~[Setiap manusia memiliki sisi gelap dalam dirinya,
Jika sisi itu tersentuh oleh kebaikan, maka gelap itu akan tertutup selamanya,
Jika yang menyentuhnya juga kegelapan, maka akan gelap selamanya.
Lantas, siapa yang mau disalahkan jika sudah seperti itu ?
Salahkanlah diri kalian yang tidak ingin menyentuh kegelapan dengan kebaikan,
Salahkanlah diri kalian yang menyulut kegelapan hingga membakar semua sisi terangnya.]~
Sebuah rumah susun yang berdiri di lingkungan masyarakat kelas menengah dan memiliki 5 lantai. Disana, di pintu nomor 16-C dalam sebuah ruangan yang hanya diterangi oleh lampu 5 watt, seseorang yang tidak biasa baru saja menyelesaikan bacaan cerita pendek dari sebuah majalah langganannya. Tidak biasa karena ada sesuatu yang menutupi setengah dari wajahnya. Sebuah lempengan silver yang terbuat dari perak. Rambutnya yang panjang berantakan tak terawat terkadang ia gunakan untuk menutupi lempengan perak yang begitu mencolok di wajahnya. Tidak tertutupi sepenuhnya memang karena bagaimanapun berusaha ditutupi, luka yang sangat dalam tidak akan hilang hanya karena disamarkan. Pria berusia 30 tahun itu memikirkan kalimat dibagian akhir cerita pendek yang baru saja selesai dibacanya. Ia teringat sebuah kalimat yang maknanya hampir sama.
‘Aku dengar setiap manusia memiliki sisi gelap yang bernaung iblis didalamnya...’
kalimat itu dibacanya dari sebuah komik yang ia temukan tanpa sengaja tergeletak atau entah dibuang di jalan saat ia hendak pulang. Komik itu sekarang menjadi pelengkap di rak-rak bukunya yang berantakan. Matanya yang sayu membuatnya terlihat begitu menderita. Beberapa saat ia terdiam berpikir, kemudian menyentuh dada dengan tangan kanannya, memikirkan mungkin saja dirinya adalah manusia yang telah dikuasai kegelapan. Dirinya adalah manusia yang telah berubah menjadi Iblis. Berpikir seperti itu membuatnya merasa geli. Seperti orang bodoh yang mulai menyesal.
“Memangnya kenapa ? toh tetap tidak akan ada yang berubah. Lagipula kegelapan juga diciptakan oleh manusia. Jika tidak ada kegelapan, bagaimana bisa mengetahui cahaya,” katanya pada diri sendiri.
Perindu melodi adalah nama penulis cerita pendek dalam majalah yang baru selesai dibacanya. Sebenarnya jika saja bukan karena rasa tertariknya terhadap tiap-tiap baris goresan tangan sang perindu melodi, ia takkan pernah sudih berlanganan majalah konyol seperti itu. Kalimat-kalimat puitis nan tegas sang perindu melodi membuatnya seolah melihat dirinya sendiri. Selalu ada potongan-potongan dari dirinya yang menjadi bagian dari cerita pendek karya sang perindu melodi. Ia tidak pernah menyukai cahaya dan apapun yang ada di dunia luar. Baginya cahaya dan dunia luar hanya akan membuat lukanya dengan mudah dapat terendus. Namun kini, seberkas cahaya itu merasuki hatinya yang keras dengan lembut. Rasa penasaran tentang bagaimana sang perindu melodi itu hidup di dunia luar yang dibencinya.
Sinar terang yang berasal dari nyala laptop menunjukkan satu email masuk. Pria itu beranjak dari duduknya menuju meja kerja. Dimanapun tempatnya berpijak disemua sudut dalam ruangan berukuran 5x7 m itu tetap saja sama berantakannya. Piring, mangkok, dan gelas kotor di biarkan tergeletak begitu saja di meja. Lembaran kertas terhambur dimana-mana, bungkus-bungkus plastik berbau mesiu, cup-cup mie instan, serta kaleng minuman berbagai macam produk terhambur disekeliling tempat sampah yang sudah pada batasnya memuat barang-barang tak terpakai. Dibeberapa sudut bahkan dipenuhi debu. Seperti rak-rak buku, juga kotak-kotak diatas lemari. Ruangan tak terurus yang sama sekali tidak terlihat ditinggali oleh manusia. Padahal kesehariannya lebih banyak ia habiskan ditempat itu dibanding di ruangan lain dalam rumahnya, namun tetap saja tempat yang terlalu sering ia gunakan justru tempat yang paling berantakan dan tak terurus.
Tidak lama setelah membaca email yang masuk, suara pintu terdengar diketuk. Setelah melihat jam dinding, ia keluar dari ruang kerjanya. Sepertinya ia bisa menebak siapa yang sedang berkunjung.
Keluar dari ruang kerjanya, membuat ruang-ruang lain terlihat lebih manusiawi dihuni. Sebenarnya setiap seminggu sekali ia akan memanggil jasa bersih-bersih untuk membersihkan rumahnya, namun tak seorang pun diizinkan menyentuh ruang kerja pribadinya. Itulah alasan kenapa hanya ruang kerjanya yang terlihat sebagai tempat pengembangbiakan debu dan sampah.
Pintu terbuka, seseorang yang menggunakan topi hitam berdiri tepat dimuka pintu. Seorang gadis mengenakan kerudung oranye pudar dipadankan dengan baju coklat sepaha yang dibalut dengan jaket dan bawahan jeans, topi yang ia kenakan menutupi sebagian wajahnya. Gadis itu mengangkat wajah dan memperlihatkan betapa ramah dirinya dengan menunjukkan senyum manisnya. Seperti dugannya, pegawai laundry –Afifa Aina. Afifa datang mengantar pakaian. Pegawai yang satu ini memang selalu datang pada jam-jam yang sama setiap kalinya. Afifa menunjukkan biaya tagihannya dengan lagi-lagi tersenyum ramah. Setelah mengambil pakaian dan membayar tagihannya, pria itu menutup pintu dan kembali ke ruangannya. Tidak ada senyum ataupun tatapan bersahabat yang ia tunjukkan. Afifa mengerutkan keningnya menahan kesal. Untuk sesaat Afifa masih berdiri didepan rumah pelanggannya. Ia pun mendesis kesal sebelum akhirnya pergi.
“Ini sudah yang kesepuluh kalinya aku mengantar pakaiannya. Jangankan senyum, tatapan bersahabat pun tidak ia tunjukkan. Hah... apa sih sebenarnya masalahnya,” meski telah pergi, Afifa tidak henti-hentinya mengomel. Dari A sampai Z, ia ungkapkan semua kekesalannya. Afifa benar-benar tak tahan berhadapan dengan tipe orang sedingin itu.
“Siapa sih yang kamu omeli ?” terdengar sebuah sahutan dari suara yang sangat Afifa kenal.
“Yuna, kamu sudah datang,” Afifa menyambut teman yang telah menunggunya di parkiran. “Biasa pelangan laundry. Padahal aku tidak pernah menatapnya berbeda karena wajah anehnya, tapi sifatnya itu dingin sekali. Haruskah aku mengabaikannya dan mulai bersikap dingin juga ? hah... tapi aku bukan orang setipe itu,” tambah Afifa menjelaskan alasan kedogkolannya hari ini.
Yuna datang untuk menjemput Afifa agar mereka bisa pergi kuliah bersama. Terkadang mereka bergiliran siapa yang akan menjemput. Selain untuk menghemat bensin, juga untuk menciptakan sedikit saja ruang bagi jalan raya yang sudah begitu padat oleh kendaraan. Yuna dan Afifa satu fakultas. Keduanya berteman dekat. Selama perjalanan Afifa masih saja terus mengomel. Yuna hanya menjadi pendengar sejati. Sesekali tertawa, dan menanggapi jika diminta. Yuna memang tipe yang sangat tepat jika harus menjadi seorang pendengar. Berbanding terbalik dengan teman yang sedang ia bonceng itu.
Afifa bekerja paruh waktu sebagai pegawai laundry. Jadi sebelum pergi kuliah sesekali ia mengantar pakaian kepada para pelangan. Yuna sendiri sudah sejak awal kuliah ingin mencari pekerjaan part time, tapi tak pernah ia temukan yang cocok untuknya. Yugi saudara kembarnya, sebenarnya tidak begitu setuju tentang rencana kakaknya bekerja part time. Bagi Yugi, selama kebutuhan masih bisa terpenuhi, cukup dia yang bekerja sebagai satu-satunya laki-laki dalam keluarga. Yuna tahu dan mengerti, tapi ia juga ingin sekali bisa mandiri, memenuhi semua kebutuhannya sendiri.
Yugi selain bekerja, ia juga kuliah. Pagi hari kuliah, dan malam harinya ia bekerja. Yugi bekerja disalah satu anak perusahan PT. BADAK. Ia bekerja mengawasi mesin-mesin dan mencatat berbagai hal menyangkut tugasnya. Meski bekerja pada malam hari, Yugi tetap memertahankan nilai-nilai pelajarannya yang selalu memuaskan. Menurutnya.
¤¤------------¤¤------------¤¤-------------¤¤-----------¤¤------------¤¤
“Ini, ada beberapa surat dan hadiah dari fans-fasmu di kampus,” Yuna memberikan bungkusan-bungkusan kado yang dibawanya pada adiknya. Hari ini adalah hari lahir Yugi yang berarti juga hari lahirnya karena mereka adalah saudara kembar. Sebagai bentuk rasa syukur, Yuna dan Yugi mengundang keluarga dan beberapa teman dekat untuk datang ke rumah setelah magrib untuk makan bersama. Kedunya tidak merayakan besar-besaran, karena hanya beberapa orang saja yang diundang.
“Heran, dijaman yang serba canggih ini masih ada saja ya menyampaikan perasaannya melalui surat,” Yuna yang duduk disamping adiknya berkata.
“Mau bagaimana lagi, pesonakukan semakin tersebar luas. Lagi pula tidak mudah mendapatkan nomor ponselku. Aku juga tidak punya cukup waktu untuk bermain dengan dunia maya,” jawab Yugi membanggakan dirinya. Ia sedang membuka lima kado yang diterimanya sambil memerhatikan siapa-siapa saja nama pengirimnya. Semuanya dari adik tingkatnya. Hanya beberapa yang Yugi kenali namanya.
“Heh, sejak kapan kamu jadi senarsis ini,” sindir Yuna. Ia bersandar malas di sofa. Ada hal yang menganggu pikirannya selama ini. “Jika aku laki-laki, aku juga pasti akan memiliki banyak fans sepertimu,” tambah Yuna. Yuna tidak benar-benar serius memikirkan itu. Ia hanya sedang iseng berandai, berpikir siapa yang akan memiliki lebih banyak fans seandainya ia juga laki-laki.
“Jika aku perempuan, aku juga pasti akan sangat bahagia karena ada lelaki yang begitu setia menunggu perasaanku terbuka seperti kak Duge,” Yugi yang tidak mau kalah juga berandai. Ia mencoba salah satu hadiahnya yang berupa sepatu olahraga. Merek yang tertera di kotak sepatu adalah Tomkins. Yugi memakainya dan sangat pas di kakinya. Ia melompat-lompat. Terasa sangat nyaman.
Duge adalah kakak kelas mereka saat masih di sekolah Menengah Atas. Setelah lulus, mereka sempat satu universitas namun Duge lebih dulu lulus dan kini bekerja sebagai detektif swasta. Duge tidak pernah menyatakan perasaannya pada Yuna, namun terlihat jelas sekali Duge menyukai Yuna. Terkadang Duge sering muncul didepan Yuna tanpa alasan jelas, dan sampai saat ini masih berhubungan baik dengan Yugi.
“Apa maksudmu ?” Yuna mengernyitkan keningnya.
“Aku sungguh tidak keberatan dia menjadi kakak iparku,” jawab Yugi.
Yuna menimpuk adiknya dengan majalah yang ada di meja. Yugi hanya tertawa kecil menaggapi pukulan Yuna. Ia mengerti perasaan kakaknya. Susah sekali bagi Yuna menghapus perasaannya yang lama untuk kemudian mengganti dengan yang baru. Seseorang yang Kakaknya sukai saat masih di SMA belum tergoyahkan sedikitpun posisinya di hati Yuna. Yugi sendiri mengenal pria itu. Tentu saja. Mereka sekelas bahkan berteman akrab.
Terdengar jelas oleh Yugi kakaknya menghela nafas panjang.
“Dia bahkan sudah tidak pernah lagi mengucapkan selamat dihari lahirku.” Yuna bangkit dari duduknya. Ia mengambil tasnya dan beranjak.
“Bukannya itu bagus. Jika dia terus memberi kejutan pada kakak namun tidak pernah muncul apa itu bukan jahat namanya. Terus memberi harapan tanpa kepastian,” Yugi berujar. Yuna yang hendak menuju kamarnya terdiam sesaat, memikirkan perkataan Yugi. Yuna tahu, perasaannya ini sangat merepotkan. Sangat menyukai seseorang yang sekarang entah berada dimana. Yuna tersenyum samar.
“Paling tidak aku bisa tahu dia baik-baik saja,” jawab Yuna sebelum meninggalkan Yugi.
Setelah meletakkan tas dan buku pelajaran pada tempatnya, Yuna merebahkan dirinya di kasur. Ia memandangi langit-langit kamarnya yang bersih. Tenang. Akan sangat nyaman sekali seandainya ia juga memiliki perasaan setenang itu. Yuna menghela nafas panjang kemudian memejamkan matanya sesaat.
“Aku ingin bertemu dengan Yuna lagi di Universitas nanti. Sampai hari itu tiba maukah Yuna menungguku ?”
Hanya karena kalimat itu Yuna masih menunggu sampai saat ini, bahkan sampai detik ini. Padahal orang yang mengucapkan kalimat itu telah begitu lama mengingkari perkataannya. Ini sudah lewat tahun ketiga namun bagaimana keadaan orang itu tak ada satu pun yang tahu. Keduanya memang tidak menggunakan janji untuk mengikat perasaan satu sama lain. Tapi Yuna begitu susah melupakan orang itu. Perasaannya seakan telah terikat dengan begitu kuatnya.
Sebelum terhanyut lebih jauh dengan perasaannya dan melupakan waktu, Yuna bangun dari pembaringannya. Ia harus sholat agar perasaannya bisa lebih tenang. Setelah itu ada banyak hal yang harus ia lakukan untuk acara malam nanti.
¤¤------------¤¤------------¤¤-------------¤¤-----------¤¤------------¤¤
Ibu, Yuna, dan Yugi tengah sibuk memersiapkan banyak hal. Halaman belakang sangat luas, sehingga terpilih sebagai tempat yang akan digunakan untuk tempat berkumpul. Dua meja panjang di letakkan di belakang. Mereka akan lesehan nantinya. Satu meja untuk keluarga dan satu lagi untuk teman-teman. Keluarga yang datang hanya Paman dan Bibi Tio bersama Rena karena hanya mereka satu-satunya keluarga yang tinggal di satu kota. Ibu juga mengundang tetangga dekat rumah. Yuna hanya mengundang Afifa, Yugi mengundang Duge. Yugi bahkan tidak mengundang satupun teman kuliahnya. Yugi bilang akan meneraktir mereka saja besok.
Acara dimulai setelah semua yang diundang berkumpul. Karena Paman Tio yang paling tua, Paman ditunjuk memimpin doa untuk Yuna dan Yugi. Selesai berdoa, semua makan bersama. Kue tar disajikan untuk makanan penutup. Saat semua sibuk menyantap makan malam mereka, ponsel Yuna berdering.
“Assalamualaikum,” Yuna memulai dengan salam. Seseorang yang menelpon disebrang sana menjawab salam dengan semangat. Seorang teman dekat Yuna semasa sekolah memberi ucapan selamat atas ulang tahun yang ke 21. Banyak sekali harapan yang diucapkan Vemi untuk Yuna. Yuna senang sekali. Meski tidak pernah bertemu lagi, namun teman-teman dekatnya masih mengingatnya. Vemi juga menitipkan salam untuk Yugi dan Ibunya. Setelah berbicara cukup banyak, bernostalgia cukup panjang, Vemi mengakhiri pembicaraan.
Setelah Vemi memutuskan telepon, kenangan tentang masa putih abu-abu kembali mengalir begitu jelas dalam benak Yuna. Tentang bagaimana ia melewati hari-hari itu, tentang teman-temannya (Hasni dan Vemi yang terdekat), juga... tentang Ozi tentunya.
“Memikirkan sesuatu ?” Duge bertanya.
“Tidak ada yang harus dipikirkan,” Yuna menjawab. Ia beranjak dan mengajak Duge kembali berkumpul bersama yang lainnya. Yuna sangat menjaga dirinya. Mengetahui Duge menyukainya membuatnya harus berhati-hati. Duge sebenarnya pria yang baik. Ia sangat menghargai pertemanan mereka selama ini. Itu sebabnya Yuna tidak tahu harus bersikap bagaimana jika sampai Duge benar-benar mengungkapkan perasaannya.
“Aku belum sempat membelikanmu hadiah karena akhir-akhir ini aku sangat sibuk. Besok akan kuberikan,” tutur Duge mengimbangi langkah Yuna.
“Akukan sudah bilang pak detektif tidak perlu repot-repot membawa apapun. Aku tidak akan menagihnya,” jawab Yuna dibarengi candaan.
Yuna tidak ingin menjadikan perasaannya sebagai berhala yang terlalu ia puja. Ia juga tahu sampai dimana batasnya. Namun terkadang perasaannya tidak bisa diajak kompromi. Terlalu menyukai seseorang itu sangat merepotkan. Perasaan dapat berubah dengan cepat dan mempengaruhi mood di berbagai situasi. Ia ingin memiliki remoute yang bisa dengan pasti mengontrol perasaannya. Mengurangi volumenya jika sudah mulai terasa menyiksa atau beralih ke chanel lain jika memang sudah saatnya ia melupakan masalalu.
¤¤------------¤¤------------¤¤-------------¤¤-----------¤¤------------¤¤
“Aku harus mendapatkan pekerjaan. Tapi sampai sekarang aku tidak bisa menemukannya,” Yuna mengeluh. Ia membuka-buka surat kabar dan mengamati satu persatu pekerjaan yang ditawarkan dibaris lowongan.
“Bahkan untuk bekerja paruh waktu di cafe pun kamu kesulitan mendapatkan lowongan,” Afifa menanggapi.
Keduanya sedang berada di cafe sederhana di sebrang jalan depan kampus. Sudah berulang-ulang kali Yuna mengeluh pada Afifa karena peruntungannya yang tidak baik dalam mendapatkan pekerjaan paruh waktu dimanapun. Afifa juga heran kenapa bisa begitu. Padahal jika diperhatikan Yuna terlihat sebagai gadis yang cerdas, tapi mengapa begitu kesulitannya mencari kerja paruh waktu. ‘Apa mungkin karena terlihat terlalu cerdasnya.’ Afifa mengganruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Apa yang kamu pikirkan ?” Yuna bertanya penasaran karena Afifa sibuk sendiri dengan ekspresinya. Afifa menggeleng. Tiba-tiba ia teringat sesuatu yang ingin ditanyakannya semenjak acara semalam.
“Oia, hadiah apa yang semalam kak Duge berikan padamu ?”
“Tidak ada,” jawab Yuna singkat. Ia kembali fokus membolak-balik surat kabar untuk mencari informasi. Afifalah yang sering menebak-nebak bagaimana Duge. Afifa juga yang memberitahu Yuna kalau Duge menyukainya saat awal-awal masa mereka kuliah.
“Tidak ada, kenapa bisa ? semalam aku melihat kalian keluar dari ruang tamu bersama,” Afifa bertanya lagi. Ia tidak habis pikir. Bagaimana mungkin Duge tidak memberikan apapun di hari spesial Yuna. Afifa sangat yakin Duge benar-benar serius menyukai Yuna. Jadi tidak mungkin kalau Duge tidak memanfaatkan setiap kesempatan untuk menarik perhatian Yuna.
“Tidak ada ya tidak ada.”
Afifa berpikir keras. Ia sering sekali bertindak seolah dirinya adalah pakar cinta. Memerkirakan beberapa hal yang memang sering tepat. Memberi nasihat beberapa temannya yang lain dengan bijak. Itulah sebabnya banyak teman-teman yang sangat nyaman jika curhat dengan Afifa. Saran-saran yang diberikannya selalu dewasa dan berbobot.
“Aku tahu,” seru Afifa seolah baru saja mendapat ilham. “Tiga menit lagi dia akan sampai disini dan memberi hadiah ulang tahunmu. Sebenarnya hadiah itu diberikan hari ini hanya alasan. Hanya agar ada lebih banyak waktu untuk bertemu denganmu,” kata Afifa mengeluarkan apa yang dipikirkannya. Yuna tidak percaya. Sama seperti dirinya, Afifa sebenarnya tidak memiliki banyak pengalaman tentang dunia cinta-cintaan. Afifa hanya lebih cendrung kearah pengamat. Pengamat karakter seseorang. Dengan mengetahui karakter itu akan memudahkannya mengetahui bagaimana seseorang bertindak dan mengambil keputusan.
“Darimana kamu tahu ?” tanya Yuna penasaran. Baru kali ini Afifa mengatakan terkaannya seolah ia sangat yakin. Afifa hanya menjawab dengan tatapan matanya lurus kejalan, memberitahu Yuna bahwa Duge sedang berjalan menuju kearah mereka.
“Ada yang bisa aku bantu,” Duge memulai setelah ia duduk.
“Yuna sedang mencari pekerjaan paruh waktu. Bisa Kakak bantu ?” Afifa menjawab. Yuna melipat kembali korannya dan ia letakkan di meja. Yuna mendelik kearah Afifa. Nampaknya akhir-akhir ini orang-orang disekitar Yuna sangat mendukungnya dekat dengan Duge.
“Kebetulan sekali,” Duge berucap semangat. “Bagaimana kalau membantuku ?”
“Apa ?” Yuna dan Afifa saling padang tidak mengerti.
“Maksudku jadi asisten detektif. Kasus tentang pemboman pasar sebulan lalu masih belum ada titik terangnya. Bukannya saat SMA kamu pernah membentuk tim detektif ?” Duge mengingatkan Yuna.
Saat itu Yuna, Yugi, Hasni, Vemi, tentunya juga Ozi membentuk tim penyeledik untuk memecahkan masalah mengenai desas-desus hantu di sekolah mereka. Awalnya hanya untuk menyelidiki itu, tapi kebenaran membawa mereka ke kasus yang lebih besar. Saat itu Yuna sama sekali tidak akrab dengan Duge. Duge bahkan adalah salah satu target penyelidikan Yuna dan teman-temannya. Salah satu yang dianggap sebagai tersangka.
“Tapi kali ini berbeda,” jawab Yuna yang sebenarnya adalah penolakan halus darinya.
“Pikirkan saja dulu,” Duge menawar jawaban Yuna. Duge mengeluarkan sesuatu dan menyerahkannya pada Yuna.
Yap. Perkiraan Afifa tepat. Ia sudah menunggu-nunggu kapan Duge akan memberikannya. Itu adalah hadiah ulang tahun untuk Yuna. Yuna dan Afifa saling pandang. Afifa tersenyum kecil tanda ia merasa menang karena tebakannya benar. Kali ini Yuna mau tidak mau harus mengakui ketajaman pemikiran Afifa dalam menebak situasi.
“Kan sudah kubilang tidak usah,” Yuna merasa enggan menerima pemberian Duge namun Afifa yang mendorong sampai akhirnya Yuna mau menerimanya. Yuna masih merasa tidak enak hati. Tapi dua melawan satu membuatnya tidak bisa terus menolak.
¤¤------------¤¤------------¤¤-------------¤¤-----------¤¤------------¤¤
Hari ini cuaca sangat baik, sebaik suasana hati seseorang. Ia sedang mencoba membuka dirinya untuk dunia luar, dan itu membuatnya ingin melakukan banyak hal. Dengan pakaian santai; kaos dilapisi dengan sweater dan jens, ia menyelusuri sepanjang jalan. Melihat jajanan yang dijajakan para pedagang kaki lima. Tangan kanannya telah menenteng plastik berisikan sekilo buah pear. Senyum menghiasi bibir yang biasanya selalu menekuk itu. Seperti baru ada hal baik yang ia dapatkan yang membuat perasaannya menjadi sangat baik. Sebuah aroma jajanan yang memenuhi indra penciumannya membuatnya tertarik untuk mampir. Ia mendekat. Ikut berdiri disamping dua orang wanita muda yang sedang memesan. Ia berdiri disebelah kanan dan mulai memilih-milih.
Dua orang wanita disebelahnya berbisik pelan. Nampaknya sangat menyenangkan berdiri disamping pria tampan. Kedua wanita itu semakin sering mencuri-curi pandang, sampai akhirnya hal yang ganjil terlihat di wajah pria tampan itu. Sebuah lempengan perak yang menutupi sebagian wajahnya. Wanita itu terdengar berbisik-bisik lagi namun dengan nada yang sedikit sinis. Ia tidak mendengarnya dengan jelas, namun bisa membedakan bagaimana cara wanita itu berbicara diawal dan akhir. Terasa menyedihkan. Bagaimana manusia-manusia disekitarnya memandang dan menilai hanya dari satu sudut yang lemah. Setiap orang memang bebas melihat dan memberi komentar, tapi akankah lebih baiknya jika itu dilakukan dengan ilmu. Dia berpikir, beginilah kebanyakan manusia-manusia yang ada disekitarnya. Manusia-manusia yang saling melukai dengan lisannya. Teramat mudah, padahal luka yang dihasilkannya begitu dalam hingga terasa menyesakkan.
Belum mendapatkan jajanan yang dibelinya, petugas Pamong praja datang. Sebenarnya sepanjang daerah ini harus ditertibkan dari para pedagang kaki lima. Jalan sering macet karena dipinggir jalan digunakan sebagai lapangan parkir oleh para pembeli. Selain itu, juga untuk membuat tatanan kota agar terlihat lebih rapi. Para pedagang masih saja sering datang dan kembali lagi meski telah diusir. Disebut negara atah berantah siapa yang mau. Namun menerapkan satu peraturan untuk mencapai penertiban yang damai sangat susah sekali didapatkan kerjasamanya dari semua pihak. Negara telah memberi lahan lain yang dilegalkan untuk tempat berdagang. Keuntungan memang tidak sama banyaknya dengan berjualan ditempat yang lama dengan tempat strategis di pinggir jalan. Atas alasan itulah tidak mudah membuat kesepakatan dengan hanya memberi satu peringatan. Keuntungan memang harus diraih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dimana harga-harga terus melambung tanpa bisa dikendalikan pemerintah. Tapi tetap ada hal-hal lain yang juga harus diperhatikan. Sebenarnya setiap permasalahan memang selalu menjadi rantai yang berputar dan kembali lagi pada pemerintah yang ujung-ujungnya selalu mentok pada sistem atau peraturan yang ada. Pada akhirnya pemerintahlah yang memegang kekuasaan tertinggi untuk mengambil keputusan yang bijak dan tegas.
Dia sudah akan pergi, berhambur seperti para pembeli yang lain. Menjauh agar tidak menganggu tugas Pamong praja. Ketika akan menepi, ia melihat Ibu-ibu tua yang kerepotan membawa barang bawaannya yang mulai berjatuhan. Hatinya yang tergerak, memutuskan untuk membantu Ibu itu. Namun polisi yang bertugas mengira dia adalah salah satu dari para pedagang kaki lima. Berusaha menjelaskan malah membuatnya terlihat hanya mengada-ada. Seorang petugas memaksanya naik ke mobil dengan mendorongnya hingga plastik buah yang dibelinya jatuh dan terhambur. Amarahnya kembali tersulut seketika itu. Tangannya mengenggam erat hingga bergetar. Tidak peduli bagaimana orang lain memandanginya dengan terheran-heran atau mengatainya karena wajahnya. Tapi ia paling tidak suka seseorang menyentuhnya dengan kasar.
Pagi tadi ketika ia keluar rumah untuk membeli beberapa kebutuhan, ia melihat penulis cerpen idolanya di jalan. Mereka bersebrangan saat itu, jadi ia bisa melihat dengan jelas gadis itu benar-benar adalah penulis cerpen idolanya. Ia tidak pernah memiliki keberanian untuk menegur cerpenis itu walau hanya untuk mengatakan suka pada tulisannya. Betapa bertambah kekagumannya ketika ia melihat si Perindu melodi yang bernama asli Dalili Danesah sedang membantu menyebrangkan seorang Nenenk tua. Tidak hanya dari tulisan-tulisan, bahkan Dalili juga memiliki kepribadian yang hebat.
Dalili Danesah yatim piatu. Ia tumbuh menjadi gadis yang baik di sebuah panti asuhan. Dalili tidak pernah tau bagaimana orang tuanya. Sudah meninggalkah, ataukah belum. Karena apa ia diabaikan, karena tidak bisa menerima kekurangannya ataukah karena hal lain seperti masalah ekonomi. Yang Dalili tahu dari cerita pengurus panti, seseorang menemukannya disebuah taman saat usianya 3 tahun yang kemudian dibawa ke panti. Sejak kecil Dalili memiliki gangguan pendengaran. Suatu kekurangan yang tidak terlihat mata namun sungguh sangat membuatnya kesulitan. Kini Dalili dapat bersosialisasi dengan orang lain tanpa kesulitan berarti karena sejak kecil sudah diajarkan cara membaca gerak bibir orang lain serta akrab dengan alat bantu dengar. Meski begitu, Dalili tidak ingin terlalu bergantung pada alat bantu dengar walau tahu ia sangat membutuhkan itu.
Dalili melangkah perlahan sambil terus mengandeng Nenek disampingnya. Jalan raya sangat padat pada pagi hari karena kegiatan baru saja dimulai. Keduanya terus melangkah dan telah sampai ditengah jalan. Ketika akan berlanjut, sebuah motor melaju dengan ugal-ugalan. Dia yang pertama kali menyadari itu. Matanya selalu melekat kearah jalan. Memastikan agar keduanya bisa sampai diujung dengan selamat.
“Hati-hati,” seorang gadis menahan langkah Dalili. Dia yang hendak menolong kedahuluan oleh seorang gadis. Gadis itu adalah Yuna. Ketiganya akhirnya menyebrang jalan bersama.
Melihat Dalili dan Yuna dengan kepribadian mereka yang baik, membuatnya berpikir. Mungkin saja kepedulian orang-orang yang dulu tidak ditemuinya saat ia melalui masa-masa berat dalam hidup kini sudah tidak lagi ada. Generasi saat ini mungkin sudah lebih baik. Jauh meninggalkan generasi orang-orang dulu yang memperlakukannya tanpa hati.
¤¤------------¤¤------------¤¤-------------¤¤-----------¤¤------------¤¤
Senin 4 Maret 2013, sebuah bom dengan kekuatan besar meledak di area parkir markas Pamong praja. Ketika itu semua sedang berada di lapangan mengikuti upacara rutin. Jarak antara tempat parkir dan lapangan tidaklah terpaut cukup jauh sehingga menjatuhkan banyak korban. Tidak ada korban yang meninggal, namun jumlah luka-luka cukup banyak. Menurut saksi, bom yang meledak berasal dari sebuah motor oper koran langganan. Pengantar koran sendiri belum bisa dimintai keterangan karena terluka parah dan masih dalam perawatan intensif pihak rumah sakit. Polisi belum bisa mengambil kesimpulan pasti tentang adakah hubungan kasus pengeboman kali ini dengan kasus pengeboman pasar sebelumnya. Karena dilihat dari rentan jarak, sudah lebih dari sebulan berlalu baru kemudian pengeboman markas Pamong praja terjadi.
Polisi sedang menyisir TKP, mencari barang bukti serta mengumpulkan serpihan-serpihan bom untuk diteliti. Para petugas sedang sibuk, begitu juga dengan Duge. Sebagai detektif dengan kemampuan yang sudah tidak perlu diragukan lagi, Duge ditunjuk untuk membantu. Ini bukan kasus pertama Duge bekerjasama dengan kepolisian. Sudah beberapa kali ia ditunjuk untuk membantu pihak kepolisian. Hasil kerja Duge memang tidak mengecewakan. Profesional dan kemampuan penempatan dirinya sangat membantu. Kasus terakhir dan menjadi satu-satunya sampai saat ini yang belum berhasil ia pecahkan adalah kasus pengeboman pasar bulan lalu. Duge sama sekali tidak menemukan petunjuk yang bisa memberinya keterangan lebih untuk mengungkap kasus itu. Itulah sebabnya Duge lansung menerima kasus baru ini begitu ditawarkan padanya. Duge merasa kedua kasus ini saling berkaitan meski belum ada bukti yang menunjukkan itu. Ia bekerja sangat keras untuk bisa menyelesaikan kasus ini. Tidak ada kejahatan yang sempurna. Pasti ada celah yang bisa ia temukan untuk memecahkan kasus kali ini.
Duge sedang rehat sesaat. Semalam ia tidak tidur sama sekali. Rasanya memang melelahkan. Tapi saat menghadapi kasus Duge berubah menjadi penggila kerja. Tidak pernah sama sekali terpikir olehnya bahwa ia akan menjadi seorang detektif. Bahkan tak seorangpun yang tahu bahwa disitulah passionnya. Duge sangat menyukai basket sebelum beralih menjadi detektif. Ia bahkan merupakan pemain yang sangat dibanggakan sekolah. Keinginan terbesarnya adalah menjadi pemain basket dunia yang membawa harum nama Indonesia. Sayangnya saat itu ia tidak mendapat dukungan sama sekali dari orangtuanya. Ayahnya bahkan tidak pernah datang sekalipun dalam pertandingan yang ia ikuti. Ayahnya adalah seorang pembisnis, jadi jalan itulah yang hanya boleh ditempuh anaknya. Duge selalu meminta Ayahnya mengerti dan memberinya kesempatan, namun sekali tidak tetap tidak. Duge sempat merasa tertekan, memiliki Ayah yang sekeras itu membuatnya stres. Dan sekarang, bukan pemain basket ataupun pembisnis. Jalan hidupnya bergeser jauh dari apa yang orangtua bahkan dirinya sendiri inginkan. Semua berubah diawal-awal Duge masuk kuliah.
Duge menyeruput kopinya. Meja kerjanya dipenuhi kertas dan dokumen-dokumen tentang kasus yang tengah diterimanya. Duge meletakkan kedua tangannya dibelakang kepala untuk ia jadikan bantalan. Sudah hampir seminggu ia tidak melihat Yuna karena kesibukannya. Disaat jam kosong seperti ini perasaan rindunya terasa semakin mengebu-gebu. Duge memikirkan Yuna, kemudian tersenyum. Memikirkan gadis pujaan hatinya itu selalu bisa memberi kesenangan tersendiri untuknya. Semakin memikirkan Yuna, semakin Duge ingin segera bertemu dengannya. Duge melirik jam kemudian mandi untuk bersiap-siap keluar.
Tujuan Duge hari ini adalah menemui Yuna di kampusnya. Sudah beberapa hari tidak melihat Yuna, rasanya sudah tidak sabar lagi. Dalam perjalanan Duge memikirkan kata-kata apa yang harus ia ucapkan nanti saat bertemu Yuna. Ia harus memanfaatkan setiap detiknya bersama Yuna dengan baik.
¤¤------------¤¤------------¤¤-------------¤¤-----------¤¤------------¤¤
Yuna hanya sendiri dalam kelasnya. Banyak sekali tugas yang harus diselesaikannya. Yuna memasukkan semua buku-bukunya dalam ransel. Yuna benamkan sesaat wajahnya pada lipatan tangannya berharap itu bisa segera mengusir lelahnya dan membuat kesegarannya kembali. Hening, hanya suara tik, tik jam dinding yang menguasai ruangan.
Yuna terlelap sesaat dan rasanya itu sudah cukup untuk membuat tenaganya kembali. Yuna bangun dengan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Menggerak-gerakkan kepalanya. Masih belum sadar sepenuhnya. Yuna menguap, matanya kini terbuka lebar. Seseorang didepan tempat duduknya mengamati setiap tingkah laku Yuna sambil bertopang dagu. Yuna mengerjap-ngerjapkan matanya masih tidak yakin dengan apa yang dilihatnya.
“Kak Duge,” Yuna terkejut.
Duge berdiri dari duduknya dan tiba-tiba mendekatkan wajahnya. Yuna yang terkejut refleks menjauh. Ia terjatuh, duduk kembali di tempatnya. “Ao.”
“Apa sekarang sudah sadar ?” Duge berkata sambil tersenyum lucu melihat ekspresi Yuna antara menahan rasa sakit ataukah rasa malu. “Ayo kita pergi,” tambahnya menyambar ransel Yuna kemudian pergi lebih dulu.
Yuna hanya diam beberapa saat, setelah berhasil mengendalikan persaannya yang sempat sedikit kacau karena tingkah Duge yang tiba-tiba dan menyadari apa yang sebenarnya terjadi ia ikut meninggalkan kelas.
“Apa Ozi pernah memerlakukanmu semanis aku ?” Duge bertanya ketika mereka sampai di tangga. Duge mengangkat ransel milik Yuna sebagai penjelas bahwa salah satu sifat manis yang dimaksud Duge adalah membawakan ranselnya.
Yuna tidak mengerti mengapa Duge menanyakan hal itu. Tapi melihat Duge yang masih terdiam berarti ia sedang menunggu jawaban darinya. Yuna berpikir sesaat, mengingat kembali apa hal manis yang pernah Ozi lakukan untuknya.
“Dibanding manis, sebenarnya Ozi sedikit menyebalkan,” Yuna memulai. Wajahnya terlihat berseri-seri. Bercerita tentang Ozi membuatnya tidak bisa menguasai dirinya. “Dia suka sekali mengikutiku, membuatku terkejut karena tiba-tiba berada disatu tempat yang sama denganku. Alasannya selalu kebetulan, tapi mana ada kebetulan tiap kali,” Yuna menceritakan bagaimana Ozi yang karena selalu mengikutinya membuat Ozi bisa membantu Yuna disaat Yuna benar-benar membutuhkan bantuan. Yuna terus bercerita sampai ia menyadari tatapan Duge berubah berbeda padanya. Yuna merasa tidak enak, tapi ia tidak ingin merasa bersalah. Yuna menguatkan hatinya.
“Padahal aku hanya bertanya satu kali tentang anak itu, tapi selama tiga belas menit kamu terus membicarakannya,” Duge menghela nafas.
Yuna masih hanya diam. Jika ia meminta maaf, artinya ia mengaku melakukan kesalahan, tapi apa perasaan yang begitu jujur adalah sebuah kesalahan. Perasaan yang mengatakan bahwa posisi Ozi masih yang pertama. Yang meski menyakitkan bagi Duge tapi seperti itulah kenyataan yang apa adanya. Duge menatap Yuna dalam. “Tidak bisakah...”
“Aku tidak dengar, tidak dengar...” Yuna berucap sambil menutup telinga dengan kedua tangannya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak ingin mendengarnya, lebih tepatnya tidak sanggup jika harus mendengarnya langsung dari Duge.
Tatapan Duge berubah datar. Susah sekali menakhlukkan gadis pujannya ini. Rasanya begitu sakit. Seandainya ia bisa berpaling dengan mudah, akan segera ia lakukan saat ini juga. Berpaling pada siapapun yang bisa membuat perasaannya pada Yuna yang tanpa kepastian ini bisa berakhir. Duge menyentuh kening Yuna untuk membuatnya berhenti menggeleng-gelengkan kepalanya dan berucap ‘tidak dengar’. Tepat di kening itu dimana Ozi juga pernah melakukan hal yang sama, menyentuh kening Yuna dengan telunjuknya.
“Apakah kamu tidak merasa ini keterlaluan ?”
“Apa ?” Yuna balik bertanya.
Duge menunjukkan ransel yang ia bawa. Yuna belum mengambil tasnya dari tangan Duge. Segera mengerti, Yuna mengambil ransel dan memakainya.
“Kita harus segera pergi.”
“Kita,” Yuna mengulang. “Mau... kemana ?”
“Tentu saja menyelidiki kasus. Kamu sekarang asisten detektif.”
“Tapi aku tidak pernah mengatakan setuju.”
“Aku sudah jauh-jauh menjemputmu dan sekarang kamu menolak pekerjaan ini ? coba dulu, kalau memang tidak cocok segera berhenti,” Duge membuat penawaran. Yuna diam mempertimbangkan. “Ayo,” ajak Duge tidak membiarkan Yuna berpikir terlalu lama.
“Ayo ? tapikan aku bawa kendaraan sendiri,” Yuna berkata dengan nada polos.
“Aku tahu,” Duge menimpali sambil tersenyum. “Maksudku ayo, aku dengan kendaraanku, Yuna dengan kendaraan sendiri. Kita pergi bersama karena aku harus menunjukkan kemana kita akan pergi, iyakan.” Yuna mengangguk pelan sambil tersenyum pias. Ia merasa masih belum sepenuhnya sadar. “Oia, satu lagi. Apa seperti itu caramu menghargai pemberian orang ?”
Yuna mengangkat alisnya tidak mengeri. Sepertinya hari ini Duge mengucapkan segala hal dengan kalimat-kalimat yang tidak mudah dipahami olehnya. Entah karena kesadarannya masih belum kembali seutuhnya atau memang karena Duge menggunakan kalimat-kalimat yang sulit ia cerna. “Hadiah yang kuberikan,” jelas Duge.
Hadiah ulang tahun yang Duge berikan berupa jam tangan. Sebenarnya sangat indah dengan warna silver dan beberapa permata menghiasi. Yuna tahu harganya pasti mahal. Yugi bahkan berdecak kagum saat melihat hadian pemberian Duge.
“Harganya terlalu mahal. Aku jadi takut menggunakannya,” Yuna beralasan.
“Mahal atau murah, yang namanya jam tangan memang untuk dipakai. Kalau Yuna takut anggap saja itu jam 40.000-an. Jadi jangan dipikirkan harganya, pakai saja.”
Berat sebenarnya, tapi Yuna akhirnya setuju juga mencoba bekerja sebagai asisten detektif. Duge dan Yuna pergi menyelidiki kasus dengan kendaraan masing-masing. Sebenarnya Yuna tidak masalah bekerja apapun itu, tapi karena orang itu adalah Duge yang membuatnya menjadi ragu.
Duge memerkenalkan Yuna pada Komandan Rudi dan petugas kepolisian yang bekerjasama dengannya untuk memecahkan kasus. Petugas kepolisian menyambut dengan baik bergabungnya Yuna. Dengan bertambahnya orang, mereka berharap kasus bisa lebih cepat menemukan titik terang. Duge menjelaskan kasus seperti apa yang sedang mereka hadapi dengan memerlihatkan beberapa dokumen dan foto yang bersangkutan dengan kasus. Lima menit kemudian rapat pembahasan perkembangan kasus dengan petugas kepolisian yang bersangkutan dan Duge diadakan. Ada kesimpulan yang dapat Duge tarik yang membuat dugannya tentang pengeboman pasar dan markas petugas pamong praja terkait.
“Cara pelaku menyelundupkan bom,” Duge mengungkapkan pemikirannya.
Bom diselendupkan melalui orang-orang yang sudah dikenal sering keluar-masuk tempat yang ditargetkan. Itu berarti cara kerja pelaku sangat teliti. Terlebih lagi bom yang digunakan adalah bom waktu, yang berati pelaku sudah memerkirakan semuanya dengan sangat matang.
Selain kedua kesamaan itu, tidak ada hal lain lagi yang saling berhubungan jika dilihat dari tempat peledakannya. Karena motif pengeboman belum juga diketahui. Yuna mencatat semua keterangan yang didengarnya. Baik penuturan dari Duge maupun petugas lain yang sedang mengumpulkan informasi dari tim forensik.
Tidak lama sebelum rapat diakhiri, kantor mendapat informasi dari bagian perhubungan bahwa ada sebuah tempat lagi yang menjadi korban pengeboman. Semua petugas bergegas menuju tempat kejadian, begitu pula dengan Duge dan Yuna.
¤¤------------¤¤------------¤¤-------------¤¤-----------¤¤------------¤¤
Keadaan telihat sangat kacau. Suara ambulans, tangis dan pekikan tidak terima, rintih kesakitan, kesibukan para tenaga medis memberi pertolongan, ditambah lagi kemunculan para wartawan yang berebut mengambil gambar, semua membaur membentuk rithme kehidupan menyedihkan yang berantakan. Kali ini tempat yang dijadikan sasaran pengeboman adalah sebuah halte di jalan MT Hariyono, yang merupakan pusat kota. Bom meledak lima menit setelah bus berhenti di halte untuk mengambil dan menurunkan penumpang.
Sebenarnya Duge tidak mengizinkan Yuna langsung turun ke tempat kejadian, namun Yuna memaksa. Sekarang ia adalah asisten Duge dan kemanapun Duge pergi ia harus mengikutinya. Itulah profesionalisme kerja yang sedang ia bangun. Yuna yang bersikeras membuat Duge tidak dapat berbuat banyak. Alhasil, begitu melihat pemandangan mengerikan dihadapannya, Yuna langsung merasa mual. Perasaan jijik, ngeri, dan aroma darah yang masih begitu kental membuat isi perutnya berputar kencang. Yuna menepi dan muntah. Perutnya benar-benar syok. Pemandangan ini sungguh membuatnya terkejut.
“Ibuku, ibuuuuu...” seorang anak perempuan memekik. Kakinya terluka, keningnya juga mengeluarkan darah. Seorang tenaga medis wanita memberinya pertolongan, namun anak itu terus meronta, memaksa dipertemukan dengan Ibunya. “Ibuku... aku mau bersama Ibu.” Anak itu terus saja meronta, tidak lagi merasakan sakit yang dideritanya. Anak itu berusaha menerobos masuk ditempat kejadian yang sudah dipasangi garis polisi.
Yuna memerhatikan anak itu. Ia seperti bisa merasakan kesedihannya seperti kesedihan semua orang yang berada disekelilingnya saat ini. Yuna memerhatikan sekelilingnya lagi meski dengan perasaan yang masih tidak enak. Jalan mulai macet sehingga petugas lalu lintas diturunkan untuk mengatur kelancaran jalan. Untuk semantara jalan daerah MT. Hariyono ditutup dan para pemakai jalan terpaksa harus memutar kearah lain yang cukup jauh. Melihat kejadian ini hati Yuna meradang. Memertanyakan siapa orang tak berhati yang tega melakukan hal sedemikian keji.
Anak perempuan yang terus meronta itu akhirnya berhasil juga melepaskan diri. Ia lari menerobos masuk kearah dimana garis polisi dipasang. Yuna yang melihat itu segera menghentikannya. Yuna menangkap anak perempuan itu.
“Lepaskan kak, aku mau mencari ibu,” anak perempuan bergaun merah muda dengan bercak-bercak darah diberbagai sisi itu berucap. Air matanya semakin deras mengalir. Yuna memeluknya, berharap itu bisa mengurangi kesedihan dan rasa takutnya. Dalam semenit anak itu berhenti meronta. Sepertinya ia hanyut dalam ketulusan dekapan Yuna.
“Kita akan mencari Ibumu nanti. Tapi sekarang obati dulu lukamu, ya,” kata Yuna lembut. Anak itu mengangguk pelan. Yuna mengantarnya kembali kebagian medis untuk diobati.
Yuna ikut memeriksa TKP seperti petugas yang lainnya setelah para korban di bawa oleh medis. Ada kamera cctv dibeberapa sudut, ini akan memudahkan melihat ulang bagaimana kejadiannya saat bom meledak. Yuna mendekat pada Duge untuk mengetahui bagaimana perkembangannya.
“21 korban dipastikan meninggal termasuk sopir bus, jumlahnya masih bisa bertambah. Untuk jumlah luka-luka belum bisa dipastikan,” Duge memberi keterangan.
“Bagaimana dengan Ibu anak itu ?” Yuna bertanya.
“Merupakan salah satu korban yang meninggal. Anak itu ditemukan pingsan dalam dekapan Ibunya,” ucap Duge berduka. Yuna menghela nafas prihatin, hatinya menangis.
“Lapor Pak,” seorang polisi memberi hormat pada komandannya. “Para saksi sudah berhasil dikumpulkan.”
Komandan, bersama Duge dan Yuna menuju ke tempat para saksi berkumpul.
Hari ini Yuna melihat begitu banyak korban meninggal, darah, dan airmata. Tubuh Yuna bergetar melihat semua itu langsung di depan matanya untuk pertama kali. Bagaimana cara Ayahnya meninggal juga tidak biasa. Hari ini kenangan menyakitkan itu juga dibangkitkan kembali. Bersamaan dengan gambaran mengerikan yang terjadi hari ini. Meski baru hari pertama, pekerjaan ini menguras begitu banyak emosinya, namun membuat rasa kemanusiaannya semakin peka. Hari yang benar-benar melelahkan.
Setelah Yuna sampai di rumah, hujan turun. Sepertinya langit juga sedang menumpahkan semua emosinya. Bumi sedang berduka ditengah krisisnya sisi kemanusiaan yang dimiliki para umat manusia. Semakin banyak peraturan diciptakan, diimbangi dengan semakin banyaknya pula para pelanggar peraturan. Pemikiran-pemikiran radikal yang bermunculan disebabkan oleh pengaruh dari berbagai penjuru dan semakin kuat memegang kendali. Tidak ada yang tahu darimana semua itu bermula dan berasal. Karena memang setiap manusia memiliki sisi itu dengan bagian yang sama pada diri masing-masing. Hanya saja pengendalian terhadap diri sendiri, lingkungan, orangtua, dan segala hal yang dilakukan memiliki peran yang masing-masing tidak sama nilai persentasenya.
Bumi adalah tempat pengembangbiakan pola pikir dan perasaan, yang melahirkan berbagai macam karakter. Jika ingin melihat dunia dari sisi yang paling mengerikan, manusia adalah pemeran utama disetiap lakonnya. Bagaimana caranya memerlakukan sesamanya. Dimana tingkah lakunya tidak lagi bisa disebut sebagai manusia. Seorang anak yang memerkosa Ibu kandungnya, penyiksaan dengan sadis, membunuh bayi. Mereka bukan hanya orang-orang tidak bermoral, melaikan juga tak berakal. Orang-orang seperti itu pantasnya dikubur hidup-hidup. Karena sekali saja desah nafasnya terdengar, itu akan menimbulkan malapetaka bagi semua. Bukan berarti tidak mau melihat latar belakang terjadinya suatu keadaan. Tapi bagaimanapun juga manusia memiliki hak yang sama untuk hidup dan orangtua tetaplah orangtua. Bagaimanapun keras makiannya, melalui perantaranya manusia lahir. Setelah kalimat seperti itu terucap, selanjutnya pasti akan terdengar sebuah sahutan berang penuh kekecewaan yang khas dari mereka yang dipersalahkan. Yang menyebutkan bahwa jika lahir hanya untuk menjalani takdir berat yang menyedihkan tidak akan ada yang sudih. Kemudian dengan senyum samar menyedihkan mereka akan mulai menceritakan kisah hidupnya yang berat dan membandingkan kisah hidupnya dengan orang lain. Betapa beruntungnya orang lain yang tidak pernah merasakan kelaparan, atau memiliki orangtua yang mengerti bagaimana harus menghadapi anak-anaknya dengan pengertian dan kasih sayang, atau memiliki orangtua tanpa daftar hitam, atau hidup dilingkungan baik-baik yang menjunjung tinggi etika dan moral. Semua segi kehidupan mereka perbandingkan seolah memroklamirkan betapa irinya mereka dengan kehidupan semua orang yang mereka anggap sangat nyaman. Memersalahkan lingkungan, Tuhan, dan orang-orang disekitarnya, yang membuat mereka terlahir dengan beban hidup yang begitu berat.
Kejahatah adalah sebuah rangkaian, dan tidak akan terjadi sebuah rangkaian jika hanya ada satu pemicunya. Orang-orang disekelilingnya turut andil dan bertanggung jawab. Semua bisa selesai jika diakhiri, bukan dengan menciptakan rantai kejahatan baru disetiap masa. Semua ada pada diri setiap orang. Bagaimana ia menekan atau memicu sisi gelap dalam dirinya dan bagaimana ia menekan atau memicu sisi gelap orang lain.
Bukan hanya dalam hal sifat paling tidak manusiawi. Manusia yang lain juga menjadi pemeran utama dalam hal-hal paling mengharukan. Rela berkorban demi orang lain, melindungi hal-hal yang disayanginya yang meski beberapa orang memberi cap bodoh namun itu justru jauh lebih baik. Membuat beberapa yang lain ikut tergugah hatinya.
Yuna baru saja menunaikan sholat magribnya. Hujan masih belum berhenti mengguyur. Yuna ikut duduk bersantai didepan telefisi bersama Yugi dan Ibunya. Peledakan di halte menjadi pemberitaan utama disetiap chanel nasional. Semua merasa prihatin dan mengucapkan turut berduka cita. Semua orang mengutuk pelaku pengeboman yang tidak memiliki hati nurani. Yang entah atas dasar apa, menjadikan orang lain sebagai tumbal tindak kejahatannya.
“Kak, Ibu bilang tadi ada yang mirip Kakak di berita,” Yugi bertanya ketika Yuna duduk disampingnya.
“Mungkin,” jawab Yuna. Ia menjangkau snack Yugi dan mengemilnya juga.
“Benar juga. Hari inikan Kakak pulang terlambat. Tapi apa yang...”
“Aku sudah bekerja sekarang,” Yuna memotong kalimat adiknya. Yugi dan Ibu yang semula masih menonton mengalihkan pandangannya pada Yuna. “Aku menjadi asisten detektif.”
“Kak Duge maksudnya,” Yugi menyambar cepat.
“Yuna, tapi pekerjaan itukan sangat berisiko,” Bu Riana berkata khawatir. Sebagai seorang Ibu tentu saja ia sangat menghawatirkan anak perempuannya. Banyak hal yang telah terjadi setelah suaminya meninggal. Berbagai macam kesulitan telah berhasil mereka lewati dengan tidak mudah. Kini, mengetahui anak perempuannya melakukan pekerjaan dengan risiko yang besar karena berhubungan dengan dunia kenjahatan membuatnya tidak tenang.
“Ibu jangan khawatir, aku tidak bekerja penuh kok. Lagipula Yuna hanya asisten,” Yuna mencoba membuat Ibu memercayainya bahwa ia akan baik-baik saja.
“Benar, lagipula ada Kak Duge,” Yugi menimpali.
¤¤------------¤¤------------¤¤-------------¤¤-----------¤¤------------¤¤
Duge memerlihatkan Yuna sebuah rekaman yang ia ingin Yuna memberitahukan padanya apa ada yang aneh dengan rekaman itu. Rekaman tentang pengeboman bus. Yuna bersama beberapa petugas lain menyaksikan rekaman sebelum, sampai setelah pengeboman terjadi. Sekilas semua terlihat normal. Bagaimana padatnya halte sebelum pengeboman, dan bagaimana paniknya saat bom meledak. Yuna memerhatikan dengan seksama. Setelah selesai diputar, Yuna meminta untuk memutar ulang sekali lagi dibagian yang menurutnya ada sesuatu yang berbeda.
“Itu, orang itu,” Yuna berucap sambil menunjuk gambar seseorang dalam rekaman. Dengan cepat Petugas yang memegang remot menghentikan rekaman dengan menekan pause. Petugas itu juga memerbesar gambarnya. Dalam diam Duge tersenyum karena ternyata apa yang ia pikirkan dan lihat sama dengan Yuna. Dari penampilan dan postur tubuhnya, jelas orang bertudung kepala itu adalah seorang pria.
Yuna menjelaskan keanehan yang dilakukan pria bertudung kepala itu. Awalnya memang tampak normal, berdiri beberapa jarak dari halte. Melihat jam sebelum bom meledak juga bukan sesuatu yang bisa dicurigai karena bisa berarti itu hanya unsur ketidak sengajaan. Sama seperti beberapa orang lain yang melihat jam tangannya hanya untuk mengetahui pukul berapa saat ini. Atau memastikan kedatangan bus. Setelah melihat jam tangannya pun ia hanya diam dan hendak menyebrang jalan. Melihat kekanan dan kekiri, menghilang dari kamera. Namun tiba-tiba saja ia menerjang seorang wanita saat bus meledak, sementara orang-orang disekitarnya menunduk, menutup telinganya, dan melindungi orang yang tengah bersamanya sepersekian detik setelah pria itu menerjang seorang gadis. Seolah ia tahu bus akan meledak dan dengan cepat menolong orang yang dikenalnya.
“Periksa data gadis ini dan cocokkan. Sepertinya dia termasuk dalam daftar yang kita introgasi kemarin,” Komandan Rudi memberi perintah pada bawahannya setelah yakin apa yang harus dilakukannya.
“Siap, Pak,” yang diberi perintah memberi hormat dengan gagahnya.
“Bagaimana dengan hasil catatan DNA, apa sudah keluar ?” kali ini Duge yang bertanya.
“Akan segera keluar, Pak,” petugas yang lain menjawab.
“Pelakunya pasti terluka karena melindungi gadis itu. Semoga saja tidak ada yang terlewatkan,” Duge berharap. Wajah pelaku memang tidak terlihat sama sekali di kamera, sehingga hanya gadis yang ditolongnya saat itu yang bisa menjadi petunjuk.
¤¤------------¤¤------------¤¤-------------¤¤-----------¤¤------------¤¤
--Bersambung--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar