Setelah kasus selesai, Yuna pamit pulang lebih dulu. Ada hal yang harus dipastikannya. Seharian tadi ponsel Yuna terus berdering dan panggilan yang masuk semuanya sama, dari nomor baru yang sama. Yuna mengangkat panggilan itu sesaat setelah Ari Adrian digelandang ke kantor polisi. Tidak ada sama sekali dalam pikirannya bahwa yang menghubunginya adalah Laila, kakak perempuan Ozi. Laila memintanya bertemu untuk mengatakan ada hal yang penting.
“Saat itu dia mengalami kecelakaan parah. Tepat sehari sebelum kalian seharusnya bisa mendaftar di universitas yang sama,” Laila memulai. Mereka berada di taman rumah sakit. Lagi-lagi kesehatan Ozi menurun sehingga ia harus masuk rumah sakit. Ozi berada disisi lain bersama kakak iparnya. Ozi bercanda dan tertawa, menyembunyikan dukanya. Perasaannya karena tidak mungkin menemui Yuna dengan keadaannya yang seperti ini, juga perasaan lelahnya mengikuti semua terapi pengobatan yang sampai hari ini belum juga mengembalikan kesehatannya seperti sediakala. “Dokter bahkan memfonisnya tidak mungkin lagi bisa diselamatkan saat itu.”
“Kenapa mba tidak mengatakan hal itu lebih awal ?” Yuna tidak habis pikir bagaimana selama ini ia sama sekali tidak pernah dihubungi terkait apa yang tengah menimpa Ozi. Tanda tanya yang sangat besar tentang bagaimana Ozi hidup selama ini, apa yang tengah dilakukannya, dan bahagia ataukah tidak, Yuna tiadak bisa berhenti memikirkan itu. Ia ingin tahu semua itu, benar-benar ingin tahu namun tidak ada apa atau siapapun yang bisa memberinya jawaban tentang Ozi. Bahkan teman dekatnya saat SMA pun tidak ada yang tahu dimana Ozi tinggal. Menunggu seseorang selama beberapa tahun dan tidak tahu apapun tentang orang yang ditunggu, semua itu terasa gila.
“Bagaimana mungkin,” Laila menghela nafas. Baginya mengambil keputusan ini tidaklah mudah. Ia harus diam-diam menghubungi Yuna di belakang Ozi. “Ketika Ozi koma, kami sendiri sudah sangat terpukul karena itu. Ozi sendiri sangat memikirkan kebahagianmu. Bagaimana mungkin aku bisa mendatangimu untuk bertemu Ozi yang keadaannya sangat menyedihkan. Aku juga melihatmu sudah memulai hidup baru bersama si detektif itu,” Laila menjelaskan keadaannya yang sangat tidak memungkinkan untuk memaksa dirinya menemui Yuna lebih awal.
Yuna tediam. Ia langsung bisa mengerti siapa yang Laila maksud. Memikirkan Duge tiba-tiba membuat Yuna merasa bersalah. Yuna menatap jam tangan pemberian Duge yang melingkar dipergelangan kirinya. Yuna menghela nafas. Ozi yang sangat ingin ia ketahui keadaannya, yang sangat ingin ia temui ada didepannya. Dengan jarak yang jauh lebih dekat dibanding tahun-tahun lalu, tapi pikirannya masih saja sempat tertuju pada orang lain.
“Yuna maaf,” Laila berucap tulus. “Ini memang sedikit egois, tapi biar bagaimanapun juga Ozi adalah adikku. Setelah bertemu denganmu aku berharap pikirannya bisa lebih tenang, bisa lebih bahagia.”
“Tidak apa-apa,” Yuna melebarkan senyumnya. Meyakinkan Laila bahwa semuanya baik-baik saja. “Sungguh tidak apa-apa. Aku dengan kak Duge tidak ada hubungan apapun.”
“Benar ? kamu tidak sedang berusaha membohongi diri sendirikan ?” Laila bertanya lagi tak enak hati. Ia memerhatikan Yuna dengan teliti. Bagaimana cara Yuna menjawab dan sikapnya saat melihat Ozi. Yuna mengangguk mantap dan Laila pun percaya.
Saat seru-serunya bercerita tentang perkembangan sepak bola Indonesia yang telah sampai pada juara grup setelah mengalahkan Korea dengan skor 3-2, Yuna muncul dihadapan Ozi. Mata Ozi melebar tidak sepenuhnya percaya bahwa orang yang ada didepan matanya adalah Yuna.
“Apa kamu sakit ?” Yuna bertanya. Ozi masih menatap Yuna tidak percaya. Perlahan tatapan keterkejutannya berubah menjadi haru. Ozi memandangi Yuna dan kakaknya Laila yang berdiri tepat disamping Yuna bergantian. “Apa kamu benar-benar sakit ?” tanya Yuna lagi karena Ozi tak kunjung menjawab pertanyaannya. Yuna menginjak kaki Ozi cukup kuat sehingga Ozi memekik kesakitan.
“Spertinya tidak cukup sakit karena teriakanmu sangat keras,” tambah Yuna cekikikan melihat reaksi Ozi yang mengelus-elus kakinya sambil mengaduh.
Inilah orang yang selama ini sangat ingin Ozi temui. Semua perasaan rindu yang selama ini sudah dibendungnya dengan susah payah akhirnya meluap keluar. Perasaan yang membebani hatinya itu akhirnya terangkat juga.
“Yunaaaa...” Ozi berdiri dari dududknya untuk memeluk Yuna namun kakak iparnya menarik baju Ozi hingga kembali terduduk lagi.
“Ini tempat umum, bukan drama telefisi jadi jaga tingkah lakumu,” sindir kakak iparnya, yang lain tertawa.
Ozi menarik nafasnya dalam-dalam. Ia merasa begitu senang hari ini.
“Ayo kita pergi makan,” Ozi mengosok-gosokan telapak tangannya tanda ia sangat bersemangat. Wajahnya berubah ceria. Kali ini ia benar-benar bahagia, tidak hanya sekedar memanipulasi dirinya. Suasana hatinya benar-benar mampu berubah dengan cepat.
“Dasar,” celetuk Laila sambil menyundul kepala adiknya dengan jarinya. Meskipun begitu semua setuju. Laila sangat lega melihat betapa lebar adiknya tersenyum.
Mereka mengurus keluarnya Ozi dari rumah sakit terlebih dahulu sebelum akhirnya meluncur mencari makan. Ozi menawarkan berbagai tempat makan yang menurutnya enak untuk Yuna pilih. Ozi terlihat begitu sehat, dan bersemangat. Inilah Ozi yang Yuna kenal saat di SMA beberapa tahun lalu. Ozi yang sangat suka tersenyum seperti ia hidup tanpa ada beban yang dipikul. Siapapun yang ada didekatnya pasti akan ikut merasa senang. Perasaan lega dan kerinduan yang tidak terobati selama ini akhirnya mencair juga pada titik ini. Yuna melepas jam tangan pemberian Duge dan menyimpannya dalam tas. Yuna tidak ingin merasa bersalah karena perasaannya. Yuna dan Ozi, keduanya sama sekali tidak membahas bagaimana kehidupan satu sama lain selama ini. Mereka hanya ingin menikmati hari ini.
“Coba ini, ini, ini juga enak, ini paling terkenal disini,” Ozi memberi rekomendasi makanan apa yang harus dipilih Yuna untuk dicoba.
“Hei, hei perutku bisa meledak kalau memakan semua ini,” Yuna protes.
“Tidak akan.” Ozi akhirnya memilihkan makanan untuknya dan yuna. “Kamu terlihat lebih kurus, jadi kamu harus makan lebih banyak setelah ini.”
“Sayang, aku iri sekali,” Laila berucap manja pada suaminya. “Sekarang Ozi sudah berpaling pada Yuna sepenuhnya. Padahal yang selama ini selalu menemaninya ‘kan kakaknya yang cantik ini.”
“Baiklah kalau begitu aku juga akan memesankan makanan yang terbaik ditempat ini untukmu,” suaminya membalas mesra.
“Aku juga,” Yuna menimpali. Ia mengambil buku menu yang ada ditangan Ozi. “Ini sebagai bentuk terimakasihku karena selama ini selalu menemani Ozi yang merepotkan ini.”
“Eh, kamu sudah pernah kesini sebelumnya ?” Laila bertanya.
Yuna mengangguk. Ia memang pernah makan ditempat ini sekali. Bersama Duge dan petugas lain yang menangani kasus pengeboman yang akhirnya bisa diselesaikan hari ini. Duge. Pria itu terlintas lagi. Yuna menghela nafas. Tanpa ia ketahui Ozi, kakak, dan kakak iparnya menyadari itu. Laila dan suaminya saling menatap, hanya Ozi yang berpura-pura tidak mengerti. Laila merasa kemungkinan saja apa yang Yuna katakan tadi sebelum memutuskan muncul didepan Ozi tidak seutuhnya benar. Ketiganya menatap Yuna bersamaan.
Yuna pamit pulang lebih dulu setelah ia menyelesikan santapannya. Hari sudah petang dan jam menunjuk pukul 20.35.
Di parkiran tempat motornya berdiri dengan rapi, seseorang menunggunya. Duge.
“Aku tadinya ingin makan disini, tidak disangka melihat motormu disini,” Duge berucap tanpa Yuna tanya. Yuna memerhatikan Duge sesaat kemudian sadar bahwa Duge berbohong. Duge pasti tahu keberadaannya karena jam tangan yang diberikannya.
Duge melirik tangan Yuna dan tidak ada apapun yang melingkar di tangan Yuna. Duge heran. Ia tidak mungkin bisa menemukan Yuna jika jam tangan itu tidak bersamanya.
“Maaf,” Yuna berucap. Ia mengambil jam tangan yang ia simpan dalam tasnya untuk dikembalikan pada Duge. Duge tidak langsung menerimanya ketika Yuna menyodorkan jam tangan itu. Duge menatap Yuna sedih seolah memelas agar Yuna tidak melakukan hal itu padanya.
“Kenapa ? aku ingin kamu memiliki sesuatu yang berasal dariku,” Duge belum juga menerima kembali jam tangan yang Yuna sodorkan padanya. Ia berharap Yuna berubah pikiran dan tetap mau menyimpan jam tangan pemberiannya.
“Aku akan merasa sangat bersalah karena ini,” Yuna berkata sambil tertunduk. Ia tidak ingin digoyahkan oleh tatapan Duge. Duge tersenyum samar.
“Merasa bersalah padanya karena menyimpan sesuatu dariku ?”
“Bukan. Tapi merasa bersalah pada...” Yuna berhenti, tidak melanjutkan kata-katanya. ‘Merasa bersalah pada kak Duge. Aku merasa bersalah karena disaat aku menyimpan sesuatu dari kak Duge aku justru memilih bersama orang lain.’
“Pada siapa, padaku ?!” Duge berkata seolah bisa mendengar apa yang Yuna katakan pada dirinya sendiri. “Benar kamu merasa bersalah padaku ? apa itu artinya kamu mulai menyukaiku ?” Duge terus bertanya untuk memastikan apa yang dipikirkannya. Sayangnya tak satupun dari pertanyaannya, Yuna berikan jawaban. Diamnya Yunalah yang selama ini membuatnya terus berharap. Selama Yuna tidak menyuruhnya pergi itu berarti masih ada harapan. Harapan yang meski hanya 1% yakin bisa ia rubah dengan usahanya yang tulus. Bukankah wanita sangat mudah luluh dengan ketulusan.
“Aku mau pulang, cepatlah kakak terima ini,” Yuna berkata masih menunduk.
“Si beruntung itu,” kata Duge menyindir Ozi. “Kenapa dia datang saat aku akan mendapatkanmu. Padahal tinggal selangkah lagi,” tambahnya kemudian menerima kembali jam tangan pemberiannya. Yuna membelakangi Duge dan benar-benar akan pergi. Tapi Duge menahannya. Ada hal yang masih ingin dikatakannya.
“Tunggu,” katanya. “Bukankah anak itu sudah muncul, jadi apa aku sudah boleh bilang ?”
Yuna segera menutup telinganya, ia seperti tahu apa yang akan Duge katakana. Tidak ada suara karena Duge memang belum memulai. Duge menatap Yuna datar. Apa yang dilakukan gadis itu membuat perasaanya dipenuhi sesak yang perih. Yuna masih menutup telinganya tapi kemudian ia buka. Yuna sendiri tidak tahu kenapa ia lakukan itu. Sebelumnya ia begitu tegas pada perasaannya, tapi sekarang ia terombang-ambing tidak jelas. Ia tidak ingin Duge mengatakan bagaimana perasaannya tapi ia justru membuka telinganya, bersiap mendengarkan.
“Aku sungguh sangat menyukaimu. Apa yang kurang dariku, kenapa Yuna hanya melihat kearahnya yang jauh disana, yang bahkan tidak terlihat ?” Duge mengungkapkan isi hatinya. Matanya berkaca-kaca karena terlalu menyakitkan. Perasaan yang selama ini sungguh sangat ingin ia utarakan pada gadis yang sudah membuatnya dipenuhi banyak perasaan tak menentu. Sebenarnya bukan dikondisi seperti ini, dengan perasaan sekacau ini ia utarakan perasaannya. Tapi apa boleh buat. Hanya saat ini ia diberi kesempatan. Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel. Suara dering itu lambat laun semakin menjauh yang artinya itu bukan berasal dari ponsel Yuna maupun Duge.
Yuna menarik nafas dan berbalik. Ia sudah siap menjawab pernyataan Duge.
“Dia... Ah bukan,” Yuna menggeleng dan meralat sendiri kata awalnya. “Maksudku Ozi. Ozi sudah mengikatku. Kakak tahu, sebelum dia pergi dia memantraiku agar selalu kembali kearahnya sejauh apapun kami berpisah. Bukankah dia curang ? dilakukan hal sesukanya seperti itu. Karena itulah selama ini aku tidak bisa melihat siapapun selain dia. Sekarang kakak mengertikan.” Yuna ingat ketika terakhir kali ia bertemu dengan Ozi, Ozi pernah meletakkan telunjuknya di keningnya sambil mengatakan ‘Ini adalah sihir cinta. Sejauh apapun kamu pergi, kamu akan selalu kembali kearahku.’ Yuna sebenarnya tidak memercayai hal semacam itu, tapi ia benar-benar telah terperangkap oleh perasaannya terhadap Ozi. Entah itu benar apa adanya atau hanya ilusinya semata yang jelas selama ini bayangan tentang Ozi selalu menghiasi benaknya. Duge mengangguk dan membiarkan Yuna pergi.
¤¤------------¤¤------------¤¤-------------¤¤-----------¤¤------------¤¤
Di rumah Yuna ingin sekali menceritakan apa yang tengah dirasakannya pada Yugi. Barangkali Yugi bisa memberinya pendapat yang kemudian bisa meringankan dilemanya. Yuna keluar dari kamar setelah menyelesaikan semua yang harus ia kerjakan. Yugi muncul dari kamarnya dengan berpakaian rapi. Terciup aroma parfum segar. Yugi berpenampilan rapi dengan kemeja hitamnya.
“Mau kemana ?” tanya Yuna.
“Menurut kakak ?” Yugi balik bertanya tidak langsung menjawab pertanyaan kakaknya.
“Kamu... punya pacar ?” Yuna menebak-nebak. Yuna baru ingat bahwa hari ini adalah malam minggu. Yugi tidak pernah lagi banyak bercerita pada Yuna tentang apapun semenjak Yuna sibuk dengan pekerjaannya menjadi asisten detektif. Yugi menahan tawanya yang akan meledak.
“Aku belum bisa menemukan wanita sebaik Ibu dan kakak. Kalau sudah kutemukan pasti langsung kulamar. Tidak boleh membiarkan wanita baik-baik berlama-lama sendiri. Iya, kan.” Yugi merapikan penampilannya dan memerbaiki gaya rambutnya. Ia terlihat tampan. Dari mata, hidung, dan bentuk wajahnya yang tirus.
“Kamu sedang menyindirku ?” Yuna duduk didepan telefisi dan meraih remout di meja.
“Kakak ini sensitif sekali,” Yugi melihat jam tangannya kemudian pamit.
Yuna menghela nafas. Kini ia hanya sendiri saja di rumah. Ibunya pergi pengajian rutin seminggu sekali dan belum pulang. Sebenarnya hari ini melelahkan, tapi ia ingin segera bisa menemukan kepastian dari perasaannya. Yuna mengerti ia tidak mungkin memilih setelah mengatakan hal seperti itu pada Duge. Tapi paling tidak ia bisa memberi kepastian pada dirinya sendiri. Lama Yuna terdiam menatap datar layar telefisi, ponselnya berdering.
Dengan mengenakan sweater dan celana training, Yuna berjalan disepanjang trotoar. Setelah melewati persimpangan, Yuna sampai pada warung sate di pinggir jalan. Di tempat itu, Afifa telah menunggu. Afifa menawarkan seporsi sate pada Yuna, namun Yuna menggeleng dan memesan minum saja. Di tempat duduk lain ada sepasang muda-mudi yang juga menikmati santap satenya sambil mengobrol ringan, selain itu seorang pemuda yang sepertinya baru pulang kerja juga menikmati makan malamnya. Sambil makan, Afifa mendengar cerita Yuna mengenai pertemuannya dengan Ozi dan dilema apa yang tengah dirasakannya. Setelah menyelesaikan ceritanya, Yuna menyeruput es jeruk yang ada didepannya. Lega. Apa yang ingin ia ceritakan telah dikeluarkan semuanya.
“Hmmm…” Afifa bergaya seolah seorang psikolog yang sedang menerima konsultasi dari pasiennya. Afifa menghabiskan makanan di mulutnya sebelum ia memberi komentar. “Menurutku sih, kamu sedang mengalami masa transisi.”
Yuna mengerutkan keningnya tidak mengerti. Apa masalah perasaan juga ada masa transisinya, ia tidak pernah mengerti mengenai itu. “Ada dua hal, kamu hanya goyah atau telah berpaling seutuhnya.”
“Jadi bagaimana aku bisa tahu ada diposisi mana aku ?” Yuna bersiap menyimak dengan baik penuturan dari temannya itu. Afifa menyuap satenya sambil berpikir.
“Hanya kamu yang tahu. Coba perbandingkan, siapa yang lebih sering muncul dalam pikiranmu, siapa yang lebih tidak ingin kamu sakiti perasaannya,” Afifa memberi saran. Perasaan adalah hal yang cukup rumit. Meskipun itu pemiliknya sendiri tidak ada jaminan akan bisa dimengerti sepenuhnya.
“Kak Duge sangat baik, kupikir itu sebabnya saat aku bersama Ozi aku selalu mengingat kak Duge dan merasa bersalah,” Yuna mengutarakan apa yang dirasakannya.
Afifa hanya terdiam. Menurutnya alasan yang Yuna utarakan belum bisa menjadi patokan ada diposisi mana Yuna saat ini. Harus ada sesuatu yang lebih spesifik lagi.
¤¤------------¤¤------------¤¤-------------¤¤-----------¤¤------------¤¤
Keesokan harinya, Dalili meminta bantuan Yuna agar mau menemaninya menjenguk Ari Adrian dalam sel. Yuna setuju dan bersama-sama mereka menjenguk Ari Adrian. Sebenarnya hari ini ada reunian di SMA. Semalam Yugi baru memberikan undangannya. Ia lupa karena melihat kakaknya akhir-akhir ini sangat sibuk. Sebenarnya Yugi ditunjuk sebagai salah satu panitia dan semalam ia ke sekolah untuk mengurus beberapa hal yang belum selesai.
Dalili membawakan majalah yang berisi cerpen tulisannya yang baru dimuat. Ceritanya mengenai seorang anak yang saat kecil diberi label sebagai pencuri karena saat melakukan aksinya pertama kali ia ketahuan. Meski sudah tidak pernah lagi mencuri, lingkungan tetap menganggapnya sebagai pencuri. Sampai akhirnya Ayahnya meninggal dan anak itu berhenti sekolah, ia memutuskan untuk benar-benar menjadi pencopet ulung untuk memenuhi kebutuhan perutnya dan sang Ibu. Konflik diakhiri saat Ibunya tahu apa yang dikerjakan anaknya dan memarahinya habis-habisan, bahkan juga sampai memukulnya. Tapi anak itu membela diri dengan berbagai macam alasan, ‘toh orang-orang sudah menganggapnya sebagai seorang pencuri’. Tapi sang Ibu berkata dengan tegasnya “siapapun boleh menjadi hama, tapi ini kehidupan. Terinfeksi atau tidak kita yang memutuskannya.”
“Kenapa, apa ada hal yang kamu pikirkan ?” Dalili bertanya karena melihat Yuna sepertinya tidak tenang. Mereka telah selesai menjenguk Ari Adrian dan kini duduk di sebuah café untuk menyegarkan tenggorokan.
“Sebenarnya hari ini aku ada reunian,” Yuna mulai menjelaskan.
“Apa, jadi aku menganggu waktumu ?” Dalili merasa tidak enak hati.
“Tidak, tidak. Bukan begitu,” Yuna segera menimpali. “Sebenarnya akan menyenangkan bertemu dengan teman-teman lama. Tapi, entah kenapa rasanya ada yang berat.” Yuna menceritakan bagaimana situasinya namun bingung memilih kata.
“Pergilah, dengan begitu Yuna akan bisa memastikan keraguan yang sedang memberatkan hatimu. Jika dihindari tidak akan menyelesaikan apapun. Yang ada hanya akan semakin diberatkan oleh keragu-raguan. Itu akan sangat menyiksa.”
Akhirnya Yuna setuju dengan saran Dalili untuk pergi ke sekolah. Yuna mulai memasuki pekarangan sekolah yang sepi. Hanya parkiran yang nampak padat dengan kendaraan-kendaraan, sementara semua orang tengah berkumpul di aula. Yuna melangkahkan kakinya. Ia tidak sedang menuju ke aula tempat dimana semua teman-teman alumni berkumpul. Yuna memilih mengelilingi sekolah saja. Toh ia juga sudah sangat terlambat. Beberapa hal sudah banyak yang berubah, terutama cat tembok dan penempatan tanaman dibeberapa halaman kosong. Sekolah kini terlihat lebih asri dibanding saat terakhir kali Yuna berkunjung. Kolam didepan ruang guru juga lebih terlihat menarik dengan gaya baru. Kenangan tentang masa putih abu-abu yang menyenangkan pun memenuhi benak Yuna sehingga ia senyum-senyum sendiri ketika melewati setiap kooridor. Yuna tiba di kelas XI IPA 1, ruangan yang pernah menjadi kelasnya. Pintu ruangan itu sedikit terbuka.
Didalam kelas seseorang dengan pakaian putih abu-abu menoleh kearah Yuna sambil tersenyum. Senyumnya terlihat sangat manis karena tulus. Orang itu adalah Ozi. Ia berdiri di deretan kursi yang dulu adalah tempatnya duduk. Yuna selalu merasa senang ketika melihat Ozi tersenyum. Semua beban seakan terangkat semua. Orang itu seperti selalu bisa menularkan energi kebahagian kepada siapapun yang ada disekitarnya. Yuna membalas dengan senyum kemudian gambaran tentang Ozi menghilang. Yuna sadar kalau kemunculan Ozi itu hanya ilusinya semata. Yuna masuk dan duduk di bangku yang dulu ia tempati. Baris ketiga dari pintu, dan dideretan kedua dari depan. Yuna menarik nafas kemudian menghidupkan imajinasinya tentang bagaimana suasana didalam kelas saat itu.
Didepannya duduk bendahara dan ketua kelas. Kemudian Yuna dan teman sebangkunya yang tidak terlalu dekat. Yuna justru lebih dekat dengan tetangga di belakang tempat duduknya, Hasni dan Vemi. Kemudian di belakang Hasni dan Vemi duduk Yugi dan teman sebangkunya. Ozi duduk dibaris kedua dari pintu deretan paling belakang. Semua teman-teman sekelas Yuna dan bagaimana keadaan kelas saat itu muncul satu persatu. Kelas yang bersih dengan suasana putih, white board, beberapa tempelan poster tentang struktur tubuh manusia di tembok belakang, struktur kepengurusan kelas yang tertempel di samping white board. Tidak lupa Yuna juga membayangkan seorang guru yang sedang mengajar. Bu siti. Yuna sangat mengingat bagaimana karakter gurunya yang satu itu. Guru yang sangat tegas dan disiplin. Paling tidak suka jika saat jam pelajarannya ada anak didiknya yang memotong penjelasannya untuk izin ke toilet atau apapun itu.
Yuna merasa semua yang ada disekitar hidup dan nyata. Ketika ia menoleh kebelakang Hasni dan Vemi tersenyum padanya, bagaimana suara Bu Siti yang jelas dan keras sedang menerangkan materi tentang listrik statis. Ketika Yuna mengarahkan pandangannya ke pintu masuk, seorang terlihat baru datang. Ozi. Yuna menoleh ke tempat dimana orang itu seharusnya duduk dan sosok itu memang tidak ada ditempatnya. Ozi masuk dan melempar senyum entah kepada siapa karena anak itu memang sangat suka tersenyum. Ingatan Yuna yang sangat tajam memberi sinyal bahwa kejadian ini memang pernah ia alami, pada jam pelajaran yang sama. Saat itu meski Ozi telah sebulan menjadi penghuni baru di sekolah, itulah pertama kalinya Yuna tiba-tiba saja begitu terpanya ketika melihat Ozi tersenyum. Yuna baru sadar selebar apa jika Ozi tertawa dan semanis apa saat tersenyum. Mata Yuna masih terus mengikuti kemana Ozi melangkah. Waktu seakan berjalan lambat. Hanya ada dia dan orang yang dipandanginya yang berada diruang yang tidak dikuasai oleh waktu. Semua orang disekelilingnya serentak menghilang dengan teratur, seperti ketika api membakar sebuah kertas dari berbagai arah. Kertas itu tidak lebur, berupa abu yang masih pada bentuknya namun tidak pula berwarna seperti abu kebanyakan. Melainkan berwarna kecoklatan layaknya dedaunan yang kering. Yuna mengalihkan pandangannya sesaat, berpikir apa yang sedang dilakukannya saat ini. Sama persis seperti apa yang ia lakukan dulu. Mengalikan pandangannya sesaat membuat Yuna tersadar sesuatu. Ozi, tidak mengenakan seragam sekolah. Ozi mengenakan kemeja kain licin gelap, dipadukan dengan jeans dan sepatu santai.
Begitu terpananya melihatku, apa aku telah menjadi terlalu keren ?” Ozi berkata masih belum berhenti tersenyum. Yuna masih saja bengong, sampai akhirnya ia sadar bahwa Ozi yang ia lihat kali ini bukanlah sekedar imajinasinya semata.
“Astaghfirullah hal’azim,” Yuna mengucap istighfar sambil mengusap wajahnya dengan kedua teapak tangannya. “Sedang apa kamu disini, bukannya semua orang sedang di aula ?” tambah Yuna mengajukan pertanyaan dan mengabaikan begitu saja pernyataan Ozi yang narsis tentang dirinya.
“Bagaimana denganmu sendiri ?” Ozi duduk di kursi sebelah kanan Yuna. “Datang terlambat bukannya langsung ke aula malah keluyuran kesini.” Ozi membalas kata-kata Yuna tidak mau kalah.
Yuna tidak menanggapi. Ia hanya diam memanyunkan bibirnya. Yuna menghela nafas kemudian berdiri dari tempat duduknya menuju papan tulis. Yuna menempelkan jarinya di papan dan menulis namanya.
“Yuna.”
“Hmm,” Yuna menoleh pada Ozi.
“Kapan kamu akan mengatakannya ?” kalimat Laila mengiang begitu jelas di telinga Ozi. Pembicaraan dengan kakanya semalam. “Kamu harus segera mengatakannya karena kita harus menyusul Ayah dan Ibu secepatnya untuk pengobatanmu.”
“Apa tidak bisa ditunda seminggu saja ?” Ozi mengajukan penawaran. Ia akhirnya bisa melihat gadis yang sangat dirindukannya namun harus meninggalkannya lagi dengan segera. Hal itu merupakan pilihan yang berat untuknya. Apa lagi malam itu Ozi melihatnya. Ozi tanpa sengaja melihat Yuna dan Duge di parkiran ketika Yuna hendak pulang. Ketika itu Ozi ingin meminta nomor ponsel Yuna dan meminta Yuna menghubunginya setelah sampai di rumah. Memang hanya alasan karena sebenarnya ia bisa menanyakan nomor ponsel Yuna dari kakaknya. Tapi karena itulah Ozi bisa melihat sekaligus mendengarkan hal yang begitu menyesakkan untuknya. Tentang Yuna yang menyimpan jam pemberian Duge dan mengembalikannya, tentang kalimat Yuna bahwa ia merasa bersalah pada Duge yang meski Yuna sendiri tidak mengakui itu dengan jelas, dan juga tentang hal yang paling tidak bisa Ozi lupakan yakni pernyataan cinta Duge. Ketika itu Ozi tidak sempat mendengar apa jawaban Yuna karena tiba-tiba saja ponselnya berdering. Panggilan dari Ibunya yang tidak mungkin ia abaikan. Meski tidak mendengar apa jawaban pernyataan cinta Duge, namun Ozi percaya pada Yuna. Sangat memercayainya bahwa perasaan mereka masih sama. Percaya bukan berarti tidak ada ketakutan dalam hatinya. Ozi sangat tahu sudah berapa lama Duge menyimpan perasaan sukanya pada Yuna. Karena itulah Ozi ingin bertahan sebentar lagi agar bisa tetap bersama Yuna.
“Hei, kamu pikir kamu siapa ?” sengit kakaknya. “Yang membutuhkan dokter itu kamu. Kamu pikir dokter akan dengan senang hati menunggumu dan mengabaikan pasien-pasiennya yang lain ?” jawaban dari kakaknya itu menyatakan sudah tidak ada tawar-menawar lagi. Ozi sangat ingin sembuh, oleh karena itulah ia harus pergi. Sembuh agar bisa terus bersama semua orang yang ia sayangi.
“Begitu terpananya melihatku apa aku telah menjadi terlalu keren ?” Yuna mengembalikan kata-kata Ozi diawal dengan gaya bicara Ozi.
“Wah, itukan kalimatku.”
“Wah itukan kalimatku,” Yuna mengulang dengan mencontoh gaya bicara Ozi. Yuna tersenyum senang karena merasa ia sudah menang. Ozi diam menatap Yuna sambil berpikir. Perlahan reaksinya berubah menjadi serius.
“Yuna dengarkan ini baik-baik.”
“Yuna dengarkan ini baik-baik,” Yuna masih saja mengembalikan kalimat Ozi.
Ozi terdiam dengan reaksi seriusnya. Ozi bangkit dari duduknya. Ia berjalan mendekat sambil menatap Yuna lekat. Pada jarak 50 cm ia berhenti untuk melanjutkan kalimatnya. “Aku tidak ingin kehilanganmu lagi, menikahlah denganku.”
Mata Yuna melebar seketika. Ia terdiam beberapa menit dan menyadari betapa sunyinya kelas tanpa satupun dari mereka mengeluarkan suara. Mata Yuna kemana-mana, sedang berpikir, menikmati bagaimana perasaannya saat ini. Sementara Ozi masih berdiri ditempatnya, menatap Yuna lekat menunggu jawaban. Masih tak ada suara apapun, Yuna tersenyum.
“Wah,” Yuna menggunakan cara Ozi berbicara. “Keterlaluan sekali memermainkanku dengan cara seperti ini.” Yuna perhatikan Ozi namun reaksinya tetap tidak berubah. Ini berarti Ozi benar-benar melamarnya. Tiba-tiba saja jantung Yuna berdetak dengan cepatnya. Pelbagai perasaan datang dengan begitu menumpuknya memenuhi dada Yuna. Semua perasaan itu bercampur aduk dibuatnya, bahkan Yuna sendiri tidak tahu bagaimana menggambarkan apa yang sedang dirasakannya. Sama sekali tidak ada dalam benaknya Ozi akan melamarnya dalam waktu yang begitu cepat setelah sekian lama mereka tidak bertemu. Padahal ini baru pertemuan kedua mereka. Ozi terkesan terlalu terburu-baru. Dilamar orang yang disukai tentu saja sangat menyenangkan. Meski sama sekali tidak romantis seperti apa yang sering ditampilkan di sinetron-sinetron atau FTV. Tidak ada cincin dan bukan pada waktu malam hari yang romantis. Yuna memang tidak benar-benar pernah membayangkan dirinya akan dilamar seperti apa yang ada di sinetron atau FTV, kecuali saat Yuna menontonnya. Tapi siang-siang, dalam ruangan yang dipenuhi banyak kenangan semasa sekolah seperti ini dan tiba-tiba saja Ozi mengajaknya menikah, bagaimana bisa. Dan lagi kalau dihitung-hitung ini baru menit kedua puluh satu selama mereka bersama didalam kelas.
Ozi sendiri sebenarnya sama sekali tidak merencanakan melamar Yuna saat ini, namun ia yang tiba-tiba terpikirkan hal itu dan langsung saja mengeluarkan kalimatnya tanpa pertimbangan atau memikirkannya kembali.
“Yuna.”
“Yunaaaa…”
Suara Ozi teredam oleh suara seseorang yang terdengar lebih melengking saking girangnya. Orang itu langsung memburu memeluk Yuna. Seseorang lagi yang juga ikut mengekor tanpa berkata apapun. Keduanya kini memeluk Yuna. Vemi dan Hasni.
Yuna sendiri merasa sangat senang bisa bertemu lagi dengan keduanya temannya. Hasni dan Vemi kuliah di luar kota itulah mengapa mereka lama tidak bertemu. Pulang pun sangat jarang meski sedang libur. Terakhir kali bertemu saat bulan puasa tahun lalu.
“Ayo kita cari tempat yang ada makanannya untuk ngobrol,” Vemi berkata dengan antusiasnya.
“Kamu ini,” Hasni berkomentar. “Padahal hampir dua kotak kue kamu makan masih saja mencari makan.” Yang lain tertawa kecil.
“Apa acara di aula sudah selesai ?” tanya Yuna karena melihat Hasni dan Vemi telah berada di luar. Keduanya mengangguk bersamaan. Karena semua telah sepakat, mereka pun memutuskan untuk pergi.
Ketika keluar kelas, barulah terlihat seberapa banyaknya orang yang tadi berkumpul di aula. Mereka berpencar bersama beberapa orang. Sedang melihat-lihat dan bernostalgia, sambil berpikir telah berubah sejauh apa sekolah mereka dulu. Reunian yang didatangi oleh lima angkatan ternyata cukup sukses karena presentase yang tidak hadir sebab berhalangan jumlahnya tidak begitu banyak. Panitia telah bekerja dengan sangat baik menyebar informasi dan undangan untuk para alumni.
Sebelum keempatnya benar-benar pergi, mereka berhenti dulu beberapa kali untuk menyapa guru dan teman-teman yang lain. Reuni merupakan ladang yang tepat agar tali silaturahmi antar sesama lulusan dan guru-guru yang telah banyak memberi kontribusi dalam mengisi ilmu-ilmu yang positif tidak benar-benar terputus. Setelah lulus dari sekolah barulah merasakan bahwa apa yang dulu guru-guru selalu teriakkan di telinga mereka tentang disiplin, tentang kejujuran yang dianggap remeh, benar-benar sangat berguna untuk kehidupan bermasyarakat. Begitupun dengan ilmu-ilmu pelajaran sekolah yang dahulu ogah-ogahan diikuti kini sangat dibutuhkan. Penyesalan memang selalu berada dibelakang. Mereka yang telah lulus dari SMA, yang dahulu tidak memanfaatkan masa sekolahnya dengan baik dan hanya bolos juga suka tidur dikelas, meremehkan pelajaran kini tidak menghasilkan apapun. Waktu tidak akan kembali lagi untuk menebus masa-masa itu. Yang ada kini masanya memanen apa yang telah dituai.
“Hei, kalian mau pergi tidak mengajak kami ?” Yugi datang bersama Duge ketika semua bersiap-siap lepas landas.
“Yugi, kak Duge,” Vemi menyapa.
“Yugi, bukannya kamu panitia. Apa tidak apa-apa kamu kabur lebih dulu ?” Hasni bertanya karena nampaknya panitia yang lain masih belum satupun yang beranjak dari sekolah. Itu terlihat jelas dari warna kemeja mereka yang seragam dan bad yang tergantung di leher.
“Ah tidak apa-apa. Semalam aku ngelembur hanya dengan dua orang di sekolah. Mereka tidak akan memermasalahkan ini,” jawab Yugi santai.
“Ozi bagaimana keadaanmu ?” Duge menyapa Ozi lebih dulu.
“Lebih baik dari perkiraanmu,” Ozi menjawab dengan sinis. Hubungan keduanya masih sama buruknya dengan saat sekolah. Biasanya memang Ozi yang suka memulai pertengkaran kecil lebih dulu. Ini dimulai ketika Duge tidak biasanya menjadi sering ikut berkumpul bersama Yuna dan yang lainnya ketika Ozi sedang mengalami sedikit masalah dengan Yuna dan Yugi. Keduanya memerlihatkan dengan jelas ketidak cocokan mereka. Setelah lama tidak bertemu ketidak cocokan keduanya tetap terlihat sama.
Mereka menuju sebuah rumah makan Padang dengan kendaraan masing-masing. Makanan padang sudah sangat terkenal dan cocok disemua lidah orang Indonesia. Meski ada banyak makanan khas Indonesia di warung-warung makan, masakan Padang tetap merupakan favorit kebanyakan orang. Karena itulah masakan Padang bisa ditemukan di kota manapun di luar Sumatera. Dengan nasi putih, sambel cabai merah dan hijau, dipadukan dengan lalapan daun singkong, sayur nangka muda dan lauk beraneka pilihan; ayam goreng, rendang ataupun ikan. Semua menjadi satu hidangan yang menggugah selera.
“Ngomong-ngomong siapa yang akan mentraktir ?” Yugi menjadi yang pertama membuka percakapan setelah memesan makanan.
“Anak kuliahan lagi boke, mending yang sudah kerja saja,” Hasni menimpali cepat.
“Setuju,” Vemi sependapat dengan Hasni.
“Kalau begitu bapak detektif saja,” Ozi memberi saran. “Dengar-dengar satu kasus besar berhasil dipecahkannya lagi. Itung-itungkan sekalian syukuran,” tambahnya.
“Setuju,” Yugi, Hasni, dan Vemi berteriak serempak. Hanya Yuna yang tidak terdengar suaranya.
“Boleh. Aku lebih baik hati dibanding seseorang yang baru muncul setelah sekian lama dan menghilang tanpa kabar,” Duge tidak keberatan namun menyindir Ozi.
“Benar,” Vemi menyahut. “Kemana saja kamu selama ini ? mendadak hilang dan tidak pernah muncul, membuat seseorang sangat cemas. Kupikir kamu sudah tidak akan pernah muncul lagi. Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan Yuna selama ini,” Vemi terus saja berbicara meski Hasni sudah menyenggolnya sebagai peringatan agar Vemi berhenti berbicara dan tidak lagi membahas masalah itu. Vemi masih sama tidak pekanya seperti dulu jika itu mengenai masalah perasaan temannya sendiri.
Penampilan Vemi yang paling terlihat berubah adalah berat badannya. Vemi kini lebih gemuk. Padahal dulu ia sangat kesusahan untuk menaikkan berat badannya. Beberapa macam obat-obatan dan susu penambah berat badan telah dicobanya, namun hanya menimbulkan efek sesaat.
“Apa kamu sangat suka melihatku menghilang, hah ?” sengit Ozi. Ia mengenal Vemi cukup baik saat di sekolah jadi Ozi tahu benar bahwa Vemi tidak benar-benar selalu serius dengan apa yang dikatakannya.
“Aku tidak sejahat itu. Aku hanya penasaran saja,” sunggut Vemi.
“Sudah-sudah,” Hasni menengahi. Penampilan Hasni masih sama seperti dulu, kecuali kaca mata yang bertengger di wajahnya. Saat masih di SMA Hasni hanya menggunakan kaca mata pada jam pelajaran. Jika sekarang ia mengenakan kaca mata setiap saat itu berarti minus matanya telah bertambah. “Yuna saja tidak membahas itu, jadi kenapa kamu yang harus repot-repot.”
“Kitakan temannya. Jadi sebagai teman yang sangat mengerti bagaimana perasaan Yuna kita harus menuntut penjelasan,” Vemi membeladiri.
“Hei-hei, kenapa sekarang jadi kalian yang berdebat,” kali ini Yuna yang menengahi.
Mereka mengalihkan pembicaraan ke hal-hal lain yang lebih ringan mengenai siapa-siapa saja teman sekelas yang sudah menikah dan yang sudah memiliki anak. Ketika makanan datang mereka sibuk dengan pesanan masing-masing dan hanya sesekali saja mengeluarkan suara.
“Yuna, sekarang kamu jadi penyuka makanan pedas ? sepertinya kita sama,” Ozi berkomentar.
“Tentu saja. Sekarang Yuna lebih berani mencoba makanan pedas jika dulu ia hanya sedikit-sedikit,” Duge menyahut.
“Sok tahu,” Ozi menatap Duge sinis. Dari yang lainnya, hanya Ozi yang tidak pernah memanggil Duge dengan sebutan kakak meski Duge lebih tua darinya. Bagi Ozi, Kakak adalah panggilan untuk seseorang yang lebih harus ia hormati dan itu tidak berlaku pada Duge.
“Tentu saja aku tahu, akukan bosnya,” Duge membalas tatapan sinis Ozi. Duge dan Ozi yang duduk bersebrangan saling menatap sinis. Kali ini Dugelah yang terkesan suka memancing Ozi dan memulai perselisihan mereka.
“Itu tidak berarti kau tahu banyak hal tentang Yuna,” Ozi menaikkan sebelah alisnya. Nampak ia mulai kesal.
“Tentu saja aku tahu banyak, karena selama beberapa tahun ini aku yang selalu berada disampingnya.”
“Heh,” Yuna yang kesal dengan tingkah keduanya memekik. “Kalian berdua ini kekanak-kanakan sekali. Jangan berbicara ketika makan !” tambahnya mendelik.
“Wah, kakaku yang manis berubah galak,” goda Yugi setelah menyuap rendangnya.
“Kubilang jangan berbicara ketika makan,” Yuna menatap sinis kearah adiknya. Hasni dan Vemi hanya senyum-senyum sementara semua kembali fokus untuk mengahabiskan makanan masing-masing.
Setelah selesai makanan, mereka jalan-jalan ke taman tempat acara perpisahan dengan Ozi terakhir kali bersama teman-teman. Vemi banyak sekali berkomentar tentang taman yang tidak ada perubahan sama sekali. Vemi menuding pemerintah mengabaikan pengelolaan taman kota. Banyak sampah yang terlihat menumpuk dibeberapa tempat.
“Kalau masalah sampah jangan salahkan pemerintahnya, tapi juga pengunjungnya,” Yugi berkomentar. “Bukankah pemerintah sudah menyediakan fasilitas berupa tempat sampah. Sebagai pengunjung seharusnya semua orang ikut merawat .”
Masalah sampah memang menjadi pembahasan yang tidak ada habisnya di negri ini. Negri yang mayoritas penduduknya beragama muslim yang mereka sendiri tahu bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Islam memang sangat mengutamakan kebersihan. Jika penduduk mayoritas islam namun sampah masih menumpuk dimana-mana, mungkin perlu dipikirkan lagi bagaimana islam yang sebenarnya melanda negara ini.
Jika dipikir-pikir sebenarnya sampah adalah hal kecil yang tidak membutuhkan tenaga yang besar atau bantuan orang banyak untuk mengatasinya. Hanya sebuah kesadaran. Kesadaran bahwa tempat sampah disediakan untuk menampung sampah. Bayangkan jika tubuh manusia dipenuhi sampah tanpa adanya tempat pembuangan. Bisa dipastikan umurnya akan lebih singkat. Bumi ini sudah sangat menderita dengan ulah tangan-tangan tidak bertanggung jawab yang hanya mengeruk hasil bumi, dan menghabisi jantung bumi hingga hilang kesejukannya, jadi cukuplah sudah itu. Jangan lagi membuatnya sesak dengan masalah sampah.
“Aku mau cari minum,” Yugi pergi ke sebuah toko kecil di seberang jalan.
“Hasni temani aku ke toilet,” Vemi menarik tangan Hasni tanpa mendengar persetujuannya terlebih dahulu.
Yuna yang menyadari sesuatu yang tidak enak akan terjadi jika mereka ditinggalkan bertiga, segera berlari menyusul Hasni dan Vemi. Hasni dan Vemi berada di dalam toilet sementara Yuna menunggu diluar. Dari awal ia memang tidak hendak membuang apapun. Yuna diluar berteduh disebuah pohon yang tidak terlalu besar sambil menunggu kedua temannya selesai. Ketika ia sendirian itulah Ozi datang.
“Sudah kuduga kamu kesini pasti hanya karena ingin menghindar berada di antara aku dan Duge,” Ozi menyindir Yuna yang berjongkok tidak jelas dan hanya mencabut-cabuti rumput yang sudah mulai kecoklatan.
“Kenapa harus menghindar ? Akukan tidak punya salah apa-apa pada kalian,” Yuna mengelak. “Bagaimana denganmu, sengaja kesini hanya untuk mengikutiku,” tambah Yuna.
“Bukankah dari dulu aku memang suka mengikutimu,” jawab Ozi mengakui perbuatannya. Saat masih satu sekolah Ozi memang selalu terlihat dimanapun Yuna berada. Kelakuannya itu ia tunjukkan dengan terang-terangan membuat Yuna merasa risih. Dulu Ozi tidak pernah mengakuinya sama sekali. Alasan yang selalu diungkapkannya adalah ‘kebetulan, hanya kebetulan bertemu di tempat yang sama atau aku hanya kebetulan lewat.’
“Sekarang baru mengaku padahal dulu selalu mencari-cari alasan agar bisa menyebutnya kebetulan,” sunggut Yuna. “Kasihan kak Duge sendirian. Sana temani dia.”
“Apa Duge anak kecil yang akan hilang jika ditinggal sendiri,” Ozi berkata dengan ketusnya karena Yuna menghawatirkan Duge. “Yuna… aku benar-benar harus pergi. Jadi ikutlah denganku,” Ozi mengalihkan pembahasan. Hal yang memang sangat ingin ia katakan pada Yuna.
Hasni dan Vemi yang hendak keluar, masuk kembali begitu melihat Ozi sedang berbicara dengan Yuna. Meski sangat tidak menyenangkan terkurung dalam toilet dalam waktu yang lama, mereka mencoba mengerti dan memberi waktu Ozi untuk berbicara dengan Yuna.
“Lagi ?” suara Yuna terdengar kecewa.
“Aku ingin sembuh karena itulah aku harus pergi. Mungkin harus berbulan-bulan bahkan setahun agar aku bisa benar-benar sembuh. Maka dari itu ikutlah denganku,” Ozi mengatakan alasannya. Ia sendiri sama kecewanya karena harus pergi lagi padahal belum lama mereka akhirnya bisa bertemu. Ozi memerhatikan Yuna yang hanya terdiam menatap datar rerumputan didepannya yang tidak tinggi. Suara angin sempat mengisi kekosongan diam keduannya.
“Aku tidak bisa. Aku juga punya kehidupan. Aku punya ibuku yang harus kujaga,” jawab Yuna setelah berpikir. “Bukankah… kamu… telah bisa melewati hari-hari dimana kamu begitu merindukanku sampai rasanya tidak bisa bernafas. Lakukan itu sedikit lagi.”
Ozi sangat kecewa karena Yuna menolaknya. Tapi Yuna benar. Yuna juga memiliki kehidupan yang harus ia jalani. Akan sangat egois jika hanya memikirkan perasaanya sendiri. Ozi menghela nafas.
“Bagaimana kalau aku tidak bisa kembali dan mati disana ?” Ozi membuat pengandaian yang sangat menyakitkan bagi Yuna mendengar itu. Yuna tidak menyangka Ozi tega mengatakan hal seperti itu padanya. Tidakkah Ozi merasakan apa yang Yuna rasakan. Mata Yuna mulai berkaca-kaca. Mendengar Ozi yang mengucapkannya sendiri dihadapannya membuat Yuna kesal. Berkata ingin sembuh namun disisi lain justru mengatakan tentang kematian juga.
“Jika itu terjadi… aku tidak akan memaafkanmu. Tidak akan pernah,” ucap Yuna dibarengi tetesan airmata yang mengalir membasahi kedua pipinya. Kesedihan yang sudah sendari tadi ia coba untuk menahannya, akhirnya gagal juga. Keduanya terdiam lagi sesaat, hanya tatapan merek yang bertemu.
“Aku lega mendengarnya,” ucap Ozi tersenyum senang. “Dengan begitu aku jadi sangat yakin kalau Yuna juga begitu menyukaiku.” Ozi masih tersenyum namun begitu melihat ekspresi Yuna berubah, Ozi langsung merapatkan bibirnya. Tak ada lagi senyum yang terlihat kini.
“Untuk membuatmu mendengar kalimatku apakah harus dengan membuat pengandaian bodoh seperti itu ?” Yuna yang kesal membuka sepatunya dan memukulkannya pada Ozi. Ozi sudah berusaha menghindar namun Yuna masih saja bisa menjangkaunya. Tidak puas hanya mengenainya beberapa kali, Yuna terus memukul.
“Aku tidak bermaksud membuatmu sedih, maafkan aku,” seru Ozi namun Yuna tetap tidak berhenti memukul Ozi dengan sepatunya.
Yuna, Ozi, dan yang lainnya kembali ke tempat Duge menunggu tapi yang ada ditempat itu justru Afifa. Afifa mengatakan bahwa Duge harus pergi karena ada panggilan mendadak. Yuna memerkenalkan Afifa pada teman-temannya. Afifa datang ke taman sengaja karena ia ingin menlihat langsung bagaimana rupa orang yang selama ini membuat Yuna menunggu.
“Kalau dilihat-lihat kak Duge sebenarnya lebih baik,” Afifa langsung berkomentar ketika ia sudah mendapat penilaian tentang bagaimana sifat Ozi menurut kacamatanya.
“Apa ?!” Ozi memekik tidak terima. Dikatakan ia kalah dari Duge adalah hal yang paling tidak bisa diterima olehnya. Baginya Duge hanyalah orang yang sok dewasa dan sok keren. Ia jauh lebih apa adanya dan lebih tampan. Ozi menyebutkan semua kejelekan Duge yang sangat diingatnya sewaktu sekolah. Tentang betapa sombong dan sok berkuasanya Duge. Afifa yang berada dipihak Duge membelanya dengan mengatakan semua itu hanyalah masalalu dan sekarang Duge tumbuh dengan baik. Dewasa dan keren. Duge juga pengertian dan sikapnya selalu manis.
“Tapi biar bagaimanapun pria-pria badboy seperti dirimulah yang selalu bisa memenangkan hati para gadis seperti dalam drama percintaan pada umumnya,” Afifa masih saja tidak berhenti memojokkan Ozi. Vemi berada dipihak Afifa. Keduanya kompak menyudutkan Ozi. Kali ini Afifa menemukan orang yang sepemikiran dengannya tentang padangannya terhadap dilema percintaan Yuna. Ozi yang tidak terima diserang terus membeladiri, mengatakan bahwa ia jauh lebih baik dari Duge.
“Lebih baik dari segi apa ?” Afifa bertanya meremehkan.
“Seperti yang kukatakan tadi. Aku lebih apa adanya dan…”
“Apa adanya itu tidak bisa disebut kelebihan, dan tampan itu relatif,” Afifa memotong kalimat Ozi dengan pendapatnya. Tetap tidak percaya bahwa Ozi lebih baik dari Duge. Afifa memang baru bertemu dengan Ozi, namun dari bagaimana Ozi bersikap dan bereaksi terhadap kata-katanya, sudah terlihat bahwa Duge memang lebih baik dari Ozi.
“Aku… kelebihanku karena aku lebih dulu akrab dengan Yuna dan…” Ozi berpikir keras untuk bisa menemukan apa kelebihannya yang menonjol dibanding Duge. Tapi berpikir selama apapun tidak ada yang muncul dalam benaknya, yang menunjukkan bahwa benar dirinya lebih baik dari Duge. Mencari tentang apa saja kelebihannya dibanding Duge malah membuatnya menghitung sebanyak apa kelebihan-kelebihan yang Duge miliki. Dewasa, mapan, baik, tampan, selalu ada untuk Yuna… Memikirkan semua itu membuat Ozi merasa minder dan malu sendiri. Ozi mengendus kesal pada dirinya.
“Sudahlah akui saja,” Vemi menimpali.
“Tidak akan,” tegas Ozi. Meski ia sendiri menyadari begitu banyak kelebihan yang Duge miliki dibanding dirinya, tapi ia yakin ia memiliki sesuatu yang lebih baik dari Duge, hanya saja belum ia temukan itu untuk saat ini. “Bagaimana kalau kita adakan voting saja,” Ozi memberi alternatif terakhir karena ia belum juga bisa menyebutkan apa kelebihan terbaik yang ia miliki.
“Aku berdiri dipihak Afifa sudah jelas memilih kak Duge,” Vemi menjadi yang pertama memberikan suaranya. Afifa tersenyum senang dan menunjukkan dua jari tangannya tanda Duge telah mendapatkan dua suara. Satu Vemi dan satu dirinya sendiri.
“Karena Duge tidak ada disini, aku pilih Ozi sajalah,” Hasni berdiri disamping Ozi karena pilihannya. Ozi tersenyum senang tidak menduga bahwa Hasni berada dipihaknya. Padahal sebelumnya Hasni dan Vemi sangatlah kompak. Ozi memuji Hasni dengan mengatakan bahwa pilihan Hasni adalah pilihan yang cerdas.
“Kalian ini benar-benar kurang kerjaan,” Yuna menggumam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia hanya duduk bertopang dagu sebagai saksi.
Semua mata kini melihat kearah Yugi, karena selain Yuna yang berkedudukan sebagai saksi hanya dia yang belum mengeluarkan suaranya.
“Aku,” kata Yugi tidak menyangka dirinya juga diikut sertakan pada pemilihan yang tidak penting ini. “Aku golput sajalah,” Yugi duduk disamping kakaknya.
“Tidak boleh,” Ozi, Afifa, dan Vemi memekik bersamaan. “Kau harus memilihku. Bukankah kita teman baik,” tambah Ozi meminta dukungan.
“Benarkah ? aku sudah lupa sejak kapan kita berteman baik,” tepis Yugi.
Ozi mengalungkan lengannya di leher Yugi dan terus memengruhi Yugi agar Yugi berdiri dipihaknya. Tetapi Yugi tetap tidak mau memilih siappun karena ia golput.
Dua poin untuk Duge, satu untuk Ozi, dan dua orang golput. Dengan hasil sejelas itu Ozi tetap tidak terima kalau Duge disebut-sebut lebih baik darinya.
Semua akhirnya pulang juga ke rumah masing-masing setelah puas memerdebatkan hal yang sangat tidak penting. Yuna merasa lega karena sekarang ia bisa mengerti bagaimana perasaannya sebenarnya. Saran yang sangat tepat dari Dalili karena menyuruhnya datang dan tidak menghindar. Yuna yakin bahwa perasaannya tentang Duge beberapa waktu lalu hanya goyah seperti yang Afifa perkirakan. Buktinya ketika Ozi mengatakan ia harus pergi lagi perasaannya berubah kacau tak karuan. Ditambah lagi ketika Ozi mengatakan pengandaian tentang kematian, Yuna benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.
¤¤------------¤¤------------¤¤-------------¤¤-----------¤¤------------¤¤
Setelah satu tahun berlalu, ternyata hari-hari masih tetap terasa sama panjangnya. Banyak hal yang sudah berubah, tapi Yuna tetap sama. Menunggu. Menunggu bisa jadi merupakan keahlian tersembunyi Yuna. Setelah empat tahun dan akhirnya bisa bertemu lagi, harus menambah waktu setahun lagi. Dan meski waktu setahun sudah lewat berbulan-bulan, tetap belum ada kabar yang ia dapatkan. Menunggu bukan hal yang membuat Yuna terbebani, karena ia tahu Ozi sedang berjuang ditempat yang jauh disana. Tidak dapat bertemu dan mereka hanya bisa saling berhubungan melalui panjatan rangkaian doa-doa yang manis. Saling mendoakan dan memohon perlindungan bagi satu sama lain. Yuna ingat dengan sebuah kalimat yang pernah Ozi ucapkan pertama kali sebelum mereka berpisah, tentang jangan pernah berkata tidak jika yakin mereka berdua adalah takdir yang akan menjadi satu suatu saat nanti. ‘Jika kita percayai takdir kita indah, jangan pernah mengatakan tidak. Cukup kita tahu kisah kita akan indah.’ Kalimat itulah yang selalu menjadi penguat Yuna untuk menjaga perasaannya.
“Pegang tanganku kuat-kuat, bantuan akan segera datang,” ucap Yuna menahan rasa sakit tangannya. Yuna sedang menolong seseorang yang berniat bunuh diri dan lompat dari balkon rumahnya yang berlantai tiga. Meski tangannya seperti serasa akan lepas, namun Yuna tetap berusaha menahan rasa sakit itu. Ia masih menggenggam erat tangan nyonya muda itu. Nyonya muda itu bertubuh lebih gemuk dibanding Yuna. Mengetahui Yuna yang setengah mati menahan sakit, nyonya muda itu menangis dan meminta Yuna melepaskan saja tangannya.
“Setelah tanpa perasaan menghabisi nyawa suami anda, sekarang anda mau menghabisi nyawa anda sendiri juga,” kata Yuna terputus-putus.
Tidak lama kemudian bantuan datang. Dibawah, Duge dan beberapa orang menyiapkan sebuah kain tebal yang di pegangi disetiap sisinya untuk menahan tubuh Nyonya muda itu ketika terjatuh. Setelah yakin tangkapan tidak akan meleset, Duge meminta Yuna melepaskan tangannya. –Buk.
Sebenarnya sudah sangat lama Yuna mengatakan berhenti menjadi asisten Duge. Tapi Duge sendiri selalu memiliki alasan agar bisa sering bertemu Yuna. Perasaan Duge belum berubah pada Yuna, hanya saja ia lebih realistis sekarang. Jika ia memaksakan perasaannya Yuna pasti akan menjauhinya dan itu adalah hal yang tidak diinginkannya. Seperti kasus kali ini. Karena yakin pelakunya adalah istri korban, Duge minta bantuan Yuna. Duge yakin jika dengan sesama wanita kasus akan lebih cepat terselesaikan. Korban yang meski telah menikah tetap tidak bisa menghentikan kebiasaannya bergonta-ganti pasangan alias selingkuh. Meski jelas-jelas ketahuan, korban tetap tidak mengaku bahkan tega berbuat kasar pada istrinya. Tidak tahan diperlakukan seperti itulah akhirnya pelaku yang ternyata adalah istri, membunuh korban.
Dugaan awal mengarah pada kasus perampokan, melihat semua barang berharga korban hilang. Dompet, ponsel, dan sebuah kalung yang baru dibeli. Tapi setelah dilakukan penyelidikan ulang ternyata dugaan itu salah. Ketika didalam mobil si istri menemukan nota pembelian kalung dengan harga yang sangat mahal. Kalung permata itu dibeli dengan menggunakan tabungan mereka bersama. Terjadilah perkelahian dalam mobil sebelum akhirnya suami terbunuh.
Mengetahui kebenaran dibelakang bahwa kalung itu dibeli si suami untuk dirinya dan bukan untuk selingkuhan suaminya membuatnya sangat menyesal. Padahal suaminya benar-benar ingin berubahan dan memerbaiki pernikahan mereka lagi. Yang terjadi justru kesalah pahaman sampai akhirnya pembunuhan tanpa rencana itupun dilakukan.
“Bagaimana tanganmu ?” Duge bertanya setelah pelaku berhasil diamankan.
“Tidak apa-apa, sudah diobati,” Yuna berkata yakin. Tangannya diperban dan digantung agar tidak terlalu sering digerakkan dan cepat sembuh. Yuna masih bersantai-santai ketika ia menyadari waktu hampir menunjukkan pukul sembilan, barulah ia gelagapan sendiri. “Gawat aku terlambat ke sekolah,” kata Yuna setengah memekik. Yuna segera mengambil ponselnya dan meminta Yugi datang dan mengantarkannya ke sekolah.
“Biar kuantar,” tawar Duge.
“Tapikan aku sudah menelpon Yugi,” jawab Yuna polos.
“Aku tahu. Maksudku kita sama-sama ke sekolah biar aku yang memberitahu kepala sekolah alasan keterlambatanmu,” jelas Duge. Yuna yang salah paham hanya menunduk malu. Lagi.
Selain sesekali masih membantu Duge menyelesaikan kasus, Yuna juga berprofesi sebagai seorang guru Fisika disalah satu sekolah menengah Atas negri. Yuna masuk dalam jajaran salah satu guru yang paling disukai siswa-siswa disekolahnya. Cara mengajar Yuna tidak terlalu ribet untuk pelajaran semerepotkan fisika. Membuatnya menjadi idola dalam waktu singkat. Jika tugas yang diberinya untuk dikerjakan dirumah, tidak bisa diselesaikan, Yuna akan membagi kelompok-kelompok di kelas agar mereka membahas tugas itu bersama-sama sebelum akhirnya Yuna membahas dipapan. Itulah alasan lain Yuna disukai siswa-siswanya. Karena saat tidak mengerjakan tugas, mereka tidak dihukum.
“Kemana Nino ?” tanya Yuna setelah selesai mengabsen.
“Di UKS, Bu,” jawab siswa perempuan yang duduk di bangku paling depan dan berkedudukan sebagai sekretaris kelas. “Kakinya sakit karena kecelakaan kemarin malam.”
“Inikan bukan pelajaran olahraga,” gumam Yuna. Selain menjadi guru mata pelajaran Fisika, Yuna juga merangkap sebagai wali kelas sehingga ia sangat hapal bagaimana watak siswanya yang satu itu.
Yuna mendatangi Nino di ruang UKS, dan yang dilihatnya disana bukanlah seorang siswa yang sedang berpura-pura sakit dan berbaring, melainkan seorang pemalas yang sedang makan bakso sambil menonton video di ponselnya. Yuna menggeleng-geleng tidak percaya. Siswanya yang satu ini memang selalu ada-ada saja kelakuan anehnya.
“Sepertinya sangat menyenangkan, Ibu juga belum sarapan,” Yuna berbasa-basi sebelum akhirnya menarik telinga Nino. Nino mengaduh, meminta maaf, dan berjanji tidak akan membolos lagi. Tapi janji untuk tidak lagi membolos adalah perkataan yang sering diucapkan Nino namun juga merupakan hal yang paling sering dilanggarnya. “Ayo kembali ke kelas,” perintah Yuna masih tidak melepaskan jewerannya.
“Tapi baksonya belum habis, Bu mubazir,” ucap Nino tidak rela melepaskan mangkok baksonya.
“Ibu akan menungguimu menghabisi baksomu dengan tangan terus menjewermu seperti ini, kamu mau ?” Yuna memberikan penawaran. Nino menggeleng pasrah. Akhirnya ia lepaskan juga mangkok baksonya. Telingannya sudah memerah menahan sakit.
Bagi Yuna, cobaan terbesar menjadi wali kelas adalah Nino. Tidak jarang juga Nino mengajak teman-temannya yang lain untuk mengikuti kelakuan nakalnya di sekolah. Meski sering dihukum dan tidak henti-hentinya Yuna mengomeli dan memberi nasihat, Nino tetap tidak berubah.
Jam sekolah akhirnya berakhir juga. Yuna merasa kembali segar ketika jam pulang datang. Yuna merapikan mejanya. Cukup merepotkan baginya bekerja dengan satu tangan. Apalagi itu tangan kiri. Yuna belum terbiasa tapi ia akan mulai membiasakan diri sampai tangan kanannya sembuh, kira-kira seminggu lagi.
Yuna duduk di parkiran sambil menunggu Yugi menjemput. Mata Yuna menyapu sekelilingnya memerhatikan bagaimana tingkah laku anak didiknya di jam pulang. Bercengkrama dengan teman, ada yang menelpon minta dijemput, ada yang telah naik diangkot, dan lain-lain. Memerhatikan itu membuat Yuna membayangkan lagi masa sekolahnya. Yuna masih memerhatikan sekelilingnya dan tiba-tiba saja matanya menangkap satu sosok yang sangat dikenalnya, Ozi. Mata Yuna terbelalak. Ia masih meyakinkan dirinya bahwa orang disebrang jalan sana adalah Ozi. Belum benar-benar yakin, orang itu beranjak pergi. Yuna menyebrang jalan untuk mengejar dan memastikan apa yang dilihatnya.
Yuna telah cukup jauh meninggalkan sekolah dan kepastian itu belum juga didapatnya. Orang yang Yuna kejar menghilang entah kemana.
“Apa aku telah gila,” Yuna berkata pada dirinya sendiri. “Jika itu benar-benar Ozi tidak mungkin ia pulang tanpa memberitahuku, dan terlebih lagi melakukan ini.” Yuna berjalan gontai kembali ke sekolah. Yuna mengingat lagi sosok yang tadi ia lihat dari kejauhan, orang itu juga menatap kearahnya. Semua serasa begitu nyata, bukan hanya sekedar ilusi. Bahkan saat ia mengedipkan mata, orang yang seperti Ozi itu masih ada, masih berdiri ditempatnya dan memandang kearah Yuna. Yuna menghela nafas. “Hari ini genap setahun enam bulan. Benar aku menyukaimu, tapi tidak sampai mati. Tapi sekarang kenapa rasanya begitu sesak.”
¤¤------------¤¤------------¤¤-------------¤¤-----------¤¤------------¤¤
“Kau ingin meninggalkannya lagi,” sengit Duge setelah menghantamkan satu tinjuannya ke wajah Ozi. Ozi tersengkur di tanah sambil memegangi wajahnya yang mulai melebam. “Terbuat dari apa perasaanmu ? kenapa harus kembali jika untuk meninggalkannya lagi !”
“Aku tahu, aku pantas menerimanya,” jawab Ozi sambil berdiri dari jatuhnya.
Duge semakin berang. Bukan hal itu yang ingin ia dengar dari Ozi, melainkan penjelasan. Penjelasan kenapa begitu tega meninggalkan Yuna lagi. Padahal ia hampir bisa memenangkan hati Yuna. Seandainya saja Ozi kembali lebih lama, sebulan saja. Tapi kini, setelah Yuna menolaknya, ia katakan akan pergi lagi. Akan meninggalkan Yuna lagi. Duge merasa Ozi sedang memermainkannya juga perasaan Yuna. Duge menarik kerah baju Ozi dan hendak menghantamkan lagi tinjunya, namun melihat Ozi tidak membalas, Duge mengurungkan niatnya dan mendorong Ozi.
“Seandainya kamu datang sebulan atau beberapa minggu lagi, aku pasti sudah mengusir bayangmu dalam diri Yuna,” Duge berkata dengan memerlihatkan dengan jelas kesedihannya. Baginya itulah hal yang paling sangat ia sesalkan. Kenapa Ozi harus datang padahal sedikit lagi ia yakin bisa membuat Yuna hanya melihat kearahnya. Kepalan tangan Duge mengenggam erat. Ia benar-benar marah dengan keadaan ini. Ingin rasanya ia memukul Ozi, meluapkan amarahnya hingga sesaknya berkurang.
“Aku benar-benar menyukai Yuna, tulus,” suara Duge mulai bergetar.
“Aku pun begitu,” Ozi berucap. “Aku tidak tahu siapa yang lebih tulus diantara kita. Tapi aku minta maaf karena aku tetap tidak akan menyerahkan Yuna. Selama aku berpisah dengannya empat tahun ini, kamu tidak akan tahu seperti apa rasanya. Aku kembali karena aku menyukainya dan aku memutuskan pergipun karena aku sangat menyukainya. Meskipun aku pergi, aku tetap tidak akan melepaskannya. Aku tidak ingin kehilangan hidupku lagi.”
Duge teringat percakapannya dengan Ozi terakhir kali mereka bertemu. Hari itu, ketika ia tahu Ozi akan meninggalkan Yuna lagi, Duge langsung mendatanginya di tempat tinggal Ozi. Itu satu setengah tahun lalu. Kini, orang yang pernah merasakan bogeman panasnya itu telah berdiri dihadapannya.
“Kakak senior, lakukan dengan baik ya,” Ozi mengomando layaknya seorang mandor kepada pegawainya. Duge hanya mendelik dengan tajam, kemudian melanjutkan pekerjaannya memasang hiasan didinding.
“Kerjakan saja pekerjaanmu sendiri,” Hasni yang memegangi kursi yang dipanjat oleh Duge membalas Ozi. Ozi menyipitkan matanya dan kembali meniup beberapa balon.
Sebuah pesta kejutan tengah dipersiapkan. Pesta untuk menebus hari-hari selama Yuna menunggunya. Duge tidak mengerti kenapa dirinya juga harus dilibatkan untuk masalah ini. Apa mungkin Ozi ingin memamerkan dirinya. Seandainya saja tidak ada hubungannya dengan Yuna, Duge pasti ogah menanggapi permintaan Ozi. Duge masih ingin terus bisa berada disekitar Yuna, meski apa yang dilihatnya nanti pasti akan menyakiti hatinya. Selesai memasang hiasan kertas jagung pada dinding, Duge meneguk minuman pada gelasnya yang tinggal setengah.
“Aku dengar kemarin kamu menampakkan diri didepanYuna, kemudian menghilang. Apa itu benar ?” Vemi keluar dari dapur sambil membawa sepiring semangka. Vemi meletakkannya dengan rapi di meja bersama makanan yang lain. Keahliannya di dapur semakin matang karena sekarang ia memiliki seorang imam yang harus ia layani.
“Apa itu terlihat keren ?” Ozi berkata semudah meniup potongan kecil kapas.
“Keren apanya ?!” Duge, Hasni, dan Vemi memekik bersamaan sehingga membuat Ozi terkejut.
“Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan Yuna apa,” Hasni menambahkan.
“Umur bertambah tua, tapi otak justru malah menyusut,” cibir Duge.
“Keterlaluan,” Vemi yang tidak ingin ketinggalan, menimpali. “ Kak Duge saja bisa mengerti bagaimana perasaan Yuna, tapi kenapa kamu tidak.”
Sebenarnya Ozi ingin membalas dan mengobarkan perang mulut untuk membeladiri, namun Bu Riana keluar. Bu Riana membawa kue tart yang dibawa oleh Ozi. Tidak ingin terlihat buruk dimata calon Ibu mertua, mendadak Ozi berubah kalem. Ia juga menawarkan diri untuk membantu Bu Riana di dapur dan meninggalkan tugasnya. Sebenarnya selain membantu, ada hal yang ingin Ozi katakan kepada Bu Riana. Bu Riana dan Ozi masuk ke dapur, kali ini Yugi yang keluar dengan membawa mampan yang berisi gelas dan ceret berisi minuman manis. Ozi keluar sesaat kemudian dengan senyum yang mengembang begitu lebar di wajahnya. Ia mengambil sesuatu dari ranselnya yang ia letakkan di kamar Yugi.
“Perhatikan ini baik-baik,” Ozi membuka kotak cincinnya di depan Duge. “Setelah malam ini Yuna menerimaku, jangan lagi kau sentuh gadisku,” tegasnya. Duge terlihat sangat terkejut, namun ia bisa segera memulihkan perasaanya. Keduanya saling menatap. Ozi sangat serius dengan kalimatnya dan seketika terlihat begitu dewasa. Duge tersenyum.
“Aku tidak bisa menjamin. Ini adalah kesempatan terakhirmu jadi manfaatkan dengan baik atau kau akan menyesal,” Duge menimpali dengan ekspresi tidak kalah serius dari Ozi.
Ozi tidak memedulikan kata-kata Duge. Ozi yakin kalau ini adalah terakhir kalinya ia membuat Yuna menunggu. Tidak akan ia lakukan lagi. Ozi beralih pada Hasni dan Vemi kali ini. Ozi mengatakan akan menyelipkan cincinnya dalam kue tart. Ozi membayangkan sambil berseri-seri betapa manis rencananya. Membayangkan bagaimana ekspresi terkejut dan bahagia di wajah Yuna membuat Ozi tidak sabaran menunggu Yuna datang. Hasni dan Vemi tidak berkomentar banyak tentang rencana Ozi. Bagi mereka, Ozi dan Yuna sudah bahagia itu juga sudah membuat mereka bahagia. Ponsel Vemi berdering tanda pesan dari Afifa yang mengatakan bahwa mereka sedang berada diperjalanan pulang, masuk.
Yuna benar tidak mengerti ada apa dengan Afifa malam ini. Afifa memaksanya ikut keluar selepas magrib tadi. Tapi tidak ada yang mereka lakukan selain berputar-putar di jalan. Afifa bilang ia sedang setres. Afifa di jodohkan.
“Jaman sekarang tidak banyak orang yang mau menerima tradisi jodoh-dijodohkan,” Yuna mengomentari.
“Mau bagaimana lagi, aku tidak bisa menemukan pria seperti Vidi Aldiano ada di sekitarku. Lagi pula aku belum menemukan orang yang kusukai,” Afifa menaggapi dengan entengnya.
Dari cara Afifa menjawab terlihat jelas bahwa yang membuatnya setres bukan prihal dirinya yang dijodohkan. Yuna jadi tidak mengerti kenapa Afifa mengatakan sedang stres kemudian menceritakan tentang dirinya yang dijodohkan namun disisi lain terlihat bahwa Afifa tidak memermasalahkan perjodohannya.
“Jadi apa sebenarnya yang membuatmu stres ?” Yuna bertanya lagi.
“Yuna aku kebelet pipis, aku akan mampir di rumahmu sebentar,” Afifa mengabaikan pertanyaan Yuna.
Sesampainya di pekarangan rumah Yuna, Afifa buru-buru turun dan mendahului tuan rumah seolah ia benar-benar tidak tahan lagi. Yuna menjatuhkan agenda yang dibawanya dengan tangan kirinya karena tangan kanannya masih diperban. Saat turun dari motor, agendanya terjatuh. Buku terbuka hampir dibagian akhir. Dilembaran itu terselip sebuah foto. Yuna berjongkok. Ia tidak buru-buru memungut agendanya melainkan menatap foto yang terselip disana. Lama Yuna amati foto itu, tidak ingin segera beranjak dari tempatnya. Foto bersama Ozi, Yugi, Hasni dan Vemi.
“Sampai sekarangpun senyumnya terlihat sangat manis,” Yuna menatap foto Ozi sambil tersenyum. Yuna kembali teringat sosok yang ia duga adalah Ozi kemarin. Yuna menghela nafas panjang. Baru kali ini ia merasa begitu lelahnya. “Aku tidak ingin menjadi gila karena merindukanmu, ini terlalu tidak adil.” Yuna mengambil agendanya dan masuk ke rumah.
Yuna masuk dengan mengucap salam, namun tidak terdengar adanya jawaban. Afifa mungkin masih di toilet, pikir Yuna. Ruang tamu gelap seperti biasanya. Tidak ada yang terlihat berbeda. Eh. Mata Yuna berhenti pada empat gelas minuman yang ada di meja.
“Surprise…” lampu ruang tamu dinyalakandan suara-suara terdengar begitu meriah. Yuna memerhatikan semua orang yang berada di rumahnya tersenyum bahagia. Ibu, Yugi, Hasni, Vemi, dan Duge. Afifa juga diada diantara mereka, lebih tepatnya yang tadi menyalakan lampu. Yuna tersenyum senang semua orag yang ia sayangi berkumpul di rumahnya. Tidak lama kemudian Ozi keluar dengan membawa kue tart. Melihat Ozi juga berada di rumahnya membuat senyum Yuna memudar karena terkejut. Suara-suara ramai yang masih terdengar sesekali tidak lagi bisa diterima indra pendengar Yuna dengan jelas. Yuna sedang sibuk dengan perasaannya. Ozi, kali ini benar-benar muncul didepannya.
“Tanpa lilin,” Ozi memerlihatkan kue yang ia bawa bersih dari jejak lilin. Ozi tahu bahwa Yuna adalah golongan yang tidak sependapat dengan filosopi meniup lilin. Baginya lilin adalah cahaya yang berarti kehidupan. Mungkin iya karena saat ulang tahun berarti umur berkurang, tapi jika ditiup berdasarkan jumlah umur, itu artinya juga mematikan kehidupan diumur yang sekarang.
“Jadi… apa yang kemarin itu juga kamu ?” Yuna bertanya. Sebenarnya Ozi ingin berbohong. Jika tadi teman-temannya saja marah bagaimana Yuna. Tapi berbohongpun percuma, toh yang lain sudah tahu. Jadi berbohongpun tidak akan menyelamatkannya. Akhirnya Ozi hanya mengangguk pelan. “Kamu ini…” Yuna memukul Ozi dengan buku agenda yang masih dibawanya. Berusaha menghindar seperti apapun Yuna tetap tidak melepaskan Ozi. “Apa kamu tidak memikirkan perasaanku ? aku berpikir mungkin saja aku telah gila, mungkin saja aku telah kehilangan diriku sendiri.” Mata Yuna berkaca-kaca. Apa yang dikatakan teman-temannya tadi ternyata benar. Ozi menyesal karena bertindak bodoh tanpa memikirkan mungkin saja Yuna akan terluka atau marah. Hanya karena ia sangat merindukan Yuna dan ingin memberi kejutan, Ozi tidak berpikir dua kali. Ia telah membuat orang yang disayanginya menderita. Ozi diam ditempatnya dan membiarkan Yuna memukulnya. Baru beberapa pukulan Yuna berhenti. Airmatanya tumpah.
“Maaf,” ucap Ozi tulus. Tangan kirinya mengusap-usap kepala Yuna sementara yang kanan masih memegang kue. “Dengan waktu yang lama sudah membuat Yuna menunggu dan juga melakukan hal yang bodoh. Aku tahu pasti Yuna sangat merindukanku,” tambah Ozi tersenyum lembut. “Nah... sekarang potonglah kuenya.” Ozi menyodorkan kuenya pada Yuna.
Melihat gadis yang disukainya bersama pria lain membuat dirinya terluka. Duge tahu lambat laun ia harus bisa menerima ini. Tapi melihat Yuna bisa tersenyum lebih lebar dibanding saat bersamanya membuat lukanya juga terobati.
Hasni mendekatkan pisaunya. Ozi memberitahu bagian mana yang harus Yuna potong. Ini, itu dengan segala peraturan yang Ozi tentukan. Ketika akan memotong Yuna berhenti. Ia memperhatikan Ozi dan tidak habis pikir kenapa Ozi sangat merepotkan tentang memotong kue. Bagian mana yang harus dipotong dan bagaimana cara memotongnya. Yuna meletakkan pisaunya di meja dan menginjak kaki Ozi.
“Aku masih kesal, belum puas memarahimu,” tukas Yuna
“Iya, iya… tapi potong dulu kuenya, aku sudah jauh-jauh membelinya. Setelah itu silahkan dilanjut marahnya. Oke,” kata Ozi sambil mengaduh.
Mendengar tanggapan Ozi yang seakan lebih memperhatikan kue, membuat Yuna kesal. Yuna mengambil kue yang Ozi bawa. Didepan pintu Yuna melemparnya dengan kuat. Semua memburu kedepan pintu. Mereka menarik nafas melihat kue meluncur dengan mulus kemudian membentur tiang dan berhambur kemana-mana. Waktu seakan berhenti sesaat, semua melihat iba kearah Ozi, sementara Duge menahan tawa.
“Hanya kue kenapa sebegitu terkejutnya,” Afifa yang tidak tahu apa yang disembunyikan dibalik kue itu bertanya polos. Tawa Duge pecah, tak bisa ia tahan lagi. Apa yang dibayangkan Ozi benar-benar tidak berjalan sama pada kenyataannya. Ozi berlari keluar berharap cincinya masih bisa ia selamatkan.
“Ada apa ?” kali ini Yuna yang bertanya karena tidak ada yang menjawab pertanyaan Afifa.
“Cincin,” Yugi menjawab.
“Cincin ?” Yuna bertanya lagi. Vemi menjelaskan bahwa Ozi menyelipkan cicin yang akan digunakan untuk melamar Yuna dalam kue. Mendengar perkataan Vemi, Afifa tertawa seperti apa yang Duge tadi lakukan.
“Sepertinya kalian tidak benar-benar berjodoh,” Duge berkomentar masih sambil tertawa kecil. Ozi hanya mendesah, tidak ingin meladeni Duge. Ia harus bisa segera menemukan cicin yang sengaja ia pesan untuk hari yang spesial ini. Cincin yang membuat ia harus menunda penerbangannya selama beberapa hari.
Merasa bersalah, Yuna ikut membantu Ozi mencari di luar. Teman-teman yang lain ikut membantu.
Begitulah, pada akhirnya acara melamar yang seharusnya bisa berjalan manis seperti bayangan Ozi tidak, berjalan mulus dikenyataanya. Tidak ada acara melamar yang romantis, dan wajah berseri-seri Yuna karena tersipu. Dibanding merayakan hari yang membahagiakan, mereka lebih disibukkan dengan mencari cincin yang entah telah terpental kemana. Kegiatan yang cukup menguras tenaga. Semua orang dibuat kerepotan karenanya.
Kebahagian itu bukan hanya menyangkut satu orang dan akan benar-benar disebut bahagia jika bisa dilihat secara keseluruhan.
THE END
Bontang, 5 November 2013
20:06