Jumat, 24 Juli 2015

«<[Iblis 2 (bagian 3-End)]>»

Setelah kasus selesai, Yuna pamit pulang lebih dulu. Ada hal yang harus dipastikannya. Seharian tadi ponsel Yuna terus berdering dan panggilan yang masuk semuanya sama, dari nomor baru yang sama. Yuna mengangkat panggilan itu sesaat setelah Ari Adrian digelandang ke kantor polisi. Tidak ada sama sekali dalam pikirannya bahwa yang menghubunginya adalah Laila, kakak perempuan Ozi. Laila memintanya bertemu untuk mengatakan ada hal yang penting.

“Saat itu dia mengalami kecelakaan parah. Tepat sehari sebelum kalian seharusnya bisa mendaftar di universitas yang sama,” Laila memulai. Mereka berada di taman rumah sakit. Lagi-lagi kesehatan Ozi menurun sehingga ia harus masuk rumah sakit. Ozi berada disisi lain bersama kakak iparnya. Ozi bercanda dan tertawa, menyembunyikan dukanya. Perasaannya karena tidak mungkin menemui Yuna dengan keadaannya yang seperti ini, juga perasaan lelahnya mengikuti semua terapi pengobatan yang sampai hari ini belum juga mengembalikan kesehatannya seperti sediakala. “Dokter bahkan memfonisnya tidak mungkin lagi bisa diselamatkan saat itu.”

“Kenapa mba tidak mengatakan hal itu lebih awal ?” Yuna tidak habis pikir bagaimana selama ini ia sama sekali tidak pernah dihubungi terkait apa yang tengah menimpa Ozi. Tanda tanya yang sangat besar tentang bagaimana Ozi hidup selama ini, apa yang tengah dilakukannya, dan bahagia ataukah tidak, Yuna tiadak bisa berhenti memikirkan itu. Ia ingin tahu semua itu, benar-benar ingin tahu namun tidak ada apa atau siapapun yang bisa memberinya jawaban tentang Ozi. Bahkan teman dekatnya saat SMA pun tidak ada yang tahu dimana Ozi tinggal. Menunggu seseorang selama beberapa tahun dan tidak tahu apapun tentang orang yang ditunggu, semua itu terasa gila.

“Bagaimana mungkin,” Laila menghela nafas. Baginya mengambil keputusan ini tidaklah mudah. Ia harus diam-diam menghubungi Yuna di belakang Ozi. “Ketika Ozi koma, kami sendiri sudah sangat terpukul karena itu. Ozi sendiri sangat memikirkan kebahagianmu. Bagaimana mungkin aku bisa mendatangimu untuk bertemu Ozi yang keadaannya sangat menyedihkan. Aku juga melihatmu sudah memulai hidup baru bersama si detektif itu,” Laila menjelaskan keadaannya yang sangat tidak memungkinkan untuk memaksa dirinya menemui Yuna lebih awal.

Yuna tediam. Ia langsung bisa mengerti siapa yang Laila maksud. Memikirkan Duge tiba-tiba membuat Yuna merasa bersalah. Yuna menatap jam tangan pemberian Duge yang melingkar dipergelangan kirinya. Yuna menghela nafas. Ozi yang sangat ingin ia ketahui keadaannya, yang sangat ingin ia temui ada didepannya. Dengan jarak yang jauh lebih dekat dibanding tahun-tahun lalu, tapi pikirannya masih saja sempat tertuju pada orang lain.

“Yuna maaf,” Laila berucap tulus. “Ini memang sedikit egois, tapi biar bagaimanapun juga Ozi adalah adikku. Setelah bertemu denganmu aku berharap pikirannya bisa lebih tenang, bisa lebih bahagia.”

“Tidak apa-apa,” Yuna melebarkan senyumnya. Meyakinkan Laila bahwa semuanya baik-baik saja. “Sungguh tidak apa-apa. Aku dengan kak Duge tidak ada hubungan apapun.”

“Benar ? kamu tidak sedang berusaha membohongi diri sendirikan ?” Laila bertanya lagi tak enak hati. Ia memerhatikan Yuna dengan teliti. Bagaimana cara Yuna menjawab dan sikapnya saat melihat Ozi. Yuna mengangguk mantap dan Laila pun percaya.

Saat seru-serunya bercerita tentang perkembangan sepak bola Indonesia yang telah sampai pada juara grup setelah mengalahkan Korea dengan skor 3-2, Yuna muncul dihadapan Ozi. Mata Ozi melebar tidak sepenuhnya percaya bahwa orang yang ada didepan matanya adalah Yuna.

“Apa kamu sakit ?” Yuna bertanya. Ozi masih menatap Yuna tidak percaya. Perlahan tatapan keterkejutannya berubah menjadi haru. Ozi memandangi Yuna dan kakaknya Laila yang berdiri tepat disamping Yuna bergantian. “Apa kamu benar-benar sakit ?” tanya Yuna lagi karena Ozi tak kunjung menjawab pertanyaannya. Yuna menginjak kaki Ozi cukup kuat sehingga Ozi memekik kesakitan.
“Spertinya tidak cukup sakit karena teriakanmu sangat keras,” tambah Yuna cekikikan melihat reaksi Ozi yang mengelus-elus kakinya sambil mengaduh.

Inilah orang yang selama ini sangat ingin Ozi temui. Semua perasaan rindu yang selama ini sudah dibendungnya dengan susah payah akhirnya meluap keluar. Perasaan yang membebani hatinya itu akhirnya terangkat juga.

“Yunaaaa...” Ozi berdiri dari dududknya untuk memeluk Yuna namun kakak iparnya menarik baju Ozi hingga kembali terduduk lagi.

“Ini tempat umum, bukan drama telefisi jadi jaga tingkah lakumu,” sindir kakak iparnya, yang lain tertawa.

Ozi menarik nafasnya dalam-dalam. Ia merasa begitu senang hari ini.
“Ayo kita pergi makan,” Ozi mengosok-gosokan telapak tangannya tanda ia sangat bersemangat. Wajahnya berubah ceria. Kali ini ia benar-benar bahagia, tidak hanya sekedar memanipulasi dirinya. Suasana hatinya benar-benar mampu berubah dengan cepat.

“Dasar,” celetuk Laila sambil menyundul kepala adiknya dengan jarinya. Meskipun begitu semua setuju. Laila sangat lega melihat betapa lebar adiknya tersenyum.

Mereka mengurus keluarnya Ozi dari rumah sakit terlebih dahulu sebelum akhirnya meluncur mencari makan. Ozi menawarkan berbagai tempat makan yang menurutnya enak untuk Yuna pilih. Ozi terlihat begitu sehat, dan bersemangat. Inilah Ozi yang Yuna kenal saat di SMA beberapa tahun lalu. Ozi yang sangat suka tersenyum seperti ia hidup tanpa ada beban yang dipikul. Siapapun yang ada didekatnya pasti akan ikut merasa senang. Perasaan lega dan kerinduan yang tidak terobati selama ini akhirnya mencair juga pada titik ini. Yuna melepas jam tangan pemberian Duge dan menyimpannya dalam tas. Yuna tidak ingin merasa bersalah karena perasaannya. Yuna dan Ozi, keduanya sama sekali tidak membahas bagaimana kehidupan satu sama lain selama ini. Mereka hanya ingin menikmati hari ini.

“Coba ini, ini, ini juga enak, ini paling terkenal disini,” Ozi memberi rekomendasi makanan apa yang harus dipilih Yuna untuk dicoba.

“Hei, hei perutku bisa meledak kalau memakan semua ini,” Yuna protes.

“Tidak akan.” Ozi akhirnya memilihkan makanan untuknya dan yuna. “Kamu terlihat lebih kurus, jadi kamu harus makan lebih banyak setelah ini.”

“Sayang, aku iri sekali,” Laila berucap manja pada suaminya. “Sekarang Ozi sudah berpaling pada Yuna sepenuhnya. Padahal yang selama ini selalu menemaninya ‘kan kakaknya yang cantik ini.”

“Baiklah kalau begitu aku juga akan memesankan makanan yang terbaik ditempat ini untukmu,” suaminya membalas mesra.

“Aku juga,” Yuna menimpali. Ia mengambil buku menu yang ada ditangan Ozi. “Ini sebagai bentuk terimakasihku karena selama ini selalu menemani Ozi yang merepotkan ini.”

“Eh, kamu sudah pernah kesini sebelumnya ?” Laila bertanya.

Yuna mengangguk. Ia memang pernah makan ditempat ini sekali. Bersama Duge dan petugas lain yang menangani kasus pengeboman yang akhirnya bisa diselesaikan hari ini. Duge. Pria itu terlintas lagi. Yuna menghela nafas. Tanpa ia ketahui Ozi, kakak, dan kakak iparnya menyadari itu. Laila dan suaminya saling menatap, hanya Ozi yang berpura-pura tidak mengerti. Laila merasa kemungkinan saja apa yang Yuna katakan tadi sebelum memutuskan muncul didepan Ozi tidak seutuhnya benar. Ketiganya menatap Yuna bersamaan.

Yuna pamit pulang lebih dulu setelah ia menyelesikan santapannya. Hari sudah petang dan jam menunjuk pukul 20.35.
Di parkiran tempat motornya berdiri dengan rapi, seseorang menunggunya. Duge.

“Aku tadinya ingin makan disini, tidak disangka melihat motormu disini,” Duge berucap tanpa Yuna tanya. Yuna memerhatikan Duge sesaat kemudian sadar bahwa Duge berbohong. Duge pasti tahu keberadaannya karena jam tangan yang diberikannya.

Duge melirik tangan Yuna dan tidak ada apapun yang melingkar di tangan Yuna. Duge heran. Ia tidak mungkin bisa menemukan Yuna jika jam tangan itu tidak bersamanya.

“Maaf,” Yuna berucap. Ia mengambil jam tangan yang ia simpan dalam tasnya untuk dikembalikan pada Duge. Duge tidak langsung menerimanya ketika Yuna menyodorkan jam tangan itu. Duge menatap Yuna sedih seolah memelas agar Yuna tidak melakukan hal itu padanya.

“Kenapa ? aku ingin kamu memiliki sesuatu yang berasal dariku,” Duge belum juga menerima kembali jam tangan yang Yuna sodorkan padanya. Ia berharap Yuna berubah pikiran dan tetap mau menyimpan jam tangan pemberiannya.

“Aku akan merasa sangat bersalah karena ini,” Yuna berkata sambil tertunduk. Ia tidak ingin digoyahkan oleh tatapan Duge. Duge tersenyum samar.

“Merasa bersalah padanya karena menyimpan sesuatu dariku ?”

“Bukan. Tapi merasa bersalah pada...” Yuna berhenti, tidak melanjutkan kata-katanya. ‘Merasa bersalah pada kak Duge. Aku merasa bersalah karena disaat aku menyimpan sesuatu dari kak Duge aku justru memilih bersama orang lain.’

“Pada siapa, padaku ?!” Duge berkata seolah bisa mendengar apa yang Yuna katakan pada dirinya sendiri. “Benar kamu merasa bersalah padaku ? apa itu artinya kamu mulai menyukaiku ?” Duge terus bertanya untuk memastikan apa yang dipikirkannya. Sayangnya tak satupun dari pertanyaannya, Yuna berikan jawaban. Diamnya Yunalah yang selama ini membuatnya terus berharap. Selama Yuna tidak menyuruhnya pergi itu berarti masih ada harapan. Harapan yang meski hanya 1% yakin bisa ia rubah dengan usahanya yang tulus. Bukankah wanita sangat mudah luluh dengan ketulusan.

“Aku mau pulang, cepatlah kakak terima ini,” Yuna berkata masih menunduk.

“Si beruntung itu,” kata Duge menyindir Ozi. “Kenapa dia datang saat aku akan mendapatkanmu. Padahal tinggal selangkah lagi,” tambahnya kemudian menerima kembali jam tangan pemberiannya. Yuna membelakangi Duge dan benar-benar akan pergi. Tapi Duge menahannya. Ada hal yang masih ingin dikatakannya.
“Tunggu,” katanya. “Bukankah anak itu sudah muncul, jadi apa aku sudah boleh bilang ?”

Yuna segera menutup telinganya, ia seperti tahu apa yang akan Duge katakana. Tidak ada suara karena Duge memang belum memulai. Duge menatap Yuna datar. Apa yang dilakukan gadis itu membuat perasaanya dipenuhi sesak yang perih. Yuna masih menutup telinganya tapi kemudian ia buka. Yuna sendiri tidak tahu kenapa ia lakukan itu. Sebelumnya ia begitu tegas pada perasaannya, tapi sekarang ia terombang-ambing tidak jelas. Ia tidak ingin Duge mengatakan bagaimana perasaannya tapi ia justru membuka telinganya, bersiap mendengarkan.

“Aku sungguh sangat menyukaimu. Apa yang kurang dariku, kenapa Yuna hanya melihat kearahnya yang jauh disana, yang bahkan tidak terlihat ?” Duge mengungkapkan isi hatinya. Matanya berkaca-kaca karena terlalu menyakitkan. Perasaan yang selama ini sungguh sangat ingin ia utarakan pada gadis yang sudah membuatnya dipenuhi banyak perasaan tak menentu. Sebenarnya bukan dikondisi seperti ini, dengan perasaan sekacau ini ia utarakan perasaannya. Tapi apa boleh buat. Hanya saat ini ia diberi kesempatan. Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel. Suara dering itu lambat laun semakin menjauh yang artinya itu bukan berasal dari ponsel Yuna maupun Duge.

Yuna menarik nafas dan berbalik. Ia sudah siap menjawab pernyataan Duge.
“Dia... Ah bukan,” Yuna menggeleng dan meralat sendiri kata awalnya. “Maksudku Ozi. Ozi sudah mengikatku. Kakak tahu, sebelum dia pergi dia memantraiku agar selalu kembali kearahnya sejauh apapun kami berpisah. Bukankah dia curang ? dilakukan hal sesukanya seperti itu. Karena itulah selama ini aku tidak bisa melihat siapapun selain dia. Sekarang kakak mengertikan.” Yuna ingat ketika terakhir kali ia bertemu dengan Ozi, Ozi pernah meletakkan telunjuknya di keningnya sambil mengatakan ‘Ini adalah sihir cinta. Sejauh apapun kamu pergi, kamu akan selalu kembali kearahku.’ Yuna sebenarnya tidak memercayai hal semacam itu, tapi ia benar-benar telah terperangkap oleh perasaannya terhadap Ozi. Entah itu benar apa adanya atau hanya ilusinya semata yang jelas selama ini bayangan tentang Ozi selalu menghiasi benaknya. Duge mengangguk dan membiarkan Yuna pergi.
¤¤------------¤¤------------¤¤-------------¤¤-----------¤¤------------¤¤
Di rumah Yuna ingin sekali menceritakan apa yang tengah dirasakannya pada Yugi. Barangkali Yugi bisa memberinya pendapat yang kemudian bisa meringankan dilemanya. Yuna keluar dari kamar setelah menyelesaikan semua yang harus ia kerjakan. Yugi muncul dari kamarnya dengan berpakaian rapi. Terciup aroma parfum segar. Yugi berpenampilan rapi dengan kemeja hitamnya.

“Mau kemana ?” tanya Yuna.

“Menurut kakak ?” Yugi balik bertanya tidak langsung menjawab pertanyaan kakaknya.

“Kamu... punya pacar ?” Yuna menebak-nebak. Yuna baru ingat bahwa hari ini adalah malam minggu. Yugi tidak pernah lagi banyak bercerita pada Yuna tentang apapun semenjak Yuna sibuk dengan pekerjaannya menjadi asisten detektif. Yugi menahan tawanya yang akan meledak.

“Aku belum bisa menemukan wanita sebaik Ibu dan kakak. Kalau sudah kutemukan pasti langsung kulamar. Tidak boleh membiarkan wanita baik-baik berlama-lama sendiri. Iya, kan.” Yugi merapikan penampilannya dan memerbaiki gaya rambutnya. Ia terlihat tampan. Dari mata, hidung, dan bentuk wajahnya yang tirus.

“Kamu sedang menyindirku ?” Yuna duduk didepan telefisi dan meraih remout di meja.

“Kakak ini sensitif sekali,” Yugi melihat jam tangannya kemudian pamit.

Yuna menghela nafas. Kini ia hanya sendiri saja di rumah. Ibunya pergi pengajian rutin seminggu sekali dan belum pulang. Sebenarnya hari ini melelahkan, tapi ia ingin segera bisa menemukan kepastian dari perasaannya. Yuna mengerti ia tidak mungkin memilih setelah mengatakan hal seperti itu pada Duge. Tapi paling tidak ia bisa memberi kepastian pada dirinya sendiri. Lama Yuna terdiam menatap datar layar telefisi, ponselnya berdering.

Dengan mengenakan sweater dan celana training, Yuna berjalan disepanjang trotoar. Setelah melewati persimpangan, Yuna sampai pada warung sate di pinggir jalan. Di tempat itu, Afifa telah menunggu. Afifa menawarkan seporsi sate pada Yuna, namun Yuna menggeleng dan memesan minum saja. Di tempat duduk lain ada sepasang muda-mudi yang juga menikmati santap satenya sambil mengobrol ringan, selain itu seorang pemuda yang sepertinya baru pulang kerja juga menikmati makan malamnya. Sambil makan, Afifa mendengar cerita Yuna mengenai pertemuannya dengan Ozi dan dilema apa yang tengah dirasakannya. Setelah menyelesaikan ceritanya, Yuna menyeruput es jeruk yang ada didepannya. Lega. Apa yang ingin ia ceritakan telah dikeluarkan semuanya.

“Hmmm…” Afifa bergaya seolah seorang psikolog yang sedang menerima konsultasi dari pasiennya. Afifa menghabiskan makanan di mulutnya sebelum ia memberi komentar. “Menurutku sih, kamu sedang mengalami masa transisi.”
Yuna mengerutkan keningnya tidak mengerti. Apa masalah perasaan juga ada masa transisinya, ia tidak pernah mengerti mengenai itu. “Ada dua hal, kamu hanya goyah atau telah berpaling seutuhnya.”

“Jadi bagaimana aku bisa tahu ada diposisi mana aku ?” Yuna bersiap menyimak dengan baik penuturan dari temannya itu. Afifa menyuap satenya sambil berpikir.

“Hanya kamu yang tahu. Coba perbandingkan, siapa yang lebih sering muncul dalam pikiranmu, siapa yang lebih tidak ingin kamu sakiti perasaannya,” Afifa memberi saran. Perasaan adalah hal yang cukup rumit. Meskipun itu pemiliknya sendiri tidak ada jaminan akan bisa dimengerti sepenuhnya.

“Kak Duge sangat baik, kupikir itu sebabnya saat aku bersama Ozi aku selalu mengingat kak Duge dan merasa bersalah,” Yuna mengutarakan apa yang dirasakannya.

Afifa hanya terdiam. Menurutnya alasan yang Yuna utarakan belum bisa menjadi patokan ada diposisi mana Yuna saat ini. Harus ada sesuatu yang lebih spesifik lagi.
¤¤------------¤¤------------¤¤-------------¤¤-----------¤¤------------¤¤
Keesokan harinya, Dalili meminta bantuan Yuna agar mau menemaninya menjenguk Ari Adrian dalam sel. Yuna setuju dan bersama-sama mereka menjenguk Ari Adrian. Sebenarnya hari ini ada reunian di SMA. Semalam Yugi baru memberikan undangannya. Ia lupa karena melihat kakaknya akhir-akhir ini sangat sibuk. Sebenarnya Yugi ditunjuk sebagai salah satu panitia dan semalam ia ke sekolah untuk mengurus beberapa hal yang belum selesai.

Dalili membawakan majalah yang berisi cerpen tulisannya yang baru dimuat. Ceritanya mengenai seorang anak yang saat kecil diberi label sebagai pencuri karena saat melakukan aksinya pertama kali ia ketahuan. Meski sudah tidak pernah lagi mencuri, lingkungan tetap menganggapnya sebagai pencuri. Sampai akhirnya Ayahnya meninggal dan anak itu berhenti sekolah, ia memutuskan untuk benar-benar menjadi pencopet ulung untuk memenuhi kebutuhan perutnya dan sang Ibu. Konflik diakhiri saat Ibunya tahu apa yang dikerjakan anaknya dan memarahinya habis-habisan, bahkan juga sampai memukulnya. Tapi anak itu membela diri dengan berbagai macam alasan, ‘toh orang-orang sudah menganggapnya sebagai seorang pencuri’. Tapi sang Ibu berkata dengan tegasnya “siapapun boleh menjadi hama, tapi ini kehidupan. Terinfeksi atau tidak kita yang memutuskannya.”

“Kenapa, apa ada hal yang kamu pikirkan ?” Dalili bertanya karena melihat Yuna sepertinya tidak tenang. Mereka telah selesai menjenguk Ari Adrian dan kini duduk di sebuah café untuk menyegarkan tenggorokan.

“Sebenarnya hari ini aku ada reunian,” Yuna mulai menjelaskan.

“Apa, jadi aku menganggu waktumu ?” Dalili merasa tidak enak hati.

“Tidak, tidak. Bukan begitu,” Yuna segera menimpali. “Sebenarnya akan menyenangkan bertemu dengan teman-teman lama. Tapi, entah kenapa rasanya ada yang berat.” Yuna menceritakan bagaimana situasinya namun bingung memilih kata.

“Pergilah, dengan begitu Yuna akan bisa memastikan keraguan yang sedang memberatkan hatimu. Jika dihindari tidak akan menyelesaikan apapun. Yang ada hanya akan semakin diberatkan oleh keragu-raguan. Itu akan sangat menyiksa.”
Akhirnya Yuna setuju dengan saran Dalili untuk pergi ke sekolah. Yuna mulai memasuki pekarangan sekolah yang sepi. Hanya parkiran yang nampak padat dengan kendaraan-kendaraan, sementara semua orang tengah berkumpul di aula. Yuna melangkahkan kakinya. Ia tidak sedang menuju ke aula tempat dimana semua teman-teman alumni berkumpul. Yuna memilih mengelilingi sekolah saja. Toh ia juga sudah sangat terlambat. Beberapa hal sudah banyak yang berubah, terutama cat tembok dan penempatan tanaman dibeberapa halaman kosong. Sekolah kini terlihat lebih asri dibanding saat terakhir kali Yuna berkunjung. Kolam didepan ruang guru juga lebih terlihat menarik dengan gaya baru. Kenangan tentang masa putih abu-abu yang menyenangkan pun memenuhi benak Yuna sehingga ia senyum-senyum sendiri ketika melewati setiap kooridor. Yuna tiba di kelas XI IPA 1, ruangan yang pernah menjadi kelasnya. Pintu ruangan itu sedikit terbuka.

Didalam kelas seseorang dengan pakaian putih abu-abu menoleh kearah Yuna sambil tersenyum. Senyumnya terlihat sangat manis karena tulus. Orang itu adalah Ozi. Ia berdiri di deretan kursi yang dulu adalah tempatnya duduk. Yuna selalu merasa senang ketika melihat Ozi tersenyum. Semua beban seakan terangkat semua. Orang itu seperti selalu bisa menularkan energi kebahagian kepada siapapun yang ada disekitarnya. Yuna membalas dengan senyum kemudian gambaran tentang Ozi menghilang. Yuna sadar kalau kemunculan Ozi itu hanya ilusinya semata. Yuna masuk dan duduk di bangku yang dulu ia tempati. Baris ketiga dari pintu, dan dideretan kedua dari depan. Yuna menarik nafas kemudian menghidupkan imajinasinya tentang bagaimana suasana didalam kelas saat itu.

Didepannya duduk bendahara dan ketua kelas. Kemudian Yuna dan teman sebangkunya yang tidak terlalu dekat. Yuna justru lebih dekat dengan tetangga di belakang tempat duduknya, Hasni dan Vemi. Kemudian di belakang Hasni dan Vemi duduk Yugi dan teman sebangkunya. Ozi duduk dibaris kedua dari pintu deretan paling belakang. Semua teman-teman sekelas Yuna dan bagaimana keadaan kelas saat itu muncul satu persatu. Kelas yang bersih dengan suasana putih, white board, beberapa tempelan poster tentang struktur tubuh manusia di tembok belakang, struktur kepengurusan kelas yang tertempel di samping white board. Tidak lupa Yuna juga membayangkan seorang guru yang sedang mengajar. Bu siti. Yuna sangat mengingat bagaimana karakter gurunya yang satu itu. Guru yang sangat tegas dan disiplin. Paling tidak suka jika saat jam pelajarannya ada anak didiknya yang memotong penjelasannya untuk izin ke toilet atau apapun itu.

Yuna merasa semua yang ada disekitar hidup dan nyata. Ketika ia menoleh kebelakang Hasni dan Vemi tersenyum padanya, bagaimana suara Bu Siti yang jelas dan keras sedang menerangkan materi tentang listrik statis. Ketika Yuna mengarahkan pandangannya ke pintu masuk, seorang terlihat baru datang. Ozi. Yuna menoleh ke tempat dimana orang itu seharusnya duduk dan sosok itu memang tidak ada ditempatnya. Ozi masuk dan melempar senyum entah kepada siapa karena anak itu memang sangat suka tersenyum. Ingatan Yuna yang sangat tajam memberi sinyal bahwa kejadian ini memang pernah ia alami, pada jam pelajaran yang sama. Saat itu meski Ozi telah sebulan menjadi penghuni baru di sekolah, itulah pertama kalinya Yuna tiba-tiba saja begitu terpanya ketika melihat Ozi tersenyum. Yuna baru sadar  selebar apa jika Ozi tertawa dan semanis apa saat tersenyum. Mata Yuna masih terus mengikuti kemana Ozi melangkah. Waktu seakan berjalan lambat. Hanya ada dia dan orang yang dipandanginya yang berada diruang yang tidak dikuasai oleh waktu. Semua orang disekelilingnya serentak menghilang dengan teratur, seperti ketika api membakar sebuah kertas dari berbagai arah. Kertas itu tidak lebur, berupa abu yang masih pada bentuknya namun tidak pula berwarna seperti abu kebanyakan. Melainkan berwarna kecoklatan layaknya dedaunan yang kering. Yuna mengalihkan pandangannya sesaat, berpikir apa yang sedang dilakukannya saat ini. Sama persis seperti apa yang ia lakukan dulu. Mengalikan pandangannya sesaat membuat Yuna tersadar sesuatu. Ozi, tidak mengenakan seragam sekolah. Ozi mengenakan kemeja kain licin gelap, dipadukan dengan jeans dan sepatu santai.

Begitu terpananya melihatku, apa aku telah menjadi terlalu keren ?” Ozi berkata masih belum berhenti tersenyum. Yuna masih saja bengong, sampai akhirnya ia sadar bahwa Ozi yang ia lihat kali ini bukanlah sekedar imajinasinya semata.

“Astaghfirullah hal’azim,” Yuna mengucap istighfar sambil mengusap wajahnya dengan kedua teapak tangannya. “Sedang apa kamu disini, bukannya semua orang sedang di aula ?” tambah Yuna mengajukan pertanyaan dan mengabaikan begitu saja pernyataan Ozi yang narsis tentang dirinya.

“Bagaimana denganmu sendiri ?” Ozi duduk di kursi sebelah kanan Yuna. “Datang terlambat bukannya langsung ke aula malah keluyuran kesini.” Ozi membalas kata-kata Yuna tidak mau kalah.
Yuna tidak menanggapi. Ia hanya diam memanyunkan bibirnya. Yuna menghela nafas kemudian berdiri dari tempat duduknya menuju papan tulis. Yuna menempelkan jarinya di papan dan menulis namanya.

“Yuna.”

“Hmm,” Yuna menoleh pada Ozi.

“Kapan kamu akan mengatakannya ?” kalimat Laila mengiang begitu jelas di telinga Ozi. Pembicaraan dengan kakanya semalam. “Kamu harus segera mengatakannya karena kita harus menyusul Ayah dan Ibu secepatnya untuk pengobatanmu.”

“Apa tidak bisa ditunda seminggu saja ?” Ozi mengajukan penawaran. Ia akhirnya bisa melihat gadis yang sangat dirindukannya namun harus meninggalkannya lagi dengan segera. Hal itu merupakan pilihan yang berat untuknya. Apa lagi malam itu Ozi melihatnya. Ozi tanpa sengaja melihat Yuna dan Duge di parkiran ketika Yuna hendak pulang. Ketika itu Ozi ingin meminta nomor ponsel Yuna dan meminta Yuna menghubunginya setelah sampai di rumah. Memang hanya alasan karena sebenarnya ia bisa menanyakan nomor ponsel Yuna dari kakaknya. Tapi karena itulah Ozi bisa melihat sekaligus mendengarkan hal yang begitu menyesakkan untuknya. Tentang Yuna yang menyimpan jam pemberian Duge dan mengembalikannya, tentang kalimat Yuna bahwa ia merasa bersalah pada Duge yang meski Yuna sendiri tidak mengakui itu dengan jelas, dan juga tentang hal yang paling tidak bisa Ozi lupakan yakni pernyataan cinta Duge. Ketika itu Ozi tidak sempat mendengar apa jawaban Yuna karena tiba-tiba saja ponselnya berdering. Panggilan dari Ibunya yang tidak mungkin ia abaikan. Meski tidak mendengar apa jawaban pernyataan cinta Duge, namun Ozi percaya pada Yuna. Sangat memercayainya bahwa perasaan mereka masih sama. Percaya bukan berarti tidak ada ketakutan dalam hatinya. Ozi sangat tahu sudah berapa lama Duge menyimpan perasaan sukanya pada Yuna. Karena itulah Ozi ingin bertahan sebentar lagi agar bisa tetap bersama Yuna.

“Hei, kamu pikir kamu siapa ?” sengit kakaknya. “Yang membutuhkan dokter itu kamu. Kamu pikir dokter akan dengan senang hati menunggumu dan mengabaikan pasien-pasiennya yang lain ?” jawaban dari kakaknya itu menyatakan sudah tidak ada tawar-menawar lagi. Ozi sangat ingin sembuh, oleh karena itulah ia harus pergi. Sembuh agar bisa terus bersama semua orang yang ia sayangi.

“Begitu terpananya melihatku apa aku telah menjadi terlalu keren ?” Yuna mengembalikan kata-kata Ozi diawal dengan gaya bicara Ozi.

“Wah, itukan kalimatku.”

“Wah itukan kalimatku,” Yuna mengulang dengan mencontoh gaya bicara Ozi. Yuna tersenyum senang karena merasa ia sudah menang. Ozi diam menatap Yuna sambil berpikir. Perlahan reaksinya berubah menjadi serius.

“Yuna dengarkan ini baik-baik.”

“Yuna dengarkan ini baik-baik,” Yuna masih saja mengembalikan kalimat Ozi.
Ozi terdiam dengan reaksi seriusnya. Ozi bangkit dari duduknya. Ia berjalan mendekat sambil menatap Yuna lekat. Pada jarak 50 cm ia berhenti untuk melanjutkan kalimatnya. “Aku tidak ingin kehilanganmu lagi, menikahlah denganku.”

Mata Yuna melebar seketika. Ia terdiam beberapa menit dan menyadari betapa sunyinya kelas tanpa satupun dari mereka mengeluarkan suara. Mata Yuna kemana-mana, sedang berpikir, menikmati bagaimana perasaannya saat ini. Sementara Ozi masih berdiri ditempatnya, menatap Yuna lekat menunggu jawaban. Masih tak ada suara apapun, Yuna tersenyum.

“Wah,” Yuna menggunakan cara Ozi berbicara. “Keterlaluan sekali memermainkanku dengan cara seperti ini.” Yuna perhatikan Ozi namun reaksinya tetap tidak berubah. Ini berarti Ozi benar-benar melamarnya. Tiba-tiba saja jantung Yuna berdetak dengan cepatnya. Pelbagai perasaan datang dengan begitu menumpuknya memenuhi dada Yuna. Semua perasaan itu bercampur aduk dibuatnya, bahkan Yuna sendiri tidak tahu bagaimana menggambarkan apa yang sedang dirasakannya. Sama sekali tidak ada dalam benaknya Ozi akan melamarnya dalam waktu yang begitu cepat setelah sekian lama mereka tidak bertemu. Padahal ini baru pertemuan kedua mereka. Ozi terkesan terlalu terburu-baru. Dilamar orang yang disukai tentu saja sangat menyenangkan. Meski sama sekali tidak romantis seperti apa yang sering ditampilkan di sinetron-sinetron atau FTV. Tidak ada cincin dan bukan pada waktu malam hari yang romantis. Yuna memang tidak benar-benar pernah membayangkan dirinya akan dilamar seperti apa yang ada di sinetron atau FTV, kecuali saat Yuna menontonnya. Tapi siang-siang, dalam ruangan yang dipenuhi banyak kenangan semasa sekolah seperti ini dan tiba-tiba saja Ozi mengajaknya menikah, bagaimana bisa. Dan lagi kalau dihitung-hitung ini baru menit kedua puluh satu selama mereka bersama didalam kelas.

Ozi sendiri sebenarnya sama sekali tidak merencanakan melamar Yuna saat ini, namun ia yang tiba-tiba terpikirkan hal itu dan langsung saja mengeluarkan kalimatnya tanpa pertimbangan atau memikirkannya kembali.

“Yuna.”

“Yunaaaa…”
Suara Ozi teredam oleh suara seseorang yang terdengar lebih melengking saking girangnya. Orang itu langsung memburu memeluk Yuna. Seseorang lagi yang juga ikut mengekor tanpa berkata apapun. Keduanya kini memeluk Yuna. Vemi dan Hasni.

Yuna sendiri merasa sangat senang bisa bertemu lagi dengan keduanya temannya. Hasni dan Vemi kuliah di luar kota itulah mengapa mereka lama tidak bertemu. Pulang pun sangat jarang meski sedang libur. Terakhir kali bertemu saat bulan puasa tahun lalu.

“Ayo kita cari tempat yang ada makanannya untuk ngobrol,” Vemi berkata dengan antusiasnya.

“Kamu ini,” Hasni berkomentar. “Padahal hampir dua kotak kue kamu makan masih saja mencari makan.” Yang lain tertawa kecil.

“Apa acara di aula sudah selesai ?” tanya Yuna karena melihat Hasni dan Vemi telah berada di luar. Keduanya mengangguk bersamaan. Karena semua telah sepakat, mereka pun memutuskan untuk pergi.
Ketika keluar kelas, barulah terlihat seberapa banyaknya orang yang tadi berkumpul di aula. Mereka berpencar bersama beberapa orang. Sedang melihat-lihat dan bernostalgia, sambil berpikir telah berubah sejauh apa sekolah mereka dulu. Reunian yang didatangi oleh lima angkatan ternyata cukup sukses karena presentase yang tidak hadir sebab berhalangan jumlahnya tidak begitu banyak. Panitia telah bekerja dengan sangat baik menyebar informasi dan undangan untuk para alumni.

Sebelum keempatnya benar-benar pergi, mereka berhenti dulu beberapa kali untuk menyapa guru dan teman-teman yang lain. Reuni merupakan ladang yang tepat agar tali silaturahmi antar sesama lulusan dan guru-guru yang telah banyak memberi kontribusi dalam mengisi ilmu-ilmu yang positif tidak benar-benar terputus. Setelah lulus dari sekolah barulah merasakan bahwa apa yang dulu guru-guru selalu teriakkan di telinga mereka tentang disiplin, tentang kejujuran yang dianggap remeh, benar-benar sangat berguna untuk kehidupan bermasyarakat. Begitupun dengan ilmu-ilmu pelajaran sekolah yang dahulu ogah-ogahan diikuti kini sangat dibutuhkan. Penyesalan memang selalu berada dibelakang. Mereka yang telah lulus dari SMA, yang dahulu tidak memanfaatkan masa sekolahnya dengan baik dan hanya bolos juga suka tidur dikelas, meremehkan pelajaran kini tidak menghasilkan apapun. Waktu tidak akan kembali lagi untuk menebus masa-masa itu. Yang ada kini masanya memanen apa yang telah dituai.

“Hei, kalian mau pergi tidak mengajak kami ?” Yugi datang bersama Duge ketika semua bersiap-siap lepas landas.

“Yugi, kak Duge,” Vemi menyapa.

“Yugi, bukannya kamu panitia. Apa tidak apa-apa kamu kabur lebih dulu ?” Hasni bertanya karena nampaknya panitia yang lain masih belum satupun yang beranjak dari sekolah. Itu terlihat jelas dari warna kemeja mereka yang seragam dan bad yang tergantung di leher.

“Ah tidak apa-apa. Semalam aku ngelembur hanya dengan dua orang di sekolah. Mereka tidak akan memermasalahkan ini,” jawab Yugi santai.

“Ozi bagaimana keadaanmu ?” Duge menyapa Ozi lebih dulu.

“Lebih baik dari perkiraanmu,” Ozi menjawab dengan sinis. Hubungan keduanya masih sama buruknya dengan saat sekolah. Biasanya memang Ozi yang suka memulai pertengkaran kecil lebih dulu. Ini dimulai ketika Duge tidak biasanya menjadi sering ikut berkumpul bersama Yuna dan yang lainnya ketika Ozi sedang mengalami sedikit masalah dengan Yuna dan Yugi. Keduanya memerlihatkan dengan jelas ketidak cocokan mereka. Setelah lama tidak bertemu ketidak cocokan keduanya tetap terlihat sama.

Mereka menuju sebuah rumah makan Padang dengan kendaraan masing-masing. Makanan padang sudah sangat terkenal dan cocok disemua lidah orang Indonesia. Meski ada banyak makanan khas Indonesia di warung-warung makan, masakan Padang tetap merupakan favorit kebanyakan orang. Karena itulah masakan Padang bisa ditemukan di kota manapun di luar Sumatera. Dengan nasi putih, sambel cabai merah dan hijau, dipadukan dengan lalapan daun singkong, sayur nangka muda dan lauk beraneka pilihan; ayam goreng, rendang ataupun ikan. Semua menjadi satu hidangan yang menggugah selera.

“Ngomong-ngomong siapa yang akan mentraktir ?” Yugi menjadi yang pertama membuka percakapan setelah memesan makanan.

“Anak kuliahan lagi boke, mending yang sudah kerja saja,” Hasni menimpali cepat.

“Setuju,” Vemi sependapat dengan Hasni.

“Kalau begitu bapak detektif saja,” Ozi memberi saran. “Dengar-dengar satu kasus besar berhasil dipecahkannya lagi. Itung-itungkan sekalian syukuran,” tambahnya.

“Setuju,” Yugi, Hasni, dan Vemi berteriak serempak. Hanya Yuna yang tidak terdengar suaranya.

“Boleh. Aku lebih baik hati dibanding seseorang yang baru muncul setelah sekian lama dan menghilang tanpa kabar,” Duge tidak keberatan namun menyindir Ozi.

“Benar,” Vemi menyahut. “Kemana saja kamu selama ini ? mendadak hilang dan tidak pernah muncul, membuat seseorang sangat cemas. Kupikir kamu sudah tidak akan pernah muncul lagi. Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan Yuna selama ini,” Vemi terus saja berbicara meski Hasni sudah menyenggolnya sebagai peringatan agar Vemi berhenti berbicara dan tidak lagi membahas masalah itu. Vemi masih sama tidak pekanya seperti dulu jika itu mengenai masalah perasaan temannya sendiri.

Penampilan Vemi yang paling terlihat berubah adalah berat badannya. Vemi kini lebih gemuk. Padahal dulu ia sangat kesusahan untuk menaikkan berat badannya. Beberapa macam obat-obatan dan susu penambah berat badan telah dicobanya, namun hanya menimbulkan efek sesaat.

“Apa kamu sangat suka melihatku menghilang, hah ?” sengit Ozi. Ia mengenal Vemi cukup baik saat di sekolah jadi Ozi tahu benar bahwa Vemi tidak benar-benar selalu serius dengan apa yang dikatakannya.

“Aku tidak sejahat itu. Aku hanya penasaran saja,” sunggut Vemi.

“Sudah-sudah,” Hasni menengahi. Penampilan Hasni masih sama seperti dulu, kecuali kaca mata yang bertengger di wajahnya. Saat masih di SMA Hasni hanya menggunakan kaca mata pada jam pelajaran. Jika sekarang ia mengenakan kaca mata setiap saat itu berarti minus matanya telah bertambah. “Yuna saja tidak membahas itu, jadi kenapa kamu yang harus repot-repot.”

“Kitakan temannya. Jadi sebagai teman yang sangat mengerti bagaimana perasaan Yuna kita harus menuntut penjelasan,” Vemi membeladiri.

“Hei-hei, kenapa sekarang jadi kalian yang berdebat,” kali ini Yuna yang menengahi.

Mereka mengalihkan pembicaraan ke hal-hal lain yang lebih ringan mengenai siapa-siapa saja teman sekelas yang sudah menikah dan yang sudah memiliki anak. Ketika makanan datang mereka sibuk dengan pesanan masing-masing dan hanya sesekali saja mengeluarkan suara.

“Yuna, sekarang kamu jadi penyuka makanan pedas ? sepertinya kita sama,” Ozi berkomentar.

“Tentu saja. Sekarang Yuna lebih berani mencoba makanan pedas jika dulu ia hanya sedikit-sedikit,” Duge menyahut.

“Sok tahu,” Ozi menatap Duge sinis. Dari yang lainnya, hanya Ozi yang tidak pernah memanggil Duge dengan sebutan kakak meski Duge lebih tua darinya. Bagi Ozi, Kakak adalah panggilan untuk seseorang yang lebih harus ia hormati dan itu tidak berlaku pada Duge.

“Tentu saja aku tahu, akukan bosnya,” Duge membalas tatapan sinis Ozi. Duge dan Ozi yang duduk bersebrangan saling menatap sinis. Kali ini Dugelah yang terkesan suka memancing Ozi dan memulai perselisihan mereka.

“Itu tidak berarti kau tahu banyak hal tentang Yuna,” Ozi menaikkan sebelah alisnya. Nampak ia mulai kesal.

“Tentu saja aku tahu banyak, karena selama beberapa tahun ini aku yang selalu berada disampingnya.”

“Heh,” Yuna yang kesal dengan tingkah keduanya memekik. “Kalian berdua ini kekanak-kanakan sekali. Jangan berbicara ketika makan !” tambahnya mendelik.

“Wah, kakaku yang manis berubah galak,” goda Yugi setelah menyuap rendangnya.

“Kubilang jangan berbicara ketika makan,” Yuna menatap sinis kearah adiknya. Hasni dan Vemi hanya senyum-senyum sementara semua kembali fokus untuk mengahabiskan makanan masing-masing.

Setelah selesai makanan, mereka jalan-jalan ke taman tempat acara perpisahan dengan Ozi terakhir kali bersama teman-teman. Vemi banyak sekali berkomentar tentang taman yang tidak ada perubahan sama sekali. Vemi menuding pemerintah mengabaikan pengelolaan taman kota. Banyak sampah yang terlihat menumpuk dibeberapa tempat.

“Kalau masalah sampah jangan salahkan pemerintahnya, tapi juga pengunjungnya,” Yugi berkomentar. “Bukankah pemerintah sudah menyediakan fasilitas berupa tempat sampah. Sebagai pengunjung seharusnya semua orang ikut merawat .”

Masalah sampah memang menjadi pembahasan yang tidak ada habisnya di negri ini. Negri yang mayoritas penduduknya beragama muslim yang mereka sendiri tahu bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Islam memang sangat mengutamakan kebersihan. Jika penduduk mayoritas islam namun sampah masih menumpuk dimana-mana, mungkin perlu dipikirkan lagi bagaimana islam yang sebenarnya melanda negara ini.

Jika dipikir-pikir sebenarnya sampah adalah hal kecil yang tidak membutuhkan tenaga yang besar atau bantuan orang banyak untuk mengatasinya. Hanya sebuah kesadaran. Kesadaran bahwa tempat sampah disediakan untuk menampung sampah. Bayangkan jika tubuh manusia dipenuhi sampah tanpa adanya tempat pembuangan. Bisa dipastikan umurnya akan lebih singkat. Bumi ini sudah sangat menderita dengan ulah tangan-tangan tidak bertanggung jawab yang hanya mengeruk hasil bumi, dan menghabisi jantung bumi hingga hilang kesejukannya, jadi cukuplah sudah itu. Jangan lagi membuatnya sesak dengan masalah sampah.

“Aku mau cari minum,” Yugi pergi ke sebuah toko kecil di seberang jalan.

“Hasni temani aku ke toilet,” Vemi menarik tangan Hasni tanpa mendengar persetujuannya terlebih dahulu.

Yuna yang menyadari sesuatu yang tidak enak akan terjadi jika mereka ditinggalkan bertiga, segera berlari menyusul Hasni dan Vemi. Hasni dan Vemi berada di dalam toilet sementara Yuna menunggu diluar. Dari awal ia memang tidak hendak membuang apapun. Yuna diluar berteduh disebuah pohon yang tidak terlalu besar sambil menunggu kedua temannya selesai. Ketika ia sendirian itulah Ozi datang.

“Sudah kuduga kamu kesini pasti hanya karena ingin menghindar berada di antara aku dan Duge,” Ozi menyindir Yuna yang berjongkok tidak jelas dan hanya mencabut-cabuti rumput yang sudah mulai kecoklatan.

“Kenapa harus menghindar ? Akukan tidak punya salah apa-apa pada kalian,” Yuna mengelak. “Bagaimana denganmu, sengaja kesini hanya untuk mengikutiku,” tambah Yuna.

“Bukankah dari dulu aku memang suka mengikutimu,” jawab Ozi mengakui perbuatannya. Saat masih satu sekolah Ozi memang selalu terlihat dimanapun Yuna berada. Kelakuannya itu ia tunjukkan dengan terang-terangan membuat Yuna merasa risih. Dulu Ozi tidak pernah mengakuinya sama sekali. Alasan yang selalu diungkapkannya adalah ‘kebetulan, hanya kebetulan bertemu di tempat yang sama atau aku hanya kebetulan lewat.’

“Sekarang baru mengaku padahal dulu selalu mencari-cari alasan agar bisa menyebutnya kebetulan,” sunggut Yuna. “Kasihan kak Duge sendirian. Sana temani dia.”

“Apa Duge anak kecil yang akan hilang jika ditinggal sendiri,” Ozi berkata dengan ketusnya karena Yuna menghawatirkan Duge. “Yuna… aku benar-benar harus pergi. Jadi ikutlah denganku,” Ozi mengalihkan pembahasan. Hal yang memang sangat ingin ia katakan pada Yuna.

Hasni dan Vemi yang hendak keluar, masuk kembali begitu melihat Ozi sedang berbicara dengan Yuna. Meski sangat tidak menyenangkan terkurung dalam toilet dalam waktu yang lama, mereka mencoba mengerti dan memberi waktu Ozi untuk berbicara dengan Yuna.

“Lagi ?” suara Yuna terdengar kecewa.

“Aku ingin sembuh karena itulah aku harus pergi. Mungkin harus berbulan-bulan bahkan setahun agar aku bisa benar-benar sembuh. Maka dari itu ikutlah denganku,” Ozi mengatakan alasannya. Ia sendiri sama kecewanya karena harus pergi lagi padahal belum lama mereka akhirnya bisa bertemu. Ozi memerhatikan Yuna yang hanya terdiam menatap datar rerumputan didepannya yang tidak tinggi. Suara angin sempat mengisi kekosongan diam keduannya.

“Aku tidak bisa. Aku juga punya kehidupan. Aku punya ibuku yang harus kujaga,” jawab Yuna setelah berpikir. “Bukankah… kamu… telah bisa melewati hari-hari dimana kamu begitu merindukanku sampai rasanya tidak bisa bernafas. Lakukan itu sedikit lagi.”

Ozi sangat kecewa karena Yuna menolaknya. Tapi Yuna benar. Yuna juga memiliki kehidupan yang harus ia jalani. Akan sangat egois jika hanya memikirkan perasaanya sendiri. Ozi menghela nafas.

“Bagaimana kalau aku tidak bisa kembali dan mati disana ?” Ozi membuat pengandaian yang sangat menyakitkan bagi Yuna mendengar itu. Yuna tidak menyangka Ozi tega mengatakan hal seperti itu padanya. Tidakkah Ozi merasakan apa yang Yuna rasakan. Mata Yuna mulai berkaca-kaca. Mendengar Ozi yang mengucapkannya sendiri dihadapannya membuat Yuna kesal. Berkata ingin sembuh namun disisi lain justru mengatakan tentang kematian juga.

“Jika itu terjadi… aku tidak akan memaafkanmu. Tidak akan pernah,” ucap Yuna dibarengi tetesan airmata yang mengalir membasahi kedua pipinya. Kesedihan yang sudah sendari tadi ia coba untuk menahannya, akhirnya gagal juga. Keduanya terdiam lagi sesaat, hanya tatapan merek yang bertemu.

“Aku lega mendengarnya,” ucap Ozi tersenyum senang. “Dengan begitu aku jadi sangat yakin kalau Yuna juga begitu menyukaiku.” Ozi masih tersenyum namun begitu melihat ekspresi Yuna berubah, Ozi langsung merapatkan bibirnya. Tak ada lagi senyum yang terlihat kini.

“Untuk membuatmu mendengar kalimatku apakah harus dengan membuat pengandaian bodoh seperti itu ?” Yuna yang kesal membuka sepatunya dan memukulkannya pada Ozi. Ozi sudah berusaha menghindar namun Yuna masih saja bisa menjangkaunya. Tidak puas hanya mengenainya beberapa kali, Yuna terus memukul.

“Aku tidak bermaksud membuatmu sedih, maafkan aku,” seru Ozi namun Yuna tetap tidak berhenti memukul Ozi dengan sepatunya.

Yuna, Ozi, dan yang lainnya kembali ke tempat Duge menunggu tapi yang ada ditempat itu justru Afifa. Afifa mengatakan bahwa Duge harus pergi karena ada panggilan mendadak. Yuna memerkenalkan Afifa pada teman-temannya. Afifa datang ke taman sengaja karena ia ingin menlihat langsung bagaimana rupa orang yang selama ini membuat Yuna menunggu.

“Kalau dilihat-lihat kak Duge sebenarnya lebih baik,” Afifa langsung berkomentar ketika ia sudah mendapat penilaian tentang bagaimana sifat Ozi menurut kacamatanya.

“Apa ?!” Ozi memekik tidak terima. Dikatakan ia kalah dari Duge adalah hal yang paling tidak bisa diterima olehnya. Baginya Duge hanyalah orang yang sok dewasa dan sok keren. Ia jauh lebih apa adanya dan lebih tampan. Ozi menyebutkan semua kejelekan Duge yang sangat diingatnya sewaktu sekolah. Tentang betapa sombong dan sok berkuasanya Duge. Afifa yang berada dipihak Duge membelanya dengan mengatakan semua itu hanyalah masalalu dan sekarang Duge tumbuh dengan baik. Dewasa dan keren. Duge juga pengertian dan sikapnya selalu manis.

“Tapi biar bagaimanapun pria-pria badboy seperti dirimulah yang selalu bisa memenangkan hati para gadis seperti dalam drama percintaan pada umumnya,” Afifa masih saja tidak berhenti memojokkan Ozi. Vemi berada dipihak Afifa. Keduanya kompak menyudutkan Ozi. Kali ini Afifa menemukan orang yang sepemikiran dengannya tentang padangannya terhadap dilema percintaan Yuna. Ozi yang tidak terima diserang terus membeladiri, mengatakan bahwa ia jauh lebih baik dari Duge.

“Lebih baik dari segi apa ?” Afifa bertanya meremehkan.

“Seperti yang kukatakan tadi. Aku lebih apa adanya dan…”

“Apa adanya itu tidak bisa disebut kelebihan, dan tampan itu relatif,” Afifa memotong kalimat Ozi dengan pendapatnya. Tetap tidak percaya bahwa Ozi lebih baik dari Duge. Afifa memang baru bertemu dengan Ozi, namun dari bagaimana Ozi bersikap dan bereaksi terhadap kata-katanya, sudah terlihat bahwa Duge memang lebih baik dari Ozi.

“Aku… kelebihanku karena aku lebih dulu akrab dengan Yuna dan…” Ozi berpikir keras untuk bisa menemukan apa kelebihannya yang menonjol dibanding Duge. Tapi berpikir selama apapun tidak ada yang muncul dalam benaknya, yang menunjukkan bahwa benar dirinya lebih baik dari Duge. Mencari tentang apa saja kelebihannya dibanding Duge malah membuatnya menghitung sebanyak apa kelebihan-kelebihan yang Duge miliki. Dewasa, mapan, baik, tampan, selalu ada untuk Yuna… Memikirkan semua itu membuat Ozi merasa minder dan malu sendiri. Ozi mengendus kesal pada dirinya.

“Sudahlah akui saja,” Vemi menimpali.

“Tidak akan,” tegas Ozi. Meski ia sendiri menyadari begitu banyak kelebihan yang Duge miliki dibanding dirinya, tapi ia yakin ia memiliki sesuatu yang lebih baik dari Duge, hanya saja belum ia temukan itu untuk saat ini. “Bagaimana kalau kita adakan voting saja,” Ozi memberi alternatif terakhir karena ia belum juga bisa menyebutkan apa kelebihan terbaik yang ia miliki.

“Aku berdiri dipihak Afifa sudah jelas memilih kak Duge,” Vemi menjadi yang pertama memberikan suaranya. Afifa tersenyum senang dan menunjukkan dua jari tangannya tanda Duge telah mendapatkan dua suara. Satu Vemi dan satu dirinya sendiri.

“Karena Duge tidak ada disini, aku pilih Ozi sajalah,” Hasni berdiri disamping Ozi karena pilihannya. Ozi tersenyum senang tidak menduga bahwa Hasni berada dipihaknya. Padahal sebelumnya Hasni dan Vemi sangatlah kompak. Ozi memuji Hasni dengan mengatakan bahwa pilihan Hasni adalah pilihan yang cerdas.

“Kalian ini benar-benar kurang kerjaan,” Yuna menggumam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia hanya duduk bertopang dagu sebagai saksi.

Semua mata kini melihat kearah Yugi, karena selain Yuna yang berkedudukan sebagai saksi hanya dia yang belum mengeluarkan suaranya.

“Aku,” kata Yugi tidak menyangka dirinya juga diikut sertakan pada pemilihan yang tidak penting ini. “Aku golput sajalah,” Yugi duduk disamping kakaknya.

“Tidak boleh,” Ozi, Afifa, dan Vemi memekik bersamaan. “Kau harus memilihku. Bukankah kita teman baik,” tambah Ozi meminta dukungan.

“Benarkah ? aku sudah lupa sejak kapan kita berteman baik,” tepis Yugi.
Ozi mengalungkan lengannya di leher Yugi dan terus memengruhi Yugi agar Yugi berdiri dipihaknya. Tetapi Yugi tetap tidak mau memilih siappun karena ia golput.
Dua poin untuk Duge, satu untuk Ozi, dan dua orang golput. Dengan hasil sejelas itu Ozi tetap tidak terima kalau Duge disebut-sebut lebih baik darinya.

Semua akhirnya pulang juga ke rumah masing-masing setelah puas memerdebatkan hal yang sangat tidak penting. Yuna merasa lega karena sekarang ia bisa mengerti bagaimana perasaannya sebenarnya. Saran yang sangat tepat dari Dalili karena menyuruhnya datang dan tidak menghindar. Yuna yakin bahwa perasaannya tentang Duge beberapa waktu lalu hanya  goyah seperti yang Afifa perkirakan. Buktinya ketika Ozi mengatakan ia harus pergi lagi perasaannya berubah kacau tak karuan. Ditambah lagi ketika Ozi mengatakan pengandaian tentang kematian, Yuna benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.

¤¤------------¤¤------------¤¤-------------¤¤-----------¤¤------------¤¤

Setelah satu tahun berlalu, ternyata hari-hari masih tetap terasa sama panjangnya. Banyak hal yang sudah berubah, tapi Yuna tetap sama. Menunggu. Menunggu bisa jadi merupakan keahlian tersembunyi Yuna. Setelah empat tahun dan akhirnya bisa bertemu lagi, harus menambah waktu setahun lagi. Dan meski waktu setahun sudah lewat berbulan-bulan, tetap belum ada kabar yang ia dapatkan. Menunggu bukan hal yang membuat Yuna terbebani, karena ia tahu Ozi sedang berjuang ditempat yang jauh disana. Tidak dapat bertemu dan mereka hanya bisa saling berhubungan melalui panjatan rangkaian doa-doa yang manis. Saling mendoakan dan memohon perlindungan bagi satu sama lain. Yuna ingat dengan sebuah kalimat yang pernah Ozi ucapkan pertama kali sebelum mereka berpisah, tentang jangan pernah berkata tidak jika yakin mereka berdua adalah takdir yang akan menjadi satu suatu saat nanti. ‘Jika kita percayai takdir kita indah, jangan pernah mengatakan tidak. Cukup kita tahu kisah kita akan indah.’ Kalimat itulah yang selalu menjadi penguat Yuna untuk menjaga perasaannya.

“Pegang tanganku kuat-kuat, bantuan akan segera datang,” ucap Yuna menahan rasa sakit tangannya. Yuna sedang menolong seseorang yang berniat bunuh diri dan lompat dari balkon rumahnya yang berlantai tiga. Meski tangannya seperti serasa akan lepas, namun Yuna tetap berusaha menahan rasa sakit itu. Ia masih menggenggam erat tangan nyonya muda itu. Nyonya muda itu bertubuh lebih gemuk dibanding Yuna. Mengetahui Yuna yang setengah mati menahan sakit, nyonya muda itu menangis dan meminta Yuna melepaskan saja tangannya.
“Setelah tanpa perasaan menghabisi nyawa suami anda, sekarang anda mau menghabisi nyawa anda sendiri juga,” kata Yuna terputus-putus.

Tidak lama kemudian bantuan datang. Dibawah, Duge dan beberapa orang menyiapkan sebuah kain tebal yang di pegangi disetiap sisinya untuk menahan tubuh Nyonya muda itu ketika terjatuh. Setelah yakin tangkapan tidak akan meleset, Duge meminta Yuna melepaskan tangannya. –Buk.

Sebenarnya sudah sangat lama Yuna mengatakan berhenti menjadi asisten Duge. Tapi Duge sendiri selalu memiliki alasan agar bisa sering bertemu Yuna. Perasaan Duge belum berubah pada Yuna, hanya saja ia lebih realistis sekarang. Jika ia memaksakan perasaannya Yuna pasti akan menjauhinya dan itu adalah hal yang tidak diinginkannya. Seperti kasus kali ini. Karena yakin pelakunya adalah istri korban, Duge minta bantuan Yuna. Duge yakin jika dengan sesama wanita kasus akan lebih cepat terselesaikan. Korban yang meski telah menikah tetap tidak bisa menghentikan kebiasaannya bergonta-ganti pasangan alias selingkuh. Meski jelas-jelas ketahuan, korban tetap tidak mengaku bahkan tega berbuat kasar pada istrinya. Tidak tahan diperlakukan seperti itulah akhirnya pelaku yang ternyata adalah istri, membunuh korban.
Dugaan awal mengarah pada kasus perampokan, melihat semua barang berharga korban hilang. Dompet, ponsel, dan sebuah kalung yang baru dibeli. Tapi setelah dilakukan penyelidikan ulang ternyata dugaan itu salah. Ketika didalam mobil si istri menemukan nota pembelian kalung dengan harga yang sangat mahal. Kalung permata itu dibeli dengan menggunakan tabungan mereka bersama. Terjadilah perkelahian dalam mobil sebelum akhirnya suami terbunuh.

Mengetahui kebenaran dibelakang bahwa kalung itu dibeli si suami untuk dirinya dan bukan untuk selingkuhan suaminya membuatnya sangat menyesal. Padahal suaminya benar-benar ingin berubahan dan memerbaiki pernikahan mereka lagi. Yang terjadi justru kesalah pahaman sampai akhirnya pembunuhan tanpa rencana itupun dilakukan.

“Bagaimana tanganmu ?” Duge bertanya setelah pelaku berhasil diamankan.

“Tidak apa-apa, sudah diobati,” Yuna berkata yakin. Tangannya diperban dan digantung agar tidak terlalu sering digerakkan dan cepat sembuh. Yuna masih bersantai-santai ketika ia menyadari waktu hampir menunjukkan pukul sembilan, barulah ia gelagapan sendiri. “Gawat aku terlambat ke sekolah,” kata Yuna setengah memekik. Yuna segera mengambil ponselnya dan meminta Yugi datang dan mengantarkannya ke sekolah.

“Biar kuantar,” tawar Duge.

“Tapikan aku sudah menelpon Yugi,” jawab Yuna polos.

“Aku tahu. Maksudku kita sama-sama ke sekolah biar aku yang memberitahu kepala sekolah alasan keterlambatanmu,” jelas Duge. Yuna yang salah paham hanya menunduk malu. Lagi.

Selain sesekali masih membantu Duge menyelesaikan kasus, Yuna juga berprofesi sebagai seorang guru Fisika disalah satu sekolah menengah Atas negri. Yuna masuk dalam jajaran salah satu guru yang paling disukai siswa-siswa disekolahnya. Cara mengajar Yuna tidak terlalu ribet untuk pelajaran semerepotkan fisika. Membuatnya menjadi idola dalam waktu singkat. Jika tugas yang diberinya untuk dikerjakan dirumah, tidak bisa diselesaikan, Yuna akan membagi kelompok-kelompok di kelas agar mereka membahas tugas itu bersama-sama sebelum akhirnya Yuna membahas dipapan. Itulah alasan lain Yuna disukai siswa-siswanya. Karena saat tidak mengerjakan tugas, mereka tidak dihukum.

“Kemana Nino ?” tanya Yuna setelah selesai mengabsen.

“Di UKS, Bu,” jawab siswa perempuan yang duduk di bangku paling depan dan berkedudukan sebagai sekretaris kelas. “Kakinya sakit karena kecelakaan kemarin malam.”

“Inikan bukan pelajaran olahraga,” gumam Yuna. Selain menjadi guru mata pelajaran Fisika, Yuna juga merangkap sebagai wali kelas sehingga ia sangat hapal bagaimana watak siswanya yang satu itu.

Yuna mendatangi Nino di ruang UKS, dan yang dilihatnya disana bukanlah seorang siswa yang sedang berpura-pura sakit dan berbaring, melainkan seorang pemalas yang sedang makan bakso sambil menonton video di ponselnya. Yuna menggeleng-geleng tidak percaya. Siswanya yang satu ini memang selalu ada-ada saja kelakuan anehnya.

“Sepertinya sangat menyenangkan, Ibu juga belum sarapan,” Yuna berbasa-basi sebelum akhirnya menarik telinga Nino. Nino mengaduh, meminta maaf, dan berjanji tidak akan membolos lagi. Tapi janji untuk tidak lagi membolos adalah perkataan yang sering diucapkan Nino namun juga merupakan hal yang paling sering dilanggarnya. “Ayo kembali ke kelas,” perintah Yuna masih tidak melepaskan jewerannya.

“Tapi baksonya belum habis, Bu mubazir,” ucap Nino tidak rela melepaskan mangkok baksonya.

“Ibu akan menungguimu menghabisi baksomu dengan tangan terus menjewermu seperti ini, kamu mau ?” Yuna memberikan penawaran. Nino menggeleng pasrah. Akhirnya ia lepaskan juga mangkok baksonya. Telingannya sudah memerah menahan sakit.

Bagi Yuna, cobaan terbesar menjadi wali kelas adalah Nino. Tidak jarang juga Nino mengajak teman-temannya yang lain untuk mengikuti kelakuan nakalnya di sekolah. Meski sering dihukum dan tidak henti-hentinya Yuna mengomeli dan memberi nasihat, Nino tetap tidak berubah.

Jam sekolah akhirnya berakhir juga. Yuna merasa kembali segar ketika jam pulang datang. Yuna merapikan mejanya. Cukup merepotkan baginya bekerja dengan satu tangan. Apalagi itu tangan kiri. Yuna belum terbiasa tapi ia akan mulai membiasakan diri sampai tangan kanannya sembuh, kira-kira seminggu lagi.

Yuna duduk di parkiran sambil menunggu Yugi menjemput. Mata Yuna menyapu sekelilingnya memerhatikan bagaimana tingkah laku anak didiknya di jam pulang. Bercengkrama dengan teman, ada yang menelpon minta dijemput, ada yang telah naik diangkot, dan lain-lain. Memerhatikan itu membuat Yuna membayangkan lagi masa sekolahnya. Yuna masih memerhatikan sekelilingnya dan tiba-tiba saja matanya menangkap satu sosok yang sangat dikenalnya, Ozi. Mata Yuna terbelalak. Ia masih meyakinkan dirinya bahwa orang disebrang jalan sana adalah Ozi. Belum benar-benar yakin, orang itu beranjak pergi. Yuna menyebrang jalan untuk mengejar dan memastikan apa yang dilihatnya.

Yuna telah cukup jauh meninggalkan sekolah dan kepastian itu belum juga didapatnya. Orang yang Yuna kejar menghilang entah kemana.

“Apa aku telah gila,” Yuna berkata pada dirinya sendiri. “Jika itu benar-benar Ozi tidak mungkin ia pulang tanpa memberitahuku, dan terlebih lagi melakukan ini.” Yuna berjalan gontai kembali ke sekolah. Yuna mengingat lagi sosok yang tadi ia lihat dari kejauhan, orang itu juga menatap kearahnya. Semua serasa begitu nyata, bukan hanya sekedar ilusi. Bahkan saat ia mengedipkan mata, orang yang seperti Ozi itu masih ada, masih berdiri ditempatnya dan memandang kearah Yuna. Yuna menghela nafas. “Hari ini genap setahun enam bulan. Benar aku menyukaimu, tapi tidak sampai mati. Tapi sekarang kenapa rasanya begitu sesak.”
¤¤------------¤¤------------¤¤-------------¤¤-----------¤¤------------¤¤
“Kau ingin meninggalkannya lagi,” sengit Duge setelah menghantamkan satu tinjuannya ke wajah Ozi. Ozi tersengkur di tanah sambil memegangi wajahnya yang mulai melebam. “Terbuat dari apa perasaanmu ? kenapa harus kembali jika untuk meninggalkannya lagi !”

“Aku tahu, aku pantas menerimanya,” jawab Ozi sambil berdiri dari jatuhnya.

Duge semakin berang. Bukan hal itu yang ingin ia dengar dari Ozi, melainkan penjelasan. Penjelasan kenapa begitu tega meninggalkan Yuna lagi. Padahal ia hampir bisa memenangkan hati Yuna. Seandainya saja Ozi kembali lebih lama, sebulan saja. Tapi kini, setelah Yuna menolaknya, ia katakan akan pergi lagi. Akan meninggalkan Yuna lagi. Duge merasa Ozi sedang memermainkannya juga perasaan Yuna. Duge menarik kerah baju Ozi dan hendak menghantamkan lagi tinjunya, namun melihat Ozi tidak membalas, Duge mengurungkan niatnya dan mendorong Ozi.

“Seandainya kamu datang sebulan atau beberapa minggu lagi, aku pasti sudah mengusir bayangmu dalam diri Yuna,” Duge berkata dengan memerlihatkan dengan jelas kesedihannya. Baginya itulah hal yang paling sangat ia sesalkan. Kenapa Ozi harus datang padahal sedikit lagi ia yakin bisa membuat Yuna hanya melihat kearahnya. Kepalan tangan Duge mengenggam erat. Ia benar-benar marah dengan keadaan ini. Ingin rasanya ia memukul Ozi, meluapkan amarahnya hingga sesaknya berkurang.
“Aku benar-benar menyukai Yuna, tulus,” suara Duge mulai bergetar.

“Aku pun begitu,” Ozi berucap. “Aku tidak tahu siapa yang lebih tulus diantara kita. Tapi aku minta maaf karena aku tetap tidak akan menyerahkan Yuna. Selama aku berpisah dengannya empat tahun ini, kamu tidak akan tahu seperti apa rasanya. Aku kembali karena aku menyukainya dan aku memutuskan pergipun karena aku sangat menyukainya. Meskipun aku pergi, aku tetap tidak akan melepaskannya. Aku tidak ingin kehilangan hidupku lagi.”

Duge teringat percakapannya dengan Ozi terakhir kali mereka bertemu. Hari itu, ketika ia tahu Ozi akan meninggalkan Yuna lagi, Duge langsung mendatanginya di tempat tinggal Ozi. Itu satu setengah tahun lalu. Kini, orang yang pernah merasakan bogeman panasnya itu telah berdiri dihadapannya.

“Kakak senior, lakukan dengan baik ya,” Ozi mengomando layaknya seorang mandor kepada pegawainya. Duge hanya mendelik dengan tajam, kemudian melanjutkan pekerjaannya memasang hiasan didinding.

“Kerjakan saja pekerjaanmu sendiri,” Hasni yang memegangi kursi yang dipanjat oleh Duge membalas Ozi. Ozi menyipitkan matanya dan kembali meniup beberapa balon.

Sebuah pesta kejutan tengah dipersiapkan. Pesta untuk menebus hari-hari selama Yuna menunggunya. Duge tidak mengerti kenapa dirinya juga harus dilibatkan untuk masalah ini. Apa mungkin Ozi ingin memamerkan dirinya. Seandainya saja tidak ada hubungannya dengan Yuna, Duge pasti ogah menanggapi permintaan Ozi. Duge masih ingin terus bisa berada disekitar Yuna, meski apa yang dilihatnya nanti pasti akan menyakiti hatinya. Selesai memasang hiasan kertas jagung pada dinding, Duge meneguk minuman pada gelasnya yang tinggal setengah.

“Aku dengar kemarin kamu menampakkan diri didepanYuna, kemudian menghilang. Apa itu benar ?” Vemi keluar dari dapur sambil membawa sepiring semangka. Vemi meletakkannya dengan rapi di meja bersama makanan yang lain. Keahliannya di dapur semakin matang karena sekarang ia memiliki seorang imam yang harus ia layani.

“Apa itu terlihat keren ?” Ozi berkata semudah meniup potongan kecil kapas.

“Keren apanya ?!” Duge, Hasni, dan Vemi memekik bersamaan sehingga membuat Ozi terkejut.

“Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan Yuna apa,” Hasni menambahkan.

“Umur bertambah tua, tapi otak justru malah menyusut,” cibir Duge.

“Keterlaluan,” Vemi yang tidak ingin ketinggalan, menimpali. “ Kak Duge saja bisa mengerti bagaimana perasaan Yuna, tapi kenapa kamu tidak.”

Sebenarnya Ozi ingin membalas dan mengobarkan perang mulut untuk membeladiri, namun Bu Riana keluar. Bu Riana membawa kue tart yang dibawa oleh Ozi. Tidak ingin terlihat buruk dimata calon Ibu mertua, mendadak Ozi berubah kalem. Ia juga menawarkan diri untuk membantu Bu Riana di dapur dan meninggalkan tugasnya. Sebenarnya selain membantu, ada hal yang ingin Ozi katakan kepada Bu Riana. Bu Riana dan Ozi masuk ke dapur, kali ini Yugi yang keluar dengan membawa mampan yang berisi gelas dan ceret berisi minuman manis. Ozi keluar sesaat kemudian dengan senyum yang mengembang begitu lebar di wajahnya. Ia mengambil sesuatu dari ranselnya yang ia letakkan di kamar Yugi.

“Perhatikan ini baik-baik,” Ozi membuka kotak cincinnya di depan Duge. “Setelah malam ini Yuna menerimaku, jangan lagi kau sentuh gadisku,” tegasnya. Duge terlihat sangat terkejut, namun ia bisa segera memulihkan perasaanya. Keduanya saling menatap. Ozi sangat serius dengan kalimatnya dan seketika terlihat begitu dewasa. Duge tersenyum.

“Aku tidak bisa menjamin. Ini adalah kesempatan terakhirmu jadi manfaatkan dengan baik atau kau akan menyesal,” Duge menimpali dengan ekspresi tidak kalah serius dari Ozi.

Ozi tidak memedulikan kata-kata Duge. Ozi yakin kalau ini adalah terakhir kalinya ia membuat Yuna menunggu. Tidak akan ia lakukan lagi. Ozi beralih pada Hasni dan Vemi kali ini. Ozi mengatakan akan menyelipkan cincinnya dalam kue tart. Ozi membayangkan sambil berseri-seri betapa manis rencananya. Membayangkan bagaimana ekspresi terkejut dan bahagia di wajah Yuna membuat Ozi tidak sabaran menunggu Yuna datang. Hasni dan Vemi tidak berkomentar banyak tentang rencana Ozi. Bagi mereka, Ozi dan Yuna sudah bahagia itu juga sudah membuat mereka bahagia. Ponsel Vemi berdering tanda pesan dari Afifa yang mengatakan bahwa mereka sedang berada diperjalanan pulang, masuk.

Yuna benar tidak mengerti ada apa dengan Afifa malam ini. Afifa memaksanya ikut keluar selepas magrib tadi. Tapi tidak ada yang mereka lakukan selain berputar-putar di jalan. Afifa bilang ia sedang setres. Afifa di jodohkan.

“Jaman sekarang tidak banyak orang yang mau menerima tradisi jodoh-dijodohkan,” Yuna mengomentari.

“Mau bagaimana lagi, aku tidak bisa menemukan pria seperti Vidi Aldiano ada di sekitarku. Lagi pula aku belum menemukan orang yang kusukai,” Afifa menaggapi dengan entengnya.

Dari cara Afifa menjawab terlihat jelas bahwa yang membuatnya setres bukan prihal dirinya yang dijodohkan. Yuna jadi tidak mengerti kenapa Afifa mengatakan sedang stres kemudian menceritakan tentang dirinya yang dijodohkan namun disisi lain terlihat bahwa Afifa tidak memermasalahkan perjodohannya.

“Jadi apa sebenarnya yang membuatmu stres ?” Yuna bertanya lagi.

“Yuna aku kebelet pipis, aku akan mampir di rumahmu sebentar,” Afifa mengabaikan pertanyaan Yuna.

Sesampainya di pekarangan rumah Yuna, Afifa buru-buru turun dan mendahului tuan rumah seolah ia benar-benar tidak tahan lagi. Yuna menjatuhkan agenda yang dibawanya dengan tangan kirinya karena tangan kanannya masih diperban. Saat turun dari motor, agendanya terjatuh. Buku terbuka hampir dibagian akhir. Dilembaran itu terselip sebuah foto. Yuna berjongkok. Ia tidak buru-buru memungut agendanya melainkan menatap foto yang terselip disana. Lama Yuna amati foto itu, tidak ingin segera beranjak dari tempatnya. Foto bersama Ozi, Yugi, Hasni dan Vemi.

“Sampai sekarangpun senyumnya terlihat sangat manis,” Yuna menatap foto Ozi sambil tersenyum. Yuna kembali teringat sosok yang ia duga adalah Ozi kemarin. Yuna menghela nafas panjang. Baru kali ini ia merasa begitu lelahnya. “Aku tidak ingin menjadi gila karena merindukanmu, ini terlalu tidak adil.” Yuna mengambil agendanya dan masuk ke rumah.

Yuna masuk dengan mengucap salam, namun tidak terdengar adanya jawaban. Afifa mungkin masih di toilet, pikir Yuna. Ruang tamu gelap seperti biasanya. Tidak ada yang terlihat berbeda. Eh. Mata Yuna berhenti pada empat gelas minuman yang ada di meja.

“Surprise…” lampu ruang tamu dinyalakandan suara-suara terdengar begitu meriah. Yuna memerhatikan semua orang yang berada di rumahnya tersenyum bahagia. Ibu, Yugi, Hasni, Vemi, dan Duge. Afifa juga diada diantara mereka, lebih tepatnya yang tadi menyalakan lampu. Yuna tersenyum senang semua orag yang ia sayangi berkumpul di rumahnya. Tidak lama kemudian Ozi keluar dengan membawa kue tart. Melihat Ozi juga berada di rumahnya membuat senyum Yuna memudar karena terkejut. Suara-suara ramai yang masih terdengar sesekali tidak lagi bisa diterima indra pendengar Yuna dengan jelas. Yuna sedang sibuk dengan perasaannya. Ozi, kali ini benar-benar muncul didepannya.

“Tanpa lilin,” Ozi memerlihatkan kue yang ia bawa bersih dari jejak lilin. Ozi tahu bahwa Yuna adalah golongan yang tidak sependapat dengan filosopi meniup lilin. Baginya lilin adalah cahaya yang berarti kehidupan. Mungkin iya karena saat ulang tahun berarti umur berkurang, tapi jika ditiup berdasarkan jumlah umur, itu artinya juga mematikan kehidupan diumur yang sekarang.

“Jadi… apa yang kemarin itu juga kamu ?” Yuna bertanya. Sebenarnya Ozi ingin berbohong. Jika tadi teman-temannya saja marah bagaimana Yuna. Tapi berbohongpun percuma, toh yang lain sudah tahu. Jadi berbohongpun tidak akan menyelamatkannya. Akhirnya Ozi hanya mengangguk pelan. “Kamu ini…” Yuna memukul Ozi dengan buku agenda yang masih dibawanya. Berusaha menghindar seperti apapun Yuna tetap tidak melepaskan Ozi. “Apa kamu tidak memikirkan perasaanku ? aku berpikir mungkin saja aku telah gila, mungkin saja aku telah kehilangan diriku sendiri.” Mata Yuna berkaca-kaca. Apa yang dikatakan teman-temannya tadi ternyata benar. Ozi menyesal karena bertindak bodoh tanpa memikirkan mungkin saja Yuna akan terluka atau marah. Hanya karena ia sangat merindukan Yuna dan ingin memberi kejutan, Ozi tidak berpikir dua kali. Ia telah membuat orang yang disayanginya menderita. Ozi diam ditempatnya dan membiarkan Yuna memukulnya. Baru beberapa pukulan Yuna berhenti. Airmatanya tumpah.

“Maaf,” ucap Ozi tulus. Tangan kirinya mengusap-usap kepala Yuna sementara yang kanan masih memegang kue. “Dengan waktu yang lama sudah membuat Yuna menunggu dan juga melakukan hal yang bodoh. Aku tahu pasti Yuna sangat merindukanku,” tambah Ozi tersenyum lembut. “Nah... sekarang potonglah kuenya.” Ozi menyodorkan kuenya pada Yuna.

Melihat gadis yang disukainya bersama pria lain membuat dirinya terluka. Duge tahu lambat laun ia harus bisa menerima ini. Tapi melihat Yuna bisa tersenyum lebih lebar dibanding saat bersamanya membuat lukanya juga terobati.

Hasni mendekatkan pisaunya. Ozi memberitahu bagian mana yang harus Yuna potong. Ini, itu dengan segala peraturan yang Ozi tentukan. Ketika akan memotong Yuna berhenti. Ia memperhatikan Ozi dan tidak habis pikir kenapa Ozi sangat merepotkan tentang memotong kue. Bagian mana yang harus dipotong dan bagaimana cara memotongnya. Yuna meletakkan pisaunya di meja dan menginjak kaki Ozi.

“Aku masih kesal, belum puas memarahimu,” tukas Yuna

“Iya, iya… tapi potong dulu kuenya, aku sudah jauh-jauh membelinya. Setelah itu silahkan dilanjut marahnya. Oke,” kata Ozi sambil mengaduh.

Mendengar tanggapan Ozi yang seakan lebih memperhatikan kue, membuat Yuna kesal. Yuna mengambil kue yang Ozi bawa. Didepan pintu Yuna melemparnya dengan kuat. Semua memburu kedepan pintu. Mereka menarik nafas melihat kue meluncur dengan mulus kemudian membentur tiang dan berhambur kemana-mana. Waktu seakan berhenti sesaat, semua melihat iba kearah Ozi, sementara Duge menahan tawa.

“Hanya kue kenapa sebegitu terkejutnya,” Afifa yang tidak tahu apa yang disembunyikan dibalik kue itu bertanya polos. Tawa Duge pecah, tak bisa ia tahan lagi. Apa yang dibayangkan Ozi benar-benar tidak berjalan sama pada kenyataannya. Ozi berlari keluar berharap cincinya masih bisa ia selamatkan.

“Ada apa ?” kali ini Yuna yang bertanya karena tidak ada yang menjawab pertanyaan Afifa.

“Cincin,” Yugi menjawab.

“Cincin ?” Yuna bertanya lagi. Vemi menjelaskan bahwa Ozi menyelipkan cicin yang akan digunakan untuk melamar Yuna dalam kue. Mendengar perkataan Vemi, Afifa tertawa seperti apa yang Duge tadi lakukan.

“Sepertinya kalian tidak benar-benar berjodoh,” Duge berkomentar masih sambil tertawa kecil. Ozi hanya mendesah, tidak ingin meladeni Duge. Ia harus bisa segera menemukan cicin yang sengaja ia pesan untuk hari yang spesial ini. Cincin yang membuat ia harus menunda penerbangannya selama beberapa hari.

Merasa bersalah, Yuna ikut membantu Ozi mencari di luar. Teman-teman yang lain ikut membantu.

Begitulah, pada akhirnya acara melamar yang seharusnya bisa berjalan manis seperti bayangan Ozi tidak, berjalan mulus dikenyataanya. Tidak ada acara melamar yang romantis, dan wajah berseri-seri Yuna karena tersipu. Dibanding merayakan hari yang membahagiakan, mereka lebih disibukkan dengan mencari cincin yang entah telah terpental kemana. Kegiatan yang cukup menguras tenaga. Semua orang dibuat kerepotan karenanya.

Kebahagian itu bukan hanya menyangkut satu orang dan akan benar-benar disebut bahagia jika bisa dilihat secara keseluruhan.

THE END
Bontang, 5 November 2013
20:06

Kamis, 23 Juli 2015

«<[Iblis 2 (bagian 2)]>»

-Brak- seorang petugas menggebrak meja. Bersikap keras dan tegas untuk menjatuhkan mental adalah salah satu caranya untuk dapat mengorek keterangan dari saksi yang sedang diintrogasinya. Sudah satu jam lebih menanyakan pertanyaan yang sama namun tidak juga tercapai hasil yang diharapkan.

Gadis yang tengah diintrogasi hanya mampu diam menunduk. Ia sudah menjawab semua pertanyaan sesuai dengan apa yang dialaminya, namun petugas itu masih saja menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sama. Tidak tahu lagi bagaimana ia harus menjawab. Tiba-tiba didatangi beberapa orang polisi yang memintanya agar mau bekerjasama dan ikut bersamanya saja sudah membuat dirinya terkejut. Bagaimana tidak, sebelumnya ia juga sudah diminta menjadi saksi dan diintrogasi bersama beberapa orang yang lainnya namun tidak terjadi apapun. Kini, ia harus kembali ke kantor polisi dan melakukan introgasi ulang dengan situasi yang berbeda. Situasi dimana ia merasa dipojokkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terlalu ia mengerti. Mengakui hal-hal yang tidak ia ketahui.

Yuna yang baru selesai menunaikan sholat ashar, bergantian dengan yang lain, berkumpul kembali bersama petugas lain.

Duge, dan Komandan Rudi berada di luar ruang introgasi memerhatikan setiap gerak-gerik dan kalimat yang keluar dari ucapan gadis yang sedang diintrogasi. Duge memerlihatkan data gadis itu pada Yuna.

“Nama: Dalili Danesah, umur: 24 tahun,” Yuna membaca dengan nada bergumam. Yuna membaca setiap data yang tercantum. Di bagian pekerjaan tertulis bahwa Dalili adalah seorang cerpenis dan pemilik sebuah kios buah. Yuna amati foto seorang gadis yang mengenakan kerudung hitam rapi yang tertera di data tersebut. Yuna juga memerhatikan dibagian catatan kesehatan. “Dia cerpenis terkenal itu,” Yuna berujar. “Aku pernah bertemu dengannya sekali.”

Duge dan Komandan Rudi menatap Yuna bersamaan. Yuna meminta izin untuk diperbolehkan masuk ke ruangan itu. Komandan dan Duge setuju. Gadis itu terlihat polos. Mungkin jika berbicara dengan sesama perempuan akan lebih mudah.

Yuna masuk menggantikan petugas yang berada di dalam. Yuna duduk di depan Dalili dan tersenyum hangat bersahabat. Dalili menatap Yuna mengingat-ingat.

“Yuna,” katanya akhirnya.

“Baguslah kalau mba masih ingat. Aku takut dikira hanya modus jika langsung kusebutkan namaku karena kasus ini,” Yuna berkata dengan nada bercanda untuk mencairkan ketegangan Dalili.

“Mana mungkin aku lupa, karena Yunalah yang menolongku dan seorang Nenek saat menyebrang,” Dalili mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Yuna. Dalili sangat berterimakasih karena jika tidak mungkin saat itu mereka berdua telah terkena musibah. Maksud hati ingin berbuat baik menolong orang, siapa sangka justru malah hampir membuat celaka. Yuna merasa tidak enak karena sudah berlalu namun Dalili masih saja berulangkali berterimaksih padanya.

Komandan dan Duge masih berada di luar ruang introgasi mengamati. Beberapa menit didalam, Yuna sama sekali belum membahas permasalahan mengenai pengeboman itu. Keduanya seperti berjumpa lagi dengan teman yang telah lama tidak bertemu. Dalili menanyakan bagaimana Yuna bisa berada di kantor polisi dan Yuna menceritakan dengan singkat tentang pekerjaan barunya sebagai asisten detektif.

“Oiya, maaf sebelumnya aku bertanya ini,” Yuna merasa sungkan. Takut pertanyaannya akan menyinggung. “Bagaimana dengan pendengaran mba ? bukankah terakhir kali mba hampir celaka karena mba bilang alat bantu dengarnya mungkin sudah mulai rusak.”

“Benar. Karena itu juga aku hampir celaka saat peledakan di halte tempo hari,” jawab Dalili mulai mengarah pada kasus peledakan. “Alhamdulillah seseorang lagi-lagi menyelamatkanku. Sepertinya aku harus mengurangi aktifitasku di tempat-tempat umum agar orang lain tidak terluka.”

“Apa orang itu terluka ?” Yuna bertanya perlahan.

“Sepertinya iya. Bukankah ledakannya cukup besar ?” Dalili balik bertanya dan Yuna menjawab dengan anggukan. “Aku belum sempat berterimakasih padanya karena ia pergi begitu saja setelah menolongku.”

“Mba tidak mengenalnya ?”

“Tidak. Aku juga tidak terlalu memerhatikan wajahnya saat itu karena keadaan sangat kacau. Jadi kalau aku bertemu dengannya mungkin aku tidak akan ingat lagi wajahnya,” Dalili berkata dengan nada menyesal. Bagaimana mungkin ia bisa membalas budi atau berterimakasih jika ia tidak bisa mengingat bagaimana wajah orang yang menolongnya. Jika suatu hari nanti ia bertemu dengan orang yang telah menolongnya tanpa sengaja dan tidak mengingatnya, itu sangat keterlaluan. “Eh, apa ini ada hubungannya dengan kasus ? tadi petugas itu bertanya terus tentang siapa orang yang menolongku ?” Dalili berubah ingin tahu.

“Iya,” Yuna menjawab setelah menimbang-nimbang. “Orang itu melindungi mba sesaat sebelum bom meledak. Itu artinya kemungkinan orang itu adalah pelakunya.”

“Astaghfirullah hal’azim,” Dalili beristighfar. Matanya melebar, Ia benar-benar tidak menyangka. Dalili terlihat sedih. Yuna mengerti bagaimana perasaannya.

“Maaf, karena itulah kami mebutuhkan keterangan dari mba untuk mencaritahu siapa orang itu dan membuat sketsa wajahnya,” Yuna tulus meminta maaf.
Dalili diam berpikir. Meski orang itu telah menyelamatkannya dan ia berhutang nyawa, tapi kejahatan tetaplah kejahatan. Utang budi Dalili memang tidak akan bisa ia bayar, tapi setiap orang memiliki kewajiban untuk mengakhiri tindak kejahatan. Bagaimanapun akan ada lebih banyak lagi korban yang berjatuhan jika hal ini terus dibiarkan. Dalili mengingat ulang keseluruhan kejadiannya dengan detail. Bagaimana keadaan jalan yang nampak sama seperti sebelum-sebelumnya, serta bagaimana kacaunya keadaan setelah bom meledak.

“Ada sesuatu,” Dalili berkata pelan namun Yuna cukup bisa mendengarnya. Yuna mendekatkan kursinya agar bisa lebih jelas mendengarkan apa yang akan Dalili bicarakan. “Wajahnya… tertutup topeng.”

“Topeng ?” Yuna mengernyitkan dahinya mengulang. “Maksudnya orang itu memakai topeng ?”

“Tidak, tapi hanya sebagian wajahnya saja,” Dalili memerjelas. “Pria itu mengenakan tudung kepala dan keadaan saat itu sangat kacau, tapi aku melihat sekilas kilat yang ada di wajahnya seperti sebuah lempengan yang entah terbuat dari apa.”

Yuna dan bagian penyelidikan mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Meski tidak begitu detail, paling tidak mereka bisa mengunci kata sandinya, topeng. Para petugas memulai lagi tugas mereka. Ada yang mencari data kesehatan, kembali ke TKP dan menanyai orang sekitar tentang pria dengan lepengan yang menutupi sebagian wajahnya, juga menanyai beberapa orang di TKP pengeboman sebelum-sebelumnya apakah mereka juga pernah melihat orang yang sama berkeliaran disekitar tempat itu. Semua unit sibuk dengan kegiatanya. Para petugas juga terlihat dibeberapa titik disekitar pengeboman halte dan beberapa tempat pengeboman lainnya.
Kiriman kaset cctv beberapa hari sebelum ledakan bus di halte jalan MT Hariyono baru saja tiba. Mereka perhatikan setiap detail aktifitas yang terjadi. Tidak satupun dari kaset rekaman yang mereka tonton menampakkan seorang pria dengan setengah wajahnya menggunakan topeng. Seperti halnya saat peledakan terjadi pria itu pasti akan menggunakan sesuatu untuk menutupi hal yang dapat dengan cepat membuat orang lain mengenalinya, maka gambaran lalulalang manusia yang memakai topi atau tudung kepala diseleksi satu persatu.

Hari yang benar-benar menyibukkan. Waktu telah menunjukkan pukul 21.00. Yuna tengah sibuk memeriksa berkas-berkas yang ada di depannya disebuah ruangan yang masih terlihat sibuk dengan berbagai aktifitasnya. Duge datang dengan membawakan teh hangat.

“Terimakasih,” Yuna berkata setelah menerima teh manis dari Duge. “Kenapa repot-repot. Kakak ‘kan bosnya seharusnya jika perlu apa-apa katakan saja. Biar aku yang buatkan.”

“Tidak apa-apa. Ini juga sekalian,” Duge menyeruput kopinya dan Yuna mencicipi teh seduhan bosnya. Keduanya merasa sedikit lebih segar dan kembali bersemangat. Duge masih berdiri di depan meja tempat Yuna menyelesaikan tugasnya.

“Ayo, kita makan malam dulu,” ajak Duge.
Yuna terdiam sesaat tidak langsung menjawab. Perutnya memang lapar, tapi makan berdua saja dengan Duge adalah hal yang harus dihindarinya. “Ayo siap-siap, aku akan mengajak yang lainnya,” tambah Duge seolah mengerti apa yang Yuna pikirkan. Sebelum Yuna akhirnya mau menerima tawaran bekerja menjadi asistennya, Duge harus menyusun alasan dengan tepat lebih dulu sebelum bisa bertemu dengan Yuna. Duge pernah diam-diam menyusupkan pulpennya kedalam saku jemper Yuna agar ada alasan lagi untuk menemui gadis itu. Suatu malam Duge menelpon menanyakan pulpennya. Duge bilang pulpen itu bukan pulpen sembarangan karena itu adalah oleh-oleh sepupunya dari Jepang. Malam itu Yuna sangat sibuk menghubungi semua teman-temannya, mencari jam kosong agar mau menemaninya menemui Duge. Semua nomor di kontak ponselnya ia hubungi berharap ada salah satu temannya memiliki waktu luang dan bersedia menemaninya. Yuna menemukan satu teman yang mau menemaninya. Walau rumahnya ibarat ujung ketemu ujung, Yuna sudah tidak lagi memiliki pilihan lain.

“Dista,” Duge menyapa teman yang Yuna bawa bersamanya.

“Sekalian, aku tadi baru pulang dari mengerjakan tugas kerja kelompok bersamanya,” Yuna beralasan. Dista hanya senyum-senyum. Yuna sudah membuat kesepakatan dengan Dista agar ia mengiyakan saja apapun yang Yuna nanti katakan di depan Duge. Yuna segera menyerahkan pulpen milik Duge.

“Mau minum dulu ?” Duge menawari.

“Boleh,” Dista menyahut lebih dulu sebelum Yuna menolaknya. Mereka bertemu di sebuah tempat tongkrongan sederhana di pinggir jalan. “Kasihan Yuna sudah jauh-jauh menjemputku,” tambah Dista senyum-senyum. Dista meninggalkan keduanya sebentar untuk memesan minuman. Yuna tidak mengatakan apapun, namun Duge bisa melihat betapa keras usaha Yuna mencari seseorang agar mau menemaninya. Meski itu hanya untuk mengantar pulpen Duge.

“Kenapa saat bertemu denganku Yuna selalu membawa orang lain ?” Duge bertanya ingintahu. Benar seketat itukah Yuna memagari dirinya.

“Tidak apa-apa. Hanya saja aku merasa berdua itu tidak baik,” jawab Yuna memberikan alasannya.

“Apa Yuna takut padaku ?” Duge bertanya lagi. Yuna hanya menaikkan alisnya tidak menjawab. “Apa tidak kasihan dengan Dista ? barang kali dia punya acara sendiri dan terpaksa membatalkannya untuk menemani Yuna kesini.”

“Tidak,” Yuna menyahut dengan cepat tidak ingin dianggap memaksa temannya agar mau menuruti keinginannya. “Aku sudah memastikannya. Aku juga sudah menanyainya dia punya acara atau tidak. Jika punya tidak apa-apa jika… me-nolak-ajakan-ku,” Yuna keceplosan. Yuna langsung terdiam malu. Dia yang membuat alasan, dia pula yang membongkar kebohongan alasannya. Duge mengangguk-angguk seperti, berpura-pura baru tahu bahwa Yuna sengaja membawa temannya.
Yuna merasa tidak enak hati. Ia selalu merasa serba salah menanggapi semua kebaikan Duge. Yuna berpikir lagi. Mungkin berada didekat Duge seperti ini juga merupakan suatu keputusan yang salah. Yuna menghela nafas.

Semua menikmati makan malamnya. Jumlah mereka semuanya tujuh orang. Tidak semua bisa ikut termasuk Komandan Rudi karena harus segera pulang. Duge mengatakan traktiran hari ini hanya karena semua orang sudah bekerja keras seharian.

“Ku pikir ini traktiran hari jadiannya kalian,” seseorang menimpali. Yang lain juga setuju dan mereka mendukung. Yuna yang masih mengunyah makan malamnya langsung tersedak. Yang lain tertawa.
“Benarkan, sampai salah tingkah begitu.”

Duge mengalihkan pembahasan karena Yuna pasti akan sangat tidak nyaman dengan keadaan ini. Duge menyemangati semuanya agar besok lebih semangat lagi bekerja karena titik terang dari beberapa kasus akhirnya terlihat. Duge juga meyakinkan bahwa tidak lama lagi kerja keras mereka pasti akan membuahkan hasil.

“Terimakasih,” Yuna berkata sebelum pulang bersama yang lainnya. Duge mengangguk.

“Hati-hati di jalan,” Duge berpesan. Ia membiarkan Yuna pergi lebih dulu, dengan begitu ia bisa melihat Yuna yang semakin menjauh. Melihatnya lebih lama dibanding dia yang pergi lebih dulu.
¤¤------------¤¤------------¤¤-------------¤¤-----------¤¤------------¤¤
Hasil catatan DNA telah keluar. Melalui catatan itu diketahui bahwa pelaku bernama Ari Adrian, 30 tahun. Ari sudah menjadi yatim piatu sejak berumur 15 tahun. Setelah orangtuanya meninggal, Ari pernah tinggal disebuah panti, namun hanya bertahan tiga bulan saja. Ari kabur dan tidak pernah kembali lagi. Ia hidup seorang diri sambil bekerja di sebuah warung makan sebagai pencuci piring. Dengan bekerja di warung makan itulah Ari bisa tetap melanjutkan sekolahnya. Bos pemilik warung makan mengizinkan Ari tinggal di warung malam hari karena Ari tidak memiliki tempat tujuan. Pertamakali Bos menemukan Ari disuatu pagi saat ia hendak membuka warung makannya. Ari tergeletak di koridor warungnya. Badan Ari demam saat itu. Ia menggigil kedinginan, bibirnya pucat. Bos dan istrinya yang saat itu sedang hamil membawa Ari ke rumah dan merawatnya hingga sembuh. Sebenarnya bos sedang tidak membutuhkan pegawai saat itu ditambah lagi bisnis warung makanannya sedang tidak baik. Tapi melihat Ari, bos jadi kasihan dan membiarkan Ari tinggal di warung dan membantu bekerja di dapur sebagai pencuci piring atau pengupas bawang. Hanya beberapa yang bisa bos berikan pada Ari saat ia memiliki rezeki berlebih.

Luka di wajah Ari di dapatnya saat berumur 14 tahun. Sekelompok pemuda pengangguran, putus asa, sedang mabuk malam itu. Naasnya bertemu dengan Ari. Saat itulah luka pada wajahnya ia dapatkan dan sampai sekarangpun luka itu tidak sembuh meski telah berlalu selama 16 tahun.

Yuna tiba-tiba saja teringat tentang sesuatu pagi ini. Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Afifa.

“Aku sedang mengantar laundry,” jawab Afifa dari sebrang sana.

“Apa itu tempat biasa aku menjemputmu beberapa kali ? orang yang kamu sebut dengan wajah yang berbeda ? kamu sudah sampai dimana ?” Yuna mengajukan pertanyaan yang berderet membuat tidak tahu harus menjawab pertanyaan yang mana lebih dulu. Afifa akan balik bertanya, namun Yuna minta agar Afifa mengiyakan saja jika itu benar.
“Tunggu aku sampai disana, jangan dulu mengantarkan pakaiannya sebelum aku datang,” minta Yuna. Ia memutuskan telepon dengan segera dan beranjak.

Afifa sungguh tidak mengerti. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan memasukkan kembali ponselnya dalam saku celana. Meski tidak mengerti dan dipenuhi banyak tanda tanya, Afifa tetap saja mengikuti permintaan Yuna. Padahal ia tinggal melewati 2 pintu lagi dan tugasnya mengantar laundry pakaian akan selesai. Afifa menyandarkan bahunya di dinding, tepat saat itu beberapa polisi berdatangan. Diantara beberapa polisi itu, ada salah seorang yang Afifa kenal, Duge.

“Apa yang sedang kamu kerjakan disini ?” Duge bertanya pada Afifa.

Afifa mengangkat plastik bungkusan pakaian laudry yang akan diantarkannya ke rumah pelanggannya no.16. Duge mengerti. Ia mengatakan beberapa hal dengan singkat dan mudah dipahami oleh Afifa. Afifa mengangguk mengerti dan setuju bekerjasama.

Didepan pintu no.16, Afifa menekan bel. Beberapa saat menunggu, seseorang membuka pintu, mengintip dari celah yang ia buka sedikit, mengatakan ‘sebentar’, kemudian menutup pintunya lagi untuk masuk mengambil uang. Begitulah kebiasaannya seperti yang sudah Afifa hapal. Entah karena sangat berhati-hati atau hanya sekedar kebiasaan tanpa arti. Kali ini Afifa menunggu sedikit lebih lama.
Delapan menit dan pemilik rumah tidak juga membukakan pintu, para polisi yang merapat diantar pintu nomor 15 dan 17, memilih mendobrak pintu.  Para polisi menyerang masuk dengan gagahnya. Mereka yang berjumlah tujuh orang menyergap kedalam dengan gerakan yang teratur, rapi sesuai dengan jumlah dan pembagian kelompok masing-masing. Mereka masuk dan memeriksa semua tempat dengan teliti. Kamar, kamar mandi, ruang kerja dan dapur. Sayangnya pemilik rumah kabur melalui jendela belakang. Sebagian petugas berusaha mengejar.
Saat diperiksa ternyata pemilik rumah memasang kamera kecil diluar untuk mengamati siapa saja yang melewati atau akan bertamu ke rumahnya. Kamera itu di sambungkan ke laptop di ruang kerjanya.

Afifa sangat syok mengetahui bahwa pelanggan setia laundry di tempatnya bekerja adalah seorang pelaku pengeboman. Duge menemani Afifa berbicara sebentar sambil berjalan turun menuju tempat parkir, sementara para polisi masih sibuk dengan tugas-tugasnya mengamankan tempat tinggal Ari Adrian, mencatat keterangan para tetangga, dan sisanya masih mencari di sekitar rumah, barangkali Ari belum jauh melarikan diri.
Di parkiran, Afifa yang pertama kali menyadari motor Yuna terparkir di samping motornya, lengkap dengan helm yang biasa Yuna kenakan.

“Ini motor Yuna. Kemana orangnya ?” Afifa celingukan kesana-kemari. Duge ikut memandang kesegala arah mencari. Tidak melihat Yuna dimanapun, Afifa perhatikan lagi motor matic hijau disamping motornya itu barang kali salah mengenali.

“Untuk apa Yuna kesini ?” Duge mulai bertanya setelah yakin tidak melihat Yuna dimanapun.

“Tadi... Yuna yang menelponku dan menyuruhku menunggu sampai dia datang,” Afifa teringat kembali telepon Yuna yang aneh setengah jam lalu sebelum Duge dan para polisi datang. “Sepertinya dia menduga sesuatu...”

Duge segera menghubungi Yuna. Ia mulai khawatir, begitu juga dengan Afifa. Duge menunggu dengan gelisah, namun panggilan tak juga dijawab orang disebrang sana. Duge mencoba lagi dan...

“Halo Yuna,” Duge langsung memburu begitu panggilannya diangkat.

“Aku menemukannya,” terdengar nafas terengah-engah orang diseberang sana menjawab. Meski terengah-engah, tersirat nada senang didalamnya.

“Kamu dimana ? akan kususul sekarang ?” Duge menghela nafas merasa lega karena Yuna menjawab telponnya. Suara disebrang sana yang semula terdengar berlari kini berhenti, suara nafasnya yang terengah-engah masih terdengar. “Halo... Yuna, Yuna kamu dimana ?” Duge kembali panik karena Yuna tidak kunjung menjawab pertanyaannya. “Halo... halo...”

-Brak- kyaaa...
Suara ponsel terbanting dan pekikan seorang gadis yang dipukul dengan keras hingga jatuh tersungkur hanya berjeda beberapa detik. Seorang pria bertudung kepala meperlihatkan barisan giginya yang rapi saat tersenyum keji. Yuna kini dapat melihat dengan jelas bagaimana wajah orang yang telah membunuh banyak orang tidak berdosa dengan peledakan. Pria itu lebih tinggi dari bayangan Yuna, badannya kurus. Matanya yang cekung sebenarnya tidak terlihat kejam. Wajah sebelah kiri tidak sepenuhnya ditutupi oleh lempengan perak yang ada diwajahnya. Hanya sebagian pipinya saja yang tertutupi, sampai pada batas hidung. pria itu melangkah mendekat kearah Yuna, kemudian berjongkok agar mudah menjangkau gadis yang masih tersungkur didepannya.

“Sebenarnya kamu gadis yang baik,” katanya dengan suara parau. Ia terdiam sesaat. Matanya dan Yuna bertemu. Ia melihat Yuna saat siaran telefisi menayangkan pengeboman bus di jalan MT Hariyono. Ia juga langsung bisa mengingat bahwa sebelumnya ia pernah melihat Yuna. “Haruskah aku membunuhmu ? akh, tapi orang sepertimu bukan targetku. Tapi... kamu bisa jadi sangat membahayakan, tapi...” suaranya yang semula parau mulai terdengar normal.

“Kenapa... kenapaaaa ?!!” Yuna bertanya setengah memekik. Melihat pria itu semakin dekat berada didepannya membuat Yuna mengingat kembali dengan jelas hari dimana korba-korban pengeboman bus  di halte jalan MT Hariyono. Seorang anak yang kehilangan ibunya, ibu yang kehilangan anaknya, entah kakak, adik, atau sepupu yang kehilangan saudaranya. Tangisan, kacaunya hari itu, darah, bau hangus, serta mayat-mayat yang tak tahu apa dosanya sehingga harus mengahadapi kematian dengan cara yang mengerikan. Yuna menatap penuh amarah. Lagi-lagi tatapan mata mereka bertemu.

“Berhenti menatapku SEPERTI ITU !!!” pria itu memekik berang. “Kamu... tidak tahu apapun,” tambahnya menegaskan posisi Yuna.

Mereka berada di belakang sebuah gedung bangunan sekolah dengan dinding pagar tembok yang menjulang tinggi untuk mencegah anak muridnya membolos saat jam pelajaran. Dibelakang bangunan itu ada tanah lapang yang sebagian digunakan sebagai tempat menumpukkan mobil-mobil yang sudah tidak dapat digunakan. Biasanya rusak luar biasa karena kecelakaan. Sebelum akhirnya dihancurkan, mobil-mobil ditumpuk di tempat itu. Ada jalan lorong diantara toko-toko dan bangunan lain yang harus dilewati sebelum akhirnya bisa sampai ke tempat itu selain jalan besar dari arah lain yang sedikit lebih jauh.

Pria itu berjalan membelakangi Yuna sesaat kemudian berbalik lagi. Ia membuka topengnya, memperlihatkan lukanya yang begitu mengerikan. Yuna telah berdiri, melihat dengan jelas bagaimana wajah di balik topeng itu. Tepat dibawah matanya, di daerah tulang pipi terdapat luka yang cukup lebar, beberapa setelah luka yang lebar itu terdapat luka goresan yang sepertinya sangat dalam. Kedua luka itu nampaknya dijahit dengan asal-asalan karena terlihat sangat buruk. Luka itu bukan hanya meninggalkan bekas luka yang merusak keindahan wajah pemiliknya, namun justru menghancurkannya. Setengah wajah mulus yang terlihat tampan itu dihancurkan dengan dua luka jahitan. Dilihat bagaimana bentuknya mungkin saat wajah itu dikoyak dengan belati atau benda tajam sejenisnya hampir menyentuh tulang pipinya. Yuna merasa ngeri membayangkan bagaimana luka itu bisa didapat.

“Perhatikan ini baik-baik !” pria itu tidak mengizinkan Yuna memalingkan wajahnya. Ia menahan wajah Yuna dengan kasar hingga begitu dekat dengan lukanya. Yuna melihatnya, sangat jelas kemudian menutup matanya. Airmatanya meleleh. Pria itu melepaskan pegangannya yang kasar pada wajah Yuna.

“Saat aku memekik kesakitan di pasar sore itu, tak seorangpun menolongku, aku hampir mati. Tiga orang yang menyerangku, semuanya sedang mabuk, hanya dua yang membawa belati. Bayangkan bagaimana seorang anak berumur 14 tahun diperlakukan seperti itu namun tak seorangpun yang ada disana berani menolongnya. Sekeras apapun ia memekik, merintih kesakitan, menangis, tetap tidak menggerakkan hati orang-orang yang melihat kejadian itu. Entah memang tidak ada yang berani ataukah manusia-manusia itu memang tidak berhati sehingga anak berumur 14 tahun itu diabaikan begitu saja. Luka itu akan selalu diingatnya. Rasa sakit yang sungguh teramat perih membuatnya ingin menghancurkan semua orang.”

Menceritakan hal yang menyakitkan sangatlah menyakitkan pula. Meski hanya cerita yang disampaikan, rasa sakit yang masih melekat seakan kembali nyata. Matanya yang cekung memerlihatkan kebencian yang luar biasa pada dunia ini. “Hidup tanpa hati akan membuat dunia ini sesak dengan sampah-sampah bergerak.”

Airmata Yuna mengalir dengan sangat deras. Setiap kalimat yang pria itu ucapkan seperti bisa ia rasakan. Bagaimana sakitnya seakan wajahnya sendiri yang dikoyak dan bagaimana kebenciannya terhadap keadaan menguasai dirinya.
“Sudah cukup... polisi sudah tahu. Ini tidak akan menyelesaikan apapun,” Yuna berkata ditengah derai air matanya.

“Masih ada satu lagi,” pria itu kini bersuara licik penuh kekejian. “Satu tempat lagi.”

Pria itu memasang kembali topengnya kemudian mengeluarkan sebilah belati dari saku celananya. Pisau itu ia gosok-gosokkan pada telapak tangan kirinya kemudian mengacungkannya sambil tersenyum. Senyum yang lebih terlihat menyedihkan kali ini.

“Yuna,” Duge yang baru tiba mengatur nafasnya yang berantakan. Melihat tersangka membawa senjata dan begitu dekat dengan Yuna membuat Duge harus lebih berhati-hati lagi dalam bertindak.
Ari menyerang Duge lebih dahulu. Duel terjadi diantara keduanya. Belati Ari terjatuh namun bukan berarti ia bisa dengan mudah dikalahkan setelah itu. Nampaknya Ari merupakan lawan yang cukup tangguh bagi Duge. Duge mulai kewalahan namun tidak menyerah. Duge berhasil melemparkan bogeman panasnya hingga membuat Ari terpental. Situasi sangat tidak menguntungkan setelah itu karena Ari terpental dekat dengan belatinya. Ari meraih belatinya dan kembali menyerang. Duge telah berusaha menghindar, namun gerakannya tidak cukup gesit dibanding kecepatan kaki Ari sehingga lengannya tersayat. Belum cukup, Ari hendak menyerang lagi. Untungnya serangannya ia urungkan karena mendengar suara sirene mobil polisi yang semakin mendekat. Ari memutuskan untuk melarikan diri dan membiarkan saja Duge dan Yuna.

“Kak, kakak baik-baik saja ? bagaimana keadaan kakak ? apa ini sangat menyakitkan ? sungguh sakitkah ?” Yuna sangat khawatir sampai-sampai matanya berair. Ia menahan darah yang terus keluar dari lengan Duge. Lukanya cukup dalam sehingga darahnya tidak mau berhenti. Yuna masih begitu panik. Ia celingukan kesana kemari untuk mencari pertolongan. Ada kesenangan tersendiri mengetahui Yuna begitu mencemaskannya. Duge memegang tangan yang masih belum lepas dari lengannya yang terluka.

“Aku tidak apa-apa,” katanya lembut. Mata mereka bertemu. Yuna tertunduk dan melepaskan tanggannya. Duge tersenyum kemudian mengusap-usap kepala Yuna. “Kamu sangat menghawatirkanku ?” Duge bertanya dalam.

Yuna mengahapus airmatanya dan tidak mengatakan apapun. Teman-teman petugas datang dan segera mengobati luka di lengan Duge.

Duge melangkah mendekat setelah perban selesai dipasang ditangannya. Yuna baru saja melaporkan apa yang dialaminya pada Komandan Rudi. Tentang bagaimana keadaan tersangka, bagaimana situasinya dan Yuna juga menceritakan bagaimana ia bisa sampai mengejar Ari yang kabur dari rumahnya saat polisi datang.

Yuna yang baru tiba di parkiran, tiba-tiba saja mendengar seperti seseorang yang jatuh di samping. Yuna juga melihat beberapa mobil polisi telah terparkir rapi yang artinya ia telah keduluan. Yuna kemudian tertarik ingin mengetahui suara apa yang ia dengar. Ternyata itu adalah orang yang diincarnya. Orang itu berusaha melarikan diri. Yuna yang melihatnya berinisiatif untuk langsung mengejar. Ketika menjawab telepon dari Duge, Yuna kehilangan jejak dan tahu-tahu orang itu sudah berada dibekangnya.

“Bagaimana keadaan Kakak ?” Yuna bertanya ketika Komandan Rudi meninggalkan mereka.

“Sudah lebih baik,” Duge memerlihatkan bagaimana lukanya telah diperban. “Yuna...” Duge berdiri mensejajari Yuna sambil bersandar di bamper mobil patroli yang terparkir di tempat itu. “apa tadi kamu begitu menghawatirkanku ? apa melihatku terluka perasaanmu berubah kacau sehingga begitu paniknya ?” Duge menanyakan pertanyaan itu lagi. Yuna lagi-lagi terdiam. Ia tidak tahu bagaimana harus menjawab. Benar iya khawatir, benar ia panik, benar ia begitu ketakutan melihat Duge terluka. Tapi apa lagi ? Yuna masih tidak mengerti bagaimana perasaannya. Bagaimana harus menjawab, dan bagaimana ia harus menjelaskan situasinya.

“Aku selalu bisa mengendalikan diriku saat bekerja karena aku ingin membuatmu merasa nyaman, iyakan ?” Duge menambahkan lagi karena Yuna hanya diam saja tertunduk. “Aku telah menghadapi berbagai kasus kejahatan. Tapi hari ini... begitu tahu tiba-tiba kau menghilang muncul begitu banyak ketakutan dalam benakku. Begitu takutnya hingga aku tidak mampu berpikir lagi. Yang ada hanya ingin melihatmu secepatnya dalam keadaan baik-baik saja.”

Mendengar kalimat pengakuan Duge yang begitu manis, terasa sangat tulus menyentuh hati hingga dinding pertahanan Yuna tak mampu lagi berdiri tegak melindungi perasaannya yang meluluh. Yuna terdiam sesaat, ia harus mengakhiri situasi ini jika tidak ingin semakin termakan oleh perasaan, Yuna kemudian tersenyum.

“Jangan khawatir. Aku memiliki pelindung yang Maha baik. Allah tidak akan pernah meninggalkan kita. Segenting apapun situasi kita,” ucap Yuna ceria. “Ayo kembali.” Yuna beranjak lebih dulu. Baru beberapa langkah meninggalkan Duge, Yuna berbalik.
“Eh,” ada yang lupa Yuna tanyakan. “darimana Kakak tahu aku disini ?”

Duge tidak langsung menjawab. Ia memberi isyarat bahwa itu berasal dari jam pemberiannya yang Yuna pakai. Yuna mengerutkan keningnya tidak mengerti apa hubungannya jam dengan tempatnya berada.

“Apa di jam ini terpasang GPS ?” Yuna menduga-duga. Duge mengangguk mengiyakan. Yuna terkejut tidak percaya. Ia melepas jamnya, membolak-balik dan memerhatikannya dengan saksama. “Apaa... jam ini juga dipasangi alat penyadap ?” Yuna bertanya sambil melemparkan pandangan sinis ke arah Duge. Duge tertawa geli mendengar pertanyaan Yuna. Tidak menyangka kalau Yuna akan berpikir sampai sejauh itu.

“Hei, kalau sampai yang seperti itu namanya melanggar privasi orang lain, melanggar hukum. Mana mungkin,” jelas Duge masih dibubuhi tawa kecilnya.

“Akukan hanya bertanya,” celetuk Yuna.

Setelah mendapat pengobatan pada lengannya Duge dan Yuna kembali ke tempat tinggal Ari Adrian.

Polisi telah mengeledah rumah Ari dan menemukan bukti-bukti yang dibutuhkan bahwa memang Arilah pelaku pengeboman beberapa kali akhir-akhir ini. Didapati sebuah bukti baru juga bahwa Ari Adrian pernah ikut bertanggung jawab sebagai penyuplai bom pada kasus-kasus beberapa tahun lalu. Salah satunya adalah kasus bom buku. Ruang kerjanya sangat berantakan. Seperti pengakuan seorang pembantu yang dipanggil setiap beberapa hari sekali untuk bersih-bersih, ruang kerja itu adalah larangan paling keras untuk tidak disentuh. Ari Adrian sangat pendiam dan tidak pernah berinteraksi dengan para tetangga. Ari Adrian introfert, tidak pernah menyapa atau tersenyum ramah saat bertemu dengan tetangganya. Tidak banyak keterangan yang bisa disebutkan selain tentang bagaimana Ari Adrian bersikap.

“Yuna,” panggil Duge. Wajahnya terlihat pucat seperti telah melihat hantu saja. Yuna bersama Afifa di parkiran. Duge mendekat perlahan.

“Ada apa ?” Yuna yang penasaran bertanya. Duge tak kunjung mengatakan apa yang terjadi. Bingung memilih kata dan tidak tahu darimana harus memulai. Bagaimana Duge bersikap kali ini membuatnya benar-benar merasa aneh, penasaran, dan mulai khawatir. Tidak biasanya sikapnya berubah seperti itu.

“Kenapa kak, ada sesuatu yang buruk ?” Afifa yang tidak sabaran ikut bertanya.
Duge tetap tidak mengatakan apapun. Ia hanya menunjukkan apa yang didapatnya di ruang kerja Ari Adrian. Sebuah komik berukuran 15 cm, dengan ketebalan 300 halaman. Di cover terdepan tertulis judul yang dicetak dengan huruf kapital berwarna merah. IBLIS. Backgrounnya berwarna abu-abu, sehingga gambar-gambar pepohonan besar disepanjang jalan terlihat samar-samar. Menggambarkan suasana malam yang mencekam. Diujung paling bawah tertulis nama percetakan dan komikusnya Noe Minazuki. Reaksi bagaimana Yuna melihat benda itu sama dengan saat Duge bereaksi. Tiba-tiba saja nafas Yuna tersenggal, perlahan wajahnya berubah pucat. Ia seperti tak lagi berpijak di tanah.

“Komik ? ada apa, ada apa dengan kalian berdua ?” Afifa tidak mengerti. Wajah kedua teman didepannya kini sama pucatnya. Afifa meraih komik yang ada di tangan Duge dan membolak-baliknya. Tidak ada yang aneh dengan komik itu. Sama saja seperti komik-komik pada umumnya. “Ada apa ? aku juga ingin tahu,” Afifa semakin dibuat penasaran dengan diamnya kedua orang didepannya.

Ponsel Afifa berdering. Panggilan masuk dari bos tempatnya bekerja. Afifa menunda menuntut penjelasan dan memilih menjawab telpon masuk dari bosnya lebih dulu. Setelah itu ia harus menelpon kampus untuk meminta izin dirinya dan Yuna karena tidak masuk. Afifa memberikan komik Iblis pada Yuna dan pergi untuk menjawab telepon.

“Apa ini sebuah kebetulan ?” Yuna bertanya datar. Tatapan matanya lurus ke jalan.

“Ini di temukan di rak buku tempat kerja Ari Adrian,” kata Duge akhirnya. Yuna tidak bereaksi apa-apa, masih menatap komik Iblis tidak habis pikir. Seperti di dua kehidupan yang berbeda yang telah Yuna jalani dari masa-masa putih abu-abu kemudian ke masa kuliahnya. Kini komik Iblis muncul lagi di depan matanya. Yuna membuka halaman pertamanya ragu-ragu. Tidak ada nama pemilik sekaligus tanggal dibelinya komik. Meski sama-sama komik Iblis, namun ini bukan komik yang sama, yang pernah terlibat pada masalah yang terjadi saat Yuna di Sekolah Menengah Atas.

“Garis besar dalam komik ini ada dua. Pertama orang memiliki bakat kegelapan dalam hatinyalah yang akan dikuasai iblis, disini kita sebut saja niat jahat. Kedua, orang yang bosan dengan hidupnya kemudian menjual jiwanya pada iblis.” Yuna dan Duge mengingat kembali pembahasan mereka mengenai komik Iblis saat masih berada dimasa putih abu-abu.

“Halte itu adalah tempat dimana ia duduk memelas kasih, berharap ada yang menolong Ibunya untuk dibawa ke rumah sakit. Ibunya sedang sakit keras namun tidak mudah menemukan orang yang tulus mau menolongnya. Pasar yang pertama kali di bom itu adalah tempat dimana ia mendapatkan luka diwajahnya. Beberapa orang pemabuk yang melakukan itu padanya.”

“Tiga orang,” Yuna menimpali. “Tiga orang yang menyerangnya semuanya sedang mabuk, namun hanya dua yang membawa belati. Itu yang dia katakan padaku.” Yuna teringat kembali dengan perkataan Ari Adrian padanya. ‘Entah memang tidak ada yang berani ataukah manusia-manusia itu memang tidak berhati sehingga anak berumur 14 tahun itu diabaikan begitu saja. Luka itu akan selalu diingatnya. Rasa sakit yang sungguh teramat perih membuatnya ingin menghancurkan semua orang’. Bagaimana nyatanya wajah Ari Adrian saat mengatakan kesesakannya juga nampak begitu jelas dalam ingatan Yuna. Termasuk bagaimana tatapan matanya yang tidak bisa Yuna lupakan. Tatapan mata penuh kebencian. Yuna menghela nafas, membayangkan bagaimana jika dirinya yang berada diposisi Ari.

“Pria yang malang. Tapi bagaimanapun juga kejahatan tetaplah kejahatan. Balas dendam dengan melakukan kejahatan tidak akan membuat siapapun menjadi lebih baik,” Duge juga menghela nafas. “Tentang markas Pamong praja yang juga termasuk dalam pengeboman belum ditemukan terkaitannya dengan kasus ini.”

“Keterkaitannya telah ditemukan,” Komandan Rudi menimpali. Ia memerlihatkan berkas hasil kerja dari anak buahnya yang baru saja sampai padanya. Duge menerimanya dan membolak-balik. Didalam kertas-kertas itu terdapat beberapa foto saat Ari Adrian turut di gelandang oleh petugas Pamong praja karena diduga pedagang kaki lima liar. Setelah hari itu, dua kali Ari Adrian terlihat joging melewati markas Pamong praja pada pagi hari. “Sepertinya tempramen orang itu sangat buruk,” tambah Komandan Rudi.

“Sepertinya orang itu memang bermasalah dengan emosinya,” Yuna berkomentar. “Saat berbicara padaku ia menggunakan beberapakali kata ‘tapi’. Ekspresi matanya juga berubah-ubah dengan cepat. Tatapan mata sedih, marah, tanpa daya, dendam, dan... kasihan. Orang itu mengasihaniku,” jelas Yuna mendeskripsikan seperti apa yang dilihatnya.

“Hei, kalian sudah bisa mengatakan padaku tentang komik itu ?” Afifa menagih.

“Eh,” Yuna tiba-tiba teringat sesuatu yang penting. “Masih ada satu tempat lagi. Dia bilang masih ada satu tempat lagi.”

Jika tempat-tempat umum terkait masalalunya yang dijadikan sasaran pengeboman, bisa jadi target ini juga sama. Pasar tempat ia dilukai, halte tempat ia memelas pertolongan agar membawa ibunya ke rumah sakit, berarti sasaran selanjutnya adalah rumah sakit. Rumah sakit tempat ibunya meninggal karena terlambat mendapat pertolongan. Namun bisa saja perkiraan itu meleset apabila ada sesuatu yang lain yang terjadi padanya akhir-akhir ini yang menyebabkan emosinya tersulut. Yang tidak termasuk dalam daftarnya seperti markas Pamong praja.

Beberapa hari ini pencarian terhadap Ari Adrian semakin gencar dilakukan. Penjagaan terhadap rumah sakit Sehat Bunda pun terus dilakukan. Kiriman-kiriman paket tidak jelas akan diperiksa lebih dulu guna keamanaan bersama. Polisi berlalulalang didepan rumah sakit tanpa seragam. Ada juga yang bersembunyi dalam mobil dan mengamati jalan, sisanya didalam menyamar menjadi perawat dan berjaga dibagian resepsionis.

Beberapa hari bergerak tanpa hasil Komandan Rudi dan semua yang bertanggung jawab dalam kasus, mengadakan rapat koreksi. Duge dan Yuna turut hadir didalamnya. Mereka me-review kasus-kasus yang telah terjadi kemudian mengurutkannya kembali. Barangkali saja ada hal yang terlewatkan.

“Bagaimana dengan Pak Hasan, bos Ari sewaktu dia melarikan diri dari panti ? apa sudah ada keterangan mengenai orang itu ?” Komandan Rudi bertanya.

“Pak Hasan dan istrinya baru saja pulang dari Aceh. Anggota yang lain sedang meminta kerjasamanya agar mau memberi keterangan,” lapor seorang petugas yang menggurusi bagian keluarga pak Hasan agar mau memberi keterangan.

Seorang petugas lagi datang melapor. Kali ini petugas wanita. Ia membawa sebuah dokumen yang merupakan laporan terbaru mengenai rumah sakit Sehat Bunda. Laporan medis mengenai pasien yang 15 tahun lalu pernah datang untuk mendapatkan pertolongan. Pasien yang ternyata adalah Ibu Ari Adrian. Menurut laporan, Bu Adrian meninggal dalam perjalanan sebelum sampai di rumah sakit. Itu artinya kemungkinan besar rumah sakit tidak ada dalam daftar sebagai tempat yang ditargetkan Ari Adrian untuk dihancurkan.

“Pantas saja selama beberapa hari kita tidak menemukan apapun ditempat itu,” komandan bergumam.

“Tunggu,” Duge yang tiba-tiba terpikirkan sesuatu berseru. “Bagaimana dengan Panti tempat Ari Adrian pernah tinggali ? Bukankah tidak banyak keterangan yang didapat dari tempat itu selain mereka mengatakan tentang karakter Ari Adrian yang buruk. Ari Adrian juga tidak tinggal lama ditempat itu.”

Komandan menyarankan untuk berpencar. Komandan Rudi menemui Pak Hasan, sementara Duge dan Yuna mengurus bagian panti. Komandan Rudi dan beberapa petugas yang lain pergi lebih dulu. Duge dan Yuna menyusul sesaat kemudian.  Sebelum meninggalkan ruangan, ponsel Yuna berdering. Sebuah panggilan dari nomor baru masuk. Yuna  tidak langsung mengangkatnya karena Duge memintanya buru-buru. Cukup lama pangilan didiamkan, akhirnya terputus.

Sampai di panti, Duge dan Yuna dikejutkan dengan hal yang tidak diinginkan.

“Saat itu Ari kami temukan tertidur didepan warung makan saya. Ia menggigil karena demamnya tinggi,” pak Hasan mulai menceritakan bagaimana keadaan Ari Adrian saat mereka menemukannya pertamakali. Sudah lebih dari sepuluh tahun ia dan keluarganya tidak lagi pernah berhubungan dengan Ari Adrian. Ari Adrian pergi tanpa menjelaskan apa yang ingin dilakukan dan kemana tujuannya. Ari Adrian sebenarnya anak yang baik, hanya saja terlalu pendiam dan tertutup. Pernah suatu kali Ari marah dan berkelahi dengan seorang anak tetangga yang usianya lebih tua dibanding Ari Adrian. Lawannya babak belur dengan luka disekujur tubuhnya. Itu adalah perkelahian pertama dan terakhir Ari sepengetahuan pak Hasan. Pak Hasan dan keluarganya menjadi bermasalah karena hal itu. Mereka harus memenuhi beberapa tuntutan dari keluarga lawan Ari. Untuk pertama kalinya juga istri pak Hasan memarahi dan menghukum Ari tidak makan malam.

“Keadaan lain Ari saat itu...” pak Hasan mengingat-ingat. Pak Hasan kurus, tinggi. Ia memiliki kumis yang tebal. Rambutnya dipotong pendek rapi. Ia mengenakan sarung dan duduk disamping istrinya yang terlihat lebih tua dari pak Hasan. Dilihat dari perangainya pak Hasan adalah orang yang tegas, sementara istrinya terlihat lebih pendiam tidak secerewet istri-istri kebanyakan.

“Itu,” Bu Hasan menimpali. Ia lebih dulu mengingat sesuatu dibanding suaminya. “Ada memar di kening dan dekat mulutnya.”

Suaminya mengiyakan. Tidak lama setelah itu, ada laporan yang memberitahu komandan Rudi bahwa Ari Adrian telah bergerak. Targetnya adalah panti. Komandan Rudi dan petugas yang lainnya segera bergegas ke Panti.

Tidak ada yang tahu bagaimana keadaan didalam panti. Pintu dan semua jendela ditutup. Polisi telah banyak berkumpul disekitar panti, menunggu aba-aba dan kesempatan untuk menyerang. Didalam panti Ari Adrian bersama para pengurus dan 15 anak. Beberapa anak yang lainnya berhasil dibawa keluar oleh pengurus sebelum Ari mengamuk dan menutup semua pintu keluar. Menurut seorang pengurus yang berhasil membawa beberapa anak keluar dari panti, ada 6 pengurus yang masih didalam, termasuk ketua dan 2 pengurus baru. Menurut apa yang diketahuinya, Ari Adrian datang dengan membawa sebuah bom ditasnya. Satu bom yang lain berhasil disusupkan di dalam panti yang entah dimana.
Komandan Rudi datang. Dengan menggunakan pengeras suara komandan Rudi memeringatkan dan memberi kesempatan kepada Ari Adrian untuk menyerah. Duge memerlihatkan denah panti yang didapatnya dari keterangan pengurus panti yang berhasil keluar bersama beberapa orang anak. Komandan Rudi dan Duge bersama memikirkan jalan untuk menyusupkan para anggota masuk kedalam panti. Sementara itu, Yuna sibuk sendiri menelpon seseorang.

“Bagaimana ?” Duge bertanya pada Yuna.

“Mba Dalili dalam perjalanan kemari,” jawab Yuna menjauhkan ponselnya saat ia menjawab pertanyaan Duge.

Yuna menceritakan bagaimana situasi yang akan Dalili hadapi nantinya. Yuna juga menceritakan tentang majalah-majalah langganan Ari Adrian didalam ruang kerjanya. Majalah-majalah itu semuanya memuat cerpen dan cerber karya Sang perindu melodi. Ari Adrian adalah penikmat karya tulis Sang perindu melodi yang sebenarnya adalah Dalili. Mendengarkan kalimat Yuna, semakin memantapkan niat Dalili untuk ikut melibatkan diri mengakhiri kebencian Ari Adrian. Inilah cara yang ia pilih untuk berterimakasih pada orang yang telah menyelamatkan hidupnya.

Setibanya di panti, Duge dan komandan Rudi segera memberi beberapa arahan mengenai apa yang harus Dalili lakukan. Dalili juga diberi beberapa perlengkapan. Alat yang bisa digunakan untuk tetap bisa berhubungan dengan pihak luar. Alat itu diletakkan berdampingan dengan alat bantu dengar Dalili. Selain itu, ada kamera kecil yang juga diselipkan diantara bajunya. Tidak lupa rompi anti peluru untuk berjaga-jaga. Sebenarnya Yuna tidak tega membiarkan Dalili pergi sendiri, namun bahkan Dalili sendiri tidak berpikir untuk menolaknya. Dalili merasa berhutang nyawa, jika ia membiarkan semua ini seolah-olah ia tidak tahu apa-apa, ia takut tidak akan mampu memikul beban perasaan bersalah yang harus ditanggungnya dikemudian hari.

Dalili menarik nafas dan mengucap basmalah kemudian mendekat ke arah panti. Semua yang disampaikan Komandan Rudi, Duge, dan Yuna tersimpan rapi di otaknya. Utamakan keselamatan dan jangan menyulut emosi Ari Adrian. Emosi Ari masih dapat dikendalikan sampai saat ini. Dalili harus menggunakan itu untuk bisa mengeluarkan seluruh sandera.

Semua berjalan sesusai rencana sampai pintu terbuka dan Dalili diterima masuk. Kini, untuk pertama kalinya Dalili dan Ari Adrian bertemu disituasi yang sangat tidak menguntungkan.

“Kamu mengenalku ?” Dalili mulai berkat lembut.

“Tentu saja. Kamu adalah penulis idolaku,” Ari menjawab dengan nada sedikit tersendat.

“Kalau begitu bisa aku minta untuk hentikan ini ?” Dalili berkata dengan hati-hati. Ari Adrian diam tidak langsung memberi jawaban.

“Apa polisi-polisi itu yang menyuruhmu ?”

“Ini demi kebaikanmu,” Dalili memberi nasihat. “Lihat anak-anak itu, mereka ketakutan.” Dalili mencoba memancing rasa kasihan Ari agar semua sandera mau ia lepaskan, terlebih anak-anak kecil. Dalili mengikuti semua prosedur sesuai apa yang komandan Rudi komandokan. Agaknya Dalili berhasil, karena tatapan Ari yang tajam dan keras, melunak melihat bagaimana ekspresi anak-anak di pojok ruangan meringkuk.

Ari Adrian mengumpulkan semua diruang tengah atau lebih tepatnya tempat bermain. Ruangan itu lapang dan luas. Anak-anak dikumpulkan dipojok ruangan dekat meja-meja panjang ditumpuk. Ada satu pengurus yang mencoba menenagkan mereka. Lima belas anak duduk meringkuk berdempet-dempetan satu sama lain. Beberapa diantaranya menangis dan yang lainnya telah berhasil ditenangkan. Pengurus yang bersama anak-anak itu lebih muda dari yang lainnya, berumur 21 tahun. Sifatnya penyabar dan penyayang membuat banyak anak-anak lengket dengannya. Ari masih terus menatap anak-anak itu. Beberapa saat ia terlihat tenang, pikiran dan perasaannya tengah sibuk menimbang-nimbang.

“Seperti itu,” kata Ari datar. “Dulu aku seperti itu namun tak satupun pengurus yang memedulikaku !!” tambahnya kini memekik. Tatapan matanya yang semula melunak kini kembali tajam berang. Ari menatap pak Hari yang adalah pemilik panti. Tatapan kebencian terlihat jelas dimata Ari.

“Berhentilah, ini hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Biarkan anak-anak itu pergi, mereka tidak ada hubungannya dengan semua ini,” Dalili meminta nyaris memelas.

“Jangan lakukan itu,” kali ini Ari yang meminta pada Dalili. Ia sangat mengagumi Dalili dan akan sangat merasa bersalah jika memerlakukannya dengan buruk. Tatapan Dalili yang memelas sedih sangat mengganggu perasaannya. “Dia, dan dia, mereka bukan orang-orang yang sepenuhnya tulus,” Ari menunjuk Pak Hari dan Bu Rus. “Mereka melindungi sifat serakah mereka dengan mengatas namakan panti.”

Ingatan Ari tentang hari dimana ia diperlakukan tidak adil teringat jelas dalam benaknya. Ari adalah anak yang sangat pendiam, ditambah lagi dengan luka pada wajahnya membuat ia dibully teman-teman di panti. Hanya beberapa yang baik dan mau dekat dengannya. Karena tidak bergaul dengan baik itulah kepala panti tidak memerlakukan Ari dengan baik. Banyak sekali batasan yang diberikan padanya. Pernah suatu kali ia berkelahi karena membeladiri namun akhirnya ia yang dipersalahkan. Ari dipukul dan dihukum dengan keras. Ari Adrian benar-benar ingin memiliki sebuah keluarga, ingin diperlakukan manis seperti anak sendiri seperti yang Bu Rus lakukan pada anak-anak lainnya, tapi Bu Rus terlihat begitu mementingkan materi dan pilih kasih.

“Maaf,” Dalili menjatuhkan lututnya dan menundukkan kepalanya. Ari dan 6 pengurus terbelalak melihat tingkah Dalili. Tapi Dalili tetap mengucapkan kata maaf sebanyak tiga kali. Ia berharap dengan ini emosi Ari bisa reda seutuhnya dan mengakhiri semua.

“Berdiri,” ucap Ari datar. Dalili tetap tidak berdiri dan mengankat kepala, ia malah terus mengucapkan maaf. “Berdiri kataku !!!” Ari memekik berang. “Kenapa ? kamu tidak bersalah apapun padaku kenapa harus meminta maaf ? mereka yang melakukan itu padaku, dunia ini yang tidak adil karena tidak mengutus satupun orang baik untuk menguatkanku yang hidup diantara orang-orang menjijikan.”

“Karena itukah kamu juga memilih untuk menjadi orang yang menjijikan sepertiku ?” pak Hari menimpali.

“DIAM !!!” teriak Ari Adrian memenuhi ruangan membuat anak-anak ketakutan. “Manusia menjijikan itu lahir karena adanya manusia menjijikan lainnya. Dunia ini harus dibersihkan dengan begitu tidak akan ada lagi bibit-bibit buruk dari manusia menjijikan.”

“Tidak begitu,” Yuna berbicara dari luar yang diikuti oleh Dalili setelah mendengarnya. “Bagaimana kehidupan ini dijalani kita sendirilah yang memilihnya. Kamu tidak benar-benar sendiri. Ingat Pak Hasan dan istrinya ? mereka orang baik yang mau menerimamu meski mereka sendiri tengah kesulitan ekonomi. Teman-temanmu di panti. Coba ingat lagi, tidak mungkin mereka semua memusuhimu, iyakan ? mereka semua adalah orang-orang baik yang diutus untuk melindungi dan menjadi temanmu. Siapapun boleh menjadi hama, tapi terinfeksi atau tidak, kita yang memutuskannya.”

Ari terdiam seolah merenungkan kata-kata yang didengarnya. Sesaat kemudian Pak Hari menunduk meminta maaf, disusul Bu Rus dan para pengurus yang lainnya. Meski beberapa diantara mereka tidak tahu-menahu tentang apa yang terjadi, mereka turut meminta maaf atas apa yang telah menimpa Ari. Menjadi perwakilan untuk orang-orang lain yang tidak memedulikannya saat itu. Hening, hanya sesegukan anak-anak yang terdengar. Ari tersenyum sinis.

“Kalian sangat pandai berkata-kata manis untuk menipu perasaanku, INI TIDAK ADIL !!!” –Dor, Ari menarik pistolnya dan menembak kearah Pak Hari. Lengah bagian atas Pak Hari robek oleh timah panas. Pak Hari menjerit kesakitan.

Keadaan mulai kacau, begitu juga dengan keadaan diluar. Mereka sama sekali tidak memerkirakan bahwa Ari Adrian memiliki senjata yang ternyata ia sembunyikan dibalik jaketnya. Tidak ada informasi apapun yang mengatakan bahwa Ari Adrian memiliki senjata yang ia bawa selain bom. Seorang petugas melapor pada Komandan Rudi bahwa pasukannya telah berhasil menyusup masuk dan tengah bersiap-siap. Komandan Rudi hanya berpesan agar mereka berhati-hati dan lebih mengutamakan keselamatan sandera.

“Kamu juga telah menipuku,” Ari mengarahkan pistolnya pada Dalili. “Bagus sekali peranmu untuk memengaruhiku. Polisi-polisi yang mengutusmu pasti bangga dengan hasil yang telah kamu sampai pada tahap ini.”

Dalili melepas alat bantu dengarnya bersamaan dengan alat yang bisa membuatnya terhubung dengan komandan Rudi, Dalili juga melepas kamera kecil yang diselipkan di bajunya. Dalili melempar benda-benda itu menjauh darinya. Juga rompi anti peluru. Kini suara kacau karena tangisan anak-anak tak lagi terdengar olehnya. Semua hening. Yang ada hanya tatapan marah, ketakutan, keheranan, dan tidak percaya. Semua itu nampak bagai nada dimata Dalili.

“Kau pernah menyelamatkanku dan aku berhutang nyawa padamu. Biar bagaimanapun caranya aku tidak mungkin bisa menebus semua itu,” Dalili meneteskan air matanya. Berhutang nyawa dan memihak pada kebenaran. Bagaimana ia harus memosisikan diri saat berhadapan dengan orang yang telah menyelamatkan nyawanya namun disisi lain tindak kejahatan tetaplah kejahatan. Itulah sebabnya Dalili langsung berpikir untuk bekerjasama dengan Yuna dan kepolisian. Hanya dengan cara ini ia bisa bertemu langsung dengan Ari Adrian. Berterimakasih pada orang yang telah menyelamatkan nyawanya. Dalili menundukkan kepalanya. “Menemukan pembaca setia sepertimu adalah hal yang menyedihkan buatku. Dengan semua hal yang telah aku tuangkan dalam tulisanku dengan segenap rasa, tetap tidak mampu menyentuh sisi tergelap dalam dari dirimu.” Air mata Dalili mengalir semakin deras.

“Seandainya... jika saja kau datang lebih cepat, mungkin kegelapan itu tidak akan sampai membakarku seperti ini,” Ari Adrian menitikkan air matanya. Semua hal yang dilalui tidaklah mudah. Memilih jalan inipun tidak mudah untuknya. Membuang perasaannya sendiri dan hanya menghadirkan amarah justru membuatnya tersiksa. Tapi dengan jalan ini ia bisa membakar sebagian dari masalalunya yang sangat menyakitkan. Membuat orang lain melihat dirinya yang penuh luka dan berusaha sembuh dengan cara yang keras.
Ari Adrian menurunkan pistol yang ia todongkan kearah Dalili. Tepat disaat itu sebuah peluru membidik tangannya. Sebuah tembakan yang mengunakan slincier untuk meredam suara. Pengurus panti yang bertugas menenangkan anak-anak dan menyuruh anak-anak agar tetap menutup mata mereka. Pistol yang Ari pegang terlepas dari tangannya dan terpental. Tanpa diduga ternyata pasukan penyelamat para sandera telah masuk dan menyerang. Ari sigap hendak mengambil pistolnya namun satu tembakan lagi menyerang kakinya hingga akhirnya ia terjatuh. Ari belum berhenti, ia masih tidak juga menyerah. Meski polisi telah mengingatkan untuk tidak bergerak, Ari tetap saja bergeser hendak mengambil pistolnya. Meski tangan dan kakinya diserang rasa sakit yang luar biasa, Ari Adrian tetap tidak mau menyerah juga. Kali ini sebuah bidikan diarahkan lagi padanya, namun belum sampai menembak, Dalili berdiri sebagai tembok menghalangi.

“Jangan... Hentikan,” kata dibarengi deraian airmata.

Ari Adrian akhirnya berhenti juga. Jika ia memaksa tetap bergerak bisa saja kali ini peluru mengenai Dalili. Kali ini ia benar-benar luluh dengan sikap Dalili. Ketulusannya dan keteguhan hatinya.

Setelah meringkus Ari, Ari dibawa kerumah sakit lebih dulu untuk mendapat pengobatan tangan dan kakinya yang terkena tembak. Tim gegana masuk dan menjinakkan 2 bom yang Ari Adrian sembunyikan di bagian sisi panti. Semua bisa bernafas lega kini. Pelaku telah tertangkap dan tidak ada lagi korban berjatuhan. Meski begitu bukan berarti tidak akan pernah terjadi lagi hal serupa. Semua memiliki kemungkinan. Siapapun yang tidak bisa mengendalikan dirinya akan menjadi korban paling empuk oleh kejahatan emosional para penghuni bumi. Kejahatan emosional itulah yang pada akhirnya akan mengembangbiakkan kejahatan fisik yang nyata. Siapa yang tidak tahu mencuri adalah hal yang buruk, tapi tetap dilakukan untuk memenuhi perut-perut yang kelaparan. Siapa yang tidak tahu membunuh juga hal yang buruk, tapi tetap ada saja ada yang melakukannya dengan bermacam-macam alasan yang diumbar. Di Negara semaju atau sebesar apapun pelaku kejahatan tidak akan pernah bisa dihilangkan seutuhnya. Paling banter hanya bisa ditekan tingkat perkembangannya. Dengan cara meningkatan taraf hidup masyarakatnya dan pemberian hukuman berat pada pelakunya. Tapi tetap tidak akan musnah sepenuhnya dari muka bumi. Inti dari semua itu adalah pengendalian diri, jika tidak mampu mengendalikan diri, iman seharusnya bisa menjadi pilihan terakhir, rem dari segala tindak tanduk kejahatan.
¤¤------------¤¤------------¤¤-------------¤¤-----------¤¤------------¤¤

--Bersambung--