Senin, 16 Desember 2013

Karena penjajahan Belanda, Benar kah ??



Beberapa hari lalu aku mengikuti sebuah seminar kebangsaan yang diadakan oleh salah satu LPK yang ada di kota tempat tinggalku. Ketika itu seorang pembicara mengatakan penjajahan yang dilakukan oleh Belanda yang selama 3 abad lebih telah menjadikan mental Bangsa kita menjadi mental pekerja, bukannya mental pemimpin. Kita tahu betapa menderitanya Negara kita pada jaman itu. Bekerja, dan bekerja namun tidak pernah mendapat upah yang layak. Beliau juga membandingkan dengan Negara tetangga, Malaysia sebagai bekas jajahan Inggris yang lebih maju karena bermental Pemimpin.
      Betapa sudah sangat seringnya kita mendengar hal-hal semacam itu. Kalimat-kalimat yang memojokkan sejarah atas apa yang dialami Bangsa pada saat ini. Kalimat yang kemudian dibarengi dengan pengandaian, seandainya saja Indonesia dijajah oleh Jepang, atau Inggris pasti bisa menjadi Negara yang bersaing seperti Cina atau Malaysia.
Permasalahannya adalah kita Negara yang terjajah (meski sampai sekarangpun seperti itu) jadi tidak mungkin bisa memilih Negara mana yang boleh atau tidak boleh menjajah Indonesia. Kedua, benarkah Negara kita terpuruk karena Negara yang menjajah Indonesia sekian abad itu adalah Belanda ? atau itu hanya sebuah alasan yang begitu seringnya diumbar-umbarkan.
Coba kita pikirkan lagi, Jepang dan Inggris juga menjajah Indonesia, yah meski tidak selama penjajahan yang dilakukan Belanda. Tapi bukankah Belanda juga Negara yang sangat maju saat ini. Lagipula coba kita tengok lagi kebelakang, cobalah bernostalgia dengan sejarah. Dulu cendikiawan-cendikiawan Negara kita pernah di kirim keluar untuk mengajar, Negara kita juga pernah cukup ditakuti oleh Negara-Negara tetangga karena kekuatannya.
Jadi, apa penyebab Negara kita terpuruk saat ini ? Think.
Saatnya kita kembali menggoreksi diri kita masing-masing. Apa saja yang sudah kita berikan untuk Negara ini, atau paling tidak, pikirkan bagaimana kita berpikir/menilai Negara ini. Mungkinkah justru pemikiran-pemkiran itu yang akhirnya memerpuruk Negara kita sendiri.
Sudah cukuplah kita menjadikan sesuatu sebagai alasan terpuruknya Negara kita, karena hal itu pasti tidak akan ada habisnya. Yang harus dilakukan adalah memperbaiki. Dimulai dengan dirisendiri, mengubah pola pikir yang salah. Jangan menjadikan masalalu sebagai alasan, karena itu hanya akan membuat masyarakat kita semakin pintar beralasan dan mencari-cari alasan.

#Mohon maaf sebelumnya. Ini adalah sebuah pemikiran yang datang tiba-tiba. Cukup pikirkan saja dan ambil sisi positifnya jika memang benar dan silahkan dikoreksi jika salah.

Minggu, 08 September 2013

Rangkaian kata

Di facebook aku sering membuat status kata-kata yang tiba-tiba saja terpikir olehku, berasal dari perasaan dan apa yang aku dengar juga aku lihat di sekelilingku. Nah, kali ini aku ambil dan aku post ke blog :

Geram. Aku menggengam erat tanganku hingga bergetar. Aku muak sungguh muak hingga pembelaandiri bahkan tangisnmu terasa begitu menjijikn. Ingin sekali aku membunuhmu, mendorngmu ke rel saat kereta sedang melaju. Menikmati saat-saat tubuhmu hancur, terpental. Percikan darah kotormu kemana-mana atau mempermaiknmu dalam kawanan buaya. Menikmati setiap cabikan dan teriakan penuh putus asa dari mulut mu. Kemudian aku akan teratwa keras.
Akulah pembeci sejatimu, meski disaat kau datang & meminta maaf padaku suatu hari nanti

Setiap orang bebas membenci & berkata kasar tapi aku tidak..
Mereka bilang karena kita saudara.. tapi bagiku darah yang sama yang mengalir dalam tubuh juga bisa pudar.. Seiring menumpuknya amarah dan bertambah tebalnya noda kebencian..
Jadi ,, stlh darah persaudraan dalam tubuhku benar-benar  pudar & menghilang,, aku akan bebas membencimu tanpa terpagari lagi dinding persaudraan sebagai pembatas

Bukan terikat, tapi aku sengaja mengikatkan diri sampai-sampai tak bisa terlepas dan terasa sangat menyesakkan

Ajari aku melupakan hati agar kita bisa saling menghancurkan dengan adil

Aku tau dendam bisa merubahku menjadi penjahat, keinginan mengalahkan dan melihatmu hancur sampai kedasar dengan cara menghalalkan segala cara tapi... bila itu bisa membuatku menang, aku tidak peduli

Kadang kesalahan dapat membuat kita merasa malu, tp akan lebih memalukan yang tidak mau mengakui kesalahan

Jangan menyerah, karena semua semangat & kerja keras pasti terakumulasikan menjadi sesuatu yang lebih dari membanggakan

Bertanya terkadang bukan karena tidak tahu atau ingin mengetes seseorang melainkan karena ingin menemukan jawaban lain

Seseorang bisa menjadi gila jika mencintai sesuatu secara berlebihan

kita tidak akan pernah tau sebelum kita mencoba. Tapikan tidak semua hal harus dicoba-coba... ini sudah tau jelek masih dicoba-coba

Akan ada harga yang harus dibayar dari setiap perbuatan yang dilakukan,,
bagaimana kalau aku ciptakan sendiri hargaku dan memaksamu membayarnya dengan cara menancapkan belati yang ada ditanganku berulang kali kepunggungmu ? mungkin akan berakhir minus dan membuatku diriku terjebak dalam hutang hingga menyiksa diriku sendiri...

Aku pernah merasa kasihan padamu, tapi rasa kasihan itu telah terkikis sekarang.. entah bagaimana cara membuatmu berhenti, karena jika tetap membiarkanmu seperti itu suatu saat kami juga akan membayar dengan harga yang mahal atas perbuatanmu

Pagi tak selamanya menjadi awal. Suatu saat mungkin akan berubah... dan  menjadi akhir

Tertawa lebih mudah dibanding tersenyum

Hari yang menyenangkan adalah saat ada begitu banyak orang yang mendoakan hal yang baik pada diri kita

Masalalu itu indah... namun hanya bisa dibingkai dalam satu kata bernama kenangan

Ingin rasanya bisa meledak tanpa memikirkan orang lain.. Sepertimu yang tak pernah bisa melihat siapapun hingga bebas sesukanya, angkuh dengan kalimat-kalimat kasarmu, padahal tidak pernah ada yang bisa kau dapatkan

Ceritakan tentang kebencianmu,
 Tentang seberapa besarnya keinginanmu membunuhku
Tentang setiap perasaan sakit yang telah aku torehkan
Tentang sikapku yang selalu tidak peduli

Aku memang telah memotong cakarku... tapi jangan lupa aku masih memiliki taring

Kita masih berada di medan perang dan sejengkal lagi berada di tengah medan..
cuaca hampir tidak mendinginkan gemuruhnya keadaan,, sehingga satu persatu para petarung mulai berguguran

Jangan terlalu memaksakan diri berlari untuk mengejar sesuatu, sebab saat lelah akan sulit melihat keberhasilan

Memuji diri saat memperoleh keberhasilan sekecil apapun adalah caraku menyayangi diri sendiri

Ada hal-hal dimana selera bisa diabaikan, tapi kali ini belum kutemukan alasan untuk mengabaikan seleraku... maaf

Yang lebih menakutkan ya rasa takut itu sendiri

Mampukah kau hadirkan bayangmu saat aku menutup mata ??

Tidak, aku tidak gila.. Tapi kegilaan itu yang menyerangku bahkan dalam mimpiku sekalipun.. Dia selalu bisa menguasai hati & pikiran yang berada diluar garis perlindungan

Cukup lakukan yang terbaik, Masa bodoh dengan kegagalan dan kepayahan hari esok, Masa bodoh dengan omelan-omelan kasar tentangmu

Mawar yang kau berikan padaku, justru membuatku tertusuk durinya

"Bagaimana rasanya benar-benar sendiri dan bukan hanya sebuah perasaan ?"
"Mungkin seperti yang kamu rasakan ketika kamu menyebut dirimu hantu. Hanya bedanya saat kamu pulang akan ada yang merasakan kehadiran dan menyambutmu."

Tidur adalah cara termudah untuk berMIMPI

Aku suka kamarku yang tidak terlalu terang, yang menyimpan kegelapan disetiap sudutnya karena dengan begitu aku bisa jelas melihat bayanganku

Memberi hati itu tidak semudah memberi uang atau barang kesukaan... Risiko terbesar yang akan kamu terima adalah hidup dengan setengah hati atau bahkan jika terengut seutuhnya kamu tidak akan lagi memiliki hati

Kita punya jalan masing-masing, jadi tidak perlu memaksakan diri berjalan di rute yang sama untuk sampai pada tujuan

Ada hal-hal yang tidak bisa selesai dengan kata maaf, melainkan dengan penebusan

Sifatku adalah caraku melindungi diri

Celotehanmu membuat telingaku pilu

Terimakasih ^^

Selasa, 03 September 2013

Manusia Hantu

Aku adalah manusia yang menyebut diriku hantu. Aku tidak tahu ini hari ini apa, dan apa yang terjadi padaku kemarin, lusa, atau setahun lalu. Akulah dahan kering yang hanya tinggal menunggu leburnya.  Saat matahari mulai memperlihatkan kilaunya dari ufuk cakrawala kemudian termakan kegelapan dari barat, aku hanya bergentayangan tanpa tahu apa yang seharusnya aku rasakan.
              
 Aku mencoba datang ke sekolah, berharap menemukan kembali perasaan hidupku yang hilang. Yang terjadi justru aku merasa berada di gurun manusia yang jauh dari pemukiman. Tidak satupun dari sekelilingku mampu kusentuh. Aku tetaplah seorang hantu. Aku mengerti, sangat mengerti. Tidak satupun dari mereka ingin dilupakan. Mereka ingin selalu diingat karena merasa dirinya berharga. Meski aku memiliki alasan kuat tidak dapat mengingat mereka, mereka tetap tidak peduli. Padahal mereka pun sering melupakanku tanpa alasan. Seperti itulah manusia yang mengatakan dirinya teman-temanku. Manusia yang memang sudah seharusnya tidak perlu aku ingat. Setelah ini aku tidak akan pernah lagi ke sekolah. Aku tidak akan lagi meninggalkan kamarku dan membiarkan siapapun memaksaku pergi. Kamar itulah duniaku, tempat yang mampu menampung ketidak normalanku.
             
 Keluarga memang sangat bisa diandalkan. Namun terkadang harapan mereka terlalu tinggi. Memiliki anak yang bisa dibanggakan didepan teman-teman memang keinginan banyak orangtua. Bagaimana aku yang hanya hidup dalam kamar ini bisa dibanggakan ? kehidupanku bahkan selalu ku gantungkan pada orangtua. Tidak banyak yang mereka inginkan dariku. “Hiduplah dengan baik,” hanya itu katanya.  Sungguh, kalimat yang begitu mulia. Tapi bagaimana hidup dengan baik itu aku tidak tahu caranya. Terkadang, saat malam hari ketika mereka kira aku tengah terlelap, Ibu akan masuk kekamar. Mengintipku. Aku tidak tahu bagaimana perasaannya saat itu, tapi aku tahu bagaimana Ibu menatapku. Rasanya menyakitkan. Mengetahui bagaimana Ibu menatapku diam-diam. Keesokan harinya aku memang akan lupa bagaimana Ibu mengintipku, namun rasanya masih menetap disisni... ditempat semua rasa sakit berkumpul. Apa seperti itu hidup dengan baik, menyembunyikan perasaan, berpura-pura tidak terjadi apa-apa, atau... melakukan semua hal yang aku sukai dengan sebebasnya.
              
 “Bagaimana rasanya benar-benar sendiri dan bukan hanya sebuah perasaan ?” aku pernah melayangkan pertanyaan itu pada seorang teman yang kutemui hanya beberapa hari. Dia pria yang baik. Pertama kali aku melihatnya dipojok ruangan sedang melakukan ritual suci kepada Tuhannya –sholat. Gerakan-gerakannyanya syahdu nan bersahaja. Bentuk abdinya sebagai hamba pada maha Raja.

               “Mungkin seperti apa yang kamu rasakan ketika kamu menyebut dirimu hantu. Hanya bedanya saat kamu pulang, akan ada yang merasakan kehadiran dan menyambutmu,” jawabnya namun menatap jalan yang lalu lalang dengan kendaraan. Jiwanya mungkin sedang mengelana. Pria cengeng itu ternyata mengerti banyak hal. Ia juga bermasalah, namun tidak pernah lari.

               Dia juga mengatakan padaku jika aku senantiasa mendekatkan diri pada maha Rajaku, aku juga akan bisa sekuat dirinya. Aku tidak perlu berlari dan berpura-pura. Aku akan terhindar dari perasaan-perasaan gila seperti ingin bunuh diri yang entah sudah beribu kali terpikir olehku. Perasaanku akan senantiasa di stabilkan oleh-Nya.
 
               “Jangan lagi menyebut dirimu hantu. Bukankah beberapa hari ini kita telah saling melengkapi, menutupi ruang-ruang kosong yang ada di hati kita. Jika kamu tidak ingat, tidak apa-apa. Tapi rasakanlah,” seseorang yang lain juga pernah mengatakan hal itu padaku. Seseorang yang karenanya aku bisa menemukan jiwa baru. Jiwa yang membuatku terbebas dari hal yang kusebut hantu pada diriku. Kami bertiga adalah teman dalam perjalanan yang teramat singkat. Saling melengkapi, memberi kenangan, menjadi adik yang sangat dirindukan, dan orangtua yang tidak mungkin kembali lagi. Tidak tahu apakah kami telah menjalankan lakon-lakon kami dengan baik, tapi aku merasa sangat senang berada diantara mereka berdua. Perasaan bahagian yang selama ini aku rindukan. Perasaan hangat yang memenuhi seluruh ruang kosong dalam hatiku.

Minggu, 21 Juli 2013

SECRET (bag IV)



Keluar dari kantor masalah belum berhenti menimpa Widia dan 4 temannya yang lain. Di mading ada yang menarik semua orang di sekolah, tidak terkecuali para guru dan kepsek. Dona segera menggiring kelima-limanya untuk melihat hal menarik yang ada di mading. Di mading, foto secret di tempat gelap yang diambil dari sebuah surat kabar dipajang. Foto secret diperbandingkan dengan Foto Widia dan yang lainnya. Yang menarik adalah dari susunan, gaya, dan tinggi masing-masing sama. Dibawah kedua foto yang diperbandingkan tertulis beberapa kalimat. Kalimat yang menepis pendapat banyak orang bahwa secret adalah sekumpulan pemuda cerdas. Yang sebenarnya salah satu dari secret adalah perempuan dan yang menjabat dalam posisi itu tentu saja Widia. Karena penampilannya yang suka mengenakan seragam laki-laki yang menimbulkan rumor bahwa secret beranggotakan 5 orang laki-laki. Bisik-isik tidak sedap mulai bermunculan satu persatu.
"Bukannya memiliki organisasi seperti itu dilarang keras di sekolah kita,"Audy berkomentar. Audy sama sekali tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dimading.
"Iya," Vitre yang baru datang menimpali. " Bisa dianggap scandal dan akan dikeluarkan dari sekolah jika terbukti benar."
"Kata-katamu itu terlalu menunjukkan bahwa kamu percaya bahwa mereka adalah secret," Dona beranggapan. Dona merasa ada hal yang disembunyikan Vitre.
"Oh iya, aku hanya mengingatkan," jawab Vitre.
Tidak lama kemudian Widia dan yang lainnya masuk kantor lagi. Mereka diminta mengkonfirmasi tentang isu-isu bahwa bahwa mereka adalah secret. Kelimanya mengelak. Untuk saat ini Kepsek menerima keterangan mereka sampai pengusutan selesai. Untuk berjaga-jaga, Widia diminta mengubah penampilannya agar isu-isu tentang secret tidak semakin luas beredar. Kelimanya diizinkan kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran selanjutnya. Dalam perjalanan menuju kelas, Egi teringat tentang sesuatu dibalik buku catatan Audy yang tisak sengaja dilihatnya.
'Mulai menjaga jarak dan tetap waspada'.
Widia menyebar sms kepada teman-temannya.
Dafan yang berada dikelasnya menghela nafas. Guru bidang study menjelaskan di depan kelas tapi pandangannya justru keluar jendela. Memikirkan kemungkinan Audy adalah orang yang menikam mereka dari belakang sangatlah mengecewakan. Keempat temanya yang lainya pun berpikiran sama. Mereka sudah sangat nyaman dekat dengan Audy. Memikirkan Audy yang manis berubah menjadi begitu licik tidak ada yang bisa menerimanya.
"Sayang sekali, padahal aku sudah mulai menyukainya,"Windy berkata entah pada siapa. Ia duduk di kursi kemudian menaikkan kakinya di meja, tepat didepan wajah Widia. Widia yang tidak terima menurunkan dengan paksa kaki Windy.
Mereka sekarang berada di cafe. Cafe belum dibuka karena mereka harus rapat mendadak terlebih dahulu.
"Apa, jadi kamu juga ?" Egi menimpali.
"Apa maksudmu kamu juga ?" sengit Windy.
"Sudah-sudah," Widia segera mwnghentikan. Padahal ini bukan waktu yang tepat untuk mempermasalhkan hal itu. Ada hal yang harus mereka utamakan agar identitas secret tetap aman.
"Seandainya bukan dia yang tertidur di pojok cafe saat itu, apa jadinya tetap akan seberat ini ?" Dafan yang bertopang dagu bertanya. Pikiran kembali ke sore saat mereka mendapati Audy tertidur di cafe.
"Kata orang sih pertemuan pertama yang mengesankan akan terus berhubungan kepertemuan selanjutnya," Windy ikut-ikutan bertopang dagu.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan ?" Satria kembali kepermasalah awal yang harus mereka pecahkan.
"Tetap selidiki, berpikir kalau Audy pelakunya sangat tidak bisa diterima," Widia memberikan kan jawaban dan rapat ditutup.
Berita tentang secret tidak berhenti sampai difoto. Gosip-gosip lain mulai beredar. Entah siapa yang lebih dulu mendengarnya, tapi langsung saja gosip itu merajai sekolah. Gosip-gosip tidak benar mengenai alasan secret masuk ke sekolah mereka. Dalam gosip-gosip itu menyiratkan niat jahat secret terhadap sekolah mereka. Audy merasakan perubahan sikap kelima orang itu padanya. Mereka menjaga jarak. Audy sama sekali tidak mengerti apa salahnya sehingga mendapat perlakuan itu. Ketidak akraban yang terjadi antara Audy dan kelima idola sekolah terlihat kacamata T2 dkk. Mereka menganggap masa jaya Audy telah habis dan akan memanfaatkan situasi bagus ini untuk menarik kelima idola sekolah kearah mereka.
"Mungkin mereka bersikap baik dan ramah diawal hanya sebagai topeng. Nah sekarang saat popularitas mereka turun sifat asli mereka terlihat," kata Vitre berusaha menghibur Audy.
Audy tidak menanggapi apapun. Ia hanya berpikir mungkin saja apa yang dikatakan Vitre itu benar. Jika begitu  Audy tidak perlu bersedih karena kehilangan beberapa teman.
"Kalian sedang membicarakanku ya," seseorang menyahut dari belakang.
"Aan," seru Audy dan Vitre bersamaan. Mereka tidak percaya melihat Aan kembali mengenakan seragam putih abu-bu.
"Kenapa kalian begitu terpesonanya melihat penampilanku," kata Aan dengan penuh percaya dirinya. "Sekarang katakan padaku apa yang kalian ceritakan tadi," tambahnya. Tangan Aan merangkul Audy dan Vitre.
"Lepaskan tanganmu," kata Vitre sambil menonjok Aan.
Aan, Audy dan Vitre sudah berteman sejak mereka kecil. Aan lebih tua 2 tahun. Sebenarnya Aan sedang melanjutkan studynya di Paris, entah apa yang membawanya pulang saat ini. Katon sebenarnya bukan dari kecil tidak menyukai Aan, tapi baru di saat Audy tertimpa kecelakaan karena ulah nakal Aan.
"Iya, iya waktu itu Aan disengat lebah karena usil. Wajahnya bengkak sebelah. Sekitar seminggu dia sembunyi di kamar karena malu," Audy cekikikan mengingat bagaimana wajah Aan saat itu.
Ketiganya bercerita banyak. Mereka bernostalgia tentang masa kecil yang menyenangkan. Berada diantara Vitre dan Aan membuat Audy merasa lebih baik. Mereka tidak henti-hentinya tertawa. Aan tipe yang humoris dan menyenangkan. Seharian bersamanya tidak akan bosan.
Mereka masih seru-seruan bercerita saat Bu Rona datang dan berkaca pinggang. Melihat Bu Rona Audy dan Vitre segera menjaga jarak dengan Aan. Audy dan Vitre hanya cengar-cengir mendengarkan Aan yang masih asyik bercerita.
"Ehem," Bu Rona berdehem. Aan terkejut melihat seorang seorang guru berdiri di belakangnya entah sejak kapan. Aan tersenyum dan mulai bertingkah sok akrab.
"Siswa baru ya, dari kelas mana ?" Bu Rona bertanya.
"Saya... satu kelas dengan mereka," Aan mengedipkan mata kearah Audy dan Vitre mencari pendukung.
"Apa itu benar ?"
Tidak sesuai dengan harapan, Audy dan Vitre serempak menggeleng bersamaan.
"Ka... kalian penghianat," sunggut Aan. Bu Rona menarik telinga Aan menjauh dari kantin untuk dihakimi.
Sebenarnya orang yang melaporkan hal ini pada Bu Rona adalah T2 dkk. Ujung-ujungnya Audy dan Vitre kena imbasnya juga. Mereka dianggap menyelundupkan orang luar ke sekolah oleh karena itulah mereka di hukum membersihkan green house sekolah. Kali ini usaha T2 dkk berhasil.
"Wah kalian benar-enar cocok menekuni profesi ini," Tyas memulai.
"Profesi rendahan untuk para bawahan," Tyas menimpali sementra dua temannya yang lain tertawa dengan suara yang dikeras-keraskan.
Audy dan Vitre tidak menanggapi. Mereka tetap fokus membersihkan tanaman-tanaman pengganggu. Keduanya menutup telinga dengan berpura-pura tidak menyadari kehadiran para penggangu. Bagi T2 dkk, menjadi yang tidak dianggap tidak lantas membuat mereka segera pergi. Keempatnya justru labih parah lagi. Mereka mengacau dan menggangu pekerjaan Audy dan Vitre. Hal seperti ini tidak bisa dibiarkan. Audy dan Vitre memungut sesuatu dari pot tanaman.
"Mau apa kalian ?" Tyas bertanya waspada melihat Audy dan Vitre berdiri di depan mereka layaknya orang yang akan mengangkat senjata untuk berperang. Audy dan Vitre menyeringai bersamaan kemudian melemparkan cacing-cacing yang mereka ambil kearah T2 dkk. Sepontan tempat itu berubah begitu berisik oleh teriakan-teriakan T2 dkk. Mereka melompat-lompat geli dan jijik.
"Mau lagi ?" Vitre berbaik hati menawarkan.
Keempatnya pergi namun tidak berhenti mengumpat. Audy dan Vitre tertawa senang. Mereka tos, puas melihat wajah-wajah musuh yang sukses mereka kerjai.

Suatu sore Audy dan Dona jalan-jalan. Mereka bertemu dengan Riki yang berjalan dengan menggunakan tongkat. Setelah pertandingan yang terakhir, sikap Riki berubah lebih baik. Mereka bertiga berbicara membahas kaki Riki yang digips. Luka itu ternyata terjadi saat dipertandingan terakhir waktu itu, saat Ia berencana mencelakai Audy tapi justru ia sendiri yang terluka.
"Maafkan aku," Audy merasa bersalah.
"Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Memang sakit tapi akukan laki-laki sakit sedikit sudah biasa," Riki berusaha terlihat baik-baik saja.
"Hahaha... Laki-laki memang harus kuat, lihat saja dia kuatkan," Dona memukul-mukul punggung Riki hingga tongkatnya jatuh.
"Lalu, bagaimana dengan basketmu ?" Audy bertanya.
"Memang apa yang bisa dilakukan pemain yang untuk berdiri tegak saja tidak bisa," jawab Riki namun ia tetap memasang senyum.
Audy mengerti pasti Riki sangat sedih. Bagaimana tidak, bagi orang yang sangat menyukai bidangnya pasti akan kehilangan jika kebanggaannya selama ini dilepas tanpa sisa darinya. Bagi Riki basket bukan hanya kegemaran tapi sudah menjadi kesehariannya.
"lukanya pasti parah," Audy menduga-duga. Hening. Tiba-tiba Audy teringat saat tulang tangan Kakaknya luka, Katon berobat disuatu tempat dan tidak sampai seminggu tangan kanan Katon sudah baikan. Audy segera menghubungi kakaknya dan memintanya datang. Barangkali orang yang mengobati Katon juga bisa membantu menyembuhkan kaki Riki.
Tiga puluh menit menunggu Katon datang. Audy mencitakan pada kakaknya tentang Riki, kemudian Katon bertanya pa Riki tentang seberapa parah lukanya. Riki mengatakan semua yang dikatakan dokter pada orangtuanya sedetail mungkin dengan harapan tinggi Katon bisa memberikan jalan keluar.
"Bagaimana Kak ?" Audy bertanya memburu. Katon terdiam beberapa saat.
"Insyaallah masih bisa. Orang itu adalah Kakek Aan. Beliau ahli pengobatan tulang alternatif," kata Katon akhirnya. Semua bernafas lega mendengarnya. "Tapi..."
"Tapi kenapa ?" Riki bertanya.
"Kamu harus persiapkan mentalmu," jawab Katon. "Jika kamu belum pernah merasakan penderitaan antara hidup dan mati maka saat itu lah kamu akan merasakannya."
"Apa ?"
"Rasa sakitnya luar biasa menyiksa," Katon merubah karakter wajahnya menjadi angker. Riki menjadi bergidik sendiri. Kata-kata Katon terdengar sangat nyata. Tapi Riki adalah laki-laki dan kalimatnya tentang sakit sedikit tidak apa-apa tidak bisa ia tarik lagi.

Audy sedang berada di toilet. Ia sedang mencuci tangan dan merapikan rambut pendeknya yang berantakan. Audy memainkan permen yang ada di mulutnya. Tiba-tiba mendengar seseorang memanggil namanya padahal ia tahu ia seorang diri di toilet membuat permen yang ada dimulutnya tertelan. Audy terbatuk-batuk berusaha memuntahkan kembali permen itu. Widia, orang yang tadi memanggil namanya mendekat karena khawatir. Widia menyalakan keran, ia tampung air keran dengan kedua tangannya kemudian diminumkan pada Audy. Beberapa kali Widia mengulang hal yang sama sampai ia yakin Audy sudah baik-aik saja.
Sementara itu Vitre dan Dona yang sedang menunggu Audy di kantin mulai bosan. Dari arah kejauhan terdengar adik kelas ribut-ribut mengatakan ada kakak kelas yang berkelahi di toilet. Mendengar hal itu Vitre dan Dona saling pandang kemudian buru-buru menuju toilet untuk mengetahui siapa yang sedang berkelahi karena jangan sampai itu adalah Audy.
"Aku menggangapmu temanku. Tapi tidak akan aku biarkan kamu menjelek-jelekkan Vitre didepanku. Dia tidak mungkin seperti itu," kata Audy tegas. Audy dan Widia benar-benar berkelahi. Bukan sekedar jambak-ambakan atau tampar-amparan. Tapi benar-benar berkelahi. Perkelahian Wanita didekade ini. Pintu toilet jebol, rusak parah. Vitre mendekat berusaha menengkan Audy. Namun reaksi yang ditunjukkan Audy pada Vitre bukannya baik melainkan kebalikannya. Tidak pernah sebelumnya Audy bersikap seperti itu.
"Ada apa denganmu, benarkah kamu yang melakukan semua itu ?" tukas Audy menepis tangan Vitre. Vitre hanya diam tidak menjawab. "Kenapa jadi selicik ini, sengaja menjadikanku kambing hitam untuk menjatuhkan mereka." Audy kecewa. Sangat kecewa ditambah lagi Vitre yang hanya diam saja tidak membela diri atau mengatakan hal yang lainnya. Guru-guru berdatangan. Semua tersangka digiring kekantor untuk membuat pengakuan. Akhir-akhir ini Audy jadi semakin sering keluar masuk kantor dan itu adalah masalah besar. Audy dilarang pulang sebelum orangtuanya datang. Hari ini selain di sekolah Audy akan mendapat masalah dengan Ayahnya. Selama ini orangtua tidak pernah sampai dipanggil ke sekolah selain untuk menerima hal yang baik-baik. Kali ini Ayahnya pasti akan marah besar.
Benar saja. Sampai di rumah Ayah benar-benar marah besar. Audy dihukum tidak boleh menggunakan kekuatannya untuk apapun selama sebulan. Ditambah lagi latihan akan lebih diperberat.
Disaat Audy menjalani hukuman tidak boleh menggunakan kekuatannya itulah musuh bergerak. Suatu malam saat Audy berjalan-jalan sendiri mencari udara segar ada 3 orang aneh memakai pakaian ninja menyerangnya. Audy panik. Timbul pikiran kalau ia melawan ayahnya pasti akan memaklumi karena ini keadaan denting. Tapi Audy berpikir lagi, sikap Ayahnya terlalu tegas sekali tidak tetap tidak. Jika Audy membangkang Ayah pasti akan memperberat hukumannya. Akhirnya Audy memutuskan untuk bertahan.
"Tunggu," kata Audy ketika Ninja-ninja itu akan kembali menyerangnya. Ketiga ninja itu benar-enar berhenti. Audy meraba kantong celananya. Audy mengeluarkan ponsel dan berusaha menghubungi kakaknya.
"Assalamualaikum, kakak tolong.... ada yang mau menculikuuu !!!" Audy memekik berusaha menjelaskan situasinya. Ketiga ninja yang berhasil dibohongi itu merasa bodoh. Mereka menjadi berang. Mereka kembali menyerang Audy dan kali ini tanpa syarat. Audy berusaha sangat keras untuk bertahan, sayangnya itu bukan pilihan yang baik. Dafan dan Egi ada disana. Keduanya kebetulan lewat. Heran melihat Audy tidak balik melawan membuat Egi akan turun tangan, namun Dafan menghentikan. Bukan karena ia tidak ingin menolong Audy melainkan mereka juga harus melindungi identitas mereka. Lagi pula Audy masih baik-baik saja. Audy bukanlah gadis yang lemas, kalau terdesak ia pasti akan membalas juga.
"Lepaskan dia !" pekik seseorang berlari mendekat. "Berani sekali kalian menyentuh Audyku."
Orang itu Aan. Ia membawa kayu sebagai alat beladirinya. Tongkat adalah senjata andalan yang dibutuhkan Aan. Aan berjuang dengan gagahnya. Sayangnya hal itu hanya diawal. Selain kalah jumlah Aan juga kalah fisik. Aan cepat kelelahan akhirnya ia hanya bisa menyumbangkan diri sebagai yang dianiyaya.
"Katanya akan ku bereskan. Apanya yang akan ku bereskan ?"
"Satria, sejak kapan kamu disana ?" tanya Egi karena tiba-tiba saja Satria sudah bertengger diatas pohon tanpa tahu kapan datangnya. Satria tidak menjawab pertanyaan Egi karena ada yang lebih menari yakni kedatangan Katon.
"Penolong yang sesungguhnya sudah datang. Kalian jangan berisik." Kali ini suara Windy yang terdengar. Windy tidak sendiri karena ternya Widia juga ikut bersamanya.
"Kalian juga disini ?" kata Dafan dan Egi bersamaan. Mereka heran melihat kelakuan teman-temannya. Apa datang tiba-tiba sudah menjadi trend saat ini.
tobecontinue