari merampas koper dari tangannya.

Aku menatap mas Dian dengan mata berkaca-kaca, penuh harap. Mas Dian mengalihkan pandangannya. Ia tidak lagi mau menatapku. Sakit. Bagai dihantam godam dari segala arah. Airmataku mulai mengalir perlahan. Lagi.

“Sebegitunya ‘kah ? sampai-sampai menatapku pun sudah tak lagi sudih ?” aku mulai terisak. Kakiku seolah tak mampu lagi berpijak di bumi, lemas. Tidak mampu memikul kenyataan yang begitu sulit aku terima ini.

“Apa masih butuh penjelasan lagi ?” tanyanya datar.

“Iya,” jawabku singkat. Tidak ada kalimat lain  yang bisa aku katakan.

“Sungguh, sebenarnya adek adalah istri yang sempurna. Bahkan terlalu sempurna untuk orang sepertiku…”

“Itu bukan penjelasan!” pekikku memutus.
Aku tidak ingin mendengar penjelasan yang seperti itu.

Aku menghapus airmataku yang mengalir semakin deras dengan punggung tanganku. Aku bisa merasakan mas Dian  juga sedih. Sedih karena melihatku seperti ini, dan sedih karena harus berada di posisi seperti ini. Tapi kenapa justru mas Dian lakukan jika membuatnya juga bersedih. Cukup selesaikan dengan satu ucapan maaf maka aku akan menerimanya kembali tanpa syarat.

“Katakan hal-hal yang buruk tentangku, hal-hal yang mas Dian tidak sukai. Hal-hal yang harus kurubah agar mas Dian bisa tetap bersamaku.”
Nada bicaraku yang awalnya memekik keras berubah rendah, lemah. Belum siap rasanya jika harus kehilangan mas Dian. Entah akan seperti apa terpuruknya aku nanti.

Kakiku benar-benar lemas hingga tak kuat lagi berdiri tegak. Aku menangis terisak di lantai seperti seorang anak yang akan ditinggal pergi jauh oleh ibunya. Mas Dian membantuku berdiri dan memapahku sampai di ranjang. Aku tidak ingin menatapnya. Tidak tahu ini perasaan marah atau apa. Sentuhannya masih terasa hangat dan lembut seperti biasanya. Entah apa yang ada dipikirannya aku tidak lagi mampu menebaknya.

“Terkadang,” mas Dian mulai berkata lembut namun tetap tidak menatapku “hal yang begitu sempurna juga bisa menjadi celah yang menyebabkan terjadinya hal-hal yang tidak kita inginkan. Masa-masa kita selama ini memang indah. Tapi mungkin karena terlalu indah itulah aku jadi merasa bosan. Mungkin ini terdengar tidak adil tapi inilah yang terjadi. Akar dari semua masalah ini adalah aku, aku yang bersalah. Setelah inipun aku tidak akan minta maaf. Jadi bencilah aku sesukamu untuk mendapatkan keadilanmu.”

Aku kembali terisak. Mas Dian pergi dan aku hanya bisa melihat punggunya yang terus bergerak menjauh. Tidak adakah harapan lagi untuk memerbaiki rumah tanggaku. Benarkah hanya sebatas ini saja. Jika hal yang indah saja bisa memberi akhir yang tidak baik, lantas bagaimana aku harus bersikap ?

Sekarang aku sendiri, benar-benar sendiri dirumahku yang awalnya kukira akan menetap selamanya istana kebahagiaan. Ternyata semua semu.

–Brak – aku tersentak. Sebuah buku yang aku letakkan di atas lemari terjatuh. Buku tahunanku saat SMA. Buku itu terbuka dan tepat ditengah halaman. Bab kelas XII IPA. Foto gadis manis dengan mengenakan kerudung abu-abu menghiasi halaman sebelah kanan. Tertera nama, tempat tanggal lahir, alamat, nomor telepon dan seterusnya. Aku mengenal gadis yang bernama Nur Rohma itu, namun tidak begitu akrab dengannya. Kemudian dilembar sebelah kiri, Satria Yoga. Senyum kecil yang terlihat manis menghiasi fotonya. Deg.

Satria Yoga. Aku pernah menyukainya hanya saja perasaan itu sudah lama menghilang. Cinta monyet putih abu-abu. Apalagi setelah aku bersuami. Aku tidak pernah lagi memikirkan Satria.

Tidak, ini pasti bukan perasaan seperti itu. Aku hanya terlampau kacau karena masalahku. Ini gila kalau aku masih menyimpan sebesit rasa. Tidak, tidak. Ini tidak benar.

Ah, perasaan aneh ini mulai muncul lagi. Perasaan yang akhir-akhir ini sering sekali muncul saat aku tengah seorang diri. Perasaan dimana aku bisa merasakan kehadiran seseorang. Ini gila, tapi aku benar-benar merasakannya. Berusaha mengelak dan tidak percaya selalu kulakukan, dan kehadiran itu malah datang semakin dekat. Sebenarnya aku merasa takut. Anehnya sebagian dari diriku merasa nyaman dan tidak mampu menolak kehadirannya.

Aku menutup mataku, berusaha merasakan kehadiran itu lebih dekat. Mungkin dengan melakukan hal ini aku bisa mendapat jawabannya. Benarkah ada atau aku hanya berhalusinasi saja. Aku menarik nafas dan memfokuskan pikiranku.

“Ah, ini gila!” aku memaki diriku sendiri. “Apa yang sedang aku lakukan ?!”

Aku mendengar suara motor memasuki pekarangan rumahku. Aku bergegas keluar, tidak ingin pikiran-pikiran gila itu membuatku melakukan hal yang gila juga.

Rina datang, menghampiri dan memelukku. Sepertinya hanya dia yang mengerti betapa sakit dan hancur hatiku. Aku tidak ingin bertanya kenapa Rina datang atau darimana dia bisa tahu aku sangat membutuhkan teman saat ini. Aku takut, takut memikirkan jika apa yang aku pikirkan benar aku akan semakin hancur karena tidak mampu melepaskan mas Dian. Rina juga tidak mengatakan apapun. Ia memberiku waktu untuk menangis, meluapkan semua kesedihan dan kekesalanku.
×××××