Rabu, 30 November 2016

Menerima Masalalu

Sebuah gambaran samar-samar mulai  terlihat. Semakin lama semakin jelas. Gambaran mengenai seorang gadis remaja yang masih duduk di bangku kelas XII SMA. Ia berjalan sangat terburu-buru. Langkahnya semakin lama semakin cepat. Sesekali kepalanya menengok kebelakang. Ia nampak sangat panik, khawatir. Pikirannya sedang tidak tenang. Saat ia menyebrang jalan dan tiba-tiba sebuah motor yang melesat dengan kecepatan tinggi lewat
–Brak... darah mulai mengalir. Semakin banyak. Darah segar yang berwarna merah kental.
“Akhh !!” seru Sania. Ia terbangun karena mimpi buruk yang selalu saja datang dan begitu sering mengganggu tidurnya tiap malam. Keringat dingin mulai mengucur dari keningnya, nafasnya yang berat berusaha keras diaturnya agar kembali normal.

“Sial! Gara-gara mimpi buruk semalam lagi-lagi aku kesiangan,” gerutu Sania sambil menarik ranselnya. Ia meminum teh hangat dengan sangat terburu-buru dan roti isi masih menggantung di mulutnya ketika ia meninggalkan rumah.
“Selamat pagi.” Seorang laki-laki dengan suara berat menyapa.
“Bagaimana, tidur nyenyak ?” Disusul sapaan seorang perempuan.
Mereka yang berjumlah 3 orang berada didepan pintu untuk beramai-ramai menyambut Sania. Sania yang moodnya telah buruk karena mimpi buruk dan berakhir dengan bangun kesiangan, semakin tidak tertolong lagi. Sania tidak menanggapi sapaan dari suara-suara yang sama sekali tidak dikehendakinya, bahkan menganggap mereka tidak terlihat. Pikirannya hanya terfokus tentang bagaimana cara agar ia bisa lebih cepat sampai di sekolah.
Semenjak keluar dari rumah sakit seminggu yang lalu, Sania terus saja diikuti oleh tiga orang yang ia anggap paling mengganggu hidupnya. Agil, Mey, dan Reno.
Agil adalah seorang detektif swasta, sementara Mey –adiknya dan Reno adalah rekan polisi. Agil, Mey, dan Reno sudah sangat sering menjadi patner dalam banyak kasus besar. Semenjak keluar dari rumah sakit, Sania belum menggingat apapun tentang sejengkal masalalunya. Sania tidak banyak bergaul, disekolah juga tidak banyak akrab dengan teman-teman sekelasnya. Entah karena sebelumnya ia memang tidak membuat kesan baik dengan semua orang atau karena semenjak mengalami amnesia kata-katanya berubah kasar sehingga teman-temannya lebih memilih menjaga jarak dengannya.
Emosi Sania memang sering tidak baik. Ketiga petugas itu juga tak jarang kena amuk. Mungkin hal itu dikarenakan ia melewati saat terberat dalam hidupnya seorang diri. Tanpa ingatan, tanpa orangtua –Ayah dan Ibunya telah meninggal, tanpa satupun keluarga disampingnya –Paman dan Bibinya hanya menemaninya 2 hari, setelah itu menghilang dan tak lagi pernah muncul. Tidak memiliki tempat berbagi ataupun bersandar saat telah lelah dengan banyak hal yang dilalui mungkin membuatnya ingin mengutuk semua orang yang dilihatnya.
“Kalian bisa tidak sih berhenti mengikutiku ?!” Sania memekik geram. Pulang sekolah ia tidak berencana langsung pulang. Ada hal yang harus dilakukannya di toko buku.
“Tidak,” jawab Mey cepat. "Maaf."
Mendengar jawaban itu, otak Sania yang telah mendidih semenjak pagi benar-benar telah berada di titik terendah dari kesabarannya. Siap meledak kapanpun, melemparkan kalimat kutukan dan sumpah serapah kemana-mana.
Sangat menganggu terus-menerus diikuti oleh orang-orang aneh seperti ketiganya. Bahkan untuk termenung sesaat dan menangis saja tidak bisa. Ia bukan penjahat yang harus diawasi, bukan juga anak Presiden atau Raja yang mesti dikawal setiap saat. Ia butuh ruang untuk sendiri.
“Sebenarnya kami juga ogah harus terus membuntutimu, tapi ini tugas,” Agil angkat suara.
“Kalian 'kan punya otak, kalian bisa akali ini tanpa harus terus patuh pada atasan kalian seperti kerbau dicucuk hidungnya!” sergah Sania kasar.
“Heh, jaga ucapanmu ya ! Kalau sampai sekarang kami tidak menjagamu, mungkin kau sudah mendekam dalam kubur,” sergah Reno tidak terima.
Reno sebenarnya tipe pendiam, namun lidahnya dapat berubah tajam ketika ia berbicara. Itu sebabnya ia lebih pendiam. Agar tidak menyakiti perasaan banyak orang yang akan mendengar kalimatnya. Tapi dibalik itu ia memiliki insting yang kuat sebagai seorang polis.
“Huh, melindungi apanya ? Aku tidak merasa dalam bahaya. Ini hanya alasan kalian 'kan untuk menghabiskan uang negara,” tepis Sania. Ia tersenyum sinis, menatap tajam kearah ketignya dengan gaya menantang.
Sebenarnya Agil hendak membalas kata-kata Sania, hanya saja Mey yang tidak tahan dengan keributan dan pembahasan yang sama setiap harinya menegahi. Mey bahkan mengajak keduanya meninggalkan Sania. Spontan saja keputusan Mey itu membuat kedua patnernya tersentak.
“Sudah, ayo pergi.” Mey meyakinkan dan menarik baju keduanya menjauh. 
Mey adalah adik perempuan Agil satu-satunya. Sebenarnya Agil juga pernah mengikuti tes agar dapat masuk akademi kepolisian, namun ada beberapa tes yang tidak dijalankannya dengan baik sampai akhirnya ia gagal. Mey yang lebih cerdas dan kritis dari kakaknya justru dapat dengan mudahnya melewati setiap tes sampai akhirnya menjadi perwira yang dapat diandalkan.
“Apa maksudnya ini ?” Agil bertanya masih tidak mengerti dengan keputusan adiknya. “Kaukan tahu bagaimana musuh yang kita hadapi. Mereka sangat cerdas, mereka juga sangat mengerikan. Mereka bisa ada dimanapun dan…”
“Iya, aku tahu. Aku tidak mungkin seceroboh kakak,” Mey memutus kalimat kakaknya. “Semuanya sudah kupikirkan.” Mey terdiam sesaat kemudian tersenyum jahil. Agil dan Reno saling pandang, berusaha mengartikan arti dari senyuman itu. “Tunggu disini dan tetap awasi toko buku yang dimasukinya,” Mey memberi komando kemudian pergi tanpa alasan.
“Mey!” Panggil Agil namun adiknya tetap saja pergi. Reno hanya mengangkat bahunya tanda ia juga tidak mengetahui apapun yang Mey pikirkan.
Mey kembali tidak lama sebelum Sania keluar dari toko dengan beberapa bawaan buku bacaan barunya. Dari kejauhan terlihat seseorang berbadan kekar mengikuti Sania. Diperlihatkan hal itu, Agil dan Reno langsung mengerti. Ketiganya tersenyum geli bersama.
Preman yang sudah Mey kompaki mulai mengganggu Sania. Sania berusaha tidak peduli, namun bukan berarti hal itu segera berakhir. Semua sesuai naskah dari menakut-nakuti sampai pada teks menolong Sania dan semua berjalan dengan lancar. Sania yang sudah terlalu sering berkata kasar dan sinis harus segera diberi pelajaran agar bisa lebih menghargai orang lain. Terlebih lagi ini untuk keselamatannya juga.
“Hei, dasar preman botak jelek ! Beraninya hanya mengganggu yang lemah,” cibir Mey yang muncul dari sebuah tempat. “Kalau berani coba lawan mereka,” tambahnya menunjuk kearah Agil dan Reno yang berdiri tidak jauh darinya.
“Aku !” seru Agil dan Reno bersamaan. Keduanya sama sekali tidak diberitahu tentang peran yang harus mereka lakoni. Tidak perlu menunggu kalimat persetujuan diucapkan, Mey mendorong keduanya agar bergerak cepat.
Meski tidak memiliki persiapan, keduanya tetap mengikuti naskah Mey dan melawan dengan brutal. (Dast –dist –dust) Kemenangan sudah dapat dipastikan. Pria bertubuh kekar itu pergi dengan tidak henti-hentinya mengumpat.
“Bagaimana, masih mau sombong tidak butuh perlindungan ?” sindir Mey menyembunyikan senyum puasnya.
“Masih merasa tidak dalam bahaya ?” Agil menambahi. Sania hanya mendesah sinis dan pergi begitu saja. “Hah.. perempuan memang makhluk paling merepotkan.” Keluhnya.
Sania menghilang di tikungan ketika ketiganya akan mengikuti.
“Heh kalian mau kemana ? Bayaranku ?” Lelaki bertubuh kekar itu kembali untuk menagih. Agil dan Reno yang tidak mengerti menatap Mey meminta penjelasan.
“Kakak,” Mey menanjakan suara layaknya adik manis yang penurut.
Agil menghela nafas kemudian menarik selembar uang 50.000 dari dompetnya. Bukannya menerima, lelaki kekar itu justru marah-marah. Uang 50.000 tidak akan cukup untuk mengobati wajahnya yang memar-memar dan hidungnya yang patah karena serangan mereka.
Suara lelaki kekar itu berubah kasar dan keras seperti hendak melahap ketiganya sekaligus. Dengan sangat terpaksa, Agil mengeluarkan dompetnya  lagi. Saat akan menarik beberapa lembar, lelaki berbadan kekar itu merampas dompetnya dan mengambil semua isinya tanpa menyisakan selembar pun. 6 lembar uang 50.000-an ludes seketika.
Hei, kamu…”
“Tolongggggg….. !!”
“Sania !” Mereka teringat klien yang seharusnya mereka jaga dengan ketat.
Ketiganya bergegas menuju arah suara teriakan Sania. Agil dengan sangat terpaksa kemudian mengikhlaskan lembar-lembar terakhirnya dirampas.
Terlihat dari kejauhan beberapa orang memaksa Sania masuk kedalam mobil. Sebelum berhasil mengagalkan penculikan Sania, mereka harus melawan beberapa orang yang menghadang lebih dulu.
“Ini bagianku, biar aku yang bereskan. Kalian bantu saja gadis menyebalkan itu,” kata Agil sok keren. “Sekarang dia pasti akan sadar jika hidupnya dalam bahaya.”
Belum sampai ditempat Sania, lagi-lagi Mey dan Reno dihadang. Kali ini dengan jumlah yang lebih banyak. Mau tidak mau mereka harus membereskan bagian ini lebih dulu. Gawatnya mobil yang membawa Sania dengan paksa telah menyalakan mesinnya dan dalam hitungan detik siap melesat kabur. Reno mengeluarkan pistolnya dan bersiap menembak. Saat pelatuk telah ia tarik, justru tidak ada peluru yang keluar
“Assh... gadis itu !” Reno memaki segera bisa mengerti bahwa ini pasti kerjaan Sania.
Tidak bisa menemanfaatkan senjata yang ada di tangan, dengan cepat Mey memutar otak. Sedan hitam mulai melaju ke arahnya. Mey berdiri di depan mobil. Dia tidak sedang nekat karena ada sesuatu yang dibawanya, selang. Mey mendapatkannya dari tempat pencucian mobil yang letaknya di pinggir jalan, tidak jauh dari tempatnya berpijak. Selang dinyalakan. Mey masih berdiri dengan gagahnya sambil memegangi selang yang airnya menyembur kearah sedan hitam yang membawa Sania. Semburan air itu tentu saja menghalangi pandangan si pengemudi. Di jarak yang mengancam keselamatannya, Mey segera menyinggir menyelamatkan diri. –chiiit, brak –
Suara decit rem mobil disusul teriakan orang-orang seisi mobil membahana membentuk suatu harmoni yang berantakan. Mobil menabrak trotoar jalan. Disaat mobil tidak lagi bisa dinyalakan itulah mereka beralih pada misi penyelamatan Sania yang sebenarna.

Orang-orang yang hendak menculik Sania telah diamankan oleh pihak yang berwajib. Sania sendiri telah berada di rumahnya. Ia menyiapkan air hangat dan kompres untuk meringankan memar-memar pada wajah Agil, Mey, juga Reno. Selagi mereka sibuk mengompreskan wajah yang memar, Sania tidak hentinya terus mengomel. Sania terus menyalahkan keteledoran ketiganya dalam menjaganya sehingga ia hampir saja diculik.
“Kalian memang lamban. Telat sedikit saja kalian tahukan apa yang terjadi padaku ? kalian benar-benar tidak bisa profesional dalam bekerja,” Sania masih saja terus berbicara. Agil yang hendak meledak ditahan oleh adiknya.
“Heh mba, kau membuat telingaku panas dengan terus menggoceh,” sergah Reno. “Sekarang aku tahu kenapa tidak seorangpun betah berada disekitarmu, kenapa mereka semua meninggalkanmu dikeadaan menyedihkan ini...”
“Kau…” Sania yang akan membantah seperti kehabisan kata-kata.
“Kenapa ? apa bicaraku salah ?” Reno masih berkata dengan nada menantang.
“Apa kau pikir dikelilingi banyak orang itu hebat, hah ? kau pikir dengan memiliki semua orang di dunia ini membuatmu terlihat keren ?” Tidak ingin merasa telah dikalahkan, Sania mendebat.
“Itu lebih baik dari tidak memiliki siapapun. Itu jauh lebih menyenagkan dibanding harus menangis diam-diam atau berbicara pada boneka saat tengah malam.”
Mata Sania mulai berkaca-kaca. Apa yang Reno katakan semuanya benar dan itu yang membuat perasaannya sangat tersakiti. Benar, sangat benar. Tidak memiliki siapa-siapa, bahkan ingatan sekalipun. Sepi. Kesepian yang panjang tanpa apapun menemani dikesendirian.
Menyadari reaksi Sania, Mey menyenggol lengan Reno agar ia berhenti dan tidak lagi melanjutkan kalimatnya. Apa yang Reno ucapkan sudah cukup untuk menyerang Sania. Membalas ucapan-ucapan kasarnya.
Hening. Sania benar-benar kehabisan kata-kata. Kalah dengan pukulan telak.
“Ao ! Mey pelan-pelan,” Agil mengaduh.
Mey sedang mengompreskan memar kakaknya. Dari mereka bertiga, Agil yang wajahnya paling banyak babak belur karena yang paling sok keren.
“Makanya jangan sok kuat. Melawan mereka sendiri, kakak pikir itu hebat,” gerutu Mey.
Sania masuk ke kamarnya dengan kesal. Ia juga membanting pintu. Mendengar suara pintu dibanting, ketiganya saling bertukar pandangan. Reno merasa telah berbicara terlalu banyak hanya menunduk.
“Kenapa aku harus berbicara panjang lebar dulu baru dia bisa diam.” Reno berkata dengan nada berbisik.
“Masih berani bicara seperti itu,” Agil mendelik kearah Reno. “Dasar.
Reno tidak bicara lagi.
Selesai mengompres memar, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Agil membuka-buka majalah, Reno membaca koran yang sudah ketiga kalinya ia baca, dan Mey hanya sibuk dengan mengutak-atik ponselnya. Suara tik-tik-tik jam terdengar lebih keras disaat keadaan sunyi, dan itu membuat suasana terkesan horor. Hanya sesekali terdengar uapan kantuk atau keluhan tidak jelas.
“Sania, Sania, dimana kamu ?” Seorang pria tiba-tiba masuk dan berteriak memanggil nama Sania. Pria muda itu mengenakan kaos coklat dengan dilapisi sweater biru tua. “Siapa kalian ?” tanyanya saat melihat Agil, Mey, dan Reno yang tidak ia kenal sebelumnya.
“Seharusnya kami yang bertanya siapa kau. Main asal masuk rumah orang sembarangan,” cemooh Agil.
Pria asing itu tidak menanggapi perkataan Agil. Ia melewati Agil dan yang lain menuju kamar Sania dan mengetuk-ngetuk pintu kamar Sania berulang kali. Sania yang penasaran dengan siapa orang yang terus memanggil-manggil namanya keluar.
Melihat Sania membukakan pintu dan dalam keadaan baik-baik saja, pria itu tersenyum senang. Ia hendak memeluk Sania, namun Sania mundur selangkah, memberi jarak.
“Heh, pria hidung belang. Jangan macam-macam ya,” sengit Reno.
“Kalian siapa ? Sania, mereka siapa ?”
Pria asing itu mengambil tempat disamping Sania. Tidak mendapat jawaban apapun dari pertanyaannya, ditambah Sania yang seperti orang linglung yang juga tidak menyambut kedatangannya sama sekali, membuat pria itu terdiam mencoba mengerti suasananya.
“Sania, aku Adam kekasihmu. Kamu tidak ingat ?”
Pria itu menyebutkan namanya berharap tatapan Sania berubah lembut setelah mendengar siapa dirinya. Sania tetap tidak menanggapi. Ia menyingkirkan tangan Adam yang melingkar di pinggangnya kemudian menjauh beberapa langkah. Wajah Adam terlihat kecewa.
“Pulanglah,” Mey menyarankan, disambut anggukan kompak Reno dan kakaknya sejutu. “Biarkan Sania memikirkan situasi ini dulu.”
“Tidak, ini tidak benar.” Adam tetap bersikeras. “Sania, benarkah kamu tidak mengingatku ? secuilpun ? Dulu kita sering menghabiskan waktu makan martabak bersama, kamu juga tidak ingat ?”
“Martabak ?” Sania mencoba mengingat-ingat. Namun sekuat apapun ia mencoba tidak ada gambaran apapun yang muncul di benaknya. “Aku… aku tidak suka martabak.” Adam terdiam terkejut. Nampak ia salah memilih kalimat.
Agil dan Reno mengusir paksa Adam yang tidak mau pergi juga. Adam terus berkata-kata yang membuat Sania ingin mengingat semuanya sekaligus. Sayangnya gambaran itu tidak muncul sekerjap matapun. Sania memegangi kepala yang serasa akan pecah. Ia memaksakan dirinya untuk mengingat semua kenangan yang hilang tak bersisa di kepalanya. Sania merintih kesakitan membuat Mey panik, kemudian tiba-tiba pingsan.
Agil mengangkat Sania ke kamar dan meminta adiknya untuk menemani Sania didalam. Ia dan Reno akan berjaga diluar. Mey patuh saja dan segera masuk ke kamar.
Malam semakin larut dan dunia-dunia mimpi semakin ramai dikunjungi. Mereka yang sedang terlelap sangat ingin tidurnya dihiasi dengan semua hal yang indah tentang mimpi. Namun banyak diantaranya yang tersesat sehingga hal buruk yang ditemui. Hal-hal yang justru sama sekali tidak ingin mereka lihat ataupun alami.
Kening Sania dipenuhi peluh. Tidurnya mulai tidak tenang semenjak lima menit yang lalu. Beberapa saat kemudia ia tersentak bangun dari tidurnya.
“Sania.” Mey juga ikut terbangun. Selum sempat menanyakan ada apa, tahu-tahu Sania memeluknya. Air matanya tumpah seketika itu.
“Aku tidak ingin mengingat semua itu. Terlalu menyakitkan, sangat menakutkan. Saat aku mulai mencoba mengingatnya, rasanya sungguh menyesakkan. Seperti semua rasa sakit itu berkumpul dan menumpuk menjadi satu. Aku ingin seperti ini saja, diriku yang baru,” kata Sania disela-sela isak tangisnya.
“Tenanglah. Kami disini dan kami akan menjagamu.” Mey berusaha membuat Sania tenang dan kembali melanjutkan tidurnya. Hari masih terlalu dini untuk terjaga.

Keesokan paginya Sania menghilang. Ia kabur dari rumah dengan meninggalkan selembar surat. Mey memerlihatkan surat yang ditinggalkan Sania di atas kasur.
Aku senang dengan diriku yang sekarang meski penuh
dengan rasa sepi. Tolong jangan paksa aku kembali kemasa-
lalu dengan mengingatnya. Rasanya sungguh menyakitkan.
“Bodoh siapa yang memaksanya,” gumam Agil selesai membaca isi surat Sania.
Ketiganya bergegas mencari Sania sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi. Mereka berpencar dan mulai mencari disekitar kompleks. Mendatangi hampir keseluruh tempat dalam kompleks, dan bertanya pada orang-orang yang mereka temui. Keringat mulai membanjiri pertanda lelah telah mengambil alih semangat mereka. Tidak mendapatkan jejak apapun tentang keberadaan Sania, mereka berkumpul di tempat yang sudah di janjikan.
“Sebelah sana tidak ada.” Reno memulai sambil menggeleng.
“Sebelah sana juga.” Agil menimpali dengan kalimat yang tidak jelas karena mulutnya ia penuhi dengan bakpao yang ia beli saat mencari Sania di taman.
“Kakak sempat-sempatnya makan di situasi seperti ini,” Mey berkomentar, tidak habis pikir.
“Aku benar-benar lapar. Sudah tidak tahan lagi,” Agil beralasan sambil terus mengunyah.
“Kamu ini. Pantas saja kemampuanmu selalu dibawah adikmu,” Reno menambahi. Agil hanya mendesis.

Ditempat lain, dimana Sania berada, ia berjalan seperti orang linglung. Ia hanya terus saja berjalan kemana kaki membawanya. Tanpa ada tempat tujuan jelas yang ingin ia datangi. Diperempatan jalan ketika akan menyebrang, samar-samar muncul sebuah bayangan dalam benaknya. Ingatan seperti apa yang sering ia mimpikan. Tentang seorang gadis yang wajahnya tidak terlihat jelas dan berjalan sangat terburu-buru. Gadis itu terlihat panik. Sesekali ia akan menengok ke belakang. Sepertinya ada beberapa orang yang sedang mengikutinya. Sania masih melakang perlahan. Langkahnya tanpa sadar telah membawanya menuju ketengah jalan dan –chiiiiiitttt –
“Hei kalau menyebrang jangan melamun dong!” teriak seorang pengemudi mobil.
Terlihat jelas olehnya gadis itu tertabrak motor. Jelas juga darah segar yang mengalir saat itu. Sania menutup dan membuka matanya kembali. Ia berusaha menyadarkan dirinya bahwa ia tengah berada di dunia nyata sekarang.
“Sania, kamu tidak apa-apa ?” Mey bertanya sambil menarik tangan Sania. Mengetahui orang-orang yang ingin dihindarinya justru tengah berada dihadapannya saat ini, Sania segera menepis tangannya.
“Sudah kubilang aku tidak ingin dipaksa!” bentak Sania. “Kalian melakukan semua ini demi pekerjaan kalian. Jika ingatanku pulih, apa yang kalian inginkan akan segera kalian dapatkan. Tapi bagaimana dengan perasaanku ?! Kalian tidak pernah peduli soal itukan ?!!” tambahnya meninggikan suara.
“Kamu tidak akan pernah bisa melupakannya. Kenapa ? karena bahkan saat ingatanmu hilangpun kamu bisa berada disini. Disini, ditempat saat kecelakan itu menimpamu,” tegas Reno. “Sadarlah, masalalu itu kehidupanmu. Bukan sesuatu yang bisa kau putuskan untuk mengingat atau menguburnya.”
Sania hanya terdiam tidak percaya. Jadi mimpi yang selama ini menghantuinya tiap malam, dan bayangan samar-samar yang sering muncul dalam benaknya itu adalah dirinya. Potongan-potongan tentang masalalunya yang menghilang.
“Reno sudah,” Agil memutus.
“Masalalu itu yang memanggilmu, yang selalu datang padamu,” seakan tidak mendengarkan perkataan Agil, Reno terus saja melanjutkan kalimatnya. “Kamu tahu siapa yang membunuh orangtuamu ? Merekalah yang ingin kamu lupakan. Yang membuatmu terlihat menyedihkan saat ini ? Merekalah yang sangat ingin kamu lupakan. Kamu begitu pengecut dengan memilih lari dan membiarkan saja orang-orang yang telah menghancurkan hidupmu. Pecundang !”
“Reno sudah !!” Kali ini Agil lebih membentak. Tapi tetap saja Reno masih terus bicara tanpa henti. Ia bahkan menyebut Sania pecundang berulang kali. Meski tatapan Sania memelas sedih, Reno tetap belum mau berhenti. “Reno !!!” Bentak Agil kasar. “Kau tidak lihat ekspresinya ? Berhenti memojokkan dia.”
“Cukup ! terserah bagaimana pandangan kalian terhadapku. Tapi aku ingin kalian pergi, pergi !!!” tukas Sania. Airmatanya mulai meleleh.
“Sania, ada apa ? kamu baik-baik saja ?” Adam tiba-tiba saja muncul. Melihat Sania menangis gemetar, membuat emosinya juga tersulut. “Kalian tidak dengar Sania menyuruh kalian pergi !”
Mey meminta kedua rekannya mengawasi Sania dari jauh saja. Sania perlu menenangkan diri. Mungkin Adam bisa membuatnya lebih tenang.
Di tempat mereka mengawasi Sania dari jauh, Agil dan Reno belum saling tegur. Agil masih merasa dongkol dengan perlakuan Reno yang menghakimi Sania tanpa memedulikan perasaannya. Ponsel Agil berdering. Panggilan itu bersal dari Komandan. Ia diminta ke kantor untuk mendiskusikan beberapa hal.
Sebenarnya Agil berat jika harus pergi, ada bagian dari dirinya yang memksa ingin tinggal. Karena bukan polisi ia bisa dengan mudah dikeluarkan dari penyelidikan jika bertingkah. Ia harus patuh.
Selain untuk mendiskusikan beberapa hal, Komandan juga ingin menunjukkan penemuan mayat seseorang kepadanya.
“Awalnya kami hanya menduga-duga saja korban memilik hubungan dengan Sania. Ketika coba kami usut ternyata benar. Menurut kesaksian tetangga Sania, korban pernah beberapa kali bertemu didekat rumah Sania samping penjual martabak,” Komandan Roy menjelaskan.
“Martabak ?” Agil membatin.
Menduga ada sesuatu yang tidak beres, Agil meminta izin pada komandan Roy untuk menyelidiki beberapa hal yang mencurigakan. Belum keluar dari parkiran, panggilan dari Reno masuk ke ponselnya.
“Agil gawat!” Reno memulai dengan kalimat yang terburu-buru. “Sania berhasil diculik, dan… dan… dan Mey tertembak.”
Mendengar bagaimana situasi adiknya membuat nafas Agil tiba-tiba terasa berat.

Operasi masih berlangsung didalam sana, sementara Agil mondar-mandir menunggu dengan gelisah. Reno sedang membuat laporan atas apa yang baru saja terjadi. Sebenarnya ia tidak ada di tempat ketika kejadian berlangsung. Reno ke toilet sebentar. Tapi nampaknya mereka terus diawasi sehingga cepat mendapat celah dan memanfaatkannya. Reno hanya melihat sekilas orang bertopeng yang memasuki mobil van hitam bersama Sania yang telah dibius dan Adam.

Sehari penuh telah berlalu semenjak adiknya tertembak dan masih belum sadarkan diri. Peluru yang bersarang memang berhasil dikeluarkan semua, namun peluru yang mengoyak tubuhnya cukup banyak sehingga memerlukan pemulihan lebih lama. Dalam hati Agil terus menyalahkan dirinya. Seandainya saja ia tidak meninggalkan Mey, seandainya tidak ia izinkan Mey terlibat dalam kasus berbahaya seperti ini, seandainya dari awal tidak memerbolehkan Mey mengambil pekerjaan penuh risiko seperti ini.
Seandainya ini, seandainya itu… pikiran Agil terlalu padat dengan kata seandainya.
Reno yang berada disampingnya menepuk bahu sahabatnya. Ia sangat mengerti betapa khawatirnya Agil terhadap Mey dan kasus ini. Dirinyapun sama. Namun ia harus bisa kuat dan tegar, sehingga ia bisa menguatkan sahabatnya juga. Jika ia terpuruk dan juga terus menerus menyesali keadaan, siapa yang akan menguatkan mereka.
Komandan Roy masuk ke ruangannya. Agil dan Reno telah menunggu. Tanpa banyak berkata, Komandan Roy menyodorkan selembar kertas untuk mereka tanda tangani.
“Apa ini ?” Agil bertanya seolah tidak mengerti, padahal ia sudah membaca isi dari kertas itu.
“Surat persetujuan pengalihan kasus,” kata Komandan singkat. Agil menggeleng tidak percaya. Ia tersenyum samar. Reno yang terkejut merampas kertas yang masih berada di tangan Agil untuk dibacanya. “Pimpinan menurunkan tim khusus untuk menyelesaikan kasus ini.”
“Kenapa sekarang Komandan, setelah apa yang menimpa Mey,” Agil masih tidak terima.
 “Agil, ini bukan menyangkut sekarang, dulu, atau kemarin, tapi ini menyangkut nyawa orang banyak. Jika sampai serum virus itu mereka temuka lebih dahulu, habislah kita,” Komandan menggingatkan.
Agil tetap tidak terima. Reno pun mengatakan penolakan yang sama. Ia ingin menyelesaikan tugasnya, ia ingin bertanggung jawab dan menebus kesalahannya. Biar bagaimanapun karena keteledorannyalah Sania bisa berada di tangan mereka, Mey terkena tembak.
“Mau kemana ?” Reno bertanya ketika meraka di perkiran. Agil menggeleng lemas. Reno berkata ia tidak akan melepas kasus ini begitu saja. Ia akan segera menghubungi Agil jika mendapat sesuatu.
Dengan sangat tulus Reno mengatakan agar Agil bisa menguatkan dirinya. Hari yang buruk ini pasti akan segera berakhir. Mey akan segera sadar dan orang-orang itu akan segera menerima hukuman atas apa yang telah mereka lakukan.

Sementara itu Sania dikurung dalam sebuah ruangan kosong dan lapang. Malam harinya ia akan dipindah dan ditempatkan disebuah ruangan yang dipenuhi foto-foto kenangan dirinya dan orangtuanya. Foto keluarga yang telihat begitu bahagia. Kenangan bahagia yang meski Sania ingin menghadirkannya saat kesepian menyergap, tidak pernah sekalipun gambarannya muncul. Ruangan kosong kali ini seperti begitu akrab dengannya. Ruangan yang sepertinya pernah menjadi tempatnya.
Sania berusaha keras mengingatnya, terus dan terus. Ia berdiri dan mulai berputar-putar mengelilingi ruangan itu. Berusaha mengakrabkan diri kembali. Sania mengamati setiap sudutnya, juga langit-langitnya. Dipejamkannya kedua matanya. Beberapa menit hanya terdiam, muncul gambaran-gambaran samar yang coba Sania bangun hingga nampak jelas.
“Ini, disini seharusnya ada meja panjang,” Sania berdiri di tembok sebelah kanan pintu. “… dan etalase kaca.” Muncul gambaran lain ketika kakinya melangkah ketempat yang berbeda. Sania berusaha sangat keras. Ketika gambaran itu semakin kabur dan hendak menghilang, dengan susah payah Sania berusaha terus memertahankannya. “Diatas sini ada kotak obat.” Sania mencoba mengartikan seluruh bagian dari tempat yang ia lihat dalam benaknya. “Tempat ini… seperti sebuah laboratorium.”
“Tebakanmu benar nona.” Orang yang mengaku Adam menghampiri Sania. “Kau pintar sekali mengingat tempat ini.”
“Adam. Siapa kau sebenarnya ?” Sania bertanya waspada.
“Orang yang paling mengaharapkan pulihnya ingatanmu dibanding siapapun.” Adam tersenyum licik. “Percepatlah mengingat semuanya. Aku akan memerlakukanmu dengan baik.”

Bagaimana bisa peruntungannya sangat buruk dibulan ini. Kehilangan kasus bukanlah hal buruk, hanya saja tidak bisa menyelasaikannya yang paling Agil sesalkan. Ia merasa ini pertama kalinya kegagalan begitu menumuk di pundaknya. Bukan hanya gagal menyelesaikan kasus, tapi juga gagal melindungi adik satu-satunya. Agil menghela nafas panjang. Biasanya saat terpuruk seperti ini, Mey akan ada bersamanya yang mengatainya tentang banyak hal. Membuatnya harus berusaha lebih keras lagi dan bangkit lebih sering lagi ketika terjatuh. Baru tiga hari adiknya mendekam di rumah sakit, membuatnya begitu merindukan tawa riang Mey.
“Halo Reno, ada apa ?” Panggilan dari Reno membuyarkan bayangannya tentang adik kesayangannya. Agil hanya diam saja mendengarkan apa yang Reno jelaskan. Reno juga memintanya segera datang jika tidak ingin ketinggalan bagian terbaiknya.
Reno memberikan kabar bahwa tempat persembunyian Adam telah ditemukan. Tim khusus sedang bergerak untuk meringkus Adam dan semua komplotannya. Reno tidak pernah ketinggalan sedikitpun atas informasi perkembangan kasus. Ia memiliki seorang teman yang bergabung dengan tim khusus, dari situlah semua informasi didapatnya.

Tim khusus yang diturunkan telah bergerak. Tempat persembunyian orang yang menculik Sania berada di balik hutan. Tempat yang disembunyikan dengan cukup rapi. Sempat terjadi adu tembak selama lebih dari satu jam, namun tim khusus segera bisa mengatasi semuanya.
“Sania, Sania sadarlah !” Adam memekik sambil menepuk-nepuk pipi Sania, berharap gadis itu dapat segera membuka matanya.
Ambulans yang didatangkan segera membawa Sania utuk mendapat pertolongan. Sania mendapat satu luka tembak didadanya, sementara Adam tangannya juga terluka.
Saksi mata yang selamat dan bisa dimintai keterangan hanya Adam. Sania menderita luka serius karena peluru yang ditembakan kearahnya hampir menembus dan mengenai jantugnya. Beberapa orang meninggal ditempat saat perang peluru terjadi, sementara sisanya melarikan diri. Adam sama sekali tidak bisa memberi gambaran tentang pelaku yang melarikan diri selain, pria itu mengenakan topeng yang menutupi wajahnya.
“Topeng ?” Reno menyahut. “Aku juga melihatnya saat penculikan terhadap Sania terjadi.”
“Mustahil,” tukas Agil. “Kakimu hanya tertembak dan tanganmu tersayat pisau sementara Sania hampir terbunuh ?”
“Hei, apa yang kalian lakukan disini ? kalian sudah tidak ada hubungannya lagi dengan kasus inikan.” Seorang petugas yang sedang mengintrogasi Adam di rumah sakit merasa terganggu dengan kehadiran Agil dan Reno. Keduanya selalu saja menyela padahal keterangan yang diucapkan saksi belum selesai diucapkan.
“Beri aku waktu, akan kubuktikan kalau pria ini bukan kekasih Sania. Orang ini bahkan salah mengenali apa yang Sania sukai. Orang yang sebenarnya telah meninggal,” ucap Agil yakin.
Agil yakin kalau Adam salah mengenali apa yang Sania sukai karena sebelumnya ia selalu mengamati Sania dari jauh. Termasuk saat Sania begitu sering bertemu dengan seorang pria disekitar rumahnya, dekat penjual martabak. Agil yakin Adam salah berpresepsi karena Sania selalu bertemu temannya ditempat yang sama.
Meski kecurigaan Agil sangat kuat, namun ia tidak memiliki bukti sehingga hal itu percuma saja. Agil sangat menyesalkan hal ini. Hanya karena ia terlalu larut dengan kesedihannya ia jadi benar-benar mengabaikan kasusnya. Padahal ada yang bisa ia lakukan. Keduanya diusir dari ruangan tempat Adam dirawat. Agil merasa sangat kesal. Disaat ia hampir tidak mampu menahan kekesalannya, panggilan dari rumah sakit masuk. Panggilan itu mengabarkan tentang bagaimana keadaan Mey saat ini. Agil bergegas, diekori oleh Reno. Disaat yang sama, Sania juga sadar setelah berhasil selamat dari peluru yang hampir membunuhnya.
Betapa bersyukurnya Agil mengetahui adiknya telah sadar dari komanya. Ia merasakan lega yang luar biasa. Dokter baru saja selesai memeriksa keadaan Mey dan berpesan agar jangan terlalu membuat Mey banyak berpikir dan kelelahan. Melihat Mey yang tersenyum ketika ia masuk ke ruangan adiknya dirawat, Agil semakin yakin adik kesayangannya itu telah kembali.
Agil dan Reno menemani Mey berjam-jam sampai akhirnya Mey sadar ada hal yang aneh dengan kakaknya dan Reno. Tentu saja ini berkaitan dengan kasus. Tidak pernah sebelumnya mereka memiliki waktu seluang ini sebelumnya. Agil tidak ingin membahas hal itu sehingga Reno yang mulai bercerita.

Mey baru saja mengingat dengan jelas kejadian terakhir yang ia alami ketika Sania diculik. Mereka segera menuju ke rumah sakit tempat Sania dirawat. Sayangnya ketika di rumah sakit, Sania sudah tidah ada di ruangannya. Pihak rumah sakit berkata kalau keluarganya ingin agar Sania di rawat di rumah saja. Keluarganya bersikeras karena menghawatirkan keselamatan Sania.
“Ini tidak benar,” Mey membatin. “Reno, hubungi komandan Roy, sampaikan bahwa hal gawat tengah terjadi. Kakak, antar aku ke ruangan Adam.” Mey memberi komando layak seorang pemimpin.
Sebenarnya siapapun tidak diizinkan masuk menemui Adam, namun Agil membawa paksa adiknya yang duduk di kursi roda agar berhasil masuk. Sampai di ruangan Adam pun Mey hanya melihat luka sayatan di lengan Adam dan disamakan dengan luka sayatan miliknya. Setelah mendapatkan apa yang ingin ia ketahui, Mey dan Agil pergi.
Selesai membuat keributan di rumah sakit tempat Adam di rawat, Agil dan Mey kembali membuat keributan lain. Kali ini di kediaman Paman Sania. Petugas yang tengah berjaga di sekitar rumah Paman Sania tidak mengizinkan mereka masuk meski telah mengatakan apa tujuannya. Untungnya Reno dan Komandan Roy datang. Dengan membawa perintah langsung dari atasan, para petugas membiarkan Agil dan Mey masuk diikuti beberapa petugas lain yang juga mengawal.
“Pria ini,” Sania menunjuk kearah Paman Sania. “Dia adalah pria berjubah yang terlibat dalam penculikan Sania dan orang yang juga melukaiku,” tambahnya memberi kesaksian.
“Apa kamu memiliki bukti ?” Paman Sania mengelak.
Mey berpikir sesaat. Ia ingat sekali sebelum ia pingsan samar-samar melihat wajah itu, wajah yang ia tahu adalah Paman Sania karena pernah bertemu sebelumnya.
            “Benar, bisa saja saat itu kau salah mengenali orang.” Pemimpin dari tim khusus angkat bicara. Ia sangat tidak suka kasus yang menjadi miliknya harus diusik orang luar.
“Tentu saja. Aku mengigit kakimu saat kau akan pergi membawa Sania,” kata Mey.
Berdasarkan kesaksian Mey, seketika itu juga kaki kiri Paman Sania di periksa. Semuanya terkejut melihat kaki Paman Sania dililit perban. Mey tersenyum senang merasa dirinya telah menang. Sayangnya ketika perban dibuka yang ada bukannya luka gigitan melainkan bekas luka bakar. Paman Sania berkata bahwa luka ini didapatnya kemarin saat membakar sampah di belakang rumah.
“Sekarang sudah jelas bukan ? silahkan kalian pergi,” kata pimpinan tim khusus memperlihatkan dengan jelas ketidak sukaanya atas kehadiran Agil, Mey, dan Reno.
“Apa sudah tidak ada bukti lain ?” Komandan Roy bertanya memberi kesempatan terakhir. Setelah ini ia ingin agar baik Agil ataupun Mey dan Reno tidak lagi ikut campur mengenai kasus ini dan benar-benar melepaskannya.
“Ada,” jawab Mey ragu-ragu. “Jika kita beruntung, belati yang melukaiku ataupun Adam seharusnya bisa kita temukan di rumah ini.”
Itu artinya rumah harus digeledah terlebih dulu, sementara tidak ada surat perintah pengeledahan. Semua terdiam menunggu keputusan dari komandan Roy. Meski tidak yakin apakah yang dilakukannya benar, Komandan Roy memberi izin pengeledahan rumah dengan mengatakan ia yang akan bertanggung jawab pada Pimpinan nantinya.
Seluruh rumah mulai di geledah. Bibi Sania yang baru datang dari pasar nampak begitu terkejut melihat ada banyak orang mengacak-acak rumahnya. Ia ingin sekali marah, namun tidak memiliki daya. Beberpa menit mengeledah, belati ditemukan. Memang tidak ditemukan bercak darah pada belati ataupun sarungnya. Namun ketika disemprotkan reaksi luminol, barulah terbukti. Darah Adam tentu saja masih bisa muncul meski telah dilap berulangkali.
Bukti telah didepan mata. Paman Sania pun ditangkap. Yang berarti Adam yang juga kaki tangannya segera menyusul. Keduanya akan berdiam dalam buih dalam waktu lama. Mereka bersekongkol agar bisa dengan cepat menemukan serum virus untuk kemudian digunakan demi kepentingan jahat mereka. Bagi Paman Sania tidak ada istilah keluarga untuk kehidupan dunia yang lebih baik. Serum virus itulah satu-satunya yang bisa menyelamatkan bumi yang sudah semakin menderita oleh banyak manusia tidak bertanggung jawab. Manusia-manusia tidak mungkin bisa disadarkan satu persatu. Jalan terakhir hanya dengan menciptakan tatanan makhluk hidup baru.
Semua akhirnya bisa selesai dengan baik.
Dihari lain setelah Sania sadar dan kondisinya membaik serum virus pun berhasil ditemukan. Serum virus terkubur ditempat jasad Ayah Sania dikubur. Setelah serum Virus dihancurkan, barulah kasus resmi ditutup. Mey dan Reno akan segera pindah tugas keluar kota, otomatis Agil yang telah bertekad melindungi adiknya ikut pindah juga. Ia akan memulai lagi debut barunya sebagai detektif, ditempat yang baru. Tapi sebelum pergi, ketiganya sepakat menjenguk Sania sekaligus berpamitan. Khawatir Sania akan kesepian, Agil menawarkan nomor ponselnya untuk dicatat. Meski tidak bisa dijadikan sahabat yang baik, ia cukup baik untuk dijadikan musuh. Dengan begitu Sania akan merasa selalu ramai jika bertengkar dengannya. Agil yang tidak mau kalah juga menawarkan nomor ponselnya. Tapi Sania menolak.
“Kalau begitu berikan nomormu,” kata Agil cepat.
            “Jangan khawatir, aku punya teman-teman sekolah yang bisa kuandalkan.”
            “Tapikan mereka belum tentu mau menerimamu,” kata Reno keceplosan.
           Mereka mendelik tajam kearah Reno. Reno memasang wajah terkejut polos. Sania hanya tersenyum. Ia memberikan kenang-kenangan pada ketiganya, sebuah sweater. Sania memperlihat dirinya bahwa ia benar-benar baik-baik saja dan akan tetap baik-baik saja.

            Dalam pesawat sebelum lepas landas, Agil sangat antusias mencoba sweater barunya. Ketika ia meraba saku, ada sesuatu yang ia temukan. Mey dan Reno yang penasaran dengan apa yang Agil temukan ikut membaca.
                                                Untuk kalian,
                Aku mulai belajar menerima masalalu. Yang meski itu menyakitkan namun berharga, yang meski itu menyakitkan namun memberiku kekuatan, yang meski itu menyakitkan namun disitulah kenangan orangtuaku hidup.
Terimakasih…
Karena telah mengajariku menerima masalalu.

 The end


Tidak ada komentar: