Rabu, 27 September 2017

Serial Killer : A - Accident (Bagian 01)


Cerita ini hanya fiksi belaka, jika banyak kekurangan dan khilaf mohon dimaafkan karena saya masih dalam tahap belajar.
###


Prolog

Krisis yang terjadi pada tahun 1997-1998 adalah krisis terparah yang pernah terjadi sepanjang sejarah. Krisis yang terjadi pada masa Orde Baru itu disebabkan oleh melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Krisis ekonomi diperparah dengan adanya kekacauan politik yang terjadi untuk menumbangkan rezim yang berkuasa pada masa itu. Tragedi penembakan Trisakti, aksi penjarahan 14 Mei 1998, juga kerusuhan yang terjadi disana-sini. Hal itu membuat banyak pemilik modal dan para investor melarikan diri. Negara semakin terpuruk.

Dampaknya, banyak perusahaan dan pabrik-pabrik yang melakukan pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran. Jumlah pengangguran meningkat, sembangko semakin langka, dan harga-harga melambung tinggi.

Disaat semua orang berjuang untuk hidup dan bertahan, tiba-tiba tindak kejahatan meningkat pesat. Mereka sedang depresi oleh himpitan ekonomi dan kesenjangan sosial yang tidak kunjung mereda.

“Bapak, lapar, pak.” Seorang anak laki-laki berusia 2 tahun meringkuk dipelukan bapaknya dengan tubuh menggigil. Demam yang sudah menyerang selama dua hari semakin tinggi.

Mendengar tangis kelaparan dari anak satu-satunya yang sedang sakit, betapa miris perasaan si Bapak. Tidak ada apa-apa lagi yang tersimpan di rumah. Satu-satunya benda berharga, televisi hitam-putihnya sudah ia jual seharga Rp20.000. Nasi terakhir sudah mereka kunyah untuk makan semalam. Dompet kosong, pengangguran, dapur tanpa apapun yang bisa dimasak.

Mencoba mencari pinjaman kesana-kemari sudah dilakukannya sejak seminggu yang lalu. Nihil. Hal terakhir yang bisa dilakukannya kini hanya mempertaruhkan peruntungan terakhirnya. Barangkali saja ia bertemu orang baik, barangkali saja ada sedikit kesempatan yang bisa diperolehnya.

“Jo, titip anakku. Aku tak keluar sebentar cari makan sama beli obatnya.”

“Jangan lama-lama yo, kang. Aku juga musti pulang ke rumah ini.”

Perbincangan singkat itu menjadi yang terakhir kalinya didengar si anak dalan isak laparnya. Wajah si Bapak yang terlihat kebingungan dan panik menjadi guratan terakhir yang memenuhi penglihatannya. Sampai senja terakhir di musim penghujan hari itu, si Bapak tak kunjung kembali. Tidak untuk mengantarkan obat ataupun membawa makanan yang dijanjikannya.

Dinas sosial kemudian mengambil si anak yang tidak lagi memiliki wali. Setelah kesehatannya membaik perawatannya kemudian dilimpahkan  ke sebuah panti yang menjadi tempat satu-satunya untuk pulang.

Diusianya yang beranjak remaja baru kemudian diketahui kemana si Bapak yang tidak lagi kembali. Yang tidak akan pernah.

Sore itu seperti janjinya, si Bapak sudah berusaha mencari peruntungannya kesana-kemari. Bahkan sampai mengemis belaskasih orang. Tapi masih tetap tanpa hasil. Tidak mungkin pulang dengan tangan kosong membuatnya bertindak di luar rencana.

Ia terpaksa. Keadaan menyudutkannya. Begitu pikirnya.

Dengan bermodal nekat, ia masuk ke daerah dengan potensi kekacauan tertinggi. Pertokoan di daerah itu sudah pasti ditinggal pemiliknya untuk mengamankan diri sementara waktu. Hanya itu satu-satunya peluang dan kesempatan yang terlihat olehnya.

Berhasil menyusup masuk dengan cara memecahkan kaca jendela, ia mengambil obat penurun demam, beberapa roti, dan mie instan untuk mengisi perut.

Begitu selesai ia berhasil keluar, tapi langkah kaki tidak mengizinkannya beranjak lebih jauh lagi. Ia terjebak dalam bentrok yang terjadi antar mahasiswa dan pihak keamanan. Tidak lama kemudian tiba-tiba sebuah peluru menyasar menembus kepalanya. Nafasnya diputus seketika itu. Darah mengalir diantara suara teriakan dan keadaan yang menjadi semakin kacau tak terkendali.
***

I

Dua orang anak laki-laki hendak meninggalkan asrama. Hari libur akhirnya datang juga. Ini adalah jatah libur terlama dan terpanjang yang pernah mereka dapatkan. Dan tentu yang telah ditunggu-tunggu sejak lama. Mereka mengambil sepeda yang berbaris rapi di lapangan parkir bersama dengan motor dan mobil.

Salah seorang diantaranya terkenal dengan ciri khas rambutnya yang berantakan. Gaya rambutnya dipotong shaggy meski tidak panjang tapi juga tidak pendek.

Untuk ukuran pelajar yang masih dalam tahap mengumpulkan ilmu apalagi di sekolah yang terkenal dengan kedisiplinannya yang ketat, penampilannya bukanlah contoh yang baik. Untung yang ditempatinya menuntut ilmu tidak seperti akademi-akademi kepolisian lainnya. Selain disiplin waktu, penguasaan kompetensi, peraturan mengenai penampilan tidak terlalu ketat. Jika tidak, ia pasti sudah lama ditendang keluar dari sekolah.

Untuk perawatan rambut sendiri, sebenarnya ia adalah orang yang cuek. Teman-teman satu kamarnya sangat menghapal kebiasaannya yang jarang menggunakan sampo untuk membersihkan rambutnya. Ia bilang sengaja, karena dengan begitu rambutnya bisa kaku dengan sendirinya tanpa harus menggunakan gel atau minyak rambut.

“Ken, selesai dari toko buku jadi ke rumahku, ‘kan ?”

Anak laki-laki yang baru bertanya adalah teman sekaligus musuh berkompetisi Ken sepanjang jaman. Dani. Dibanding Ken, penampilannya lebih mirip polisi masa depan. Potongan rambut ABRI yang super pendek, rapi. Tingginya 175 cm, 3 cm lebih pendek dari Ken. Proses pembentukan ototnya yang lebih cepat membuat badannya lebih padat berisi dibanding Ken.

Dani memiliki gigi taring yang panjang, kecil, dan runcing. Gigi yang memudahkannya mengunyah makanan jenis apapun. Juga, gigi yang suka ia pamerkan saat geram dan merasa ingin mengoyak seseorang dengan gigitannya. Yang jika tertawa membuatnya mirip Vampir namun bisa menampakkan kesan manis disisi lain.

Selain karena rambut berantakannya yang mudah dikenali, Ken adalah pelajar yang juga terkenal dengan kemampuan menonjolnya diantara teman-teman seangkatan. Adu analisa yang sekolahnya adakan setiap 6 bulan sekali selalu bisa diselesaikannya dengan baik, paling awal, paling tepat. Untuk dua tahun terakhir ialah jawara tak tergoyahkan.

Pertunjukan adu analisa yang terakhir kali sekolah adakan dihadiri oleh Wakil Kepala Badan mReserse Kriminal Pusat dan Brigadir Jendral dari Pusat Indonesia Automatic Finger Print Identification System (Pusinafis). Kasus yang harus dipecahkan juga memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Pertunjukan analisa yang ditunjukkan Ken sangat membanggakan sehingga secara khusus ia direkomendasikan untuk menjadi penyelidik pembantu.

Sebuah pencapaian yang menggembirakan untuk usianya yang baru di tahun kedua masuk akademi.
Kedua petinggi dari Badan Reserse Kriminal Pusat itu ingin kemampuan Ken dapat dipoles dengan baik sehingga akan sangat berguna untuk proses penyelidikan kedepannya. Karena kemampuannya menganalisa, Ken kemudian ditempatkan sebagai penyidik pembantu di unit Inafis.

Selama turun langsung ke lapangan, ada banyak hal baru yang dipelajarinya. Memperaktikkan secara langsung bagaimana membaca TKP, mempelajari karakter pelaku, menyelidiki sebuah kasus secara tidak langsung, dan memecahkan banyak persoalan. Hal-hal yang hanya bisa ia temukan sejak bergabung di unit Inafis.

“Jadilah! Mumpung libur kita bisa main sampai puas,” seru Ken bersemangat.

Rencana main sampai puas saat libur sudah direncanakan lebih dari sepekan yang lalu. Maklum, sekolah mereka sangat ketat. Selain keluar untuk hal yang sangat mendesak, mereka dilarang meninggalkan asrama.

Rencananya, Ken akan menginap di rumah Dani. Mereka akan begadang semalaman suntuk dan bermain PS sampai pagi. Dan bangun siang keesokan harinya. Orangtua Dani sedang dinas keluar kota semalam tiga hari. Ken sendiri tidak memberi kabar ke rumah kalau sekolah mereka libur  seminggu. Jadi ia tidak akan dicari.

Setelah dari rumah Dani Ken akan pulang sebentar untuk meng-absen wajahnya di rumah, sekedar menampakkan dirinya pada Ibu sebelum kembali ke asrama.

Anak laki-laki memang akan lebih merindukan saat bermain bersama teman-temannya dibanding pulang ke rumah.

Baru memilih-milih buku, sebuah panggilan masuk ke ponsel Ken. Panggilan pekerjaan.

“Ada kasus,” kata Ken setelah panggilan terputus.

“Bukannya jadwalmu libur ?”

“Memang libur, tapi ini panggilan darurat.”
Ada dua kasus yang datang bersamaan, sementara tim dari unit Inafis sedang kekurangan anggota. Beberapa petugas senior ditugaskan untuk membantu melakukan identifikasi kecelakaan sebuah pesawat terbang sejak tiga hari yang lalu.

Sebuah pesawat sempat menghilang dari radar dan putus kontak selama 15 menit sebelum dinyatakan hilang. Seorang saksi mengatakan melihat benda jatuh di sekitar perairan Kalimantan. Seketika itu juga tim SAR diturunkan untuk memulai pencarian.

Ken sampai di TKP bersama petugas Identifikasi lainnya.

Olah TKP sedang berlangsung. Beberapa petugas mulai berkeliaran di TKP dan sekitarnya. Ken mengambil kamera dalam tas peralatan dan memulai tugasnya. Ia yang bertugas sebagai juru foto mengambil beberapa gambar. Petugas lain meletakkan nomor-nomor untuk menandai keberadaan suatu barang, juga memberi batas, yang lainnya bertugas mengumpulkan sidik jari, dan seorang petugas lagi tengah memeriksa kondisi mayat korban.

Sembari menjalankan tugasnya sebagai juru foto, mata Ken tetap awas. Memperhatikan setiap detail yang ada di TKP. Tidak ada sudut-sudut yang terlepas dari penglihatannya yang siaga mencari-cari.

Kasus mengenai dugaan bunuh diri. Korban, Santoso 39 tahun. Dua hari yang lalu baru terkena PHK di tempatnya bekerja, sebuah perusahaan farmasi swasta. Bintik-bintik pendarahan pada mata dan wajah yang terlihat sembab dan lebih gelap jelas menyerupai tanda-tanda mati lemas. Berdasarkan kekakuan mayat, korban telah meninggal lebih dari sejam yang lalu.

Orang yang pertama kali menemukan korban adalah istrinya, Sulastri 35 tahun. Ia yang baru pulang dari pasar histeris sebab tiba-tiba melihat suaminya sudah tergantung. Para tetangga yang mendengar teriakan Sulastri, yang kemudian datang dan salah satunya memanggil ambulans dan menghubungi kantor polisi.
Menurut keterangan Sulastri, suaminya berubah pendiam dan menjadi lebih pemurung setelah tiba-tiba diberhentikan dari pekerjaannya. Depresi.

“Ini pembunuhan, Pak,” Ken berbisik pada petugas Reserse dari unit Kriminal Umum.

“Saya juga berpikir banyak hal yang mencurigakan, tapi mana boleh kamu langsung bilang ini pembunuhan tanpa bukti,” balas petugas berpangkat AKP yang memimpin penyelidikan. Yusuf, kanit Reserse Kriminal Umum Polres Selatan.

“Tapi Pak ini memang pembunuhan,” tegas Ken. “Jika benar bunuh diri, jejak tali penjerat seharusnya serong, tapi ini lurus menandakan leher korban dijerat dari belakang sampai mati atau lemas lebih dulu sebelum digantung. Kemungkinan... saat korban tertidur sambil duduk di sofa.” Ken menunjuk sofa yang masih meninggalkan bekas seseorang pernah duduk di tempat itu dalam waktu lama sebelumnya karena busa sofanya yang sudah tidak bagus. “Dan tinggi pijakan ke tali yang digantung terlalu tinggi. Tidak sesuai dengan tinggi badan korban.”

Petugas yang memimpin penyelidikan terdiam, memikirkan semua kalimat Ken dengan matang.

“Tapi perjalanan dari pasar ke rumah memakan waku sekitar 20 menit. Belum lagi waktu yang dihabiskan kalau terjebak macet. Pulang-pergi dan berbelanja bisa menghabiskan waktu lebih dari satu jam. Barang-barang yang berhambur di ruang tamu adalah bukti kalau dia pulang dengan kantong belanjaan. Alibinya kuat.” Ken berbicara lagi, mencurigai sesuatu namun masih ada hal lain yang tidak ia mengerti. Ia berpikir, menduga-duga.

Yusuf tiba-tiba menggeleng “tidak ada yang membuktikan bahwa dia belanja di pasar,” katanya pelan. “Pasar tradisional yang dia maksud seharusnya masih becek karena pagi tadi gerimis, tapi sandalnya bersih tanpa percikan lumpur setetespun.”

Ken berpikir lagi. Diputar otaknya dengan susah payah.

“Telapaknya!” Tanpa sadar Ken berseru antusias, membuatnya menjadi pusat perhatian seketika. “Tenaga perempuan berbeda dengan laki-laki. Menjerat leher suami yang lebih gemuk, kemudian menarik tali untuk menggantungnya pasti memerlukan tenaga ekstra, ditambah lagi tali penjerat yang digunakan kasar. Karena itu telapak tangan Ibu pasti lecet memerah. Iya, ‘kan.” Ken memerhatikan telapak tangan Bu Sulastri yang tenggelam dibalik lengan panjangnya.

“Tangan... tangan saya memang memerah... tapi itu karena pagi tadi saat menarik tali untuk membuat jemuran di halaman belakang,” Sulastri menepis tuduhan Ken.

“Kalau begitu,” Yusuf menimpali “bisa buktikan kalau Ibu benar-benar berbelanja di pasar hari ini ? Bisa Ibu mengenali salah satu penjual yang bisa memastikan alibi Ibu ? Atau, kami sendiri yang harus memastikan itu. Memeriksa cctv dibeberapa swalayan terdekat yang mungkin Ibu kunjungi untuk berbelaja keperluan hari ini.”

Roman muka Sulastri mulai berubah. Ia tertangkap basah karena meninggalkan jejak-jejak yang gagal ia samarkan. Menjadi pelaku kejahatan yang menghabisi nyawa suaminya sendiri, mebuatnya harus siap menerima sangsi dari tindak kejahatan yang telah dilakukannya.
***

“Sebelum melihat jejak tali penjerat dan tinggi pijakan yang janggal, darimana kamu bisa yakin itu bukan bunuh diri ?

Selesai membuat laporan, Ken kembali ke rumah Dani seperti janjinya. Penyelidikan masih dilanjutkan oleh Yusuf dan petugas lain. Di sesi lain. Pengumpulan barangbukti dan pengumpulan keterangan dari pelaku.

“Jika korban meninggal dalam rumah adalah suami, orang pertama yang harus dicurigai adalah istri. Begitu juga sebaliknya. Motifnya rata-rata cemburu, diselingkuhi. Suami yang cemburu buta atau istri yang berulangkali diselingkuhi dan akhirnya meledak karena tidak lagi tahan,” jelas Ken. Ia sedang membongkar pakaiannya untuk menemukan baju yang nyaman dikenakannya sepanjang hari ini.

“Jadi itu benar, motifnya karena dendam diselingkuhi ?” tanya Dani lagi.

Ken mengangguk. “Katanya dia sudah lama tahu suaminya selingkuh. Dia pikir suaminya akan berubah setelah di PHK. Tapi yang ada penyakit tukang selingkuh suaminya enggak juga sembuh.”

Seperti biasa. Setiap Ken selesai dengan tugas lapangannya sebagai pembantu di unit Inafis, Dani pasti dengan cepat akan menagih Ken untuk menceritakan kembali kasus yang baru ditangani itu. Entah kasus itu sudah terselesaikan atau masih dalam tahap pengumpulan barang bukti. Cerita-cerita itu yang kemudian menjadi bahan pembelajaran berharga untuknya.

“Kalau mau bertahan dengan suami yang tukang selingkuh seharusnya sampai akhir. Kalau memang enggak tahan seharusnya pisah saja.”

“Setiap orang, ‘kan punya keadaanya sendiri.” Ken berusaha bijak, sok mengerti.

“Keadaan ? itu cuma alasan untuk orang bermental lemah,” Dani menimpali sinis.
***

II

Pagi menyapa dengan cepat. Malu-malu sang mentari menyapu embun yang membasahi dedaunan. Jalan-jalan masih melegang sepi. Baru satu jam berlalu semenjak azan subuh berkumandang. Setiap orang baru memulai kembali aktifitasnya.

Seorang pemuda berlari meninggalkan sebuah bangunan terbengkalai yang digunakan sebagai sarang burung Walet. Langkahnya cepat dan sesekali melihat kebelakang, memastikan keadaan. Aman. Tidak ada yang mengejar atau siapapun yang membuntut di belakangnya.

Saat ia lengah karena merasa telah aman, sebuah mobil melaju kearahnya dan –brak – tabrakan maut pun tak lagi dapat terhindarkan. Tubuhnya terempar keatas mobil, berguling, kemudian jatuh ke aspal. Tanpa berhenti untuk melihat keadaan korban yang sudah ditabrak, pengendara mobil itu justru melarikan diri dengan menaikkan kecepatan kendaraannya.

Darah segar keluar dari kepalanya, luka-luka lecet karena bergesekan dengan aspal juga membuat rasa sakit yang teramat. Tapi nyawanya masih tersisa. Jantungnya masih berdetak.

Mengutip data yang pernah dikeluarkan Badan Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia menempati urutan kelima dalam jumlah kematian terbanyak akibat kecelakaan lalu lintas. Sementara dalam peningkatan kecelakaan menempati urutan pertama. Lain lagi yang tertera di halaman BIN.go.id pada Maret 2013. Disebutkan disana kecelakaan lalu lintas dinilai sebagai pembunuh terbesar ketiga dibawah penyakit Jantung Koroner dan TBC, dengan korbannya berada diusia produktif yakni 22-50 tahun.

Di negara berkembang sendiri, menurut data yang dikeluarkan oleh Global Burden dari The Washington Post, kecelakaan lalu lintas termasuk lima besar penyebab utama kematian di dunia melampaui HIV/Aids, Malaria, TBC, dan penyakit pembunuh lainnya.
***
Di sebuah jalan, 500 meter setelah meninggalkan tugu selamat datang, beberapa orang terlihat mulai berkerumun. Satu persatu. Kendaraan yang datang dan pergi ikut berhenti sejenak untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. 15 menit kemudian sirine dari mobil petugas kepolisian datang, menghambur kerumunan yang berada terlalu dekat dengan TKP.
Seorang pemuda terbujur di jalan. Kekakuan yang terdapat dibeberapa bagian menandakan pemuda itu telah meninggal saat ditemukan.

Beberapa petugas dari unit Laka Lantas diturunkan untuk mengambil alih tugas. Bersama dengan tim Identifikasi dari unit Inafis yang segera mengamankan korban dan TKP. Olah TKP dilakukan dengan cepat namun tetap memperhatikan semua detail dan ketelitian yang ada.

Luka-luka khas kecelakaan pada tungkai kaki bagian bawah, bokong, punggung, kepala, dan luka lecet karena kulit bergesekan dengan aspal dibagian tubuh lainnya menandakan korban memang tertabrak kendaraan roda empat sebelum meninggal. Selain tidak ditemukan tanda pengenal apapun yang tertinggal di tubuh korban, hal lain yang mencurigakan adalah ditemukannya memar bekas ikatan di kedua pergelangan tangan dan kaki korban. Layaknya korban pernah disandera sebelumnya. Luka bekas menggenggam benda tajam juga terdapat di telapaknya.

Para petugas menyisir daerah sekitar untuk mencari dompet atau apapun yang menunjukkan identitas korban. Yang mungkin saja terlepar saat korban tertabrak. Pencarian itu membuat para petugas menemukan jejak-jejak korban. Jejak-jejak yang membawa mereka ke tempat dimana korban sebelumnya pernah berada.

Penyelidikan terus berlanjut.

Dari beberapa petugas yang berkeliaran, salah satunya diberi tanggung jawab sebagai pemimpin penyelidikan. Ia juga seorang Kanit yang berpangkat AKP. Rambutnya dipotong pendek, tipis, merata. Penampilannya bersih, rapi dari ujung rambut sampai ujung sepatu, menandakan ia adalah seorang yang perfeksionis. Ada kumis tipis dibawah hidung elangnya. Tatapannya awas, meneliti setiap hal yang ada disekitarnya.

Sebuah bangunan bertingkat yang bagian atasnya digunakan sebagai sarang Walet, merupakan satu-satunya bagunan terdekat dari TKP. Tanda-tanda pernah terjadi penyekapan ditempat itu terlihat dari kursi kayu yang roboh, dan tali-tali bekas ikatan yang masih tertinggal, juga pecahan botol kaca. Tanda-tanda yang terlihat juga menunjukkan bahwa penyekapan yang terjadi adalah baru. Jejak-jejak yang masih segar.

Dugaan awal, korban yang berhasil melarikan diri setelah disekap tidak berhati-hati saat melintasi jalan dan kecelakaan yang merengut nyawanya pun terjadi.

Setelah identitas korban berhasil diketahui, penyelidikan dibagi menjadi dua. Masing-masing memfokuskan pada pencarian pelaku yang melakukan tabrak lari dan pelaku yang melakukan penyekapan. Perburuan saksi matapun dimulai.
Penyelidikan untuk menemukan pelaku penyekapan  lebih diarahkan pada kehidupan pribadi korban. Apa sebelumnya pernah terlibat konflik dengan seseorang, apa ada yang kira-kira menaruh dendam, atau apa sebelumnya tingkah laku korban ada yang berubah aneh. Keterangan yang dikumpulkan lebih ke orang-orang terdekat korban, orang-orang yang dikenalnya.

Sementara pencarian terhadap pelaku tabrak lari, sembari menunggu hasil yang dikeluarkan tim forensik, petugas menelusuri sepanjang jalan menuju TKP. Mencari bukti, serta jejak-jejak lain yang mungkin tertinggal. Cctv swalayan terdekat yang mengarah ke badan jalan arah menuju tempat kecelakaan terjadi pun dikumpulkan.

Menurut hasil pemeriksaan Dokter Forensik, berdasarkan luka-luka korban ada beberapa hal yang bisa didesripsikan. Seperti jenis, dan kecepatan mobil saat menabrak, juga bagaimana korban terpelanting. Dengan berbekal itu pelaku tabrak lari bisa dipersempit. Jenis kendaraan yang tertangkap cctv pun bisa dipilah.

Para pembuat berita ikut menyebarkan insiden kecelakaan sebagai pelengkap kejadian hari ini yang harus disiarkan. Melalui surat kabar dan berbagai media sosial, berita mengenai kecelakaan dapat dengan cepat menyebar. Lima jam kemudian seorang pengendara mobil sport menyerahkan diri ke kantor polisi. Ia mengaku sebagai orang yang telah menabrak korban.

“Orang itu yang tiba-tiba muncul di depan mobil saya,” katanya memberi pengakuan dengan suara bergetar. Takut.

Setelah menyebabkan seseorang meninggal, dijadikan tersangka, dan membayangkan akan menghabiskan beberapa waktu yang panjang dalam penjara adalah hal yang benar-benar membuatnya ketakutan hingga seluruh tubuhnya gemetar. Mengumpati ketidak hati-hatiannya yang membuahkan petaka.

Meski ketakutan hingga gemetar, hal yang terpikirkan di benaknya adalah menyerahkan diri, bukannya kabur atau bersembunyi. Ia tidak ingin menciptakan kesalahan lain setelah tahu bersalah. Karakter yang cukup langka untuk ditemukan di abad ini.

Anton 32 tahun, seorang pemilik meubel. Ia baru saja pulang dari mengantar pesanan dari kota sebelah ketika itu. Karena mengantuk ia tidak bisa segera mengambil tindakan saat melihat tiba-tiba ada orang berdiri di tengah jalan.
Anton yang terlambat menginjak rem akhirnya menabrak korban yang kemudian terpental ke depan. Searah laju kendaraan.

“Lapor, pak! Menurut catatan forensik mobil yang menabrak korban, mobil kecil sejenis sedan,” seorang petugas berpagkat Bripda memberikan laporannya.

“Tapi disebutkan juga kemungkinan korban tertabrak dua kali.”

Menurut dokter forensik yang bertugas memeriksa tubuh korban, patahnya tulang betis dan tulang kering pada tungkai kiri menandakan korban tertabrak dari arah samping. Tubuh korban kemudian terlempar keatas sebelum akhirnya jatuh ke aspal.

Memar pada dada dan patahnya tulang rusuk, tidak masuk dalam hitungan cidera yang biasanya terjadi pada kasus tertabrak mobil dari samping, memunculkan kemungkinan korban tertabrak untuk kedua kalinya. Tertabrak saat korban dalam keadaan setengah berdiri. Sesuai, seperti keterangan yang Anton berikan saat menabrak korban. Tertabrak untuk yang kedua kalinya.

“Lapor, Ndan,” seorang petugas memberi hormat “sedan jenis Toyota yang dicurigai sebagai mobil yang menabrak korban karena tertangkap cctv ditemukan.”

“Bagus! Segera panggil pengemudinya untuk diajukan pertanyaan.”

“Mobil tersebut masuk dalam daftar kendaraan hilang, Ndan. Pemiliknya sudah membuat laporan kehilangan sejak kemarin sore.”

Kelegaan Ketua unit yang memimpin penyelidikan nampaknya terlalu dini. Tapi sejam kemudian laporan dari tim pencarian berhasil menemukan sedan jenis Toyota yang dimaksud, yang beruaha disembunyikan disemak-semak jalan poros, perjalanan satu jam keluar kota.

Tim Identifikasi kembali diturunkan.

Tidak ditemukan adanya bercak darah yang mampu tertangkap secara kasat mata. Jejak yang tertinggal hanyalah kap mobil yang terlihat lebih bersih dibanding bagian lain. Sebelumnya pasti ada sesuatu disana, kemudian di lap agar tersamarkan. Dugaan terkuat adalah noda darah.

Petugas menyemprotkan cairan Luminol untuk memastikan. Sinar yang terlihat di tengah sekeliling yang gelap menandakan sebelumnya memang ada bercak darah yang tertinggal. Yang berusaha dibersihkan untuk menghilangkan jejak.

Penyelidikan terus berlanjut. Tapi seteliti apapun petugas mencari barang bukti dalam mobil, tetap tidak ditemukan apapun yang bisa mengarah pada pelaku. Sidik jari sekalipun. Pelaku sangat teliti dan bersih untuk penjahat sekelas pencuri.

Hari selanjutnya, tim yang bertugas melakukan pencarian terhadap pelaku penyekapan menemukan fakta baru yang mencurigakan.
Bahwa pecahan kaca botol minuman yang berada dalam TKP penyekapan terlihat seolah sengaja diletakkan disana. Bahwa saat pelaku penyekapan meninggalkan korban, pintu keluar tidak dikunci. Hanya ada ranting kering yang diselipkan ditempat seharusya gembok berada.

Kedua fakta mencurigakan itu memberi kesan bahwa pelaku penyekapan sengaja memberi kesempatan korban untuk melarikan diri. Pertanyaan yang muncul kemudian, kenapa pelaku menangkap dan menyekap korban jika hanya untuk membiarkannya melarikan diri?

Kasus yang awalnya diduga sebagai kasus tabrak lari pun semakin pelik. Benarkah hanya sebatas kasus tabrak lari biasa atau pembunuhan terencana. Benarkah pencuri mobil tidak sengaja menabrak korban karena terburu-buru, takut tertangkap, atau, pelaku pencurian dan pelaku penyekapan adalah orang yang sama.

Bersambung... 
***

Tidak ada komentar: