Sebuah gambaran samar-samar mulai terlihat. Semakin
lama semakin jelas. Gambaran mengenai seorang gadis remaja yang masih duduk di
bangku kelas XII SMA. Ia berjalan sangat terburu-buru. Langkahnya semakin lama
semakin cepat. Sesekali kepalanya menengok kebelakang. Ia nampak sangat panik,
khawatir. Pikirannya sedang tidak tenang. Saat ia menyebrang jalan dan
tiba-tiba sebuah motor yang melesat dengan kecepatan tinggi lewat
–Brak... darah mulai mengalir. Semakin banyak. Darah segar
yang berwarna merah kental.
“Akhh !!” seru Sania. Ia terbangun karena mimpi buruk
yang selalu saja datang dan begitu sering mengganggu tidurnya tiap malam.
Keringat dingin mulai mengucur dari keningnya, nafasnya yang berat berusaha
keras diaturnya agar kembali normal.
“Sial! Gara-gara mimpi buruk semalam lagi-lagi aku
kesiangan,” gerutu Sania sambil menarik ranselnya. Ia meminum teh hangat dengan
sangat terburu-buru dan roti isi masih menggantung di mulutnya ketika ia
meninggalkan rumah.
“Selamat pagi.” Seorang laki-laki dengan suara berat menyapa.
“Bagaimana, tidur nyenyak ?” Disusul sapaan seorang perempuan.
Mereka yang berjumlah 3 orang berada didepan pintu
untuk beramai-ramai menyambut Sania. Sania yang moodnya telah buruk karena
mimpi buruk dan berakhir dengan bangun kesiangan, semakin tidak tertolong lagi. Sania tidak menanggapi sapaan dari
suara-suara yang sama sekali tidak dikehendakinya, bahkan menganggap mereka
tidak terlihat. Pikirannya
hanya terfokus tentang bagaimana cara agar ia bisa lebih cepat sampai di sekolah.
Semenjak keluar dari rumah sakit seminggu yang lalu, Sania terus saja diikuti oleh tiga orang yang ia anggap paling mengganggu
hidupnya. Agil, Mey, dan Reno.
Agil adalah
seorang detektif swasta, sementara Mey –adiknya dan Reno adalah rekan polisi.
Agil, Mey, dan Reno sudah sangat sering menjadi patner dalam banyak kasus
besar. Semenjak keluar dari rumah sakit, Sania belum menggingat apapun tentang sejengkal
masalalunya. Sania tidak banyak bergaul, disekolah juga tidak banyak akrab
dengan teman-teman sekelasnya. Entah karena sebelumnya ia memang tidak membuat
kesan baik dengan semua orang atau karena semenjak mengalami amnesia
kata-katanya berubah kasar sehingga teman-temannya lebih memilih menjaga jarak
dengannya.
Emosi Sania memang sering tidak baik. Ketiga petugas itu juga tak
jarang kena amuk. Mungkin hal itu dikarenakan ia melewati
saat terberat dalam hidupnya seorang diri. Tanpa ingatan, tanpa orangtua –Ayah dan
Ibunya telah meninggal, tanpa satupun keluarga disampingnya –Paman dan
Bibinya hanya menemaninya 2 hari, setelah itu menghilang dan tak lagi pernah muncul. Tidak memiliki tempat berbagi ataupun
bersandar saat telah lelah dengan banyak hal yang dilalui mungkin membuatnya
ingin mengutuk semua orang yang dilihatnya.
“Kalian bisa
tidak sih berhenti mengikutiku ?!” Sania memekik geram. Pulang sekolah ia tidak
berencana langsung pulang. Ada hal yang harus dilakukannya di toko buku.
“Tidak,” jawab
Mey cepat. "Maaf."
Mendengar
jawaban itu, otak Sania yang telah mendidih semenjak pagi benar-benar telah
berada di titik terendah dari kesabarannya. Siap meledak kapanpun, melemparkan
kalimat kutukan dan sumpah serapah kemana-mana.
Sangat menganggu
terus-menerus diikuti oleh orang-orang aneh seperti ketiganya. Bahkan untuk
termenung sesaat dan menangis saja tidak bisa. Ia bukan penjahat yang harus
diawasi, bukan juga anak Presiden atau Raja yang mesti dikawal setiap saat. Ia
butuh ruang untuk sendiri.
“Kalian 'kan punya otak, kalian bisa akali ini tanpa
harus terus patuh pada atasan kalian seperti kerbau dicucuk hidungnya!” sergah
Sania kasar.
“Heh, jaga ucapanmu ya ! Kalau sampai sekarang kami tidak
menjagamu, mungkin kau sudah mendekam dalam kubur,” sergah Reno tidak terima.
Reno sebenarnya tipe pendiam, namun lidahnya dapat berubah tajam ketika ia berbicara. Itu sebabnya ia
lebih pendiam. Agar tidak menyakiti perasaan banyak orang
yang akan mendengar kalimatnya. Tapi dibalik
itu ia memiliki insting yang kuat sebagai seorang polis.
“Huh, melindungi apanya ? Aku tidak merasa dalam bahaya. Ini hanya alasan
kalian 'kan untuk menghabiskan uang negara,” tepis Sania. Ia tersenyum sinis,
menatap tajam kearah ketignya dengan gaya menantang.
Sebenarnya Agil
hendak membalas kata-kata Sania, hanya saja Mey yang tidak tahan dengan
keributan dan pembahasan yang sama setiap harinya menegahi. Mey bahkan mengajak
keduanya meninggalkan Sania. Spontan saja keputusan Mey itu membuat kedua
patnernya tersentak.
Mey adalah adik perempuan Agil satu-satunya. Sebenarnya Agil juga pernah mengikuti tes
agar dapat masuk akademi kepolisian, namun ada beberapa tes yang tidak dijalankannya
dengan baik sampai akhirnya ia gagal. Mey yang lebih cerdas dan kritis dari
kakaknya justru dapat dengan mudahnya melewati setiap tes sampai akhirnya
menjadi perwira yang dapat diandalkan.
“Apa maksudnya ini ?” Agil bertanya masih tidak mengerti dengan keputusan
adiknya. “Kaukan tahu bagaimana musuh yang kita hadapi. Mereka sangat cerdas,
mereka juga sangat mengerikan. Mereka bisa ada dimanapun dan…”
“Iya, aku tahu. Aku tidak mungkin seceroboh kakak,” Mey memutus kalimat kakaknya.
“Semuanya sudah kupikirkan.” Mey terdiam sesaat kemudian tersenyum jahil. Agil
dan Reno saling pandang, berusaha mengartikan arti dari senyuman itu. “Tunggu
disini dan tetap awasi toko buku yang dimasukinya,” Mey memberi komando
kemudian pergi tanpa alasan.
“Mey!” Panggil Agil namun adiknya tetap saja pergi. Reno hanya mengangkat
bahunya tanda ia juga tidak mengetahui apapun yang Mey pikirkan.
Mey kembali tidak lama sebelum Sania keluar dari toko dengan beberapa bawaan
buku bacaan barunya. Dari kejauhan terlihat seseorang berbadan kekar mengikuti
Sania. Diperlihatkan hal itu, Agil dan Reno langsung mengerti. Ketiganya
tersenyum geli bersama.
Preman yang sudah Mey kompaki mulai mengganggu Sania. Sania berusaha tidak
peduli, namun bukan berarti hal itu segera berakhir. Semua sesuai naskah dari
menakut-nakuti sampai pada teks menolong Sania dan semua berjalan dengan lancar. Sania yang sudah terlalu sering berkata
kasar dan sinis harus segera diberi pelajaran agar bisa lebih menghargai orang
lain. Terlebih lagi ini untuk keselamatannya juga.
“Hei, dasar preman botak jelek ! Beraninya hanya mengganggu yang lemah,” cibir
Mey yang muncul dari sebuah tempat. “Kalau berani coba lawan mereka,” tambahnya
menunjuk kearah Agil dan Reno yang berdiri tidak jauh darinya.
“Aku !” seru Agil dan Reno bersamaan. Keduanya sama sekali tidak diberitahu
tentang peran yang harus mereka lakoni.
Tidak perlu menunggu kalimat persetujuan diucapkan, Mey mendorong keduanya agar
bergerak cepat.
Meski tidak memiliki persiapan, keduanya tetap mengikuti naskah Mey dan melawan
dengan brutal. (Dast –dist –dust) Kemenangan sudah dapat dipastikan. Pria
bertubuh kekar itu pergi dengan tidak henti-hentinya mengumpat.
“Bagaimana, masih mau sombong tidak butuh perlindungan ?” sindir Mey
menyembunyikan senyum puasnya.
“Masih merasa tidak dalam bahaya ?” Agil menambahi. Sania hanya mendesah
sinis dan pergi begitu saja. “Hah.. perempuan memang makhluk paling
merepotkan.” Keluhnya.
Sania menghilang
di tikungan ketika ketiganya akan mengikuti.
“Heh kalian mau kemana ? Bayaranku ?” Lelaki bertubuh kekar itu kembali untuk
menagih. Agil dan Reno yang tidak mengerti menatap Mey meminta penjelasan.
“Kakak,” Mey menanjakan suara layaknya adik manis yang penurut.
Agil menghela
nafas kemudian menarik selembar uang 50.000 dari dompetnya. Bukannya menerima,
lelaki kekar itu justru marah-marah. Uang 50.000 tidak akan cukup untuk
mengobati wajahnya yang memar-memar dan hidungnya yang patah karena serangan
mereka.
Suara lelaki
kekar itu berubah kasar dan keras seperti hendak melahap ketiganya sekaligus.
Dengan sangat terpaksa, Agil mengeluarkan dompetnya lagi. Saat akan
menarik beberapa lembar, lelaki berbadan kekar itu merampas dompetnya dan
mengambil semua isinya tanpa menyisakan selembar pun. 6 lembar uang 50.000-an
ludes seketika.
Hei, kamu…”
“Tolongggggg…..
!!”
“Sania !” Mereka
teringat klien yang seharusnya mereka jaga dengan ketat.
Ketiganya
bergegas menuju arah suara teriakan Sania. Agil dengan sangat terpaksa kemudian
mengikhlaskan lembar-lembar terakhirnya dirampas.
Terlihat dari
kejauhan beberapa orang memaksa Sania masuk kedalam mobil. Sebelum berhasil
mengagalkan penculikan Sania, mereka harus melawan beberapa orang yang
menghadang lebih dulu.
“Ini bagianku, biar aku yang bereskan. Kalian bantu saja gadis menyebalkan
itu,” kata Agil sok keren. “Sekarang dia pasti akan sadar jika hidupnya dalam
bahaya.”
Belum sampai
ditempat Sania, lagi-lagi Mey dan Reno dihadang. Kali ini dengan jumlah yang
lebih banyak. Mau tidak mau mereka harus membereskan bagian ini lebih dulu.
Gawatnya mobil yang membawa Sania dengan paksa telah menyalakan mesinnya dan
dalam hitungan detik siap melesat kabur. Reno mengeluarkan pistolnya dan
bersiap menembak. Saat pelatuk telah ia tarik, justru tidak ada peluru yang
keluar
“Assh... gadis
itu !” Reno memaki segera bisa mengerti bahwa ini pasti kerjaan Sania.
Tidak bisa
menemanfaatkan senjata yang ada di tangan, dengan cepat Mey memutar otak. Sedan
hitam mulai melaju ke arahnya. Mey berdiri di depan mobil. Dia tidak sedang
nekat karena ada sesuatu yang dibawanya, selang. Mey mendapatkannya dari tempat
pencucian mobil yang letaknya di pinggir jalan, tidak jauh dari tempatnya
berpijak. Selang dinyalakan. Mey masih berdiri dengan gagahnya sambil memegangi
selang yang airnya menyembur kearah sedan hitam yang membawa Sania. Semburan
air itu tentu saja menghalangi pandangan si pengemudi. Di jarak yang mengancam
keselamatannya, Mey segera menyinggir menyelamatkan diri. –chiiit, brak –
Suara decit rem
mobil disusul teriakan orang-orang seisi mobil membahana membentuk suatu harmoni
yang berantakan. Mobil menabrak trotoar jalan. Disaat mobil tidak lagi bisa
dinyalakan itulah mereka beralih pada misi penyelamatan Sania yang sebenarna.
Orang-orang yang
hendak menculik Sania telah diamankan oleh pihak yang berwajib. Sania sendiri
telah berada di rumahnya. Ia menyiapkan air hangat dan kompres untuk
meringankan memar-memar pada wajah Agil, Mey, juga Reno. Selagi mereka sibuk
mengompreskan wajah yang memar, Sania tidak hentinya terus mengomel. Sania
terus menyalahkan keteledoran ketiganya dalam menjaganya sehingga ia hampir
saja diculik.
“Kalian memang
lamban. Telat sedikit saja kalian tahukan apa yang terjadi padaku ? kalian
benar-benar tidak bisa profesional dalam bekerja,” Sania masih saja terus
berbicara. Agil yang hendak meledak ditahan oleh adiknya.
“Heh mba, kau
membuat telingaku panas dengan terus menggoceh,” sergah Reno. “Sekarang aku
tahu kenapa tidak seorangpun betah berada disekitarmu, kenapa mereka semua
meninggalkanmu dikeadaan menyedihkan ini...”
“Kau…” Sania
yang akan membantah seperti kehabisan kata-kata.
“Kenapa ? apa
bicaraku salah ?” Reno masih berkata dengan nada menantang.
“Apa kau pikir
dikelilingi banyak orang itu hebat, hah ? kau pikir dengan memiliki semua orang
di dunia ini membuatmu terlihat keren ?” Tidak ingin merasa telah dikalahkan,
Sania mendebat.
“Itu lebih baik
dari tidak memiliki siapapun. Itu jauh lebih menyenagkan dibanding harus
menangis diam-diam atau berbicara pada boneka saat tengah malam.”
Mata Sania mulai
berkaca-kaca. Apa yang Reno katakan semuanya benar dan itu yang membuat
perasaannya sangat tersakiti. Benar, sangat benar. Tidak memiliki siapa-siapa,
bahkan ingatan sekalipun. Sepi. Kesepian yang panjang tanpa apapun menemani
dikesendirian.
Menyadari reaksi
Sania, Mey menyenggol lengan Reno agar ia berhenti dan tidak lagi melanjutkan
kalimatnya. Apa yang Reno ucapkan sudah cukup untuk menyerang Sania. Membalas ucapan-ucapan
kasarnya.
Hening. Sania
benar-benar kehabisan kata-kata.
Kalah dengan pukulan telak.
“Ao ! Mey pelan-pelan,”
Agil mengaduh.
Mey sedang
mengompreskan memar kakaknya. Dari mereka bertiga, Agil yang wajahnya paling
banyak babak belur karena yang paling sok keren.
“Makanya jangan
sok kuat. Melawan mereka sendiri, kakak pikir itu hebat,” gerutu Mey.
Sania masuk ke
kamarnya dengan kesal. Ia juga membanting pintu. Mendengar suara pintu
dibanting, ketiganya saling bertukar pandangan. Reno merasa telah berbicara
terlalu banyak hanya menunduk.
“Kenapa aku
harus berbicara panjang lebar dulu baru dia bisa diam.” Reno berkata dengan
nada berbisik.
“Masih berani
bicara seperti itu,” Agil mendelik kearah Reno. “Dasar. ”
Reno tidak bicara
lagi.
Selesai
mengompres memar, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Agil membuka-buka
majalah, Reno membaca koran yang sudah ketiga kalinya ia baca, dan Mey hanya
sibuk dengan mengutak-atik ponselnya. Suara tik-tik-tik jam terdengar lebih
keras disaat keadaan sunyi, dan itu membuat suasana terkesan horor. Hanya
sesekali terdengar uapan kantuk atau keluhan tidak jelas.
“Sania, Sania,
dimana kamu ?” Seorang pria tiba-tiba masuk dan berteriak memanggil nama Sania.
Pria muda itu mengenakan kaos coklat dengan dilapisi sweater biru tua. “Siapa
kalian ?” tanyanya saat melihat Agil, Mey, dan Reno yang tidak ia kenal
sebelumnya.
“Seharusnya kami
yang bertanya siapa kau. Main asal masuk rumah orang sembarangan,” cemooh Agil.
Pria asing itu
tidak menanggapi perkataan Agil. Ia melewati Agil dan yang lain menuju kamar
Sania dan mengetuk-ngetuk pintu kamar Sania berulang kali. Sania yang penasaran
dengan siapa orang yang terus memanggil-manggil namanya keluar.
Melihat Sania membukakan pintu dan dalam keadaan baik-baik saja, pria itu
tersenyum senang. Ia hendak memeluk Sania, namun Sania mundur selangkah,
memberi jarak.
“Heh, pria hidung belang. Jangan macam-macam ya,” sengit Reno.
“Kalian siapa ? Sania, mereka siapa ?”
Pria asing itu
mengambil tempat disamping Sania. Tidak mendapat jawaban apapun dari
pertanyaannya, ditambah Sania yang seperti orang linglung yang juga tidak
menyambut kedatangannya sama sekali, membuat pria itu terdiam mencoba mengerti
suasananya.
“Sania, aku Adam
kekasihmu. Kamu tidak ingat ?”
Pria itu
menyebutkan namanya berharap tatapan Sania berubah lembut setelah mendengar
siapa dirinya. Sania tetap tidak menanggapi. Ia menyingkirkan tangan Adam yang
melingkar di pinggangnya kemudian menjauh beberapa langkah. Wajah Adam terlihat
kecewa.
“Pulanglah,” Mey menyarankan, disambut anggukan kompak Reno dan kakaknya
sejutu. “Biarkan Sania memikirkan situasi ini dulu.”
“Tidak, ini tidak benar.” Adam tetap bersikeras. “Sania, benarkah kamu tidak
mengingatku ? secuilpun ? Dulu kita sering menghabiskan waktu makan martabak
bersama, kamu juga tidak ingat ?”
“Martabak ?” Sania mencoba mengingat-ingat. Namun sekuat apapun ia mencoba
tidak ada gambaran apapun yang muncul di benaknya. “Aku… aku tidak suka
martabak.” Adam terdiam terkejut. Nampak ia salah memilih kalimat.
Agil dan Reno mengusir paksa Adam yang tidak mau pergi juga. Adam terus
berkata-kata yang membuat Sania ingin mengingat semuanya sekaligus. Sayangnya
gambaran itu tidak muncul sekerjap matapun. Sania memegangi kepala yang serasa
akan pecah. Ia memaksakan dirinya untuk mengingat semua kenangan yang hilang
tak bersisa di kepalanya. Sania merintih kesakitan membuat Mey panik, kemudian
tiba-tiba pingsan.
Agil mengangkat Sania ke kamar dan meminta adiknya untuk menemani Sania
didalam. Ia dan Reno akan berjaga diluar. Mey patuh saja dan segera masuk ke
kamar.
Malam semakin larut dan dunia-dunia mimpi semakin ramai dikunjungi. Mereka yang
sedang terlelap sangat ingin tidurnya dihiasi dengan semua hal yang indah
tentang mimpi. Namun banyak diantaranya yang tersesat sehingga hal buruk yang
ditemui. Hal-hal yang justru sama sekali tidak ingin mereka lihat ataupun alami.
Kening Sania dipenuhi peluh. Tidurnya mulai tidak tenang semenjak lima menit
yang lalu. Beberapa saat kemudia ia tersentak bangun dari tidurnya.
“Sania.” Mey juga ikut terbangun. Selum sempat menanyakan ada apa, tahu-tahu
Sania memeluknya. Air matanya tumpah seketika itu.
“Aku tidak ingin mengingat semua itu. Terlalu menyakitkan, sangat menakutkan.
Saat aku mulai mencoba mengingatnya, rasanya sungguh menyesakkan. Seperti semua
rasa sakit itu berkumpul dan menumpuk menjadi satu. Aku ingin seperti ini saja,
diriku yang baru,” kata Sania disela-sela isak tangisnya.
“Tenanglah. Kami disini dan kami akan menjagamu.” Mey berusaha membuat Sania
tenang dan kembali melanjutkan tidurnya. Hari masih terlalu dini untuk terjaga.
Keesokan paginya Sania menghilang. Ia kabur dari rumah dengan meninggalkan selembar surat. Mey memerlihatkan surat yang ditinggalkan Sania di atas
kasur.
|
Aku senang
dengan diriku yang sekarang meski penuh
|
|
dengan
rasa sepi. Tolong jangan paksa aku kembali kemasa-
|
|
lalu
dengan mengingatnya. Rasanya sungguh menyakitkan.
|
“Bodoh siapa
yang memaksanya,” gumam Agil selesai membaca isi surat Sania.
Ketiganya
bergegas mencari Sania sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi. Mereka
berpencar dan mulai mencari disekitar kompleks. Mendatangi hampir keseluruh
tempat dalam kompleks, dan bertanya pada orang-orang yang mereka temui.
Keringat mulai membanjiri pertanda lelah telah mengambil alih semangat mereka.
Tidak mendapatkan jejak apapun tentang keberadaan Sania, mereka berkumpul di
tempat yang sudah di janjikan.
“Sebelah sana
tidak ada.” Reno memulai sambil menggeleng.
“Sebelah sana
juga.” Agil menimpali dengan kalimat yang tidak jelas karena mulutnya ia penuhi
dengan bakpao yang ia beli saat mencari Sania di taman.
“Kakak sempat-sempatnya
makan di situasi seperti ini,” Mey berkomentar, tidak habis pikir.
“Aku benar-benar
lapar. Sudah tidak tahan lagi,” Agil beralasan sambil terus mengunyah.
“Kamu ini.
Pantas saja kemampuanmu selalu dibawah adikmu,” Reno menambahi.
Agil hanya mendesis.
Ditempat lain,
dimana Sania berada, ia berjalan seperti orang linglung. Ia hanya terus saja
berjalan kemana kaki membawanya. Tanpa ada tempat tujuan jelas yang ingin ia
datangi. Diperempatan jalan ketika akan menyebrang, samar-samar muncul sebuah
bayangan dalam benaknya. Ingatan seperti apa yang sering ia mimpikan. Tentang
seorang gadis yang wajahnya tidak terlihat jelas dan berjalan sangat
terburu-buru. Gadis itu terlihat panik. Sesekali ia akan menengok ke belakang.
Sepertinya ada beberapa orang yang sedang mengikutinya. Sania masih melakang
perlahan. Langkahnya tanpa sadar telah membawanya menuju ketengah jalan dan
–chiiiiiitttt –
“Hei kalau
menyebrang jangan melamun dong!” teriak seorang pengemudi mobil.
Terlihat jelas
olehnya gadis itu tertabrak motor. Jelas juga darah segar yang mengalir saat itu.
Sania menutup dan membuka matanya kembali. Ia berusaha menyadarkan dirinya
bahwa ia tengah berada di dunia nyata sekarang.
“Sania, kamu
tidak apa-apa ?” Mey bertanya sambil menarik tangan Sania. Mengetahui
orang-orang yang ingin dihindarinya justru tengah berada dihadapannya saat ini,
Sania segera menepis tangannya.
“Sudah kubilang
aku tidak ingin dipaksa!” bentak Sania. “Kalian melakukan semua ini demi
pekerjaan kalian. Jika ingatanku pulih, apa yang kalian inginkan akan segera
kalian dapatkan. Tapi bagaimana dengan perasaanku ?! Kalian tidak pernah peduli
soal itukan ?!!” tambahnya meninggikan suara.
“Kamu tidak akan
pernah bisa melupakannya. Kenapa ? karena bahkan saat ingatanmu hilangpun kamu
bisa berada disini. Disini, ditempat saat kecelakan itu menimpamu,” tegas Reno.
“Sadarlah, masalalu itu kehidupanmu. Bukan sesuatu yang bisa kau putuskan untuk
mengingat atau menguburnya.”
Sania hanya
terdiam tidak percaya. Jadi mimpi yang selama ini menghantuinya tiap malam, dan
bayangan samar-samar yang sering muncul dalam benaknya itu adalah dirinya.
Potongan-potongan tentang masalalunya yang menghilang.
“Reno sudah,”
Agil memutus.
“Masalalu itu
yang memanggilmu, yang selalu datang padamu,” seakan tidak mendengarkan
perkataan Agil, Reno terus saja melanjutkan kalimatnya. “Kamu tahu siapa yang
membunuh orangtuamu ? Merekalah yang ingin kamu lupakan. Yang membuatmu terlihat
menyedihkan saat ini ? Merekalah yang sangat ingin kamu lupakan. Kamu begitu
pengecut dengan memilih lari dan membiarkan saja orang-orang yang telah
menghancurkan hidupmu. Pecundang !”
“Reno sudah !!”
Kali ini Agil lebih membentak. Tapi tetap saja Reno masih terus bicara tanpa
henti. Ia bahkan menyebut Sania pecundang berulang kali. Meski tatapan Sania
memelas sedih, Reno tetap belum mau berhenti. “Reno !!!” Bentak Agil kasar.
“Kau tidak lihat ekspresinya ? Berhenti memojokkan dia.”
“Cukup !
terserah bagaimana pandangan kalian terhadapku. Tapi aku ingin kalian pergi,
pergi !!!” tukas Sania. Airmatanya mulai meleleh.
“Sania, ada apa
? kamu baik-baik saja ?” Adam tiba-tiba saja muncul. Melihat Sania menangis
gemetar, membuat emosinya juga tersulut. “Kalian tidak dengar Sania menyuruh
kalian pergi !”
Mey meminta
kedua rekannya mengawasi Sania dari jauh saja. Sania perlu menenangkan diri.
Mungkin Adam bisa membuatnya lebih tenang.
Di tempat mereka
mengawasi Sania dari jauh, Agil dan Reno belum saling tegur. Agil masih merasa
dongkol dengan perlakuan Reno yang menghakimi Sania tanpa memedulikan
perasaannya. Ponsel Agil berdering. Panggilan itu
bersal dari Komandan. Ia diminta ke kantor untuk mendiskusikan
beberapa hal.
Sebenarnya Agil
berat jika harus pergi, ada bagian dari dirinya yang memksa ingin tinggal. Karena
bukan polisi ia bisa dengan mudah dikeluarkan dari penyelidikan jika
bertingkah. Ia harus patuh.
Selain untuk
mendiskusikan beberapa hal, Komandan juga ingin menunjukkan penemuan mayat
seseorang kepadanya.
“Awalnya kami
hanya menduga-duga saja korban memilik hubungan dengan Sania. Ketika coba kami
usut ternyata benar. Menurut kesaksian tetangga Sania, korban pernah beberapa
kali bertemu didekat rumah Sania samping penjual martabak,” Komandan Roy
menjelaskan.
“Martabak ?”
Agil membatin.
Menduga ada sesuatu yang tidak beres, Agil meminta izin pada komandan Roy untuk
menyelidiki beberapa hal yang mencurigakan. Belum keluar dari parkiran,
panggilan dari Reno masuk ke ponselnya.
“Agil gawat!”
Reno memulai dengan kalimat yang terburu-buru. “Sania berhasil diculik, dan…
dan… dan Mey tertembak.”
Mendengar
bagaimana situasi adiknya membuat nafas Agil tiba-tiba terasa berat.
Operasi masih
berlangsung didalam sana, sementara Agil mondar-mandir menunggu dengan gelisah.
Reno sedang membuat laporan atas apa yang baru saja terjadi. Sebenarnya ia
tidak ada di tempat ketika kejadian berlangsung. Reno ke toilet sebentar. Tapi
nampaknya mereka terus diawasi sehingga cepat mendapat celah dan
memanfaatkannya. Reno hanya melihat sekilas orang bertopeng yang memasuki mobil
van hitam bersama Sania yang telah dibius dan Adam.
Sehari penuh telah berlalu semenjak adiknya tertembak dan masih belum
sadarkan diri. Peluru yang bersarang memang berhasil dikeluarkan semua, namun
peluru yang mengoyak tubuhnya cukup banyak sehingga memerlukan pemulihan lebih
lama. Dalam hati Agil terus menyalahkan dirinya. Seandainya saja ia tidak
meninggalkan Mey, seandainya tidak ia izinkan Mey terlibat dalam kasus
berbahaya seperti ini, seandainya dari awal tidak memerbolehkan Mey mengambil
pekerjaan penuh risiko seperti ini.
Seandainya ini,
seandainya itu… pikiran Agil terlalu padat dengan kata seandainya.
Reno yang berada
disampingnya menepuk bahu sahabatnya. Ia sangat mengerti betapa khawatirnya Agil
terhadap Mey dan kasus ini. Dirinyapun sama. Namun ia harus bisa kuat dan
tegar, sehingga ia bisa menguatkan sahabatnya juga. Jika ia terpuruk dan juga
terus menerus menyesali keadaan, siapa yang akan menguatkan mereka.
Komandan Roy
masuk ke ruangannya. Agil dan Reno telah menunggu. Tanpa banyak berkata,
Komandan Roy menyodorkan selembar kertas untuk mereka tanda tangani.
“Apa ini ?” Agil
bertanya seolah tidak mengerti, padahal ia sudah membaca isi dari kertas itu.
“Surat
persetujuan pengalihan kasus,” kata Komandan singkat. Agil menggeleng tidak
percaya. Ia tersenyum samar. Reno yang terkejut merampas kertas yang masih
berada di tangan Agil untuk dibacanya. “Pimpinan menurunkan tim khusus untuk
menyelesaikan kasus ini.”
“Kenapa sekarang
Komandan, setelah apa yang menimpa Mey,” Agil masih tidak terima.
“Agil, ini bukan menyangkut sekarang, dulu, atau kemarin, tapi ini
menyangkut nyawa orang banyak. Jika sampai serum virus itu mereka temuka lebih
dahulu, habislah kita,” Komandan
menggingatkan.
Agil tetap tidak
terima. Reno pun mengatakan penolakan yang sama. Ia ingin menyelesaikan
tugasnya, ia ingin bertanggung jawab dan menebus kesalahannya. Biar
bagaimanapun karena keteledorannyalah Sania bisa berada di tangan mereka, Mey
terkena tembak.
“Mau kemana ?”
Reno bertanya ketika meraka di perkiran. Agil menggeleng lemas. Reno berkata ia
tidak akan melepas kasus ini begitu saja. Ia akan segera menghubungi Agil jika
mendapat sesuatu.
Dengan sangat
tulus Reno mengatakan agar Agil bisa menguatkan dirinya. Hari yang buruk ini pasti
akan segera berakhir. Mey akan segera sadar dan orang-orang itu akan segera
menerima hukuman atas apa yang telah mereka lakukan.
Sementara itu
Sania dikurung dalam sebuah ruangan kosong dan lapang. Malam harinya ia akan
dipindah dan ditempatkan disebuah ruangan yang dipenuhi foto-foto kenangan
dirinya dan orangtuanya. Foto keluarga yang telihat begitu bahagia. Kenangan
bahagia yang meski Sania ingin menghadirkannya saat kesepian menyergap, tidak
pernah sekalipun gambarannya muncul. Ruangan kosong kali ini seperti begitu
akrab dengannya. Ruangan yang sepertinya pernah menjadi tempatnya.
Sania berusaha
keras mengingatnya, terus dan terus. Ia berdiri dan mulai berputar-putar
mengelilingi ruangan itu. Berusaha mengakrabkan diri kembali. Sania mengamati
setiap sudutnya, juga langit-langitnya. Dipejamkannya kedua matanya. Beberapa
menit hanya terdiam, muncul gambaran-gambaran samar yang coba Sania bangun
hingga nampak jelas.
“Ini, disini
seharusnya ada meja panjang,” Sania berdiri di tembok sebelah kanan pintu. “…
dan etalase kaca.” Muncul gambaran lain ketika kakinya melangkah ketempat yang
berbeda. Sania berusaha sangat keras. Ketika gambaran itu semakin kabur dan
hendak menghilang, dengan susah payah Sania berusaha terus memertahankannya.
“Diatas sini ada kotak obat.” Sania mencoba mengartikan seluruh bagian dari
tempat yang ia lihat dalam benaknya. “Tempat ini… seperti sebuah laboratorium.”
“Tebakanmu benar
nona.” Orang yang mengaku Adam menghampiri Sania. “Kau pintar sekali mengingat
tempat ini.”
“Adam. Siapa kau
sebenarnya ?” Sania bertanya waspada.
“Orang yang
paling mengaharapkan pulihnya ingatanmu dibanding siapapun.” Adam tersenyum
licik. “Percepatlah mengingat semuanya. Aku akan memerlakukanmu dengan baik.”
Bagaimana bisa
peruntungannya sangat buruk dibulan ini. Kehilangan kasus bukanlah hal buruk,
hanya saja tidak bisa menyelasaikannya yang paling Agil sesalkan. Ia merasa ini
pertama kalinya kegagalan begitu menumuk di pundaknya. Bukan hanya gagal
menyelesaikan kasus, tapi juga gagal melindungi adik satu-satunya. Agil
menghela nafas panjang. Biasanya saat terpuruk seperti ini, Mey akan ada
bersamanya yang mengatainya tentang banyak hal. Membuatnya harus berusaha lebih
keras lagi dan bangkit lebih sering lagi ketika terjatuh. Baru tiga hari
adiknya mendekam di rumah sakit, membuatnya begitu merindukan tawa riang Mey.
“Halo Reno, ada
apa ?” Panggilan dari Reno membuyarkan bayangannya tentang adik kesayangannya.
Agil hanya diam saja mendengarkan apa yang Reno jelaskan. Reno juga memintanya
segera datang jika tidak ingin ketinggalan bagian terbaiknya.
Reno memberikan
kabar bahwa tempat persembunyian Adam telah ditemukan. Tim khusus sedang
bergerak untuk meringkus Adam dan semua komplotannya. Reno tidak pernah ketinggalan
sedikitpun atas informasi perkembangan kasus. Ia memiliki seorang teman yang
bergabung dengan tim khusus, dari situlah semua informasi didapatnya.
Tim khusus yang
diturunkan telah bergerak. Tempat persembunyian orang yang menculik Sania
berada di balik hutan. Tempat yang disembunyikan dengan cukup rapi. Sempat terjadi
adu tembak selama lebih dari satu jam, namun tim khusus segera bisa mengatasi
semuanya.
“Sania, Sania
sadarlah !” Adam memekik sambil menepuk-nepuk pipi Sania, berharap gadis itu
dapat segera membuka matanya.
Ambulans yang
didatangkan segera membawa Sania utuk mendapat pertolongan. Sania mendapat satu
luka tembak didadanya, sementara Adam tangannya juga terluka.
Saksi mata yang
selamat dan bisa dimintai keterangan hanya Adam. Sania menderita luka serius
karena peluru yang ditembakan kearahnya hampir menembus dan mengenai jantugnya.
Beberapa orang meninggal ditempat saat perang peluru terjadi, sementara sisanya
melarikan diri. Adam sama sekali tidak bisa memberi gambaran tentang pelaku
yang melarikan diri selain, pria itu mengenakan topeng yang menutupi wajahnya.
“Topeng ?” Reno
menyahut. “Aku juga melihatnya saat penculikan terhadap Sania terjadi.”
“Mustahil,”
tukas Agil. “Kakimu hanya tertembak dan tanganmu tersayat pisau sementara Sania
hampir terbunuh ?”
“Hei, apa yang
kalian lakukan disini ? kalian sudah tidak ada hubungannya lagi dengan kasus
inikan.” Seorang petugas yang sedang mengintrogasi Adam di rumah sakit merasa
terganggu dengan kehadiran Agil dan Reno. Keduanya selalu saja menyela padahal
keterangan yang diucapkan saksi belum selesai diucapkan.
“Beri aku waktu,
akan kubuktikan kalau pria ini bukan kekasih Sania. Orang ini bahkan salah
mengenali apa yang Sania sukai. Orang yang sebenarnya telah meninggal,” ucap Agil
yakin.
Agil yakin kalau
Adam salah mengenali apa yang Sania sukai karena sebelumnya ia selalu mengamati
Sania dari jauh. Termasuk saat Sania begitu sering bertemu dengan seorang pria
disekitar rumahnya, dekat penjual martabak. Agil yakin Adam salah berpresepsi
karena Sania selalu bertemu temannya ditempat yang sama.
Meski kecurigaan
Agil sangat kuat, namun ia tidak memiliki bukti sehingga hal itu percuma saja.
Agil sangat menyesalkan hal ini. Hanya karena ia terlalu larut dengan
kesedihannya ia jadi benar-benar mengabaikan kasusnya. Padahal ada yang bisa ia
lakukan. Keduanya diusir dari ruangan tempat Adam dirawat. Agil merasa sangat
kesal. Disaat ia hampir tidak mampu menahan kekesalannya, panggilan dari rumah
sakit masuk. Panggilan itu mengabarkan tentang bagaimana keadaan Mey saat ini.
Agil bergegas, diekori oleh Reno. Disaat yang sama, Sania juga sadar setelah
berhasil selamat dari peluru yang hampir membunuhnya.
Betapa
bersyukurnya Agil mengetahui adiknya telah sadar dari komanya. Ia merasakan
lega yang luar biasa. Dokter baru saja selesai memeriksa keadaan Mey dan
berpesan agar jangan terlalu membuat Mey banyak berpikir dan kelelahan. Melihat
Mey yang tersenyum ketika ia masuk ke ruangan adiknya dirawat, Agil semakin
yakin adik kesayangannya itu telah kembali.
Agil dan Reno
menemani Mey berjam-jam sampai akhirnya Mey sadar ada hal yang aneh dengan kakaknya
dan Reno. Tentu saja ini berkaitan dengan kasus. Tidak pernah sebelumnya mereka
memiliki waktu seluang ini sebelumnya. Agil tidak ingin membahas hal itu
sehingga Reno yang mulai bercerita.
Mey baru saja
mengingat dengan jelas kejadian terakhir yang ia alami ketika Sania diculik.
Mereka segera menuju ke rumah sakit tempat Sania dirawat. Sayangnya ketika di
rumah sakit, Sania sudah tidah ada di ruangannya. Pihak rumah sakit berkata
kalau keluarganya ingin agar Sania di rawat di rumah saja. Keluarganya
bersikeras karena menghawatirkan keselamatan Sania.
“Ini tidak
benar,” Mey membatin. “Reno, hubungi komandan Roy, sampaikan bahwa hal gawat
tengah terjadi. Kakak, antar aku ke ruangan Adam.” Mey memberi komando layak
seorang pemimpin.
Sebenarnya
siapapun tidak diizinkan masuk menemui Adam, namun Agil membawa paksa adiknya
yang duduk di kursi roda agar berhasil masuk. Sampai di ruangan Adam pun Mey
hanya melihat luka sayatan di lengan Adam dan disamakan dengan luka sayatan
miliknya. Setelah mendapatkan apa yang ingin ia ketahui, Mey dan Agil pergi.
Selesai membuat
keributan di rumah sakit tempat Adam di rawat, Agil dan Mey kembali membuat
keributan lain. Kali ini di kediaman Paman Sania. Petugas yang tengah berjaga
di sekitar rumah Paman Sania tidak mengizinkan mereka masuk meski telah
mengatakan apa tujuannya. Untungnya Reno dan Komandan Roy datang. Dengan
membawa perintah langsung dari atasan, para petugas membiarkan Agil dan Mey
masuk diikuti beberapa petugas lain yang juga mengawal.
“Pria ini,”
Sania menunjuk kearah Paman Sania. “Dia adalah pria berjubah yang terlibat
dalam penculikan Sania dan orang yang juga melukaiku,” tambahnya memberi
kesaksian.
“Apa kamu
memiliki bukti ?” Paman Sania mengelak.
Mey berpikir
sesaat. Ia ingat sekali sebelum ia pingsan samar-samar melihat wajah itu, wajah
yang ia tahu adalah Paman Sania karena pernah bertemu sebelumnya.
“Benar, bisa saja saat itu kau salah mengenali orang.” Pemimpin dari tim khusus
angkat bicara. Ia sangat tidak suka kasus yang menjadi miliknya harus diusik
orang luar.
“Tentu saja. Aku
mengigit kakimu saat kau akan pergi membawa Sania,” kata Mey.
Berdasarkan
kesaksian Mey, seketika itu juga kaki kiri Paman Sania di periksa. Semuanya
terkejut melihat kaki Paman Sania dililit perban. Mey tersenyum senang merasa
dirinya telah menang. Sayangnya ketika perban dibuka yang ada bukannya luka
gigitan melainkan bekas luka bakar. Paman Sania berkata bahwa luka ini
didapatnya kemarin saat membakar sampah di belakang rumah.
“Sekarang sudah
jelas bukan ? silahkan kalian pergi,” kata pimpinan tim khusus memperlihatkan
dengan jelas ketidak sukaanya atas kehadiran Agil, Mey, dan Reno.
“Apa sudah tidak
ada bukti lain ?” Komandan Roy bertanya memberi kesempatan terakhir. Setelah
ini ia ingin agar baik Agil ataupun Mey dan Reno tidak lagi ikut campur
mengenai kasus ini dan benar-benar melepaskannya.
“Ada,” jawab Mey
ragu-ragu. “Jika kita beruntung, belati yang melukaiku ataupun Adam seharusnya
bisa kita temukan di rumah ini.”
Itu artinya
rumah harus digeledah terlebih dulu, sementara tidak ada surat perintah
pengeledahan. Semua terdiam menunggu keputusan dari komandan Roy. Meski tidak
yakin apakah yang dilakukannya benar, Komandan Roy memberi izin pengeledahan
rumah dengan mengatakan ia yang akan bertanggung jawab pada Pimpinan nantinya.
Seluruh rumah
mulai di geledah. Bibi Sania yang baru datang dari pasar nampak begitu terkejut
melihat ada banyak orang mengacak-acak rumahnya. Ia ingin sekali marah, namun
tidak memiliki daya. Beberpa menit mengeledah, belati ditemukan. Memang tidak
ditemukan bercak darah pada belati ataupun sarungnya. Namun ketika disemprotkan
reaksi luminol, barulah terbukti. Darah Adam tentu saja masih bisa muncul meski
telah dilap berulangkali.
Bukti telah
didepan mata. Paman Sania pun ditangkap. Yang berarti Adam yang juga kaki
tangannya segera menyusul. Keduanya akan berdiam dalam buih dalam waktu lama.
Mereka bersekongkol agar bisa dengan cepat menemukan serum virus untuk kemudian
digunakan demi kepentingan jahat mereka. Bagi Paman Sania tidak ada istilah
keluarga untuk kehidupan dunia yang lebih baik. Serum virus itulah satu-satunya
yang bisa menyelamatkan bumi yang sudah semakin menderita oleh banyak manusia
tidak bertanggung jawab. Manusia-manusia tidak mungkin bisa disadarkan satu
persatu. Jalan terakhir hanya dengan menciptakan tatanan makhluk hidup baru.
Semua akhirnya bisa selesai dengan baik.
Dihari lain
setelah Sania sadar dan kondisinya membaik serum virus pun
berhasil ditemukan. Serum virus terkubur ditempat jasad Ayah
Sania dikubur. Setelah serum Virus dihancurkan, barulah kasus resmi ditutup. Mey dan Reno akan segera pindah tugas
keluar kota, otomatis Agil
yang telah bertekad melindungi adiknya ikut pindah juga. Ia akan memulai lagi
debut barunya sebagai detektif, ditempat yang baru. Tapi sebelum pergi, ketiganya sepakat menjenguk Sania
sekaligus berpamitan. Khawatir Sania akan kesepian, Agil menawarkan nomor ponselnya untuk dicatat. Meski tidak bisa dijadikan sahabat yang baik, ia cukup baik untuk
dijadikan musuh. Dengan begitu Sania akan merasa selalu ramai jika bertengkar
dengannya. Agil yang tidak mau kalah juga menawarkan nomor ponselnya. Tapi Sania menolak.
“Kalau begitu
berikan nomormu,” kata Agil cepat.
“Jangan khawatir, aku punya teman-teman sekolah yang bisa kuandalkan.”
“Tapikan mereka belum tentu mau menerimamu,” kata Reno
keceplosan.
Mereka
mendelik tajam kearah Reno. Reno memasang wajah terkejut polos. Sania
hanya tersenyum. Ia memberikan kenang-kenangan pada ketiganya, sebuah sweater.
Sania memperlihat dirinya bahwa ia benar-benar baik-baik saja dan akan tetap
baik-baik saja.
Dalam pesawat sebelum lepas landas, Agil sangat antusias mencoba sweater
barunya. Ketika ia meraba saku, ada sesuatu yang ia temukan. Mey dan Reno yang
penasaran dengan apa yang Agil temukan ikut membaca.
|
Untuk kalian,
|
|
Aku mulai belajar menerima masalalu. Yang meski itu menyakitkan namun
berharga, yang meski itu menyakitkan namun memberiku kekuatan, yang meski itu
menyakitkan namun disitulah kenangan orangtuaku hidup.
|
|
Terimakasih…
|
|
Karena telah mengajariku menerima masalalu.
|
The end

Tidak ada komentar:
Posting Komentar