Kamis, 23 Juli 2015

«<[Iblis 2 (bagian 2)]>»

-Brak- seorang petugas menggebrak meja. Bersikap keras dan tegas untuk menjatuhkan mental adalah salah satu caranya untuk dapat mengorek keterangan dari saksi yang sedang diintrogasinya. Sudah satu jam lebih menanyakan pertanyaan yang sama namun tidak juga tercapai hasil yang diharapkan.

Gadis yang tengah diintrogasi hanya mampu diam menunduk. Ia sudah menjawab semua pertanyaan sesuai dengan apa yang dialaminya, namun petugas itu masih saja menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sama. Tidak tahu lagi bagaimana ia harus menjawab. Tiba-tiba didatangi beberapa orang polisi yang memintanya agar mau bekerjasama dan ikut bersamanya saja sudah membuat dirinya terkejut. Bagaimana tidak, sebelumnya ia juga sudah diminta menjadi saksi dan diintrogasi bersama beberapa orang yang lainnya namun tidak terjadi apapun. Kini, ia harus kembali ke kantor polisi dan melakukan introgasi ulang dengan situasi yang berbeda. Situasi dimana ia merasa dipojokkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terlalu ia mengerti. Mengakui hal-hal yang tidak ia ketahui.

Yuna yang baru selesai menunaikan sholat ashar, bergantian dengan yang lain, berkumpul kembali bersama petugas lain.

Duge, dan Komandan Rudi berada di luar ruang introgasi memerhatikan setiap gerak-gerik dan kalimat yang keluar dari ucapan gadis yang sedang diintrogasi. Duge memerlihatkan data gadis itu pada Yuna.

“Nama: Dalili Danesah, umur: 24 tahun,” Yuna membaca dengan nada bergumam. Yuna membaca setiap data yang tercantum. Di bagian pekerjaan tertulis bahwa Dalili adalah seorang cerpenis dan pemilik sebuah kios buah. Yuna amati foto seorang gadis yang mengenakan kerudung hitam rapi yang tertera di data tersebut. Yuna juga memerhatikan dibagian catatan kesehatan. “Dia cerpenis terkenal itu,” Yuna berujar. “Aku pernah bertemu dengannya sekali.”

Duge dan Komandan Rudi menatap Yuna bersamaan. Yuna meminta izin untuk diperbolehkan masuk ke ruangan itu. Komandan dan Duge setuju. Gadis itu terlihat polos. Mungkin jika berbicara dengan sesama perempuan akan lebih mudah.

Yuna masuk menggantikan petugas yang berada di dalam. Yuna duduk di depan Dalili dan tersenyum hangat bersahabat. Dalili menatap Yuna mengingat-ingat.

“Yuna,” katanya akhirnya.

“Baguslah kalau mba masih ingat. Aku takut dikira hanya modus jika langsung kusebutkan namaku karena kasus ini,” Yuna berkata dengan nada bercanda untuk mencairkan ketegangan Dalili.

“Mana mungkin aku lupa, karena Yunalah yang menolongku dan seorang Nenek saat menyebrang,” Dalili mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Yuna. Dalili sangat berterimakasih karena jika tidak mungkin saat itu mereka berdua telah terkena musibah. Maksud hati ingin berbuat baik menolong orang, siapa sangka justru malah hampir membuat celaka. Yuna merasa tidak enak karena sudah berlalu namun Dalili masih saja berulangkali berterimaksih padanya.

Komandan dan Duge masih berada di luar ruang introgasi mengamati. Beberapa menit didalam, Yuna sama sekali belum membahas permasalahan mengenai pengeboman itu. Keduanya seperti berjumpa lagi dengan teman yang telah lama tidak bertemu. Dalili menanyakan bagaimana Yuna bisa berada di kantor polisi dan Yuna menceritakan dengan singkat tentang pekerjaan barunya sebagai asisten detektif.

“Oiya, maaf sebelumnya aku bertanya ini,” Yuna merasa sungkan. Takut pertanyaannya akan menyinggung. “Bagaimana dengan pendengaran mba ? bukankah terakhir kali mba hampir celaka karena mba bilang alat bantu dengarnya mungkin sudah mulai rusak.”

“Benar. Karena itu juga aku hampir celaka saat peledakan di halte tempo hari,” jawab Dalili mulai mengarah pada kasus peledakan. “Alhamdulillah seseorang lagi-lagi menyelamatkanku. Sepertinya aku harus mengurangi aktifitasku di tempat-tempat umum agar orang lain tidak terluka.”

“Apa orang itu terluka ?” Yuna bertanya perlahan.

“Sepertinya iya. Bukankah ledakannya cukup besar ?” Dalili balik bertanya dan Yuna menjawab dengan anggukan. “Aku belum sempat berterimakasih padanya karena ia pergi begitu saja setelah menolongku.”

“Mba tidak mengenalnya ?”

“Tidak. Aku juga tidak terlalu memerhatikan wajahnya saat itu karena keadaan sangat kacau. Jadi kalau aku bertemu dengannya mungkin aku tidak akan ingat lagi wajahnya,” Dalili berkata dengan nada menyesal. Bagaimana mungkin ia bisa membalas budi atau berterimakasih jika ia tidak bisa mengingat bagaimana wajah orang yang menolongnya. Jika suatu hari nanti ia bertemu dengan orang yang telah menolongnya tanpa sengaja dan tidak mengingatnya, itu sangat keterlaluan. “Eh, apa ini ada hubungannya dengan kasus ? tadi petugas itu bertanya terus tentang siapa orang yang menolongku ?” Dalili berubah ingin tahu.

“Iya,” Yuna menjawab setelah menimbang-nimbang. “Orang itu melindungi mba sesaat sebelum bom meledak. Itu artinya kemungkinan orang itu adalah pelakunya.”

“Astaghfirullah hal’azim,” Dalili beristighfar. Matanya melebar, Ia benar-benar tidak menyangka. Dalili terlihat sedih. Yuna mengerti bagaimana perasaannya.

“Maaf, karena itulah kami mebutuhkan keterangan dari mba untuk mencaritahu siapa orang itu dan membuat sketsa wajahnya,” Yuna tulus meminta maaf.
Dalili diam berpikir. Meski orang itu telah menyelamatkannya dan ia berhutang nyawa, tapi kejahatan tetaplah kejahatan. Utang budi Dalili memang tidak akan bisa ia bayar, tapi setiap orang memiliki kewajiban untuk mengakhiri tindak kejahatan. Bagaimanapun akan ada lebih banyak lagi korban yang berjatuhan jika hal ini terus dibiarkan. Dalili mengingat ulang keseluruhan kejadiannya dengan detail. Bagaimana keadaan jalan yang nampak sama seperti sebelum-sebelumnya, serta bagaimana kacaunya keadaan setelah bom meledak.

“Ada sesuatu,” Dalili berkata pelan namun Yuna cukup bisa mendengarnya. Yuna mendekatkan kursinya agar bisa lebih jelas mendengarkan apa yang akan Dalili bicarakan. “Wajahnya… tertutup topeng.”

“Topeng ?” Yuna mengernyitkan dahinya mengulang. “Maksudnya orang itu memakai topeng ?”

“Tidak, tapi hanya sebagian wajahnya saja,” Dalili memerjelas. “Pria itu mengenakan tudung kepala dan keadaan saat itu sangat kacau, tapi aku melihat sekilas kilat yang ada di wajahnya seperti sebuah lempengan yang entah terbuat dari apa.”

Yuna dan bagian penyelidikan mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Meski tidak begitu detail, paling tidak mereka bisa mengunci kata sandinya, topeng. Para petugas memulai lagi tugas mereka. Ada yang mencari data kesehatan, kembali ke TKP dan menanyai orang sekitar tentang pria dengan lepengan yang menutupi sebagian wajahnya, juga menanyai beberapa orang di TKP pengeboman sebelum-sebelumnya apakah mereka juga pernah melihat orang yang sama berkeliaran disekitar tempat itu. Semua unit sibuk dengan kegiatanya. Para petugas juga terlihat dibeberapa titik disekitar pengeboman halte dan beberapa tempat pengeboman lainnya.
Kiriman kaset cctv beberapa hari sebelum ledakan bus di halte jalan MT Hariyono baru saja tiba. Mereka perhatikan setiap detail aktifitas yang terjadi. Tidak satupun dari kaset rekaman yang mereka tonton menampakkan seorang pria dengan setengah wajahnya menggunakan topeng. Seperti halnya saat peledakan terjadi pria itu pasti akan menggunakan sesuatu untuk menutupi hal yang dapat dengan cepat membuat orang lain mengenalinya, maka gambaran lalulalang manusia yang memakai topi atau tudung kepala diseleksi satu persatu.

Hari yang benar-benar menyibukkan. Waktu telah menunjukkan pukul 21.00. Yuna tengah sibuk memeriksa berkas-berkas yang ada di depannya disebuah ruangan yang masih terlihat sibuk dengan berbagai aktifitasnya. Duge datang dengan membawakan teh hangat.

“Terimakasih,” Yuna berkata setelah menerima teh manis dari Duge. “Kenapa repot-repot. Kakak ‘kan bosnya seharusnya jika perlu apa-apa katakan saja. Biar aku yang buatkan.”

“Tidak apa-apa. Ini juga sekalian,” Duge menyeruput kopinya dan Yuna mencicipi teh seduhan bosnya. Keduanya merasa sedikit lebih segar dan kembali bersemangat. Duge masih berdiri di depan meja tempat Yuna menyelesaikan tugasnya.

“Ayo, kita makan malam dulu,” ajak Duge.
Yuna terdiam sesaat tidak langsung menjawab. Perutnya memang lapar, tapi makan berdua saja dengan Duge adalah hal yang harus dihindarinya. “Ayo siap-siap, aku akan mengajak yang lainnya,” tambah Duge seolah mengerti apa yang Yuna pikirkan. Sebelum Yuna akhirnya mau menerima tawaran bekerja menjadi asistennya, Duge harus menyusun alasan dengan tepat lebih dulu sebelum bisa bertemu dengan Yuna. Duge pernah diam-diam menyusupkan pulpennya kedalam saku jemper Yuna agar ada alasan lagi untuk menemui gadis itu. Suatu malam Duge menelpon menanyakan pulpennya. Duge bilang pulpen itu bukan pulpen sembarangan karena itu adalah oleh-oleh sepupunya dari Jepang. Malam itu Yuna sangat sibuk menghubungi semua teman-temannya, mencari jam kosong agar mau menemaninya menemui Duge. Semua nomor di kontak ponselnya ia hubungi berharap ada salah satu temannya memiliki waktu luang dan bersedia menemaninya. Yuna menemukan satu teman yang mau menemaninya. Walau rumahnya ibarat ujung ketemu ujung, Yuna sudah tidak lagi memiliki pilihan lain.

“Dista,” Duge menyapa teman yang Yuna bawa bersamanya.

“Sekalian, aku tadi baru pulang dari mengerjakan tugas kerja kelompok bersamanya,” Yuna beralasan. Dista hanya senyum-senyum. Yuna sudah membuat kesepakatan dengan Dista agar ia mengiyakan saja apapun yang Yuna nanti katakan di depan Duge. Yuna segera menyerahkan pulpen milik Duge.

“Mau minum dulu ?” Duge menawari.

“Boleh,” Dista menyahut lebih dulu sebelum Yuna menolaknya. Mereka bertemu di sebuah tempat tongkrongan sederhana di pinggir jalan. “Kasihan Yuna sudah jauh-jauh menjemputku,” tambah Dista senyum-senyum. Dista meninggalkan keduanya sebentar untuk memesan minuman. Yuna tidak mengatakan apapun, namun Duge bisa melihat betapa keras usaha Yuna mencari seseorang agar mau menemaninya. Meski itu hanya untuk mengantar pulpen Duge.

“Kenapa saat bertemu denganku Yuna selalu membawa orang lain ?” Duge bertanya ingintahu. Benar seketat itukah Yuna memagari dirinya.

“Tidak apa-apa. Hanya saja aku merasa berdua itu tidak baik,” jawab Yuna memberikan alasannya.

“Apa Yuna takut padaku ?” Duge bertanya lagi. Yuna hanya menaikkan alisnya tidak menjawab. “Apa tidak kasihan dengan Dista ? barang kali dia punya acara sendiri dan terpaksa membatalkannya untuk menemani Yuna kesini.”

“Tidak,” Yuna menyahut dengan cepat tidak ingin dianggap memaksa temannya agar mau menuruti keinginannya. “Aku sudah memastikannya. Aku juga sudah menanyainya dia punya acara atau tidak. Jika punya tidak apa-apa jika… me-nolak-ajakan-ku,” Yuna keceplosan. Yuna langsung terdiam malu. Dia yang membuat alasan, dia pula yang membongkar kebohongan alasannya. Duge mengangguk-angguk seperti, berpura-pura baru tahu bahwa Yuna sengaja membawa temannya.
Yuna merasa tidak enak hati. Ia selalu merasa serba salah menanggapi semua kebaikan Duge. Yuna berpikir lagi. Mungkin berada didekat Duge seperti ini juga merupakan suatu keputusan yang salah. Yuna menghela nafas.

Semua menikmati makan malamnya. Jumlah mereka semuanya tujuh orang. Tidak semua bisa ikut termasuk Komandan Rudi karena harus segera pulang. Duge mengatakan traktiran hari ini hanya karena semua orang sudah bekerja keras seharian.

“Ku pikir ini traktiran hari jadiannya kalian,” seseorang menimpali. Yang lain juga setuju dan mereka mendukung. Yuna yang masih mengunyah makan malamnya langsung tersedak. Yang lain tertawa.
“Benarkan, sampai salah tingkah begitu.”

Duge mengalihkan pembahasan karena Yuna pasti akan sangat tidak nyaman dengan keadaan ini. Duge menyemangati semuanya agar besok lebih semangat lagi bekerja karena titik terang dari beberapa kasus akhirnya terlihat. Duge juga meyakinkan bahwa tidak lama lagi kerja keras mereka pasti akan membuahkan hasil.

“Terimakasih,” Yuna berkata sebelum pulang bersama yang lainnya. Duge mengangguk.

“Hati-hati di jalan,” Duge berpesan. Ia membiarkan Yuna pergi lebih dulu, dengan begitu ia bisa melihat Yuna yang semakin menjauh. Melihatnya lebih lama dibanding dia yang pergi lebih dulu.
¤¤------------¤¤------------¤¤-------------¤¤-----------¤¤------------¤¤
Hasil catatan DNA telah keluar. Melalui catatan itu diketahui bahwa pelaku bernama Ari Adrian, 30 tahun. Ari sudah menjadi yatim piatu sejak berumur 15 tahun. Setelah orangtuanya meninggal, Ari pernah tinggal disebuah panti, namun hanya bertahan tiga bulan saja. Ari kabur dan tidak pernah kembali lagi. Ia hidup seorang diri sambil bekerja di sebuah warung makan sebagai pencuci piring. Dengan bekerja di warung makan itulah Ari bisa tetap melanjutkan sekolahnya. Bos pemilik warung makan mengizinkan Ari tinggal di warung malam hari karena Ari tidak memiliki tempat tujuan. Pertamakali Bos menemukan Ari disuatu pagi saat ia hendak membuka warung makannya. Ari tergeletak di koridor warungnya. Badan Ari demam saat itu. Ia menggigil kedinginan, bibirnya pucat. Bos dan istrinya yang saat itu sedang hamil membawa Ari ke rumah dan merawatnya hingga sembuh. Sebenarnya bos sedang tidak membutuhkan pegawai saat itu ditambah lagi bisnis warung makanannya sedang tidak baik. Tapi melihat Ari, bos jadi kasihan dan membiarkan Ari tinggal di warung dan membantu bekerja di dapur sebagai pencuci piring atau pengupas bawang. Hanya beberapa yang bisa bos berikan pada Ari saat ia memiliki rezeki berlebih.

Luka di wajah Ari di dapatnya saat berumur 14 tahun. Sekelompok pemuda pengangguran, putus asa, sedang mabuk malam itu. Naasnya bertemu dengan Ari. Saat itulah luka pada wajahnya ia dapatkan dan sampai sekarangpun luka itu tidak sembuh meski telah berlalu selama 16 tahun.

Yuna tiba-tiba saja teringat tentang sesuatu pagi ini. Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Afifa.

“Aku sedang mengantar laundry,” jawab Afifa dari sebrang sana.

“Apa itu tempat biasa aku menjemputmu beberapa kali ? orang yang kamu sebut dengan wajah yang berbeda ? kamu sudah sampai dimana ?” Yuna mengajukan pertanyaan yang berderet membuat tidak tahu harus menjawab pertanyaan yang mana lebih dulu. Afifa akan balik bertanya, namun Yuna minta agar Afifa mengiyakan saja jika itu benar.
“Tunggu aku sampai disana, jangan dulu mengantarkan pakaiannya sebelum aku datang,” minta Yuna. Ia memutuskan telepon dengan segera dan beranjak.

Afifa sungguh tidak mengerti. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan memasukkan kembali ponselnya dalam saku celana. Meski tidak mengerti dan dipenuhi banyak tanda tanya, Afifa tetap saja mengikuti permintaan Yuna. Padahal ia tinggal melewati 2 pintu lagi dan tugasnya mengantar laundry pakaian akan selesai. Afifa menyandarkan bahunya di dinding, tepat saat itu beberapa polisi berdatangan. Diantara beberapa polisi itu, ada salah seorang yang Afifa kenal, Duge.

“Apa yang sedang kamu kerjakan disini ?” Duge bertanya pada Afifa.

Afifa mengangkat plastik bungkusan pakaian laudry yang akan diantarkannya ke rumah pelanggannya no.16. Duge mengerti. Ia mengatakan beberapa hal dengan singkat dan mudah dipahami oleh Afifa. Afifa mengangguk mengerti dan setuju bekerjasama.

Didepan pintu no.16, Afifa menekan bel. Beberapa saat menunggu, seseorang membuka pintu, mengintip dari celah yang ia buka sedikit, mengatakan ‘sebentar’, kemudian menutup pintunya lagi untuk masuk mengambil uang. Begitulah kebiasaannya seperti yang sudah Afifa hapal. Entah karena sangat berhati-hati atau hanya sekedar kebiasaan tanpa arti. Kali ini Afifa menunggu sedikit lebih lama.
Delapan menit dan pemilik rumah tidak juga membukakan pintu, para polisi yang merapat diantar pintu nomor 15 dan 17, memilih mendobrak pintu.  Para polisi menyerang masuk dengan gagahnya. Mereka yang berjumlah tujuh orang menyergap kedalam dengan gerakan yang teratur, rapi sesuai dengan jumlah dan pembagian kelompok masing-masing. Mereka masuk dan memeriksa semua tempat dengan teliti. Kamar, kamar mandi, ruang kerja dan dapur. Sayangnya pemilik rumah kabur melalui jendela belakang. Sebagian petugas berusaha mengejar.
Saat diperiksa ternyata pemilik rumah memasang kamera kecil diluar untuk mengamati siapa saja yang melewati atau akan bertamu ke rumahnya. Kamera itu di sambungkan ke laptop di ruang kerjanya.

Afifa sangat syok mengetahui bahwa pelanggan setia laundry di tempatnya bekerja adalah seorang pelaku pengeboman. Duge menemani Afifa berbicara sebentar sambil berjalan turun menuju tempat parkir, sementara para polisi masih sibuk dengan tugas-tugasnya mengamankan tempat tinggal Ari Adrian, mencatat keterangan para tetangga, dan sisanya masih mencari di sekitar rumah, barangkali Ari belum jauh melarikan diri.
Di parkiran, Afifa yang pertama kali menyadari motor Yuna terparkir di samping motornya, lengkap dengan helm yang biasa Yuna kenakan.

“Ini motor Yuna. Kemana orangnya ?” Afifa celingukan kesana-kemari. Duge ikut memandang kesegala arah mencari. Tidak melihat Yuna dimanapun, Afifa perhatikan lagi motor matic hijau disamping motornya itu barang kali salah mengenali.

“Untuk apa Yuna kesini ?” Duge mulai bertanya setelah yakin tidak melihat Yuna dimanapun.

“Tadi... Yuna yang menelponku dan menyuruhku menunggu sampai dia datang,” Afifa teringat kembali telepon Yuna yang aneh setengah jam lalu sebelum Duge dan para polisi datang. “Sepertinya dia menduga sesuatu...”

Duge segera menghubungi Yuna. Ia mulai khawatir, begitu juga dengan Afifa. Duge menunggu dengan gelisah, namun panggilan tak juga dijawab orang disebrang sana. Duge mencoba lagi dan...

“Halo Yuna,” Duge langsung memburu begitu panggilannya diangkat.

“Aku menemukannya,” terdengar nafas terengah-engah orang diseberang sana menjawab. Meski terengah-engah, tersirat nada senang didalamnya.

“Kamu dimana ? akan kususul sekarang ?” Duge menghela nafas merasa lega karena Yuna menjawab telponnya. Suara disebrang sana yang semula terdengar berlari kini berhenti, suara nafasnya yang terengah-engah masih terdengar. “Halo... Yuna, Yuna kamu dimana ?” Duge kembali panik karena Yuna tidak kunjung menjawab pertanyaannya. “Halo... halo...”

-Brak- kyaaa...
Suara ponsel terbanting dan pekikan seorang gadis yang dipukul dengan keras hingga jatuh tersungkur hanya berjeda beberapa detik. Seorang pria bertudung kepala meperlihatkan barisan giginya yang rapi saat tersenyum keji. Yuna kini dapat melihat dengan jelas bagaimana wajah orang yang telah membunuh banyak orang tidak berdosa dengan peledakan. Pria itu lebih tinggi dari bayangan Yuna, badannya kurus. Matanya yang cekung sebenarnya tidak terlihat kejam. Wajah sebelah kiri tidak sepenuhnya ditutupi oleh lempengan perak yang ada diwajahnya. Hanya sebagian pipinya saja yang tertutupi, sampai pada batas hidung. pria itu melangkah mendekat kearah Yuna, kemudian berjongkok agar mudah menjangkau gadis yang masih tersungkur didepannya.

“Sebenarnya kamu gadis yang baik,” katanya dengan suara parau. Ia terdiam sesaat. Matanya dan Yuna bertemu. Ia melihat Yuna saat siaran telefisi menayangkan pengeboman bus di jalan MT Hariyono. Ia juga langsung bisa mengingat bahwa sebelumnya ia pernah melihat Yuna. “Haruskah aku membunuhmu ? akh, tapi orang sepertimu bukan targetku. Tapi... kamu bisa jadi sangat membahayakan, tapi...” suaranya yang semula parau mulai terdengar normal.

“Kenapa... kenapaaaa ?!!” Yuna bertanya setengah memekik. Melihat pria itu semakin dekat berada didepannya membuat Yuna mengingat kembali dengan jelas hari dimana korba-korban pengeboman bus  di halte jalan MT Hariyono. Seorang anak yang kehilangan ibunya, ibu yang kehilangan anaknya, entah kakak, adik, atau sepupu yang kehilangan saudaranya. Tangisan, kacaunya hari itu, darah, bau hangus, serta mayat-mayat yang tak tahu apa dosanya sehingga harus mengahadapi kematian dengan cara yang mengerikan. Yuna menatap penuh amarah. Lagi-lagi tatapan mata mereka bertemu.

“Berhenti menatapku SEPERTI ITU !!!” pria itu memekik berang. “Kamu... tidak tahu apapun,” tambahnya menegaskan posisi Yuna.

Mereka berada di belakang sebuah gedung bangunan sekolah dengan dinding pagar tembok yang menjulang tinggi untuk mencegah anak muridnya membolos saat jam pelajaran. Dibelakang bangunan itu ada tanah lapang yang sebagian digunakan sebagai tempat menumpukkan mobil-mobil yang sudah tidak dapat digunakan. Biasanya rusak luar biasa karena kecelakaan. Sebelum akhirnya dihancurkan, mobil-mobil ditumpuk di tempat itu. Ada jalan lorong diantara toko-toko dan bangunan lain yang harus dilewati sebelum akhirnya bisa sampai ke tempat itu selain jalan besar dari arah lain yang sedikit lebih jauh.

Pria itu berjalan membelakangi Yuna sesaat kemudian berbalik lagi. Ia membuka topengnya, memperlihatkan lukanya yang begitu mengerikan. Yuna telah berdiri, melihat dengan jelas bagaimana wajah di balik topeng itu. Tepat dibawah matanya, di daerah tulang pipi terdapat luka yang cukup lebar, beberapa setelah luka yang lebar itu terdapat luka goresan yang sepertinya sangat dalam. Kedua luka itu nampaknya dijahit dengan asal-asalan karena terlihat sangat buruk. Luka itu bukan hanya meninggalkan bekas luka yang merusak keindahan wajah pemiliknya, namun justru menghancurkannya. Setengah wajah mulus yang terlihat tampan itu dihancurkan dengan dua luka jahitan. Dilihat bagaimana bentuknya mungkin saat wajah itu dikoyak dengan belati atau benda tajam sejenisnya hampir menyentuh tulang pipinya. Yuna merasa ngeri membayangkan bagaimana luka itu bisa didapat.

“Perhatikan ini baik-baik !” pria itu tidak mengizinkan Yuna memalingkan wajahnya. Ia menahan wajah Yuna dengan kasar hingga begitu dekat dengan lukanya. Yuna melihatnya, sangat jelas kemudian menutup matanya. Airmatanya meleleh. Pria itu melepaskan pegangannya yang kasar pada wajah Yuna.

“Saat aku memekik kesakitan di pasar sore itu, tak seorangpun menolongku, aku hampir mati. Tiga orang yang menyerangku, semuanya sedang mabuk, hanya dua yang membawa belati. Bayangkan bagaimana seorang anak berumur 14 tahun diperlakukan seperti itu namun tak seorangpun yang ada disana berani menolongnya. Sekeras apapun ia memekik, merintih kesakitan, menangis, tetap tidak menggerakkan hati orang-orang yang melihat kejadian itu. Entah memang tidak ada yang berani ataukah manusia-manusia itu memang tidak berhati sehingga anak berumur 14 tahun itu diabaikan begitu saja. Luka itu akan selalu diingatnya. Rasa sakit yang sungguh teramat perih membuatnya ingin menghancurkan semua orang.”

Menceritakan hal yang menyakitkan sangatlah menyakitkan pula. Meski hanya cerita yang disampaikan, rasa sakit yang masih melekat seakan kembali nyata. Matanya yang cekung memerlihatkan kebencian yang luar biasa pada dunia ini. “Hidup tanpa hati akan membuat dunia ini sesak dengan sampah-sampah bergerak.”

Airmata Yuna mengalir dengan sangat deras. Setiap kalimat yang pria itu ucapkan seperti bisa ia rasakan. Bagaimana sakitnya seakan wajahnya sendiri yang dikoyak dan bagaimana kebenciannya terhadap keadaan menguasai dirinya.
“Sudah cukup... polisi sudah tahu. Ini tidak akan menyelesaikan apapun,” Yuna berkata ditengah derai air matanya.

“Masih ada satu lagi,” pria itu kini bersuara licik penuh kekejian. “Satu tempat lagi.”

Pria itu memasang kembali topengnya kemudian mengeluarkan sebilah belati dari saku celananya. Pisau itu ia gosok-gosokkan pada telapak tangan kirinya kemudian mengacungkannya sambil tersenyum. Senyum yang lebih terlihat menyedihkan kali ini.

“Yuna,” Duge yang baru tiba mengatur nafasnya yang berantakan. Melihat tersangka membawa senjata dan begitu dekat dengan Yuna membuat Duge harus lebih berhati-hati lagi dalam bertindak.
Ari menyerang Duge lebih dahulu. Duel terjadi diantara keduanya. Belati Ari terjatuh namun bukan berarti ia bisa dengan mudah dikalahkan setelah itu. Nampaknya Ari merupakan lawan yang cukup tangguh bagi Duge. Duge mulai kewalahan namun tidak menyerah. Duge berhasil melemparkan bogeman panasnya hingga membuat Ari terpental. Situasi sangat tidak menguntungkan setelah itu karena Ari terpental dekat dengan belatinya. Ari meraih belatinya dan kembali menyerang. Duge telah berusaha menghindar, namun gerakannya tidak cukup gesit dibanding kecepatan kaki Ari sehingga lengannya tersayat. Belum cukup, Ari hendak menyerang lagi. Untungnya serangannya ia urungkan karena mendengar suara sirene mobil polisi yang semakin mendekat. Ari memutuskan untuk melarikan diri dan membiarkan saja Duge dan Yuna.

“Kak, kakak baik-baik saja ? bagaimana keadaan kakak ? apa ini sangat menyakitkan ? sungguh sakitkah ?” Yuna sangat khawatir sampai-sampai matanya berair. Ia menahan darah yang terus keluar dari lengan Duge. Lukanya cukup dalam sehingga darahnya tidak mau berhenti. Yuna masih begitu panik. Ia celingukan kesana kemari untuk mencari pertolongan. Ada kesenangan tersendiri mengetahui Yuna begitu mencemaskannya. Duge memegang tangan yang masih belum lepas dari lengannya yang terluka.

“Aku tidak apa-apa,” katanya lembut. Mata mereka bertemu. Yuna tertunduk dan melepaskan tanggannya. Duge tersenyum kemudian mengusap-usap kepala Yuna. “Kamu sangat menghawatirkanku ?” Duge bertanya dalam.

Yuna mengahapus airmatanya dan tidak mengatakan apapun. Teman-teman petugas datang dan segera mengobati luka di lengan Duge.

Duge melangkah mendekat setelah perban selesai dipasang ditangannya. Yuna baru saja melaporkan apa yang dialaminya pada Komandan Rudi. Tentang bagaimana keadaan tersangka, bagaimana situasinya dan Yuna juga menceritakan bagaimana ia bisa sampai mengejar Ari yang kabur dari rumahnya saat polisi datang.

Yuna yang baru tiba di parkiran, tiba-tiba saja mendengar seperti seseorang yang jatuh di samping. Yuna juga melihat beberapa mobil polisi telah terparkir rapi yang artinya ia telah keduluan. Yuna kemudian tertarik ingin mengetahui suara apa yang ia dengar. Ternyata itu adalah orang yang diincarnya. Orang itu berusaha melarikan diri. Yuna yang melihatnya berinisiatif untuk langsung mengejar. Ketika menjawab telepon dari Duge, Yuna kehilangan jejak dan tahu-tahu orang itu sudah berada dibekangnya.

“Bagaimana keadaan Kakak ?” Yuna bertanya ketika Komandan Rudi meninggalkan mereka.

“Sudah lebih baik,” Duge memerlihatkan bagaimana lukanya telah diperban. “Yuna...” Duge berdiri mensejajari Yuna sambil bersandar di bamper mobil patroli yang terparkir di tempat itu. “apa tadi kamu begitu menghawatirkanku ? apa melihatku terluka perasaanmu berubah kacau sehingga begitu paniknya ?” Duge menanyakan pertanyaan itu lagi. Yuna lagi-lagi terdiam. Ia tidak tahu bagaimana harus menjawab. Benar iya khawatir, benar ia panik, benar ia begitu ketakutan melihat Duge terluka. Tapi apa lagi ? Yuna masih tidak mengerti bagaimana perasaannya. Bagaimana harus menjawab, dan bagaimana ia harus menjelaskan situasinya.

“Aku selalu bisa mengendalikan diriku saat bekerja karena aku ingin membuatmu merasa nyaman, iyakan ?” Duge menambahkan lagi karena Yuna hanya diam saja tertunduk. “Aku telah menghadapi berbagai kasus kejahatan. Tapi hari ini... begitu tahu tiba-tiba kau menghilang muncul begitu banyak ketakutan dalam benakku. Begitu takutnya hingga aku tidak mampu berpikir lagi. Yang ada hanya ingin melihatmu secepatnya dalam keadaan baik-baik saja.”

Mendengar kalimat pengakuan Duge yang begitu manis, terasa sangat tulus menyentuh hati hingga dinding pertahanan Yuna tak mampu lagi berdiri tegak melindungi perasaannya yang meluluh. Yuna terdiam sesaat, ia harus mengakhiri situasi ini jika tidak ingin semakin termakan oleh perasaan, Yuna kemudian tersenyum.

“Jangan khawatir. Aku memiliki pelindung yang Maha baik. Allah tidak akan pernah meninggalkan kita. Segenting apapun situasi kita,” ucap Yuna ceria. “Ayo kembali.” Yuna beranjak lebih dulu. Baru beberapa langkah meninggalkan Duge, Yuna berbalik.
“Eh,” ada yang lupa Yuna tanyakan. “darimana Kakak tahu aku disini ?”

Duge tidak langsung menjawab. Ia memberi isyarat bahwa itu berasal dari jam pemberiannya yang Yuna pakai. Yuna mengerutkan keningnya tidak mengerti apa hubungannya jam dengan tempatnya berada.

“Apa di jam ini terpasang GPS ?” Yuna menduga-duga. Duge mengangguk mengiyakan. Yuna terkejut tidak percaya. Ia melepas jamnya, membolak-balik dan memerhatikannya dengan saksama. “Apaa... jam ini juga dipasangi alat penyadap ?” Yuna bertanya sambil melemparkan pandangan sinis ke arah Duge. Duge tertawa geli mendengar pertanyaan Yuna. Tidak menyangka kalau Yuna akan berpikir sampai sejauh itu.

“Hei, kalau sampai yang seperti itu namanya melanggar privasi orang lain, melanggar hukum. Mana mungkin,” jelas Duge masih dibubuhi tawa kecilnya.

“Akukan hanya bertanya,” celetuk Yuna.

Setelah mendapat pengobatan pada lengannya Duge dan Yuna kembali ke tempat tinggal Ari Adrian.

Polisi telah mengeledah rumah Ari dan menemukan bukti-bukti yang dibutuhkan bahwa memang Arilah pelaku pengeboman beberapa kali akhir-akhir ini. Didapati sebuah bukti baru juga bahwa Ari Adrian pernah ikut bertanggung jawab sebagai penyuplai bom pada kasus-kasus beberapa tahun lalu. Salah satunya adalah kasus bom buku. Ruang kerjanya sangat berantakan. Seperti pengakuan seorang pembantu yang dipanggil setiap beberapa hari sekali untuk bersih-bersih, ruang kerja itu adalah larangan paling keras untuk tidak disentuh. Ari Adrian sangat pendiam dan tidak pernah berinteraksi dengan para tetangga. Ari Adrian introfert, tidak pernah menyapa atau tersenyum ramah saat bertemu dengan tetangganya. Tidak banyak keterangan yang bisa disebutkan selain tentang bagaimana Ari Adrian bersikap.

“Yuna,” panggil Duge. Wajahnya terlihat pucat seperti telah melihat hantu saja. Yuna bersama Afifa di parkiran. Duge mendekat perlahan.

“Ada apa ?” Yuna yang penasaran bertanya. Duge tak kunjung mengatakan apa yang terjadi. Bingung memilih kata dan tidak tahu darimana harus memulai. Bagaimana Duge bersikap kali ini membuatnya benar-benar merasa aneh, penasaran, dan mulai khawatir. Tidak biasanya sikapnya berubah seperti itu.

“Kenapa kak, ada sesuatu yang buruk ?” Afifa yang tidak sabaran ikut bertanya.
Duge tetap tidak mengatakan apapun. Ia hanya menunjukkan apa yang didapatnya di ruang kerja Ari Adrian. Sebuah komik berukuran 15 cm, dengan ketebalan 300 halaman. Di cover terdepan tertulis judul yang dicetak dengan huruf kapital berwarna merah. IBLIS. Backgrounnya berwarna abu-abu, sehingga gambar-gambar pepohonan besar disepanjang jalan terlihat samar-samar. Menggambarkan suasana malam yang mencekam. Diujung paling bawah tertulis nama percetakan dan komikusnya Noe Minazuki. Reaksi bagaimana Yuna melihat benda itu sama dengan saat Duge bereaksi. Tiba-tiba saja nafas Yuna tersenggal, perlahan wajahnya berubah pucat. Ia seperti tak lagi berpijak di tanah.

“Komik ? ada apa, ada apa dengan kalian berdua ?” Afifa tidak mengerti. Wajah kedua teman didepannya kini sama pucatnya. Afifa meraih komik yang ada di tangan Duge dan membolak-baliknya. Tidak ada yang aneh dengan komik itu. Sama saja seperti komik-komik pada umumnya. “Ada apa ? aku juga ingin tahu,” Afifa semakin dibuat penasaran dengan diamnya kedua orang didepannya.

Ponsel Afifa berdering. Panggilan masuk dari bos tempatnya bekerja. Afifa menunda menuntut penjelasan dan memilih menjawab telpon masuk dari bosnya lebih dulu. Setelah itu ia harus menelpon kampus untuk meminta izin dirinya dan Yuna karena tidak masuk. Afifa memberikan komik Iblis pada Yuna dan pergi untuk menjawab telepon.

“Apa ini sebuah kebetulan ?” Yuna bertanya datar. Tatapan matanya lurus ke jalan.

“Ini di temukan di rak buku tempat kerja Ari Adrian,” kata Duge akhirnya. Yuna tidak bereaksi apa-apa, masih menatap komik Iblis tidak habis pikir. Seperti di dua kehidupan yang berbeda yang telah Yuna jalani dari masa-masa putih abu-abu kemudian ke masa kuliahnya. Kini komik Iblis muncul lagi di depan matanya. Yuna membuka halaman pertamanya ragu-ragu. Tidak ada nama pemilik sekaligus tanggal dibelinya komik. Meski sama-sama komik Iblis, namun ini bukan komik yang sama, yang pernah terlibat pada masalah yang terjadi saat Yuna di Sekolah Menengah Atas.

“Garis besar dalam komik ini ada dua. Pertama orang memiliki bakat kegelapan dalam hatinyalah yang akan dikuasai iblis, disini kita sebut saja niat jahat. Kedua, orang yang bosan dengan hidupnya kemudian menjual jiwanya pada iblis.” Yuna dan Duge mengingat kembali pembahasan mereka mengenai komik Iblis saat masih berada dimasa putih abu-abu.

“Halte itu adalah tempat dimana ia duduk memelas kasih, berharap ada yang menolong Ibunya untuk dibawa ke rumah sakit. Ibunya sedang sakit keras namun tidak mudah menemukan orang yang tulus mau menolongnya. Pasar yang pertama kali di bom itu adalah tempat dimana ia mendapatkan luka diwajahnya. Beberapa orang pemabuk yang melakukan itu padanya.”

“Tiga orang,” Yuna menimpali. “Tiga orang yang menyerangnya semuanya sedang mabuk, namun hanya dua yang membawa belati. Itu yang dia katakan padaku.” Yuna teringat kembali dengan perkataan Ari Adrian padanya. ‘Entah memang tidak ada yang berani ataukah manusia-manusia itu memang tidak berhati sehingga anak berumur 14 tahun itu diabaikan begitu saja. Luka itu akan selalu diingatnya. Rasa sakit yang sungguh teramat perih membuatnya ingin menghancurkan semua orang’. Bagaimana nyatanya wajah Ari Adrian saat mengatakan kesesakannya juga nampak begitu jelas dalam ingatan Yuna. Termasuk bagaimana tatapan matanya yang tidak bisa Yuna lupakan. Tatapan mata penuh kebencian. Yuna menghela nafas, membayangkan bagaimana jika dirinya yang berada diposisi Ari.

“Pria yang malang. Tapi bagaimanapun juga kejahatan tetaplah kejahatan. Balas dendam dengan melakukan kejahatan tidak akan membuat siapapun menjadi lebih baik,” Duge juga menghela nafas. “Tentang markas Pamong praja yang juga termasuk dalam pengeboman belum ditemukan terkaitannya dengan kasus ini.”

“Keterkaitannya telah ditemukan,” Komandan Rudi menimpali. Ia memerlihatkan berkas hasil kerja dari anak buahnya yang baru saja sampai padanya. Duge menerimanya dan membolak-balik. Didalam kertas-kertas itu terdapat beberapa foto saat Ari Adrian turut di gelandang oleh petugas Pamong praja karena diduga pedagang kaki lima liar. Setelah hari itu, dua kali Ari Adrian terlihat joging melewati markas Pamong praja pada pagi hari. “Sepertinya tempramen orang itu sangat buruk,” tambah Komandan Rudi.

“Sepertinya orang itu memang bermasalah dengan emosinya,” Yuna berkomentar. “Saat berbicara padaku ia menggunakan beberapakali kata ‘tapi’. Ekspresi matanya juga berubah-ubah dengan cepat. Tatapan mata sedih, marah, tanpa daya, dendam, dan... kasihan. Orang itu mengasihaniku,” jelas Yuna mendeskripsikan seperti apa yang dilihatnya.

“Hei, kalian sudah bisa mengatakan padaku tentang komik itu ?” Afifa menagih.

“Eh,” Yuna tiba-tiba teringat sesuatu yang penting. “Masih ada satu tempat lagi. Dia bilang masih ada satu tempat lagi.”

Jika tempat-tempat umum terkait masalalunya yang dijadikan sasaran pengeboman, bisa jadi target ini juga sama. Pasar tempat ia dilukai, halte tempat ia memelas pertolongan agar membawa ibunya ke rumah sakit, berarti sasaran selanjutnya adalah rumah sakit. Rumah sakit tempat ibunya meninggal karena terlambat mendapat pertolongan. Namun bisa saja perkiraan itu meleset apabila ada sesuatu yang lain yang terjadi padanya akhir-akhir ini yang menyebabkan emosinya tersulut. Yang tidak termasuk dalam daftarnya seperti markas Pamong praja.

Beberapa hari ini pencarian terhadap Ari Adrian semakin gencar dilakukan. Penjagaan terhadap rumah sakit Sehat Bunda pun terus dilakukan. Kiriman-kiriman paket tidak jelas akan diperiksa lebih dulu guna keamanaan bersama. Polisi berlalulalang didepan rumah sakit tanpa seragam. Ada juga yang bersembunyi dalam mobil dan mengamati jalan, sisanya didalam menyamar menjadi perawat dan berjaga dibagian resepsionis.

Beberapa hari bergerak tanpa hasil Komandan Rudi dan semua yang bertanggung jawab dalam kasus, mengadakan rapat koreksi. Duge dan Yuna turut hadir didalamnya. Mereka me-review kasus-kasus yang telah terjadi kemudian mengurutkannya kembali. Barangkali saja ada hal yang terlewatkan.

“Bagaimana dengan Pak Hasan, bos Ari sewaktu dia melarikan diri dari panti ? apa sudah ada keterangan mengenai orang itu ?” Komandan Rudi bertanya.

“Pak Hasan dan istrinya baru saja pulang dari Aceh. Anggota yang lain sedang meminta kerjasamanya agar mau memberi keterangan,” lapor seorang petugas yang menggurusi bagian keluarga pak Hasan agar mau memberi keterangan.

Seorang petugas lagi datang melapor. Kali ini petugas wanita. Ia membawa sebuah dokumen yang merupakan laporan terbaru mengenai rumah sakit Sehat Bunda. Laporan medis mengenai pasien yang 15 tahun lalu pernah datang untuk mendapatkan pertolongan. Pasien yang ternyata adalah Ibu Ari Adrian. Menurut laporan, Bu Adrian meninggal dalam perjalanan sebelum sampai di rumah sakit. Itu artinya kemungkinan besar rumah sakit tidak ada dalam daftar sebagai tempat yang ditargetkan Ari Adrian untuk dihancurkan.

“Pantas saja selama beberapa hari kita tidak menemukan apapun ditempat itu,” komandan bergumam.

“Tunggu,” Duge yang tiba-tiba terpikirkan sesuatu berseru. “Bagaimana dengan Panti tempat Ari Adrian pernah tinggali ? Bukankah tidak banyak keterangan yang didapat dari tempat itu selain mereka mengatakan tentang karakter Ari Adrian yang buruk. Ari Adrian juga tidak tinggal lama ditempat itu.”

Komandan menyarankan untuk berpencar. Komandan Rudi menemui Pak Hasan, sementara Duge dan Yuna mengurus bagian panti. Komandan Rudi dan beberapa petugas yang lain pergi lebih dulu. Duge dan Yuna menyusul sesaat kemudian.  Sebelum meninggalkan ruangan, ponsel Yuna berdering. Sebuah panggilan dari nomor baru masuk. Yuna  tidak langsung mengangkatnya karena Duge memintanya buru-buru. Cukup lama pangilan didiamkan, akhirnya terputus.

Sampai di panti, Duge dan Yuna dikejutkan dengan hal yang tidak diinginkan.

“Saat itu Ari kami temukan tertidur didepan warung makan saya. Ia menggigil karena demamnya tinggi,” pak Hasan mulai menceritakan bagaimana keadaan Ari Adrian saat mereka menemukannya pertamakali. Sudah lebih dari sepuluh tahun ia dan keluarganya tidak lagi pernah berhubungan dengan Ari Adrian. Ari Adrian pergi tanpa menjelaskan apa yang ingin dilakukan dan kemana tujuannya. Ari Adrian sebenarnya anak yang baik, hanya saja terlalu pendiam dan tertutup. Pernah suatu kali Ari marah dan berkelahi dengan seorang anak tetangga yang usianya lebih tua dibanding Ari Adrian. Lawannya babak belur dengan luka disekujur tubuhnya. Itu adalah perkelahian pertama dan terakhir Ari sepengetahuan pak Hasan. Pak Hasan dan keluarganya menjadi bermasalah karena hal itu. Mereka harus memenuhi beberapa tuntutan dari keluarga lawan Ari. Untuk pertama kalinya juga istri pak Hasan memarahi dan menghukum Ari tidak makan malam.

“Keadaan lain Ari saat itu...” pak Hasan mengingat-ingat. Pak Hasan kurus, tinggi. Ia memiliki kumis yang tebal. Rambutnya dipotong pendek rapi. Ia mengenakan sarung dan duduk disamping istrinya yang terlihat lebih tua dari pak Hasan. Dilihat dari perangainya pak Hasan adalah orang yang tegas, sementara istrinya terlihat lebih pendiam tidak secerewet istri-istri kebanyakan.

“Itu,” Bu Hasan menimpali. Ia lebih dulu mengingat sesuatu dibanding suaminya. “Ada memar di kening dan dekat mulutnya.”

Suaminya mengiyakan. Tidak lama setelah itu, ada laporan yang memberitahu komandan Rudi bahwa Ari Adrian telah bergerak. Targetnya adalah panti. Komandan Rudi dan petugas yang lainnya segera bergegas ke Panti.

Tidak ada yang tahu bagaimana keadaan didalam panti. Pintu dan semua jendela ditutup. Polisi telah banyak berkumpul disekitar panti, menunggu aba-aba dan kesempatan untuk menyerang. Didalam panti Ari Adrian bersama para pengurus dan 15 anak. Beberapa anak yang lainnya berhasil dibawa keluar oleh pengurus sebelum Ari mengamuk dan menutup semua pintu keluar. Menurut seorang pengurus yang berhasil membawa beberapa anak keluar dari panti, ada 6 pengurus yang masih didalam, termasuk ketua dan 2 pengurus baru. Menurut apa yang diketahuinya, Ari Adrian datang dengan membawa sebuah bom ditasnya. Satu bom yang lain berhasil disusupkan di dalam panti yang entah dimana.
Komandan Rudi datang. Dengan menggunakan pengeras suara komandan Rudi memeringatkan dan memberi kesempatan kepada Ari Adrian untuk menyerah. Duge memerlihatkan denah panti yang didapatnya dari keterangan pengurus panti yang berhasil keluar bersama beberapa orang anak. Komandan Rudi dan Duge bersama memikirkan jalan untuk menyusupkan para anggota masuk kedalam panti. Sementara itu, Yuna sibuk sendiri menelpon seseorang.

“Bagaimana ?” Duge bertanya pada Yuna.

“Mba Dalili dalam perjalanan kemari,” jawab Yuna menjauhkan ponselnya saat ia menjawab pertanyaan Duge.

Yuna menceritakan bagaimana situasi yang akan Dalili hadapi nantinya. Yuna juga menceritakan tentang majalah-majalah langganan Ari Adrian didalam ruang kerjanya. Majalah-majalah itu semuanya memuat cerpen dan cerber karya Sang perindu melodi. Ari Adrian adalah penikmat karya tulis Sang perindu melodi yang sebenarnya adalah Dalili. Mendengarkan kalimat Yuna, semakin memantapkan niat Dalili untuk ikut melibatkan diri mengakhiri kebencian Ari Adrian. Inilah cara yang ia pilih untuk berterimakasih pada orang yang telah menyelamatkan hidupnya.

Setibanya di panti, Duge dan komandan Rudi segera memberi beberapa arahan mengenai apa yang harus Dalili lakukan. Dalili juga diberi beberapa perlengkapan. Alat yang bisa digunakan untuk tetap bisa berhubungan dengan pihak luar. Alat itu diletakkan berdampingan dengan alat bantu dengar Dalili. Selain itu, ada kamera kecil yang juga diselipkan diantara bajunya. Tidak lupa rompi anti peluru untuk berjaga-jaga. Sebenarnya Yuna tidak tega membiarkan Dalili pergi sendiri, namun bahkan Dalili sendiri tidak berpikir untuk menolaknya. Dalili merasa berhutang nyawa, jika ia membiarkan semua ini seolah-olah ia tidak tahu apa-apa, ia takut tidak akan mampu memikul beban perasaan bersalah yang harus ditanggungnya dikemudian hari.

Dalili menarik nafas dan mengucap basmalah kemudian mendekat ke arah panti. Semua yang disampaikan Komandan Rudi, Duge, dan Yuna tersimpan rapi di otaknya. Utamakan keselamatan dan jangan menyulut emosi Ari Adrian. Emosi Ari masih dapat dikendalikan sampai saat ini. Dalili harus menggunakan itu untuk bisa mengeluarkan seluruh sandera.

Semua berjalan sesusai rencana sampai pintu terbuka dan Dalili diterima masuk. Kini, untuk pertama kalinya Dalili dan Ari Adrian bertemu disituasi yang sangat tidak menguntungkan.

“Kamu mengenalku ?” Dalili mulai berkat lembut.

“Tentu saja. Kamu adalah penulis idolaku,” Ari menjawab dengan nada sedikit tersendat.

“Kalau begitu bisa aku minta untuk hentikan ini ?” Dalili berkata dengan hati-hati. Ari Adrian diam tidak langsung memberi jawaban.

“Apa polisi-polisi itu yang menyuruhmu ?”

“Ini demi kebaikanmu,” Dalili memberi nasihat. “Lihat anak-anak itu, mereka ketakutan.” Dalili mencoba memancing rasa kasihan Ari agar semua sandera mau ia lepaskan, terlebih anak-anak kecil. Dalili mengikuti semua prosedur sesuai apa yang komandan Rudi komandokan. Agaknya Dalili berhasil, karena tatapan Ari yang tajam dan keras, melunak melihat bagaimana ekspresi anak-anak di pojok ruangan meringkuk.

Ari Adrian mengumpulkan semua diruang tengah atau lebih tepatnya tempat bermain. Ruangan itu lapang dan luas. Anak-anak dikumpulkan dipojok ruangan dekat meja-meja panjang ditumpuk. Ada satu pengurus yang mencoba menenagkan mereka. Lima belas anak duduk meringkuk berdempet-dempetan satu sama lain. Beberapa diantaranya menangis dan yang lainnya telah berhasil ditenangkan. Pengurus yang bersama anak-anak itu lebih muda dari yang lainnya, berumur 21 tahun. Sifatnya penyabar dan penyayang membuat banyak anak-anak lengket dengannya. Ari masih terus menatap anak-anak itu. Beberapa saat ia terlihat tenang, pikiran dan perasaannya tengah sibuk menimbang-nimbang.

“Seperti itu,” kata Ari datar. “Dulu aku seperti itu namun tak satupun pengurus yang memedulikaku !!” tambahnya kini memekik. Tatapan matanya yang semula melunak kini kembali tajam berang. Ari menatap pak Hari yang adalah pemilik panti. Tatapan kebencian terlihat jelas dimata Ari.

“Berhentilah, ini hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Biarkan anak-anak itu pergi, mereka tidak ada hubungannya dengan semua ini,” Dalili meminta nyaris memelas.

“Jangan lakukan itu,” kali ini Ari yang meminta pada Dalili. Ia sangat mengagumi Dalili dan akan sangat merasa bersalah jika memerlakukannya dengan buruk. Tatapan Dalili yang memelas sedih sangat mengganggu perasaannya. “Dia, dan dia, mereka bukan orang-orang yang sepenuhnya tulus,” Ari menunjuk Pak Hari dan Bu Rus. “Mereka melindungi sifat serakah mereka dengan mengatas namakan panti.”

Ingatan Ari tentang hari dimana ia diperlakukan tidak adil teringat jelas dalam benaknya. Ari adalah anak yang sangat pendiam, ditambah lagi dengan luka pada wajahnya membuat ia dibully teman-teman di panti. Hanya beberapa yang baik dan mau dekat dengannya. Karena tidak bergaul dengan baik itulah kepala panti tidak memerlakukan Ari dengan baik. Banyak sekali batasan yang diberikan padanya. Pernah suatu kali ia berkelahi karena membeladiri namun akhirnya ia yang dipersalahkan. Ari dipukul dan dihukum dengan keras. Ari Adrian benar-benar ingin memiliki sebuah keluarga, ingin diperlakukan manis seperti anak sendiri seperti yang Bu Rus lakukan pada anak-anak lainnya, tapi Bu Rus terlihat begitu mementingkan materi dan pilih kasih.

“Maaf,” Dalili menjatuhkan lututnya dan menundukkan kepalanya. Ari dan 6 pengurus terbelalak melihat tingkah Dalili. Tapi Dalili tetap mengucapkan kata maaf sebanyak tiga kali. Ia berharap dengan ini emosi Ari bisa reda seutuhnya dan mengakhiri semua.

“Berdiri,” ucap Ari datar. Dalili tetap tidak berdiri dan mengankat kepala, ia malah terus mengucapkan maaf. “Berdiri kataku !!!” Ari memekik berang. “Kenapa ? kamu tidak bersalah apapun padaku kenapa harus meminta maaf ? mereka yang melakukan itu padaku, dunia ini yang tidak adil karena tidak mengutus satupun orang baik untuk menguatkanku yang hidup diantara orang-orang menjijikan.”

“Karena itukah kamu juga memilih untuk menjadi orang yang menjijikan sepertiku ?” pak Hari menimpali.

“DIAM !!!” teriak Ari Adrian memenuhi ruangan membuat anak-anak ketakutan. “Manusia menjijikan itu lahir karena adanya manusia menjijikan lainnya. Dunia ini harus dibersihkan dengan begitu tidak akan ada lagi bibit-bibit buruk dari manusia menjijikan.”

“Tidak begitu,” Yuna berbicara dari luar yang diikuti oleh Dalili setelah mendengarnya. “Bagaimana kehidupan ini dijalani kita sendirilah yang memilihnya. Kamu tidak benar-benar sendiri. Ingat Pak Hasan dan istrinya ? mereka orang baik yang mau menerimamu meski mereka sendiri tengah kesulitan ekonomi. Teman-temanmu di panti. Coba ingat lagi, tidak mungkin mereka semua memusuhimu, iyakan ? mereka semua adalah orang-orang baik yang diutus untuk melindungi dan menjadi temanmu. Siapapun boleh menjadi hama, tapi terinfeksi atau tidak, kita yang memutuskannya.”

Ari terdiam seolah merenungkan kata-kata yang didengarnya. Sesaat kemudian Pak Hari menunduk meminta maaf, disusul Bu Rus dan para pengurus yang lainnya. Meski beberapa diantara mereka tidak tahu-menahu tentang apa yang terjadi, mereka turut meminta maaf atas apa yang telah menimpa Ari. Menjadi perwakilan untuk orang-orang lain yang tidak memedulikannya saat itu. Hening, hanya sesegukan anak-anak yang terdengar. Ari tersenyum sinis.

“Kalian sangat pandai berkata-kata manis untuk menipu perasaanku, INI TIDAK ADIL !!!” –Dor, Ari menarik pistolnya dan menembak kearah Pak Hari. Lengah bagian atas Pak Hari robek oleh timah panas. Pak Hari menjerit kesakitan.

Keadaan mulai kacau, begitu juga dengan keadaan diluar. Mereka sama sekali tidak memerkirakan bahwa Ari Adrian memiliki senjata yang ternyata ia sembunyikan dibalik jaketnya. Tidak ada informasi apapun yang mengatakan bahwa Ari Adrian memiliki senjata yang ia bawa selain bom. Seorang petugas melapor pada Komandan Rudi bahwa pasukannya telah berhasil menyusup masuk dan tengah bersiap-siap. Komandan Rudi hanya berpesan agar mereka berhati-hati dan lebih mengutamakan keselamatan sandera.

“Kamu juga telah menipuku,” Ari mengarahkan pistolnya pada Dalili. “Bagus sekali peranmu untuk memengaruhiku. Polisi-polisi yang mengutusmu pasti bangga dengan hasil yang telah kamu sampai pada tahap ini.”

Dalili melepas alat bantu dengarnya bersamaan dengan alat yang bisa membuatnya terhubung dengan komandan Rudi, Dalili juga melepas kamera kecil yang diselipkan di bajunya. Dalili melempar benda-benda itu menjauh darinya. Juga rompi anti peluru. Kini suara kacau karena tangisan anak-anak tak lagi terdengar olehnya. Semua hening. Yang ada hanya tatapan marah, ketakutan, keheranan, dan tidak percaya. Semua itu nampak bagai nada dimata Dalili.

“Kau pernah menyelamatkanku dan aku berhutang nyawa padamu. Biar bagaimanapun caranya aku tidak mungkin bisa menebus semua itu,” Dalili meneteskan air matanya. Berhutang nyawa dan memihak pada kebenaran. Bagaimana ia harus memosisikan diri saat berhadapan dengan orang yang telah menyelamatkan nyawanya namun disisi lain tindak kejahatan tetaplah kejahatan. Itulah sebabnya Dalili langsung berpikir untuk bekerjasama dengan Yuna dan kepolisian. Hanya dengan cara ini ia bisa bertemu langsung dengan Ari Adrian. Berterimakasih pada orang yang telah menyelamatkan nyawanya. Dalili menundukkan kepalanya. “Menemukan pembaca setia sepertimu adalah hal yang menyedihkan buatku. Dengan semua hal yang telah aku tuangkan dalam tulisanku dengan segenap rasa, tetap tidak mampu menyentuh sisi tergelap dalam dari dirimu.” Air mata Dalili mengalir semakin deras.

“Seandainya... jika saja kau datang lebih cepat, mungkin kegelapan itu tidak akan sampai membakarku seperti ini,” Ari Adrian menitikkan air matanya. Semua hal yang dilalui tidaklah mudah. Memilih jalan inipun tidak mudah untuknya. Membuang perasaannya sendiri dan hanya menghadirkan amarah justru membuatnya tersiksa. Tapi dengan jalan ini ia bisa membakar sebagian dari masalalunya yang sangat menyakitkan. Membuat orang lain melihat dirinya yang penuh luka dan berusaha sembuh dengan cara yang keras.
Ari Adrian menurunkan pistol yang ia todongkan kearah Dalili. Tepat disaat itu sebuah peluru membidik tangannya. Sebuah tembakan yang mengunakan slincier untuk meredam suara. Pengurus panti yang bertugas menenangkan anak-anak dan menyuruh anak-anak agar tetap menutup mata mereka. Pistol yang Ari pegang terlepas dari tangannya dan terpental. Tanpa diduga ternyata pasukan penyelamat para sandera telah masuk dan menyerang. Ari sigap hendak mengambil pistolnya namun satu tembakan lagi menyerang kakinya hingga akhirnya ia terjatuh. Ari belum berhenti, ia masih tidak juga menyerah. Meski polisi telah mengingatkan untuk tidak bergerak, Ari tetap saja bergeser hendak mengambil pistolnya. Meski tangan dan kakinya diserang rasa sakit yang luar biasa, Ari Adrian tetap tidak mau menyerah juga. Kali ini sebuah bidikan diarahkan lagi padanya, namun belum sampai menembak, Dalili berdiri sebagai tembok menghalangi.

“Jangan... Hentikan,” kata dibarengi deraian airmata.

Ari Adrian akhirnya berhenti juga. Jika ia memaksa tetap bergerak bisa saja kali ini peluru mengenai Dalili. Kali ini ia benar-benar luluh dengan sikap Dalili. Ketulusannya dan keteguhan hatinya.

Setelah meringkus Ari, Ari dibawa kerumah sakit lebih dulu untuk mendapat pengobatan tangan dan kakinya yang terkena tembak. Tim gegana masuk dan menjinakkan 2 bom yang Ari Adrian sembunyikan di bagian sisi panti. Semua bisa bernafas lega kini. Pelaku telah tertangkap dan tidak ada lagi korban berjatuhan. Meski begitu bukan berarti tidak akan pernah terjadi lagi hal serupa. Semua memiliki kemungkinan. Siapapun yang tidak bisa mengendalikan dirinya akan menjadi korban paling empuk oleh kejahatan emosional para penghuni bumi. Kejahatan emosional itulah yang pada akhirnya akan mengembangbiakkan kejahatan fisik yang nyata. Siapa yang tidak tahu mencuri adalah hal yang buruk, tapi tetap dilakukan untuk memenuhi perut-perut yang kelaparan. Siapa yang tidak tahu membunuh juga hal yang buruk, tapi tetap ada saja ada yang melakukannya dengan bermacam-macam alasan yang diumbar. Di Negara semaju atau sebesar apapun pelaku kejahatan tidak akan pernah bisa dihilangkan seutuhnya. Paling banter hanya bisa ditekan tingkat perkembangannya. Dengan cara meningkatan taraf hidup masyarakatnya dan pemberian hukuman berat pada pelakunya. Tapi tetap tidak akan musnah sepenuhnya dari muka bumi. Inti dari semua itu adalah pengendalian diri, jika tidak mampu mengendalikan diri, iman seharusnya bisa menjadi pilihan terakhir, rem dari segala tindak tanduk kejahatan.
¤¤------------¤¤------------¤¤-------------¤¤-----------¤¤------------¤¤

--Bersambung--

Tidak ada komentar: