Sabtu, 07 Mei 2016

12 Juni (Refisi) *Bagian II-End*

Dua minggu sudah berlalu. Kesedihanku kehilangan mas Dian masih saja membebaniku. Rindu yang aku rasakan mulai memuncak dan semakin menggebu-gebu.

Semua hal yang terjadi masih seperti mimpi, begitu tiba-tiba. Sampai-sampai akal sehatku masih belum percaya hal ini benar-benar terjadi. Semuanya tidak masuk akal. Penjelasan-penjelasan yang aku inginkan pun tak kunjung aku dapatkan. Aku ingin segera mengakhiri ini, mengangkat beban yang terasa begitu berat aku pikul. Menghilangkan semuanya, semua kesedihanku.

Aku menghela nafas dan lagi-lagi airmataku meleleh. Masih saja aku tidak mampu membendungnya.

Beberapa hari yang lalu keluargaku datang ke rumah. Kakak laki-lakiku sangat marah mendengar perlakuan mas Dian padaku. Kakakku ingin agar secepatnya aku menggugat cerai, tapi aku belum sanggup. Aku ingin menenangkan diri lebih dulu hingga benar-benar siap.

Kakak perempuanku dengan kata-kata bijaknya berusaha menguatkanku.

Ayah dan Ibu tentu saja sangat sedih. Sebagai seorang anak, membuat mereka bersedih juga membuatku terluka. Sudah sebesar ini aku masih saja merepotkan dan tidak henti-hentinya membuat mereka sedih.

Aku merasa bersalah pada keluarga, kepergian mas Dian yang tanpa penjelasan, juga komentar-komentar tetangga membuatku depresi. Belum lagi ditambah semua beban pikiranku ini, aku masih juga harus menghadapi perasaan-perasaan tidak jelas tentang kehadiran sesuatu yang aku tidak tahu itu apa.

Aku merasa mungkin saja aku telah gila. Aku sering melakukan percobaan dengan meletakkan gelas kaca berisi air putih. Benar saja. Saat aku mulai gelisah, ketika perasaan aneh itu muncul, air dalam gelas pun beriak. Semakin lama semakin terlihat jelas. Anehnya gelombang dalam gelas seketika itu juga kembali tenang saat orang lain datang.

Awalnya aku ketakutan. Saat mulai jengkel aku akan berteriak siapa dan apa yang diinginkannya dariku, namun tetap saja tidak pernah ada penjelasan yang bisa aku dapatkan.

Perlahan, aku mulai menerima perasaan aneh itu. Aku bahkan mulai terbiasa dan menginginkan kehadirannya saat tidak aku rasakan. Aku mulai terperangkap dalam pemikiran gila yang sebenarnya aku sendiri bergidik saat memikirkan tentang diriku saat ini.

Tapi aku bisa apa ? aku tidak bisa menghindar dan tidak tahu bagaimana cara menghilangkan kegilaan ini. Aku harus bercerita pada siapa ? tidak akan ada yang percaya. Apakah aku harus membiarkan mereka memberiku tatapan aneh setelah aku selesai bercerita. Itu bagiku jauh lebih menakutkan dibanding perasaan aneh ini.

Aku pejamkan mataku, meratapi kesedihanku.

Sebenarnya aku tidak ingin begini, tapi rasa sakitnya tidak mau hilang juga. Airmata sudah banyak terkuras, tiap malampun aku selalu berdoa, memohon agar rasa sakit ini segera diangkat dan agar secepatnya aku bisa merelakan mas Dian. Tapi rasa sakitnya belum juga berkurang. Setiap malam masih selalu berharap mas Dian pulang meski dengan mengendap-endap, di tiap jalan yang kulewati berharap bisa kudapati sosok mas Dian walau hanya sekejap.

Setiap hari aku selalu mengharapkan kedatangannya.

Ibu selalu berpesan agar semua hal yang terjadi dapat aku ikhlaskan, dengan begitu aku akan lebih tenang. Tapi bagaimana aku bisa mengikhlaskannya begitu saja kalau mas Dian meninggalkanku tanpa penjelasan dan begitu tiba-tiba. Bahkan disaat semuanya terasa begitu indah.

Aku masih memejamkan mataku. Hening.

Deg. Tiba-tiba saja aku merasakan ada sesuatu yang mendekat. Dekat, dekat. Terlalu dekat. Sesuatu itu ingin menyentuhku. Terasa begitu nyata dan–

Refleks aku menghindar. Membuka mata dan mengamati sekelilingku. Lagi-lagi tidak ada siapapun. Hening. Aku kembali merasakan kehadiran sesuatu yang tidak dapat terdeteksi penglihatanku. Mataku menyapu setiap sudut ruangan, waspada, barangkali aku bisa menemukan sesuatu itu kali ini.

Tidak ada.

Rina datang. Suara motornya yang sudah sangat aku hapal memasuki pekarangan rumahku.

“Kamu masih belum siap-siap ?” Rina bertanya melihat penampilanku yang masih berantakan.

“Aku tidak mau pergi kemana-mana,” kataku malas.

Kemarin Rina memberiku undangan reunian SMA. Dari awal aku sudah mengatakan tidak ingin pergi. Rina saja yang terus memaksa dan bilang akan menjemputku meski sudah kukatakan tidak  akan pergi.

“Pergi berkumpul dan menghibur diri akan membuatmu merasa lebih baik. Ayo, sekarang ganti bajumu. Cepat,” kata Rina masih berusaha meyakinkanku. Rina mendorongku masuk ke kamar.

Meski malas, aku mengganti pakaianku juga. Semoga Rina benar. Setelah berkumpul dengan teman-teman lama, aku bisa merasa lebih baik.

Aku memerhatikan wajahku dicermin, mataku begitu sembab. Aku perlu waktu untuk memolesnya.

Setelah menghabiskan waktu beberapa menit, kami siap berangkat.
×××××

“Wah, Rina kelihatan lebih cantik ya.”

“Iya dong, 'kan perawatannya lengkap,” candanya sambil tertawa kecil.

Ditengah keramaian dan meriahnya acara, aku justru merasa sepi.

Aku memilih menyendiri sementara Rina menyapa teman-teman yang baru datang. Beberapa teman yang dulu dekat denganku di kelas mengajak mengobrol. Kami bernostalgia dan membicarakan banyak hal. Meski aku menyahut dan tersenyum, namun aku sama sekali tidak menikmati pembicaraan kami. Pikiranku kemana-mana. Aku menghilang dan bermain dengan imajinasiku sendiri. Kecerianku yang dulu lenyap entah kemana. Aku tidak nyaman berada dikeramaian meski aku mengenal mereka semua. Aku juga tidak suka jika mereka mulai banyak bertanya.

Mereka saling membahas kesibukan masing-masing sampai akhirnya ada yang menanyakan mengenai rumah tanggaku. Mengenai kapan aku akan memiliki momongan.

Aku terdiam. Tidak tahu harus menjawab bagaimana. Aku belum siap kalau semua orang tahu bagaimana keadaan rumah tanggaku saat ini. Tidak, jangan sekarang.

Airmataku hampir saja tumpah kalau saja Rina tidak datang dan membantuku memberi penjelasan. Ia menjawab pertanyaan mengenai suamiku dan mencampurkannya dengan candaan kecil. Aku sangat terbantu dan berterimakasih karenanya.

“Mina, Rina,” seorang memanggil kami saat acara telah selesai dan bersiap pulang. “Aku dan anak-anak lain mau ke rumah sakit. Kalian mau ikut ?”
Rina tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arahku untuk meminta pendapat. Aku menggeleng pelan.

“Siapa yang sakit ?” tanya Rina ingin tahu.

“Satria Yoga. Kalau tidak salah sih dulu dia di kelas XII IPA 2.”

“XII IPA 3,” kata teman yang bersamanya membenarkan.

Mendengar nama Satria Yoga, aku dan Rina sangat terkejut. Rina menatapku lagi untuk memastikan benarkah aku tidak ingin ikut ke rumah sakit. Aku hanya terdiam, masih terkejut dengan berita yang baru saja aku dengar. Karena aku tidak juga merespon, Rina mengambil kesimpulan untuk berangkat.
×××××

Sampai di rumah sakit, kami rombongan kedua yang kira-kira berjumlah 10 orang –aku tidak terlalu memerhatikan– langsung menuju lantai 2, ruang bogenvil.

Seorang ibu tinggi, kurus, dengan tatapan begitu letih, bersama seorang gadis muda yang kira-kira seusia kami menemani Satria. Keduanya menyambut kedatangan kami dengan ramah. Ibu Satria menceritakan kecelakaan yang menimpa anaknya 2 minggu yang lalu dengan perasaan teriris.

Kecelakaan mobil itulah yang mengakibatkan Satria koma hingga saat ini. Mendengar semua cerita dari Ibu Satria, membuatku tersadar satu hal. Kecelakan hari itu di depan rumah sakit tempatku memeriksakan diri...

Dadaku tiba-tiba sesak.

Aku permisi keluar. Aku perlu udara segar untuk membuatku merasa lebih baik.

Aku kembali mengurutkan kejadian-kejadian yang aku alami selama ini. Dimulai pada hari itu, 12 Juni.

“Mina, kamu baik-baik saja,” tanya Rina terlihat khawatir. “Wajahmu pucat sekali. Apa kamu mau pulang ?”
Aku menggeleng.

“Ada sesuatu yang ingin aku katakana,” kataku datar. Rina diam, menunggu kalimatku selanjutnya. Aku menatap mata Rina sebentar sebelum melanjutkan kalimatku. “Rina ingat kecelakan depan rumah sakit 2 minggu lalu ? sebelum Rina menarikku masuk dan bertemu dengan mas Dian ? Itu... Satria.”

“Iya, aku tahu. Tadi ibu Satria sudah menceritakan semuanya,” jawab Rina.

“Tapi ada banyak hal yang terjadi setelah itu. Aku… aku seperti bisa merasakan keberadaan sesuatu. Sesuatu itu datang, namun aku tidak pernah tahu apa maunya...”

“Mina, kamu bicara apa ?” Rina memotong kalimatku. Ia terlihat kebingungan, berusaha mencerna.

Aku mulai marah. Berpikir bahwa sebenarnya Rina mengerti hanya saja berpura-pura karena tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Sedih.

“Satria, dia selalu datang. Awalnya aku tidak tahu kalau itu dia. Dia memberiku tanda-tanda dan aku tetap tidak mengerti sampai hari ini ibu Satria bercerita tentang kecelakaan yang menimpa anaknya.” Aku berhenti bercerita karena melihat reaksi Rina.

Rina menggeleng. Tatapan matanya dipenuhi rasa kasihan terhadapku.

“Itu benar-benar terjadi!!” aku memekik. Kali ini aku benar-benar marah. Mina, satu-satunya orang yang bisa kuandalkan tidak mempercayaiku. “Awalnya aku juga tidak percaya, aku tersiksa, merasa takut tidak tahu pada siapa harus bercerita. Aku tahu ini konyol, tapi aku alami. Aku hampir gila.” Aku mulai menangis. Frustasi.

Teman-teman yang tadinya berada di ruang rawat keluar. Mereka mendengar pekikanku. Mereka semua melihat kearahku dengan rasa penasaran. Airmataku semakin deras mengalir. Memikirkan bagaimana sakitnya jika mereka semua berpikir bahwa aku gila.

“Maaf, kami harus pulang duluan,” kata Rina pamit. Rina menarikku. Aku menghapus airmataku dan melangkah pulang bersamanya. Aku masih merasa mereka semua mata memandangi kami sampai dikejauhan.

Selama dalam perjalanan pulang, aku dan Rina hanya terlibat diam. Aku tidak ingin memulai duluan karena aku masih marah. Lagipula Rina tidak percaya padaku, jadi apapun yang aku katakan dia tetap tidak akan percaya.

Motor Rina memasuki pekarangan rumahku. Rina mematikan mesin dan aku turun. Aku tidak mempedulikan Rina dan berjalan terus meninggalkannya.

“Mina,” Rina memanggilku.

“Aku sangat menderita memendam ini sendiri. Merasakan apa yang tidak terlihat itu memang gila. Aku coba untuk tidak memikirkannya namun tidak bisa. Aku benar-benar merasa sendirian karena aku tahu tidak ada orang yang akan percaya jika aku menceritakan apa yang aku alami. Menerima kenyataan mereka akan menganggapku gila itu sangat menakutkan bagiku. Sama sepertimu saat ini. Akhirnya aku merasa kesepian dan kehadirannya mulai bisa kuterima. Aku kembali merasa memiliki teman.” Aku kembali menjelaskan perasaanku meski tidak ada yang meminta.

Aku tertunduk, tidak berani mengangkat wajah. Tidak tahu bagaimana reaksinya setelah mendengar kata-kataku. Mungkin ia mulai bergidik, atau menganggapku gila, atau hal lain yang lebih menakutkan.

Hening.

Aku merasakan uluran tangan dan tahu-tahu Rina sudah memelukku. Pikirku Rina akan pergi dan memutuskan hubungan denganku setelah ini.

“Aku disini dan aku sahabatmu,” kata Rina membuatku tersentuh. “Maafkan aku, aku tidak berpikir seperti itu. Aku menyayangimu, sebagai teman dan.. sebagai saudara. Aku tahu semua ini berat untukmu. Tapi menciptakan duniamu sendiri itu tidak benar.”

“Apa ?”

Rina melepaskan pelukannya. Ternyata ia masih tidak percaya.

“Mungkin aku yang salah atau kamu yang benar, tapi coba pikirkan ini dengan kepala dingin.” Rina berkata dengan nada yang begitu bersahabat. Membuatku yang meskipun masih marah karena Rina tidak mempercayaiku tidak dapat menolak. “Pikiranmu yang tidak tenang adalah sumber semuanya.  Pikiran dan hatimu yang bimbang semua itu memungkinkan untukmu menciptakan ruang untuk membangkitkan sosok yang tidak satupun orang bisa kenali, bahkan kamu sendiri. Kemudian kamu berpikir kamu bisa merasakannya, setiap hari. Kamu menipu dirimu sendiri, kamu memanipulasi otakmu dengan memaksakan hal yang tidak ada seolah-olah ada. Sehingga semua mulai terasa nyata. Karena telah tertanam dalam otakmu bahwa semua itu nyata, jadi hal-hal sekecil apapun kamu hubung-hubungkan untuk mendapatkan pembenaran sampai semuanya saling terkait."

Aku terdiam merenungkan.

Rina mengangguk sambil tersenyum padaku. “Ingat, syaitan punya 1001 cara untuk menjerumuskan anak-cucu Adam,” tambahnya mengingatkanku.

Aku mereda. Amarahku, kesedihanku, dan semuanya. Kini aku bahkan tak mampu berkata-kata lagi.
×××××

Setelah hari itu aku putuskan pulang ke rumah orangtuaku. Dengan begitu aku akan selalu memiliki teman dan tidak lagi sendirian. Pikiran-pikiran gila itu juga akan aku buang jauh-jauh. Kehidupanku memang telah berubah drastis, tapi akan kucoba mengikhlaskan mas Dian dengan orang lain walau aku harus terus belajar bagaimana cara ikhlas itu sebenarnya.

“Mba ayo keluar,” panggil adikku sepupuku yang paling kecil dari luar kamar.

Terkadang aku masih sering merasa sosok itu datang lagi, berada tidak jauh dariku. Dan saat aku mulai merasakan perasaan aneh itu, aku akan langsung menyibukkan diri melakukan apapun, atau keluar kamar mencari teman mengobrol.

Aku merapikan penampilanku dan keluar kamar menyapa semua yang ada diruang tamu.

Aku adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Kakakku yang pertama perempuan dan telah memiliki 2 orang anak, kakakku yang kedua laki-laki, kemudian aku dan dua adik laki-lakiku. Karena aku baru pulang ke rumah, jadi semua keluarga berkumpul bersama.

Seperti inilah cara yang selalu digunakan orangtuaku agar semua keluarga dapat akrab. Kami berkumpul diwaktu libur dan makan-makan.

Aku merasa lebih baik dengan adanya banyak orang yang aku sayangi berkumpul di sekitarku. Aku mencintai mereka.

“Assalamualaikum,” seseorang memberisalam di depan pintu.

Aku pikir semua anggota keluarga sudah berkumpul. Apa karena terlalu lamanya tidak pulang dan berkumpul dengan semua anggota keluarga, aku jadi lupa siapa-siapa saja keluargaku yang sudah datang dan siapa yang belum.

Tiba-tiba aku merasa keadaan berubah hening. Aku mengikuti yang lainnya menatap kearah pintu masuk untuk melihat siapa gerangan yang datang.

“Mas Dian,” nafasku tertahan beberapa saat. Aku benar-benar terkejut dan sama sekali tidak menyangka.

Mas Dian berjalan masuk. Ia mendekat dan semakin dekat. Kakak laki-lakiku yang ada dibelakang langsung menyambut kedatangan Mas Dian dengan bogeman panasnya.

“Dasar, tak tahu malu! Masih berani juga kau menampakkan dirimu disini!” sergah Kakak.

“Aku minta maaf,” mas Dian tertunduk.

Kakak laki-lakiku terlihat semakin marah. Ia hendak menjotos mas Dian lagi, namun dihalangi oleh adik dan kakak ipar. Ayah meminta agar kakak bisa tenang dan mengendalikan emosinya. Semua bisa dibicarakan  baik-baik.

Mas Dian menatapku, aku buang muka dan masuk ke dapur.

Aku memang merindukannya, bahkan sangat merindukannya, tapi mas Dian sudah meninggalkanku begitu lama. Justru disaat aku mulai belajar melupakannya dia datang. Aku ingin marah dan memakinya habis-habisan karena memberiku hari yang berat selama sebulan ini.

Aku meneguk segelas air, setelah selesai aku melihat mas Dian berdiri di depanku. Kupikir mas Dian tidak akan berani masuk karena kakakku pasti akan melarangnya, namun ternyata dugaanku salah.

Melihat mas Dian dengan jelas di depanku membuat perasaanku bercampur aduk.

Mas Dian mengucapkan maaf dengan nada yang begitu lembut. Merasa bersalah, malu, dan kutahu tulus.

Aku tetap berusaha menguatkan diriku, tidak ingin luluh begitu saja. Aku ingin memerlihatkan pada mas Dian kalau aku sudah bertambah kuat sekarang.

Tidak bisa. Karena tahu-tahu aku telah hanyut dalam dekapannya. Dekapan ini yang begitu aku rindukan, yang meninggalkanku dan telah kembali. Sedikitpun aku tidak mampu menolaknya.

“Jangan lakukan lagi,” kataku diiringi derai airmata kebahagian.

Kami memperbaiki lagi pernikahan kami. Selama dua hari tinggal dirumah orangtuaku tentu saja Mas Dian tidak didiamkan begitu saja setelah apa yang dilakukannya. Mas Dian disidang oleh Ayah, Ibu, dan kedua kakakku.

Kakak keduaku juga menegaskan akan menguliti mas Dian hidup-hidup jika berani menyakitiku lagi. Dengan begitu mas Dian akan berpikir seribu kali jika ingin menyeleweng lagi.

Setelah dari rumah keluargaku, kami mengunjungi rumah keluarga mas Dian dan meminta maaf.

Seharusnya dari awal aku sadar aku tidak sendirian. Aku memiliki keluarga yang semuanya sangat menyayangiku. Ayah, Ibu, kakak, dan Adik. Aku bahagia dan sangat bersyukur memiliki mereka semua. Merekalah malaikat tanpa sayap yang sebenarnya, yang mencintaiku tanpa syarat.
×××××

Dihari berikutnya aku dan mas Dian menjenguk Satria yang juga belum sadar dari komanya.

Dalam ruangan tempat Satria dirawat ada  seorang wanita yang waktu itu juga menemani Satria di hari pertama aku menjenguknya. Terakhir kali aku baru tahu kalau ternyata wanita itu adalah tunangan Satria. Mereka akan segera menikah dan sayangnya musibah ini terjadi sehingga mereka harus mengundur acara pernikahan mereka.

Kami masih membicarakan perkembangan kesehatan Satria ketika dokter datang untuk mengecek perkembangan kondisi Satria. Selesai mengecek, dokter meminta Andin ke ruangannya untuk membahas keadaan Satria lebih detail. Aku dan mas Dian menggantikan Andin menjaga Satria untuk sementara.

“Aku akan keluar sebentar menerima telepon,” katas Mas Dian kemudian keluar.

Aku hanya diam. Merasa canggung meski hanya ada Satria yang tidak sadarkan diri dalam ruangan tempat Satria dirawat.

“Sadarlah, semua orang menunggumu,” kataku akhirnya.“Ibumu, Andin, juga teman-teman yang lain. Ini pertama kalinya aku berbicara denganmu dan rasanya... aneh. Entahlah.” Aku mengakhirinya. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi.

Ada perasaan lega yang mengalir begitu deras. Tumpah dengan ruahnya. Ini melegakan. Aku sangat berharap Satria cepat sadar.

Sebelum pulang aku menyemangati Andin agar tidak menyerah, terus berdoa dan percaya kalau Satria pasti akan segera sadar.

Ada banyak hal didunia ini yang tidak ada penjelasannya. Semua menjadi misteri dalam kehidupan manusia. Penjelasan yang tidak pernah terungkap selamanya atau sebenarnya terungkap dibelakang kita. Semua itu terjadi ‘mungkin’ justru untuk kebaikan kita.

Begitupun denganku, aku tidak pernah bertanya atau memaksa mas Dian memberi penjelasan kenapa ia pergi kemudian kembali lagi padaku. Bagiku mas Dian sudah kembali saja sudah menjadi hal yang sangat membahagiakan. Jadi aku tidak ingin terlalu serakah dengan menuntut lebih banyak lagi.

Bagiku mas Dianlah takdirku, karena sejauh apapun ia pergi dan selama apapun itu, aku yakin ia akan kembali. Mungkin ini cinta sejati atau hanya aku yang merasakannya, tapi kami telah melalui cobaan dengan kebahagian, berpisah dan akhirnya bersama lagi. Cobaan tentang rasa sakit, rasa takut cukup sering terjadi meskipun menyedihkan. Tapi cobaan tentang kebahagiaanlah yang bagiku lebih menakutkan. Karena ada juga orang-orang yang bosan dengan kebahagiannya sehingga menjerumuskan dirinya sendiri.
×××××

“Kemarin wanita itu datang,” Andin mulai bercerita. Ia memeras handuk kecil setelah ia celupkan kedalam air hangat, kemudian ia gunakan untuk membersihkan tubuh orang yang dicintainya. Yang masih hanya terbaring. “Iya. Wanita yang katamu masih kamu cintai. Cinta yang katamu bukan seperti aku mencintaimu atau kamu mencintaiku.”

Andin kembali teringat hari dimana Satria meninggalkannya karena mereka berdebat hebat, dan kecelakaan itu terjadi.

Andin dan Satria adalah pasangan yang berbahagia dan semakin berbahagia karena mendekati hari-hari yang sudah sangat dinantikan keduanya. Hari dimana mereka benar-benar menjadi pasangan yang dihalalkan langit dan bumi.

Belum lagi urusan pernikahan rampung dikemas, Satria yang ditawari teman SMAnya untuk ikut menjadi panitia reuni akbar yang rencananya akan diadakan dalam waktu dekat, langsung menerimanya tanpa berpikir panjang.

“Bukannya kita sendiri sudah sibuk dengan rencana pernikahan kita, tapi kenapa ?” Andin mulai memerdebatkan alasan Satria menerima tawaran menjadi panita Reuni akbar sekolahnya. “Apa karena wanita itu ? karena akan bertemu dengannya ?!”

“Andin, jangan mulai. Kamu tahu itu tidak benar.”

“Jadi kenapa ?!” sengit Andin menuntut penjelasan.

“Tentu saja karena teman baikku yang memintanya. Sudah 8 tahun sejak aku bertemu mereka semua, siapa yang tidak senang...”

“Bohong!” Andin memutus. “Mana ada cinta yang tidak berharap saling memiliki, mana ada cinta tanpa gejolak yang menggebu-gebu. Cinta platonik itu... bohongkan ?”

Satria menghela nafasnya panjang. Ia mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya. Rasanya begitu membuat putus asa melihat kekasihnya begitu cemburu buta. Apapun yang dikatakannya hanya dianggap omong kosong. Kepercayaan yang keduanya rajut selama ini seperti dapat dengan mudahnya menguap.

Mungkin ini memang salahnya. Seharusnya sejak awal ia tidak perlu menceritakan tentang wanita lain yang dicintainya. Selamanya cinta itu egois, dan mana ada wanita yang akan baik-baik saja jika mengetahui kekasihnya memiliki tambatan hati lain. Meski cintanya itu tidak seperti cinta yang saling mencintai.

“Maaf,” Andin berkata dengan suara bergetar. Tertunduk. Tulus. Penyesalan dan kesedihan silih berganti mengisi kekosongan jiwanya. Seandainya saat itu ia tidak memancing pertengkaran, kekasihnya pasti masih akan baik-baik saja. “Aku akan memercayainya sekarang. Apapun itu, semuanya.”

“Anak baik.”

Sebuah suara yang terdengar berat tertangkap pendengaran Andin. Satria. Akhirnya ia sadar. Akhirnya ia tidak harus menunggu lebih lama lagi. Akhirnya...

Andin menggengam erat tangan kekasihnya. Tidak akan ia lepas lagi kali ini. Bahkan untuk membiarkan genggaman itu merengang.

Tidak ada komentar: