Keluar dari kantor
masalah belum berhenti menimpa Widia dan 4 temannya yang lain. Di mading ada
yang menarik semua orang di sekolah, tidak terkecuali para guru dan kepsek.
Dona segera menggiring kelima-limanya untuk melihat hal menarik yang ada di
mading. Di mading, foto secret di tempat gelap yang diambil dari sebuah surat
kabar dipajang. Foto secret diperbandingkan dengan Foto Widia dan yang lainnya.
Yang menarik adalah dari susunan, gaya, dan tinggi masing-masing sama. Dibawah
kedua foto yang diperbandingkan tertulis beberapa kalimat. Kalimat yang menepis
pendapat banyak orang bahwa secret adalah sekumpulan pemuda cerdas. Yang
sebenarnya salah satu dari secret adalah perempuan dan yang menjabat dalam
posisi itu tentu saja Widia. Karena penampilannya yang suka mengenakan seragam
laki-laki yang menimbulkan rumor bahwa secret beranggotakan 5 orang laki-laki.
Bisik-isik tidak sedap mulai bermunculan satu persatu.
"Bukannya memiliki
organisasi seperti itu dilarang keras di sekolah kita,"Audy berkomentar.
Audy sama sekali tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dimading.
"Iya," Vitre
yang baru datang menimpali. " Bisa dianggap scandal dan akan dikeluarkan
dari sekolah jika terbukti benar."
"Kata-katamu itu
terlalu menunjukkan bahwa kamu percaya bahwa mereka adalah secret," Dona
beranggapan. Dona merasa ada hal yang disembunyikan Vitre.
"Oh iya, aku hanya
mengingatkan," jawab Vitre.
Tidak lama kemudian
Widia dan yang lainnya masuk kantor lagi. Mereka diminta mengkonfirmasi tentang
isu-isu bahwa bahwa mereka adalah secret. Kelimanya mengelak. Untuk saat ini
Kepsek menerima keterangan mereka sampai pengusutan selesai. Untuk
berjaga-jaga, Widia diminta mengubah penampilannya agar isu-isu tentang secret
tidak semakin luas beredar. Kelimanya diizinkan kembali ke kelas dan mengikuti
pelajaran selanjutnya. Dalam perjalanan menuju kelas, Egi teringat tentang
sesuatu dibalik buku catatan Audy yang tisak sengaja dilihatnya.
'Mulai menjaga jarak dan
tetap waspada'.
Widia menyebar sms kepada teman-temannya.
Widia menyebar sms kepada teman-temannya.
Dafan yang berada
dikelasnya menghela nafas. Guru bidang study menjelaskan di depan kelas tapi
pandangannya justru keluar jendela. Memikirkan kemungkinan Audy adalah orang
yang menikam mereka dari belakang sangatlah mengecewakan. Keempat temanya yang
lainya pun berpikiran sama. Mereka sudah sangat nyaman dekat dengan Audy.
Memikirkan Audy yang manis berubah menjadi begitu licik tidak ada yang bisa
menerimanya.
"Sayang sekali,
padahal aku sudah mulai menyukainya,"Windy berkata entah pada siapa. Ia
duduk di kursi kemudian menaikkan kakinya di meja, tepat didepan wajah Widia.
Widia yang tidak terima menurunkan dengan paksa kaki Windy.
Mereka sekarang berada di cafe. Cafe belum dibuka karena mereka harus rapat mendadak terlebih dahulu.
Mereka sekarang berada di cafe. Cafe belum dibuka karena mereka harus rapat mendadak terlebih dahulu.
"Apa, jadi kamu
juga ?" Egi menimpali.
"Apa maksudmu kamu
juga ?" sengit Windy.
"Sudah-sudah,"
Widia segera mwnghentikan. Padahal ini bukan waktu yang tepat untuk
mempermasalhkan hal itu. Ada hal yang harus mereka utamakan agar identitas
secret tetap aman.
"Seandainya bukan
dia yang tertidur di pojok cafe saat itu, apa jadinya tetap akan seberat ini
?" Dafan yang bertopang dagu bertanya. Pikiran kembali ke sore saat mereka
mendapati Audy tertidur di cafe.
"Kata orang sih
pertemuan pertama yang mengesankan akan terus berhubungan kepertemuan
selanjutnya," Windy ikut-ikutan bertopang dagu.
"Jadi, apa yang
harus kita lakukan ?" Satria kembali kepermasalah awal yang harus mereka
pecahkan.
"Tetap selidiki,
berpikir kalau Audy pelakunya sangat tidak bisa diterima," Widia memberikan
kan jawaban dan rapat ditutup.
Berita tentang secret
tidak berhenti sampai difoto. Gosip-gosip lain mulai beredar. Entah siapa yang
lebih dulu mendengarnya, tapi langsung saja gosip itu merajai sekolah.
Gosip-gosip tidak benar mengenai alasan secret masuk ke sekolah mereka. Dalam
gosip-gosip itu menyiratkan niat jahat secret terhadap sekolah mereka. Audy
merasakan perubahan sikap kelima orang itu padanya. Mereka menjaga jarak. Audy
sama sekali tidak mengerti apa salahnya sehingga mendapat perlakuan itu.
Ketidak akraban yang terjadi antara Audy dan kelima idola sekolah terlihat
kacamata T2 dkk. Mereka menganggap masa jaya Audy telah habis dan akan
memanfaatkan situasi bagus ini untuk menarik kelima idola sekolah kearah
mereka.
"Mungkin mereka
bersikap baik dan ramah diawal hanya sebagai topeng. Nah sekarang saat
popularitas mereka turun sifat asli mereka terlihat," kata Vitre berusaha
menghibur Audy.
Audy tidak menanggapi apapun. Ia hanya berpikir mungkin saja apa yang dikatakan Vitre itu benar. Jika begitu Audy tidak perlu bersedih karena kehilangan beberapa teman.
Audy tidak menanggapi apapun. Ia hanya berpikir mungkin saja apa yang dikatakan Vitre itu benar. Jika begitu Audy tidak perlu bersedih karena kehilangan beberapa teman.
"Kalian sedang
membicarakanku ya," seseorang menyahut dari belakang.
"Aan," seru
Audy dan Vitre bersamaan. Mereka tidak percaya melihat Aan kembali mengenakan
seragam putih abu-bu.
"Kenapa kalian
begitu terpesonanya melihat penampilanku," kata Aan dengan penuh percaya
dirinya. "Sekarang katakan padaku apa yang kalian ceritakan tadi,"
tambahnya. Tangan Aan merangkul Audy dan Vitre.
"Lepaskan
tanganmu," kata Vitre sambil menonjok Aan.
Aan, Audy dan Vitre sudah berteman sejak mereka
kecil. Aan lebih tua 2 tahun. Sebenarnya Aan sedang melanjutkan studynya di
Paris, entah apa yang membawanya pulang saat ini. Katon sebenarnya bukan dari
kecil tidak menyukai Aan, tapi baru di saat Audy tertimpa kecelakaan karena
ulah nakal Aan.
"Iya, iya waktu itu
Aan disengat lebah karena usil. Wajahnya bengkak sebelah. Sekitar seminggu dia
sembunyi di kamar karena malu," Audy cekikikan mengingat bagaimana wajah
Aan saat itu.
Ketiganya bercerita banyak. Mereka bernostalgia tentang masa kecil yang menyenangkan. Berada diantara Vitre dan Aan membuat Audy merasa lebih baik. Mereka tidak henti-hentinya tertawa. Aan tipe yang humoris dan menyenangkan. Seharian bersamanya tidak akan bosan.
Ketiganya bercerita banyak. Mereka bernostalgia tentang masa kecil yang menyenangkan. Berada diantara Vitre dan Aan membuat Audy merasa lebih baik. Mereka tidak henti-hentinya tertawa. Aan tipe yang humoris dan menyenangkan. Seharian bersamanya tidak akan bosan.
Mereka masih seru-seruan
bercerita saat Bu Rona datang dan berkaca pinggang. Melihat Bu Rona Audy dan
Vitre segera menjaga jarak dengan Aan. Audy dan Vitre hanya cengar-cengir
mendengarkan Aan yang masih asyik bercerita.
"Ehem," Bu
Rona berdehem. Aan terkejut melihat seorang seorang guru berdiri di belakangnya
entah sejak kapan. Aan tersenyum dan mulai bertingkah sok akrab.
"Siswa baru ya,
dari kelas mana ?" Bu Rona bertanya.
"Saya... satu kelas
dengan mereka," Aan mengedipkan mata kearah Audy dan Vitre mencari
pendukung.
"Apa itu benar
?"
Tidak sesuai dengan harapan, Audy dan Vitre serempak menggeleng bersamaan.
Tidak sesuai dengan harapan, Audy dan Vitre serempak menggeleng bersamaan.
"Ka... kalian
penghianat," sunggut Aan. Bu Rona menarik telinga Aan menjauh dari kantin
untuk dihakimi.
Sebenarnya orang yang
melaporkan hal ini pada Bu Rona adalah T2 dkk. Ujung-ujungnya Audy dan Vitre
kena imbasnya juga. Mereka dianggap menyelundupkan orang luar ke sekolah oleh
karena itulah mereka di hukum membersihkan green house sekolah. Kali ini usaha
T2 dkk berhasil.
"Wah kalian
benar-enar cocok menekuni profesi ini," Tyas memulai.
"Profesi rendahan
untuk para bawahan," Tyas menimpali sementra dua temannya yang lain
tertawa dengan suara yang dikeras-keraskan.
Audy dan Vitre tidak menanggapi. Mereka tetap fokus membersihkan tanaman-tanaman pengganggu. Keduanya menutup telinga dengan berpura-pura tidak menyadari kehadiran para penggangu. Bagi T2 dkk, menjadi yang tidak dianggap tidak lantas membuat mereka segera pergi. Keempatnya justru labih parah lagi. Mereka mengacau dan menggangu pekerjaan Audy dan Vitre. Hal seperti ini tidak bisa dibiarkan. Audy dan Vitre memungut sesuatu dari pot tanaman.
Audy dan Vitre tidak menanggapi. Mereka tetap fokus membersihkan tanaman-tanaman pengganggu. Keduanya menutup telinga dengan berpura-pura tidak menyadari kehadiran para penggangu. Bagi T2 dkk, menjadi yang tidak dianggap tidak lantas membuat mereka segera pergi. Keempatnya justru labih parah lagi. Mereka mengacau dan menggangu pekerjaan Audy dan Vitre. Hal seperti ini tidak bisa dibiarkan. Audy dan Vitre memungut sesuatu dari pot tanaman.
"Mau apa kalian
?" Tyas bertanya waspada melihat Audy dan Vitre berdiri di depan mereka
layaknya orang yang akan mengangkat senjata untuk berperang. Audy dan Vitre
menyeringai bersamaan kemudian melemparkan cacing-cacing yang mereka ambil
kearah T2 dkk. Sepontan tempat itu berubah begitu berisik oleh
teriakan-teriakan T2 dkk. Mereka melompat-lompat geli dan jijik.
"Mau lagi ?"
Vitre berbaik hati menawarkan.
Keempatnya pergi namun tidak berhenti mengumpat. Audy dan Vitre tertawa senang. Mereka tos, puas melihat wajah-wajah musuh yang sukses mereka kerjai.
Keempatnya pergi namun tidak berhenti mengumpat. Audy dan Vitre tertawa senang. Mereka tos, puas melihat wajah-wajah musuh yang sukses mereka kerjai.
Suatu sore Audy dan Dona
jalan-jalan. Mereka bertemu dengan Riki yang berjalan dengan menggunakan
tongkat. Setelah pertandingan yang terakhir, sikap Riki berubah lebih baik.
Mereka bertiga berbicara membahas kaki Riki yang digips. Luka itu ternyata
terjadi saat dipertandingan terakhir waktu itu, saat Ia berencana mencelakai
Audy tapi justru ia sendiri yang terluka.
"Maafkan aku,"
Audy merasa bersalah.
"Jangan khawatir,
aku baik-baik saja. Memang sakit tapi akukan laki-laki sakit sedikit sudah
biasa," Riki berusaha terlihat baik-baik saja.
"Hahaha...
Laki-laki memang harus kuat, lihat saja dia kuatkan," Dona memukul-mukul
punggung Riki hingga tongkatnya jatuh.
"Lalu, bagaimana
dengan basketmu ?" Audy bertanya.
"Memang apa yang
bisa dilakukan pemain yang untuk berdiri tegak saja tidak bisa," jawab
Riki namun ia tetap memasang senyum.
Audy mengerti pasti Riki sangat sedih. Bagaimana tidak, bagi orang yang sangat menyukai bidangnya pasti akan kehilangan jika kebanggaannya selama ini dilepas tanpa sisa darinya. Bagi Riki basket bukan hanya kegemaran tapi sudah menjadi kesehariannya.
Audy mengerti pasti Riki sangat sedih. Bagaimana tidak, bagi orang yang sangat menyukai bidangnya pasti akan kehilangan jika kebanggaannya selama ini dilepas tanpa sisa darinya. Bagi Riki basket bukan hanya kegemaran tapi sudah menjadi kesehariannya.
"lukanya pasti
parah," Audy menduga-duga. Hening. Tiba-tiba Audy teringat saat tulang
tangan Kakaknya luka, Katon berobat disuatu tempat dan tidak sampai seminggu
tangan kanan Katon sudah baikan. Audy segera menghubungi kakaknya dan
memintanya datang. Barangkali orang yang mengobati Katon juga bisa membantu
menyembuhkan kaki Riki.
Tiga puluh menit
menunggu Katon datang. Audy mencitakan pada kakaknya tentang Riki, kemudian
Katon bertanya pa Riki tentang seberapa parah lukanya. Riki mengatakan semua
yang dikatakan dokter pada orangtuanya sedetail mungkin dengan harapan tinggi
Katon bisa memberikan jalan keluar.
"Bagaimana Kak
?" Audy bertanya memburu. Katon terdiam beberapa
saat.
"Insyaallah masih
bisa. Orang itu adalah Kakek Aan. Beliau ahli pengobatan tulang
alternatif," kata Katon akhirnya. Semua bernafas lega mendengarnya.
"Tapi..."
"Tapi kenapa
?" Riki bertanya.
"Kamu harus
persiapkan mentalmu," jawab Katon. "Jika kamu belum pernah merasakan
penderitaan antara hidup dan mati maka saat itu lah kamu akan
merasakannya."
"Apa ?"
"Rasa sakitnya luar
biasa menyiksa," Katon merubah karakter wajahnya menjadi angker. Riki
menjadi bergidik sendiri. Kata-kata Katon terdengar sangat nyata. Tapi Riki
adalah laki-laki dan kalimatnya tentang sakit sedikit tidak apa-apa tidak bisa
ia tarik lagi.
Audy sedang berada di
toilet. Ia sedang mencuci tangan dan merapikan rambut pendeknya yang
berantakan. Audy memainkan permen yang ada di mulutnya. Tiba-tiba mendengar
seseorang memanggil namanya padahal ia tahu ia seorang diri di toilet membuat
permen yang ada dimulutnya tertelan. Audy terbatuk-batuk berusaha memuntahkan
kembali permen itu. Widia, orang yang tadi memanggil namanya mendekat karena
khawatir. Widia menyalakan keran, ia tampung air keran dengan kedua tangannya
kemudian diminumkan pada Audy. Beberapa kali Widia mengulang hal yang sama
sampai ia yakin Audy sudah baik-aik saja.
Sementara itu Vitre dan
Dona yang sedang menunggu Audy di kantin mulai bosan. Dari arah kejauhan
terdengar adik kelas ribut-ribut mengatakan ada kakak kelas yang berkelahi di
toilet. Mendengar hal itu Vitre dan Dona saling pandang kemudian buru-buru
menuju toilet untuk mengetahui siapa yang sedang berkelahi karena jangan sampai
itu adalah Audy.
"Aku menggangapmu
temanku. Tapi tidak akan aku biarkan kamu menjelek-jelekkan Vitre didepanku.
Dia tidak mungkin seperti itu," kata Audy tegas. Audy dan Widia
benar-benar berkelahi. Bukan sekedar jambak-ambakan atau tampar-amparan. Tapi
benar-benar berkelahi. Perkelahian Wanita didekade ini. Pintu toilet jebol,
rusak parah. Vitre mendekat berusaha menengkan Audy. Namun reaksi yang
ditunjukkan Audy pada Vitre bukannya baik melainkan kebalikannya. Tidak pernah
sebelumnya Audy bersikap seperti itu.
"Ada apa denganmu,
benarkah kamu yang melakukan semua itu ?" tukas Audy menepis tangan Vitre.
Vitre hanya diam tidak menjawab. "Kenapa jadi selicik ini, sengaja
menjadikanku kambing hitam untuk menjatuhkan mereka." Audy kecewa. Sangat
kecewa ditambah lagi Vitre yang hanya diam saja tidak membela diri atau
mengatakan hal yang lainnya. Guru-guru berdatangan. Semua tersangka digiring
kekantor untuk membuat pengakuan. Akhir-akhir ini Audy jadi semakin sering
keluar masuk kantor dan itu adalah masalah besar. Audy dilarang pulang sebelum
orangtuanya datang. Hari ini selain di sekolah Audy akan mendapat masalah
dengan Ayahnya. Selama ini orangtua tidak pernah sampai dipanggil ke sekolah
selain untuk menerima hal yang baik-baik. Kali ini Ayahnya pasti akan marah
besar.
Benar saja. Sampai di
rumah Ayah benar-benar marah besar. Audy dihukum tidak boleh menggunakan
kekuatannya untuk apapun selama sebulan. Ditambah lagi latihan akan lebih
diperberat.
Disaat Audy menjalani
hukuman tidak boleh menggunakan kekuatannya itulah musuh bergerak. Suatu malam
saat Audy berjalan-jalan sendiri mencari udara segar ada 3 orang aneh memakai
pakaian ninja menyerangnya. Audy panik. Timbul pikiran kalau ia melawan ayahnya
pasti akan memaklumi karena ini keadaan denting. Tapi Audy berpikir lagi, sikap
Ayahnya terlalu tegas sekali tidak tetap tidak. Jika Audy membangkang Ayah
pasti akan memperberat hukumannya. Akhirnya Audy memutuskan untuk bertahan.
"Tunggu," kata
Audy ketika Ninja-ninja itu akan kembali menyerangnya. Ketiga ninja itu
benar-enar berhenti. Audy meraba kantong celananya. Audy mengeluarkan ponsel
dan berusaha menghubungi kakaknya.
"Assalamualaikum,
kakak tolong.... ada yang mau menculikuuu !!!" Audy memekik berusaha
menjelaskan situasinya. Ketiga ninja yang berhasil dibohongi itu merasa bodoh.
Mereka menjadi berang. Mereka kembali menyerang Audy dan kali ini tanpa syarat.
Audy berusaha sangat keras untuk bertahan, sayangnya itu bukan pilihan yang
baik. Dafan dan Egi ada disana. Keduanya kebetulan lewat. Heran melihat Audy
tidak balik melawan membuat Egi akan turun tangan, namun Dafan menghentikan.
Bukan karena ia tidak ingin menolong Audy melainkan mereka juga harus
melindungi identitas mereka. Lagi pula Audy masih baik-baik saja. Audy bukanlah
gadis yang lemas, kalau terdesak ia pasti akan membalas juga.
"Lepaskan dia
!" pekik seseorang berlari mendekat. "Berani sekali kalian menyentuh
Audyku."
Orang itu Aan. Ia membawa kayu sebagai alat beladirinya. Tongkat adalah senjata andalan yang dibutuhkan Aan. Aan berjuang dengan gagahnya. Sayangnya hal itu hanya diawal. Selain kalah jumlah Aan juga kalah fisik. Aan cepat kelelahan akhirnya ia hanya bisa menyumbangkan diri sebagai yang dianiyaya.
Orang itu Aan. Ia membawa kayu sebagai alat beladirinya. Tongkat adalah senjata andalan yang dibutuhkan Aan. Aan berjuang dengan gagahnya. Sayangnya hal itu hanya diawal. Selain kalah jumlah Aan juga kalah fisik. Aan cepat kelelahan akhirnya ia hanya bisa menyumbangkan diri sebagai yang dianiyaya.
"Katanya akan ku
bereskan. Apanya yang akan ku bereskan ?"
"Satria, sejak
kapan kamu disana ?" tanya Egi karena tiba-tiba saja Satria sudah
bertengger diatas pohon tanpa tahu kapan datangnya. Satria tidak menjawab
pertanyaan Egi karena ada yang lebih menari yakni kedatangan Katon.
"Penolong yang
sesungguhnya sudah datang. Kalian jangan berisik." Kali ini suara Windy
yang terdengar. Windy tidak sendiri karena ternya Widia juga ikut bersamanya.
"Kalian juga disini
?" kata Dafan dan Egi bersamaan. Mereka heran melihat kelakuan
teman-temannya. Apa datang tiba-tiba sudah menjadi trend saat ini.
tobecontinue